MEA CULPA [Chap. 12]

Author : Aitsil96

Dia… kekasihku.

Dua kata laknat itu terus berdenging nyaring secara berulang di benak pria tersebut. Membuat kepalanya serasa ingin meledak di detik itu juga. Ji Yong mengacak surai hijaunya dengan frustasi, menghabiskan minuman kaleng dalam genggaman dengan satu kali tegukan.

Minuman tersebut baru saja dibelinya dari minimarket yang tepat berada di belakangnya. Ia saat ini tengah duduk di meja depan minimarket tersebut, terlihat bagai orang hilang tanpa tujuan. Dengan kesal, tangannya meremas kaleng kosong tersebut hingga tidak berbentuk.

Sialan!

Mengapa hatinya masih saja memanas ketika mengingat ucapan gadis tersebut? Jadi… selama ini ia telah memiliki kekasih? Lalu apa arti ciumannya waktu itu? Bukankah Sandara juga menerima perlakuannya? Ck, berhenti bertindak bagai pria bodoh, Kwon Ji Yong! Gadis itu mungkin hanya terbuai sesaat.

Konyolnya, seorang Kwon Ji Yong yang biasanya terlihat angkuh kini bagai pria dungu yang patah hati setelah dicampakkan. Mengapa ia harus merasa dipermainkan oleh Sandara? Perasaan ini bahkan baru pertama kali dirasakannya. Perasaan sialan yang benar-benar membuatnya kacau setengah mati, menyiksanya hingga ke dasar.

Bayangan itu berkelebat dalam benaknya. Bayangan tentang Sandara yang hanya bisa terpaku sesaat setelah Ji Yong menanyakan siapa yang menghubunginya sepagi itu. Gadis itu bahkan tak mencegahnya atau sekadar bertanya ketika Ji Yong lebih memilih untuk segera berganti baju dan berjalan keluar apartemen seraya membawa kunci mobilnya.

Tanpa berkata apapun, pria itu pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, satu kalimat tanpa pikir panjang dilontarkannya. Walau cukup lemah, namun dapat ia pastikan Sandara yang masih terdiam di ranjangnya mendengar perkataan yang diucapkannya di ambang pintu kamar.

Lebih baik kau segera pergi jika telah menghubungi kekasihmu.

*****

“Bukankah sudah ku bilang kau akan berakhir dengan tinggal di apartemenku?”

“Aku hanya menginap, Lee. Aku akan pergi setelah Bom pulang.”

Dong Hae menghela napas dan melirik gadis di belakangnya dengan tatapan malas. “Ini kamarmu.”

Langkah Sandara perlahan masuk ke dalam kamar bernuansa abu tersebut. Maniknya memutar, meneliti detail kamar yang tak cukup besar namun terlihat nyaman itu. Ini adalah salah satu ruangan di apartemen Dong Hae. Berisi satu ranjang kecil di sudut serta meja belajar dan lemari di sisi lainnya. Cukup berdebu di sini karena memang kamar ini hanya digunakan saat ada tamu yang menginap, dan sepertinya sangat jarang tamu datang ke apartemen pria tersebut.

“Kau mungkin harus membereskan kamar ini terlebih dulu karena sedikit berantakan dan kotor.”

“Tidak apa, Lee. Ini sudah cukup bagiku.”

Sandara menatap Dong Hae seraya tersenyum, membuat pria itu mau tak mau membalas senyuman hangat dari gadisnya. Tungkai mungilnya beranjak menuju sisi jendela, membukanya perlahan, membiarkan udara masuk hingga semilir angin sore perlahan mulai menerpa wajah serta surai kemerahannya.

“Semalam kau menginap dimana?”

Deg!

Kepala Sandara bergerak cepat, mendapati Dong Hae yang tengah memperhatikannya seraya terduduk di tepi ranjang. Manik mereka bertemu pandang dalam sekilas, sebelum Sandara memalingkan wajahnya untuk lebih memperhatikan bagian belakang apartemen Dong Hae.

“Di… rumah temanku,” ucapnya tersendat penuh dusta.

Kau berani berbohong, huh?

“Siapa?”

Manik hazel itu memutar cepat kembali, mencari sebuah jawaban asal namun tampak realistis. “Teman sekelasku. Kau tidak akan tahu.”

Dong Hae mengangguk. “Wanita?”

Jantung gadis itu berdetak tak karuan. Bagaimana bisa ia berbohong sejauh ini pada kekasihnya demi pria asing yang sialannya akhir-akhir ini bahkan telah mengganggu sistem syaraf otaknya?

“Menurutmu?” Gadis itu bertanya balik. Satu-satunya pertahanan yang mampu ia berikan di keadaan genting seperti ini.

“Ku pikir ya. Bagaimana mungkin dirimu menginap di rumah pria lain, bukan?”

Senyuman lagi-lagi mucul di bibir cheri itu, namun kali ini tampak berbeda. Canggung dan… tanpa ketulusan? Ya. Sandara memang tengah menutupi kegugupannya mati-matian di hadapan Dong Hae. Ia berbohong pada kekasihnya, entah untuk alasan apa. Haruskah ia menutupi hubungannya dengan Ji Yong?

Astaga, bahkan hubungan tak waras macam apa memangnya yang terjadi antara dirinya dan pria sialan itu?

“Maafkan aku yang tidak bisa dihubungi. Semalam eomma menyuruhku menginap di Busan. Aku lupa membawa charger hingga ponselku mati selama di sana.”

Gwaenchanna, Lee,” jawab gadis itu setelah beberapa saat mengendalikan dirinya.

“Dara-ya?”

“Hm?”

“Kau… yakin tidak akan pulang ke rumahmu lagi?”

Sandara mendesah dan menyenderkan kepalanya ke sisi jendela. Sadar akan hal menyebalkan ini yang dihindari, namun mau tak mau akan menjadi topik pembicaraan di antara mereka. Dong Hae sudah tahu tentang keadaan gadisnya. Tanpa harus dijelaskan lebih rinci, Dong Hae sudah hafal betul akan alasan kepergian gadisnya dari rumah.

Luka yang mengering di sudut bibir itu juga menjadi alasan Dong Hae tak ingin bertanya lebih jauh. Satu-satunya alasan yang terpikir adalah tentang Han Hye Mi. Ibu kandung kekasihnya. Keadaan Sandara saat ini benar-benar membuat hatinya serasa diremas secara perlahan. Bodoh! Ia gadismu dan kau sama sekali tak bisa melindunginya, Lee Dong Hae?

“Bisakah kita tak membahas hal ini? Memikirkan rumah hanya akan membuatku teringat pada wanita itu.”

“Bagaimanapun juga ia ibumu.”

“Jangan mulai, Lee.”

“Bukankah memang begitu kenyataannya? Aku tahu aku mungkin tak bisa merasakan bagaimana rasanya jika aku berada di posisimu, namun tetap saja kau setidaknya harus menghormatinya.”

Sandara mendelik lalu tertawa mengejek dengan nada sumbang. “Menghormatinya? Menghormati wanita jalang sepertinya? Lupakan!”

Dong Hae mendesah. “Ia ibu kandungmu, Dara-ya.”

“Berhenti berbicara omong kosong di hadapanku, Tuan Lee!”

Sandara hampir memaki jika tak mengingat pria di hadapannya ini adalah kekasihnya. Suaranya bahkan telah meninggi dengan getar tak biasa di ujung kalimatnya. Emosi benar-benar telah menyelimutinya. Tak bisakah pria itu mengerti akan posisinya selama ini? Mau dijelaskan bagaimanapun, ia tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah mau peduli dengan Hye Mi.

Kini kesabaran gadis itu di ambang batas. Setelah bertahun-tahun hidup dengannya, wanita itu tak kunjung berubah. Ya. Hanya itu harapannya. Secercah hati kecilnya berharap bahwa suatu saat ibunya dapat menjadi wanita yang dikenalnya dulu. Wanita berhati lembut yang menyayanginya. Namun kelakuannya sudah benar-benar membuat Sandara muak. Hye Mi sama sekali tidak berubah, malah tiap harinya makin menjadi-jadi dan membuat Sandara tambah merasa jijik dan benci terhadapnya.

Lalu… apa yang bisa diharapkannya setelah ini? Jawabannya tidak ada. Wanita itu sama sekali tak mampu menjadi tempat sandaran bagi pengharapan terakhirnya.

“Tinggalah bersamaku.”

Mwo?!” Sandara menoleh cepat dengan mulut yang terperangah.

“Tinggalah di sini. Bersamaku.”

“Lee, aku…”

“Tak ada bantahan, Dara-ya. Jika kau tak ingin lagi tinggal bersama ibumu, maka besok aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya.”

“Kau gila?! Untuk apa?”

“Aku akan meminta izin pada ibumu agar kau bisa tinggal bersamaku.”

Manik hazel itu membelalak. “Lee!”

“Hanya dengan cara ini aku bisa melindungimu,” ucap Dong Hae dengan tegas. Pria itu beranjak dan kini melangkah menghampiri gadisnya hingga mereka berdiri berhadapan. “Sudah cukup selama ini kau selalu membantahku dengan tingkah keras kepalamu itu, Dara-ya. Kini biarkanlah aku bersikap selayaknya priamu.”

Mata mereka bertemu, berusaha menggali dan memahami pikiran satu sama lain tanpa berucap lebih jauh. Terutama manik hazel itu yang tengah menatap penuh pada prianya, mencari sebuah jawaban demi meredakan kegamangan di hatinya. Satu hal yang terpancar di manik meneduhkan milik Dong Hae membuat Sandara tertegun cukup lama. Tanpa sanggup ia sangkal, ketulusan terpancar di sana.

Sebuah ketulusan yang seakan mampu meluluhkannya tanpa harus berpikir panjang.

Satu tangan pria itu terulur untuk mengusap pucuk kepala gadisnya seraya menerbitkan lengkungan tulus di sudut bibirnya. “Mandi dan gantilah bajumu lalu istirahat.”

*****

Kajja.”

Aku masih mematung di tempat. Sama sekali tak ingin bergerak walau Dong Hae telah menarikku beberapa kali.

“Kau akan tetap berdiam diri di sana?”

Aku mendongak, mendapati manik meneduhkan itu yang kini tengah menatapku setengah kesal. Dong Hae menghela napas gusar lalu kedua tangannya meraih bahuku.

“Pilihanmu hanya dua. Tinggal bersama ibumu atau ikut bersamaku.”

“Tak adakah pilihan lain yang lebih sinting?” tanyaku asal.

Dong Hae tersenyum lalu menggeleng. “Kau percaya padaku?”

Dengan lugunya aku mengangguk. Entah sudah berapa kali pria itu menanyakan hal yang sama semenjak tadi pagi. Tanpa membuang waktu lagi, Dong Hae meraih tanganku dan menarikku ke arah gerbang pintu depan rumahku. Aku masih menunduk, sejujurnya aku benci menginjakkan kaki di tempat ini lagi, namun tak ada pilihan lain. Dong Hae seakan tengah menjebakku dengan dua pilihan konyolnya yang dengan terpaksa membuatku memilih dirinya.

“Tunggu.”

Dong Hae menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu depan, menolehkan kepalanya melewati bahu untuk menatapku.

“Biar aku saja yang masuk.”

Kening pria itu berkerut samar. “Kau… yakin?”

Aku kembali mengangguk meski awalnya cukup ragu. Setidaknya aku harus mempunyai keberanian untuk menyelesaikan semua ini sendiri. Dong Hae tidak terlibat di dalamnya, jadi untuk apa ia melibatkan diri demi meminta izin untuk membawaku tinggal bersamanya?

“Aku akan membawa barang-barangku dengan cepat lalu pergi. Kau tunggu saja di mobil.”

“Dara-ya, aku ingin…”

“Meminta izin darinya?” Aku mendengus. “Astaga, bukankah ini terlalu konyol? Jalang itu bahkan tak pernah meminta izin padaku ketika memasukkan sembarang pria untuk ia cicipi di rumah.”

“Sandara!”

Dong Hae menggeram dan melayangkan tatapan tak sukanya padaku. Ia memang telah memperingatiku untuk berhenti berucap kasar ketika membicarakan wanita itu. Ya Tuhan, anggaplah aku memang anak durhaka. Akhirnya aku hanya bisa mendesah panjang seraya menatap Dong Hae penuh rasa salah. Aku memberikan isyarat padanya bahwa aku bisa melakukannya sendiri dan ia dengan wajah kusutnya hanya bisa mengangguk pasrah.

Tak ada gunanya menentangku yang tengah bersikukuh. Dong Hae amat hafal betul dengan sikap keras kepalaku.

Keheningan menyeruak menyambut kehadiranku kembali di tempat itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman hanya mampu menyisakan rasa sesak di dadaku. Mataku mengedar, namun batang hidung wanita itu sama sekali tak terlihat. Dengan atau tanpa berpamitan padanya, tujuanku datang adalah karena ingin mengambil barang-barangku untuk saat ini.

“Dara-ya?”

Deg!

Aku menghentikan langkah saat hampir mencapai pintu kamar. Suara itu. Suara yang amat familiar sekaligus aku benci setengah mati untuk masuk melewati indera pendengaranku.

“Kau… pulang?”

“Aku datang untuk mengambil sedikit barangku.”

Nada suaraku terdengar dingin. Sebisa mungkin menyamarkan gemetar tak biasa akibat perasaan sialan yang tiba-tiba membuncah. Mendapati kehadiran wanita itu di sekitarku hanya membuat emosiku akan segera melambung ke puncak. Tanpa mempedulikannya, aku berjalan ke arah kamar dan segera mengemas barang-barang yang ku perlukan ke dalam tas ransel.

“Kau akan kemana?”

Wanita itu sama sekali tak menyerah untuk terus melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak ingin ku jawab. Aku mendengus lalu menyelesaikan mengepak barangku dengan cepat untuk segera berlalu dari hadapannya. Sialannya, tangan itu menahanku. Tangan kotor yang membuatku bergidik ngeri saat mendapati kenyataan bahwa aku juga mungkin tak jauh berbeda dengannya.

Bagaimanapun juga dalam tubuhku juga mengalir darahnya, bukan?

“Aku akan tinggal bersama Dong Hae.”

“Dong Hae?! Andwae! Kau tak bisa tinggal bersama dengannya!”

Aku cukup kaget akan reaksi berlebihan itu dan sempat mengedarkan manikku ke sembarang arah akibat terlalu bingung. Mungkinkah ia sama sekali tak ingin aku untuk meninggalkan rumah? Jadi kini ia tengah menahanku? Oh, dramatis sekali.

Wae? Kau bisa memasukkan sembarang pria setiap malamnya sementara aku tak bisa tinggal bersama kekasihku sendiri?” tanyaku yang masih memunggunginya.

“Tidak!” Hye Mi histeris. “Belum cukupkah selama ini aku telah mengizinkan kalian bersama? Lalu kau juga sekarang ingin tinggal dengannya? Tidak, Dara-ya! Ku mohon, kali ini dengarkanlah aku.”

Alisku tertaut mendengar ucapan itu. Ucapan dengan nada keputusasaan yang amat kentara. Apa yang salah dengan Dong Hae?

“Siapapun itu, asal jangan tinggal bersamanya!”

“Dia… kekasihku.” Bingung adalah hal ku rasakan amat kentara untuk saat ini hingga membuatku cukup sulit menjawab.

“Jika saja ia bukan teman masa kecilmu, aku bahkan tak sudi kau mengenalnya.”

Deg!

Desisan yang terlontar itu membuatku tergugu untuk sesaat. Apa… maksud ucapannya? Bukankah Dong Hae pria yang baik? Dulu bahkan ia sering memasak dan manjamunya dengan baik saat aku membawanya ke rumah. Memperlakukannya dengan ramah, layaknya seorang ibu yang menyambut teman anaknya. Ya, namun itu dulu. Jauh sebelum wanita yang seharusnya aku hormati ini berubah layaknya jalang seperti sekarang.

“Lepaskan!”

Kepalaku sudah terlalu pening dan tak ingin mengacuhkan wanita itu terlalu jauh, namun tangannya malah mencengkeramku semakin kuat saat aku hampir menghempaskannya. Aku mendengus dan berbalik padanya. Mendapati penampilannya yang masih mengenakan gaun tidur tipis yang bahunya telah tersibak. Astaga, benar-benar menjijikkan!

“Hari ini… bisnismu lancar, huh?”

Mata itu membelalak. Sadar akan maksud pertanyaanku dengan tekanan pada setiap katanya.

“Tampankah ia? Berapa usianya? Tentu saja ia masih sangat muda, bukan? Kau memang selalu pintar untuk memilih ‘partner’.”

Wanita itu masih tetap bergeming dengan tampang tak terkendalinya. Aku sengaja ingin membuatnya terbungkam. Aku benci mendengarnya menceracau dan melantur tak jelas seperti ini. Mungkinkah ia tengah berada di bawah pengaruh alkohol?

Cengkeraman yang melonggar akibat kekagetannya membuatku berhasil melepaskan diri. Langkahku segera melebar untuk segera menyelesaikan tujuanku dengan kembali menyeret diriku lagi ke tempat hina ini. Namun belum sempat mencapai pintu keluar, sebuah suara mengalihkan perhatianku dari arah dapur. Suara orang terbatuk dengan dentingan beberapa barang.

Objek yang saat ini ku dapati hanya mampu membuat manikku terbelalak. Waktu seakan berhenti dengan otakku yang serasa lumpuh. Mungkinkah penglihatanku tengah terganggu? Mengapa bahkan… kini aku melihat wujud pria itu di sana? Pria yang sedari pagi mengganggu sistem syaraf dan kinerja otakku akibat terlalu sering memikirkannya. Surai hijau itu… apa yang tengah ia lakukan di sana?

Mata kami bersitemu dengan manik kelamnya yang juga tengah menatap lurus ke arahku. Pria itu mematung di tempatnya dengan gelas berisikan air putih yang baru dituangnya dalam genggaman. Bisakah aku membenci kenyataan? Bisakah aku menyalahkan takdir Tuhan yang seolah tengah mempermainkanku? Demi alam dan seisinya, aku muak! Aku benci mendapati kenyataan bahwa pria yang saat ini bahkan mengenakan kaus putih tanpa lengan itu adalah… Kwon Ji Yong!

Satu panggilan lain yang meneriakkan namaku membuatku menoleh. Hye Mi datang, menampilkan tampang kacau dan raut frustasinya. Dengan bergantian aku melirik kedua orang yang berada di hadapanku tersebut. Kedua orang kotor yang mulai ku mengerti arah hubungannya. Bagaikan roll film, beberapa scene secara acak mulai berputar dalam benakku, menampilkan kejadian tak waras beberapa hari terakhir yang membuatku bagai gadis sinting.

Tentang Hye Mi… dan juga pria itu. Kini semuanya jelas. Aku berhasil menemukan benang merah antara kedua orang ini. Aku mendengus, menyeringai dengan salah satu ujung bibirku yang terangkat.

“Keparat!”

.
.
.

To be continued…

Advertisements

12 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 12]

  1. Makin bikin bingung ni cerita deh….. sebenarnya siapa sih donghae sebenarnya dan kenapa hyemi nggak suka sama donghae….. dan semakin rumit aja hubungan dara sama hyemi dan makin sini kenapa dara jadi anak yg durhaka sih kan biasanya dara jadi anak penurut duh kasihan hyeminya juga klu kaya gitu…..
    Duh jiyong akhirnya ketahuan juga sama dara klu dia jadi mainan ibunya….. next chap jangan bikin bingung lagi ya kak dan semoga dara mau dengerin penjelasannya jiyong sama hyemi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s