IMMATURITY [Chap. 8]

untittle

Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)

Cast     :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon)

Genre  :: Comedy Romance

~~~

Author Pov

“Apa maumu Kwon Jiyong?” ucap Dara lagi.

“Kau…” ucap Gd dengan mengeratkan lagi pelukannya pada pinggang Dara. Dan Dara kini yang menjadi Es, membeku atas apa yang di katakan Gd padanya.

1 menit

2 menit

3 menit

Kriiiuuuk, suara perut Jiyong menginterupsi keheningan.

“Sebaiknya kau makan, atau kau akan mati” ucap Dara sambil melepaskan rantai tangan Jiyong di pinggangnya.

“Bagaimana bisa seseorang mati karena tidak makan dalam sehari?” balas Jiyong menatap kesal Dara yang melepas pelukannya. Oh ayolah si bocah umur 26 tahun ini kesal.

“Sudahlah jangan banyak bicara, lihatkah kau sangat pucat dan dingin” ucap Dara lagi sambil memberikan makanan yang ia bawa di hadapan Jiyong dan menyentuh pipi kanan Jiyong dengan punggung tangan Dara. Oh ingat kan Jiyong untuk bercermin karena ia sangat merona saat tangan Dara menyentuh pipinya.

“Aku tidak ingin makan, jika kau tidak menyuapiku” ucap Jiyong, sifat bocah mood on.

“Aiigooo, apakah model seangkuh ini sekarang menjelma seperti bocah 5 tahun?? Issh menyebalkan” ucap Dara kesal, namun tangannya sudah menyendok makanan di pangkuannya dan memberikannya di hadapan Jiyong. Dan dengan cengiran bodohnya Jiyong melahap besar suapan dari Dara.

“Dara” panggil Jiyong di tengah-tengah aktivtas suap-menyuap si bayi besar.

“Emm” gumam Dara menjawab panggilan Jiyong.

“Apa kau menyukai Il woo?” tanya Jiyong yang membuat Dara terdiam sejenak dan menatap mata Jiyong yang mengeluarkan kilatan rasa ingin tahu yang besar.

“Bukan urusanmu” jawab Dara sambil menjitak kening lebar Jiyong dengan sendok di tangannya.

“Yak!!! Appoooooo” keluh Jiyong, mengusap jidat lapangan golfnya yang teraniaya.

“Sudahlah, makan dan jangan berisik” ucap Dara lalu menyuapi bayi besarnya yang masih mengeluh sakit di kening mengkilatnya.

            Makanan sudah habis dan Dara yang hendak keluar dari kamar Jiyong lagi-lagi pergerakannya di tahan oleh bayi besar yang cukup menyebalkan bagi Dara.

“Apa lagi?” tanya Dara saat genggaman Jiyong di pergelangan tangannya.

“Aku mengantuk, jadi temani aku tidur” ucap Jiyong dengan suara di manja-manjakan menyebalkan.

“MWORAGO?” teriak Dara tak percaya permintaan boss kekanak-anya itu. “temani tidur??” kata-kata itu berhasil membuat Dara melotot pada sang sumber suara.

“Ahh, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau di sini, emm diam di sini hingga aku tertidur. Ingat kau tak bisa membantah permintaan boss mu, huh” ucap Jiyong mengingatkan Dara pada syarat-syarat bodohnya itu. Toong ingatkan Dara agar selama Jiyong tidur dia tidak membunuh bosnya itu.

“Aiisshh, kau itu hidup untuk menyiksaku, huh. cepatlah tidur” ucap Dara kini duduk di samping ranjang Jiyong, dan sang pemilik ranjang hanya menunjukan cengiran bodohnya lalu berbaring dan menutupi tubuhnya hingga dada dengan selimut lembutnya.

Jiyong Pov

            Kekeke, rasakan pembalasanku karena kau telah membuat boss tampan mu ini kesal seharian. Aku memandangnya yang mentatapku kesal seperti hendak ingin membunuhku dengan tatapannya itu.

“Yaak!! Bagaimana kau bisa tidur jika kau tidak menutup matamu dan terus memandang menyebalkan padaku” protesnya saat aku tak kunjung memejamkan mata.

“okey, okey” ucapku, lalu memejamkan mata. Belum beberapa lama aku memejamkan mata, lebih tepatnya berusaha memejamkan mata karena sungguh aku tidak mengantuk sama sekali. Dan saat ku perlahan membuka mata, ku lihat Dara sudah tertidur di kursinya sambil menyilangkan tangannya di dada.

“Ini aneh, mengapa aku sangat marah dan kesal saat kau dan Ill Woo berdekatan? Hemm, membingungkan” ucapku sambil memandang wajah tidurnya yang damai. (dasar Jiyong babbo).

            Aku terus memandang wajahnya, dan entah kakiku sudah melangkah mendekatinya. Lalu mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya menuju ranjangku. Oh lord, tubuhku bergerak sendiri, sungguh ini bukan otakku yang memerintah mereka. Sepertinya aku kerasukan (yaelah Ji, hari gini masih mistis aja).

 “Manis juga saat diam seperti ini” ucapku menatap wajahnya yang kini tidur bersebelahan denganku, yang lagi-lagi mulutku bergerak sendiri bicara seperti itu. Tidaaaaak aku mulai gila.

            Aku terus meneliti lekuk wajahnya, mata, hidung dan bib-ir, dan saat aku menatap kedua bibirnya yang tipis aku merasakan wajahku memanas. oh my, besok ingatkan aku untuk ke psikater. Aku benar-benar gila sepertinya. Dan lambat laun kantuk mulai menggantung di kelopak mataku dan kemudian terlelap di sampingnya.

Dara Pov

            Emm, aku tidur dengan nyaman sekali. Sudah lama sekali aku tidak merasakan tidur senyaman ini. Dan aku pun merasa sangat emm hangat. Entahlah namun aku tidak ingin cepat-cepat membuka mataku dan terbangun dari rasa nyaman ini. Tapi sesuatu membuatku terhenyak dalam kenyataan wangi harum yang menguar dalam indra penciumanku, wangi harum yang asing namun tidak begitu asing, tapi ini bukan wangi yang selama ini aku pakai ini seperti wangi maskulin seseorang. Dan dengan kecepatan kilat aku membuka mata. Oh my, ini apa? Sebuah dada bidang dan selama tidur aku menelusup pada dada bidang ini. Dan aku merasakan nafas teratur berhembus di kepalaku, membuat aku langusung mendongakkan kepalaku.

“Yaaaaaakkkkkkk!!!! Mesuuuuuuum!!!!” teriakku sejadi-jadinya dan mendorong tubuh yang emm seperti mendekap ku hingga terjungkal dari ranjangnya. Oh mungkin setelah ini aku di pecat.

“Aarrggghh, berisik sekali, huh?” keluh si tubuh yang sedang mengelus punggungnya yang menicum lantai pagi-pagi.

“Kau, apa yang kau lakukan semalam, huh? kenapa aku di sini? Bukankah aku tertidur di kursi? Dan apa-apaan kau memelukku seperti itu, heol dasar mesum” cerocos ku dengan satu tarikan nafas, membuat lawan bicaraku tersenyum ibis. Oh sungguh aku takut. Dan dia mulai mendekat padaku, mendekatkan wajahnya ekheem..yang cukup tampan saat bangun tidur.

“Benarkah kau tidak ingat semalam yang kita lakuakan? Aaah padahal itu sangat mengasyikkan” ucapnya berbisisk di telingaku dan membuat aku bergidik ngeri mendengar ucapannya.

“’Yaak!!! Katakan dengan benar. Ku mohon “kini aku memohon, oh ayolah ini tidak lucu Kwon.

“Hahahhaha, tenanglah kita tidak melakukan apapun. Kita hanya tidur. Aku membiarkanmu tidur di sampingku, yang mungkin banyak fans di luar sana memimpikan hal itu” ucapnya sombong (iya juga sih, author aja mimpiin hal begitu *plak).

“Dan yang memeluk itu kau, bukan aku. Dan sepertinya kau senang berada di sini. Apakah ini terlihat nyaman, huh huh?” goda si model mesum itu sambil menepuk-nepuk bangga dada bidangnya dan memaju-majukan dada bidangnya itu di depanku. Sial si Kwon ini, apa dia sedang menggodaku, huh?.

“Aiishh, menyebalkan” ucapku lalu beranjak pergi dari kamar si setan itu. Dia benar-benar setan. Bisa-bisanya tertawa saat aku panik dengan apa yang terjadi. Tapi benarkah aku yang memeluknya? Aaiishhh Dara babbo. Aku terus menggerutu dalam hati dalam perjalanan menuju kamarku.

Author Pov

            Hari ini Top mengabarkan pada Dara bahwa hari ini Jiyong tidak ada jadwal (padahal Jiyong yang ngerengek minta kosongin jadwal hari ini). Dan jadilah hari di mana pembullyan bagi seorang yeoja imut namun sumpah serapah tak henti-hentinya ia gumamkan khusus untuk bos nya itu.

“Daraaaaaaa, kau belum memberi makan Gaho, eoh?” teriak Jiyong sambil memainkan remote tv nya dan duduk santai di sofa empuknya. Meneriaki Dara yang masih betah di kamarnya.

“Ne!!!” teriak Dara dengan singkat, lalu bergegas memberi anjing berharga bos nya itu dengan makanan mahal untuk seukuran anjing berkulit gelambir-gelambir itu.

Guk, guk, gggrrrr (Hayooo siapa yang bacanya suara dimirip-miripin guguk gitu? Kekeke).

“Dara, ada apa dengan Gaho mengapa ia menggonggong seperti itu, huh? kau menggodanya ya?” teriak Jiyong lagi. Demi puja kerang ajaib (milik spongebob) kesabaran Dara mendidih. Ingin sekali ia mencincang tubuh bos nya itu lalu dagingnya ia beri kan pada hiu-hiu yang berterbangan (woi sejak kapan hiu terbang).

“Aku tidak menggodanya Kwooooon” teriak Dara kini sudah menyeimbangkan nada tinggi Jiyong.

“YA, JANGAN BERTERIAK PADAKU” teriak Jiyong tak mau kalah.

“AKU TIDAK BERTERIAK” ucap Dara lagi.

“YA!! LALU INI APA? CAPSLOCKNYA THOR HENTIKAN”Jiyong marahin author. (oke abaikan).

“Dara” panggil Jiyong.

“Apa lagi? Aku harus mengerjakan apa lagi, huh??” tanya Dara sinis.

“Aku emm, temani aku nonton. Aku tidak bisa menonton jika tidak ada yang menemani, biasanya Daesung, Top hyung atau si Rat itu yang menemaniku nonton film di sini. Karena mereka sedang sibuk jadi aku menyuruhmu, dan aku tidak menerima kata “tidak”” ucap Jiyong panjang kali lebar (rumus luas persegi panjang).

“Hentikan tampang bodohmu itu” ucap Dara kesal mendapati cengiran bodoh Jiyong yang mengartikan “this is my game”. Darapun mendaratkan pantat mungilnya di sofa panjang sama dengan Jiyong namun dengan banyak jarak, anggap saja ujung sofa kakan Dara, ujung sofa kiri Jiyong.

“Baiklah, aku suka film horor. Ini sedang fenomenal. The Counjuring 2, kau siap” ucap Jiyong bersemangat. Namun respon Dara hanya mengangkat bahunya yang mengartikan “cepat mulai dan jangan banyak bicara”.

            Mereka pun menonton dengan tingkat fokus yang tinggi, namun Jiyong sempat mencuri pandang pada Dara dari sudut matanya. Dara sesekali menguap, dan asal readers tau Dara itu pencinta horor sejati, film yang ia tonton sekarang tidak menyeramkan baginya.

“Aduuh aku pegal” ucap Jiyong tanpa seizin memposisikan dirinya tidur berbantal paha Dara.

“Yak!!!” teriak Dara kaget dengan aksi Jiyong.

“Wae? Aku hanya pinjam ini, aah tapi mengapa tidak empuk ?” ucap Jiyong sambil kepalanya berloncat-loncat ria dia paha kecil Dara.

“Yak!!! Sakit bodoh” kesal Dara.

“Hehe, mian. Sepertinya kau bosan menonton ini. Emm apakah mau melakukan hal lain?” ucap Jiyong yang berhasil membuat Dara terbelalak. Mengapa Jiyong sangat manja saat ini?.

“Hei kau kerasukan ya? beberapa menit yang lalu kau terus meneriakiku, dan sekarang kau berkata manja seperti bocah dan sungguh itu membuat aku takut” ucap Dara dan mereka saling menatap. 1 detik, 2 detik, 3 detik Jiyong memperpendek jarak wajahnya dengan wajah Dara, 4 detik,,,,,,,,,,

“AKU DATAAAAANG” teriakan melengking dicampur dengan falsetho suara mirip panda mesum membuyarkan acara romantis. (mari kita kubur hidup-hidup panda mesum itu). Jiyong menarik dirinya dan terduduk dengan kikuk.

“Wae??? Apa yang yang terjadi? Mengapa kalian tegang seperti itu, huh? apa kalian sedaaaaaaaang..” tanya Seungri dengan tatapan menggoda ke dua makhluk yang kini seperti boneka annabelle, kaku dan berwajah tidak enak karena menahan malu.

“Kau ini” ucap Jiyong sambil memberikan sentuhan sandal indahnya pada kepala panda yang menggodanya itu.

“Hyung, appo” protes Seungri. Namun tak di gubris apapun oleh sang hyung yang kini menuju kamarnya.

“Nuna, apa yang sedang kalian lakukan tadi” kini Seungri bertanya pada yeoja yang masih kaku duduk di sofa, berusaha menstabilkan degupan jantungnya.

“Aku tidak melakukan apapun, ck” jawab Dara sambil menjitak kepala Seungri tanpa belas kasih.

“Yakk!! Kalian ini kenapa huh? apa aku masuk di waktu yang salah?” ucap Seungri meratapi diri. Maafkan author ya panda, cup cup cup.

**

“Dara, mengapa kau tidak mengangangkat telfon dari ku semalam? Bahkan aku sudah tepat berada di pintu apartemen Jiyong” ucap Il woo saat menelfon Dara.

“Mian Il woo-ssi, Jiyong sakit semalam. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya” jawab Dara dengan nada dingin. Ia masih merasa sakit saat berbicara dengan namja yang membuat hatinya terluka.

“Emm, begitukah? Baiklah, bagaimana jika hari ini kita makan siang bersama? Aku akan menjemputmu sekarang juga” ucap Il woo lagi dengan bersemangat.

“Sepertinya aku tidak bisa Il woo-ssi, dan ku pikir sebaiknya kita tidak perlu saling berbicara dan jangan menghubungiku lagi. Jaga dirimu baik-baik Il woo ssi” ucap Dara dengan nada bergetar, oh pertahanannya runtuh. Dan di sebrang sana, ll Woo merasakan sesak di dadanya. Sebegitu telatkah ia melangkah untuk membuat Dara kembali pada pelukannya.

~

“Dee, kau baik-baik saja?” tanya Bom saat Dara muncul di kantor nya. Jangan lupakan perkerjaan inti Dara.

“Aku baik-baik saja Bomie. Bos ada?” tanya Dara.

“Dia sedang ada di ruangannya. Apakah kau sudah menyelesaikan artikelmu tentang model hot itu” Bom antusias saat melihat Dara membawa map dengan banyak lemabar-lembar kertas di dalamnya.

“Apa katamu, model hot? Bukankah kau dulu bilang dia model yang angkuh, sombong dan sialnya dia masih hidup” ucap Dara malas mengingat-ingat model yang sedang di bicarakan itu yang tidak lain bosnya, aah bos ke dua tepatnya.

“hehe, tapi saat aku bertemu dengannya ia memang tampan dan hoooot” ucap Bom dengan genit dan menggoda.

“Cih, kau belum tahu saja. ia lebih menyebalkan dari pada boneka Jig Saw” ucap Dara lalu melenggang menuju kantor bosnya.

“Annyeong, mian mengganggu bos. Aku membawakan tulisanku mengenai G dragon” ucap Dara menyerahkan mapnya, lalu di terima dengan baik oleh bosnya.

1 menit, 2 menit, 5 menit.. sang bos membaca tulisan Dara namun alisnya berkerut dan mengangguk-angguk tak jelas, membuat Dara cemas melihatnya.

“Dara, ini bagus. Namun kau menulis bahwa ia dan Jung Il woo dulu pernah berteman dan sekarang mereka bermusuhan dan kau tidak menyebutkan alasan mereka menjadi bermusuhan. Dara jika kau mendapatnya alasan mereka menjadi saling tidak mengenal, ini seperti memancing dua ikan besar. Dan beritamu akan meledak. Ku mohon, cari tahu itu semua, arraseo” ucap sang bos dengan santainya dan bersemangat tentunya, oh ayolah dia sudah memikirkan uang yang akan ia terima jika berita Dara sukses.

            Dara mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan ruangan sang bos tamak yang kembali berkutat dengan laptopnya. Dara pun menghampiri Bom yang sedang mengecek make up nya, lalu memeluk tubuh Bom seperti Dara memerlukan charger kekuatan saat ini.

“Aku lelah Bomie” ucap Dara lemah, masih memeluk sahabat berharganya.

“Gwencana. Jika kau mau berhenti saat ini, kami (keluarga Bom) akan mendukung semua keputusanmu Dee” ucap Bom menangkan sahabat yang sudah ia anggap adiknya sendiri.

“Emm, tapi huft rasanya aku harus meneruskan ini. Gumawo untuk pelukanmu membuat aku bersemangat lagi, kekeke” ucap Dara sambil melepaskan pelukannya.

“Pulanglah, eomma dan mereka yang dirumah sangat merindukanmu, apalagi si boncel Chim-chim ia hampir membolos sekolah karena ingin menemui mu di apartemen model hot itu” jelas Bom.

“Jinnja, kekeke aku rindu chim-chim, apakah ia sudah bertambah tinggi kekeke. Dia sangat imut tak cocok dengan abs di perutnya” ucap Dara lagi saat mengingat adik Bom yang bernama Park Jimin yang sering di panggil Chim-chim. Berwajah lucu, pipi yang gembul mirip Bom namun ia mempunyai abs seperti namja macho dan sungguh tak cocok dengan wajah berpipi gembul miliknya.

“Ia sangat menyayangimu daripada aku, bocah itu memang menyebalkan” ucap Bom mengingat adiknya yang lebih sering bermanjaan dengan Dara dari pada Bom yang berstatus kakak kandungnya.

“Hahaha, baiklah waktuku menjadi upik abu si model gila itu. Sampaikan salamku pada orang rumah, aku menyayangi mereka dan termasuk chim-chim. Bilang padanya aku akan sering menelfon. Annyeong” ucap Dara pamit sambil mengecup pipi cubby Bom dan melangkah keluar dari kantornya dengan kecamuk di hatinya.

Bruuuk

            Saat Dara sudah sampai di tepi jalan, ia melihat kecelakaan di jalan. Sepertinya seseorang yang menabrak mobil. Entahlah, namun Dara pun melihat ke tempat kejadian itu.

“Omo, Il woo-ssi. Gwencana?” ucap Dara kaget saat melihat Il woo masih berwajah shock dan di dahinya terdapat luka.

“Ah mianhae, aku akan mengganti rugi kerusakannya. Sekali lagi maafkan aku ini kartu namaku. Hubungi aku dan aku pasti mengganti rugi kerusakannya, aku antar ke rumah sakit tuan, kau berdarah” ucap seorang yang sepertinya dia yang menabrak mobil ilwoo.

“Ahh, anni. gwencana” ucap Il woo dengan nada yang bergetar. Ia masih sangat shock. Dara pun membimbingnya menuju ke dalam mobil. Membiarkan namja jangkung itu beristirahat di bangku penumpang, dan Dara melajukan mobilnya.

“Kita kerumah sakit”ucap Dara saat melajukan mobil il-woo.

“Anni, aku ingin pulang” ucap Il woo singkat, dan kini Dara menuju apartemen Il Woo.

            Setelah 37 menit akhirnya Dara sampai di apartemen Il Woo, membantunya berjalan menuju apartemennya di lantai atas.

“Aku bersihkan lukamu, lalu kau istirahat” ucap Dara saat mendaratkan tubuh Il woo yang seperti ketakutan.

“Kau baik-baik saja? kau masih shock dengan kejadian tadi?” tanya Dara lagi yang kini sudah memegang P3K di tangannya.

“Aku baik-baik saja” ucap Il Woo menutupi ketakutannya. Sebenarnya ia mempunyai trouma jika menyangkut tentang kecelakaan mobil.

“Tahan, ini akan sedikit perih” ucap Dara mengusap pelan luka di kening indah Il woo (kalau jidat Jiyong jenong sih, tapi pengen ngecup author sie ama jidat jinongnya).

“Dara, mengapa kau masih baik padaku. Bahkan aku sudah menyakitimu” ucap Il woo tiba-tiba membuat Dara menghentikan aktivitasnya sebentar lalu melanjutkannya lagi.

“Nah, sudah selesai. Kau istirahatlah. Aku akan panggil keamanan apartemen agar bisa menjagamu di sini. Aku pergi” ucap Dara saat acara mengobati kening indah Il Woo telah selesai dan hendak melangkah pergi menuju pintu keluar namun pergelangannya di tahan si pememilik kening indah itu.

“Kajjima..” ucap Ill Woo dengan tatapan lemahnya, menatap memohon yeoja yang kini ia genggam mau bersamanya. (ya ampun, bayangin il woo begini bikin author merona *sadar woi).

“Mian, aku harus pergi Ill Woo ssi” ucap Dara berusaha melepaskannya, namun ia tersentak kaget saat pergelangannya di tarik dan kini ia dalam dekapan tubuh tinggi namja yang ia tolong itu.

“Kajjima Dara-aah, mianhae, jeongmal mianhae. Kembali padaku Dara-aah” ucap namja yang memeluk Dara, menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Dara. membuat Dara merota ingin di lepaskan.

“Il woo ssi, lepaskan” Dara berusaha melepas pelukannya, namun lagi-lagi Dara terkejut, matanya terbelalak sempurna saat bibirnya disentuh lembut oleh bibir namja yang memeluknya tadi.

Plaaak.

            Suara nyaring itu membuat Dara melepas dirinya, dan Ill menatapnya dengan kesakitan, bukan hanya pipi nya yang di tampar Dara, namun penolakan Dara jauh menyakitkan.

“Jangan melukaiku lagi dengan hal seperti itu” ucap Dara lalu lari meninggalkan Il woo yang terdiam dan kini hatinya seperti tersayat tajam.

~

            Dara menangis sejadi-jadinya. Ia memasuki apartemen Jiyong dengan perasaan buruk. Ia menangis dengan tersedu, sungguh sakit yang ia rasakan. Bagaimana tidak perasaan yang sudah di sakiti kemudian di minta untuk kembali dengan gampangnya padahal rasa sakit yang lalupun belum sembuh dengan benar. Beruntung apartemen Jiyong sedang sepi, mungkin mereka sedang keluar.

            Dara terduduk di meja makan. Meneguk air putih dengan tangan gemetar. Oh beginikah rasa sakitnya saat perasaanmu di permainkan? Dara kembali menangis, wajahnya tenggelam di kedua tangannya.

“Dara, gwencana?” tanya seseorang yang mendapati Dara menangis meraung di meja makan.

“…” tak ada respon dari Dara, namun Dara mengangkat wajahnya menatap seseorang yang bertanya padanya.

“Astaga, kau kenapa, huh? apa kau melihat api besar saat dalam perjalanan pulang?” tanya orang itu dengan raut wajah cemas. Lama, Dara tidak menjawab pertanyaan seseorang di hadapannya yang bisa mati karena cemas.

“Ji, mengapa mencintai begitu sakit, huh?” tanya Dara pada Jiyong dengan nada lemahnya.

“Oh God” hanya itu yang di ucapkan Jiyong, detik berikutnya Jiyong menarik tubuh Dara kedalam pelukannya. Berusaha menengkan tubuh mungil yang makin bergetar karena tangisnya. Sungguh Jiyong tak bisa melihat Dara seperti ini, seakan ia yang tersakiti. Ia pun melepaskan pelukannya, menatap yeoja yang menangis tersedu di hadapannya.

“Dara dengarkanku baik-baik” ucap Jiyong menatap Dara dengan lembut, Darapun menatap Jiyong namun dengan penuh tanya.

Cup, Cup. kecupan Jiyong pada mata Dara yang berair.

“Aku benci dirimu yang menangis” ucap Jiyong.

Chu~ chu kecupan kini mendarat di pipi Dara.

“Aku membencimu yang membuat kedua pipi ini basah”

Chu~ Kecupan yang kini Jiyong persembahkan untuk kening Dara.

“Aku membencimu yang memikirkan hal yang membuatmu menangis” ucap Jiyong lagi, dan Dara hanya terdiam seakan terhipnotis oleh makhuk di hadapannya.

Chu~ Jiyong mengecup dengan lembut bibir Dara.

“Aku membencimu yang terisak seperti ini” ucap Jiyong tersenyum lembut pada Dara. Dara hanya mengerjap-kerjapkan matanya tak mengerti.

“Aku membencimu, karena aku sangat dan teramat sangat mencintaimu, dan biarkan aku memastikan perasaan ini” ucap Jiyong sambil menarik tengkuk leher Dara membuat wajahnya mendekat dengan Jiyong. Dan Chuuuuuuuu ~ (yang ini sie lama ngecupnya, hehehe).

TBC

Hallo readers ku, mian baru update ff ini kekeke *cengiranbodoh. Semoga chap yang luamayan lah ya panjang *maksa menghibur hati para readers. Author juga berterimakasih untuk antusias ff Let Me Know yang di luar ekspetasi author kekeke *senangnya dan lagi author jadi tambah teman entah di IG or twitt bahkan kita bbman kekeke gumawo untuk semua readers tercintah, author cinta kaliaaaaan. Jangan lupa tinggalkan jejak ne~ Love Ya~ *tebarkemenyan.

Advertisements

46 thoughts on “IMMATURITY [Chap. 8]

  1. dara suka tuh sama jidi tapi belum sadar aja, buktinya pas dicium ilwoo malah nampar, giliran dicium jidi malah keterusan hahahaha

    ini kok aku ada firasat nggak enak ya kalo sampe artikel dara dicetak.
    pasti nanti salah paham deh dikira dara manfaatin dia 😦

  2. Tuh kan jidi nyatain cinta sama dara .. Makin seru aja .. 😊 tapi apa jadinya nnti ya kalo artikel dara d cetak .. Jangan d cetak thor artikel daranya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s