[Series] I’m Just Different – 8

image

I’m Just Different [chap 8]
Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)
Cast :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon), YG (appa Jiyong)

            Annyeong, benerkan ff author nongol semua, setelah hibernasi. Hohoho. Selamat membaca chingu.

Jiyong Pov

            Aku menghempaskan tubuhku di ranjang apartemenku yang masih kacau. Ku edarkan pandanganku pada langit-langit yang tinggi di apartemenku. Kemudian tubuhku bergerak menuju lemari brankas, lalu ku tekan 1988 kode brankasku. Dengan menghirup udara dengan berat, melihat isi brankasku. Sebuah kotak dari saat aku bisa menulis, kotak ini menyimpan semuanya. Ku bawa kotak itu menuju ranjangku ku buka dan terlihat berbaris rapi amplop berisi harapanku saat aku berulang tahun. Ku buka salah satu amplop itu yang aku sendiri yang menulisnya.

Ulang tahunku ke 7 tahun.

Appa, aku sudah bisa bermain bola dengan baik, bahkan aku mencetak gol. Dan hari ini ulang tahunku yang ke 7 tahun. Kau tidak mengucapkan apapun padaku bahkan untuk tersenyum di hari ulang tahunku pun tidak. Appa, aku ingin sekali memelukmu, merengek manja seperti teman-teman sekolahku pada ayahnya yang sering mengantar dan menjemput mereka. Aku tidak meminta banyak, aku hanya ingin kau peluk dan tersenyum padaku bahkan walau hanya di hari ulang tahunku.semoga ulang tahunku berikutnya harapan ku ini dapat terkabul.

            Aku tersenyum teriris membaca harapan bodohku. Ku buka amplop lainnya.

Ulang tahunku ke 19

Aah, mungkin seharusnya aku sudah menghentikan ini semua. Umurku sudah 19 tahun dan kau tidak pernah mengganggapku ada. Kau selalu mengenyahkan ku. Aku mulai banyak mengenal dunia kelam, aku sudah meminum alkohol di usiaku yang belum sepantasnya meminum itu. Aku sudah bermain wanita yang sama sekali aku tidak mengenal mereka. Itu semua ku lakukan hanya untuk kau peduli padaku, agar kau mau berbicara selayaknya ayah dan anak laki-lakinya. Appa,,ah aku hanya memanggilmu appa di sini saja. di luar sana aku tak bisa memanggilmu seperti itu. Egoku sudah tumbuh seiring dengan usiaku. Apakah kau masih bisa ku panggil dengan sebutan appa? Makan bersamaku pun terakhir kalinya saat usiaku 6 tahun. Setelah itu kau sibuk dengan dunia bisnismu dan tak pernah sekalipun kau melihatku. Melihat anakmu. Cih, entah ini harapan atau tidak tapi aku ingin sekali saja kau panggil aku dengan “nak”.

“Sepertinya aku saat itu terlalu bodoh, gah”ucapku lalu melempar kasar kotak yang berisi amplop-amplop harapanku. Bbbrrr, bbbrrrr. Handphone ku bergetar dan saat ku lihat, Dara mengirimiku sms.

To : Sampah tercintaku

            “Kau harus makan Ji. Dan jangan pernah menyentuh minuman beralkohol arraso. Atau aku akan membunuhmu dengan suntikan kematian, kekeke. Sa-rang-hae.”

“Nado saranghae” ucapku lirih. Namun saat aku hendak beranjak dari ranjangku, sebuah keributan berada di luar apartemenku dan kini telah berada di dalam kamarku. Para anjing-anjing penjilat Tuan Yang.

“Tuan muda, kau harus kembali ke rumah” ucap salah satu anjing itu. Aku tak pernah mau peduli nama mereka.

“Shirro, aku ingin di sini. Pergilah sebelum aku marah” ucapku menatap tajam anjing-anjing itu.

“Baiklah, maaf Tuan muda kita harus melakukan ini” ucapnya lagi dan mengedarkan pandangannya pada teman-temannya seakan memberi kode untuk menyerangku. Dengan sigap aku pun tidak tinggal diam, melawan semampuku. Namun aku hanya sendirian dan melawan 15 orang yang ahli beladiri. Kemudian gelap.

**

Dara Pov

“Dongie, kau tidak memaafkanku? Kau masih marah?” tanyaku pada Donghae yang sedang tak mau bicara padaku karena semalaman aku berada di apartemen Jiyong dan aku berniat pindah dari apartemennya.

“Ya!! Donghae-ssi kau tidak punya telinga? Iisssh, kau kekanak-kanakan” kesalku sudah memanas di otak. Bayangkan saja selama aku di Rumah sakit bersamanya dia tidak melihatku sama sekali dan menghindari berinteraksi denganku. Aku muak merajuknya.

“Aku kekanak-kanakan? Lalu kau apa? Kau masih menganggapku sahabatmu atau kau hanya ingin bersama namja aneh itu, huh? Apakah cinta membutakan mu Dara? Apakah kau tidak mengerti juga, aku..a-aku…aarrggghh sudahlah aku tidak ingin membahas ini” ucap Donghae yang berbicara dengan marah. Aku baru melihat dia marah seperti itu lagi. Dulu saat aku SMA dan berkencan dengan ketua kelas diapun sangat marah seperti ini. Gah, dasar kau ini tidak pernah merasakan bagaimana mencintai.

“Mian. Jangan marah seperti ini. Aku tak bisa hidup tanpa sahabat terbaikku”ucapku sambil memegang wajah Donghae yang tadinya sibuk dengan daftar kesehatan pasien.

“Jangan memasang wajah seperti itu Dee” ucapnya mengalihkan pandangannya, namun wajahku selalu mengikuti arah bola matanya. Sehingga ia pun menatapku.

“Dengarkan aku. Aku tidak ingin kau terluka, aku tidak ingin orang menyakitimu Dee. Hanya itu. Bisakah kau dan keluargamu tetap di apartemenku? Ku mohon” kini dia yang menangkup wajahku seakan penuh dengan permohonan.

“Arraso. Aku akan pertimbangkan lagi. Dan kau jangan marah lagi padaku. Oke” ucapku sambil memukul kepalanya.

“Aiisshht, appo. Kajja kita makan siang. Kau yang mentraktirku karena membuatku marah dan marah itu membutuhkan energi yang sangat besar sehingga aku ingin makan banyak sekarang”ucap cerewet Donghae yang sudah menjadi dirinya yang sesungguhnya.

“Ah, kajja” ucapku sambil memegang pinggangnya karena tangannya sedang merangkul bahuku seperti biasa.

**

Author Pov

            Jiyong membuka matanya, ia sangat merasa kesakitan di bagian belakang kepalanya. Ia mencoba bangkit dari ranjangnya. Ia tahu benar, ini adalah istana nerakanya. Dan saat ini ia berada dalam kamarnya. Dengan langkah gontai dan masih memegang kepalanya yang terasa berat. Ia mengedarkan matanya kepada anjing-anjing penjaga yang berada di luar kamarnya, namun membiarkannya tetap berjalan ke luar. Sayup-sayup Jiyong mendengar sebuah pembicaraan yang berasal dari ruangan appanya. Ke dua suara itu tidak asing di telinga Jiyong. Dan saat Jiyong membuka ruangan itu.

“Dara? Untuk apa kau..dan..Ya!! mengapa itu ada di sini. Kembalikan padaku” teriak Jiyong melihat kotak harapannya berada di tangan tuan Yang.

“Mengapa kau menginginkannya kembali? yeojachingu mu yang memberikan ini padaku”ucap tuan Yang dengan nada merendahkan.

“Dara? Benarkah yang di katakan pak tua itu?” tanya Jiyong pada Dara yang kini mendekat ke arahnya.

“Ji, aku mencarimu ke apartemen tapi kau tak ada di sana dan aku menemukan kotak itu yang setelah ku baca sepertinya appa mu harus tahu semua itu Ji” jawab Dara berusaha menenangkan Jiyong.

“Sudah ku bilang bukan? Dia yang memberikan ini padaku” ledek Tuan Yang membuat Jiyong semakin marah. Entah ia harus marah pada siapa. Jiyongpun melangkah tegas dengan menyeret lengan Dara dengan kencang.

**

~ Taman ~

“Untuk apa kau memberikan kotak itu padanya? Mengapa kau menyentuh dan berani membacanya? Apakah kau ingin tahu bagaimana menderitanya aku selama hidupku? Kau mau aku di cemooh olehnya? Kau mau seperti itu Dara??” tanya Jiyong berapi-api mengguncang tubuh Dara.

“Mi-mianhae Ji, bukan itu maksudku tapi aku hanya ingin appa mu tahu bahwa kau sangat menyayanginya Ji. Isi kotak itu adalah semua perasaanmu, harapanmu padanya yang tak bisa kau ungkapkan selama ini Ji. Aku hanya ingin membantumu” ucap Dara kini dengan terisak, karena Dara melihat Jiyong yang sangat marah padanya bahkan Dara merasakan sakit karena cengkraman kuat tangan Jiyong di bahunya.

“Ku mohon Dara, berhenti berhalusinasi. Dia bukan appa ku, dia hanya mencintai eomma ku yang karena kehadiranku, aku membunuh yeoja yang dia cintai. Dia bukan appa-ku. Aku bukan darah dagingnya, aku bukan anaknya, bukan siapa-siapanya.” Teriak Jiyong pada yeoja yang di teriakinya yang tertunduk lemah.

“Mianhae, jeongmal mianhae Ji. A-aku hanya ingin ..”ucap Dara tak bisa berkata lagi. Isakannya sudah menjadi tangis yang tak bisa tertahankan.

“Lepaskan dia” ucap Donghae yang tiba-tiba mucul dan menarik pergelangan Dara yang sedang menangis.

“Dongie, kenapa kau ada di sini?” tanya Dara dengan terisak.

“Aku melihat posisimu melalui GPS. Pantas saja aku mengkhawatirkanmu, kau sedang diperlakukan tidak baik oleh namja brengsek itu. Dan kau hanya diam dan menangis saja De?? Kau seperti bukan Dara yang ku kenal” ucap Donghae mengintimidasi. Dara hanya menatap Jiyong sendu, walau Jiyong kini terlihat semakin marah karena tangan Dara di genggam oleh namja lain di depannya sendiri.

“Kajja kita pulang” Donghae menarik tangan Dara dan melangkah menjauh dari Jiyong yang masih menatap tajam mereka. Wajah Dara masih menghadap kebelakang, mengarah pada satu wajah yang ingin sekali ia dekap. Namun wajah itu kini berpaling, melangkah berlawanan arah dari Dara. Ia melangkah melewati lampu taman dan PRAAAANGGG. Jiyong meninju lampu taman itu menjadi serpihan, darah mengalir dari tangannya yang masih banyak bagian-bagian kecil serpihan lampu yang ia tinju menancap di kepalan tangannya. Dara yang melihat itu langsung menghentikan langkahnya.

“Dongi-yaah, jaebal aku harus menyelesaikan ini. Ku mohon aku harus menemuinya, aku mencintainya. Ku mohon biarkan aku pergi” ucap Dara pada Donghae yang menatapnya pedih. Dalam hati Donghae, Dara sambil menangis mengatakan bahwa ia mencintai namja itu, bukan dirinya membuat hati Donghae tergores.

“Pergilah” ucap Donghae melepaskan genggaman tangannya dan melangkah tanpa melihat kembali ke arah Dara yang berlari menuju Jiyong. Dengan perasaan yang tersakiti Donghae pun melajukan mobilnya dan menumpahkan kesakitannya pada laju kendaraanya yang semakin cepat. Sedangkan Dara sedang berlari mengejar cintanya, mungkin Donghae benar cinta membutakan Dara namun Dara tahu betul jika yang ia lakukan untuk Jiyong semata.

“Ji, tunggu aku” ucap Dara masih berlari menyamai langkah Jiyong yang sudah lebih di depan.

“Ji,berhenti!!! Tanganmu terluka” Teriak Dara namun Jiyong masih melangkah tanpa terhenti. Dara pun berlari sekuatnya dan berhasil tepat di belakang tubuh Jiyong. Pluk.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku hanya ingin kau bahagia Ji. Aku hanya ingin mewujudkan harapanmu. Jangan seperti ini. Jaebal” ucap Dara memeluk tubuh Jiyong dari belakang membuat Jiyong menghentikan langkahnya.

“…” Jiyong tidak merespon apapun. Ia membutuhkan waktu untuk meredakan amarahnya.

“Ji, jika ini berat untukmu. Seharusnya kau membaginya kepadaku. Jika ini terlalu naif untukmu kau seharusnya bercerita padaku agar aku bersikap naif hingga kau tak bersikap naif sendirian, dan jika kau lelah untuk menjalaninya seharusnya kau datang padaku sehingga aku akan menjadi tumpuanmu untuk menjalani ini, dan jika ..” ucapan Dara terhenti saat Jiyong membalikkan tubuhnya, dan Jiyong menatap lekat mata Dara yang menahan air matanya.

“Kau terlalu banyak bicara nona Park” ucap Jiyong, lalu mencium bibir Dara. Bagi Jiyong kata-kata yang Dara ucapkan lebih dari kebahagiaan yang ia harapkan.

Aku melihatmu menahan air matamu dan tersenyum

Aku tahu, aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang hatiku

Aku tahu ini adalah bagaimana kau dan aku akan selamanya

Aku hanya ingin disampingmu,

Aku egois.

Tapi tolong jangan tinggakan aku

Aku hanya berbeda dari yang kau harapkan

Berhenti berada di ilusi

Emosi kosong seperi dihancurkan

Jangan sentuh aku, kau akan terluka oleh kata-kataku yang tajam

Meskipun kau mencoba meluluhkanku, aku hanya akan bertindak dingin padamu

Aku akan menyakitimu dengan kesalahan yang sama dan berbekas luka, seperti bukan apa-apa.

Aku hanya berbeda, aku hanya berbeda, aku hanya berbeda

Tapi jangan tinggalkan aku. [lyric Different by Winner]

 

TBC

<< Back  Next>>

Advertisements

24 thoughts on “[Series] I’m Just Different – 8

  1. Nyesek banget ngebaca harapannya Ji oppa ..
    Semoga aja Appa Yang bisa luluh hatinya ya .
    Dara eonni emang baik banget hatinya , dia nepatin janji.nya . Kasihan jg sih Donghae , tp mau gmana lagi eonni cintanya sama Jiyong oppa . hehe

  2. Dara beneran sumpah, diaa beneran berniat ngobatin jiyong
    Duh jiyong harusnya kamu bersyukur masih ada yang mau ngembaliin kamu ke jalan yang benar hehehe
    Happy ending plis wkwk

  3. Bikin nangis aja harapannya jiyong padahal itu harapan yg sepele tp tidak bisa terkabulkan…… semoga dara bisa ngobatin luka hatinya jiyong dengan tetap disamping jiyong….. buat donghae jangan sedih ya nanti km pasti dpt gadis yg baik dan jg mencintaimu seperti km jg mencintainya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s