[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 6.

ano-another-copy

SCENE 06 <VALENTINE>


Lovely pink. Itulah yang paling berkesan tentang valentine. Warna pink mendominasi, menemani putih salju. Semua toko berlomba untuk menunjukkan itu. Toko boneka memajang semua boneka pink yang mereka miliki, toko cokelat dan kue memajang cokelat dan kue berbentuk hati… balon-balon pink berbentuk hati menghiasi ruangan. Bahkan banyak kafe yang memberikan promosi khusus untuk even tahunan ini.

Disamping sebagai peluang bisnis, valentine juga adalah hari di mana para gadis mencoba memberanikan diri mengungkapkan perasaan suka kepada orang yang disuka. Dengan cokelat, kue, bunga, hingga bermacam kado lain.

Termasuk Sandara yang sudah sejak jauh-jauh hari memikirkan apa yang akan diberikannya untuk Jiyong – jauh sebelum acara barbeque menyedihkan itu.

“Apa yang akan kau berikan pada pacarmu?” tanya Sandara penasaran kepada Bom yang terlihat tenang. Sama sekali tidak terlihat pusing menyiapkan hadiah valentine untuk Seunghyun. Sandara sendiri berencana memberikan sweater rajutan tangan untuk Jiyong, di samping cokelat yang telah khusus dipesannya – cokelat percobaannya gagal dan ia sama sekali tidak ingin mengambil resiko. Lebih baik aman daripada menyesal. Setidaknya sweaternya berbentuk meski butuh waktu tiga minggu untuk menyelesaikannya dan merelakan tujuh jarinya berbalut plester.

“Cokelat,” jawaban Bom sudah Sandara tebak sebenarnya. Andai saja ia memiliki sepersepuluh dari kemampuan Bom di dapur… rekor suksesnya di dapur tanpa membuat Ahjumma Oh panik adalah memasak ramyeon. Sandara bahkan tak pernah bisa menggoreng telur tanpa cangkangnya ikut masuk ke dalam wajan.

“Bagaimana kabar sweater untuk Jiyong?” Bom bertanya dengan nada prihatin, melirik jari-jari Sandara yang berplester. Belum lagi ujian sudah tinggal menghitung hari. Beruntung Sandara dikaruniai otak yang cemerlang.

Sandara menjawab dengan senyum lebar dan menunjukkan bungkusan kado rapi yang telah disiapkannya.

“Park Sandara, berhenti mengobrol dan selesaikan soal di papan tulis!” perintah Han Daehyun Ssaem mengagetkan Sandara dan Bom, tapi Sandara langsung bisa menguasai diri dan berdiri untuk maju ke depan.

Dengan tenang dia perlahan menuliskan jawaban dari soal integral yang tertera di papan, memenuhi papan tulis dengan tulisan yang dia pegang. Memakan waktu hampir tiga menit hingga Sandara memberikan garis bawah pada jawaban akhirnya. Butuh tiga menit lagi hingga Sandara dipersilakan untuk kembali duduk setelah sang guru mengoreksi jawabannya.

“Ini benar, silakan kembali duduk.”

**

“Jadi kau benar-benar serius?” Sohee bertanya antusias pada Jiyong.

Jiyong mengangguk.

“Kau jatuh cinta padanya?”

Jiyong dan Sohee duduk di ayunan taman yang ada di lingkungan mereka berdua, salah satu kebiasaan mereka sejak kecil dulu.

“Aku sendiri tidak tahu, tapi aku merasa nyaman dengannya,” Jiyong bercerita. “Aku jadi terbiasa dengan keceriaan yang dibawanya. Walau terkadang dia bersikap manja dan seperti anak kecil, tapi aku merasa kesepian jika dia mulai mendiamkanku…”

“Kau curang,” perkataan Sohee mengagetkan Jiyong. “Kau sudah pernah membawanya ke tempat rahasia kita,” matanya menyipit menggoda Jiyong. Jiyong tertawa karenanya. Benar, dirinya pernah membawa Sandara ke tempat rahasia yang dimaksud Sohee.

“Apakah kau marah?”

Sohee menggelengkan kepalanya. “Aku justru senang, kau sudah bisa melupakan–,”

“Aku tidak akan mungkin bisa lupa,” potong Jiyong cepat membuat senyuman yang tadinya tersungging di wajah Sohee lenyap.

Keduanya terdiam, hingga sebuah sedan hitam yang sudah Jiyong kenal berhenti di luar pagar taman.

**

Sandara sengaja tidak memberi tahu bahwa sepulang kursus dia akan langsung datang ke rumah Jiyong. Dia ingin memberikan kejutan kepada kekasihnya dengan menyerahkan hadiah yang telah lama dipersiapkannya. Sandara tidak banyak berharap. Dia hanya ingin melihat ekspresi Jiyong saat tahu dirinya sengaja belajar merajut hanya demi membuatkan hadiah khusus buatan tangannya sendiri.

Tapi justru Sandaralah yang terkejut saat matanya menangkap dua sosok familiar di taman ujung jalan sebelum rumah Jiyong. Jiyong dan Sohee. Duduk berdua saling berdampingan di ayunan. Dan mereka terlihat akrab…

Ada sesuatu mengganjal di tenggorokannya. Dadanya sesak. Tapi segera dia menguasai diri dengan menarik nafas panjang setelah meminta supirnya berhenti. Senyuman sudah terpasang di wahanya ketika dia turun dari mobil.

Dilihatnya Jiyong sudah berdiri dan tengah berjalan untuk menyambutnya, wajahnya terlihat bingung namun tetap ada senyum di wajahnya.

“Aku tidak tahu kalau kau akan datang,” ucapan polos yang normal, tapi di telingan Sandara terdengar seperti tuduhan.

“Sandara, annyeong!” dari ayunan Sohee melambaikan tangan dan tersenyum padanya.

Sandara balas melambai dan tersenyum. Matanya bergeser pada tas kertas kecil di kaki ayunan yang tadi diduduki Jiyong. Hadiah valentine dari Sohee. Ganjalan di tenggorokannya makin besar.

“Maaf kalau aku datang tanpa memberitahu,” ucap Sandara mencoba mengusir perasaan tak nyaman yang merayap di hatinya. Aku hanya ingin memberikan ini,” dia menyodorkan tas berisi hadiah yang telah dipersiapkannya, merasa gagal karena Jiyong lebih dulu menerima hadiah orang lain… merasa kesal karena Jiyong masih menerima hadiah dari orang lain…

“Apa ini?” tanya Jiyong penasaran, terdengar terkejut mendengar Sandara menyiapkan hadiah untuknya. Kau terkejut karena aku menyiapkan hadiah… matanya melirik pada tas kecil di kaki ayunan, kemudian pada Sohee yang masih tersenyum padanya.

“Kau lihat saja sendiri,” Sandara berusaha menjaga suaranya. “Aku langsung pulang ya, salam untuk ibumu,” Sandara berbalik.

Sebelum ia sempat membuka pintu mobil, Jiyong menghentikannya. “Tidak mau ke rumah dulu? Omma membuat cheesecake dan aku tadinya berencana untuk–,”

“Maaf, tidak bisa,” potong Sandara cepat, kembali berbalik. “Abeoji dan Eommoni sudah menunggu, lain kali?”

Bohong. Kedua orang tuanya tidak sedang menunggunya. Tapi, Jiyong tidak perlu tahu itu.

“Baiklah,” jawab Jiyong pada akhirnya, entah kenapa wajahnya terlihat… kecewa? “Salam untuk kedua orang tuamu,”

“Oh,” jawab Sandara, lalu melambaikan tangan untuk berpamitan pada Sohee dan segera masuk ke dalam mobil sebelum Jiyong tahu kebohongannya.

Dalam perjalanan pulang, Sandara menggigit bibirnya keras-keras. Caranya untuk mencegah air matanya jatuh.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

13 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 6.

  1. Tapiiii aku nggak terlalu suka jiyong deket sama sohee. Emang sih mereka sahabatan tapi sohee harus juga jaga jarak gitu karena dia juga punya pacar. Tapi ttp aja Daranya salah paham. Fighting aja deh buat dara unnie 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s