SEOULITE [Chap. 8]

BLUES

Author : DeeXXI

Genre : romance

Cast : Kwon Jiyong and Sandara Park

Inpiration from lee hi’s album seoulite

This fiction dedicated for all readerdeul XD comment juseyoooo ^^

Annyeongg!!!! Saengil cukhae uri jiyongie oppaa!!! Apa harapan kalian untuk uri oppa? kalau aku selalu sehat dan langgeng sama dara eonni, dan berharap ngga ada kejadian kaya di ff aku ini kekeke, aku juga sedikit gedeg sama jiyong oppa yang tiba-tiba berubah. Soooo, ini kelanjutan ceritanya, check this out!

><><Passing By><><

Sandara POV

Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membawa masalah pribadi ke pekerjaan. Ini privasiku dan aku akan bersikap profesional dengan hanya membawanya di rumah. Aku kembali bekerja di perusahaan sohee.

Kini aku berada di atap, merasakan hembusan angin yang kuharap bisa menghilangkan pikiranku yang dipenuhi oleh sohee dan Jiyong. air mataku mengalir dikedua pipiku. Aku terluka, sangat terluka. Berapa banyak luka yang harus aku terima untuk ini?

Dijalanku untuk merasa lebih baik? aku melayangkan pandanganku ke bawah dan melihatnya bersama wanita itu. aku hanya ingin merasa lebih baik sepertinya. seperti dia yang merasa baik-baik saja walaupun tanpaku.

Waktu berlalu dan musimpun berganti. Hatiku berubah menjadi dingin. Tapi aku tidak pernah berfikir aku bisa membuat hatiku dingin seperti ini. Dan hari ini, seperti hari sebelumnya. Ia menghindariku. Ia melewatiku seperti ia tidak mengenalku. Ia melewatiku lagi.

Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa sakit. Seperti sebuah pisau yang menyayat, pisau yang tajam. Kau melewatiku dan bahkan merangkulnya? Berapa banyak air mata lagi yang harus aku keluarkan?

Hingga aku tersadar bahwa aku telah ditinggal sendiri, aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan. Mungkin efek dari hatiku yang telah membeku. Apakah aku pernah membuatnya seperti ini? Apakah aku pernah membuatnya terluka?

Ia memasuki rumah kami, apakah ini masih dibilang kami? Lucu. “apakah aku pernah menyakitimu ji?” tanyaku, ia menghentikan langkahnya dan hanya mendengarkanku. “aku minta maaf, dan sangat minta maaf tentang itu.” gumamku, ia bahkan tidak melirikku. Dan kami tidak benar-benar berbicara satu sama lain.

“apakah ini semua karena sikapku yang kekanakan?” tanyaku, ia masih diam dan tidak berbalik. “mengapa kau tidak menyadarinya sejak dulu?” tanyaku, air mataku siap meluncur dalam hitungan detik. “mengapa kau melamarku? Mengapa ini semua terjadi? Mengapa kau menikahiku jika kau akan meninggalkanku untuk wanita yang lebih cantik dariku” ucapku tercekat.

Air mataku benar-benar mengalir. “jika kau menikahiku karena keegoisanku, mengapa kau masih menurutinya? Jika kau terpaksa oleh pernikahan ini, mengapa tidak kau batalkan?” tanyaku, ia mengepalkan tangannya. “berapa banyak air mata yang harus aku keluarkan untuk menangisimu?” tanyaku. “aku tidak memintamu untuk menangis” ucapnya dengan gigi terkatup.

Aku tersenyum kecil, “dimana perasaanmu?” tanyaku, ia tidak menjawab dan kembali diam. “mengapa kau terus menghindariku?” tanyaku, “aku tidak menghindar” jawabnya “kau menghindar!”teriakku.

Kami berdua diam, hanya isakan tangisku yang terdengar di ruangan ini. “bersikaplah dewasa Dara, kau bahkan lebih tua dariku” ucapnya berlalu pergi dan menutup pintu kamarnya. aku merosot dan duduk dilantai. Kembali menangis olehnya.

Hari-hari kami? Saling diam dan bahkan seperti tidak saling mengenal. Aku muak dan aku tidak tahan dengan ini. “apa yang kau inginkan?” tanyaku saat kami berada di lorong yang sepi. Ia berhenti berjalan. Kami saling memunggungi. “bicarakan ini dirumah!” ucapnya pelan namun tegas sebelum kembali melangkah. Aku mendesah pelan lalu melanjutkan langkahku.

Kami berada di ruang makan, dengan Jiyong duduk dihadapanku menikmati makan malam yang telah aku siapkan. Kami saling diam untuk beberapa saat, “apa yang kau inginkan?” tanyaku, “apa yang kau ingin aku lakukan?” tanyaku, ia mendesah pelan. Tidak menjawab pertanyaanku.

Aku menatapnya “apakah aku harus pergi meninggalkanmu?” aku tertawa pahit, “ini lucu” ucapku masih tertawa membuatnya menatapku dengan kerutan didahinya. “kau bahkan telah meninggalkanku bukan?” air mataku mengalir tapi aku masih tertawa “untuk apa aku masih berada disini?” tanyaku.

Ia masih diam dan menatapku bingung, “seharusnya aku tidak melihatmu lagi. Aku seharusnya pergi dari rumah ini” ucapku ditengah tawaku. “maafkan aku tuan kwon” ucapku, aku menghela nafas dalam “terima kasih atas waktu yang kau berikan.”Ucapku, “ya… seharusnya aku pergi sejak kau memberikan cincinmu itu” aku kembali tertawa pahit.

Aku beranjak dari dudukku, “aku akan merindukanmu ji” ucapku, aku menggigit bibir bawahku. “dan merindukanmu lagi” gumamku sebelum beranjak pergi. Aku tidak bisa menghentikan tangisanku. Aku mengambil koper dan merapikan baju-bajuku.

Ia mengikutiku dan hanya menatapku di ambang pintu, “Dara” gumamnya, hatiku bergetar. Tapi aku tidak bisa menghentikan tanganku. Aku tetap merapikan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam koper besar milikku.

Aku tahu ini sudah malam. Tapi aku tidak lagi sanggup untuk bertahan. Harus sampai kapan? Apakah setelah aku menghentikan ini ia akan berhenti mencintai sohee? Ya, aku tahu itu. ia sangat mencintai sohee dan tidak mungkin kembali mencintaiku. Bahkan ini sudah begitu lama sejak ia memberikan cincinnya padaku.

Aku menutup koperku dan membawanya, “kemana kau akan pergi?” tanyanya saat aku melewatinya, “apakah kau masih peduli padaku?” tanyaku dingin. Aku menoleh padanya. “sekali lagi, terima kasih karena pernah mencintaiku dan begitu mencintaiku” ucapku tercekat. “aku tidak akan mengganggumu. Selamat bersenang-senang” ucapku lalu pergi.

Aku masih bisa mendengarnya memanggil namaku, aku tidak menoleh atau bahkan menghentikan langkahku. Aku menutup mulutku meredakan isakan yang keluar setiap langkahnya. Setiap langkah yang aku ambil seolah setiap langkah yang aku ambil untuk pergi ke neraka. Tapi aku tidak bisa menghentikan ini. Aku benar benar membutuhkan ini. Aku harus pergi dan mengalah.

Yang bisa aku harapkan hanya satu. Semoga aku bisa bahagia setelah ini.

_to be continue_

a/n : wahhhh apa ini????? Bagaimana dengan “passing by”-nya? Apakah memuaskan? Apakah bikin hati kalian makin hancur sama sikap jiyong oppa? wahh yang ulang tahun kurang ajar kekeke. Aku seneng karena ffku yang kemaren bisa menyentuh hati kalian kekeke, semoga yang ini juga bisa menyentuh hati kalian menjadi semakin hancur dan galau karena sikap ji oppa yang semakin dingin kekeke. ahh kemarin banyak yang nanya kenapa ji bisa berubah secepat itu? aku juga kurang tahu yah, aku nanya ke ji oppa dianya ga jawab. Nanti deh aku telpon lagi. Haha becanda. Aku bakal nyiapin satu chapter tambahan atau bisa di bilang sequel sequel itu bakal jadi cerita seoulite dari sisi ji oppa. dan aku bakal bikin itu dari mulai mereka menikah. Jadi aku gak akan menceritakan awal keberangkatan dara ke london. Aku bakal menceritakan sejak pertama mereka menikah. Hingga akhir yang sama di lagu “missing u”. Aku masih bingung antara di password atau jangan, menurut kalian di password jangan? Komen juseyoooo dan ucapkan selamat ulang tahun untuk ji oppa di kolom komentar. Nanti aku salamin sama ji oppa kekeke^^

Advertisements

40 thoughts on “SEOULITE [Chap. 8]

  1. Gilakkkk nangisss sumvahhh. Nyesek bgt. Jiyong jahaaattt gilakk lu yg kekanakan ji gegara sohee lu ninggalin istri lu. Lupa daratan nih bocah aigooo ahh benci sma jiyong disini hufttt.

  2. Pasti Jiyong yg bikin dara nangis.. Emang mah Jiyong ini harus diberi pelajaran.. Poor Dara.. Buat mereka balikan lg dong thor,, hehe

  3. nyeseeeekkk…matamu itu dimana bang gd? knpa ga bisa liat dara sih? ga bisa ngrasain perasaan dara…Ahhhrrrrgggg nyebelin…gedekk sama gd 😢😢😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s