[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 15

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: STEP UP



Berulang kali Sandara memikirkan pertanyaan Rohye. Dan setelah melalui pemikiran yang panjang dan melelahkan, akhirnya dia sudah mengambil keputusan.

“Tidak adil rasanya kalau aku terus mempertahankanmu di sisiku tanpa aku bisa mengimbangi apa yang telah kau lakukan untukku. Kau berhak memiliki hidupmu sneidir, di mana kau pun merasa bahagia, tidak hanya aku…”

Di seberang lautan sana, Rohye menahan nafas menunggu kelanjutan perkataan Sandara. “Jadi aku sangat berharap, kau bisa mengesampingkan segala hal tentangku dari pikiranmu.”

Hanya sampai di situ dan kemudian Sandara mengakhiri sambungan telepon. Dia tidak ingin Rohye mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya mengubah keputusan.

Jangan karena aku membutuhkanmu, kau jadi melupakan dirimu sendiri.

Tanpa disadari, setetes bening kristas mengalir dari sudut matanya.

**

Sandara sudah mendengarnya. Jiyong dan Sora putus. Sora sendiri yang memberitahunya lewat telepon.

“Kami sudah putus,” dia memberitahu hal yang sebenarnya tidak ingin Sandara tahu.

“Aku lelah mengejarnya…”

“Yang ada dipikirannya hanya kau seorang…”

Kabar itu membuat Sandara tidak bisa tidur semalaman.

Esok harinya, dia terserang migraine.

**

Dengan kepala yang masih terasa berat sebelah, Sandara memaksakan diri untuk tetap berangkat ke kampus. Tidak mungkin tidak. Hari ini ada ujian satu mata kuliah yang sangat penting. Sandara tidak mau mengikuti ujian susulan. Karena selain nilai maksimal yang akan didapatkannya hanyalah C, dia juga akan ujian seorang diri.

Dan soal yang diberikan tadi sama sekali tidak meringankan sakit kepala yang dialaminya.

“Sandara, wajahmu tidak kelihatan kau tidak apa-apa,” protes Yina dengan nafas khawatir pada wajah pucat Sandara.

Sandara menggelengkan kepalanya, mengelak perkataan Yina. Yina ini mengingatkan Sandara pada Younha yang mudah panik. Ah, bagaimana kabar temannya satu itu. Mungkin nanti dia akan menghubungi Younha dan memintanya bertemu. Mungkin dia bisa mengatur waktu agar mereka bisa berkumpul lagi. Bersama Bom juga.

“Wajahmu benar-benar pucat… apa kau sudah minum obat? Atau apa perlu aku mengantarmu ke medical center sekarang? Atau lebih baik kau kuantar pulang saja?” rentet Yina membuat sakit kepala Sandara sama sekali tak berkurang.

Sandara langsung menggelengkan kepala mendengar tawaran Yina yang terakhir. Setelah ini masih ada kuliah yang sangat memperhitungkan prosentase kehadiran. Sandara sudah pernah bolos kuliah dua kali, dia tidak mau menambah kolom kosong di presensi kehadirannya.

“Aku hanya butuh sesuatu yang hangat…” kata Sandara pada akhirnya.

Kelas mereka baru akan mulai setengah jam lagi, belum termasuk keterlambatan profesor mereka yang sudah terkenal. Jadi masih ada waktu bagi Sandara untuk mengistirahatkan otaknya.

Sayangnya, di kantin, Sandara melihat Jiyong tengah duduk sendirian, tanpa Sora. Sandara hampir saja lupa jika mereka ini satu departemen. Gedung kampus mereka sama dan kantin terdekat yang selalu menjadi langganan mereka pun sama. Sejenak dia ingat, alasan kenapa kepalanya terserang migraine hari ini.

Sesuai dugaan, melihat Sandara di sana dengan wajah pucat, Jiyong datang menghampiri mejanya.

“Sandara,” sapanya.

“Jiyong Oppa,” balas Sandara dengan senyuman yang dipaksakan.

“Kau sakit,” itu bukan pertanyaan, ekspresinya langsung berubah panik.

“Aku tidak apa-apa,” Sandara lupa tangannya masih memegangi kepalanya.

Jelas Jiyong tak percaya pada ucapannya. Benar saja, tak berselang lama, Yina datang dengan nampan, lalu meletakkan semangkuk sup yang masih mengepul dan sebotol air di hadapan Sandara.

“Gomawo,” kata Sandara kepada Yina.

Yina mengangguk dan duduk di sebelah Sandara. Dia sendiri mendapatkan sandwich dan sebotol air.

“Oh, Sunbaenim, annyeong,” Yina baru sadar bahwa mereka tidak sendiri.

Jiyong mengangguk ke arah Yina, tapi perhatiannya masih kepada Sandara. “Apa kau sudah minum obat? Atau perlu kuantar kau pulang?”

“Tidak,” jawab Sandara, memaksakan diri untuk menatap Jiyong langsung pada manik matanya.

Jika boleh jujur, sebenarnya senang rasanya diperhatikan. Tapi di saat bersamaan, ingin rasanya Sandara menjadi orang lain agar tidak diperhatikan seperti Jiyong memperhatikannya sekarang. Dirinya tidak berhak.

“Oppa, berhenti seperti ini… aku tidak sanggup,” keluh Sandara pada akhirnya.

Sejenak, Jiyong terlihat seperti hendak membantah. Namun melihat kondisi Sandara, dia mengurungkan niatnya.

“Mianhe,”

Dan Jiyong meninggalkan Sandara dan Yina. Sejenak, Sandara menatap punggung Jiyong yang menjauh. Matanya berkaca-kaca.

“Kau sungguh tidak mau kuantar pulang?”

Untuk terakhir kalinya Sandara menggelengkan kepala.

**

Ada ungkapan ‘hiduplah bersama orang yang kau tidak bisa hidup tanpanya’, tapi Sandara tidak setuju dengan ungkapan itu. Menurutnya  ungkapan itu terlalu berfokus pada satu subyek saja. Bagaimana dengan subyek yang lain? Apakah itu tidak berarti membaut seseorang hidup dalam tekanan karena tidak dijadikan prioritas? Siapa yang mau menjadi nomor dua di dunia ini?

Begitulah yang Sandara rasa sedang dialaminya sekarang ini. Keberadaan Rohye di sisinya dia rasakan besar efeknya. Menghilangkan segala rasa panik yang menyergap dan memberinya sedikit ruang untuk bernafas. Tapi adanya Rohye hanya sebatas sebagai tempat perlindungan dan tempatnya bersandar. Lalu bagaimana dengan hidup Rohye sendiri bila yang selalu dilakukannya hanya untuk menjadi pelengkap dalam kehidupan Sandara?

“Aku bahagia asalkan kau bahagia. Bagiku itu sudah cukup,” Rohye menjawab pertanyaan Sandara waktu itu.

Dan sekarang Sandara tak tahu bagaimana perasaannya sendiri. Apakah dia bahagia atau sedih? Rasanya ingin sekali agar dirinya mati rasa.

Tepat saat pandangan mata Sandara mulai kabur karena genangan air mata, ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Tak sempat membaca siapa yang meneleponnya malam-malam begini.

“Jangan bilang kau sedang menangis sekarang,” kata suara di seberang tanpa menyapa.

Mata Sandara mengerjap tak percaya, membuat air matanya yang tergenang luruh perlahan.

“Kata siapa?” elak Sandara, walau tak bisa menutupi suara sumbangnya.

“Aku memiliki indera keenam, kau tahu itu,”

“Terserahlah…” ejek Sandara tanpa bisa menutupi senyumanya.



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

12 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 15

  1. Wah klu aq jd dara pasti aq bingung bgt tuh hbis keduanya sm sm baik sih tp aq tetep berharap dara balikan sm jiyong dan buat rohye semoga dpt gadis yg baik jg deh…. next bikin baper deh

  2. Untung Sora sama Jiyong udah putus. Tinggal Jiyongnya aja yang nembak Dara lagi hihihihi. Teruntuk Sora dan Rohye semoga dapet jodoh yang lebih baik lagi. Next Chapternya ditunggu ya, unnie. Fighting!!!😂👍💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s