My Love, My Bodyguard #6

love-bodyguard

Author :: Yussie
Cast       :: Sandara Park, Kwon Jiyong, Lee Donghae, Lee Chaerin, Park Bom, and other cast

Happy reading ^^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di sebuah kamar apartemen mewah yang berada di kota Seoul, terlihat seorang namja sedang sibuk mengancingkan kemejanya. Sementara di tempat tidur, masih terlihat seorang yeoja yang tubuhnya hanya ditutupi oleh selimut. Yeoja itu masih mencoba untuk menggoda sang namja untuk kembali bercinta dengannya, namun tidak digubris oleh sang namja.

“Oppa, kemarilah, aku masih ingin merasakan kehangatanmu.” Ujar yeoja itu merayu dengan posisi tubuh yang dibuat semenggoda mungkin.

“Tidak Kiko, kurasa sudah cukup untuk semalam. Aku akan segera pergi ke kantor.” Ucap namja itu dingin.

“But honey, aku masih ingin bersamamu. Tinggallah sebentar lagi, please.” Mohonnya dengan aegyo yang dibuat-buat.

“Kita masih bisa bertemu malam nanti, okey. Jadi, kau jangan manja seperti itu. Kau kan tahu bahwa aku tidak suka dengan yeoja yang manja.” Balas namja tersebut masih dengan nada yang dingin.

“Oh ya, dan satu lagi, jangan lupa misi agar kau segera mendekati Kwon Jiyong dan menjebaknya seolah kau dan dia tidur bersama. Setelah itu, kita akan membuat namanya tercemar dan saat itulah kita jalankan rencana kita untuk membunuhnya dan membuat seolah-olah dia bunuh diri karena malu atas skandalnya.” Ujar namja itu dengan penuh dendam.

“Aku tidak sabar menunggu saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang Kwon Jiyong mati di hadapanku. Setelah itu dendamku sudah terbalaskan karena dia sudah berani mengambil milikku.” Namja itu berujar sambil mengepalkan tangannya penuh amarah.

“Honey, sudahlah sayang, sebentar lagi dendammu akan segera terbalaskan. Aku akan selalu berada di sisimu, mendukung semua rencanamu.” Ujar yeoja yang bernama Kiko itu sambil mengecup pipi namja yang duduk di sebelahnya.

Kantor G-Market

Terlihat seorang Sandara Park sedang sibuk menelepon seseorang dengan suara sekecil mungkin, seperti hanya sebuah bisikan. Entahlah mengapa dia melakukan hal tersebut padahal orang yang diteleponnya bukanlah orang yang harus disembunyikan.

“Yeoboseyo, Bommie.” Bisikku sambil menutup celah antara telepon genggam dan mulut dengan tanganku.

“Dara?” jawab suara di seberang sana.

“Ne, Bommie, ini aku.” Jawabku masih dengan suara berbisik.

“Yah, Dara! Mengapa kau berbisik seperti ini!” teriak Bom memekakkan telinga. Aku pun sedikit menjauhkan telepon genggamku karena telingaku jadi terasa sakit mendengar teriakan dari seorang Park Bom.

“Ssht, Bommie, bisakah kau tidak berteriak, telingaku sakit mendengar teriakanmu itu. Jika nanti aku harus masuk rumah sakit gara-gara telingaku sakit, kau harus membayar biaya pengobatannya.” Ujarku masih dengan suara bisikan, karena aku tidak mau jika sampai Jiyong mendengar percakapanku.

“Dara, kenapa kau harus berbisik-bisik, memang ada yang sedang menguping, dan yah, kenapa aku juga jadi berbisik sepertimu!” ucap Bom yang tanpa sadar ikut berbisik juga.

“Bommie, aisht, kupingku.” Ucapku sambil mengelus telinga.

“Bommie, dengarkan aku, aku ingin bertemu denganmu di restoran biasa, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Dan err, kurasa aku membutuhkan bantuanmu Bommie.” Aku berbicara sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Baik, akan kutemui kau di sana setelah jam pulang kerja. By the way, kau ingin membicarakan perihal apa? Apakah kau sekarang sedang dekat dengan seorang namja dan kau ingin meminta saranku? Kyah, akhirnya Dara-ku mendapat namjachingu.” Sorak seorang Park Bom di seberang sana.

“Bommieee, kau harus benar-benar membiayai pengobatanku di dokter spesialis THT!” teriakku kali ini karena Bom terus berteriak di telepon. Aku menutup mulutku ketika kulihat Jiyong keluar dari ruangannya dan raut wajahnya menyiratkan pertanyaan mengapa aku berteriak-teriak.

“Err, tidak ada apa-apa Ji, aku-err-aku hanya sedang bercanda bersama temanku saja, hehe.” Jelasku sambil tersenyum kikuk. Kulihat Jiyong hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke ruangannya kembali.

“Bommie, kutunggu kau nanti di restoran biasa, arra. Jangan sampai terlambat. Jika kau terlambat, maka semua tagihan makanan nanti, kau yang akan membayarnya, arra.” Ucapku sambil bersiap mematikan ponselku.

“Yah, Dara! Mana bisa begi..tut tut tut.” Ucapan Bom terputus karena aku langsung menyudahi teleponku agar Bom tidak bisa protes.

Hihi, aku tau jika Bom susah untuk datang tepat waktu karena dia harus berdandan full of make up jika ingin bepergian kemanapun. Ya, begitulah kebiasaannya sejak kami bersahabat di bangku kuliah dulu. Pernah suatu saat ketika aku sedang menginap di rumahnya, ketika kami hanya ingin membeli cemilan di toko dekat rumahnya, aku harus menunggu Bom berdandan selama 45 menit hanya untuk membeli cemilan yang hanya butuh waktu 10 menit untuk berbelanja. Kalian bisa bayangkan itu, perutku saat itu sudah sangat lapar menunggunya selesai berdandan. Ya, Bom memang tipe yeoja yang sangat suka dandan, dan alasan lainnya adalah dia selalu ingin terlihat cantik. Dia selalu mengatakan bahwa seorang yeoja harus selalu berusaha tampil cantik dimanapun dan kapanpun karena menurutnya, kita tidak tahu kapan kita akan bertemu seseorang yang mungkin merupakan jodoh kita, jadi Bom selalu ingin tampil cantik sebagai persiapan jika suatu hari nanti dia bertemu dengan jodohnya. Walaupun aku selalu meyakinkannya bahwa dia selalu terlihat cantik, baik dengan atau tanpa make up.

Jam pulang kantor sudah tiba, aku segera mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk segera pulang ketika kulihat Jiyong sudah berada di hadapanku dengan tersenyum manis, sangaat manis. Jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang karena pengaruh senyuman manisnya. Oh Tuhan, semoga aku bisa melihat senyumannya setiap saat, doaku dalam hati. Walaupun aku tidak tahu kenapa perasaan aneh ini muncul tiap aku berada di dekatnya. Semenjak kejadian aku bertemu dengan Donghae oppa, dan Jiyong dengan sabar berada di sampingku, pun ketika aku jatuh sakit, entah mengapa sekarang tiap aku berada di dekatnya jantungku terus berdetak kencang namun hatiku sangat merasa nyaman. Seperti aku sudah mengenalnya bertahun-tahun lamanya. Entahlah, apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Tapi, aku takut, sangat takut jika Jiyong tidak memiliki perasaan yang sama, dan itu artinya aku akan kembali patah hati.

Aku tersadar dari lamunanku ketika kulihat Jiyong memanggil namaku.

“Dara, apa kau akan pulang sekarang?” tanyanya masih dengan senyum yang sangat manis itu.

“Ne, aku akan pulang. Wae Ji?” tanyaku sambil berusaha menstabilkan debaran jantungku karena kini kami semakin dekat.

“Err, bolehkah aku mengantarmu sampai apartemenmu? Kebetulan aku mau lewat daerah sekitar apartemenmu.” Ucap Jiyong berbohong.

Mwo, apa aku tidak salah dengar? Jiyong ingin mengantarku! Kyaaah, apakah ini pertanda baik? Err, tapi aku sudah mempunyai janji dengan Bom. Yah, saat yang tidak tepat padahal aku ingin sekali bisa diantar oleh Jiyong.

“Em, mian Ji, aku sudah punya janji dengan temanku.” Tolakku dengan sangat terpaksa dan kecewa. Ya, aku harus tetap bertemu dengan Bom, aku ingin meminta bantuannya dan ini juga untuk keselamatan Jiyong. Kulihat raut wajah Jiyong berubah muram, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya karena penolakanku tadi.

“Oh, ok baiklah jika begitu. Kau hati-hati di jalan, ne.” ucap Jiyong sambil mengelus puncak kepalaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan kikuk.

Kyaaah, apa ini, benarkah ini sebuah pertanda baik? Ingin sekali rasanya aku melompat karena rasa bahagia yang membuncah di dadaku. Setelah itu aku dan Jiyong berjalan bersama menuju lift dan pintu keluar gedung. Kami baru berpisah sesampainya di parkiran. Aku menuju mobilku dan Jiyong menuju mobilnya. Kami saling melemparkan senyum manis satu sama lain.

Entahlah apa yang Jiyong rasakan terhadapku, namun perlakuan manisnya kepadaku membuatku berbunga-bunga dan menaruh harapan besar jika dia akan membalas perasaanku ini.

Aku mulai menjalankan mobilku menuju restoran tempat aku dan Bommie akan bertemu. Kulihat mobil Jiyong berada di belakangku. Senyum kecil terbentuk di bibirku. Kami berpisah setelah lampu merah, kulihat Jiyong berbelok sedangkan mobilku masih berjalan lurus. Ada perasaan seperti kehilangan mengetahui perjalanan kami sudah tidak searah lagi.

Segera kulaju mobilku, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bommie. Akhir-akhir ini kami berdua sedang sangat sibuk. Bom bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk sekali karena banyak deadline pekerjaan yang harus diselesaikannya. Sedangkan aku sibuk menemani Jiyong ke pertemuan-pertemuan dengan kliennya. Jiyong tidak ingin aku menjaganya di luar jam kerja. Oleh karena itu, aku hanya menjaganya ketika jam kerja dan tidak sampai menjaganya di rumah. Jiyong bilang dia bisa menjaga dirinya sendiri ketika di rumah.

Akhirnya aku sampai di restoran, dan seperti yang sudah kuduga, Bom belum datang. Yah, aku bukannya mengharapkan bahwa aku akan ditraktir Bom, itu hanyalah candaanku saja, aku tidak setega itu. Aku langsung mencari tempat duduk. Beberapa pelayan restoran yang sudah mengenalku menyapaku begitu kami berpapasan. Aku langsung memesan minuman sambil menunggu Bom datang. Setengah jam kemudian, akhirnya Bom tiba di restoran. Aku melambaikan tangan padanya dan segera setelah duduk, Bom memesan makanan dan minuman kesukaannya. Oh hey, bahkan aku belum memesan makanan karena menunggu kedatangannya, dan yeoja ini langsung saja memesan makanan kesukaannya begitu tiba di restoran, dasar Bommie, gumamku dalam hati.

Sambil menunggu pesanan makanan kami diantar, aku dan Bom mulai membuka pembicaraan.

“Jadi, Darong, bagaimana kabarmu? Sekarang kau sedang menjadi bodyguard siapa? Apakah kali ini dia mempunyai anak yang tampan juga?” ucap Bom membuka pembicaraan.

“Hem, itulah yang ingin aku bicarakan denganmu Bommie. Aku ingin meminta bantuanmu karena ini berkaitan dengan tugasku kali ini.” Jawabku.

“Mwo? Bantuan apa Darong? Mengapa kali ini kau meminta bantuan padaku? Biasanya tidak.” Bom menjawab dengan mata yang melihat ke arah pelayan yang sedang menuju meja kami membawakan pesanan. Tak lama kemudian, makanan sudah tersaji di meja. Setelah pelayan itu pergi, kami meneruskan pembicaraan sambil makan.

“Kau masih ingat dengan Dong Wook oppa kan Bommie?” tanyaku sambil menyuapi mulutku dengan makanan.

“Bwoh, uhuk-uhuk, kau bilang siapa tadi? Apa aku mendengar nama Lee Dong Wook disebut?” jawab Bom terbatuk-batuk karena tersedak ketika mendengar nama Dong Wook oppa. Aku pun langsung berdiri ke sisi Bom dan menepuk-nepuk punggungnya. Setelah Bom sudah tidak batuk lagi, aku pun kembali duduk. Dan sekarang, baik Bom maupun aku berhenti makan karena kami memutuskan untuk berbincang dulu.

“Yah, Darong! Apa maksudmu dengan membutuhkan bantuanku? Apakah ini berhubungan dengan Dong Wook oppa? Kau mau aku mati hah? Omo, Darong, apa kau menyukai Dong Wook oppa? Ingat Darong, dia sudah beristri!” cecar Bom tanpa henti.

“Aisht, dengarkan dulu penjelasanku Bommie.” Ucapku memotong perkataannya.

“Dengar, aku tidak menyukai Dong Wook oppa. Aku juga tidak berencana untuk merebut suami orang. Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk kembali dekat dengan Dong Wook oppa dan berusaha mengorek informasi dari Dong Wook oppa langsung.” Ucapku mulai menjelaskan padanya, namun terlihat jelas di wajah Bom bahwa dia belum mengerti maksud pembicaraanku.

“Maksudmu aku harus mendekati Dong Wook oppa? Aigoo, kau ingin sahabatmu yang cantik ini dicap sebagai wanita penggoda suami orang? Annio, aku tidak mau imageku berubah jelek, Darong.” Bom berkata cuek sambil melanjutkan makannya kali ini.

“Ayolah Bommie, aku sangat membutuhkan bantuanmu sekarang. Kumohon bantulah aku, neh.” Aku memasang aegyo sebisa mungkin agar Bom mau membantuku.

“Aisht, jangan tunjukkan aegyo dengan wajah lugumu itu Darong. Kau tahu bahwa aku tidak bisa melihat kau memohon seperti itu. Baiklah aku akan membantumu. Hanya kembali mendekati Dong Wook oppa kan untuk mencari informasi? Tidak lebih dari itu, karena namjachinguku bisa marah jika melihat yeojanya yang cantik ini bersama namja lain, apalagi pria itu sudah beristri.” Ujar Bom sambil memasang wajah cute saat menceritakan mengenai namjachingunya. Eh, tunggu dulu, namjachingu?

“Mwo, apa kau bilang tadi? Namjachingu? Kyaaah, Bommie, kau sudah mempunyai namjachingu lagi? Aigoo, kau jahat tidak menceritakannya padaku.” Aku mengerucutkan bibirku sebagai tanda protes.

“Bagaimana aku mau menceritakannya padamu jika kau dan aku sama-sama sibuk dan baru sekarang kita bisa bertemu. Dan yah, aku baru saja jadian dengannya, satu minggu lalu. Sudahlah, jangan cemberut neh, nanti namja yang mau mendekatimu jadi mengurungkan niatnya melihat kau cemberut.” Gurau Bom menggodaku. Akupun hanya tersenyum kecut mendengarnya.

“Aku akan menceritakan mengenai namjachinguku. Tapi sekarang ayo kita bahas dulu masalah Dong Wook oppa. Apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Informasi seperti apa yang harus bisa kuperoleh darinya?” Tanya Bom.

“Oke, aku akan menjelaskannya kepadamu. Klienku yang sekarang bernama Kwon Jiyong. Dia adalah direktur G-Market. Beberapa waktu yang lalu dia mendapatkan ancaman pembunuhan dari seseorang yang sampai sekarang masih kami selidiki. Klienku adalah mantan kekasih dari istri Dong Wook oppa.” Glek, aku merasakan sesuatu di hatiku terasa aneh ketika menyebutkan fakta tentang Jiyong yang merupakan mantan dari istri Dong Wook oppa.

“Beberapa hari yang lalu, Dong Wook oppa datang ke kantor dengan penuh kemarahan dan mengancam akan membunuh Jiyong jika masih saja mendekati istrinya. Anni, Jiyong sebenarnya tidak mendekatinya lagi, itu hanya pertemuan sebagai seorang teman saja, namun karena Dong Wook oppa sudah terbakar cemburu, maka dia tidak mendengarkan penjelasan Jiyong lagi.” Ujarku melanjutkan. Ya, itu pasti hanya pertemuan biasa antara teman, kuharap tidak lebih dari itu, gumamku dalam hati meyakinkan diri sendiri.

“Jadi, aku harus mendekati Dong Wook oppa agar aku bisa mencari informasi apakah dia yang mengirim ancaman pada Kwon Jiyong, begitu?” Bom menyimpulkan dengan sangat tepat dan pintar.

“Neh, Bommie. Aku mohon bantu aku, arra. Kau kan tahu bahwa dulu Dong Wook oppa pernah sangat tergila-gila mengejarmu. Dan kalian juga sempat dekat bukan? Jadi aku rasa tidak sulit untuk kau menghubunginya lagi. Bersikap seperti kau menawarkan sebuah pertemanan saja Bommie, tidak lebih.” Jelasku lagi.

“Ya, kami memang dulu sempat dekat, namun kau kan tahu bahwa aku hanya menganggapnya sebagai oppaku saja. Aisht, baiklah. Aku akan membantumu Darong. Tapi aku meminta imbalan padamu untuk bantuanku ini.” Ucap Bom sambil menaik-turunkan alisnya.

“Mwo? Kau mau minta apa sebagai imbalan? Tolong jangan yang terlalu mahal karena kurasa uangku tidak cukup jika barangnya terlalu mahal.” Jawabku lemah.

“Hahaha, tenang saja Darong. Aku tidak meminta dibelikan kebun jagung ataupun perhiasan mahal. Aku hanya minta kita dapat liburan di kampung halamanmu di Busan setelah tugasmu selesai, arra. Aku ingin liburan Darong. Aku stress dengan segala deadline pekerjaan yang ada. Lagipula, aku rindu masakan eomma-mu.” Jawab Bom dan itu melegakanku bahwa dia tidak meminta imbalan yang tidak mungkin kusanggupi.

“Arrasso, setelah pekerjaan ini selesai, aku akan minta cuti pada Chaerin agar kita berdua bisa berlibur di Busan. Aku juga sudah sangat merindukan eomma, Durami dan Sanghyun. Gomawo Bommie.” Ucapku sambil mendekati Bom dan memeluknya. Dia memang sahabatku yang sangat baik.

Setelah itu kami meneruskan makan sambil berbincang-bincang mengenai namjachingu Bom yang ternyata adalah seorang polisi di Seoul. Mereka bertemu saat tas Bom diambil paksa oleh seseorang dan ketika Bom sedang berlari mengejar pencuri tersebut, tiba-tiba namjachingunya tersebut datang dan ikut mengejar pencuri tersebut. Setelah dia berhasil menangkap pencuri tersebut, Bom yang beberapa menit kemudian sampai, langsung memukuli pencuri tersebut. Namun karena dihalangi oleh polisi yang sekarang menjadi namjachingunya, akhirnya malah polisi itu yang dipukuli Bom, menjadi sasaran kemarahan Bom. Kasihannya, aku bisa membayangkan bagaimana rasanya karena aku tahu Bom menjadi sangat seram jika sedang marah.

Namun dari kejadian itu, mereka tidak langsung jatuh cinta. Beberapa kali lagi takdir mempertemukan mereka di situasi yang berbeda-beda. Entah itu merupakan kebetulan atau memang merupakan takdir untuk mempersatukan mereka. Setelah sering secara kebetulan bertemu, akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua, dan hasilnya sekarang mereka sudah menjalin hubungan kasih. Woaah, aku sangat iri pada Bom yang sudah mempunyai namjachingu. Sedangkan aku? Masih tetap di sini dengan kesendirianku. Hikz, aku belum pernah mempunyai namjachingu sekalipun seumur hidupku, hanya hampir mempunyai namjachingu ketika aku bersama Donghae oppa, namun berakhir menyedihkan walaupun kini aku sudah tau kebenarannya. Bahwa sebenarnya Donghae oppa juga mencintaiku. Namun itu semua kini sudah terlambat dan tidak berarti lagi.

Aku harus menyalahkan bocah nakal yang mencuri ciuman pertamaku saat aku kecil dulu. Ya, gara-gara dia aku menjadi seorang yeoja yang takut apabila dekat dengan seorang namja. Aku takut apabila tiba-tiba namja yang mendekatiku menciumku seperti yang dilakukannya. Aisht, aku bahkan tidak tahu siapa nama bocah nakal itu sampai sekarang. Seperti apa rupanya sekarang, apakah dia menjadi namja yang tampan? Apakah dia sekarang sudah mempunyai yeojachingu atau bahkan mungkin dia sudah menikah? Aisht, pabo Dara, untuk apa kau kembali memikirkannya, bahkan mungkin dia sudah lupa jika waktu kecilnya dia pernah menciummu. Huwaa, aku hanya tidak rela karena itu merupakan ciuman pertamaku, dan sialnya aku tidak mengetahui apapun tentang dia, betapa menyedihkannya aku.

Ketika aku dan Bom sedang melanjutkan perbincangan kami, handphone Bom berdering dan dia segera mengangkatnya.

“Yeoboseyo, chagi-ah.” Sapa Bom dengan manja. Kurasa itu dari namjachingunya.

“Neh, aku sekarang sedang berada di restoran biasa. Neh, aku sedang bersama sahabatku, Dara. Sangat boleh chagi, kemarilah aku sangat merindukanmu. Kurasa hal itu tidak masalah. Cepatlah datang chagi. Neh, aku pasti akan menunggumu, jadi cepatlah datang, mmuaach.” Ucap Bom mengakhiri pembicaraannya dengan namjachingunya.

Baiklah, aku sangat iri pada Bom sekarang, kapan waktuku untuk mempunyai seorang namjachingu? Hikz, lagi-lagi aku meratapi kesendirianku.

Lima belas menit kemudian, akhirnya aku bisa bertemu dengan namjachingu Bom. Yah, pantas saja Bom sangat mencintainya, dia sangat tampan! Oh Tuhan, kumohon beri aku namjachingu yang tampan seperti namja di hadapanku ini, doaku dalam hati.

“Kau bilang bahwa tadi kau akan mengajak temanmu.” Sapa Bom sambil mencium pipi namjachingunya, daan itu membuatku bertambah iri!

“Neh, dia sedang ke toilet dulu tadi. Katanya dia ingin memperbaiki penampilannya karena tidak mau membuatku malu.” Balasnya sambil mengecup pipi Bom juga. Blush, pipiku memerah melihat adegan cium pipi ini, dan rasa iriku semakin bertambah dan bertambah melihat kemesraan yang mereka tunjukkan.

“Kenalkan, ini sahabat terbaikku, Sandara Park. Dara, ini adalah namjachingu terbaikku, Choi Seunghyun.” Ucap Bom memperkenalkan kami berdua. Kami pun saling bersalaman sebagai tanda perkenalan. Tak lama kemudian, kulihat dia melambai ke seorang namja yang sedang celingak-celinguk mencari keberadaan kami, kurasa itu temannya yang tadi dia katakan sedang ke toilet.

“Oi, Ji, disini.” Teriaknya sambil melambaikan tangan.

Beberapa saat kemudian, terlihat bayangan seseorang yang sudah berada di hadapan kami bertiga. Ya, aku sedang asyik memainkan handphoneku karena aku tidak mau terus-terusan merasa iri melihat kemesraan pasangan yang sedang dimabuk cinta di hadapanku ini.

“Perkenalkan ini Park Bom, yeojachinguku.” Ucap Seunghyun mulai memperkenalkan Bom kepada temannya. “Dan ini sahabatnya, Dara.” Lanjut Seunghyun mengarah padaku. Aku pun langsung mengalihkan tatapan dari handphone yang sedang aku mainkan demi menghormati salam perkenalan ini. Dan betapa kagetnya aku ketika mengetahui bahwa teman namjachingu Bom adalah Jiyong! Mulutku refleks terbuka akibat rasa kaget yang aku rasakan. Begitu juga dengan Jiyong yang reaksinya sama sepertiku.

Jiyong POV

Aku begitu kecewa begitu mendengar penolakan Dara untuk kuantar pulang ke apartemennya. Namun aku juga mengerti bahwa mungkin Dara memang ada janji lain dengan temannya. Argh, sekarang hatiku malah bertanya-tanya, apakah Dara bertemu dengan teman yeojanya atau malah mungkin dia seorang namja? Aisht, aku hanya bisa kesal dan mengacak rambutku saja sebagai pelampiasan.

Walaupun aku kecewa tak bisa mengantar Dara pulang, namun kami masih bisa berjalan bersama sampai ke parkiran mobil. Kami berpisah ketika di perempatan jalan, aku berbelok sedangkan mobil Dara berjalan lurus. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat Seunghyun hyung saja.

Setelah bertemu dengan Seunghyun hyung, dia mengajakku untuk menemui yeojachingu barunya. Ya, mereka baru seminggu ini menjalin kasih. Kami segera melajukan mobilku ke restoran tempat yeojachingunya sekarang berada. Ah, aku penasaran seperti apa rupa yeojachingu Seunghyun hyung. Tapi kurasa yeoja itu pasti cantik, karena aku tahu selera Seunghyun hyung.

Sesampainya di restoran, aku pamit ke toilet dulu untuk merapihkan penampilanku, karena tentu saja aku tidak mau mempermalukan Seunghyun hyung. Yah, walaupun sekarang penampilanku juga tidak ada yang salah, aku masih tetap terlihat tampan, namun aku tetap ingin mengeceknya saja.

Keluarnya dari toilet, tidak sengaja aku bertabrakan dengan seorang yeoja. Sepertinya yeoja itu bukan orang Korea asli, karena kulihat dia seperti orang Jepang kurasa. Aku pun segera meminta maaf karena telah menabraknya, dan dia pun juga membungkuk meminta maaf padaku karena telah menabrakku juga.

Dia pun mengajakku berkenalan, namanya Kiko Mizuhara. Yap, benar tebakanku bahwa dia orang Jepang. Setelah saling mengenalkan diri, aku pun segera beranjak pergi mencari dimana Seunghyun hyung duduk. Ah, itu dia Seunghyun hyung kulihat melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun segera berjalan menghampirinya. Aku pun langsung diperkenalkan kepada yeojachingunya, dan ternyata aku benar bahwa yeojachingunya sangat cantik, Seunghyun hyung memang pandai memilih yeoja. Oh, aku jadi iri padanya, sedangkan aku sekarang belum mempunyai yeojachingu lagi.

Lalu dia juga memperkenalkanku pada teman yeojachingunya. Kulihat yeoja itu sedang asyik bermain handphone di tangannya. Ketika dia sudah tidak berkutat dengan handphonenya dan menyambut perkenalan kami, aku pun dibuat terkejut karena ternyata dia adalah Dara. Ya, Sandara Park, bodyguard merangkap asistenku. Ekspresi kami berdua sama-sama terkejut dengan mulut yang seketika terbuka.

“Dara?” ucapku masih dengan wajah yang terkejut namun saat itu juga aku merasa jantungku melompat-lompat bahagia mengetahui bahwa aku bisa menghabiskan waktu bersama Dara lagi.

“Ji-Jiyong.” Ucapnya sama terkejutnya denganku.

“Oh, jadi kalian berdua sudah saling mengenal?” ucap Bom dan Seunghyun bersamaan.

“Neh.” Jawabku dan Dara sambil menganggukkan kepala kami.

Setelah dipersilahkan duduk, aku duduk di samping Dara. Tentu saja karena Seunghyun hyung ingin duduk di samping yeojachingunya. Kami berdua pun menjadi kikuk karena kondisi ini yang masih mengejutkan buat kami berdua.

Kulihat Seunghyun hyung dan Bom, yeojachingunya saling bermesraan tidak peduli bahwa masih ada kami di hadapan mereka. Aisht, mengapa mereka tidak memahami keadaan kami, malah mereka seperti hanya berdua di dunia ini dengan saling bermesraan tanpa melihat ada orang di sekitar mereka. Yah, mungkin begitulah jika orang sedang dimabuk cinta. Aku hanya bisa menghela nafasku. Akhirnya aku pun berusaha membuka percakapan dengan Dara.

“Jadi..” Aku dan Dara bicara bersamaan.

“Ladies first.” Ucapku sambil tersenyum padanya.

“Ah, neh Ji.” Balas Dara sambil tersenyum malu.

“I-ini sangat mengejutkan ya Ji, mengetahui bahwa ternyata teman kita ternyata berpacaran.” Ujarnya kemudian.

“Neh, aku juga sangat terkejut mengetahui bahwa kau adalah teman dari yeojachingunya Seunghyun hyung. Ternyata dunia ini sempit ya.” Jawabku sambil terus tersenyum. Entahlah, aku ingin terus tersenyum saat berada di dekatnya. Jantungku semakin berdegup kencang melihat dia membalas senyumku. Oh Tuhan, aku ingin waktu dihentikan untuk beberapa saat agar aku bisa lebih lama menatap senyuman manis di wajah cantiknya.

Lalu dia mulai bercerita ringan mengenai cerita tentang dirinya dan Bom, yang merupakan teman semasa kuliah. Aku hanya diam terpesona melihat wajah cantiknya. Dan kurasa dia mulai merasa nyaman berada dekat denganku karena dia sudah terlihat tidak canggung lagi. Aku pun sekarang senang sekali menggodanya karena aku senang ketika melihat wajahnya bersemu merah saat mendengar rayuanku.

Ketika sedang asyik berbincang, Seunghyun hyung menginterupsi kami dengan mengatakan bahwa dia dan Bom akan segera pulang. Dan karena tadi Bom naik taksi ke sini dan Seunghyun hyung ikut bersamaku, maka tidak ada di antara mereka yang membawa mobil sendiri, sehingga Seunghyun hyung memutuskan meminjam mobilku untuk mengantar Bom pulang.

Aigoo, bagaimana ini, masa aku pulang naik taksi. Aisht, aku paling tidak suka jika harus naik kendaraan umum, baik itu adalah taksi. Entahlah, aku merasa tidak bisa bebas jika naik kendaraan umum.

Lalu kudengar Dara menawarkan tumpangan, atau lebih tepatnya, dia menawarkanku untuk mengendarai mobilnya dan kami pulang bersama. Aigoo, jantungku berdetak semakin cepat dan tak beraturan mengetahui bahwa akhirnya aku bisa juga mengantar Dara pulang ke apartemennya.

Kami berempat pun segera keluar dari restoran menuju tempat parkir. Aku dan Dara menaiki mobil Dara. Sedangkan Bom dan Seunghyun hyung menaiki mobilku. Kami segera melajukan mobil kami dan berpisah di jalan karena berlainan arah.

Sepanjang perjalanan, kadang kulihat Dara masih merasa kikuk karena bingung mencari percakapan. Akhirnya aku yang mengambil alih untuk memulai percakapan. Kulontarkan lelucon-lelucon yang pernah kudengar. Dan kulihat dari bangku kemudi, Dara tertawa sambil tersenyum malu setiap mendengar leluconku. Dan ketika leluconku tidak lucu, dia akan memukul pelan lenganku memprotesnya. Oh, aku suka sekali dengan keadaan ini, aku ingin sekali kami bisa berdua seperti ini seterusnya.

Tak terasa sekarang kami sudah sampai di depan apartemen Dara. Aku mengantar Dara sampai ke pintu apartemennya. Dara menyuruhku untuk membawa mobilnya agar aku bisa pulang ke rumah. Walaupun aku sudah menolak, namun dia tetap bersikeras agar aku membawanya. Baiklah, kupikir ini bisa jadi kesempatan untukku juga. Jadi besok pagi aku bisa beralasan untuk menjemputnya agar kami bisa berangkat bersama, hehe.

Setelah memastikan bahwa dia sudah masuk ke kamar apartemennya, aku segera beranjak pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Memikirkan bahwa besok pagi kami bisa berduaan lagi. Aku pun tersenyum sendiri selama perjalanan pulang ke rumah. Ah, besok akan jadi hari yang indah.

Besoknya, aku benar-benar datang sangat pagi untuk menjemput Dara. Aku sangat excited sehingga semalam aku langsung tidur cepat, tidak sabar menunggu pagi datang. Setibanya di kantor, kami bertemu Seungri di lantai dasar gedung. Seungri yang melihat keakraban kami langsung mempunyai ide untuk berlibur minggu ini. Seungri akan mengajak kami ke resort tempat yeojachingunya bekerja, karena dia bilang, yeojachingunya ingin mengenal lebih dekat teman-teman Seungri. Kebetulan yeojachingunya adalah manager sekaligus putrid pemilik resort itu. Tentu saja kami berdua tidak menolaknya. Dara terlihat sangat antusias, begitupun denganku, tentu saja karena aku bisa berlibur bersama Dara.

Dara POV

Woaah, kami sudah sampai di resort tempat yeojachingu Seungri bekerja sekaligus merupakan pemilik tempat ini. Resort ini sangat indah, terutama karena langsung terlihat pantai dan laut di depan resort ini. Woaah, aku sangat suka sekali pantai, suka..suka..suka. Aku tersenyum seperti anak kecil yang diberi permen, terlihat sangat senang sekali.

Aku sudah bertemu dengan yeojachingu Seungri, dia sangat imut menurutku. Dan dia adalah yeoja yang sangat baik dan sopan. Namanya Gong Minzy, dan kurasa aku bisa cepat berteman akrab dengannya.

Siangnya, Minzy mengajak kami untuk makan di restoran resort. Aku dan Seungri sedang berada di kamar Jiyong menginap untuk segera mengajaknya turun ke restoran karena perut kami sudah sangat lapar. Aku, Jiyong dan Seungri memakai pakaian casual dan santai. Aku mengenakan t-shirt dan celana jeans panjang, sedangkan Jiyong dan Seungri mengenakan t-shirt dan celana pendek selutut.

Kami sedang bersiap-siap keluar kamar Jiyong begitu aku melakukan kecerobohan lagi. Kali ini kakiku tersandung karpet yang ada di kamar Jiyong sehingga aku jatuh menabrak Jiyong yang berada di depanku. Dan tanpa sengaja, aku berpegangan pada celana pendek Jiyong sehingga menyebabkan celana Jiyong melorot sampai terlihat celana dalam bermotifkan Spongebob.

Aigoo, seketika wajahku langsung memerah seperti kepiting rebus saat aku menyadari kecerobohanku yang sangat fatal ini. Baik aku maupun Jiyong hanya diam mematung, masih bingung dengan apa yang terjadi dan ketika kami tersadar, aku segera berteriak, kyaah, sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.

Di sisi lain, Seungri yang melihat kejadian ini juga sempat diam mematung sesaat, namun kemudian dia menyeringai dan mulai mengambil foto atas kejadian yang sangat langka ini. Jepret, jepret, beberapa kali kulihat kilatan flash dari handphone Seungri.

Jiyong yang melihat hal tersebut langsung berteriak memaki Seungri agar tidak mengambil gambarnya lagi. Namun Seungri hanya tersenyum jahil sambil berlari ke luar kamar dengan tawa yang membahana. Sedangkan aku masih berada di lantai dan kurasa tubuhku tidak bisa bergerak karena rasa malu yang sangat besar kurasakan.

Perlahan kulihat Jiyong mulai berdiri dan menaikkan lagi celana pendeknya. Dan kulihat dia sedang berdiri, menatapku yang tak kunjung bangun juga dari posisi jatuh tengkurapku. Aku malah semakin menenggelamkan wajahku di karpet. Tidak berani memandang wajah Jiyong saat ini. Eomma, eotokkhe, tangisku dalam hati.

-To be continue-

 

 

 

<< Back  Next >>

Advertisements

25 thoughts on “My Love, My Bodyguard #6

  1. Siapa namja jahat yg bersama the bit** itu ?
    Apa dia orang yg sama dg orang yg ingin membunuh jiyong ?
    dan itu si ***o sengaja nabrak jiyong kayak nya,
    Konflik akan segera dimulaii
    Jadi dara sama jiyong udah mulai sama2 suka ciee.ciee ^^
    Semoga ada sweet moment di liburan mereka

  2. wah2…..kiko mau maen licik lagi tuh. siapa tu yang nyuruh kiko buat ngancurin jiyong.?
    pwahahahhahahah…..supah thor pas bagian terakhirnya lucu pake banget……heheheheh
    pasti dara malu banget tuh…..kekekek

  3. hahaha kok si dara cerobohnya pas bgt ya wkwkwk. nggak kebayang gmn ekspresinya si jidong haha.. dan si seungri, knp jg pke di foto segala -_-
    yg jahat itu siapa si unn? Lee dong wok kah? pas adegan pertama itu kirain yg tidur dgn kiko itu gd >_<
    next ditunggu ^^

  4. Dilllaaaaa update pleaaaseee xD meskipun itu udah ada ikan megap aku ngarepin masih dikalahin sama daragon momeeeent… uwaaaa itu abis kejadian diakhir itu ntar si dara pasti tmbah dag dig dug duggun duggun tolong update yaaa thank you buat chapter ini xD

  5. Siapa sih yg mau ngehancurin ji…
    Dikira tdi yg pertama si ikan sma gd udh kaget aja eh untungnya bkn…
    Ya ampun dara kenapa cerobohnya memalukan bgt, entah gmna dara berani ngeliat muka jiyong lagi hahah…LMAO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s