Disguise [Chap. 9]

2

Author : Zhie

Main Cast : Park Sandara (2ne1), Kwon Jiyong (Bigbang)

Support Cast  : Park Bom (2ne1), Lee Joon (Mblaq) 

Genre : Drama, Hurt

Length : Chapter

Rating : PG-13

Bom Pov

Aku tak dapat mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ini benar-benar membuatku tak tenang, kembali kuamati secarik kertas memo yang diberikan Jiyong beberapa saat lalu.

Flashback

Aku cukup terkejut saat tiba-tiba Jiyong datang selarut ini, dan kini ia terlihat mengamatiku…

“Ya! Waeyo, Ji? Bukankah kita baru berpisah beberapa saat yang lalu? Apa kau sudah merindukanku?” tanyaku kemudian menggodanya.

“Anio.” jawabnya singkat, mengalihkan pandangan dariku…

Wae? batinku tak mengerti dengan sikapnya itu. Terlihat raut wajahnya yang tengah memikirkan sesuatu, “Jiyong. Katakan padaku, apa kau ada masalah?” tanyaku kemudian memegang bahunya lembut.

“Anio, hanya saja… kau- bukankah kau mengingat sesuatu?”

“Mwo?” Aku mengerutkan keningku.

“Ini.” Jiyong menyerahkan secarik kertas memo padaku, “Kau tidak seharusnya mengerjaiku, Dara.” tambahnya, tapi aku masih tak mengerti. Aku pun melihat kertas memo itu, dan…

Deg

Aku tersentak, aku merasakan tubuhku melemas seketika.

Saat ini, di tempat ini, di hari hujan ini…
Aku lagi-lagi merindukanmu, Ji. – Dee-

Ini tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin.

“Ya! Dara… kau baik-baik saja?” Jiyong menyadarkan aku.

“Ah, ne. Gwaenchana… ini-“

“Aku tidak sengaja menemukannya diantara ribuan kertas memo yang tertempel di cafe hari ini, walaupun itu sempat membuatku bingung… apalagi saat Minzy mengatakan kau sama sekali tidak meminta kertas ini padanya tapi setelah kupikirkan ini tetap saja tulisanmu. Iyakan?” tanyanya kemudian menatapku, membuatku hanya menelan ludah. “Cih. Kau berhasil membuatku terkejut… kau membuat kejutan luar biasa dengan ingatanmu yang sedikit demi sedikit mulai kembali. Waaahhh, hampir saja aku tertipu. Kau tahu? aku sempat mengejar seorang wanita gara-gara kertas yang kau tuliskan tanpa memberitahuku ini.”

Aku tertegun sesaat dengan setiap apa yang ia jelaskan, tapi kali ini aku berusaha keras mengendalikan raut wajahku… karena ini tidak mungkin, TIDAK MUNGKIN.

“Ah. A- aku ketahuan, tidak kuduga kau menemukannya secepatnya ini.” kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulutku, sementara ia pun kembali melihatku dalam dan mengacak-ngacak rambutku pelan.

“Kau benar-benar, Daraku. Kau selalu berhasil membuatku terkejut dan tidak bisa dipungkiri… aku selalu suka akan kejutanmu itu.”

Flashback End

Huft

Lagi-lagi aku menghela nafas panjang, berusaha kembali memikirkannya dengan logika dan kemungkinan-kemungkinan yang ada tapi…

Shit! Apa ini benar-benar dia? Apa dia yang menuliskannya? Berkali-kali aku mencoba menganggap ini hanya kebetulan tapi aku tak bisa mengelak.

Semakin cermat aku mengamati… semakin aku mengetahuinya dengan jelas.

Dengan kalimat yang tertulis singkat dan inisial nama yang selalu ia gunakan.

Itu benar-benar tulisan Dara.

“Dara-yah. Park Sandara… tidak mungkin kau kembali hidup, ‘kan?”

~~~

Pagi ini, di kediaman Lee Joon… Dara telah bangun dan membantu Kim Ahjumma untuk menyiapkan sarapan.

“Bagaimana tidurmu, Dara?” tanya Joon saat telah tiba di ruang makan, mengamati Dara yang dengan cekatan menaruh sarapan di piringnya.

“Lebih nyenyak di setiap harinya.”

“Benarkah?”

“Ne.”

“Tapi kau terlihat kurang tidur hari ini? Kau tidak bisa membohongiku.”

“Ah. Benarkah? He he… baiklah, baiklah… aku sebenarnya tidur cukup larut. Aku terlalu asik bermain dengan kuas dan kanvasku semalam.”

“Omo. Ternyata… ck ck, tapi kupikir itu lebih baik karena walaupun terlihat kurang tidur tapi aku merasa kau dapat lebih bersemangat.”

“Ne. Aku dapat meluapkan seluruh emosi dan perasaanku di sana. Itu membuatku lebih tenang. Ah… sudahlah, berhenti mencemaskanku, araesso?” ucap Dara kemudian membuat Joon akhirnya mengangguk mengerti.

“Araesso. Hanya saja katakan padaku… bila kuas dan kanvas tidak lagi dapat membantumu.”

“Ne. Aku telah baik-baik saja dan seiring berjalannya waktu aku akan menikmati diriku yang sekarang, menjadi Hye Min bukanlah sesuatu yang buruk.” jawab Dara kemudian, membuat Joon mulai berharap sesuatu yang ia tahu itu tak mungkin.

“Bukan sesuatu yang buruk? Baguslah… bila kau dapat menikmatinya sekarang. Kalau begitu… kajja, kita sarapan.”

“Ne.” Dara pun duduk di salah satu kursi meja makan di hadapannya.

Sesekali Joon menatap lekat Dara, menatap wajahnya yang begitu menenangkan baginya. Joon bersyukur… benar-benar bersyukur telah menemukannya, dan melihatnya kini membuat ia memiliki alasan kembali untuk merubah hidupnya.

~~~

Jiyong Pov

Memiliki mata kuliah pagi, membuatku harus berjuang untuk mengalahkan rasa kantuk yang mendera. Aku harusnya telah terbiasa tapi tetap saja itu membutuhkan waktu hingga mataku benar-benar terbuka, dan kini aku berjalan menuju jendela dan membukanya.

“Waaaahhhh… Hujan semalam membuat hari ini lebih dingin dari biasanya.” ucapku kembali menutup jendela itu.

Aku kembali merebahkan sejenak tubuhku di atas tempat tidur, dan kembali teringat apa yang telah terjadi semalam… “Argh. Itu benar-benar hampir membingungkanku.”

Aku hampir dibuat gila hanya dengan secarik kertas memo. Berpikir mungkin saja ada Dara Dara yang lain dan itu benar-benar membuatku tampak seperti orang bodoh.

Cih. Pabbo-ya. batinku merutuki kebodohanku, aku pun kembali bangun dari tidurku untuk segera membersihkan diri tapi mataku terhenti pada sebuah figura yang selalu setia mengisi meja di samping tempat tidurku.

Downloads

Seulas terukir senyum singkat di bibirku… gadisku, “Tetaplah selalu tersenyum seperti itu, Dara. Aku akan selalu di sampingmu, menemanimu… setia bersamamu dan hanya akan melihatmu, karena bagaimana pun aku akan selalu tahu jika itu dirimu. Aku pasti tahu.”

~~~

Hawa dingin pagi ini membuat Dara merapatkan kembali jaketnya, ia baru saja tiba di kampus beberapa saat yang lalu karena memiliki jadwal kuliah pagi… tapi sebelum ia menuju ruang kuliah, Dara mengarahkan langkah kakinya ke belakang fakultas. Menuju tempat rahasia untuk menyapa ‘anak-anak’-nya.

Sruk… sruk… sruk…

Dara memasuki tempat itu dengan merangkak seperti biasa.

“Ah. Surgaku.” gumamnya lirih saat berhasil masuk, dan sejenak menghirup udara yang ia rasa berbeda- di sana terasa lebih menyegarkan. “Annyeong. Aku membawakan sarapan untuk kalian pagi ini.” ucapnya kemudian saat telah tiba di mana ‘anak-anak’-nya telah berenang ke sana kemari. “Aigo. Kalian terlihat begitu bersemangat. Kajja… makanlah ini, makanlah yang banyak… agar kalian dapat tumbuh lebih besar dan kuat. Eomma, akan menunggu hingga kalian menghabiskannya. Araesso?” lanjutnya kemudian seraya menyebarkan makanan ikan yang ia bawa. Dara mengamati dengan setia ikan-ikan yang ada di hadapannya, tapi seperti sebelumnya… keceriaan yang selalu berusaha ia tampilkan seketika menghilang, saat kesunyian kembali melanda hatinya.

Dara Pov

Seminggu sudah aku menjalani hidup sebagai Jung Hye Min, dan sejauh ini tak ada yang banyak berubah… walaupun aku dapat dengan cepat menyesuaikan diri dan menjadi akrab dengan yang lain tapi tetap saja, aku masih tak bisa bersikap seperti biasa saat berhadapan dengan Jiyong… ditambah untuk bertemu dengan Bom, aku masih tak sanggup untuk dapat berdiri tegak.

Ottokhe?

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Dan ini tinggal beberapa minggu lagi, beberapa minggu sebelum pesta pertunangan itu di gelar…

Bommie-yah, ada apa sebenarnya denganmu hah? Haruskah kau melakukan itu? Tidak sadarkah itu benar-benar menyakitiku? Bahkan jika aku benar-benar matipun, apakah kau akan bahagia menempati posisiku?

Ingin rasanya aku mengatakan itu langsung padanya, mengatakan bahwa aku tidak dapat mengerti dengan apa yang telah dia lakukan. Ia terlihat baik-baik saja dan menikmatinya… lalu kini aku- pantaskah aku membencinya???

~~~

Drap… drap… drap…

Terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa, dan kini terhenti tepat di pintu sebuah ruangan yang telah tertutup.

“Ya! Apa alasan keterlambatanmu kali ini Kwon Jiyong?” tanya sebuah suara tajam yang menyambutnya, saat ia telah meyakinkan diri untuk masuk karena hari itu adalah hari dimana Mr. Kang Daesung mengadakan ujian tertulis.
Jiyong berusaha keras untuk mencari alasan yang tepat, tapi sebelum ia menjawab… seseorang lebih dulu menjawabnya.

“Maaf kami terlambat Mr. Kang.” Terlihat Dara telah berada tepat di belakangnya dan semua mata kini tertuju padanya, tak terkecuali Jiyong, “Hari ini… hari pertamaku menggunakan bus ke kampus, dan ternyata tanpa ku sadari aku menaiki bus yang salah jadi aku menghubungi Jiyong dan memintanya menjemputku karena aku tak cukup tahu arah… jadi sekali lagi maafkan kami.” lanjut Dara membungkukkan badan, sementara Jiyong kini mengerutkan keningnya- menatapnya tak mengerti… tapi karena Mr. Kang terus melihatnya penuh selidik ia pun melakukan hal sama, membungkukkan badannya untuk meminta maaf… berharap Mr. Kang akan luluh untuk kali ini saja.

“Baiklah, baiklah… kalian boleh masuk sekarang, tapi ingat… tidak ada waktu tambahan untuk kalian. Mengerti?” ucap Mr. Kang akhirnya, disusul anggukan cepat oleh Dara dan Jiyong.

Jiyong Pov

Ah. Aku cukup terkejut saat Hye Min tiba-tiba hadir, dan memberikan alasan itu dengan tenang. Ck ck… dia berakting dengan baik? Dan sepertinya aku harus berterimakasih padanya untuk hal ini.

“Ya! Hei… ya… ya… Jiyong Hyung…“ terdengar suara khas Seungri yang duduk di belakangku- memanggilku sepelan mungkin tapi cukup terdengar jelas bagiku.

“Wae?” Aku sebisa mungkin untuk tak menarik perhatian Mr. Kang.

“Ia menghubungimu? Kau bertukar nomor dengannya? Mengapa kau tak membaginya padaku, hah?”

“Ani. Itu semua alasan yang ia buat, jadi diamlah sekarang… atau Mr. Kang akan dengan senang hati menarik kita keluar.” jawabku sebelum akhirnya aku kembali fokus dengan lembar soal di hadapanku.

Tak lama kemudian ujian ini berakhir, sebuah keajaiban karena aku dapat menjawab seluruh soal dengan waktu yang terbatas… walaupun aku tak sepenuhnya yakin itu akan benar, paling tidak itu tak terlalu mengecewakan.

“Kau benar-benar hampir tak tertolong, Ji.” ucap Youngbae saat kami akan meninggalkan ruangan.

“Yah… beruntunglah seorang Jung Hye Min datang di saat yang tepat, Hyung.” tambah Seungri kemudian, dan aku tak memungkirinya. Sekilas aku melihat ke arah Hye Min.

“Ne. Aku harus mengucapkan terima kasih padanya nanti.” jawabku akhirnya, karena kini ia sekarang tengah asik berbincang akrab dengan beberapa anak perempuan. Aku tak ingin menganggunya, dan entah mengapa seperti terhipnotis… pandanganku tak bisa beralih darinya, cara ia berbicara, cara ia tersenyum, cara ia tertawa, lagi-lagi mengingatkanku pada seseorang.

“Ya! Apa yang kau lihat, hah? Jaga pandanganmu, Hyung. Dia adalah targetku.” ucap Seungri kemudian menyadarkanku, dan menarikku keluar ruangan.

“Omo. Apa yang kau pikirkan, eoh? Aku tak tertarik sedikit pun padanya. Pabbo.” balasku akhirnya melangkah mendahuluinya. Jung Hye Min. Siapa dirimu, hah? Sekali lagi batinku bertanya, karena saat diam-diam aku mengamatinya… aku benar-benar merasa ia tak asing. Tapi siapa? Bahkan bila aku bertanya ribuan kali pada bayanganku di cermin, ribuan kali juga lah aku dengan pasti tak akan mendapat jawaban.

~~~

Dara melihat Jiyong dan teman-temannya telah pergi meninggalkan kelas, ia menyadari Jiyong sempat memperhatikan dirinya… sebenarnya itu sudah sering ia rasakan, tapi ia berusaha keras untuk mengabaikannya.

“Hye Min-ah, kau tidak ingin pergi ke kantin? Kita masih ada kelas nanti… jadi tidakkah lebih baik kau mengisi perutmu terlebih dahulu?” tanya salah satu rekannya, Dara dengan tersenyum menggelengkan kepalanya.

“Ani. Mianhe… aku ingin pergi ke tempat lain, nanti kita kembali bertemu di kelas, ne.”

“Baiklah kalau begitu, kami pergi ne.” Dara pun mengangguk, membiarkan mereka meninggalkannya.

Kini Dara melangkahkan kakinya menuju fakultas kesenian yang tengah mengadakan pameran dari hasil—hasil karya yang telah mereka buat, Dara merasa berada di tempatnya sekarang… dengan lukisan-lukisan indah yang terpajang, ia merindukan bagaimana rasanya menggoreskan kuas di kanvas dan langkahnya kini kembali terhenti melihat lukisan musim semi yang indah, dengan bunga-bunga yang penuh warna dan menggambarkan kehangatan.

“Ingin tahu apa arti dari lukisan ini?” Sebuah suara tiba-tiba menyadarkannya, seseorang dengan postur yang tinggi dan rahangnya yang tegas membuat Dara bisa menebak siapa seseorang yang telah berada di sampingnya dan turut melihat lukisan yang ia lihat. Dara pun menyunggingkan senyumnya.

“Apa artinya?” tanyanya kemudian, ia ingin tahu apa jawaban Sunbae yang dulu selalu membantunya itu.

“Sebuah kehidupan yang datang setelah berlalunya musim dingin yang membekukan, tumbuhnya tanaman, mekarnya bunga, birunya langit dan hangatnya sinar matahari… bukankah itu sesuatu yang dinanti seiring dengan waktu yang terus berjalan tiada henti, walaupun itu pada akhirnya akan selalu berputar… tapi tetap saja, itu akan berakhir di tempat mereka semula berada, di tempat mereka semula hidup, dan di tempat mereka semula tumbuh. Di tempat di mana musim yang indah penuh kehangatan akan selalu dinantikan… itulah artinya.”

“Ah. Benarkah seperti itu? Akan kembali ke tempat mereka semula berada. Itu bagus.” gumam Dara saat menyadari ia berharap kalimat itu akan berlaku pada kehidupannya. “Gomawo, Top Oppa.” lanjutnya kemudian.

“Mwo? Kau mengenalku?” tanyanya kini menatap lekat Dara, Dara pun tersentak… ia tak sadar saat mengucapkannya.

“Ah. Itu-“

“Top Hyung, kami ada masalah… kami memerlukanmu, warnanya tak dapat tercampur dengan baik.” Salah satu adik tingkat menghampirinya dengan panik, Top pun dengan segera menghampirinya setelah lebih dulu berpamitan singkat pada Dara.

“Ah. Mian, aku harus pergi.”

“Ne. Gwaenchana.” jawab Dara cepat, dan melepaskan kepergiannya dengan lega. Aku harus lebih hati-hati setelah ini. batinnya mengingatkan.

Dara kembali meneruskan langkahnya, melihat-lihat… melihat-lihat… dan melihat-lihat. Ia telah masuk ke dalam dunianya, mengamati lukisan adalah hal yang paling tak membosankan baginya. Ia dapat berdiam diri lebih dari setengah jam hanya untuk mengamati lukisan yang ia suka, dan jika itu terjadi… maka biasanya Jiyonglah yang akan menyadarkan dan menariknya untuk menyudahi kegiatannya itu. Jiyong memang tidak terlalu paham tentang seni tapi ia juga tidak pernah mengeluh bila harus mendampingi Dara akan hobinya itu, karena diam-diam… di saat seperti itulah Jiyong dapat kesempatan yang bagus untuk mengamati dengan jelas seluruh ekspresi Dara dan bagaimana sinar mata Dara yang terpancar indah saat melihat sesuatu yang ia kagumi atau sukai.

“Indah.” guman Dara terpaku dengan sebuah lukisan, Dara tak bergeming saat pandangannya terkunci dengan lukisan itu. Ia terdiam- tenang- dan masuk ke dalam dunianya.

Indah.’
‘Apanya?’ tanya Jiyong datar.
‘Kau tidak melihatnya? Ini indah, Ji.’ seru Dara dengan mata berbinar.
‘Araesso. Kau lah yang indah.” celetuk Jiyong mampu mengalihkan perhatian Dara.
‘Mwo?’ terlihat cengiran Jiyong yang ternyata sedari tadi tengah menatapnya.
‘Kau yang terindah… bagiku.’ lanjutnya, membuat Dara beberapa kali mengedipkan matanya hingga akhirnya ia tersadar.
‘Cih. Rayuan murahan.’ sungut Dara berbalik pergi, walaupun saat itu terlihat dengan jelas rona merah dipipinya.

“Indah?”

“Ne.

“Apanya?”

“Kau tidak melihatnya? Ini indah, Ji.”

“Benarkah?”

“Ne.”

“Ah. Tapi-“… “Tapi aku berpikir kau lebih indah.”

“Cih. Berhentilah terus mengucapkan-”

Deg

Seketika Dara tersentak, dan melihat siapa yang berada di sampingnya sekarang. Dara tersadar… ia telah terlalu dalam masuk ke dalam dunianya dan kini sosok itu tengah menatap tepat dimanik matanya. Sosok itu menyipitkan mata- menatapnya penuh dengan beribu pertanyaan.

“Kau-“

“…”

“Siapa? Siapa sebenarnya dirimu, hah?” lanjut sosok itu dengan suara bergetar.

Deg

Dara tercekat. Jiyong.

 

-to be continued-

Waaahhh… curcol neh >>> sedikit kecewa tiap liat view yang mpe ratusan tapi yang mau ninggalin jejak hanya beberapa.

12471541_1099023813450215_3675489182628896353_o

Bukannya apa-apa… hargailah para author yang udah bersedia publish ffx di Blog tercinta kita ini. Beribu2 kata yang para author rangkai… aku rasa harusnya gak masalah bila kalian yang ngerasa baca ff mereka ninggalin beberapa patah kata (gak harus balas dengan beribu2 kata juga), paling nggak tulis sedikit aja tanggapan tentang cerita yang mereka buat entah itu saran atau masukan agar bisa membuat mereka lebih baik ke depannya (bukan menyinggung loh ya???). Karena mereka dah luangkan waktu buat bikin ff dan saya pun jujur sekarang dah berusaha luangin waktu untuk selalu buka email dan post-in ff yang masuk… sementara kalian, aku tahu… kalian juga luangin waktu untuk baca, tapi sayangnya gak ada jejaknya. Memang hak kalianlah mau comment apa nggak, maka tidak salah kalo saya maupun author lain berkata hak kamilah untuk segera melanjutkan atau tidak. Itu aja. Mianhe, law ada kata-kata yang tak berkenan ini murni dari saya pribadi… karena rada nyesek liat commentan yang tidak sebanding dengan jumlah pengunjung.

So, gak bosen2 ingetin untuk selalu tinggalkan jejak ya. Hengsho. ^.^/

<<Back  Next>>

Advertisements

38 thoughts on “Disguise [Chap. 9]

  1. Ketinggalan banget akuuu~~
    Huuuaaaa deg deg deg, pas di tanya ‘siapa kamu sebenernya’ langsung kaget, lah tapi malah tbc wkwkwk :v
    penasaran penasaran~~ lanjuut~

  2. mungkin aku telah membaca part ini dan mungkin aku belum membaca part ini. entahlah tapi aku merasa pernah membaca part ini. abaikan.
    omona dara ketahuan!!! pertama top oppa sekarang jiyong oppa. wahhh semoga cepet terselesaikan ne^^
    next chap ^^

  3. ya ampun ketinggalan banget aku ff ini. udah lama gak liat DGI.
    Bomnya jahat banget, Dara pantas kok buat benci Bom.
    saudara harusnya gak melakukan hal keji kaya gitu.
    eeeeeh ada Jiyooooooong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s