MEA CULPA [Chap. 10]

Author : Aitsil96

“Bagaimana kalau kita ke hotel?”

Manik Sandara membelalak lebar, “Kau gila?”

Ji Yong tertawa sedetik kemudian, menyadari pertanyaannya yang terdengar seperti ajakan kencan satu malam, “Bukan begitu maksudku. Kita bisa tidur di kamar terpisah, lagipula kau sama sekali tak ingin memberitahuku tempat tinggalmu. Jadi bagaimana?”

Shireo! Turunkan saja aku di sini.”

Lewat ujung matanya, Ji Yong menatap gadis yang tengah duduk di sampingnya dengan dahi berkerut. Setengah hatinya sudah cukup panas mendengar kalimat penolakan dari Sandara yang terulang semenjak gadis itu bahkan diseret dengan paksa memasuki mobil. Benar-benar keras kepala. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan seorang gadis yang terlihat tegas namun juga kekanakkan seperti Sandara.

“Memangnya kau punya tempat tujuan? Bukankah kau tak ingin pulang? Atau memang kau tak punya rumah?” tanya Ji Yong asal.

Sandara menoleh cepat, melayangkan tatapan tajamnya, “Bukan urusanmu!”

Pria itu berdecak, lalu menginjak pedal gas mobilnya dengan kekuatan yang tak main-main. Sandara yang tengah memberengut bahkan langsung mencengkeram sabuk pengaman di dadanya dengan jantung yang berpacu cepat.

“Sialan! Jika kau ingin mati, maka jangan membawaku bersamamu, bodoh!”

Ckit!

Suara ban mobil yang beradu dengan aspal jalanan berderit nyaring akibat rem yang Ji Yong injak, masih dengan mode brutalnya. Mobil audi itu sempurna berhenti di pinggiran jalan dengan posisi yang serampangan.

“Apa kau masih waras, huh? Kau ingin membunuhku?!” sewot Dara yang masih tak bisa mengendalikan ekspresi kaget luar biasanya.

“Kau yang membuatku kehilangan akal sehat, Sandara!”

Ji Yong mengusap kasar wajah lelahnya, memukul stir mobilnya keras hingga tak sengaja membunyikan klakson. Memekik nyaring di tengah sunyinya malam. Sandara yang berada di sampingnya masih diam mematung dengan degupan jantung yang tak dapat terkendali.

Wae… geurae?”

Gadis itu akhirnya bersuara. Memberanikan diri setelah sekian lama hanya keheningan yang menyelimuti di antara mereka. Cukup canggung, namun ia juga tak bisa terlalu lama berdiam diri. Ji Yong masih menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan yang bertumpu pada stir mobil.

Baru saja tangannya hendak terulur untuk meraih bahu Ji Yong, pria itu dengan tiba-tiba berbalik dan menarik tangan Sandara dengan satu gerakan cepat. Gadis itu tentu saja terkejut, terlebih kini wajah Ji Yong berada di hadapannya dengan jarak yang amat dekat. Wajah mulus tanpa cacat bak porselen yang seakan membuat jantung Sandara berhenti untuk beberapa saat.

Ini benar-benar gila! Apa yang sebenarnya pria itu lakukan? Dan mengapa Sandara tak bisa memalingkan tatapannya barang sedetik dari Ji Yong? Hembusan napas pria itu bahkan kini terasa menerpa wajahnya. Hangat dan menggelitik. Tatapan dari manik kelam itu serasa menusuk, namun membuai di saat yang bersamaan. Oh Tuhan, bisakah ia lenyap di detik ini juga?

“Apa yang sebenarnya telah kau perbuat padaku?” ucap Ji Yong parau, masih betah di posisinya yang mengintimidasi.

Mwo?”

“Bisakah kau berhenti menatapku dengan tatapan lugu seperti itu? Aku sepertinya akan benar-benar gila sekarang.”

Alis Sandara tertaut, “Apa… maksudmu?”

“Kau meninggalkanku. Tanpa alasan yang jelas, kau pergi begitu saja dan itu benar-benar membuatku begitu buruk. Memikirkanmu yang mungkin membenci pria sepertiku membuatku kehilangan kendali. Sebenarnya apa arti dirimu bagiku? Mengapa aku harus merasa bersalah ketika kau menangis? Bukankah… kita bahkan baru saling mengenal?”

“Ji Yong-ssi…”

“Pikiranku kacau akibat ulahmu, dan sialannya aku merasa sesak entah untuk alasan apa ketika mengingatmu. Kau yang meninggalkanku sendiri, membuatku berpikir ratusan kali tentang apa arti dirimu bagiku, namun aku tak bisa mengerti. Mengapa seolah-olah aku bisa gila akibat memikirkanmu?”

Manik hazel itu mengerjap. Entah harus takjub atau kaget, namun ucapan Ji Yong benar-benar menohok jantungnya. Sandara juga tak mengerti dengan situasi ini, namun yang ia tahu bahwa selalu ada gelenyar aneh melanda dirinya ketika bertemu dengan pria bersurai hijau itu. Suatu getaran yang bahkan baru pertama kali dirasakannya.

Apa yang salah dengan dirinya? Apa yang salah dengan pria itu? Mengapa semuanya terasa begitu membingungkan?

Hendak melepaskan tangannya untuk menjaga jarak, namun cengkeraman Ji Yong makin erat di pergelangan tangan gadis itu. Bahkan kini membuat Sandara menahan tarikan napasnya akibat ujung hidung mereka yang hampir bersentuhan.

“Aku tahu ini tak waras, tapi… aku tak ingin kau membenciku, membayangkan kita tak akan bertemu lagi… membuatku hancur.”

Deg!

“Jangan pernah berpikir untuk menjauhiku. Aku ingin selalu melihatmu berada dalam jarak pandangku. Tak peduli apapun.”

Tangan kokoh Ji Yong terulur perlahan, mengusap rahang gadis di hadapannya yang masih tak bergerak layaknya patung dengan manik hazel membulat. Sangat menggemaskan. Anggaplah Ji Yong gila, ia bahkan tak menyangka akan melakukan hal sejauh ini pada seorang gadis yang bahkan baru dikenalnya.

Sandara berbeda. Ji Yong hanya meyakini itu, dan itu membuatnya yakin karena hanya gadis itu yang mampu menjungkirbalikkan dunianya dalam sekejap. Semua ucapan pria itu benar-benar jujur, ia bahkan tak bisa mengendalikan perasannya yang tiba-tiba membuncah. Perkataannya sanggup mewakili perasaan campur aduknya setelah Sandara meninggalkannya di dapur rumah Seung Ri dalam keheningan dan dalam sebuah rasa sesak tersendiri.

Bibir Ji Yong terbuka, menyisakan celah yang menggoda di antara bibir penuhnya. Pria itu memiringkan wajahnya, dan degup jantung Sandara makin berloncatan tak karuan, seolah tengah memompa darah hingga ke ubun-ubun. Gelenyar aneh itu datang lagi, dan ia tahu bahwa ini berbeda, bahkan ketika bersama dengan Dong Hae.

Deg!

Sandara memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan salah satu tangannya, berhasil menjadi penghalang bagi pergerakan Ji Yong. Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan pandangan yang memohon. Teringat akan kekasihnya membuat jantungnya serasa diremas secara perlahan. Ia tahu ia juga mungkin telah gila, layaknya Ji Yong.

Bagaimana mungkin Sandara mampu terbuai dengan sentuhan pria lain? Dan kalau-kalau ia lupa, ia bahkan dengan sengaja tidak memberitahu Dong Hae tentang kepergiannya ke pesta Seung Ri.

“Aku benci penolakan. Terutama itu darimu.”

Detik berikutnya, Ji Yong tak lagi mengulur waktu. Sandara yang lengah akibat ucapan tak warasnya memberikan pria itu celah untuk mempersatukan bibir mereka dengan satu gerakan cepat yang bahkan tak mampu dihalau gadis tersebut. Manik hazel itu membelalak lebar setelah ada benda lembut yang berada di atas permukaan bibirnya. Mencecap perlahan dengan penuh kelembutan yang mampu membuainya dalam sekejap.

Pergerakan yang menggoda, membawanya dalam sebuah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan.

Ciuman pertamanya.

*****

“Melamun, huh?”

Sandara tersentak saat seseorang mencabut salah satu headset di telinganya. Dong Hae. Pria itu datang entah darimana dengan membawa dua kaleng minuman bersoda.

“Minumlah. Kau terlihat suntuk,” ucapnya disertai senyuman hangat seperti biasanya.

Tangan mungil itu terulur untuk menerima. Walau seulas senyum dipaksakan di ujung bibirnya, namun pikirannya sedang terpecah untuk saat ini. Jiwa gadis itu seolah tengah melayang walau raganya tengah berada di hadapan Dong Hae. Ya, apalagi jika bukan karena kejadian tak waras semalam?

“Kau yakin baru menyelesaikan kelasmu?”

Sandara meneguk minumannya sebelum menjawab, “Tentu saja.”

“Dengan pakaian seperti ini?”

Seperti ini? Dahi gadis itu mengernyit, dan menunduk untuk melihat penampilannya. Oh, ia bahkan masih mengenakan pakaian pesta yang dibelikan Seung Ri, lengkap dengan heels yang luar biasa membuatnya pegal semenjak kemarin sore.

“Jangan bertanya apapun padaku, Lee. Aku sedang tak nafsu berbicara.”

“Mungkinkah Bom yang membuatmu seperti ini?”

“Anggap saja begitu.”

“Bagaimana bisa ia mendandanimu seolah-olah akan ke pesta?” ucap Dong Hae asal seraya mendengus, “Dan ada apa dengan wajah menyebalkan itu, huh?”

“Aku sedang malas berbicara, Lee. Tak bisakah kau mengerti ucapanku? Ish, dasar ahjussi cerewet.”

Sandara sempurna menulikan komentar Dong Hae yang mampu membuatnya terhenyak untuk sesaat. Ia sungguh sedang tak ingin bicara banyak untuk kali ini. Jika saja bukan karena profesor killer yang menjadi dosen untuk kelasnya hari ini, ia juga tak akan mungkin datang ke kampus hanya untuk hadir dan menunjukkan wajah di kelas membosankannya. Terlebih mengenakan pakaian yang benar-benar membuatnya berlebihan seperti ini. Sangat bukan Sandara.

Memikirkan bahwa ia telah membohongi Dong Hae sekaligus memikirkan bahwa ia bersama pria lain semalam membuat kepalanya berdenging luar biasa nyeri.

Entah darimana semua ini berawal, namun Sandara seolah tak mampu untuk mengakhirinya. Terlebih karena bayangan pria bersurai hijau itu yang bahkan saat ini terus lalu-lalang dalam benaknya. Astaga, bukankah kau seharusnya hanya menatap pria tampan yang berada di hadapanmu, huh? Dong Hae kekasihmu, Park Sandara! Kau seharusnya sadar akan hal itu!

Gadis itu hanya bisa menghela napas kasar. Lagi. Entah untuk yang keberapakalinya semenjak fajar belum muncul hingga kini tepat berada di atas kepalanya. Mood-nya bertambah buruk hari ini manakala Bom memberitahunya bahwa ia dalam perjalanan pulang untuk bertemu ayahnya di Daegu saat pagi hari.

Setelah menghabiskan malamnya dan Ji Yong di mobil, pagi buta tadi gadis itu segera melesat ke kampus tanpa sempat berganti baju. Jangan pikirkan malam yang panas dan bergairah atau semacamnya.

Jangan gila! Gadis itu masih waras. Ya, mungkin. Setidaknya untuk saat ini.

Tidak ada sesuatu lain yang lebih menghebohkan terjadi selain ciuman panas yang berlangsung selama beberapa detik sebelum Sandara sadar dan melepaskan ciuman itu. Jika diingat kembali, Sandara hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya dan melemparkan segala barang yang dapat diraihnya. Malu. Sangat. Wajahnya pasti semerah tomat dengan napas yang tersengal ketika melepaskan ciuman itu.

Sial! Kenapa ia bisa terhanyut dengan begitu mudah?

“Yak!” jerit Dong Hae yang mampu menyentakkan Sandara kembali ke alam sadar, “Dan… heels? Ini sama sekali bukan gayamu, Dara-ya.”

Sandara memutar maniknya malas, “Bisakah kau tak mengataiku dan belikan saja aku sepatu baru? Kakiku terlalu pegal memakai sepatu keparat ini terlalu lama.”

Geurae. Kajja.”

Manik hazel itu melebar, sadar akan ucapan asalnya, “Mwo?!”

*****

“Baiklah. Karena sudah disetujui, maka kini kau terikat padanya selama tiga bulan.”

“Aku sudah mengerti tanpa perlu kau jelaskan, Hyung.”

Seung Hyun menyeringai, melipat rapi surat perjanjian yang telah ditandatangani Ji Yong dan memasukkannya ke dalam map. Anggaplah ini kontrak budak seks. Ya. Ji Yong baru saja mendapat mangsanya lagi. Nominal dengan digit yang tak sedikit dapat tergambar jelas akan segera memenuhi rekeningnya.

“Bagaimana kalau kita makan siang?” ajak Seung Hyun dengan membawa kunci mobil sport-nya.

“Kau baru saja mendapat komisi besar, huh?”

Seung Hyun meledak dalam tawa. Ji Yong memang terlalu pandai untuk tahu kelakuan busuknya. Bukankah mereka memang sama-sama telah lihai dalam bisnis kelam nan haram ini? Seung Hyun menyeringai seraya merangkul pundak Ji Yong. Melangkah untuk keluar dari apartemennya.

Lagipula, bukankah bisnis ini menguntungkan bagi keduanya?

*****

Sandara telah berpenampilan normal kini. Walau kaus polos hitam dan jeans maroon masih melekat, namun jaket kulit dan heels keparat itu telah sempurna ia lenyapkan. Tak sepenuhnya lenyap jika gadis itu menaruh di laundry setelah Dong Hae membelikannya flat shoes yang nyaman.

“Merasa lebih baik?”

Gadis itu mengangguk cepat dan bersemangat, membuat Dong Hae tertawa lepas karena tak ada lagi kerutan masam di wajah gadisnya. Terutama setelah pesanan steak mereka datang dan membuat manik hazel Sandara membulat lebar. Ya, gadis itu rupanya juga kelaparan. Astaga, sungguh menyedihkan, bukan?

Setelahnya, canda tawa mulai terdengar dari salah satu meja di sudut restoran tersebut. Sandara yang menghabiskan makan siangnya dengan lahap, dan Dong Hae yang lebih sering memperhatikan gadis di hadapannya ketimbang menyuapkan makanan ke mulutnya. Binar kebahagiaan terlihat di mata teduh itu, dan Sandara mulai menikmati waktunya saat bersama Dong Hae. Diselingi lelucon garing yang membuat tangan mungil itu terkadang memukul atau mencubit pelan punggung tangan prianya.

Sialnya, gadis itu sama sekali tak menyadari kehadiran sepasang manik kelam yang memperhatikannya dari sudut lain di tempat itu. Manik milik seorang pria yang baru saja mendaratkan bokongnya di salah satu meja, bersama satu pria lain berpenampilan perlente. Pria bersurai hijau yang menatap dengan luar biasa sengit dan tajam, seolah sorot mata itu bisa menembus kacamata hitam yang tengah bertengger manis di hidung bangirnya.

Ji Yong.

*****

“Kau ingin pesan apa?” tanya Seung Hyun untuk ketiga kalinya.

Pandangan pria bersuara husky tersebut segera teralihkan, dan kini menatap objek yang sedari ditatap Ji Yong hingga mengabaikan pertanyaannya. Manik elang itu memicing. Rasanya ia kenal dengan gadis bersurai kemerahan tersebut. Gadis yang tengah mengumbar senyum lebarnya, bersenda gurau tanpa beban dengan seorang pria tampan di hadapannya. Wajah cantiknya kini terlihat jelas.

Otaknya berputar lambat, namun…. tunggu! Bukankah… ia Sandara?

Astaga, bagaimana bisa ia lupa dengan gadis yang sebulan lalu ditemuinya dan selalu menatapnya dengan penuh kebencian?

“Kau mengenalnya?”

Mwo?” Ji Yong terkaget dengan pertanyaan yang mampu menyadarkannya setelah sekian lama.

“Gadis itu.”

“Sandara maksudmu?”

“Setelah ku ingat kembali… bukankah ia gadis yang hadir di pesta Seung Ri semalam?” Seung Hyun menolehkan wajahnya seraya berdeham sesaat lalu menatap lurus Ji Yong dengan penuh selidik, “Bukankah ia juga gadis yang bersamamu di dapur rumah Seung Ri?”

Riak kaget tak bisa disembunyikan dari wajah Ji Yong, “Kau mengenalnya, Hyung?”

“Bagaimana bisa kau mengenalnya?” bukannya menjawab, pria bersurai merah muda itu malah balik bertanya.

Ji Yong memutar matanya, bingung dengan pertanyaan tiba-tiba seperti ini, “Hanya… terjadi begitu saja. Ia mengenal Seung Ri dan…”

“Gadis sepertinya mengenal bocah bermasalah seperti Seung Ri? Astaga, ku pikir ia terlalu suci.”

Dari kacamata hitamnya, Ji Yong memberi tatapan heran pada pria yang tengah membolak-balik buku menu dengan seringaian yang tercetak di bibirnya. Mungkinkah… Seung Hyun mengenal Sandara? Tapi bagaimana mungkin?

“Jangan berurusan dengannya,” ucap Seung Hyun tegas.

Wae?”

“Ia akan sangat membencimu. Terutama jika tahu kau telah menandatangani kontrak.”

Dahi Ji Yong makin berkerut akibat ucapan Seung Hyun yang sekali lagi tak mampu dicerna otaknya. Kontrak? Apa hubungan Sandara dengan kontrak itu? Dan juga… Seung Hyun? Bagaimana mereka saling mengenal?

“Apa maksudmu, Hyung?”

*****

Pintu depan baru saja terbuka, menampilkan Sandara dengan wajah lelahnya. Ia kurang tidur, dan dengan sangat terpaksa harus pulang ke rumah demi melepas rasa lelahnya setelah seharian penuh menghabiskan waktunya bersama Dong Hae. Ya. Pria itu. Kekasihnya yang selalu membuat harinya lebih baik, walau terkadang akhir-akhir ini ia selalu merasa terbebani dengan kebaikan Dong Hae, entah untuk alasan apa.

Sandara menghembuskan napasnya, menatap sekeliling dengan binar yang tak mampu dijelaskan. Perasaan sesak itu muncul lagi, mengingat bagaimana dulunya semua sudut di rumah ini yang terasa nyaman untuknya, dipenuhi suasana kehangatan keluarga yang selalu membuatnya rindu untuk pulang. Namun kini tak ada lagi perasaan itu.

Semuanya musnah. Lenyap tak berbekas.

Walau enggan setengah mati, namun setidaknya hanya tempat inilah yang selalu menjadi tujuan akhir Sandara ketika tak mempunyai tujuan.

Suara cekikikan terdengar samar, dan Sandara sudah pasti tahu darimana suara itu berasal.

Hye Mi.

“Benarkah? Jadi ia sudah setuju dengan harga yang ku tawarkan?”

Sandara menajamkan telinganya seraya melangkah perlahan, menuju asal suara menjijikkan tersebut.

“Baguslah. Jadi ia akan segera kemari?”

Langkah gadis itu mengendap-endap, bagai seorang pencuri di rumahnya sendiri.

“Lusa? Oh ya, tentu saja. Aku akan segera menyiapkan sisa pembayaran.”

Deg!

“Ya. Akan ku transfer pada rekeningmu besok. Senang berbisnis denganmu.”

Tepat di detik berikutnya, Hye Mi menyudahi sambungan teleponnya dan berbalik. Wajah menua yang masih terlihat cantik itu seketika terperangah ketika mendapati kehadiran Sandara yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Melayangkan tatapan kebencian yang amat kentara.

“Dara-ya? Kau sudah pulang?”

“Kau masih melakukan bisnis itu, huh?” tanya Sandara dengan nada dingin yang mencekam.

Hye Mi meneguk liurnya, “Bisnis? Ya. Tentu saja. Bukankah aku harus meneruskan perusahaan appa-mu? Aku bahkan baru pulang dari kantor.”

Sandara mendelik. Wanita di hadapannya memang masih mengenakan balutan jas kantor dan riasan tipis di wajahnya hingga membuatnya terlihat elegan, namun bukan bisnis itu yang Sandara maksud.

Manik hazel itu terlihat berair dan menatap makin nyalang, mendengar mulut itu menyebut orang terkasihnya membuat emosinya tersulut, “Jangan menyebut appa-ku dengan mulut kotormu!”

“Dara-ya…”

“Kau masih menyewa pria-pria bajingan demi kebutuhan nafsumu itu?”

Hye Mi sempurna terperangah mendengar pertanyaan singkat yang sanggup membuat hatinya terkoyak dalam sesaat. Terutama itu terlontar bebas dari mulut putrinya. Putri kandungnya sendiri.

“Kau benar-benar menjijikkan!” ketus Sandara dengan seringaian yang tercetak jelas di bibir cherinya, “Bagaimana bisa aku terlahir dari rahim seorang wanita jalang sepertimu?”

Deg!

Pertanyaan itu kini bahkan lebih tak terduga. Membuat Hye Mi yang berusaha menekan amarahnya ke dasar mulai terpancing. Mata wanita itu membelalak lebar, tak menyangka akan ucapan kotor yang diarahkan padanya dari Sandara, “Tutup mulutmu!”

Wae? Kau tak terima dengan perkataanku?” Sandara menjawab dengan tingkah pongahnya, mendekat selangkah di hadapan Hye Mi, “Bukankah itu kenyataan? Kau!” telunjuk gadis itu teracung, “Jalang murahan!”

Plak!

Satu tamparan sempurna mendarat keras di pipi mulus Sandara. Amat keras. Tak hanya meninggalkan bekas kemerahan akibat telapak tangan, namun juga membuat noda darah di ujung bibirnya.

Sandara menggeram marah, kedua tangannya terkepal erat dengan muka merah padam. Menahan amarah yang terkumpul di ubun-ubun, terlebih kini Hye Mi yang juga menatap dengan sama tajamnya. Tangis itu pecah. Tangis yang sedari tadi ditahannya hingga membuat dirinya terlihat berantakan dan amat menyedihkan.

Dengan bibir bergetar, gadis itu masih sanggup mengatakan hal yang ingin diutarakannya sebelum berbalik arah dan menghilang tanpa tujuan di pintu depan.

“Aku membencimu. Amat sangat.”

.

.

.

To be continued…

Miss me anyone? Hope you still enjoy my story!!

Advertisements

12 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 10]

  1. Ga bisa bayangin gmn jadi darong, udh eomma na gitu trs hrs trima kenyattaan klo nanti cwo yg jd budak nafsu eomma nya itu jidi, ah udah ancur hati darong pasti.. Smoga ada jalan buat darong ma jidi bersatu..

    Author smngt terus buat lnjutin ff nya yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s