PRETTY DEVIL [Oneshoot]

3-21_dara_1

Author : Aitsil96

Pria itu terduduk menyandarkan punggung pada dashboard ranjang seraya mengusap kasar wajah lelahnya. Jeritan alarm baru saja terdengar, menunjukkan pukul enam pagi dan ini waktunya ia bersiap-siap. Mata yang belum sepenuhnya terbuka itu mengedar, mencari objek yang biasanya menyambut hari-harinya, namun kamar berwarna putih dominan itu kosong. Ji Yong hanya bisa mendesah gusar lalu beranjak untuk mengambil handuknya.

Tak perlu waktu lama untuk membuat pria itu menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Ia keluar dengan hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya, menampilkan coretan indah bernama tato yang menghiasi tubuh kecil namun berotot tersebut. Maniknya teralihkan pada ranjang yang telah rapi dibereskan yang di tepinya telah tersedia pakaian kantor, lengkap dengan dasi dan ikat pinggang. Ji Yong melangkah seraya tersenyum. Gadis itu selalu tahu seleranya.

Ji Yong keluar kamar dengan setelan kantornya. Bau aroma masakan telah tercium dari arah dapur. Gadis itu berada di sana, tengah menyiapkan piring di meja makan.

“Kau akan terus menghindariku, Dee?”

Sandara menghentikan langkahnya yang berniat untuk meuju ke kamar. Ia menoleh dan mendapati Ji Yong yang tengah duduk di meja makan seraya memandangnya.

“Aku mau kembali tidur, Kwon.”

“Kau merajuk. Aku tahu itu.”

Helaan napas terdengar dari Sandara. Ia memutuskan untuk kembali ke meja makan, menemani suaminya sarapan.

“Bilang saja jika kau ingin ditemani sarapan.”

“Sampai kapan kau akan mengabaikanku, huh?” Ji Yong bertanya tiba-tiba seraya mengunyah hidangan sarapannya.

“Aku? Kau lah yang mengabaikanku, Tuan.”

Ji Yong mendengus, “Ini hari terakhirku lembur, Dee.”

“Ck, aku benci mendengar kata itu.”

“Ku harap kau mengerti.”

“Jika kau lupa, aku selalu mengerti dirimu. Tapi kau lah yang tak pernah melakukannya demi aku.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Sandara mengedikkan bahunya acuh, “Kau terus lembur selama dua minggu terakhir ini. Kita bahkan membatalkan rencana liburan di akhir pekan. Benar-benar menyebalkan. Harus dengan cara apa aku menahanmu agar tak pergi kerja, huh?”

“Cara yang nakal dan… sedikit menggoda mungkin bisa menahanku,” jawab Ji Yong asal lalu menghabiskan suapan terakhirnya.

“Haruskah?”

Ji Yong hampir tersedak ketika air yang diminumnya bahkan belum sampai ke kerongkongan. Gadis itu benar-benar gila! Ia dengan beraninya duduk mengangkang di paha Ji Yong dan melingkarkan tangan mungilnya di leher bertato pria itu. Manik kelam itu membelalak, terlebih dengan Sandara yang saat ini hanya mengenakan gaun tidur one piece, memperlihatkan setengah bagian paha mulusnya.

“Dee? Apa… apa yang kau lakukan?” ucap Ji Yong gugup.

“Aku berusaha untuk menahan kepergianmu.”

“Jangan macam-macam, Dee. Aku harus pergi.”

“Apapun akan ku lakukan agar kau tetap tinggal di rumah.”

Bulu kuduk Ji Yong meremang. Sandara mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada bagai desauan angin tepat di samping telinganya. Gadis itu bahkan makin lancang mengecupkan bibir cherinya lambat-lambat di leher Ji Yong hingga membuat pria itu memejamkan matanya erat seraya menahan erangan yang tertahan di pangkal tenggorokannya.

“Dee, jebal…”

Seolah tak peduli dengan rengekan Ji Yong, Sandara makin melancarkan aksinya dengan menghembuskan napas tepat di depan bibir pria itu. Demi alam dan seisinya, Ji Yong tak bisa menahannya lagi! Ia langsung meraup bibir cheri itu, menyesap dalam dengan napas memburu. Tangan kedua insan itu mencari pelampiasan dengan meraba tubuh pasangan masing-masing.

Di tengah suasana yang membakar gairahnya tersebut, Ji Yong memagut bibir cheri itu lama sebelum melepaskannya dan membuat untaian saliva di antara bibirnya dan milik Sandara. Mereka mempertemukan kening masing-masing dengan tangan Sandara yang masih bertengger di leher Ji Yong.

Stop it, Dee! I have to go.”

Sandara mengerucutkan bibir seraya menggelengkan kepalanya, “Shireo!”

“Jangan membuatku lemah dengan tampang seperti itu.”

“Aku akan merengek terus-terusan. Aku harus mengurungmu seharian penuh di rumah.”

Ji Yong berdecak, “Kau membuatku gila. Sungguh.”

“Kau tak mau melanjutkan kegiatan ini? Aku tahu ada yang sesak di bawah sana,” ucap Sandara menggoda.

Sial! Mengapa gadis itu harus menyadarinya?

“Aku merindukanmu.”

Ji Yong lagi-lagi hanya bisa memejamkan matanya erat. Menyadari bahwa kata ‘merindukanmu’ yang dimaksud gadisnya merujuk pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuat ia mengurung Sandara di ranjang king size-nya, membuat banjir keringat serta desahan beradu di saat bersamaan. Sesuatu yang juga sangat dirindukannya, mengingat dua minggu terakhir ini ia sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor.

“Aku juga merindukanmu, tapi tidak sekarang.”

“Kwon…”

Mian, aku harus pergi.”

Dengan berakhirnya kalimat tersebut, Ji Yong dengan segera menurunkan Sandara dari pangkuannya. Pria itu mengecup sekilas pipi gadisnya lalu melesat menuju pintu keluar. Ia harus melakukan segala sesuatunya dengan cepat sebelum ia berubah pikiran.

‘Keparat kau, Kwon Ji Yong!’

*****

Ting!

Ji Yong yang tengah dihadapkan setumpuk berkas di mejanya mendengar suara yang berasal dari ponselnya. Ia tersenyum sedetik kemudian, menyadari gadis yang terpaksa ditinggalnya tadi pagi mengirim pesan singkat.

‘Jangan lupa makan siang, Tuan Sok Sibuk.’

Baru saja jarinya akan mengetikkan balasan, satu pesan lain dari gadisnya muncul.

‘Tebak siapa yang baru saja ku temui di kafe!’

Manik kelam itu tertumbuk sepersekian detik untuk melihat foto yang baru saja Sandara kirimkan. Foto gadis itu yang tengah tersenyum cerah dengan latar belakang kafe yang sering disambanginya untuk makan siang. Namun mata tajam Ji Yong mambelalak ketika melihat dengan siapa gadis itu berada di sana. Itu Dong Hae! Pria itu berada di sebelah gadisnya seraya mengangkat gelas dan sama-sama mengukir senyum sumringah di bibirnya.

Shit! Napas Ji Yong tak bisa berhenti memburu. Ia bahkan harus membuka kancing atas kemejanya serta melonggarkan dasi demi mengendalikan amarah yang hampir membludak hingga ke ubun-ubun.

‘Terkutuklah kau, Park Sandara!’

*****

Blam!

Sandara yang tengah menonton drama favoritnya di sofa terkejut bukan main. Kepalanya segera menoleh ke arah pintu depan yang baru saja berdebam memekakkan telinga. Di sana telah berdiri seorang pria yang tengah ditunggunya. Namun… mengapa Ji Yong telah datang? Bukankah biasanya ia pulang lebih dari tengah malam?

“Kau sudah pulang?”

Ji Yong melemparkan jas serta tas kantornya secara sembarangan ke lantai. Jika diperhatikan, ada kilatan tak biasa dari mata yang tengah menatap Sandara dengan tajam tersebut. Langkahnya tegap serta cepat dan kini Ji Yong telah tepat berada di hadapan Sandara.

“Mengapa… kau… sudah pulang?” tanya Sandara gugup.

Entah mengapa gadis itu merasa terintimidasi dengan pandangan lurus Ji Yong yang tepat mengarah ke manik hazelnya. Gadis itu hanya bisa termangu lalu sedetik kemudian terlonjak kaget. Ji Yong tiba-tiba meletakkan tangannya di sisi kiri-kanan tubuhnya, seakan menguncinya.

“Apa… yang kau lakukan, Kwon?”

Pria itu sama sekali tak menjawab, terus-menerus menatap Sandara tanpa berkedip. Gadis itu mulai resah. Pandangan kelam Ji Yong seolah tengah mengulitinya hingga ke tulang-tulang. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini?

You are pretty devil, Dee!”

Sandara tak bisa merespon setelahnya. Tidak setelah Ji Yong membungkam bibirnya dengan bibir penuh pria itu. Ia melumat dengan rakus seolah tak ada hari esok untuk menikmati bibir cheri itu lagi. Lidahnya meliuk keluar, mencoba memasuki mulut Sandara tanpa keraguan sedikitpun.

Karena kesal terhadap gadis yang masih saja bertahan dengan ekspresi bodohnya tersebut, Ji Yong menggigit bibir Sandara hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan. Untaian itu terlepas setelah Ji Yong menyadari ada bau amis yang berasal dari bibir Sandara yang berdarah akibat kelakuannya.

“Sakit, eoh?”

Sandara yang tengah mengelap asal noda darah dengan telapak tangannya segera menatap Ji Yong penuh kebencian. Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga hingga terpental ke lantai.

“Kau masih bisa bertanya dengan santai seperti itu, huh? Tentu saja sakit, bodoh!”

Mian, aku tak sengaja,” Ji Yong terbangun dan mulai membawa tisu untuk gadisnya. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Sandara.

“Kau gila, Kwon!”

“Ya, dan itu karena dirimu.”

Sandara menoleh dengan alis bertaut.

“Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?”

“Siapa?”

“Pria yang kau temui di kafe tadi siang.”

Sandara menjitak kepala Ji Yong, “Hati-hati dengan mulut berbisamu! Kau bertanya seolah-olah aku telah melakukan hal yang macam-macam dengan Dong Hae. Kau pikir aku wanita macam apa, huh?”

Ji Yong meringis, “Jawab saja, Dee. Kau tahu maksud pertanyaanku.”

“Kami hanya makan siang bersama.”

“Hanya?”

“Aku tak sengaja bertemu dengannya di kafe, Ji. Ia juga kebetulan ingin makan di sana lalu kami memutuskan untuk makan di satu meja yang sama. Hanya makan siang. Tak cukupkah kau dengan penjelasanku?”

“Kau bahkan berfoto dengannya.”

“Bisakah kau tak berlebihan? Aku bahkan tak menyentuh Dong Hae sedikitpun di foto itu.”

“Lalu kau ingin menyentuhnya, begitu? Atau kalian memang telah melakukan skinship yang lebih tanpa ku ketahui?”

Manik hazel itu berputar malas, “Kalau iya, memangnya kenapa?”

Sandara hanya merasa jengah hingga menjawab secara asal. Pria itu benar-benar kekanakkan. Bagaimana bisa Ji Yong tak mempercayainya dan menuduhnya yang macam-macam?

“Yak! Turunkan aku!”

Dengan satu gerakan cepat Ji Yong membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam pangkuannya. Ia tak peduli jika kini gadis itu mulai meronta meminta dilepaskan. Langkahnya menuju ke arah kamar yang pintunya terbuka, lalu menutupnya erat dengan satu kaki.

“Jangan harap kau bisa tidur malam ini, Dee.”

*****

Kedua insan itu terbaring setelah melakukan aktifitasnya. Tak usah dijelaskan lagi aktifitas gila macam apa hingga membuat mereka tak mengenakan apapun di balik selimut putih tebal yang membungkus tubuh keduanya. Mereka berpelukan dengan posisi saling berhadapan. Sandara menelusupkan wajahnya ke dada bidang prianya. Ji Yong berhasil menghukum Sandara akibat mulutnya yang asal berbicara.

“Jadi jawab pertanyaanku dengan benar, Mrs Kwon.”

“Jangan mulai lagi, ku mohon.”

“Kau ingin ku hukum hingga matahari terbit?”

Sandara mendesah lelah, “Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan konyolmu.”

“Kalian hanya makan siang di kafe? Kau langsung pulang setelah itu?”

Sandara mengangguk seraya menggumam pelan.

“Ia mengantarmu pulang?”

“Tidak, aku naik taksi sendiri.”

“Oh ya, apa yang kau lakukan setelah berfoto dengannya?”

“Kau benar-benar penasaran, Kwon?”

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Kami mengobrol banyak seraya menyantap makan siang.”

“Kau berfoto sebelum makan lalu menunjukkannya padaku terlebih dulu? Kau benar-benar ingin menyombongkan kedekatanmu dengannya, huh?”

“Itu hanya bentuk kegembiraanku.”

“Kau gembira bertemu dengannya?”

“Tentu saja. Kami sudah lama tidak saling bertemu.”

“Kau gembira bertemu dengan mantan kekasihmu, Dee?” tanya Ji Yong dengan penambahan kata yang ditekankan.

“Ia hanya cinta monyetku saat kuliah di tingkat pertama, Kwon. Oh ayolah, aku bahkan telah menceritakannya padamu.”

“Tetap saja aku tak suka kau bertemu dengannya. Apalagi tanpa sepengetahuanku.”

“Lalu kau pikir aku mengirimkan foto itu bukan untuk memberitahumu?”

“Aku benci kau berada dalam satu foto dengannya.”

Sandara menengadah, mempertemukan maniknya dengan pria itu, “Kau benar-benar kekanakkan, Kwon Ji Yong!”

“Jangan pernah menemuinya lagi. Tidak hanya ia, namun jangan pernah bertemu pria lain tanpaku. Apalagi yang tampan.”

“Jadi menurutmu Dong Hae tampan?”

“Dee!”

Sandara cekikikan melihat reaksi Ji Yong yang berlebihan, “Bagaimana kalau aku tak sengaja bertemu dengannya?”

“Pura-pura saja tak melihat.”

“Jika ia menyapaku terlebih dulu?”

“Abaikan. Kau harus mengabaikannya.”

“Yak! Itu tidak sopan.”

“Apa peduliku?” Ji Yong mengedikkan bahunya acuh.

“Kau benar-benar tak waras, Kwon!”

“Kau seharusnya tahu bagimana tak warasnya aku ketika kau mengirimkanku foto itu. Aku sengaja tak membalas pesanmu karena rasanya hampir gila. Ingin rasanya cepat menemuimu, namun sialannya tertahan karena setumpuk berkas yang harus ku selesaikan.”

“Lalu mengapa tadi kau pulang cepat?”

“Aku telah selesai dengan pekerjaanku dan ingin segera sampai ke rumah.”

Andai saja gadis itu tahu bahwa Ji Yong tadi bekerja bagai orang kesetanan. Ia menyelesaikan setumpuk pekerjaannya tepat pada pukul delapan malam dan segera melesat membelah jalanan Seoul dengan ugal-ugalan. Waktu serasa berada di neraka dengan ia yang sudah kehilangan fokus. Pikirannya sudah berantakan menjadi serpihan yang tak utuh, dan yang ia inginkan adalah segera menemui gadisnya.

“Tidurlah, kau pasti lelah.”

“Aku ingin terus berada di posisi ini. Aku benar-benar merindukanmu.”

Sandara merona dalam dekapan pria itu, “Besok kau tak kerja? Ini sudah hampir pagi.”

Ji Yong melirik jam di nakas yang menunjukkan pukul tiga pagi, “Aku telah mengambil cuti. Akhir pekan ini kita bisa berlibur.”

Jinjja?” Sandara mendongak dengan pandangan berbinar.

Ji Yong mengangguk seraya tersenyum.

“Kita benar-benar akan berlibur ke Jeju, kan? Kau tak akan membatalkan lagi janjimu padaku?”

“Tidak, Dee.”

Sandara berteriak tertahan kegirangan. Ah, akhirnya permohonannya terkabul juga untuk berlibur bersama dengan pria workaholic itu.

“Karena aku telah berbaik hati untuk mengabulkan permintaanmu, sekarang giliranmu untuk membalasnya.”

“Yak! Bagaimana bisa seperti itu? Aku kan meminta liburan karena kau selalu sok sibuk, Kwon.”

“Turuti saja perintahku tanpa membantah. Aish, tak bisakah kau berubah menjadi gadis manis untuk sekejap saja?”

Sandara mendengus, “Memangnya kau ingin apa?”

“Ronde kedua.”

Deg! Jantung Sandara seakan berhenti berdetak beberapa saat. Ji Yong mengucapkan dua kata laknat tersebut secara seduktif di hadapannya. Tanpa bisa ia cegah, pria itu bahkan telah menguasainya dengan mengunci kedua sisi tubuh Sandara dengan lengannya.

“Aku benar-benar membencimu, Kwon.”

“Dan aku benar-benar mencintaimu, Dee.”

.

.

.

–END–

Advertisements

15 thoughts on “PRETTY DEVIL [Oneshoot]

  1. Kyaaaaa kangen bnget sama ff daragon yg gini😆😆
    Daranya nakal tapi aku suka. Jiyongnya cemburuan tapi aku sukaaaa. Cuma foto berdua aja Jiyong udah gitu, apalagi rangkuh bahu, si Jiyong udah berubah jd werewolf kali wkwk

  2. huaaaa aku sukaaaa. mereka soooo sweetttttttt. aku kena diabetes nih sekarang kayanya akibat baca ff ini. singkat dan wowwwww. pokonya ngga bisa ngomong apa-apa lagi, intinya bagus!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s