MEA CULPA [Chap. 8]

mea-culpa

Author : Aitsil96

“Duduk!”

Satu kata perintah yang terdengar menyebalkan terlontar dari bibir penuhnya. Diucapkan dengan dingin, namun entah mengapa bagiku serasa hukum mutlak hingga berhasil membuatku menuruti titahnya sedetik kemudian. Aku membencinya, lalu mengapa aku bisa semudah itu tunduk padanya? Bukankah ia bahkan adalah pria yang tak ku kenali? Ini aneh, dan aku benci mendapati diriku berada dalam perasaan tak menentu seperti ini.

Mataku memutar malas, namun aku tetap memperhatikan punggung itu. Punggung yang ramping namun terasa kokoh tanpa harus disentuh lebih jauh. Aku makin meneliti tampak belakang pria bersurai kehijauan itu. Terasa pas dengan standarisasi tubuh pria idaman. Baru ku sadari pula ada sebuah tato wings yang memenuhi lehernya. Cukup menarik untuk diperhatikan, bahkan terlihat… menggoda? Dan hei, mengapa aku harus menelitinya hingga sejauh ini?

Aku menggelengkan kepala, namun manikku seolah tak ingin terlepas darinya yang kini mulai mengenakan celemek bermotif polkadot. Sepintas terlihat lucu, bahkan membuatku tersenyum untuk sepersekian detik. Bagaimana mungkin pria menyeramkan sepertinya sanggup mengenakan barang menggelikan seperti itu?

“Kau ingin makan apa?” tanya pria itu seraya membuka kulkas.

Aku berpikir sejenak, “Apa saja. Terserah.”

Ramyeon?”

Ck, ku pikir ia akan masak makanan yang lebih berkelas. Aku hanya menggumam tak jelas untuk menyetujui.

“Mau ku bantu?” tawarku yang melihatnya mulai membawa bahan-bahan seraya menghampiri.

“Tidak usah. Kau duduk saja.”

Aku mendecih, namun masih betah untuk berdiri bersisian dengan pria itu. Tangannya dengan cekatan mengiris bawang, sayuran, beserta bahan-bahan lainnya yang akan dimasak. Dari caranya yang terlihat lihai, aku yakin pria itu cukup pandai dalam memasak. Mata kami sempat bertemu pandang setelah ia memasukkan mie sebagai langkah terakhir untuk hidangannya.

Ia melirikku tajam dengan manik kelamnya, “Duduklah, nona. Biar aku sendiri yang mengurusnya.”

Lihat? Pria itu bahkan tak mempunyai sopan santun dan tak menghargai niat baikku yang ingin membantunya. Benar-benar menyebalkan! Aku kembali membanting tubuhku di kursi meja makan dengan kasar seraya mendengus sebal.

Ting!

Satu pesan masuk di ponselku. Dong Hae!

‘Sudah tidur?’

Aku menghela napas berat. Pria itu bahkan sedari tadi sore telah mengirimiku beberapa pesan yang menanyakan keberadaanku. Sialan! Aku baru ingat bahwa aku belum mengabarinya semenjak Bom menghubungiku. Aish, gadis itu juga bahkan tak tampak batang hidungnya semenjak aku tiba di tempat ini.

Saat ini aku tengah berada di dapur rumah Seung Ri yang sangat mewah setelah pria sialan ini menyeretku dengan setengah memaksa. Berbeda dari kebun belakang yang terdengar riuh akibat pesta, di tempat ini tampak sepi. Aku penasaran kemana orang tua si pemilik rumah, namun tak terlalu menghiraukannya. Orang kaya memang bebas bertindak sesuka hatinya, bukan?

Aroma ramyeon yang luar biasa menggugah selera memenuhi indera penciumanku di saat aku hendak mengetikkan balasan untuk Dong Hae. Perutku langsung berbunyi tak karuan dengan benak yang telah membayangkan betapa lezat jika aku bisa segera melahap kuah panas dari ramyeon tersebut. Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali menyimpan ponsel di tas setelah melihat pria itu mulai menuangkan masakannya ke dalam sebuah mangkuk besar.

“Makanlah,” ucapnya seraya menyodorkan mangkuk itu ke hadapanku.

Tanpa ragu, tanganku terulur untuk mengambil sumpit serta sendok dan mulai mencicipinya.

“Bagaimana? Enak?” tanyanya setelah melepaskan celemek dan menyecahkan diri untuk duduk di hadapanku.

Aku mengangguk antusias setelah menyeruput kuahnya yang pedas. Entah karena lapar atau karena rasanya yang memang mengagumkan, namun masakannya benar-benar luar biasa nikmat. Aish, rasanya aku sanggup menghabiskan satu mangkuk besar ini seorang diri dengan hanya beberapa menit saja.

Aku terhenyak untuk beberapa saat. Melihat lengkungan manis di bibirnya membuatku terdiam menatap pria yang kini tengah duduk di hadapanku itu. Haruskah aku mengatakan bahwa ia berpuluh kali lipat terlihat menawan ketika tersenyum seperti itu?

“Kau belum melunasi hutangmu, namun kini kau menambahnya lagi.”

“Hutang?”

“Hutang atas aku yang mengantarmu dari club, dan kini kau menambahnya dengan aku yang memasak untukmu.”

Manikku melebar, “Yak! Itu semua ulah Seung Ri. Jangan menimpakan kesalahan itu padaku! Lagipula… siapa yang menyuruhmu memasak untukku? Aku bahkan tak menginginkannya.”

Aku menggeser mangkuk ramyeon itu ke arahnya dengan kasar seraya mencebik.

“Yakin?” tanyanya, merujuk pada mangkuk yang kini berada di hadapannya.

Oh Tuhan, sesungguhnya aku memang sudah lapar sedari tadi, namun melihat kelakuan pria menyebalkan ini membuatku gengsi setengah mati untuk melahap lagi masakannya. Mataku sialannya tak bisa berkompromi dengan tak bisa lepas dari asap yang mengepul dari hidangan yang panas tersebut, namun aku menggeleng tegas demi meyakinkan diri untuk tetap bertahan. Ayolah, anggap saja kuah ramyeon itu terasa bagai air sungai Han.

Sedetik kemudian ledakan tawa terdengar darinya. Sial! Apa ia mengerjaiku?

“Makanlah. Aku hanya bercanda.”

Shireo!”

“Kalau begitu aku buang saja.”

“Yak!”

Teriakanku menghentikan pergerakannya yang hampir membawa mangkuk itu pergi. Aku mendengus dan akhirnya memilih menelan kata-kataku kembali untuk menolak makanan yang bahkan aromanya saja sanggup membuat cacing di perutku menggila. Persetan dengan gengsi! Urusan yang harus aku selesaikan saat ini adalah tentang suara menggelikan yang berasal dari perutku.

“Kau… mau?” ucapku lugu seraya menyodorkan sumpit ke arahnya.

Pria itu menggeleng, “Habiskan saja. Aku tahu kau lapar.”

Dalam hati aku menyetujui ucapannya lalu berdeham sebentar sebelum membuka percakapan, “Ku rasa kau pandai dalam memasak.”

“Aku?” tanyanya ragu.

Aku mengangguk seraya menggumam, “Hm, kau.”

“Hidup sendiri mau tak mau harus memaksaku agar mahir memasak.”

Alisku berkerut samar mendengar jawabannya. Hidup sendiri?

Pria itu terlihat berpikir sejenak lalu menyeringai penuh misteri, “Ibuku meninggal tepat sesaat setelah melahirkanku, dan ayahku… entahlah. Aku bahkan tak ingin mengingat pria brengsek yang terlalu sering menyiksaku dan akhirnya memilih untuk meninggalkanku sebatang kara.”

Mataku tak bisa untuk tak melebar mendengar penuturannya. Aku sempurna tersentak kaget. Astaga, haruskah aku mengatakan bahwa nasibnya lebih malang dariku?

“Ma… maaf.”

Gwaenchanna. Memang begitulah kenyataannya.”

“Nasibku juga tak berbeda jauh denganmu.”

Kini gilirannya yang menampakkan raut wajah bingung.

“Aku membenci ibuku. Amat sangat.”

Ucapan itu mengalir layaknya air tanpa sanggup ku kendalikan. Aku pun sempat heran untuk beberapa saat. Apa yang terjadi denganku? Mengapa semuanya terasa mudah untuk membicarakan hal yang cenderung sensitif ini dengannya?

Wae?”

“Karena aku tak bisa mengenalinya lagi setelah ayahku meninggal. Aku tidak bisa lagi menatapnya sebagai seorang ibu yang telah melahirkanku.”

“Setidaknya kau masih mempunyainya.”

Hendak untuk menyumpit mie lagi, namun ucapannya membuatku tersentak, “Apa… maksudmu?”

“Kau hanya ditinggalkan oleh ayahmu, namun tidak dengan ibumu. Merasa beryukurlah untuk itu,” ia tersenyum samar seraya menjeda, “Kau juga bahkan hidup dengan layak seperti orang normal lainnya. Tak perlu kesusahan sepertiku yang harus mencari beribu cara untuk bertahan hidup.”

“Orang normal lainnya? Ck, memangnya kau tidak normal, huh?”

“Kau akan kaget begitu mengenalku lebih jauh.”

“Haruskah? Memangnya dengan cara apa kau bertahan hidup?”

Pria itu mengedikkan bahunya acuh, “Biarlah itu menjadi urusanku dan berhentilah mempersoalkan nasibmu yang tak seberapa malang itu.”

Aku mendengus sesaat kemudian. Rasa sesak tiba-tiba melanda dadaku. Bisakah ia berbicara seperti itu padaku ketika tahu kenyataan sebenarnya tentang ibuku? Ck, kadang hidup selucu ini.

“Bukankah ini berlebihan? Kita bahkan tak saling mengenal, namun mengapa harus repot-repot menceritakan tentang kisah masing-masing?” tanyaku sarkastik.

“Kalau begitu, mari berkenalan,” ucapnya enteng.

Aku menatap tangannya yang ia ulurkan. Terdiam beberapa saat, “Konyol!”

“Hei, ayolah. Hanya bertukar nama apa susahnya?”

“Park Sandara. Kau bisa memanggilku Dara,” ucapku yang akhirnya memilih untuk menyambutnya.

Pria itu menyunggingkan senyum menawannya, “Namaku…”

“Ji Yong!”

Aku melepaskan tangannya seraya menoleh ke asal suara yang tiba-tiba menginterupsi. Seorang pria semampai berpenampilan perlente tengah berdiri di dekat nakas yang terletak di ujung ruangan. Seringaian yang tercetak jelas di bibirnya. Mataku membelalak, menyadari siapa sebenarnya pria itu. Bukankah ia…?

Hyung?!”

Mulutku terperangah ketika pria bersurai hijau yang baru ku ketahui namanya adalah Ji Yong itu mendekat ke arah pria lain yang ia sebut hyung. Pria yang kini telah mengubah cat rambutnya menjadi merah muda menyala, mencolok di bawah sinar lampu kristal yang tergantung di tengah ruangan. Berbeda dari sebulan lalu dimana aku mendapatinya masih bersurai kecokelatan. Pria itu! Choi Seung Hyun!

*****

“Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu sedari tadi.”

Mian. Aku ada urusan yang harus ku selesaikan terlebih dulu,” jawab Ji Yong malas seraya melirik ke arah Sandara yang masih terdiam di tempat duduknya.

Sadar menjadi objek pembicaraan tersebut, gadis itu lebih memilih untuk memalingkan wajahnya dengan terburu. Ia menunduk dengan rambut terurai menutupi wajah, menjadikan ramyeon yang bahkan belum habis setengahnya tersebut menjadi objek perhatiannya. Sandara benar-benar tak ingin menampakkan wajahnya di hadapan Seung Hyun. Mendapati kehadiran pria itu kembali membuat jantungnya bergemuruh tak menentu.

Ahjumma itu menghubungiku terus. Bisakah kau datang lagi dan menemuinya? Ku rasa ia benar-benar tertarik padamu semenjak pertemuan pertama kalian waktu itu,” Seung Hyun tanpa basa-basi mengutarakan maksudnya.

“Akan ku pikirkan.”

Seung Hyun tertawa meledek, “Apalagi yang harus kau pikirkan? Ia cantik dan seksi, bahkan sanggup membayarmu sesuai perjanjian.”

“Lalu mengapa kau tinggalkan kalau begitu?”

“Jika ada daun muda yang lebih menyegarkan untuk apa aku masih bertahan dengan daun tua? Lagipula aku sudah bosan dengannya.”

Ji Yong mendengus, “Kau selalu memberikan bekasmu padaku, Hyung.”

“Tapi bekasku selalu berkualitas, bukan?”

Ji Yong mendelik. Setengah hatinya setuju akan ucapan yang dilontarkan dari bibir pria maniak itu, “Kau mendatangiku hanya untuk mengatakan ini? Kenapa tak lewat ponsel saja?”

“Apa salahnya? Sekalian saja aku bertemu denganmu di sini, bukan?”

“Katakan saja jika kau rindu padaku.”

Seung Hyun mencebik jengkel, “Bicara saja dengan pantatku, bocah!” ucapnya asal seraya mengarahkan bokong indahnya, menggoyang kanan-kiri ke arah Ji Yong.

Ji Yong hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika pria alien tersebut telah kambuh dan mulai bertingkah ajaib layaknya kini, “Pergilah jika tak ada yang perlu kau katakan lagi.”

“Kau berani mengusirku?” manik Seung Hyun melebar lalu menyipit ketika mendapati gadis yang terduduk dalam diam membelakanginya. Gadis yang bahkan sedari tadi tak sudi untuk memperlihatkan wajahnya, “Kau tengah bersenang-senang, huh? Di dapur? Aish, tak elit sekali.”

“Jangan asal bicara, Hyung!”

Seung Hyun mengedikkan bahunya tak acuh, “Terserahlah. Aku pergi.”

Lengkungan senyum menghiasi bibir Ji Yong ketika mendengar teriakan norak Seung Hyun menggema dari arah lorong, memintanya untuk segera menghubungi ahjumma yang telah ia temui beberapa hari yang lalu. Haruskah? Namun mengapa hatinya seakan ingin menolak untuk calon pelanggannya yang satu ini? Kalau dipikir-pikir, ahjumma itu persis seperti apa yang dikatakan Seung Hyun, cantik dan seksi, bahkan juga kaya raya. Lalu mengapa hatinya seolah masih ragu?

“Ji Yong-ssi?”

Lantunan suara yang bergetar itu menyadarkannya. Panggilan ragu dari seorang gadis yang baru tahu nama aslinya setelah sekian lama. Sandara. Gadis yang bahkan sesaat lalu hampir dilupakan kehadirannya akibat kedatangan Seung Hyun. Langkahnya mendekat dengan tangan yang saling tertaut satu sama lain. Terlihat… gugup?

Wae geurae?”

Sandara menggigit bibir bawahnya seraya menunduk, seolah tak berani menatap pria yang tengah berdiri di hadapannya tersebut.

“Kenapa, Dara-ssi?” tanya Ji Yong tak sabar.

Tak selang berapa lama, wajah cantiknya terangkat pelan. Sorot matanya seolah memancarkan kepedihan dengan pandangan yang nanar, “Mungkinkah… caramu bertahan hidup selama ini… sama seperti Seung Hyun?”

.
.
.

To be continued…

 

Advertisements

13 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 8]

  1. Dara udah mulai tau ni,, ahjuma yg d.maksud seunghyun sapa ya jan sampe itu eomma.y dara,
    ayooo ji lu mau jawab apa sama dara??? pdahal udah suka sma moment mreka. jangan smpai menjauh lagi yaaaa banyakin moment daragonnya ya thor

  2. Apa mungkin cwo yg d. Maksud dara sma eomma nya itu seunghyun? Trs skrng seunghyun nawarin wanita tua buat jidi jgn”eomma na dara,, oh tidak gmn nanti kisah dra ama jidi klo bener,, 😱😱

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s