HELLO BITCHES [Part. 10]

d

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model), Kwon Dami, Kim Yoojung (Actress) a.k.a Choi Yoojung | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

 

Annyeong ^.^/. Hello Bitches kembali update… Happy Reading, neh! >.<

Sementara bagi yang nunggu FIT dll- entah masih mau pada sabar nggak nungguin, yang jelas mua FF pasti akan kuselesein kok. So… jeongmal mianhe, hanya menikmati ini terlebih dahulu chingu. Ok. ^.^

~~~

Bom Pov

Aku tengah merebahkan tubuhku sejenak di sofa saat ponselku tiba-tiba berbunyi- segera aku meraihnya dan berharap itu Dara.

“Yeoboseyo.” ucapku seketika saat aku telah menerimanya.

“Ne. Annyeong, Bommie.” Terdengar suara yang memang kuharapkan- menyapaku riang seperti biasa.

Huft. Akhirnya aku bisa bernapas lega, “Ya! Dara. Dimana dirimu sekarang, hah? Apa kau baik-baik saja?” tanyaku kemudian tak bisa lagi menahannya.

Terlihat CL dan Minzy seketika mendekatiku saat aku menyebut nama Dara.

“Neh. Aku baik-baik saja sekarang- sangat baik bahkan, waeyo?” ucapnya tenang balik bertanya, membuatku kini mengerutkan kening karena reaksinya yang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Omo. Bukankah ia harusnya tidak begini? Apa yang terjadi sebenarnya, hah?” batinku mulai bertanya, “Ya! Dara-yah, benarkah kau baik-baik saja? Tidak ada yang terjadi padamu? CL mengatakan padaku bahwa ia dan Junki Oppa melihatmu masuk ke sebuah mobil dalam kondisi yang tidak sepenuhnya sadar, dan kau juga meninggalkan tasmu di club semalam.”

“Ah. Itu- jadi CL dan Oppa melihatku? Katakan padanya untuk tidak khawatir Bommie, semalam memang ada yang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke minumanku tapi seorang pria menolongku dan ia lah yang membawaku pergi dari sana, lalu kini aku tengah berada di kediamannya. So, tenanglah- aku berada di tempat yang aman sekarang.”

“Mwo? Jinjja? Ah. Syukurlah kalau begitu, jadi tidak ada sesuatu yang terjadi padamu, neh?”

“Ne. Tidak terjadi apapun, Bommie… bahkan pria yang menolongku pun tidak ada niat untuk menyentuhku.” jawabnya kali ini lebih terdengar sebagai kekecewaan dari pada kelegaan.

“Ya! Kau terdengar kecewa akan hal itu, Dara.” ucapku akhirnya mengungkapkannya- terdengar ia tergelak.

“Benarkah? Apa aku begitu terlihat? Yeah- aku tak akan mengelak, kau benar Bommie karena jujur pria yang menolongku begitu menggiurkan.” Ia kembali terkekeh membuatku tersenyum, telah lama tak kudengar ia mengatakannya- mengatakan bahwa ada pria yang berhasil membuatnya tergiur.

“Ia pasti pria yang sangat tampan, eoh?” tebakku- kulihat kini CL dan Minzy menatapku dengan penuh keingintahuan, aku pun memberi kode untuk mereka menunggu dan aku akan menceritakannya nanti.

“Kuberitahu- kau telah melihatnya, Bommie… dan aku setuju saat kau mengatakan ia tampan.”

“Mwo? Jinjja? Siapa dia?” Aku begitu penasaran kali ini.

“Ingat-ingatlah.”  Dara menjawab singkat, mau tak mau membuatku berpikir.

“Ehm… pria tampan? Aku pernah mengatakan itu?” gumamku berusaha untuk memutar kembali memoriku, dan… “Ah. Aku tidak yakin apa ini benar… tapi- apakah dia pria yang kubilang selalu mencarimu, Dara?” tanyaku akhirnya.

“Yup. Kau tepat Bommie.”

“Omo. Jinjja? Ya! Kenapa itu bisa menjadi kebetulan, hah? Ia yang selalu mencarimu dan akhirnya menolongmu lalu ia membawamu bersamanya. Ya! Mustahil bila ia tak melakukan apapun padamu, Dara. Ia benar-benar menginginkanmu, kau tahu?”

“Ah. Aku juga berpikir begitu- berpikir ia terus mencariku karena menginginkanku tapi ternyata kata menginginkanku itu memiliki pengertian yang lain baginya.”

“Mwo? Apa maksudmu?” tanyaku benar-benar tak mengerti sekarang, terdengar ia menghela nafas panjang.

“Aigo. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya, intinya- itu tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya Bommie tapi tak bisa dipungkiri aku seperti mendapat sebuah jackpot sekarang.”

“Ya! Kenapa kau membuat itu menjadi sebuah teka-teki Dara- kau membuatku penasaran, kau tahu? Sekarang jelaskanlah dari awal, aku akan dengan setia mendengarkannya.”

“Cih! Kau begitu tidak sabar, eoh?” protesnya.

“Itu salahmu- karena membuatku ingin lebih tahu dari sebelumnya. So… kajja, aku menunggumu Dara.” ucapku benar-benar memaksa kali ini- dan akhirnya ia kembali menghela nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya.

.

.

.

“Jadi dia memang wanitamu, eoh?” tanya Dami, saat ia dan Jiyong telah berada di salah satu sudut café yang ada di lantai dasar- apartemen Jiyong.

Jiyong mengangguk, menaruh kembali macchiato  yang baru ia minum.

“Sejak kapan kau berhubungan dengannya?” lanjut Dami tak berhenti untuk bertanya sebelum ia puas.

“Belum terlalu lama, Noona… tapi- kami sudah sangat dekat.” jawab Jiyong membuat Dami berdecak.

“Ya! Aku sudah bisa melihatnya, bagaimana kalian tampak dekat hingga ia dapat dengan santai keluar dari kamarmu dengan hanya memakai kemejamu- itu sungguh mengejutkanku, Jiyong.” ucap Dami seraya meraih botol air mineralnya- meminumnya.

“Ne, dan karena kau sudah tahu tentang hubunganku ini- mungkin tidak ada salahnya bila kau juga tahu bahwa aku akan tinggal bersamanya nanti.”

“Uhuk… uhuk… uhuk…” Dami tersedak.

“Kau baik-baik saja, Noona?”

“Ya! Apa maksudmu itu, hah? Kalian akan tinggal bersama? Berdua?” tanya Dami lagi-lagi tak mampu menutupi keterkejutannya.

“Ne. Aku memintanya untuk itu dan dia menyetujuinya, kita perlu lebih saling mengenal dari sebelumnya.”

“Mwo? A-apa kau benar-benar serius dengannya?”

“Serius?” gumam Jiyong berpikir sejenak, “Ah. Aku ingin- tapi dia bukan tipe wanita yang terlalu terburu-buru kurasa, karena itu aku mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa aku bukanlah pria yang suka bermain-main.” jawab Jiyong membuat Dami hanya mengangguk- mengerti, ia tahu bagaimana Jiyong. Yah- tidak bisa dipungkiri apa yang ia lihat dan ia dengar hari ini seakan mampu membuatnya terkena serangan jantung seketika. Jiyong- Kwon Jiyong… adik laki-laki yang selama 28 tahun hidupnya baru kali ini memperkenalkan seorang wanita sebagai kekasih atau wanitanya dan lagi secara langsung mengatakan mereka akan tinggal bersama, sungguh itu membuat Dami tak mampu lagi untuk berkata- menduga-duga. “Jiyong. Kau seorang pria normal, neh?” batin Dami akhirnya mau tak mau mengakuinya, ditambah dengan apa yang ia lihat barusan- bagaimana Jiyong sepertinya bermain kasar dengan wanitanya. Ouch. Dami tak mampu lagi membayangkannya. Kepalanya terasa berdenyut  sekarang.

“Aigo. Aigo. Aigo… aku tidak tahu lagi harus menyikapi ini seperti apa, yang jelas jika ia adalah wanitamu- kau harus segera memperkenalkannya pada keluarga besar kita Jiyong. Kau tahukan bagaimana mereka mulai meragukanmu sekarang?”

Jiyong mengernyit- mengingat hampir dari seluruh keluarga besarnya mempercayai rumor itu dengan sangat mudah, “Ne. Araesso, Noona… tentu aku akan membawanya bersamaku untuk menemui mereka.” jawab Jiyong akhirnya.

“Baiklah. Aku tidak akan lagi membuat wanitamu menunggu lama dan aku hanya ingin mengingatkan satu hal, jangan lagi bermain kasar Jiyong… ia tetaplah seorang wanita.” ucap Dami kali ini dengan tampang seriusnya, sementara Jiyong berusaha kuat untuk menahan tawanya.

“Ah. Ne… ne… Noona, aku akan mengingatnya… aku hanya terlalu bersemangat semalam jadi-“

“YA! Tidak menceritakan itu padaku, Jiyong. Kau ini- arrrghhhh… benar-benar. Aku tidak menduga kau akan menjadi pria seperti ini sekarang.”

Jiyong pun terkekeh, “Bagaimanapun aku seorang pria, Noona. Kau tidak bisa memungkiri itu, aku dapat berprilaku liar seperti yang lainnya… tapi tenang saja- aku masih dapat mengendalikannya.”

“Cih! Melihatmu yang dapat berubah cepat seperti ini- membuatku harus lebih berhati-hati dalam memilih pria.” sungut Dami membuat Jiyong kali ini tergelak.

“Bukan kau yang harus hati-hati, Noona- tapi para prialah yang harus hati-hati bila berhubungan denganmu.” celetuk Jiyong membuat Dami seketika membulatkan matanya.

“YA! Apa-apaan kau ini, hah? Kau berani mengolok-ngolokku sekarang? Kau tahu aku hanya berusaha mencari yang terbaik diantara semua pria yang mendekatiku, aku tidak membutuhkan laki-laki lemah berada di keluarga kita Jiyong, dan bila menghadapiku saja mereka satu persatu menyerah. Cih. Aku dengan senang hati mencoretnya dari daftar. Jadi berhenti untuk menyinggungku, atau kau akan mati… dasar bajingan kecil gila.” umpat Dami kemudian.

“Araesso… araesso, Noona. Kalau begitu dapatkan kita akhiri ini? Aku harus segera kembali karena Dara pasti menungguku sekarang.” ucap Jiyong akhirnya.

“Ok. Aku rasa apa yang kuketahui ini juga sudah lebih dari cukup, aku tidak yakin masih dapat bernapas bila mendengar yang lainnya- jadi aku tidak akan lagi bertanya, Jiyong. Kau hanya perlu mempersiapkan itu semua untuk menjelaskannya pada Appa dan Eomma.”

“Kau akan memberitahu mereka, neh?”

“Itu sudah pastikan? Aku tidak mungkin- tidak memberitahu mereka, jadi bersiap-siaplah.”

Jiyong tersenyum singkat- mengangguk. Ia telah dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dami pun berdiri dari duduknya- beranjak pergi.

“Ah. Tunggu, Noona.”

“Wae?”

“Jika kau menghubungi mereka, tolong katakan- untuk tidak membawa yeoja yang saat itu mereka maksudkan. Aku ingin wanitaku merasa nyaman, kau tahu? Tentunya mereka harus dapat menghargai  pilihanku, bukan?”

Dami terdiam sesaat, “Araesso. Aku akan katakan itu pada mereka- mereka, bukan tipe yang pemilih sebenarnya jadi kau tenang saja.” jawab Dami kemudian, “Omo. Sepertinya aku harus mencari target lain untuk dapat kujadikan budakku. Ah. Apa itu sepupu kita Mino, Jinwoo atau Seungyoon? Ais. Sayang Hanbin-ah masih terlalu muda, padahal ia adalah yang paling mudah untuk disuruh.” ceracau Dami sebelum ia pergi, membuat Jiyong hanya meringis- membayangkan- bagaimana Dami akan benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan salah satu dari mereka.  “Kalau begitu… aku pergi, neh. Sampaikan salamku untuk Dara, bye.” lanjut Dami akhirnya.

Jiyong yang melihat Kakaknya- Kwon Dami telah berlalu pergi pun kini mulai bisa bernapas lega. Itu telah berhasil dengan begitu mudah baginya, dan kini ia hanya berharap Dara dapat melakukan yang lebih baik lagi saat bertemu dengan Appa, Eomma dan keluarga besarnya yang lain- tentunya.

“Ah. Massita.” gumam Jiyong sesaat setelah menyesap kembali macchiatonya, ia benar-benar merasa lebih ringan sekarang.

.

.

.

Dara Pov

“Argh. Kenapa ia begitu lama? Tidak tahukah ia- aku kelaparan sekarang, bukannya ia mengatakan akan membuat sarapan? Tapi lihat… aku bahkan tidak tahu ia ingin membuat apa.” omelku saat melihat beberapa olahan yang belum berbentuk- berada di pantry nya. Perutku mulai berbunyi, ditambah Bom beberapa saat yang lalu benar-benar tak mengijinkanku berhenti bicara setelah ia merasa puas dan jelas- aku telah menceritakan semuanya dan ia dengan senang hati menunggu perkembangan cerita selanjutnya. Cih! Aku bagai melakoni sebuah drama sekarang dan Bom menjadi salah satu penonton setianya.

Aku terus menggerutu sepanjang waktu- menunggunya- Kwon Jiyong. Ini telah hampir satu jam dan ia belum menampakkan batang hidungnya. Jujur, disaat-saat seperti ini aku menyesal tak mendengarkan CL untuk sedikit saja belajar bagaimana caranya memasak.

“Omo! Bahkan tak ada cemilan apapun di kulkasnya.” gumamku sulit percaya dengan apa yang kulihat- itu hanya berisi bahan-bahan mentah segar yang harus lebih dulu di olah agar bisa menikmatinya dan juga beberapa botol air mineral plus minuman jahe kemasan yang kutahu sangat baik untuk kesehatan, “Aigo. Ia benar-benar laki-laki yang menjaga kesehatan tubuhnya, ne? Aku tak melihat satu pun ia menyimpan minuman beralkohol di sini. Ck ck… inilah hidup dari seorang pria suci.” cuapku benar-benar tak menyangka- ia ternyata begitu berlebihan, kurasa.

Aku terus mondar mandir- kesana kemari, dengan sesekali meminum air mineral dan sepertinya itu berhasil membuat perutku sedikit penuh karenanya. “Shit! Ia benar-benar melupakan, eoh?” umpatku kali ini tak bisa lagi menahannya.

Dengan segala keyakinan, aku pun menyalakan kompor- memasukkan segala yang ia buat sebelumnya dalam satu wadah… itu seperti adonan telur, adonan nasi dan juga beberapa sayuran dan beberapa irisan daging beserta bahan-bahan pelengkap lainnya.

“Yeah! Menjadikan satu semuanya itu tampaknya bukan ide yang buruk- ini sepertinya akan menjadi makanan lezat pertama yang kubuat. Ayo, Dara… ini mudah.” ucapku mengaduknya jadi satu di atas kompor yang menyala, “Hmm… bahkan aku bisa mencium baunya- ini sempurna.” Aku mencicipinya dan ajaib- itu benar-benar membuatku tak sabar untuk segera melahapnya, “Ini sudah matangkan?” batinku bertanya saat terlihat itu sudah mulai berubah warna dan aku pun berniat memindahkannya untuk segera menyantapnya, lalu-

“Apa yang kau lakukan, Dara?”

“Kyaaaaaaaahh!!!”

Prang… tang… tang… tang…

Omo! Makananku? Makanan lezatku? Makanan ajaibku? Tidak tahukah ia bagaimana aku bekerja keras untuk membuatnya? Hiks.

“Huwaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Aku menangis tersedu sekarang.

.

.

.

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7 8| 9

<<back  next>>

TBC lagi hoho, btw… gomawo yang selalu nyempetin diri untuk meninggalkan jejak.  Jejak kalian adalah semangatku untuk dapat terus melanjutkan. :-*

AND TO SIDER >>> Aku sudah berusaha ngelaksanain kewajiban untuk selalu update dan kali ini wajarlah bila aku menuntut sedikit saja hak aku untuk mendapatkan beberapa patah kata dari kalian, entah itu tentang isi cerita, saran atau kritik yang membangun- aku dengan senang hati akan menerimanya. So, please… tinggalkan jejak mulai dari sekarang, agar jika nanti tiba-tiba ada part. yang di PW- kalian bisa mendapatkannya dengan mudah. Sekian & Terimakasih 🙂

 

 

Advertisements

58 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 10]

  1. aigooo dara berlebihan, padahal itu kan yang bikin jiyong, dia cuma nerusin masaknya doang. aduh ya ampunn dara aneh banget haha. sampe segitunya ya dami eonni kagetnya haha. kata kata yang di pakenya ambigu jadi mikirnya kemana aja haha. okey next chap ^^

  2. hahhaha gak bisa ngebayangin deh gimana ekspresinya dami saat ji blg ia akan tinggal 1 atap sama dara. trus dara nya juga bisa2nya nagis karna makanan, kekekke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s