[Ficlet] Smile Again

smile again

.

.

Smile Again

Ficlet    Friendship | Teen

.

.


Sekarang peganglah tanganku,

Berlari keluar dari rumah dan tersenyum lagi

 


.

 

.

©2014,
vapanda present

.

.



 

Ada milyaran lebih kehidupan diluar sana namun bagi gadis berambut sebahu itu semuanya akan terasa sama tanpa sedikitpun ada perbedaan disetiap milyaran lebih kehidupan tersebut. Mulanya, hal itu bukanlah pikiran Sandara namun perlahan ia juga ikut merubah kebiasaan rutinnay –hanya diam menatap kosong kearah langit kamarnya yang gelap tanpa seberkas cahaya –juga memeluk tubuhnya dengan menumpukan kepala dilutut.

Hujan masih terus berangsur-angsur turun dengan lebatnya disetiap malam dan Sandara masih diam tak bergerak sedikitpun walaupun telinganya menangkap suara ibunya diluar kamar untuk memastikan keadaan Sandara tapi ia tidak melakukan apapun –walau berupa suara –ia tidak melakukannya.

“Dara sayang, Kau baik-baik saja?”

Ibunya kembali mengetuk pintu kamar Sandara. Wanita paruh baya itu terlewat khawatir akan kondisi psikis anak tunggalnya. Air mata ibu Sandara kerap kali berlinang merasa tak kuasa saat Sandara bersikap berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu. Tawa, senyum, ocehan, gerutuan dan hal lucu yang sering mengisi rumah mereka seakan sirna seketika.

“Dara sayang. Buka pintunya.”

Suara ibunya terdengar menahan tangis dan tanpa melihat ibunya, Sandara sudah memastikan bahwa kantung mata tuanya sudah membengkak juga kekurangan istirahat, jika perlu diingkatkan lagi, hal itu adalah karena dirinya sendiri. Seorang Sandara Park yang lemah tanpa mampu menghapus kejadian yang menyakitkan itu.

“Dee, ini Aku, tolong bukakan pintu.”

Terdengar suara lain disana juga Sandara mengenal dengan jelas dibalik nada kekhawatiran disana, itu pasti adalah sahabatnya, Kwon Jiyong. Awalnya, Sandara masih sedikit ragu untuk memutar kenop pintu tapi untuk kedua kalinya suara Jiyong terdengar, Sandara lekas membukakan pintu walau hanya mampi menundukkan kepala dihadapan Jiyong dan juga ibunya sendiri.

“Boleh Aku masuk ‘kan?”

Jiyong kembali memastikan dengan suara yang terlewat meneduhkan bagi Sandara. Pria itu tak lama mengulas senyum ketika ia mendapati Sandara menganggukkan kepalanya.

“Kau sepertinya harus belajar dari awal, Dee.”

“Apa maksudmu? Apakah ada kaitannya dengan hal itu lagi? Jika ada, maka Aku akan mengusirmu detik ini juga!”

“Waw, tenang. Aku tidak akan mengungkit peristiwa itu tapi hanya saja Kau memang sudah berubah serratus delapanpuluh derajat dari Sandara Park yang Aku kenal sebelumnya.”

“Ya, itu benar! Jadi … Kau bisa menjauhi seperti yang lainnya! Mengancamku dengan semua perkataan kotor dari tulisan merah disetiap Aku membuka loker! Menaruh lem dikursiku dan hal lain yang menurutmu akan membuat semuanya kembali mengubah keadaan! Lakukan, Ji! Lakukan semau mu! Lakukan hal yang sama seperti mereka!”

“Waw … jadi itu keluh kesahmu selama ini Sandara Kim?”

.

.

.

Satu jam sebelumnya …

“Tidak Oppa! Aku malu melakukan hal itu sekalipun itu untuk Unnie! Lagipula, siapa yang mau berteman dengan seorang anak penjahat sepertinya?”

“Lee Ha Yi! Kau dulu sangat dekat dengan Sandara, bagaimana bisa Kau melakukan hal ini padanya sekarang, huh?”

“Lee Seunghyun! Sekalipun Kau Oppa-ku, jangan pernah sekalipun untuk menyuruhku kembali dekat dengan anak penjahat itu!”

Jiyong berdiri diam diambang pintu sembari menyaksikan pertengkaran antara kakak-beradik itu. Bibirnya terkantup walaupun ia sangat ingin memarahi Ha Yi tapi gadis keras kepala itu pasti akan menangis dan justru akan lebih membenci Sandara Park –nama baru dari marga sebelumnya –marga yang bahkan sangat Sandara sesalkan sepat menjadi bagian dari kehidupannya selama duapuluh tahun ini.

“Seungri-ah …” suara Jiyong baru terdengar dan kedua orang yang bersitegang tadi hanya mampu membulatkan mata tak percaya.

“Aku … Aku akan pergi ke ulangtahun Chaerin Unnie,” ujar Ha Yi untuk berusaha menghindar dari tatapan Jiyong.

“Ha Yi-ah, jangan salahkan Sandara Kim … ani, maksudku, Sandara Park.” Ujar Jiyong tepat ditelinga Ha Yi ketika Ha Yi melewatinya.

“Seungri-ah, Aku perlu kerumah Sandara ‘kan? Ia juga diundang di ulangtahun Chaerin ‘kan?”

“Ah, ne Hyung.”

.

.

.

“Apa yang Kau lakukan, huh? Memaksaku untuk pergi ke pesta Chaerin? Jika itu mau-mu, maka lupakan itu!”

“Ani …. Aku tidak akan melupakan maksud tujuanku untuk menarik tubuh kecilmu dengan paksa keluar sini Sandara Kim. Dan, Chaerin dan yang lain juga mengharapkan kedatanganmu.”

“Chincha? Bahkan hanya di teras rumah Kau mengatakan Aku sudah keluar? Jadi …. Apa Kau menjadikan Aku barang taruhan seperti yang lain, karena berhasil membuat anak penjahat sepertiku keluar dari sangkarnya?”

“Ani …. Aku tidak sejahat itu.”

“Lalu apa? Cepat katakan!”

Jiyong melangkahkan kakinya hingga semakin medekatkan diri kepada Sandara. Ia menarik senyumnya hingga senyum hangatnya sudah berhasil membuat Sandara kembali merenung akan kenangan keduanya selama ini. Sandara jelas masih sangat ingat disetiap selang waktu yang dilalui bersama Jiyong, keduanya pasti akan ; tertawa bersama, berlari bersama, tersenyum bersama dan hal itu terkadang sering membuat keduanya seakan orang yang kehilangan kewarasan namun Sandara masih tetap melakukannya bersama –tentu sebelum ayahnya yang merusak kebahagiaannya putrinya sendiri.

“A-apa yang ingin Kau lakukan, huh?”

“Tidak banyak. Aku …. Hanya ingin membuatmu kembali tersenyum sama sepertiku.”

“Apa untungnya bagimu, huh?”

“Tentu banyak. Senyuman itu bersinar bahkan banyak waktu yang dilalui bersamamu juga dengan senyuman itu akan selalu berbekas di memori otakku. Jadi … lupakan hal yang membuat senyumanmu itu musnah. Lupakan.”

Air matanya Sandara mengalir. Ia luluh dengan seluruh perkataan yang Jiyong katakan. Kwon Jiyong –sahabatnya yang baik juga selalu mengisi waktu bersamanya mempertaruhkan dirinya untuk dijauhi oleh seluruh orang di Kampus mereka hanya untuk kembali melihat Sandara tersenyum.

Jutaan cacian sudah kebal ditelinganya tapi yang hanya mampu melupakan semuanya hanyalah gerakan penghilang kesedihan yang selalu Jiyong buat dengan tangannya. Sebagaian sisa jiwa kecil Sandara tergelitik namun hal yang dilakukan Jiyong nyatanya ampuh untuk menghilangkan kesedihan Sandara.

“Bagus! Kau belajar dari awal lagi ‘kan untuk tersenyum cantik seperti itu.”

“Jiyongie~”

“Kajja, mereka sudah menunggu kita!”

“Tapi ini hujan,”

“Lalu apasalahnya? Kita ‘kan bisa berlari ditengah hujan.”

“Aisht, Chincha!”

 

 

 

 

.

.

-fin-

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 



uwaaaawww … luluh deh sama obrolan kita yang kemaren itu dipostingan sama yang Dear Applers
Jujur aja sih sebelumnya saya berusaha move on dan nulis FF cast bukan DaraGon tapi kepincut juga akhinya buat kembali buat yang DG ini whehehe
Berharap suka yah, walaupun berantakan gitu …. MOAH APPLERS!!!

.

.

.

LEAVEYOURCOMMENT

Advertisements

18 thoughts on “[Ficlet] Smile Again

  1. Gangertiiii masaaaa T.T kok dara dibilang anak penjahat? Emg papanya dara penjahat ya? Trus marganya dulu kim tp krn bokap-nyokap nya udah cerai jadi marganya berubah jadi park.. gitu bukan? Srsly ga nangkep gmn inti ceritanya T.T

  2. Aku suka lah pokonya walaupun gak ngerti dara kenapa jadi Sandara Kim, sedikit aneh dari awal sampe akhir daragon cuma sahabat doang gak ada benih benih cinta gitcyuuu
    Pelis author pinda jangan tinggalkan DGI 😦 aku mohon dari hati terdalam:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s