[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 11

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: LIFE



Untuk kesekian kalinya, Sandara memeriksa daftar kelengkapan yang harus dia serahkan, berharap tidak ada yang terlewatkan. Dengan perasaan gugup, dia memasukkan mapnya ke dalam tas. Besok dia akan kembali memeriksanya untuk terakhir kali.

Pintu kamarnya terbuka dari luar, Dayoung masuk dengan langkah pelan. Perutnya yang telah membuncit menghalanginya bergerak cepat.

“Dayoung Unnie, bukankah dokter sudah mengingatkanmu untuk tidak banyak bergerak! Kau harus banyak beristirahat, bagaimana jika nanti–,” Sandara tidak menyelesaikan kalimatnya karena dipotong oleh kakaknya.

“Astaga, kau ini benar-benar cerewet sekali ya. Aku justru lelah jika harus berada di dalam kamar terus-terusan,” katanya setelah duduk di tempat tidur.

Setelah setahun lebih pernikahan Dayoung dan Rui, akhirnya mereka akan segera dikarunia anak. Hanya saya menurut dokter, kandungan Dayoung cukup lemah hingga mengharuskannya tidak banyak beraktivitas. Bahkan dokter sudah menyarankan dari jauh-jauh hari agar Dayoung mengambil prosedur bedah cesarean.

Selama masa kehamilannya, mood Dayoung berganti lebih cepat dibandingkan dengan chanel televise. Beberapa minggu terakhir Dayoung menghendaki untuk tinggal di rumah ayahnya, membiarkan begitu saja rumah mereka kosong tak berpenghuni.

“Itu karena Unnie sangat sulit untuk diingatkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada bayimu? Kau sendiri yang nantinya akan menyesal, Unnie,”

“Yah! Kenapa kau malah mendoakan hal buruk terjadi?” Dayoung memprotes.

“Hey, ada apa? Kenapa ramai sekali?” seseorang baru saja bergabung dengan mereka, mencoba menengahi.

Dayoung tersenyum menyambut suaminya yang baru datang. Dia mencoba untuk bangkit berdiri, tapi segera dicegah Rui.

“Oppa, kau harus menasehati Dayoung Unnie untuk mengikuti saran dari dokter,” Sandara mengadu kepada kakak iparnya.

Rui mengalihkan pandangannya pada Dayoung yang langsung memasang wajah tanpa dosa. Rui hanya bisa menggelengkan kepalanya, seolah menyerah menghadapi istrinya itu.

“Sandara hanya terlalu khawatir,” Dayoung membela diri.

“Sudah diam, ada orang lain yang harus kusapa,” Rui membungkam bibir Dayoung dengan jari telunjuk kanannya, lalu menempelkan telinga ke perut buncit Dayoung. “Uri Jagi, Appa sudah pulang…”

Melihat apa yang dilakukan Rui, Sandara dan Dayoung kompak tersenyum.

“Neh, Jagiya… Appamu sudah pulang. Baik sekali ya, Appamu, pulang pada jam segini,” Dayoung pura-pura protes, meski nadanya mengkhianati.

Rui meringis mendengarnya. “Mianhe, rapatnya ternyata memakan waktu,” jelasnya.

Dayoung hanya menatap suaminya, namun sebenarnya memaklumi.

Sandara terkadang merasa iri melihat kemesraan Dayoung dan Rui. Walau terkadang keduanya bertingkah aneh dan seperti anak kecil, tapi keromantisan mereka sama sekali tidak bisa disembunyikan. Tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi keduanya memang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan.

Dayoung ada untuk Rui dan Rui ada untuk Dayoung. Sandara ingin seperti itu. Sandara ada untuk…

“Kamu serius, tidak ingin Rohye-kun kuliah di Jepang?” pertanyaan Rui membuyarkan lamunan Sandara.

Segera Sandara menyudahi mimpinya yang terlalu cepat datang, menggelengka kepalanya.

“Aku tetap ingin di sini saja. Kalau aku ke Jepang, bagaimana dengan Appa?” alasannya. “Dayoung Unnie dan Rui Oppa sudah memiliki kehidupan sendiri, ada anak yang harus kalian prioritaskan. Belum lagi jika Unnie minta pindah lagi,” tambahnya buru-buru melihat keduanya akan membantah.

Memang selama delapan bulan masa kehamilannya ini, Dayoung terus-terusan menggilir hidupnya dari satu rumah ke rumah yang lain. Rumah Appanya, rumah orang tua Rui, dan rumah mereka sendiri. Bahkan mereka pernah tinggal di hotel selama dua minggu. Dan Rui hanya bisa patuh tanpa bisa membantah.

“Baiklah,” Dayoung terdengar kecewa.

Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya Sandara menolak ajakan Rohye. Ada alasan lain yang lebih kuat, yang Sandara sendiri pun kesulitan untuk menjelaskannya.

**

Sandara baru saja mematikan lampu kamarnya ketika mendengar dering ponselnya, menghentikan langkahnya. Nama Rohye terpampang di layar. Apa yang mau dibicarakan malam-malam begini?

“Yoboseyo, kenapa kau telepon malam-malam begini?”

“Kau belum tidur? Atau aku mengganggu tidurmu?” Rohye balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan dari Sandara.

“Kalau aku sudah tidur, berarti sekarang aku sedang mengigau,” candanya, “dan iya, kau mengganggu.” Tawanya. Tapi berikutnya, nadanya berubah serius. “Tentu saja tidak, kau ini ada-ada saja. ada perlu apa?” tanyanya santai.

“…”

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, ada perlu apa kau menelepon malam-malam begini? Kau merindukanku ya? Hahaha…” tanyanya bercanda.

Di seberang sana, terdengar Rphye menghela nafas pelan. Sepertinya dia benar-benar sedang serius.

“Kau benar-benar tidak mau ikut denganku ke Jepang?”

Oh, masalah itu. Sandara sudah memikirkannya berulang kali, dan jawabannya tetap saja.

“Iya,” jawab Sandara mantap, kali ini nadanya pun ikut-ikutan serius. Jawaban yang terus diberikannya untuk pertanyaan Rohye yang telah berulang kali ditanyakan. “Dan kau masih belum mau mendengar alasanku apa?” tantangnya.

Rohye menghela nafas panjang.

“Aku tidak mau mendengar alasanmu,” katanya. “Sepertinya aku tahu alasanmu apa, jadi aku tidak ingin mendengar kau mengatakannya. Aku akan pura-pura tidak tahu.” Nadanya kembali ceria. “Dan aku tidak akan memaksamu lagi. Itu adalah hidupmu, jadi kau yang berhak menentukan. Mungkin memang belum saatnya untuk kau pergi ke Jepang bersamaku,” lanjutnya bijak, membuat Sandara tersenyum penuh terima kasih. Rohye memang bisa diandalkan.

Setengah jam kedepan, keduanya asyik mengobrol melalui telepon. Tak lagi mempermasalahkan topik awal obrolan mereka.



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

13 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 11

  1. Masih dalam proses. Kayaknya Dara nggak mau ke Jepang gara gara Jiyong deh. Dara unnie Fighting!! Dilla unnie nya jugaa semangat buat ngelanjutin ffnya nih😊😂😂😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s