[Series] Coming To You – 10

Coming to youu 2


Author

Jung Yoorey

Title

Coming To You

Cast

Sandara Park (Dara 2NE1), Kwon Jiyong (GD Big Bang)

Other Cast

BigBang member, 2ne1 member, other

Genre

Fantasy, Romance, Angst, Hurt

Rating

Teenager

Backsound’s

Every Single Day – Away With You (The Time We Were Not In Love OST.)

Note

COMING TO YOU NEW POSTER BY JUNG YOOREY XD

[!!!] Baca note diakhir cerita

 

 

Kenapa saat kau mulai berharga, kau pergi? apa ini yang kau sebut bahagia?

*

Seoul Hospital, 20.00 KST

Sandara menatap jiyong dengan seksama. Lelaki itu sedang mengerjakan sesuatu di mesin kecilnya yang bisa dilipat-lipat—buka tutup. Terdapat banyak tombol-tombol dan ada layar berwarna seperti kubus tipis di apartement jiyong. jiyong mengenalkan mesin itu dengan nama laptop.

Sandara tidak begitu mengerti, tapi jiyong terlihat sangat serius mengerjakan sesuatu sambil memencet tombol-tombol dengan lancar. Sesekali ia menggeleng dan mendelik kesal. mengacuhkan sandara yang masih setia menatapnya. Ia menggenakan kacamata minus membuatnya terlihat sangat serius.

“jiyong, apa yang kau kerjakan? Bisa tidak aku ikut membantumu? Kau terlihat kesulitan.” Akhirnya sandara berani mengeluarkan tawarannya setelah melihat jiyong makin frustasi.

Jiyong menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya. giginya menggeretak kesal. sandara mendengus kecil dan hanya bisa menatap jiyong. lelaki itu sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.

“jiyong, pekerjaan sulit itu harus diselesaikan bersama. Kau tidak akan bisa jika mencoba untuk mengerjakannya sendiri.” sahut sandara lagi.

Jiyong mengacuhkan sandara dan tetap fokus pada laptopnya. Ia melirik kertas di samping kirinya dan kembali mengetik. Sandara mengerucutkan bibirnya. “serius, aku bisa membantumu kok!”

Masih tidak ada jawaban dari jiyong. malah rautnya menjadi dua kali lipat serius. Sandara mulai kehabisan akal dan memutuskan untuk bersandar di bantalnya dan melipat tangan didepan dada.

“huph, pasti bom dan seunghyun sedang bersenang-senang di fame sekarang, sementara aku terjebak disini bersamamu yang malah membiarkanku sendirian.”

Perkataan sandara membuat jiyong meliriknya tajam tapi sandara memilih untuk memperhatikan kuku-kukunya polos. Ia sedikit puas karena berhasil mendapatkan perhatian lelaki itu, tapi tatapannya memancarkan sinar yang sangat menganggu.

“pertama aku sedang sibuk mengerjakan tugasku, kedua aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke fame, hell sejak kapan kau tahu fame itu tempat bersenang-senang? Dan ketiga aku akan menyelesaikan tugasku ini dengan cepat agar bisa menemanimu tapi kau—” jiyong menatap sandara lurus dan tajam. “—kau sangat berisik jadi berhenti berkicau.”

Setelah mengucapkan 3 inti kekesalannya yang membuat sandara cemberut, jiyong kembali fokus pada laptopnya seakan dia tidak pernah berbicara pada sandara. Jiyong kembali pada pribadi dinginnya. Sebelumnya, ia mencatat didalam otaknya untuk memarahi bom dan seunghyun karena pasti mereka berdua yang sudah mengatakan hal aneh pada sandara. Dua orang itu memang tidak bisa dipercaya, gerutu jiyong dalam hatinya.

Sandara, gadis itu meluruskan tangannya sambil memperbaiki selang infus yang sempat terlilit. Ia merasa kurang nyaman dengan infus yang menusuk tangannya itu, tapi jiyong bilang dia harus bertahan jika ingin cepat keluar.

Ia menatap jiyong memelas. “bahkan ketika aku sakit?” lirih sandara pelan yang membuat jiyong berhenti mengetik untuk kedua kalinya. ia menghela nafas pelan dan menatap sandara.

“setelah ini selesai, aku akan menemanimu.”

“coba perlihatkan padaku, mungkin aku bisa membantu.” Rengek sandara tidak sabaran. Sumpah, ia sangat bosan sekarang.

Jiyong mengangkat alisnya. “kau tidak akan mengerti.”

“aku ini salah satu penulis di kerajaan jadi aku ini pintar. Cepat perlihatkan tugasmu.”

Jiyong mengulum tawanya. “sudahlah, lebih baik kau istirahat saja. aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya untuk minum obat.”

Sandara menggeleng keras. “bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak menunjukkannya padaku?” suara sandara mulai terdengar kesal.

Jiyong mendecak sebal. “kau berisik sekali sih.”

“aku kan ingin membantumu!”

“kau bisa membantuku dengan tidak mengganggu dan hanya beristirahat.”

“kau ini manusia sosial atau bukan sih?”

“kau ini putri kerajaan atau putri keras kepala sih?”

“kau jahat!”

“kau berisik!”

Sandara mengerucutkan bibirnya dan menenggelamkan dirinya didalam selimut sementara jiyong mendengus lalu kembali mengerjakan tugasnya dengan serius.

“kalau kau memang ingin mengerjakan tugasmu, bisakah kau mengerjakannya didekatku? Kau terasa begitu jauh dan aku.. aku kesepian disini.”

Jiyong tertegun mendengar suara halus sandara yang teredam dibalik selimut. Jiyong mendongak dan menatap gundukan didalam selimut. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati kasur sandara dengan laptop ditangannya.

Jiyong menarik sebuah kursi dan duduk tepat samping kasur sandara. Ia meletakkan laptopnya di meja kecil disamping kasur dan mulai melanjutan tugasnya tanpa mengatakan apapun.

Sandara yang merasakan seseorang berada dibelakangnya segera menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip. Dan tatapannya menemukan wajah tampan jiyong yang sedang serius mengerjakan tugas dengan kacamata menghiasi matanya.

Jantung sandara terpacu kembali. Pipinya memanas dengan pasti. Wajah jiyong yang sedang serius ternyata tidak sesinis yang dia kira. Jiyong terlihat sangat cerdas dan maskulin, ya lelaki itu punya banyak angle di seluruh sisi wajahnya.

Deg

Sandara terhenyak ketika jiyong menoleh dan menatapnya. Jiyong tersenyum tipis dan menyentil dahi sandara pelan. “jangan menggodaku, dara-ssi.”

Sandara menarik selimut hingga menutupi hidungnya dan mengalihkan pandangannya. “aku tidak menggodamu. Kau hanya sangat tampan.”

Jiyong terdiam sejenak kemudian terkekeh. Entah kenapa ia merasa lega. “kali ini kau mau ditraktir apa, hm?”

Sandara menatap jiyong bingung. “eng..?”

“kau memuji kalau ingin dibelikan sesuatu kan?”

Sandara tersenyum lebar. “baiklah, karena aku sedang tidak ingin sesuatu, maka kuanggap kau punya utang padaku.”

Jiyong menatap sandara lembut. Pribadi yang lain mengendalikan dirinya lagi. “kau benar-benar menggemaskan.” Ucapnya lembut dengan senyuman yang membuat siapapun meleleh. Urh, kalian tahu kan bagaimana senyuman pangeran kampus? He is kwon jiyong, the famous one. Semua orang akan iri jika melihat jiyong tersenyum seperti itu pada sandara.

Sandara merasakan pipinya kembali memanas. Ia menyingkap selimutnya dan segera mengatur posisinya senyaman mungkin agar bisa melihat tugas jiyong—ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “jadi ini tugasmu?” tanyanya sok tahu sambil memperhatikan tulisan elektronik di dalam layar laptop jiyong.

Jiyong menatap sandara sekilas kemudian menempatkan jari-jarinya di keyboard melanjutkan tugasnya. “hm.”

Sandara membaca setiap kata yang ditulis oleh jiyong dengan seksama. Kali ini ekspresinya tidak jauh beda dengan jiyong, bahkan sandara mulai terbawa dan mendekatkan wajahnya ke layar.

Jiyong melirik sandara bingung kemudian mengangkat bahunya lalu melanjutkan tugasnya lagi. ia harus menyelesaikannya sebelum minggu depan dan hari tinggal hitungan jari. membayangkan mengulang mata kuliah dengan dosen killer seperti shim songsaengnim adalah menghuni neraka fiksi di bumi—menurutnya.

“kau salah, ini tidak seperti itu jika kau mau menulisnya begini.”

Jiyong mengernyitkan keningnya dan menatap sandara bingung. “apa maksudmu?”

Sandara menggerakkan telunjuknya ke layar, menunjuk sebuah kalimat yang diketik jiyong. “ini penulisannya salah, dalam karya ilmiah sejarah itu penulisannya harus lebih jelas.”

Jiyong mengikuti telunjuk sandara dan mengangguk-angguk. “ah benar juga ya.” gumamnya.

Sandara mengangguk dan menunjuk kalimat yang lain. “dan ini juga salah, kau tidak boleh menulis kalimat seperti ini dalam sejarah, kau menghancurkan unsur intrinsiknya.”

Jiyong kembali mengikuti telunjuk sandara lalu menggeleng tidak setuju. “aku pikir aku sudah benar.”

Sandara menggeleng tegas. “Tidak boleh jiyong-ssi. kau harus menghargai tiap detail sejarah dan tidak meringkasnya dengan asal. Kau menghilangkan intinya dan menambahkan dengan imbuhan tidak penting, ini bukan sejarah.”

Jiyong menatap sandara takjub. “wah, ternyata kau pintar juga ya.” kagum jiyong.

Sandara hanya tersenyum lebar. “cepat diperbaiki, aku akan membuatkan kata-kata yang tepat. Coba perlihatkan padaku kertas-kertasmu.”

Jiyong terdiam sejenak kemudian menyodorkan kertas-kertasnya dengan ragu. sandara memperbaiki posisinya menjadi duduk dan meraih kertas dari jiyong. ia membacanya dengan serius.

Jiyong menatap sandara dengan ekspresi kagum. Tanpa sandara ketahui, wajah jiyong bersemu merah seiring dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya. Memperhatikan sandara yang terlihat serius menjadi hiburan tersendiri untuknya di malam minggu ini. kalau dipikir-pikir, ini adalah malam minggu pertama jiyong dan sandara. Dan entah kenapa jiyong merasa sangat nyaman seakan untuk membayangkan semua ini berakhir bisa membuatnya gila.

Ternyata kau memang bisa diandalkan ya, sandara? Ah.. aku memang mencintai gadis ini, tuhan.

*

Minggu pagi seoul rupanya tidak secerah sabtu kemarin. Langit agak mendung membuat udara menjadi dingin. Penghangat ruangan pun tidak cukup untuk menurunkan bulu kuduk.

Drrt drrt..

Jiyong menggeliat kecil ketika merasakan getaran di lehernya. Ia menggapai benda yang bergetar itu dan menaikkannya hingga sejajar dengan matanya. dengan pelan, jiyong mulai membuka matanya untuk melihat siapa yang membuat ponselnya bergetar.

Eomma Calling..

Jiyong mendesah malas dan segera menjawab telfon dari ibunya itu. sekilas, ia melirik jam di ponselnya sebelum menempelkannya di telinga. 06.43 KST.

“hm kenapa eomma?” suara jiyong terdengar parau. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

kau dimana? Kenapa kau tidak ada di apartementmu?

Jiyong terdiam sejenak memikirkan alasan yang bagus dan menguap. “huahm~ engh aku menginap dirumah temanku.”

siapa temanmu itu?

Jiyong menutup matanya mencoba untuk memuaskan rasa kantuknya. “seungri.”

oh begitu. tapi jiyong-ah..”

Jiyong menaikkan alisnya masih dengan mata tertutup. “kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?”

ya begitulah.

“huh? apa itu eomma?”

appamu mendapatkan kupon ke jeju untuk 10 orang selama 3 hari 2 malam dari rekan kerjanya yang bekerja di perusahaan travel. Kau tahu kan, uncle tan?

Jiyong mengangguk asal walau ia sama sekali tidak tertarik. “ah, itu berita bagus. Lalu kenapa?”

kuponnya berlaku untuk jumat depan sekalian golden week. Kampusmu libur kan setiap golden week?

Jiyong mulai merasakan sesuatu yang aneh di nada bicara eommanya. “eng ya. tapi eomma tidak menyuruhku un—”

kau pintar sekali! eomma dan appa harus ke busan untuk menjenguk nenekmu minggu depan jadi sayang sekali kalau kuponnya tidak digunakan, kan?

Jiyong mendesis. “aku tidak bisa eomma. Tugasku sedang menumpuk dan tidak ada waktu untuk omong kosong seperti itu.” jiyong menggerutu masih dengan mata tertutup. Dahinya mengkerut kesal.

lalu harus bagaimana? Appamu sudah menerima kuponnya. Ayolah jiyong, uncle tan itu rekan bisnis appa yang banyak membantu perusahaan. Lagipula kau akan menginap di resort milik uncle tan dengan service VVIP. Kalau tidak pergi, appamu bisa malu.

Jiyong menggertakkan giginya kesal. “lalu haru bagaimana? Aku tidak mungkin membawanya, eomma tahu kan dia takut naik pesawat?”

tenang saja, dia akan ikut dengan eomma ke busan. Jadi kau bisa berlibur dengan teman-temanmu. ajak kiko-san juga, dia sering mengirimi eomma cokelat perancis.

“aish, aku tidak mau mengajaknya.”

kalau begitu, artinya kau ingin pergi kan? Aigoo, anak pintar!

Jiyong mengerucutkan bibirnya sebal. “kalau nanti tugasku tidak selesai, eomma harus membayar dosenku agar aku tidak perlu mengulang mata kuliah.” Dengusnya.

aish kau ini. waktu libur ya dipakai untuk libur, tugasmu nanti saja. oh ya..

Jiyong menaikkan alisnya. “ada apa lagi?”

kau harus mengajak kekasihmu.

Jiyong membuka matanya dengan cepat. Kekasih? Siapa? Eommanya dengar darimana? “heh? Apa yang eomma bicarakan?”

lho? Gadis yang dulu haru bicarakan, bukan kekasihmu? Siapa namanya, san.. ehm sandy? Sander?

Cklek. “selamat pagi nona sandara, waktunya untuk memeriksa keadaanmu dan minum obat.”

ah benar, sandara!—eh? siapa perempuan itu jiyong? kau dimana sekarang? memeriksa? Minum obat? Ada apa dengan sandara?

Jiyong butuh beberapa detik untuk mengembalikan akal sehatnya. Ia menyusun kejadian yang baru saja terjadi secara perlahan di kepalanya. Ya, dia sedang menelfon dengan ibunya, membicarakan tentang kupon liburan, lalu membicarakan si kekasih jiyong, dan perawat tiba-tiba masuk untuk memeriksa keadaan sandara.

Oh benar, jiyong segera menyingkap selimutnya dan bangkit lalu menoleh ke arah pintu. seorang perawat menatapnya shock. Jiyong mengikuti arah pandang perawat itu dan meneguk liurnya. Ah.. tradisi. Ya, jika tidur jiyong akan selalu half naked. Tidak peduli dia dimana dan cuaca yang dingin.

Jiyong segera menutup dadanya dengan selimut membuat perawat itu segera keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun. Jiyong bisa melihat raut wajah perawat itu yang sangat terkejut dan memerah. Jiyong mendesah karena minggu pagi yang seharusnya tentram itu terganggu.

jiyong? kau masih disana? Kau dimana, oh?

Jiyong menggelengkan kepalanya cepat dan segera menempel ponselnya kembali di telinga. “ah, eh eomma sepertinya aku harus mengurus sesuatu. Aku akan menelfon eomma nanti. Kututup sekarang ya, aku mencintaimu eomma.” jiyong dengan cepat memutuskan sambungan telfonnya tanpa memperdulikan eommanya yang masih protes.

Jiyong segera memakai kemejanya dan merapikan sofa yang habis ditidurinya. Ia merapikan tatanan rambutnya lalu berjalan mendekati satu-satunya ranjang diruangan itu. jiyong tersenyum tipis, kantuknya hilang ketika melihat wajah polos sandara yang begitu mempesona ketika ia sedang terlelap.

Jiyong mengarahan tangannya untuk menyeka rambut yang menutupi mata sandara. Ia melakukannya dengan sangat lembut agar sandara tetap terlelap. Jiyong yakin, pasti sandara kelelahan karena membantu jiyong sampai tengah malam.

Jiyong terkekeh mengingat betapa pintarnya seorang sandara park. Rupanya dia tidak besar mulut, sandara memang pintar dan tugas jiyong tinggal disetor untuk direvisi minggu depan. Jiyong agak minder karena sandara sangat pintar. Oh tentu saja gadis itu pintar di bidang sejarah, dia dari masa lalu!

“maaf ya, kau jadi kelelahan begini.” Bisiknya pelan.

Jiyong tahu sandara adalah gadis yang sangat polos dan tidak ada kepura-puraan dalam semua tingkahnya. Apa salah jika dia mencintai sandara? Kenapa dia merasa ada jarak yang terbentang di antara mereka?

Jiyong tahu perasaannya sekarang ini sudah bulat. Dia menyayangi sandara, ah tidak, dia mencintai gadis itu. walau memang terlalu cepat, tapi jiyong yakin dia mencintai sandara. Tidak ada alasan untuk berhenti mencintainya, jiyong sangat ingin melindungi sandara.

Tidak ada durasi untuk mencintai seseorang, bahkan kebanyakan mengalami love at first sight. Jadi apa jiyong salah jika mencintai sandara dalam kurun waktu satu minggu? hell, jiyong tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. satu minggu bersama sandara seperti sudah bersama selama 1 tahun penuh petualangan. Jiyong tidak bisa mendeskripsikan perasaannya secara rinci, tapi ia bisa membuktikan semuanya.

Dan.. apa sandara juga mencintainya? jiyong tidak yakin, sandara bertingkah aneh dan itu membuatnya terlihat seperti ‘jiyong adalah perempuan yang tergila-gila pada si lelaki sandara’. Jiyong tahu, perasaannya ini sangat tiba-tiba dan pasti membuat sandara bingung. mereka baru bertemu hari senin yang lalu dan jiyong sudah menciumnya sebanyak 2 kali! Hell man, twice! Dan plus tidur bersama sambil berpelukan. Jiyong pasti sudah kehilangan akal sehatnya.

Jiyong hanya menyukai perasaan ini. ia nyaman berada disamping sandara, menggoda gadis itu, melindunginya, dan menyentuhnya. Crazy old boy, jiyong benar-benar mencintainya!

“sebenarnya siapa kau sandara? Kenapa kau bisa membuatku jatuh cinta dengan begini cepat?” gumamnya tanpa sadar.

Jiyong menghela nafas. Ia sangat ingin menjadikan sandara miliknya dan membuat gadis itu berada disampingnya selamanya. Tapi mengingat bahwa sandara datang dari masa lalu, jiyong merasakan nyeri didadanya. Bagaimana kalau sandara menemukan kebahagiaannya? Bagaimana kalau dia akan segera kembali ke masa lalu? bagaimana dengan jiyong?

“aku mohon jangan meninggalkanku, dara.” Gumamnya lagi dengan frustasi. Ia menarik tangannya yang sedang mengelus pipi sandara lalu memutar tubuhnya menuju kamar mandi. Ia butuh untuk menyegarkan kepalanya.

*

Setelah menerima perawatan dan mendapat izin untuk kembali kerumah, sandara terus bersenandung ria membuat jiyong mendengus sebal. Sebenarnya dia senang melihat gadis itu senang, tapi hell telinga jiyong sakit mendengarnya karena ia menyanyikan lagu tradisional yang tidak jelas!

“dara-ah, berhentilah.” Jiyong mencoba untuk menegur sandara untuk yang ke.. 5? 7? 9? Sh*t, jiyong sudah hampir naik pitam.

Sandara hanya menatap jiyong dengan wajah cerianya sambil terus bersenandung. Jika senang, sandara akan bernyanyi sampai ia lelah. Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan shinjoo dulu.

Jiyong yang sedang merapikan barang-barang sandara hanya bisa mendengus sekesal mungkin berharap gadis itu sadar kalau lagu-lagu kunonya itu menganggu urat nadi jiyong.

“dara, apa di joseon hanya ada lagu seperti itu?” jiyong bertanya dengan nada sinis. Ia melirik sandara sekilas dan gadis itu masih berbinar-binar di tempat tidurnya.

hmm~ ya begitulah. Ini musik favoritku. Naa nana na nana~.”

what? ada apa dengan telingamu?” akhirnya jiyong tidak bisa menahan diri untuk benar-benar mencela lagu kuno sandara.

Sandara mengernyitkan keningnya dan berhenti bersenandung. “kenapa? telingaku baik-baik saja.”

Jiyong berhenti membereskan barang-barang dan berkacak pinggang sambil menatap sandara tajam. “aku punya lagu yang lebih keren daripada yang kau nyanyikan. Mau dengar?” tawar jiyong.

Sandara berpikir sejenak. “eng, coba nyanyikan.”

Jiyong mendelik. “aku tidak ingin menyanyi.”

“jadi kau mengetahui lagunya dari mana?”

Jiyong mendesah kecil dan tangannya jatuh kesamping. Ia baru ingat kalau gadis itu berasal dari masa kuno dan tentu tidak tahu kalau sekarang musik bisa didengarkan secara eletronik tanpa harus dinyanyikan lagi.

Jiyong merogoh ponselnya dan memutar sebuah lagu kesukaannya. Sandara tersontak karena mesin tipis ditangan jiyong itu mengeluarkan musik. Ia menaikkan bahunya mencoba melihat apa yang terjadi pada mesin itu. “j-ji? Mesin itu bernyanyi!” soraknya dengan mata berbinar seakan jiyong baru saja menemukan sebuah pengetahuan besar.

Jiyong terkekeh kecil dan meletakkan ponselnya dimeja samping ranjang sandara. “dengarkan saja, jangan disentuh.”

Sandara larut dalam musik sehingga ia tidak benar-benar mendengar apa yang jiyong katakan. Jiyong menatap sandara lurus kemudian melanjutkan membereskan barang-barang sandara dan barang-barangnya tentu saja.

Jiyong tersenyum tipis ketika mendengar salah satu lagu favoritnya itu ternyata bisa membuat sandara diam.

Give a little time to me or burn this out,
We’ll play hide and seek to turn this around,
All I want is the taste that your lips allow,
My, my, my, my, oh give me love
– ( Ed Sheeran – Give Me Love)

Jiyong tanpa sadar mencengkram baju sandara yang akan dimasukkanya di tas. Ia bisa merasakan perasaannya menggebu-gebu sekarang. oh tuhan, bisakah dia memeluk sandara sekarang? sekedar pelukan ringan. Bisakah ia melakukannya tanpa status seperti ini?

Jiyong sadar jika hubungannya menggantung. Jiyong memang mengungkapkan bahwa dia mencintai sandara, tapi gadis itu ketiduran tanpa sempat mendengar inti terpenting dari apa yang ingin jiyong beritahu. Dari semua ungkapan, kenapa sandara harus tertidur ketika jiyong akan mengatakannya?

Tapi jiyong sedikit bersyukur, ia tiba-tiba tidak yakin jika sandara akan mencintainya. pasalnya, saat itu ia bermimpi bahwa sandara melarangnya untuk mencintainya. terasa nyata, tapi jiyong tahu itu hanya bunga tidur yang mungkin ingin mengetes kepercayaan dirinya.

Jiyong tahu dia tidak seharusnya ragu hanya karena sebuah mimpi, tapi firasatnya mengatakan bahwa mimpinya itu mungkin ada benarnya. Tapi atas dasar apa sandara harus melarangnya mencintainya? apa karena sandara dari masa lalu? hell man, jiyong tidak memperdulikan drama apapun yang akan terjadi selama dia bisa bersama sandara.

Selama dia bisa bersama sandara

Oke jiyong memang ragu sekarang! bagaimana kalau sandara benar-benar kembali ke masa lalu? jiyong tidak mau. jiyong tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Dengan berat jiyong menoleh dan melihat gadis itu sedang menutup matanya dan menggoyangkan kepalanya menikmati musik. Ia tersenyum manis. Jiyong kehilangan kata-kata yang sudah ia susun sebelumnya. Sandara membuat jantungnya bermain skiping dan otaknya menjadi tidak berguna.

Sandara memang cantik. tidak salah jika banyak yang menyukainya. Oh, betapa beruntungnya shinjoo bisa dicintai begitu banyak oleh gadis ini. Dia tidak tahu berapa banyak yang ingin mengetahui nomor ponsel gadis ini sekarang.

Jiyong mengernyitkan hidungnya begitu menyadari sesuatu. Benar juga, sandara tidak punya ponsel. Apa ia harus membelikannya satu? Yah, setidaknya jiyong tidak ingin menciptakan kebohongan baru jika ada yang bertanya tentang ponsel gadis itu. ayolah, siapa yang tidak punya ponsel di abad 20?

“dara.”

Sandara bergeming dan masih menghayati lagu yang jiyong putarkan untuknya.

Jiyong meletakkan baju sandara didalam tas dan segera mendekati satu-satunya ranjang diruangan itu. Ia duduk dibagian tepi dan menyentuh lengan sandara. Gadis itu tersontak dan membuka matanya lebar.

“e-eh?”

Jiyong menatapnya datar dan itu membuat sandara mengernyitkan keningnya. “ada apa ji?”

Jiyong melirik ponselnya. “kau suka lagunya?”

Sandara mengikuti tatapan jiyong dan mengangguk riang. “aku suka! di jamanku tidak ada yang seperti ini. kami mendengar musik jika ada yang memainkannya secara langsung. Benar-benar keren! Jiyong hebat, hebat sekali!”

Jiyong terkekeh melihat tingkah konyol sandara. Apanya yang hebat sih? hanya memutar lagu di ponsel saja sandara sudah memujanya bagaikan einstein, apa kabar penemuan mobil terbang?

“tapi dia menyanyi dengan bahasa apa? yunani? Romawi?”

Jiyong berhenti terkekeh dan mengusap wajahnya sendiri. benar juga, sandara mana tahu bahasa yang digunakan si penyanyi? “barat, inggris. Tahu?”

Sandara membulatkan bibirnya. “oh, menyenangkan sekali ya bisa mendengar lagu asing.” Gumamnya sambil menggerakkan kepalanya lagi.

Jiyong hanya mengangguk pelan. “dara.”

Sandara menoleh dengan senyuman tipisnya. “ya?”

“kau mau punya satu yang seperti itu?”

*

Pemulihan kaki sandara rupanya bisa sangat cepat karena kekebalan tubuh gadis itu cukup kuat. Disaat kakinya yang baru saja retak, sandara sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya tanpa bantuan kruk. Walau begitu, sandara harus memakai perban dikakinya dan tidak boleh berlari ataupun berjalan cepat demi kesembuhan kakinya. Harusnya ia dianjurkan menggunakan kruk untuk mencegah resiko yang bisa terjadi walau kemungkinannya dibawah 10 persen, tapi gadis itu menolak karena ia tidak tahu cara menggunakannya.

Jiyong yang menjadi stres disini. bagaimana bisa sandara langsung menggunakan kedua kakinya disaat ia baru saja mengalami kecelakaan? Bagaimana jika terjadi hal yang buruk? Oh, jika seperti ini terus mungkin sebuah skenario akan tercetak dikepala jiyong.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah toko ponsel di sekitaran jalan apgujeong yang merupakan langganan jiyong. kebetulan pemilik toko itu adalah sahabat kakaknya.

Jiyong sedikit bersyukur karena sandara tidak memakai kruk, itu berarti dia harus menyangga pada jiyong. lelaki itu memeluk pinggang sandara agar gadis itu tidak jatuh.

“jiyong, kau yakin?”

Jiyong menoleh pada gadis yang dicintainya itu. “hm? tentang apa?”

Sandara berhenti disalah satu pajangan ponsel dan menggaruk keningnya. “aku tidak membutuhkan ini, ji.”

Jiyong menatap ponsel yang dipandangi sandara. “kenapa? menurutku kau harus memilikinya satu.”

“tapi ini pasti mahal.”

“aku tidak memikirkan angka jika itu untukmu.” Ucap jiyong cepat lalu menarik gadis itu menuju seseorang yang sedang melayani pelanggan. Sandara mengerjapkan matanya merasakan pipinya memanas. Bagaimana bisa jiyong mengatakan hal seperti itu didepan umum begini? Untung saja tidak ada yang mendengar. Sandara bisa kepergok tersipu.

hyung.” jiyong memanggil seseorang membuat sandara ikut menoleh. Hyung yang dipanggil jiyong itu menoleh dan tersenyum lebar.

“kwon jiyong!” sapanya senang. Ia menyuruh seseorang untuk melayani pelanggan yang bertanya padanya dan berjalan ke arah jiyong dan sandara.

Lelaki yang lebih tua itu memeluk jiyong membuat sandara melepas tangan jiyong dari pinggangnya. Tapi jiyong menyadarinya dan tetap menggenggam tangan gadis itu sementara tangannya yang lain membalas pelukan si hyung. beberapa detik kemudian si hyung menarik dirinya dan menatap jiyong berbinar.

“oh kwon jiyong, apa kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!”

“aku baik-baik saja, yoochun hyung. kau sendiri? kau terlihat berisi sekarang.”

Yoochun tertawa renyah. “seperti yang kau lihat, aku makan banyak sekarang. oh ya nanti aku, junsu dan yang lainnya akan mengadakan pesta bujangan untuk yunho. Kau ikut ya?”

Mata jiyong melebar. “yunho hyung? dia akan menikah? Wuah aku turut bahagia untuknya. hubungi saja aku nanti waktu dan tempatnya, hyung.”

“yah begitulah, sepertinya dia terburu-buru karena kau tahu kan, boa itu memiliki banyak fans dan yunho ingin segera menikahi boa agar tidak ada yang mengganggunya lagi.”

“ya, aku tahu mereka, hyung.”

Yoochun mengangguk masih dengan senyuman tampannya. “jadi apa yang membawamu kemari? Apa ponselmu bermasalah?”

Jiyong melirik sandara. “eng, aku ingin membeli ponsel.”

Yoochun mengikuti lirikan jiyong dan baru sadar jika gadis yang berdiri sedari tadi disamping jiyong itu sedang berpegangan tangan dengan lawan bicaranya. Ia menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda. “kekasih baru, jiyong?”

Wajah jiyong memerah tipis. Ia melihat sandara yang nampak menggigit bibir bawahnya gugup. Jiyong menggeleng. “a-ah dia teman lamaku.”

Yoochun mengangguk mengerti walaupun dia tahu jiyong berbohong padanya. ia menjulurkan tangannya ke sandara. “aku park yoochun, sahabat kakak jiyong sekaligus pemilik toko ini, kkk~. Panggil aku oppa.”

Sandara menatap jiyong dan lelaki itu mengangguk. sandara pun membalas juluran tangan yoochun sambil tersenyum. “park sandara-imnida. Saya teman jiyong-ssi. senang berkenalan denganmu, eng—oppa.”

Yoochun mengangguk. “Wah, sepertinya jiyong sudah mengalahkanku dalam mencari teman wanita, eh? jiyong kau pintar memilih wanita. Sudah cantik, dia juga sopan.” Goda yoochun sambil menarik tangannya kembali. Sandara hanya mematung sementara jiyong mendelik ke yoochun.

Yoochun tertawa senang. “baiklah, baiklah. jadi, ponsel seperti apa yang kau inginkan?”

*

Bugh!

“kyaa!”

Jiyong tersenyum puas ditengah nafasnya yang terengah sementara sandara terlihat menutup mulutnya. matanya berbinar. “kwon jiyong kau pemukul yang hebat!”

Jiyong hanya tersenyum remeh. “ini hanya salah satu dari kehebatanku.”

Sandara mendecih dan meninju lengan jiyong pelan. sekarang mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan didaerah namsan. Ini permintaan pribadi sandara yang ingin bermain-main sebelum pulang. jiyong yang ingin memanfaatkan hari minggu ini, dengan senang hati menuruti permintaan sandara dan mengajaknya ke namsan. Jiyong tahu, sandara harus banyak istirahat, tapi untuk sekedar berjalan-jalan sedikit, tidak apa kan?

Saat ini mereka sedang bermain di game centre dan mengumpulkan tiket. Sebenarnya jiyong tidak begitu tertarik berada di game centre kecuali jika dia ingin menghilangkan stres. Tapi sepertinya membawa sandara kemari itu sangat menarik.

“jiyong, jiyong! tiketnya keluar banyak!” sandara berseru senang sambil menunjuk ke arah mesin game.

Jiyong menoleh dan ikut berseru tidak kalah heboh. “yuhu!! Kita menang banyak!” jiyong melompat kegirangan lalu tanpa sadar ia memeluk sandara. Sandara yang masih diliputi kesenangan membalas pelukan jiyong.

serasi sekali mereka.

wah kapan aku bisa seperti itu dengan kekasihku?

mereka sangat lucu.”

sejak tadi mereka sangat heboh, apa yang mereka mainkan?

wah wah mereka berpelukan!

Jiyong tersadar dari kesenangannya ketika mendengar bisikan orang-orang. Ia menarik dirinya dari sandara yang masih tersenyum riang. “a-ah..”

Sandara tersenyum. “kau hebat, jiyong!” sandara menepuk pundak jiyong pelan.

Jiyong hanya meringis kecil lalu segera mengambil tiketnya. Ia meraih tangan sandara dan memeluk pinggang gadis itu. “sepertinya tiketnya sudah cukup. Ayo kita tukar dengan hadiah.”

Sandara mendongak ke arah jiyong. “Wuah, hadiah? Seperti apa?”

Jiyong hanya tersenyum dan membawa gadis itu ke sebuah counter untuk menukar hadiah. Sandara ternganga melihat banyak aksesoris dan boneka-boneka yang cantik terpajang disana. Wajahnya berbinar bersama pantulan cahaya kerlap-kerlip di game centre itu.

“jiyong, itu apa?” sandara menunjuk ke arah rak yang memajang barang couple. Jiyong melirik ke arah yang ditunjuk sandara datar.

“itu barang pasangan.” Jawabnya datar. Ia tidak tertarik dengan barang couple, itu adalah hal ternorak dalam hidupnya.

Mata sandara berbinar. “jiyong~ bisakah kita memilikinya?”

Jiyong mengernyitkan hidungnya. “a-apa?”

*

Ini super idiot. Kuharap tidak ada yang melihatku seperti ini..

Jiyong tidak sanggup menahan malunya lagi sekarang. mereka sedang makan siang di sebuah kios dengan token yang sungguh norak hingga hampir memutuskan seluruh urat malu jiyong.

Sandara terlihat sangat imut dan menggemaskan dengan bando bertelinga kelinci dan jepitan berbentuk tunas mawar menghiasi rambutnya. Lain halnya dengan jiyong yang terlihat malu-malu dengan bando bertelinga kucing dan jepitan berbentuk tunas tomat. Keduanya terlihat kontras.

“jiyong, kau terlihat resah. Apa aku memaksamu?” sandara akhirnya mengeluarkan pernyataan yang jiyong tunggu-tunggu sejak tadi.

“tentu saja. kau membuatku sangat malu. sekarang bagaimana aku akan mengangkat wajahku jika ada mahasiswa yang melihatku?” gerutu jiyong.

Sandara terlihat cemberut. “kalau begitu lepas saja. maaf aku memaksamu. Aku hanya senang dengan semua ini..” gumam sandara pelan sambil menunduk.

Jiyong mendesah pelan. kenapa jiyong mau memakai benda norak seperti ini tadi? Tentu saja karena sandara terlihat sedih dan jiyong tidak akan membiarkan hal itu terjadi. apapun yang membuat gadis itu tertawa, jiyong akan mengesampingkan harga dirinya.

Jiyong menaikkan tangannya dan mengangkat dagu gadis joseon itu agar menatapnya. “hei, aku hanya bercanda. Jangan murung seperti ini, kau jelek.”

Sandara merengut dan berusaha menahan tawanya. “kau sangat lucu, jiyong-ssi.”

Jiyong memajukan bibir bawahnya kesal. “kau tahu, seumur hidupku ini pertama kalinya aku menggenakan barang-barang seperti ini.”

Sandara mengangguk-angguk. “aku juga kok. mari berbagi pengalaman.”

Jiyong hanya tersenyum tipis dan menarik tangannya dari dagu gadis itu. baiklah, untuk hari inii, jiyong akan melakukan apa saja walau itu membuatnya malu. ya, cukup hari ini adalah hari untuk sandara.

“jiyong, bagaimana cara menggunakan benda ini?” sandara menaikkan ponselnya dan menyodorkannya ke arah jiyong. jiyong menengok dan mendekatkan kursinya ke sandara. Ia menyalakan ponsel gadis itu sambil menjelaskan bagian-bagian yang penting.

Beberapa orang yang lewat, menahan tawa mereka saat melihat jiyong dan sandara. Sangat lucu melihat keduanya dalam balutan token couple dan terlihat serius. Apalagi jiyong sedang mengajar sandara menggunakan ponsel. Siapa yang tidak bingung jika melihat seseorang masih tidak tahu menggunakan ponsel? Mereka seperti pasangan idiot yang membuat orang-orang cemburu.

Selang beberapa menit, makanan mereka pun datang dan mereka menghabiskannya dengan semangat walau sandara terlihat tetap anggun dalam mengunyah makanannya. Ngomong-ngomong, mereka memesan dua porsi jjangmyeon. Awalnya sandara agak ragu, tapi melihat jiyong yang makan dengan lahap memicu adrenalinnya. Dan rasanya tidak seburuk yang dia pikirkan, malah membuatnya ingin tambah.

Jiyong memperhatikan sandara yang terlihat sangat lucu saat memakan mienya. Mulutnya terbuka tidak begitu besar dan membuat saus kacang hitam belepotan disekitar bibirnya. Jiyong menarik tissue dan melap bibir gadis itu dengan lembut.

“sejak kapan kau jadi jorok begini, sandara-ssi? aish.” jiyong tetap fokus melap bibir sandara. Gadis itu hanya menatap jiyong lurus dan tertuju ke bibir lelaki itu.

“kau juga jorok, jiyong-ssi.” sandara menunjuk bibir jiyong yang kebetulan terdapat bekas saus kacang hitam. Jiyong menyentuh sudut bibirnya dan merengut, sandara benar.

Keduanya bertatapan dan kemudian tertawa untuk hal konyol yang barusan terjadi. jiyong mungkin sudah kehilangan aura mengintimidasinya. Tapi bersama sandara, sudah lebih dari cukup.

Setelah selesai, jiyong mengajak gadis itu untuk pulang, tapi rupanya ada hal yang menarik perhatian sandara. Namsan tower.

Oh tidak.. jangan lagi dara.. jiyong berbisik ngeri didalam batinnya.

“jiyong~ bawa aku kesana. Sepertinya menyenangkan~” suara memelas itu membuat jiyong mendesah berat. Sandara melarangnya melepas benda couple mereka karena ia menyukainya, dan jiyong menurutinya—dengan terpaksa. Sekarang gadis itu menyuruhnya naik ke namsan tower dengan dandanan seperti ini? tidak akan.

“kau masih dalam masa pemulihan sandara. Kau mau cepat sembuh, kan? Lebih baik kita segera pulang. kau harus beristirahat.” Tolak jiyong sambil membawa sandara menjauhi area itu.

Sandara menahan kakinya membuat jiyong ikut berhenti. “tapi aku mau kesana..”

Jiyong mendesah. “bagaimana kalau kita kesana lain hari? Kau terlihat lelah dan kakimu tidak boleh dipaksa, dara.” Jiyong mengatakannya sambil mengelus pipi gadis itu. jujur saja, selain fakta bahwa dia muak dengan barang couple di kepalanya, jiyong juga mengkhawatirkan kondisi sandara. Bagaimana mungkin dia membawa sandara ke namsan tower dengan kaki yang masih belum pulih total?

Sandara merengut. “baiklah, mungkin lain kali.” Putusnya sambil menoleh ke depan.

Jiyong tersenyum tipis dan mempererat pelukannya di pinggang gadis itu. “kau mau mengambil gambar?” tawar jiyong menghibur sandara. Ini bukan ide yang bagus, tapi jiyong rasa ia tidak mau melewatkan kenangan ini begitu saja.

Sandara mendongak padanya dengan dahi mengkerut. “maksudmu?”

Jiyong menarik ponsel sandara dari dalam kantongnya dan membuka aplikasi kamera. Ia mengatur modenya dan menampilkan wajahnya dari depan. Sandara tersontak karena pantulan wajahnya berada di dalam ponsel.

“W-wah, benda ini juga bisa menjadi cermin!” hebohnya tanpa sadar. Jiyong hanya terkekeh.

“sekarang tersenyumlah dan fokuskan matamu pada bagian ini. lalu ikuti raut wajahku, mengerti?” jiyong menunjuk lensa kamera dan sandara mengangguk antusias.

Jiyong tahu ini sudh melenceng dari pribadinya yang menjunjung tinggi harga diri. Kemana wajah jiyong jika nanti ada seseorang yang mengenalnya, melihatnya dalam kondisi seperti ini?—bando kucing, jepitan tunas, dan berselfie ria di namsan?

Tapi sekali lagi, semuanya untuk sandara.

“sekarang!”

Sandara tersenyum manis ke arah lensa ketika jiyong berseru. Jiyong menekan sesuatu di layar ponsel dan momen pun terabadikan. Jiyong mengubah gayanya menjadi tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya, sandara mengikutinya. Jiyong kembali menekan tombol di layar.

Setelah beberapa potret, sandara tertawa senang diikuti oleh kekehan konyol jiyong. “ini menyenangkan! Aku akan melakukannya lagi nanti!” sandara memegang ponselnya sambil melihat-lihat gambar yang mereka ambil. Jiyong sudah mengajarinya hal-hal dasar seperti membuka galeri, memutar musik, mengirim pesan, dan menelfon atau menerima telfon. Walau sandara belum terlalu menguasainya, tapi ia sangat antusias dengan ponsel barunya.

“terima kasih jiyong!” sandara memekik dan tanpa sadar memeluk lelaki itu dari samping. Jiyong tersontak dan mematung ditempatnya. Ia bisa merasakan bahwa orang-orang memperhatikan mereka sambil terkekeh. Jiyong tahu, mereka terlihat lucu dan romantis sekarang.

Jiyong menunduk dan tersenyum tipis. Ia hanya bisa berharap kalau sandara tidak mendengar debaran jantungnya yang sedang melompat-lompat.

Sandara melepas pelukannya dan mendongak. “ayo kita pulang. kita harus mengambil gambar yang lain dirumahmu.” Pinta gadis itu dengan girang.

Jiyong tersenyum dan mempererat pelukannya dipinggang sandara. Ia menuntun gadis itu turun ke tempat parkir dengan senyuman yang sangat tampan menghiasi wajahnya.

“bagaimana kalau dirumah nanti kita menonton film?” usul jiyong sambil terus berjalan. Pohon-pohon di namsan menari ditengah hembusan angin membawa udara yang sejuk yang agak dingin.

Sandara tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya di bahu jiyong sambil tangan kanannya memeluk pinggang jiyong juga.“boleh. Tapi film itu apa?”

Jiyong terkekeh dan merapatkan tubuhnya pada sandara. “haruskah kita membeli cemilan?”

“cemilan apa?”

“mau minum alkohol?”

“kau gila?”

“kk~ kau mengumpat lagi, dara-ssi.”

“aku benci alkohol.”

“kalau begitu aku saja.”

“aku juga benci dengan orang yang mabuk.”

“u-uh, perhatian sekali.”

“kalau kau mabuk nanti tidak ada yang memasak makan malam.”

“aku tidak pandai memasak, kau tahu.”

“kau bisa memasak mi yang super lezat, jiyong-ssi.”

“itu mi instan.”

“terserah, itu favoritku sekarang.”

“bukannya kau suka apel?”

“aku pemakan segala. Tapi mi bikinanmu adalah nomor satu.”

“mi bikinanku atau yang membuatnya?”

“mi bikinanmu.”

“yakin?”

“aku tidak pernah seyakin ini.”

“baiklah, cium aku dulu baru kubuatkan.”

“CABUL!”

TBC

next>>

Author’s Note : HAIII! Aku gak tau apa daragon momentnya disini ngefeel atau gak-_- harusnya aku masih mau nambahin momentnya, Cuma udah kepanjangan banget dan aku mutusin buat lanjutin di chap selanjutnya, jadi jangan kecewa ya applersXD dan pas bagian dara sam jiyong beli ponsel, aku gak bikin full scene karena aku baru tau kalo beli ponsel di korea itu harus pake kartu identitas dan aku sadar kalo sandara disini identitasnya itu dari masa lalu. jadi anggap aja jiyong beli ponsel buat dara itu pake kartu identitas jiyong, ya.

Soal sulli, dia bakal muncul kok tapi kayaknya bukan di chapter berikutnya. Tunggu aja ya, yang jelas nanti bakal lebih seruXD aku gak janji kalo sulli bakal nerima daragon gitu aja, jadi sekedar info, kemunculan sulli bukan sekedar long time no see sama jiyong. kalo ada yang penasaran, tunggu sebentar ya, aku mau buat daragon makin lebih deket dulu wkwk.

Dan juga soal seungyoon, ada yang komen dichap 9, apa seungyoon bakal muncul lagi? hm 95 persen seungyoon gak bakal muncul lagi wkwk tapi 5 persen sisanya yah tergantung alur. J

Aku gak mau ngebacot terlalu banyak karena gak tau mau bilang apa lagiXD. Baiklah, mohon maaf bila masih banyak kekurangan di ff ini terutama typo, author juga manusia biasa yang bisa lapar dan salah ketik. Jika ada yang mengganggu pikiran readers tentang ff ini, gak usah takut langsung komen aja. Aku butuh kritik dan saran kalian supaya ff ini bisa lebih ngefeel buat kalianJ

Thankyou for reading and dont forget to RCL! Hengsho daragon & applers XD

Advertisements

31 thoughts on “[Series] Coming To You – 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s