Let Me Know [ Chap. 1/4]

let me know

Author : Hanny Gdragon

Cast     : Sandara Park , G dragon, and other.

Genre : Romantic

Annyeong, maafkan diriku yang begini lah adanya~ ff lain masih belum beres udah ada ff baru yang di otak minta di keluarin, so mian untuk dua ff, Black Wings dan Immaturity saya akan melanjutkannya sesuai imaginasi saya juga hehehe. So nikmati yang ini dulu, fresh from the oven. Semoga kalian suka.

            Seorang sedang bersiul dengan riang di lorong kampus elite dan mewah di antara kampus-kampus terkenal Seoul yang ada. Kampus yang hanya di huni oleh wajah-wajah manja dan berotak-an uang. Namja yang gemar bersiul dan dengan ketampanan di atas rata-rata atau bahkan melebihi maksimal, sesekali menjentikan jarinya seirama dengan lagu yang ia dengar melalui earphone-nya. Ia mendekati lokernya yang tak jauh dari kelas yang akan ia masuki. Dance class, itu salah satu kelas yang ia ambil untuk smester ini dan kelas yang hampir semua mengenai musik membuat dia seakan benar-benar anak seorang dari pianis terkenal dari bermarga Kwon.

“Oi Kwon Jiyong, tidak bisakah mulut tipismu berhenti bersiul? Bahkan kau mengeluarkan ludahmu saat bersiul riang seperti itu” ucap seorang namja yang menepuk pundak namja yang bernama Kwon Jiyong itu.

“Mwo? Kau bilang apa, Bae?” tanya Jiyong yang memang tak mendengar Taeyang, sahabat sekaligus teman kelasnya menegurnya, Jiyong pun mencabut earphone nya dari celah telinganya.

“Berhenti bersiul. Lantai lorong ini hampir banjir karena ludahmu yang berceceran di mana-mana”ucap Taeyang lagi.

“Huah, kau berlebihan. Aku sedang malas masuk kelas dance. Bisakah kau~~” ucap Jiyong menggantung sambil menatap manja pada sahabatnya.

“Andwe~ Jiyongieee~~~ kau ini baru 1 smester dan kau akan terus membolos? Bagaimana jika kau akan di lempar grand piano oleh ayahmu karena kelakuanmu ini?” ucap Taeyang.

“Aiishht, bagaimana bisa kau kini membela keluargaku, huh? apa kau tak menyayangi sahabatmu yang tampan luar biasa ini Bae-aaah~” ucap Jiyong sambil memukul-mukul manja dada bidang dan berotot sahabatnya itu.

“Apakah kau sudah tidak jantan Jiyongie? Kau seperti banci melakukan itu, menjijikan” ucap Taeyang menggidik ngeri akan sikap sahabatnya yang absurd itu.

“YAK!!! Aku masih jantan bahkan sangat jantan. Bukankah kau sudah melihat bentuk juniorku sangat jantan dan besar, huh? mana bisa aku mensia-sia kan anugrah yang seperti itu, heol” ucap Jiyong hendak menunjukkan juniornya pada Taeyang namun jitakan dari Taeyang menghentikannya dan ia merespon dengan cengiran bodohnya.

“Sudahlah ayo masuk. Kelas akan di mulai sebentar lagi” ucap Taeyang sambil menyeret Jiyong seperti kantong sampah yang siap di buang.

~ Kelas Dance ~

            Taeyang merupakan singa di kelas ini, ia rajanya. Dan Jiyong~ oh ayolah, ia berbakat namun otak dan tubuhnya sangat pemalas membuat dia harus terkena bentakan sang pelatih.

“Yak!! Kwon, jangan menggerakannya seperti itu. Kau harus menggerakannya dengan penuh tenaga!” teriak pelatih pada Jiyong yang merengut dan tubuhnya seperti tidak bertulang. Layu.

“Ayolah bro, aku tau kemampuanmu. Kau itu hanya pemalas” ucap Taeyang mengingatkan sahabatnya yang masih layu tak bertulang.

“Hemm~ aku tak bergairah hidup. Aku ingin mati saja~” ucap Jiyong sendu dan berhasil membuat Taeyang membelalakan matanya dan bertanya dalam hatinya ada apa dengan sahabatnya ini, hingga ia mengatakan seperti itu.

“Wae??” itu respon Taeyang yang sebisanya. Ia tidak tahu lagi harus merespon bagaimana dengan ucapan Jiyong itu.

“Aku ingin mainan baru” jawab Jiyong dan kini dengan jawaban itu Taeyang mengerti kemana arah pembicaraan ini. “Mainan” baru, istilah bagi Jiyong sang penakluk hati para yeoja yang memang sudah tergila-gila padanya, dan itu adalah mainan bagi Kwon Jiyong. Betapa tidak, dia tampan (diatas maksimal, ingat itu), kaya raya (anak pianis terkenal), dan sangat humble (anaknya asik dan ramah, padahal itu fans service baginya).

“Jiyongie~ seharusnya kau tidak melakukan hal itu lagi. Kau sudah menginjak 20 tahun dan kau masih seperti ini, ayolah bro mempermainkan wanita bukan hal yang keren” ucap Taeyang (Readers beri jempol untuk Taeyang, kekeke).

“Aku hanya belum menemukan yang bisa menggetarkan hatiku sepertimu saat kau jatuh cinta pada Min Hyorin sunbaenim” ucap Jiyong meratapi nasibnya (Jomblo) sedangkan sahabatnya sudah seperti prangko dengan yeojachingunya.

“Hemm, kau nya saja yang terlalu memilih” respon Taeyang.

“Yak!! Kalian mau masuk kelasku atau hanya ingin menggosip, huh?” teriak pelatih yang menemukan 2 namja cunguk yang memang menyudut mengobrol agar tidak ketahuan pelatih namun mata pelatih bagaikan kodok ngorek yang sangat peka. Dan kelas dance berakhir dengan push up 200 kali bagi Jiyong dan Taeyang. Oh damn, ini kelas dance atau kelas menjelang wamil.

~ Kantin ~

“Bebe, kau tidak makan, huh? tanya Taeyang pada yeojachingu yang duduk bersebelahan dengannya.

“Aku sedang diet oppa” ucap yeoja yang hanya menyeruput jus jeruk miliknya sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyang yang kokoh bagaikan tembok beton.

“Bisakah kalian tidak menjadikanku lalat? Aku benar-benar seperti lalat buluk” keluh Jiyong yang memang seperti lalat bagi sejoli yang bermesraan di hadapannya (Jiyong baperan).

“Omo, bebe lihatlah Jiyong iri pada kita. Jiyong kau harus punya yeojachingu yang sungguhan, bukan mainan seperti sebelum-sebelumnya. Atau kau akan terus menjadi lalat seperti ini” ucap Min hyorin yang makin mengeratkan pelukan di lengan berotot baja tulang besi Taeyang (kenapa Taeyang kaya gatot kaca yak, hehe) membuat Jiyong semakin iri.

“Bae~~dia ular” rengek Jiyong pada Taeyang dengan manjanya melebihi yeojachingu sahabatnya sendiri. mereka memang sudah sangat dekat, bahkan Min hyorin tau betul bahwa posisinya akan di bawah Jiyong jika Taeyang di tanya tingkatan prioritas di hidupnya. Taeyang dan Jiyong bagai pup dan baunya~ tak terpisahkan (ungkapan yang sangat keren bukan? Hahaha).

“Tak apa dia ular, aku bisa nya” respon Taeyang yang konyol membuat Jiyong mendelikkan matanya sebal.

            Dan saat mereka masih berbincang di sela makan mereka bertiga, sesorang yang bertubuh mungil, memakai pakaian cassual yang cukup membuat mata indah Jiyong menangkap sosoknya.

“Kau kenapa Jiyong? Melotot seperti menahan pup?” tanya Taeyang yang melihat ekspresi aneh pada sahabatnya.

“Kau kenal dia?” jawab Jiyong menunjuk seseorang tepatnya seorang gadis mungil dengan kuncir asal di kepalanya, membuat ia semakin terlihat imut, kacamata baca yang terhias seperti bandana di kepalanya lalu sneakers merah menyelimuti kaki mungil itu.

“Molla, kau tahu dia bebe?” tanya Taeyang pada yeojachingunya.

“Aahh, dia Sandara Park. Dia sunbae ku. Dia smester akhir sekarang, seharusnya dia sudah lulus tapi ku dengar gosipnya dia mengambil cuti karena terjerat sesuatu dengan hukum” jelas Hyorin.

“Mwo?? Jinjja? Bentuk mungil seperti itu berhubungan dengan hukum?” respon Jiyong yang masih antusias mendengar penjelasan Hyorin.

“Entahlah, aku hanya mendengarnya dari teman-teman yang lain. Dan yang ku tahu dia penyendiri, pendiam, dan misterius” ucap Hyorin lagi. Mereka menatap gadis itu, menyelidik dan setengah tidak percaya, wajah dan tubuh mungil itu berhubungan dengan hukum dan lagi sikap penyendiri dan misteriusnya seakan tidak cocok untuk wajah seimut itu.

“Sepertinya, ia sudah mulai kembali ke kampus dari cutinya. Hemm, dan yang ku dengar banyak yang menyatakan cinta padanya namun berakhir dengan sama, yaitu penolakan. Hingga namja senior di sini putus asa mendekati Dara sunbae.” Cerita Hyorin lagi.

“Bebe, kau ratu gosip, eh? Kau tahu banyak” ucap Taeyang yang menyadari yeojachingunya banyak mengetahui tentang gadis itu.

“Jangan bilang aku Min hyorin jika aku tidak tahu segalanya kekeke” ucap Hyorin imut sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri, ber-aegyo di depan namja yang ia cintai.

“Omo, kiyowooo” ucap Taeyang gemas dan mencubit kecil hidung Hyorin.

“Sebaiknya aku pergi, aku muak menjadi lalat” ucap Jiyong yang langsung mendapat cekikikan sejoli yang melihatnya “ngambek” ala bocah 5 tahun.

            Jiyong menyusuri lorong yang sering ia lewati, yups lorong menuju lokernya. Namun langkahnya terhenti saat gadis yang menyita perhatiannya tadi berada di sebelah loker miliknya. Jiyong sempat tertegun beberapa detik, berperang di hatinya antara melanjutkan langkahnya atau menunggu gadis itu selesai di loker miliknya.

“Cih, aku kenapa? Aku kan tidak mengenalnya, tck otakmu mulai tak beres” ucap Jiyong saat ia mengambil keputusan hendak melanjutkan langkahnya menuju loker. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat seorang namja mendekati gadis yang masih sibuk dengan lokernya.

“Dara “ panggil namja itu, Jiyong hanya menonton dari posisi ia berdiri, tak terlalu jauh tak terlalu dekat namun bisa dengan jelas melihat dan mendengar semua yang terjadi di hadapannya sekarang.

“Wae?” respon dingin yeoja yang bernama Dara itu.

“Ini terimalah. Ku mohon jadilah yeojachinguku” ucap namja yang kini menunjukan kalung super mewah berkilauan berlian. Oh ingat ini kuliah anak-anak konglomerat, hal seperti ini receh bagai mereka.

“Shirro dan menghilanglah dari hadapanku sekarang juga” jawab Dara bersikap dingin tanpa tertarik sedikitpun dengan benda berkilau itu (author sie langsung iyak aja haha).

“Wae? Aku sudah memperhatikanmu selama ini, dan menunggu mu hingga kau kembali dari cuti yang kau ambil. Ku mohon” ucap namja itu lagi dengan wajah memelas yang ia punya. Namun yeoja di hadapannya dengan terang-terangan bersikap merasa risih dengan namja itu.

“Tidakkah kau mengerti bahasa manusia, huh? ku bilang tidak” ucap Dara acuh. Jiyong yang melihatnya merinding seketika, yeoja dengan wajah imut itu berbicara seperti menusukkan belati pada namja di hadapannya.

            Tidak menerima perlakuan yang ia terima, namja itu mendorong bahu Dara hingga ia membentur keras pada lokernya.

“Aaah” ucap kesakitan Dara.

“Mengapa kau begitu angkuh huh?” ucap namja itu mendekatkan wajahnya pada Dara membuat seseorang gerah melihatnya. Pletak. Suara gamblang hasil pukulan tangan pada kepala seseorang dan membuat orang itu terhuyung.

“Ku kira yang berkuliah di sini berkelas dan tak melakukan hal menjijikan seperti itu. Ayolah bung, yeoja di dunia ini bukan hanya dia. move on” ucap Jiyong seperti menceramahi setelah ia membuat namja yang di ceramahinya mengeluh sakit di kepala akibat ulahnya.

“Ya!! bukan urusanmu, Kwon” ucap namja itu dan bergegas pergi. Ok, namja itu mengenal Jiyong, namun Jiyong tak mengenal bahkan tak mau tahu namanya (yang terkenal sie beda, kekeke).

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jiyong ramah dan nampak wajah khawatir yang tulus Jiyong tunjukan pada yeoja di hadapannya.

“Bukan urusanmu dan aku tidak pernah minta di tolong jadi jangan harap aku membalas jasamu” ucap Dara masih sedingin es balok tukang es parut. Lalu Dara melangkah begitu saja sambil memegang tangan kirinya yang terasa sakit karena benturan dengan lokernya tadi.

“Wow, daebak. Sensasi luar biasa. Aku belum pernah di pelakukan seperti ini sebelumnya. Jadi beginikah rasanya tercampakkan, kekeke (yah biasa deh yang gak pernah di tolak atau lebih tepatnya dia yang di kejar-kejar)” Jiyong tersenyum dan melangkah cepat menyeimbangkan langkah Dara yang terlebih dulu di depannya.

“Sepertinya kau terluka sunbaenim” ucap Jiyong lagi saat langkahnya sudah setara dengan Dara.

“…” tak ada kalimat ataupun kata dari Dara hanya sebuah lirikan yang mengartikan”pergi sana” dari tatapan itu.

“Sunbaenim, kau tidak boleh mengacuhkan luka kecil. Kajja kita ke ruang kesehatan” ajak Jiyong tanpa kompromi langsung menyeret sebelah tangan Dara yang tidak sakit.

“Yak!!! Lepaskan. Kau ini siapa huh?” ucap Dara kini mulai marah dengan namja tampan namun berotak absrud di hadapannya.

“Kau tak kenal aku? Huah daebak, baru kali ini aku tidak di kenali di sini, kekeke. Aku Jiyong, Kwon Jiyong” ucap Jiyong ceria dengan senyuman ramahnya.

“Tsk, aku tidak ingin tahu namamu, aku hanya bertanya siapa kau berani-beraninya seperti ini padaku, huh? bahkan aku tidak ingin berurusan dengan mu Kwon” ucap Dara menepis genggaman Jiyong hendak pergi dari klinik kampus.

“Oh Lord, bagaimana yeoja imut seperti ini bersikap layaknya preman antah brantah?” ungkap jiyong dalam hati. Ingat dalam hati.

“Sunbaenim, ayolah aku bukan namja yang tega melihat yeoja imut sepertimu kesakitan seperti itu” ucap Jiyong mencegah Dara pergi dari klinik.

“Ada apa Jiyongie?” ucap dokter klinik yang muncul karena kebisingan yang Jiyong timbulkan. Suaranya menggelegar seantero klinik yang sedang sepi.

“Tolong periksa lengannya, sunbaenim ini keras kepala” ucap Jiyong yang sepertinya keceplosan mengatai sunbaenya keras kepala dan yang merasa tersindir mendelikkan matanya tajam pada Jiyong, oh tatapannya seperti sayatan pada Jiyong. Menyeramkan.

“Emm kemarilah, biar ku lihat” ucap Dokter klinik itu dan mau tak mau Dara pun menyerahkan lengannya yang sakit. Dokter itu menggulung lengan baju Dara hingga terlihat nampak kebiruan di bawah siku tangannya.

“Huah, lihatlah itu sunbaenim, memar” ucap Jiyong histeris seperti perawan melihat kecoa.

“Kau bisa diam, huh? berisik sekali” ucap Dara pada makhluk tak bisa diam di sampingnya.

“biarkan seperti ini dulu, dan jangan terlalu memaksakan lenganmu itu, arraseo?” ucap dokter setelah memberi krim pada lebamnya dan membalutnya dengan perban.

“Kamasahamida” ucap Dara singkat pada dokter lalu beranjak pergi tanpa melihat namja di sampingnya.

“Dara sunbaeniiiiiiiiim~ tunggu akuuu~~~” ucap Jiyong seperti drama-drama bollywood.

“Tsk, bisakah kau lenyap dari pandanganku? Aah, aku tahu aku ingin aku balas budi, huh? apa yang kau mau?” tanya Dara gusar.

“bu-bukan seperti itu~ aku hanyaa~~ (kemudian Jiyong dapet ide). Baiklah jika kau menganggap ini balas budi, bisakah aku mulai mendekatimu sunbaenim?” ucap Jiyong dengan cengiran tanpa berdosa mengutarakan ucapannya tadi. Ingat orang humble selalu berkata apa adanya tanpa malu. Yups Jiyong seperti itu.

“Mwo? Gila” respon Dara lalu meninggalkan Jiyong yang melongo mendapat respon yang seperti itu. Ia ingin mengejar Dara namun Dara sudah mengendarai mobil sport putihnya.

“Arrrggghhh, aku penasaran padanya. Tidakkah ia terpesona dengan ketampananku? Atau dengan kebaikan hatiku? Atau jangan-jangan~~~~~” Jiyong menebak-nebak sendiri lalu menghampiri 2 yeoja di dekatnya.

“Annyeong, emm apakah aku tidak tampan lagi?apakah aku tidak menarik lagi?” tanya Jiyong dengan muka serius, oke dia memang serius menanyakan itu pada 2 yeoja di hadapannya sekarang. Tolong jitak kepala Jiyong, sampai kapanpun dia akan terlihat tampan, huh.

“Omo, oppa. kau tiap hari semakin tampan dan mempesona. Dan jangan terlalu dekat dengan kami. Kau memabukkan” ucap ke dua yeoja itu sambil berlari menyembunyikan hidung mimisan mereka karena di dekati seorang Kwon Jiyong.

“Sepertinya sunbaenim galak itu yang aneh” ucap Jiyong kini yang sudah mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.

~ Ke esokan harinya ~

            Jiyong mencari-cari sosok mungil yang membuat ia tak bisa tidur semalaman dan membuat kantung mata indah di matanya, hingga ia perlu memakai kacamata hitam walau di dalam ruangan, atau memang ia sudah terbiasa dengan itu.

“Kemana si mungil itu? Hemm~” gumam Jiyong masih mengedarkan pandangannya. Namun sesuatu ia ingat. Loker, yups loker Dara bersebelahan dengan loker Jiyong, dan dengan terburu-buru Jiyong menuju lorong lokernya, namun kekecewaan hasilnya karena Dara tidak ada di sana bahkan Jiyong sudah menunggu 30 menit di sana namun Dara tidak muncul di hadapannya.

“Apakah ia sakit karena kejadian kemarin dan tak masuk hari ini?” kini Jiyong mulai mengarang di otaknya.

“Oi bro, sedang apa. Kau seperti kentut yang tak bertuan” ucap Taeyang lawak.

“Aku mencari Dara sunbaenim. Aku seperti punya semangat baru, ia yeoja yang berbeda Bae” ucap Jiyong dengan mata penuh gemerlap.

“Sudahlah Ji, kurasa Dara sunbaenim tak pantas kau jadikan mainan baru mu. Ia terlihat yeoja yang sangat rapuh, Ji” ucap Taeyang lagi.

“Huaah, kau tidak tahu saja. dia itu yeoja galak yang ucapannya setajam samurai ninja hatori” ucap Jiyong bodoh.

“Terserah kau saja, aku sudah mengingatkan. Lagi pula mengapa kau mencari orang lain sedangkan kau sedang di cari dosen rapp di kelasnya, ku rasa kau akan mati dengan mulut berbusa karena nge-rapp dengan miliyaran kata, kekeke” ucap Taeyang membuat Jiyong menepuk jidat jenongnya.

“Tuhan, aku lupa. Tidaaaaaaaaak ~~~” teriak Jiyong histeris lalu berlari ala naruto (lari kenceng sambil kedua tangannya kebelakang, kekeke). Meninggalkan Taeyang yang tidak mengambil kelas Rapp di smester ini.

“Oh my~” gumam Taeyang melihat Jiyong dengan larinya seperti itu.

~ Perpustakaan Kampus ~

“Aku ingin mati saja” ucap Jiyong menenggelamkan kepalanya pada tumpukan buku-buku puisi yang harus ia jadikan lirik rapp hukuman atas ke-absenannya tadi.

“Dara, sini” ucap seseorang membuat Jiyong yang mendengarnya menegakkan kepalanya seakan mencari sumber suara yang mengatakan nama “ Dara” yang ia cari-cari.

            Jiyong menangkap sosok mungil yang ia cari-cari hari ini. Sosok itu mendekati yeoja yang sepertinya teman yang cukup dekat dengan Dara. Aw sungguh indah apa yang ia lihat sekarang. Dara dengan ripped jeansnya tak pula sneaker tinggi berwarna putih senada dengan kaos besar yang ia pakai hoodie yang terkesan imut pun menambah pesonanya.

“Kau selalu membuat aku terpukau, kekeke” gumam Jiyong terkekeh sendiri dan melupakan hukuman yang harus ia kerjakan. Ia pun menjadi stalker atau lebih kerennya penguntit. Ia mengikuti kemana pun Dara pergi. Hingga sebuah tepukan di bahunya mengalihkan perhatian Jiyong pada Dara saat sedang di kantin kampus.

“Ji, kau sedang apa dengan komik terbalik begitu?” tanya namja bersuara bass yang aneh melihat dongsaengnya membaca komik terbalik.

“Ah Top hyung, aku hanya sedang meneliti bagaimana jika komik ini di baca terbalik. Mungkin bisa membuat inspirasiku membuat lirik rapp” ucap Jiyong ngawur dan membuat sang lawan bicara mengerutkan alisnya tak mengerti. Namun sedetik kemudian namja bernama Top itu mengikuti arah pandangan Jiyong. Yups Sandara Park dengan sandwich di tangannya.

“Kau menguntit Dara, eoh?” selidik Top.

“Hyung kau tau dia?” tanya Jiyong antusias.

“Yoejachinguku sahabatnya” jawab Top dengan tampang tak kalah bodohnya dengan yang bertanya.

“Jinnjjaaaa?? Huaah Daebak” ucap Jiyong tak percaya bahwa yang ia kenal ternyata dekat dengan yeoja misterius itu.

“Kau ini kenapa, huh? tertarik pada Park? Atau kau menargetkan dia menjadi mainanmu?” tanya Top lagi yang kini dengan tampang serius.

“Molla, tapi ini berbeda” jawab Jiyong memuat Top memutar 180 derajat bola matanya.

“Ku beri tahu. Dia tidak pantas kau jadikan list mainanmu, bahkan jika kau melakukan itu kau akan berurusan denganku dan yeojachingu ku” ucap Top benar-benar serius dari wajahnya.

“Wae hyung? Kau tak pernah seperti ini sebelumnya padaku” ucap Jiyong sambil mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah~ kau masih saja seperti bocah. Aku lelah” ucap Top lalu pergi begitu saja meninggalkan Jiyong yang masih cemberut mendapat perlakuan kurang menyenangkan dengan hyung yang sudah ia kenal dekat itu.

“Cih, dia jadi serius begitu. Sangat tak cocok” gerutu Jiyong pada sikap Top yang biasanya sama-sama bingu dengan dirinya. Like dumb and dumber.

**

            Jiyong menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk apartemennya. Seorang seperti Kwon Jiyong sudah 1 tahun ini tinggal di apartemen dan sesekali berkunjung ke istana alias rumahnya.

“Sandara Park” ucap Jiyong sambil mengangakat tangannya ke langit-langit seperti sedang ingin menggapai namun hanya angin yang tergenggam lemah.

“Mengapa terasa berbeda, menatapnya terdesir kehangatan, menggenggam tangannya terasa nyaman dan sangat damai. Ini aneh, aku belum pernah merasakan itu, aarrrrgggghhhhh aku ingin bertemu dia. Tuhaaaan tolong aku” lolongan frustasi Jiyong menggema di apartemennya sendiri.

Kriing~ handphone Jiyong berdering

From : Bae abs berjalan

            Oi, kau sedang kesepaian bukan, kekeke. Kemarilah, kita sedang berkumpul di cafe biasa. Cepat datang atau kau tak ku beri tahu tentang yeoja incaranmu itu.

            Dengan membaca pesan singkat, Jiyong dengan terburu-buru mengganti bajunya dan langsung menuju cafe favorit hang out anak-anak horang kayah (over h).

~ Cafe ~

“Ji, di sini” teriak Taeyang pada Jiyong yang baru sampai dan tengah mencarinya.

“Hi~ apa sedang merayakan sesuatu?” tanya Jiyong sambil menyeruput tanpa izin beer Top yang juga datang.

“Aiishh anak ini seenaknya saja meminum beerku. Aku dan yeojachinguku sedang merayakan 9 bulan hubungan kami” ucap Top malas. Sungguh malas, karena yeojachingu nya memaksa 9 bulan hubungannya harus di rayakan layaknya bayi yang akan lahir pikir yeojchingu nya. Oke alien couple.

“Perkenalkan ini Bom, ia yeojachinguku” ucap Top memperkenalkan yeoja yang di cintai sekaligus diktatornya.

“Annyeong, Park Bom immnida” ucapnya ramah dengan tersenyum.

“Hyung kau pintar memilih yeoja ternyata” goda Jiyong pada Top, Bom yeoja berpenampilan sexy dan manis sangat cocok bagi Top yang maskulin namun mereka cocok karena mereka sangat aneh. Lebih aneh dari Jiyong tentunya.

“Aku mengajak sahabatku bergabung, aah itu dia” ucap Bom menunjuk seseorang yang sibuk mencari, dan semua terarah padanya, yeoja dengan tampilan chic namun terlihat elegan dengan pakaian ber branded.

“Dara, di sini” teriak Bom melambaikan tangannya pada Dara yang masih mencari dan ia pun akhirnya menghampiri Bom yang senang karena sahabatnya akhirnya datang, walau Bom harus mengeluarkan segala cara agar Dara bisa datang. Karena sungguh Dara lebih mencintai ranjang empuknya di banding aroma angin luar.

            Jiyong tak berkedip sedikitpun dengan sosok yang selama ini memenuhi pikirannya, kini berada dekat dengan dirinya~ blank jiyong.

“Annyeong” sapa Dara singkat pada yang lain dan ia pun menatap orang yang sedari tadi menatap bodoh dirinya, namun Dara mengalihkan pandangannya seperti layaknya tidak pernah bertemu.

“Dara sunbaenim? Kau masih ingat aku kan?” ucap Jiyong yang kini jiwa nya sudah kembali ke jasad indahnya.

“Emm” respon Dara dingin, dan tawa ringkih teman-teman yang menyaksikan sang penakluk yeoja sedang di jatuhkan harga dirinya.

“Ahh, baiklah ayo kita makan sepuasnya. Toss” ucap Top mencairkan suasana, mengangkat kaleng beer dan di sambut oleh yang lain termasuk Dara walau ia melakukannya dengan malas.

            Acara sudah mereka lewati hingga malam menunjukan pukul 10. Oh tidak bagi Dara yang harus secepatnya pulang karena adiknya akan mengomelinya layaknya nenek-nenek yang sedang PMS.

“Bomie, aku harus pulang. Semuanya aku  pulang terlebih dahulu. Kalian lanjutkan pestanya” ucap Dara pamit dan membungkuk lalu melangkah keluar cafe.

“Dara tunggu, biarkan Jiyong mengantarmu. Kau mau kan Jiyongie?” ucap Bom dengan wink di matanya tentunya. Jiyong yang seperti mendapat restu dan kesempatan dari sehabatnya Dara langsung mengangguk semangat.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri” ucap Dara lagi, membuat Jiyong menghentikan anggukannya.

“Darooong, ini sudah malam. Ku mohon jangan buat aku menjadi sahabat yang tidak baik untukmu” ucap Bom lagi, dan dengan hempasan nafas berat dengan terpaksa Dara menggangguk menyetujui permintaan Bom. Menlihat itu Bom memeluk Dara, dan namja yang akan mengantarnya, heol tolong sadarkan Jiyong dari khayalannya. ia kembali melamun bodoh.

“Ji, kau mau mengantar Dara bukan. Cepat sana, atau aku yang~” goda Taeyang menyadarkan Jiyong dan trik itu berhasil membuat Jiyong langsung menyambar coat birunya dan menghampiri posisi Dara.

“Sunbae, kajja” ucap Jiyong riang. dan dengan acuh Dara tidak menjawab langsung melangkah menuju pintu keluar.

“Doakan aku” ucap Jiyong menatap sahabat-sahabatnya yang tertawa melihat tingkah Jiyong.

**

            Jiyong menatap wajah yang dihadapannya. Begitu damai melihatnya, terasa hangat menatapnya, dan tak pernah bosan memandanginya. Itulah yang Jiyong rasakan saat wajah Dara yang terlelap tidur di mobil Jiyong. Tok, tok. Seseorang mengetuk jendela mobil Jiyong. Seorang namja. Dan jiyong pun menghentikan aktivitas memandangi Dara dan segera menurunkan jendela mobilnya.

“Hyung, kau Jiyong hyung? Mian merepotkan mu mengantar nuna pulang. Bom nuna sudah memberi tahuku lewat telfon bahwa hyung yang mengantarnya.” ucap namja itu ramah.

“Ahh, kau adiknya? Ne aku Jiyong, kwon Jiyong” ucap Jiyong lalu membuka pintu mobilnya dan bersalaman dengan adik Dara.

“Nuna tertidur? Aigooo, sekali lagi maafkan merepotkan mu hyung. Panggil akuTunder saja hyung” ucap namja yang tingginya melebihi Jiyong itu. Wajah maskulin dan masih muda tentunya. Dan satu lagi, sifatnya berbeda dengan Dara yag jutek dan galak. Adiknya terlihat lebih sopan, dan sangat manis. Aah Dara juga manis namun ia selalu menampakkan rasa asam yang membuat orang mengkerut.

“Nuna, bangunlah. Kau sudah sampai di rumah” ucap Tunder membangunkan nuna satu-satunya.

“Emm” erang Dara tak memperdulikan adiknya dan melanjutkan tidurnya.

“Hehehe, dia memang sangat sulit di bangunkan hyung” ucap Tunder dan bersiap membopong tubuh mungil Dara.

“Ah tunggu. Biar aku saja” ucap Jiyong menawarkan diri.

“Tidak hyung. Dia nunaku. Kamsahamida hyung sudah mengantarkan Dara nuna. Apakah mau masuk sebentar? Aku bisa membuatkan teh atau kopi” ucap Tunder dengan senyum menghias wajahnya.

“Mungkin lain waktu. Baiklah selamat malam dan kau juga harus beristirahat ne. Kau masih sekolah bukan?” ucap Jiyong dan mendapat anggukan dari Tunder yang menggendong Dara.

            Jiyong melesatkan mobilnya menuju apartemennya. Mengetahui rumah Dara sudah menjadi peningkatan atas pendekatanya dengan Dara, dan lagi sudah mengenal adiknya. Hemm tinggal orang tua nya, fikir Jiyong dalam senyumnya yang tak kunjung hilang selama perjalanaan.

~ Keesokan Harinya~

            Jiyong kini selalu datang lebih awal, menunggu di lorong lokernya. Menunggu siapa lagi kalau bukan yeoja imut yang mengganggu tidurnya.

“Dara sunbaenim” teriak Jiyong bersemangat saat melihat sosok yang di tunggunya mendekat padanya atau memang mendekat karena loker miliknya bersebelahan dengan Jiyong.

“Mengapa kau selalu ada di sekitarku, huh? bisakah kau lenyap?” ucap Dara masih jutek dan dingin. Jiyong masih dengan cengiran bodohnya seakan kata-kata pedas Dara lantunan lagu syahdu baginya.

“Apa kau sudah sarapan? Aku membawa sandwich kesukaanmu. Kau selalu memakan ini saat di kantin” ucap Jiyong lagi sambil menyodorkan sandwich kesukaan Dara.

“Aish, ternyata kau penguntit. Menjijikan” ucap Dara pedas.

“Bukan seperti itu sunbaenim. Aku hanya memperhatikan mu. Bukankah sudah ku katakan aku akan mendekatimu. Dan mulai terbiasalah dengan kehadiranku Dara sunbaenim. Karena aku bukan tipe orang yang mudah menyerah” ucap Jiyong tersenyum lalu menyelipkan rambut yang terurai ke belakang telinga Dara dan memberikan sandwich ke tangan Dara, tanpa seizin Dara lalu melangkah pergi dengan senyum kemenangan, yups senyum kemenangan karena Dara tak berkutik ataupun merespon pedas seperti biasa. Dara seperti terhipnotis sesuatu dan gelagat itu membuat Jiyong merasa menang.

TBC

Semoga kalian menyukainya, kekeke. Dan mian jika bahasa absrak author yang mengganggu readers. Ff ini hanya sampai chap 4 so don’t be lazzy for coment this ff okey. Love you readers.

 

Advertisements

52 thoughts on “Let Me Know [ Chap. 1/4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s