My Lovely PRETTY BOY : 005

little-sun

Author : Little Sun

Genre : Romance

Ratting : T

Long : 5/10 chapter

Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong, Jang Wooyoung, Ahn Sohee

**

Chapter 5

Dara menyandarkan wajahnya di kaca. Sebelah tangannya menggerak-gerakkan alat pembersih kaca yang digenggamnya, membersihkan debu-debu yang terlihat di kaca.

“Namja chingu..,” gumam Dara.

Dara mengehambuskan napasnya. Dia memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali kata-kata yang terlontar dari mulut Jiyong. Kata-kata itu masih teringat jelas dalam ingatannya. Dara tidak yakin dengan keputusan yang akan dia ambil. Apakah ini benar? Atau.. lebih baik memilih yang itu? Dia hanya.. sedikit belum siap untuk semua perubahan yang terjadi dengan cepat.

“Namja chingu..,” Dara kembali bergumam…

 

“Dara-ah,” kata Jiyong memecah keheningan di tempat itu, “Bagaimana kalau aku menjadi kekasihmu? Aku tidak ingin hal tadi terulang. Setidaknya jika aku menjadi kekasihmu, tidak akan ada lagi namja yang mendekatimu,”

Dara mendongakkan kepalanya, menatap wajah Jiyong. Jiyong menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Dara.

“Bagaimana?” tanya Jiyong.

Dara menundukkan kepalanya. Tak satu katapun keluar dari bibir mungilnya.

“Di matamu, namja begitu payah ya?”

Jiyong terkekeh pelan setelah mengucapkan kata-kata itu.

“Siapa tau kalau kau memiliki seorang namja chingu, pandanganmu pada namja perlahan-lahan akan mulai berubah,” kata Jiyong.

“Jangan bercanda,” kata Dara, “Siapa juga yang bisa ku pacari?” Dara mengendus pelan.

Jiyong mengeratkan pelukannya.

“Dara-ah..apakah aku begitu payah menjadi namja chingu-mu?” tanya Jiyong.

 

“Ahhh.. kenapa dia melakukan semua itu?”

Dara membentur-benturkan kepalanya ke kaca di depannya. Dia kembali menghembuskan napasnya lalu membuka kedua matanya.

Ahh.. Jinja! Nan mollayo,” kata Dara sambil membentur-benturkan alat pembersih kaca yang digenggamnya ke kaca, “Aku tidak butuh rasa kasihan! Jiyong paboyaa!”

Dara membenturkan alat pembersih kaca itu semakin keras ke kaca.

Pabo! Pabo! Pabo!..,” kata Dasa sambil terus membentur-benturkan alat itu.

“Ya~! Ya~! Ya~! Sandara Park! Apakah kau sedang mencoba menghancurkan cafeku?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba saja muncul di belakang Dara.

Omoo~! Jangan pegang!” bentak Dara.

Kyuhyun mundur selangkah, “Ne, arraseo!” kata Kyuhyun, “Aku juga tidak mau menerima hadiah pukulanmu itu,”

Dara menempelkan tubuhnya ke kaca sambil menggenggam alat pembersih kaca yang digenggamnya ke dada.

Ya~! Sandara Park-ssi, apakah sekarang Agashi mau mencoba memecahkan kaca ini? Beberapa minggu yang lalu kau sudah bolos kerja tanpa alasan dan sekarang kau hanya melakukan hal ini di shift kerjamu?” gerutu Kyuhyun sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Aigoo~! Kyuhyun-ah, aku tidak sedang mencoba menghancurkan kacamu. Hanya memukul-mukulnya sedikit. Hehehe,” jawab Dara.

“Kau ini,” Kyuhyun melipat kedua tangannya di dada, “Cepat kembali bekerja,” Kyuhyun berbalik dan berjalan ke meja kasir.

**

Jiyong memutar gelas yang sedang dipegangnya. Alunan musik memantul dari setiap dinding di ruangan itu. Aroma alkohol dan asap rokok bercampur menjadi satu. Setiap orang mencoba saling menempelkan tubuhnya satu sama lain. Mencoba menghilangkan jarak yang ada di antara tubuh-tubuh yang ada. Lampu sorot berputar menerangi ruangan. Menyinari setiap penjuru ruangan dengan warna-warna berbeda yang dipancarkan dari lampu-lampu itu.

Setengah kesadaran Jiyong mulai menghilang. Efek dari minuman-minuman yang diminumnya sudah mulai memasuki setiap ujung-ujung syarafnya. Sesekali Jiyong menggerakkan kepalanya sesuai dengan irama yang DJ mainkan. Mengetuk-ngetukkan jemari tangannya yang bebas di meja.

Jiyong kembali mengeguk cocktail yang dipegangnya untuk kesekian kalinya malam itu. Jiyong merebahkan kepalanya yang mulai terasa berat di meja bar. Meski setengah kesadarannya mulai hilang, Jiyong masih bisa mengenali kejadian yang terjadi di sekitarnya. Alkohol-alkohol ini masih belum mampu menghilangkan kesadarannya sepenuhnya.

Hyung, kau sudah terlalu banyak minum. Lebih baik kita pulang,” kata Daesung yang duduk di sampingnya.

A..niyoo,” jawab Jiyong.

Hyung, kenapa kau tiba-tiba minum sebanyak ini?” tanya Seungri di sebelah kanannya, “Biasanya kau tidak sampai seperti ini,”

Mereka bertiga saat ini sedang berada di club favorit mereka, menghabiskan malam seperti yang biasanya mereka lakukan. Jiyong tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Seungri. Dia hanya menggumam tidak jelas dan kembali meneguk minuman yang digenggamnnya.

Aigoo~! Hyung, sepertinya kau tidak salah makan tadi pagi. Kenapa sekarang jadi seperti ini?” tanya Daesung.

Omoo~! Jangan bilang karena kejadian tadi siang!” kata Seungri tiba-tiba.

Tangan Jiyong berhenti di udara saat dia akan kembali meneguk minumannya. Setelah berhenti sejenak, Jiyong kembali menggerakkan tangannya dan meneguk minumannya.

“Sepertinya tebakanku benar,” gumam Seungri lalu meminum frappe-nya.

Daesung menyandarkan punggungnya ke meja bar dan mengamati setiap pergerakan yang terjadi di lantai dansa.

“Yongbae hyung dan Seunghyun hyung ke mana?” tanya Seungri.

“Yongbae hyung sedang mengerjakan proyek barunya dengan Teddy hyung dan Seunghyun hyung sedang ada pertemuan keluarga,” jawab Daesung.

“Orang-orang sibuk,” gumam Seungri.

Diirrtt~

Seungri mengeluarkan handphone-nya dari saku. Sebuah pesan baru saja masuk ke dalam handphone-nya. Seungri membaca sejenak pesan yang dikirim untuknya itu. Sesaat kemudian sebuah senyum terlihat mengembang di wajahnya.

I got you, baby cat,” gumam Seungri.

Wae?” tanya Daesung yang kini menoleh ke arah Seungri.

Seungri memasukkan handphone-nya ke saku celana jeansnya lalu bangkit dari kursinya.

“Aku harus pergi. Tolong antar Jiyong hyung pulang!” kata Seungri sambil berlari keluar.

“Ya~! Ya~! Ya~! Seungri-ah! Ya~! Kau mau ke mana?” tanya Daesung dengan setengah berteriak. Berusaha mengalahkan kerasanya bunyi yang terdengar di ruangan itu.

Seungri hanya melambaikan tangan kanannya sambil terus berlari menginggalkan tempat itu. Sesekali menghindari orang-orang yang sudah mulai kehilangan kesadaran mereka.

“Anak itu..,” gumam Daesung lalu menoleh ke arah Jiyong, “Sepertinya aku harus mengantarmu pulang sekarang, hyung,”

Daesung berdiri lalu membantunya hyung-nya meninggalkan tempat itu.

**

Suara lonceng terdengar saat pintu café terbuka. Chaerin mendongakkan kepalanya, “Eoseo oshipshiyo,”

Senyum Chaerin berhenti saat dia mengetahui siapa yang sedang berdiri di ambang pintu dengan senyum lebarnya dan menatap ke arahnya. Chaerin berbalik dan berjalan ke dapur.

Omoo~! Tunggu!” sebuah tangan mengentikan langkah Chaerin, “Ya~! Kau ini bagaimana? Kenapa pergi saat melihat pelanggan datang?”

Chaerin mengembuskan napasnya lalu berbalik. Mencoba memasang senyumnya yang paling menawan, “Jadi.. apa yang ingin Agashi pesan?” tanya Chaerin dengan nada yang dipaksakan terdengar manis.

Seungri tersenyum lebar.

**

Dara berjalan memasuki lift di gedung apartement-nya. Shift kerjanya sudah selesai. Bom dan Chaerin masih harus bekerja untuk shift malam mereka sedangkan Minzy harus pulang ke rumah orang tuanya karena ada urusan keluarga. Pada akhirnya dia hanya akan berada di rumah sendirian.

Dara menakan tombol di dinding lift. Perlahan pintu lift mulai tertutup.

“Tunggu!”

Tiba-tiba sebuah tangan menghentikan pintu lift menutup. Pintu lift kembali terbuka dan menampakkan seorang namja dengan sedikit terengah-engah memegangi pintu lift. Wajahnya menghadap ke bawah dan tangan kirinya memegangi dadanya. Mencoba mengembalikan kembali napasnya seperti semula. Dara tidak bisa mengenali namja itu karena sebagian poninya menutupi wajahnya.

“Jangan.. ditutup.. dulu,” kata namja itu lalu mendongakkan kepalanya.

Saat Dara melihat wajah namja itu, dia mulai mengenali siapa namja itu sebenarnya, “Omoo~! Daesung sunbaenim,” kata Dara.

Chamkaman!” kata Daesung lalu berbalik pergi.

Dara menunggu di lift seperti yang Daesung katakan. Beberapa saat kemudian Daesung kembali berjalan dengan memapah seorang namja ke lift. Dara berjalan mendekat dan membantu Daesung memapah namja itu.

“Dia kenapa?” tanya Dara.

“Terlalu banyak minum,” jawab Daesung, “Bisa tolong bantu aku membawanya ke apartementnya?” tanya Daesung sambil memapah namja itu.

Dara tidak bisa melihat namja itu karena namja itu memundukkan wajahnya. Dara berjalan mundur dan menempelkan tubuhnya ke dinding.

“Ya~! Kau bisa membantuku atau tidak?” tanya Daesung sambil terus memapah namja itu.

Omoo~! Shireo! Aku tidak mau menyentuh namja!

Namja itu berjalan dengan tidak seimbang sehingga membuat Daesung sedikit kesulitan untuk memapahnya, “Sudahlah. Lupakan!”

Dara hanya memperhatikan Daesung membawa namja itu sampai ke dalam lift. Sesampainya di dalam lift, Daesung mendudukkan namja itu di lantai.

“Lantai berapa?” tanya Dara.

“Tujuh,” jawab Daesung.

Dara menoleh saat mendengar jawaban Daesung. Dia juga tinggal di lantai itu.

Apakah aku mengenal namja ini? Tapi aku baru beberapa bulan tinggal di sini dan aku jarang bertemu dengan penghuni lain apartemen ini.

Dara menekan tombol di lift. Pintu lift perlahan mulai tertutup. Sesekali Dara mendengar namja itu mengerang dan menggumamkan sesuatu tetapi dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kau juga tinggal di apartement ini?” tanya Daesung.

Dara menoleh lalu menampakkan seulas senyum, “Ne,” jawab Dara.

“Kalau begitu kau bertetangga dengannya?” tanya Daesung sambil menendang kaki namja itu dengan pelan.

Dara menoleh ke bawah. Memperhatikan namja itu dengan seksama. Tiba-tiba saja namja itu kembali mengerang dan mengangkat wajahnya. Mata Dara melebar saat dia mengetahui siapa namja itu.

Omoo~! Ji-ah!

Ji-ah?” tanya Daesung.

Dara menoleh ke arah Daesung. Dia tidak menyadari bahwa dia baru saja menyuarakan pikirannya.

“Tunggu, sepertinya aku familiar dengan wajahmu,” kata Daesung sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dara.

Dara memundurkan kepalanya.

“Da..ra? San.. da.. ra?” kata Daesung sambil memperhatikan wajah Dara.

Ne?”

Sepertinya aku benar,” Daesung menarik wajahnya menjauh dari wajah Dara, “Neol.. Sandara Park. Apakah aku benar?”

Ne,” jawab Dara sambil menganggukkan kepalanya.

“Kebetulan sekali,” kata Daesung.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di lantai tujuh. Pintu lift terbuka. Dara melangkah keluar dengan cepat lalu menunggu Daesung memapah Jiyong keluar. Dara mengikuti Daesung.

“Dia tinggal di sini?” tanya Dara.

Ne. Kau tidak tau?” tanya Daesung.

Aniyo,” jawab Dara.

Mereka sampai di depan sebuah pintu yang terletak tepat di sebelah pintu apartement Dara.

“Bisa kau bantu aku membukakan pintunya?” tanya Daesung.

Dara mengangguk.

“Password-nya 190806,” kata Daesung.

Dara mengetikkan password itu dan pintunya terbuka. Dara mundur untuk member jalan pada Daesung lalu mengikuti Daesung masuk ke dalam apartement itu. Daesung membawa Jiyong ke kamarnya lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang. Dara berdiri di pojok kamar Jiyong dan memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Daesung berbalik dan menoleh pada Dara, “Gomawo sudah membantuku membawanya kemari,” kata Daesung.

Cheon manneyo,” jawab Dara.

Daesung mengeluarkan handphone-nya dari dalam saku lalu berjalan keluar dari kamar.

Yeoboseyo,”

Dari dalam kamar Jiyong, Dara bisa mendengar bahwa Daesung sedang menjawab sebuah panggilan telepon.

Dara menghembuskan napasnya sejenak lalu memberanikan dirinya berjalan mendekati Jiyong yang terbaring di ranjangnya. Dara duduk di tepi ranjang di sebelah Jiyong.

Dara menyibakkan rambut Jiyong yang menutupi wajahnya, “Wae? Kenapa kau tiba-tiba saja begini?”

Dara tersenyum masam.

Dara-ssi,”

Dara menoleh ke pintu. Daesung berdiri di ambang pintu sambil memegang handphone-nya.

“Aku harus pergi. Kau tinggal di lantai berapa?” tanya Daesung.

Ne? Ahh.. aku tinggal di lantai ini juga,” jawab Dara.

Wajah Daesung terlihat cerah, “Kebetulan sekali. Bisakah kau menjaganya sebentar? Tinggalkan dia jika dia sudah mulai tertidur,” kata Daesung.

Dara sedikit terkejut saat mendengar permintaan Daesung.

“Apakah kau bisa?” tanya Daesung.

Ne?”

Dara menoleh ke arah Jiyong yang berbaring di sampingnya.

Ne,”  jawab Dara.

**

Untuk kesekian kalinya Chaerin kembali berjalan ke meja itu dan mengantarkan pesanan untuk namja kurang ajar itu.

One frappe. Tidak terlalu dingin. Tidak terlalu banyak cream. Tidak terlalu banyak gula. Air tiga perempat gelas. Aroma kopi tidak terlalu hambar. Disajikan khusus untuk Lee Seungri-ssi,” kata Chaerin saat meletakkan frappe yang dia buat itu di hadapan Seungri, “Ada yang lain, Lee Seungri-ssi?” tanya Chaerin sambil memberikan penakanan saat dia menyebutkan nama Seungri.

Seungri tersenyum puas, “Uwaa~ sepertinya kau mengingat semua yang aku katakan dengan baik, baby cat,”

Seungri bertepuk tangan. Chaerin hanya menampakkan senyumnya, berusaha menahan emosi yang perlahan mulai menggerogoti jantungnya.

“Aku akan mencobanya,” kata Seungri lalu mengambil frappe dihadapannya.

Seungri meminum frappe itu perlahan. Menikmati aroma kopi tercium. Chaerin mengamati perubahan ekspresi Seungri. Memastikan kali ini dia telah membuat kopi itu dengan baik.

Setelah meminum beberapa teguk, Seungri meletakkan gelasnya di meja, “Not bad,” kata Seungri, “Kau berbakat,”

Kamsahamnida,” kata Chaerin, “Kalau begitu saya permisi,”

Chaerin berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya terhenti saat sebuah tangan menggenggam sikunya dan menghentikan langkahnya. Chaerin sudah tau tangan siapa itu. Dia berbalik dan kembali berhadapan dengan namja itu, Lee Seungri yang kini berdiri di depannya.

“Tidak bisakah kau duduk dan menemaniku minum?” tanya Seungri.

Jeosonghamnida, pekerjaan saya masih banyak jadi saya harus kembali bekerja,” jawab Chaerin.

Aigoo~ baby cat,” Seungri mengerutkan bibirnya.

Chaerin menghembuskan napasnya, “Seungri-ssi, sebenarnya apa yang Agashi inginkan? Jika Agashi hanya ingin mengganngu pekerjaan saya, jeosonghamnida.. lebih baik Agashi meninggalkan café ini,”

Omoo~! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu pada pelanggan?” tanya Seungri.

“Daripada Agashi mengganggu pekerjaan saya, kenapa Agashi tidak pergi dengan yeoja-yeoja Agashi saja?” tanya Chaerin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ya~! Yeoja-yeoja? Jika kau mengatakannya seperti itu terdengar seperti hal yang buruk,” jawab Seungri.

“Bukankah memang lebih dari satu? Saat Agashi pertama kali datang ke sini ada dua yeoja, di kampus ada banyak yeoja lain yang berbeda, dan terakhir kali Agashi datang kemari, bukankah Agashi datang dengan seorang yeoja yang lain lagi? Jadi kenapa hari ini Agashi datang sendirian?” tanya Chaerin.

Seungri tersenyum lebar, “Omoo~! Apakah kau begitu memperhatikan aku? Sampai-sampai kau tau siapa saja yang sedang bersamaku?”

Chaerin sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Setiap kali dia bertemu dengan namja ini, setiap kali namja ini datang ke café mereka, dia hanya akan membuat kekacauan. Chaerin menarik lengan bajunya lalu menghembuskan napasnya.

“YA~!” Chaerin memukulkan kedua telapak tangannya ke meja. Seungri sedikit terlonjak karena terkejut,  “JIKA KAU HANYA INGIN MENGGANGGUKU! SEBAIKKNYA KAU PERGI! KKA!” bentak Chaerin.

Semua orang yang berada di café menoleh ke arah mereka saat mendengar Chaerin berteriak. Bom segera keluar dari dapur. Begitu pula dengan Kyuhyun yang langsung keluar dari kantornya.

Seungri menampilkan seringainya, “Chaerin-ah, apakah kau cemburu padaku?” tanya Seungri.

Chaerin membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata Seungri, “MWOYA? Cemburu?” Chaerin meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Apakah aku tidak punya pekerjaan lain hingga aku harus cemburu padamu? Apakah itu penting untuk cemburu padamu? Kau siapa? Seenaknya mengatakan hal itu,”

Jin..ja?” tanya Seungri.

Chaerin menurunkan nada suaranya, “Apakah sekarang kau mau pergi? Kau sudah mengganggu kenyamanan café ini,” kata Chaerin.

Seungri berdiri, “Arra.. aku akan pergi. Aku tidak ingin membuatmu cemburu,”

Mwo? Berhentilah berbicara aneh-aneh seperti itu,” kata Chaerin.

“Baiklah. Aku pergi,” Seungri tersenyum ke arah Chaerin, “Good night, baby cat!”

Chu~

Mata Chaerin melebar saat dia merasakan sesuatu yang hangat mendarat di bibirnya. Wajah Seungri begitu dekat dengannya. Kedua mata Seungri terpejam. Chaerin mengedipkan matanya beberapa kali.

“Ya~!” Chaerin terteriak sambil mendorong tubuh Seungri menjauh dari tubuhnya dengan kasar.

Seungri memperlihatkan seringainya sambil mengusap bibirnya dengan tangan kirinya, “Sweet..,”

Mwo?” Chaerin kembali membelalakkan kedua matanya. Tidak percaya dengan hal yang baru terjadi, tidak percaya dengan kata-kata yang baru dikeluarkan Seungri, “LEE SEUNGRI! KELUAR DARI TEMPAT INI!” kata Chaerin sambil menendang kaki Seungri.

“Ya~!” kata Seungri sambil memegangi kakinya yang baru saja mendapatkan pukulan dari Chaerin.

“KELUAARRR!!”

**

Dara berjalan memasuki kamar Jiyong sambil membawa nampan berisi segelas air putih dan bubur. Dara meletakan nampan itu di atas meja di samping ranjang. Dara menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di dinding kamar Jiyong.

“Setengah sembilan,” gumam Dara.

Dara mengeluarkan handphone-nya dari dalam saku. Dara menekan beberapa tombol lalu memasanghandphone-nya di telinga. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara dari ujung sambungan telepon.

[“Yeoboseyo,”]

Bommie-ah,”

[“Wae? Kami sudah dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai di apartement,”]

Dara menoleh ke arah Jiyong. Jiyong mengerang sebentar lalu memutar tubuhnya menghadap ke sisi lain.

“Ahh.. begitu. Baiklah, hati-hati di jalan,”

[“Ne,”]

“Annyeong,”

[“Annyeong,”]

Sambungan terputus. Dara memasukkan handphone-nya ke dalam saku kembali. Dia berjalan mendekati Jiyong lalu duduk di sampingnya.

“Ada bubur dan air putih. Makan dan minumlah setelah kau sadar,” kata Dara lalu beranjak dari tempat itu.

**

Jiyong membuka matanya perlahan. Kegelapan menyambutnya saat dia membuka kedua matanya. Jiyong menegakkan tubuhnya dengan sebelah tangannya. Dia menoleh ke arah jam dinding.

“Sudah selarut ini,” gumam Jiyong.

Jiyong menarik kakinya dan duduk di tepi ranjang.

“Oh.. siapa yang melepas sepatuku dan jaketku? Tidak biasanya mereka melakukan itu,”

Jiyong menghidupkan lampu tidur di sebelah ranjangnya. Saat lampu itu menyala, Jiyong melihat semangkuk bubur dan segelas air di atas meja. Merasa sedikit aneh dengan kehadiran kedua benda itu. Jiyong mengambil gelas berisi air itu lalu meneguknya. Jiyong merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan air yang baru saja diminumnya.

“Manis?” gumam Jiyong.

Jiyong meletakkan gelas berisi air putih itu di atas meja lalu mengambil mangkuk berisi bubur. Dia menyendok bubur itu lalu memakannya. Saat dia memakan bubur itu, ada sedikit aroma strawberry dalam bubur itu. Jiyong juga merasakan potongan-potongan strawberry bercampur dengan bubur yang di makannya.

Strawberry?”

**

Dara, Minzy, Bom, dan Chaerin berjalan di lorong universitas. Jam makan siang sudah lewat lima belas menit, masih tersisa tiga puluh menit lagi sebelum kegiatan kembali dimulai. Mereka berempat memasuki pintu cafetaria. Aroma makanan menyambut mereka saat mereka sampai di ambang pintu.

“Jagung,” gumam Bom.

“Ya~! Bommie-ah, belum juga satu jam yang lalu kau memakan jagungmu,” kata Dara, “Sekarang masih ingin makan lagi?”

Bom menoleh pada Dara, “Park Bom dan jagung adalah dua sahabat baik yang tidak bisa dipisahkan,” jawab Bom.

“Sahabat yang selalu kau makan,” kata Chaerin.

“Ya~! Chaerin-ah,” protes Bom.

“Hahaha, eonni~ ayo cepat cari tempat duduk,” kata Minzy.

Minzy mendahului mereka bertiga berjalan ke tempat yang biasa mereka duduki.

Bommie eonni,” panggil Minzy. 

“Hmm?”

“Lihat siapa yang ada di sebelah sana,” kata Minzy sambil menunjuk sebuah meja yang berada di belakang Bom dengan dagunya. Minzy menopang dagunya dengan tangan kanannya. Sedikit memiringkan kepalanya ke kanan.

Bom menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Minzy, “Crap! Monster hijau ada di sini. Selera makanku jadi hilang,” gumam Bom sambil menolehkan kembali kepalanya.

Nuguyo?” tanya Dara.

“Choi Seunghyun a.k.a TOP, namja yang saat terakhir kali dia datang ke Cho café mendapatkan hadiah special dari Bom eonni,” jelas Chaerin.

Ya~! Chaerin-ah,” kata Bom.

Oh~! Jinjayo?” tanya Dara, “Apa yang Bom lakukan?”

“Menyiramkan frappe,” jawab Chaerin.

“Mengelap wajah,” jawab Minzy, “Dan menampar pipi,”

Omoo~! Bommie-ah, kau terlalu kejam,” kata Dara, “Hmm.. Monster hijau dan Ratu jagung! Kyaa~ cute couple!”

“Cute?” cibir Bom.

Ne,” jawab Dara.

“Ya~! Sandara Park! Tega sekali kau menjadikanku dengan monster hijau itu sebagai couple?!” kata Bom.

“Hehehee..,”

“Aku tau! Alien couple! Alien couple,” kata Minzy.

Alien couple?” tanya Chaerin.

Seunghyun sunbaenim selalu memiliki gaya rambut dan pakaian yang aneh. Lalu, Bom eonni memiliki selera makan jagung yang tidak biasa untuk manusia normal,” jelas Minzy.

Ya~! Magnae! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” protes Bom, “Awas kau!” kata Bom sambil mengulurkan tangannya, mencoba mencekik leher Minzy yang duduk berhadapan dengannya.

Minzy menarik tubuhnya dari meja.

“Kemari!” bentak Bom.

Aniya!” jawab Minzy.

Bom-ah, kita hanya punya satu magnae. Jangan kau bunuh dia,” kata Dara.

“Huft!” Bom menarik tangannya lalu duduk bersandar dengan melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku lapar,”

“Baiklah, aku akan mengambil makanan,” kata Minzy lalu beranjak dari tempat duduknya, “Sebagai permintaan maaf,”

“Jangan lupa jagungku!” teriak Bom.

Ne,”

Alien couple! Huh! Nama apa itu,” gumam Bom.

Bommie-ah, Chaerin-ah, aku akan ke toilet sebentar,” kata Dara lalu berdiri meninggalkan Chaerin dan Bom.

Chaerin dan Bom mengangguk.

**

Dara berjalan menuju melewati belokan di dekat toilet sekitar kafetaria. Langkahnya terhenti saat melihat dua orang sedang berdiri berhadapan tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang yeoja dan seorang namja.

“Bukan kah itu.. Jiyong?” gumam Dara.

Dara langsung bersembunyi di balik tembok saat menyadari dia telah menggumamkan pikirannya terlalu keras.

Oppa, nan.. jeongmal sarang hamnida,”

Dara menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Sarang?

Jiyong?

Dan..

Yeoja itu..

“Ya~! Park Sandara,”

Dara tersadar dari lamunannya saat mendengar suara itu.

Omoo~! Jiyong-ah,” kata Dara saat dia tersadar dari lamunannya. Jiyong tiba-tiba saja berada di depan Dara. Dara merasakan wajahnya mulai memanas. Rona merah mulai terlihat di wajahnya. Hanya tersisa beberapa millimeter saja jarak antara wajah Dara dan Jiyong. Dara bisa merasakan hembusan napas Jiyong di bibirnya.

Wae?” Jiyong memiringkan kepalanya.

Dara memundurkan kepalanya hingga menyentuh tembok. Mencoba memperlebar jarak yang ada antara Jiyong dan dirinya.

Sebuah senyum jahil muncul di wajah Jiyong, “Neol.. menguping?”

“MWOO? A.. aniyoo..,” kata Dara terbata-bata.

“Benarkah?” tanya Jiyong.

Ne!” jawab Dara sambil menganggukkan kepalanya.

Jiyong menarik wajahnya menjauh, “Hmm.. baiklah,”

Dara memalingkan wajahnya dari Jiyong.

Dara-ah,” panggil Jiyong.

Dara kembali menoleh ke arah Jiyong, “Wa.. wae?”

Jiyong kembali tersenyum, “Kkaja,” kata Jiyong lalu menarik tangan Dara. Dara mengikuti langkah Jiyong.

“Ya~! Ya~! kita mau pergi ke mana?” tanya Dara.

Jiyong tidak menjawab pertanyaan Dara dan malah menggenggam tangan Dara semakin erat.

**

Dara dan Jiyong berdiri di atas atap YG Building. Mengamati setiap gerak yang terlihat dari atas. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajah mereka. Langit cerah terbentang di angkasa, tanpa hiasan awan yang menggantung tinggi. Hanya langit biru dan matahari.

Dara menghembuskan napasnya lalu menyandarkan punggungnya ke pagar terpasang mengelilingi lantai atas YG Building.

“Jadi..,” Jiyong ikut menyandarkan punggungnya ke pagar, “Apakah kau akan menerimaku?”

Jiyong menolehkan kepalanya ke Dara.

Jiyong-ah,” Dara menoleh ke arahnya, “Aku.. tidak yakin,” Dara menundukkan kepalanya, memainkan jemarinya.

Wae?” tanya Jiyong.

“Aku hanya..,” Dara menghela napas lalu menolehkan kepalanya ke Jiyong, “Kau.. dikelilingi banyak yeoja cantik,” Dara tersenyum, “Kenapa harus menjadi kekasihku?” Dara menundukkan kepalanya.

Jiyong memperhatikan wajah Dara, mencoba membaca ekspresi wajahnya.

Dara-ah..,”

Dara kembali menoleh ke arah Jiyong, “Yeoja tadi.. dia cantik,” kata Dara, “Kenapa kau tidak menerimanya?”

Wae? Cemburu karena ada yeoja lain yang menyatakan cintanya padaku?” tanya Jiyong sambil terkekeh.

Mwo? Aniya,” jawab Dara.

Tak ada satupun di antara mereka berdua yang berbicara untuk beberapa saat. Hanya keheningan yang kembali menyelimuti mereka.

Dara-ah,”

Jiyong menghadapkan tubuhnya ke Dara. Berdiri di depan tubuh Dara. Menghalau angin yang menerpa tubuh kecil itu. Jiyong menyentuh pipi Dara lalu menatap kedua mata Dara dengan tajam.

“Hanya satu hari saja. Apakah kau tidak mau mencobanya?”

“Jiyong..,”

Jiyong membelai wajah Dara. Dara memejamkan kedua matanya saat kulit jemari Jiyong menyentuh kulitnya.

“Aku.. tidak siap.. untuk saat ini,”

Dara-ah,” Jiyong menggenggam wajah Dara dalam kedua tangannya lalu menempelkan keningnya dengan kening Dara.

Dara membuka matanya. Jiyong memejamkan matanya. Dara bisa melihat bulu-bulu mata Jiyong yang lentik, kulitnya yang halus, putih, yang tak pernah dia perhatikan sebelumnya. Bibir pink-nya..

Jiyong kembali membelai wajah Dara. Dara kembali menatap kedua mata Jiyong yang kini telah terbuka dan menatap lurus ke dalam kedua matanya. Dara bisa melihat dengan jelas bayangan dirinya dari balik kedua manik mata Jiyong. Cokelat. Cokelat yang menentramkan saat kau melihat ke dalamnya.

“Apakah tidak bisa?” tanya Jiyong.

“Jiyong.. wae? Waeyo? Kenapa aku?” tanya Dara lirih.

“Nan.. nega johayo,” kata Jiyong.

Setelah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jiyong, Dara merasakan waktu yang berputar disekitarnya. Namun anehnya, detak jantungnya mulai berdetak semakin cepat. Lebih cepat dari detak jantung yang kau rasakan setelah kau berlari jauh. Lebih cepat dari detak jantung tercepat yang pernah Dara rasakan.

“Ji.. Jiyong..,”

Jiyong menutup kedua kelopak matanya lalu mendekatkan wajahnya, memperkecil jarak yang ada di antara mereka. Perlahan, Dara ikut memejamkan kedua kelopak matanya. Dara bisa merasakan napas Jiyong yang kini menyentuh bibirnya. Waktu terasa berjalan begiituu lama. Soo slow. Like slow motion on the movie.Pelan. Dara menunggu Jiyong untuk menyapukan bibirnya ke bibir Dara. Slowly….

Jiyong hyung..”

 

to be continue ..


see you next time!

©2012Littlesun

Please read, like, and comments! 😀


Advertisements

30 thoughts on “My Lovely PRETTY BOY : 005

  1. Yah….siapa sih yang gangguin Jiyong ma Dara
    Daragon couple selalu sweet
    Alien n Ririn couple selalu kayak kucing dan anjing hehehe

  2. Wah~~
    Dari kemarin ngikutin ff ini ternyata tambah seru ~~
    Author yang paling kece, aku mau bilang sesuatu …
    ‘setau ku ‘ sebutan agashi itu cuma buat cewek, iya gak sih? Atau aku yang salah?
    Jujur dari kemarin waktu baca kalimat” yang ada kata ‘ agashi ‘ nya aku merasa agak ngak nyaman kalo itu ditunjukin buat cowok..

    Itu sekedar pengetahuan saya tentang bahasa korea, jadi kalo entis salah, entis mohon maaf yang sebesar” nya ..

    Semangat terus author!!!!!!!

  3. Waahhh Ririn couple udh kissing, hehe seungri nakal nih nah kalau Jiyong baru juga nempel udah Ada yang ganggu aja. Siapa ya Kiri Kira?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s