DESTINY FOR THE KING [Epilog]

dftk epilog

Author : Defta

Cast     : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jung il Woo

Genre   : Drama, action (maybe), Kolosal

 

Author Note :
Mian Defta ngilang lama, ini gegara peringkat Defta yang turun di sekolah, al hasil laptop defta disita anda gak bisa ngetik buat lanjut ini FF. Tapi ini akhirnya jadi juga Epilog buat DFTK.
Berhubung masih momen lebaran, Defta mengucapkan Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Happy Reading and Thank you for all attention. ❤ Defta
From Admin DGI fams,
Selamat hari raya idul fitri juga, Defta ^^

Jangan pernah bosan ramaikan blog DGI yaah and keep writing!

1 tahun kemudian.

Kelahiran anggota baru dalam keluarga kerajaan sungguh membuat geger seluruh kerajaan yang diberi nama kerajaan joseon itu. Seorang putri dari raja dan ratu mereka terkenal karna kecantikannya, walau bayi itu baru berusia 3 bulan.

Dara berjalan seolah tanpa arah, bibirnya selalu tersenyum tapi hatinya selalu bersedih, setelah melihat cucu perempuannya ia berjalan tanpa arah. Itu bukan arah menuju kuil tempat tinggalnya selama 1 tahun belakangan. Entahlah dia hanya mengikuti kakinya melangkah.

Ia berjalan jauh dan semakin jauh dengan wajah menunduk. Tapi ketika indera penciumannya menangkap bau laut ia mendongakkan wajahnya, benar saja ia sudah sampai di depan laut. Hamparan pasir putih berada tepat depan matanya. Beberapa kapal nelayan terparkir di bibir pantai, pantai itu terlihat sepi, mungkin karna hari semakin siang dan semakin terik.

Seolah mengingat sesuatu ia mendongak keatas dan memutar tubuhnya ditempatnya berdiri, ia mencari sesuatu yang berada diatas. Sekeliling pantai itu dihiasi tebing-tebing yang menjulang tinggi dan dara mencoba melihat sesuatu yang berada di atas tebing-tebing itu. Ia memutar tubuhnya 180º kearah timur, dan ia melihatnya, sesuatu yang ingin ia lihat, sesuatu yang ia tinggalkan lebih dari 1 tahun.

Sebuah rumah yang terbuat dari kayu, terdapat 2 buah bangunan besar, dan satu pohon yang menjulang tinggi dibelakang rumah itu. Air mata Dara mulai meleleh lagi, dan dadanya mulai sesak lagi, ia merasakan tubuhnya tidak memiliki tulang.

Dara terus menatap bangunan yang ditempatnya berdiri sekarang terlihat sangat kecil, namun ia masih mengingat dengan jelas bagaimana rumah itu, rumah yang ia tempati dengan jiyong setelah keluar dari istana. Tempat dimana ia dan Jiyong berbincang, tempat dimana jiyong menggodanya dan tempat dimana mereka berpisah. Pohon besar yang menjulang tinggi itu saksi bisu bagaimana semua yang disebutkan diatas terjadi. Sekarang dara tau pantai yang ia pijaki sekarang adalah pantai yang sering Jiyong lihat. Pantai yang sangat ingin jiyong kunjungi dengannya, tapi sebelum hal itu terjadi, jiyong pergi meninggalkan Dara.

Dengan kasar dara menghapus air matanya, ia kembali berbalik dan menatap nanar pemandangan indah dihadapannya. Ia berjalan lurus, tak lama ia merasakan beberapa butiran halus dari pasir putih itu memasuki sepatu yang ia pakai. Ia kemudian berhenti dimana gelombang air yang menghantam pantai hanya dapat mengenai kakinya.

“Bagaimana kabarmu Jeonha ?” Tanyanya dengan senyuman yang masih sama. “Ah bukan… saya tak akan berbicara formal lagi dengan anda, saya akan berbicara seperti bagaimana Yongbae-ssi berbicara pada anda”

Sekali lagi air mata yang coba Dara bendung akhirnya luluh. “Kau bajingan beruntung, dimana kau sekarang, tidakkah kau tau sekarang Yongbae-ssi sudah memiliki seorang putra ? dia sangat tampan seperti ayahnya, tapi anak itu mewarsi mata indah Hyorin-ssi.” Dara menghapus air matanya dengan ibu jarinya, mendongak sebentar dan kembali menatap lautan biru dihadapannya. “Apa kau juga tau, sekarang kau adalah seorang kakek, kau sangat tua, kau memiliki cucu perempuan dia sangat cantik.” Sejenak Dara dapat tertawa mengingat bagaimana ia dapat menggendong cucunya dan cucunya itu tertawa didalam dekapannya. “Tapi kau tau dia sangat tidak mirip dengan Hanbin maupun Jisoo, dia lebih mirip dengan Jiwon….Kau mengingatnya kan ? Jiwon menitip salam padamu, dia yang pertamakali sadar bahwa kau menghilang” Bagaimanapun dara menahanya, air matanya akan tetap jatuh ketika mengingat Jiwon. “apakah kau…. apakah kau juga disana ? apakah kau bersama Jiwon ?”

Dara berhenti berbicara, ia merasa sudah cukup mengungkapkan semua keluh kesahnya, perlahan namun pasti kakinya yang dibalut sepatu berwarna merah melangkah kedepan, menerjang gelombang air yang mengenai telapak kakinya. Terus berjalan walau air laut telah mencapai lututnya, masih berjalan hingga ia merasa dalamnya laut tidak dapat lagi ia pijakdengan kakinya. Tubuhnya serasa sangat ringan, bak bulu angsa yang terbang diudara. Ia memejamkan matanya dan menikmati asinnya air laut yang membawa tubuhnya yang dari atas permukaan perlahan dan perlahan masuk kedalam air. Ia yakin, karna dalam hatinya sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jiyong, suami tercintanya.

*

*

Terangnya cahaya membuat kedua mata Dara terasa sangat silau, hingga dengan amat terpaksa Dara harus membuka kedua kelopak matanya. Cahaya putih nan terang yang masuk kedalam retina matanya, silau cahaya itu membuat Dara harus sedikit menyipitkan matanya, tapi kemudian sebuah kepala menutupi kesilauan dari cahaya itu.

Kedua mata itu menatap kedua mata Dara. Waktu serasa berhenti bagi wanita itu, sekarang ia benar-benar yakin bahwa ia berada di dalam surga, wajah itu, mata itu yang tengah menatapnya.

“Jeonha….” Lirihnya pelan, tangan lemahnya mencoba meraih rahang itu.

Baru saja tangan Dara akan mendarat ke wajah itu, bibir itu mengeluarkan suara yang keras. “SOHEE-AH….SOHEE…. DIA SUDAH SADAR….” dan sekali lagi mata itu menatapnya. “Tunggu sebentar” Ucapnya dan kemudian pergi meninggalkan Dara.

Tak lama kemudian seorang wanita masuk kedalam ruangan dimana Dara berada. Dara sekarang sudah sadar sepenuhnya, ia terbaring diatas kasur yang ia yakin kasur itu bukan berasal dari rumahnya.

“Anda sudah sadar ?” suara wanita yang masuk kedalam ruangan itupun terdengar. Ia mendekati Dara dan duduk disampingnya untuk membantu Dara duduk.

“Dimana ini ?”

“Anda berada di rumah kami, suami dan kakek saya menemukan anda ketika menangkap ikan dilaut”

“Suami anda ?”

“Dia orang yang pertama anda lihat ketika anda sadar tadi”

Entah kenapa waktu adalah hal yang dibenci Dara, ketika ia ingin waktu itu berhenti waktu malah berjalan dengan cepat dan jika Dara ingin waktu untuk berjalan cepat ia malah merasakan bahwa waktu berhenti. Seperti sekarang, otaknya mencerna pria yang ia lihat pertama kali, pria itu adalah Jiyong, orang yang tidak diketahui keberadaannya selama 1 tahun belakangan, pria itu adalah suaminya, ayah dari ketiga anaknya dan kakek bagi putri Hanbin. Tapi kenapa wanita itu menyebut Jiyong sebagai suaminya ? otak Dara terus mencerna semua itu ketika pintu yang berada dalam ruangan itu terbuka dan menampakkan wajah yang ia lihat pertama kali.

“Sohee-ah… Kakek mencari mu” suara itu adalah suara jiyong, suara yang tidak pernah memanggil nama wanita lain selain Dara, kini memanggil nama wanita lain.

“Ada apa lagi ?”

“Entahlah”

Wanita yang bernama Sohee itu kemudian menatap Dara. “Mohon tunggu sebentar” Ucapnya yang kemudian bangkit, dan berjalan menuju pintu, berhenti sebentar untuk bertanya pada pria itu dan kemudian menutup pintu, membuat Dara kehilangan kesempatannya untuk menatap pria itu lebih lama untuk memastikan apa dia benar jiyong atau bukan.

*

*

Suara deburan ombak memang indah, tak salah jika ia betah untuk mendengarkan suara itu dengan mata yang tertutup seolah merasakan alunan air yang menyentuh pasir itu dengan lebih jelas.

“Anda disini rupanya” Sekali lagi suara itu masuk kedalam gendang telinganya.

Dara mendongak mencari sumber suara dari pria itu. Matanya tak lepas untuk menatap wajah itu. Benarkah itu Jiyongnya ? Kenapa pria itu tidak mengenalinya ? pertanyaan itu langsung muncul di otaknya.

“Anda pergi tanpa pamit, kami semua mencari anda”

“S…siapa kau sebenarnya…” Tanya dengan ragu dengan tatapan yang masih mengarah pada wajah pria itu. “Siapa kau ?” Tanyanya lagi dengan lebih mantap.

Sepasang mata jernih itu menatapnya lagi. “Saya ? Nama saya maksud anda ? Nama saya Jiral, Yang Jiral”

“Bohong…” Sahut Dara dengan cepat. “Namamu bukan Jiral… dan margamu bukan Yang… kau…”

“SUAMIKU….” Suara dari Sohee menghentikan ucapan Dara. Wanita itu terlihat berlari kearah Dara dan pria itu berada. “Anda disini, kenapa anda pergi keluar, kami mencemaskan anda” Ujar Sohee dengan nada yang khawatir. “Kami bahkan belum tau nama anda”

Dara tersenyum lemah kepada Sohee, ia menatap wanita itu. “Sandara, Sandara Kwon” Tapi ketika ia menyebutkan merganya ia menatap Pria yang mengaku dirinya bernama Jiral. “Seseorang biasanya memanggilku Dara”

Suara kekehan sohee terdengar. “Anda memiliki marga yang sama dengan raja negri ini”

“Ya, Dia putraku” Ucap Dara singkat sambil terus menatap Jiral.

“Omo…” Tanpa basa-basi lagi Sohee dan Jiral berlutut dan menunduk dihadapan Dara.

“Aku hanyalah mantan Ratu, kalian tidak perlu seperti ini” Dara kemudian meraih bahu Sohee dan menarik wanita itu untuk kembali berdiri. “Perlakukan aku seperti saat sebelum kalian mengerti namaku”

“Tapi Mama…”

“Kumohon”

Baik Jiral maupun Sohee hanya saling menatap satu sama lain dalam diam, sedang Dara hanya kembali menatap birunya (cinta kita berdua #Tendang Defta si pengacau suasana) laut yang terbentang sangat luas, ia menarik nafas panjang dan menguatkan hatinya, lalu menatap Sohee.

“Sohee-ssi… boleh ku tau margamu ?”

“saya ?” Sohee menunjuk dirinya sendiri, dan dia mulai gugup. “Yang, Yang Sohee”

Senyuman kecut keluar dari bibir Dara. “Memang bukan hanya aku dalam hidupnya” gumamnya dengan pelan, sangat pelan hingga Jiral maupun Sohee tak dapat mendengarnya.

Ahn sohee mungkin memang sudah mati, tapi sebagai gantinya langit mengirim Yang Sohee.

“Tapi Dara-ssi… bagaimana anda bisa di tengah lautan ?”

“Aku mencari suamiku” Dara kemuidan menatap Jiral. “Dia sangat suka laut, aku berharap bisa menemukannya, walau dia kehilangan ingatannya”

“Baiklah kalau begitu Dara-ssi, kembalilah kerumah kami segera, hari mulai menjelang malam” Ucap Sohee membuat Dara menoleh kepadanya, dan mata mereka kembali bertemu, Dara menyelami mata wanita itu, dan menemukan bahwa irisnya bergerak kesembarang arah menandakan wanita itu tengah gelisah.

*

*

Malam yang sunyi menemani Dara, ia berada di beranda rumah orang yang menolongnya. Yang ia tau orang yang tinggal dirumah itu berjumlah 3 orang, seorang kakek tua bernama Yang Hyun suk, dan sepasang suami istri, well mereka mengaku begitu, tapi tidak bagi Dara. Karna baginya Jiral dari keluarga itu adalah Jiyongnya.

Kapal-kapal yang berada di bibir pantai masih berada ditempatnya, tak ada satupun nelayan yang berani melaut karna sedang terjadi pasang naik air laut dan ombak yang terlampau tinggi hingga mungkin dapat membuat kapal mereka terbalik.

Dara merasakan kedinginan itu di kulitnya, tapi sedingin apapun tubuhnya tidak akan sedingin hatinya saat ini. Matanya mulai pedih karna air mata yang mendesak keluar.

“Kenapa anda berada disini ?” Seorang kekek yang sudah bungkuk menghampiri Dara.

Wanita itu tersenyum menyambut kehadirannya. “Hanya mencari udara segar” Jawabnya dengan bahasa formal.

“Saya hanya nelayan rendahan, bagaimana mungkin anda menggunakan baha formal kepada saya” Kakek tua itu menundukkan wajahnya.

“Tapi anda lebih tua dari pada saya, sudah sepatunya saya hormat kepada anda”

“Tapi anda adalah….”

“Saya tidak pernah membedakan seseorang melalui kasta, saya akan menghormati orang yang menurut saya pantas untuk dihormati, dan anda salah satunya. Terimakasih karna telah menyelamatkan saya”

Kakek tua bernama Hyunsuk itu kemudian duduk disamping Dara. “Jiral yang pertamakali melihatmu”

“benarkah ?” Dara mengagguk kecil.

“Aku mendengar semuanya dari Sohee” Dara menatap kakek Hyunsuk dengan pandangan penuh tanya. “Tentang kau yang mencari seseorang itu” Dara kemudian mengagguk mengerti jalan pikiran kakek itu. “Sepertinya orang yang kau cari itu adalah Jiral”

Dara hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan Kakek Yang.

“Aku sudah sangat lama hidup, dan aku dapat mengetahuinya dalam sekali lihat”

“Dimana anda menemukannya ? dimana anda menemukan Jiyong kami ?” Dara bertanya dengan tidak sabar.

Kakek Hyunsuk mendesah. “Sohee yang menemukannya ketika ia akan mencuci baju, Jiral tersangkut diantara dua buah batu besar, Sohee mengira pria itu sudah mati, karna ketakutan dia memanggilku, aku membantunya keluar dari 2 batu itu dan sebuah keberuntungan bahwa dia masih selamat”

Dada dara akhirnya dapat bernafas dengan lega, seakan batu besar yang menimpa dadanya itu hilang sudah “Apa ketika ia bangun dia sudah kehilangan ingatannya ?”

“Jiral bangun setelah 2 hari, dan ya dia sudah kehilangan ingatannya begitu ia tersadar”

“Syukurlah”

“Tapi… bisakah saya meminta sesuatu?”

*

*

Pagi baru saja menyingsing, matahari pagi masih berada di ufuk timur ketika Dara yang terbangun karna mendengar suara jiyong ah.. maaf Jiral.

“SOHEE-AH…SOHEE-AH…KAU DIMANA ?” dia berteriak dengan keras.

“DIA PERGI KE PASAR” Suara kakek Hyunsuk menjawab pertanyaan Jiral.

Pria itu kesal dan menghentakkan kakinya. “Kenapa dia pergi tanpa menungguku, ah…” umpatnya, ia mencari wanita itu untuk membuat simpul untuk durumaginya, ia meraik kedua tali itu dan mencoba membuat simpul tapi sebuah tangan putih mengambil alih tali itu, menyimpulnya dengan rapi.

“Dara-ssi ?”

Dara mendongak dan menatap Jiral. “Saya sering melakukannya pada suami saya dulu, dia bahkan marah ketika saya tidak ada disisinya ketika ia memakai durumagi”

#FLASHBACK (Flash back ini adalah lanjutan dari Part 12, inget gak waktu adegan Hyorin sama Yongbae kan si Hyorin ngomong kalau yang buat makanan itu Dara karna Jiyong lagi ngambek, dan inilah alasan Jiyong itu ngambek)

“DARA-AH….” Jiyong menjerit dengan durumagi yang belum diikat, ia berteriak dari kamarnya. Teriakannya cukup membahana sampai terdengar sampai bangunan kedua dimana Dara berada.

Wanita itu seperti teringat sesuatu, lalu ia berlari dengan cepat menuju bangunan lainnya, ia bahkan terjatuh di anak tangga terakhir karna hanboknya. Ia mendesah kecil lalu melanjutkan berlari menuju ke kamar yang ditempati Jiyong.

Ketika ia membuka pintu itu Jiyong sudah memunggunginya. Dengan terengah-engah ia berjalan mendekati Jiyong, ketika ia sampai didepan pria itu, jiyong justru membuang wajahnya dan membuat ekspresi kesal.

“Maafkan saya, saya berada di dapur sedari pagi dan lupa….” dara meraih kedua ujung tali dai durumagi biru yang jiyong pakai, menyimpulnya dan menatanya sedemikian mungkin.

Jiyong mendengus. “Kau lupa pada suamimu sendiri eoh ?”

“Lagi pula anda bisa menyimpulnya sen…” Begitu mendapat tatapan tajam dari Jiyong, Dara menghentikan ucapannya dan menunduk sambil mengutuk dirinya sendiri.

“Ah… jadi kau sudah tidak mau melayani aku eoh ? Seperti itu maksudmu ?”

“Bukan seperti itu…” Sargah Dara dengan cepat.

Perlahan tangan Jiyong terangkat dan meraih dagu Dara. “Lalu seperti apa ?” Mengerti maksud dari Jiyong, Dara memejamkan matanya dengan erat, lalu dengan tiba-tiba berdiri membuat sentuhan jiyong didagunya lepas begitu saja.

“Saya harus kembali ke dapur” Ucap Dara dengan cepat, ia membungkuk sebentar dan kemudian berlari keluar.

Jiyong yang baru sadar hanya membuka mulutnya dengan tidak percaya. “DARA-AH….”

#FLASHBACK END

“Jadi suami anda juga tidak bisa menyimpulkan tali durumagi ?” Tanya Jiral kemudian.

Dara tersenyum sambil menunduk. “tidak, dia bisa melakukannya, hanya saja dia selalu membuat alasan agar saya yang membuat simpul itu untuknya” Dara kemudian mendongak dan menatap wajah Jiral. “Sama seperti anda”

“AKU PULANG…” Suara Sohee menggema.

Dara beranjak dari hadapan Jiral dan menunggu kehadiran Sohee di depan pintu. “Ada yang bisa ku bantu ?” Tanya Dara yang melihat Sohee kesulitan membawa barang bawaannya.

Dara kemudian membantu Sohee memasak, dia membuat masakan yang kebetulan adalah kesukaan Jiyong, sedikit berharap Jiral akan mengingat masakan itu.

Tapi entahlah, bahkan pria itu bereaksi datar ketika memakan makanan yang ia masak. Hal itu membuat bahunya menjadi lemas.

*

*

Pasang naik air laut belum juga usai keesokan harinya, dan hari itu Jiral juga tak melaut.

Senja di hari itu membawa angin segar, angin dari laut yang sangat khas, Dara duduk diberanda rumah, tapi kemudian ia beranjak dan turun untuk memakai sepatunya tapi rok panjangnya sedikit mengganggunya dan dia terpeleset ketika hendak memakai sepatunya itu. Ia bersiap merasakan sakit tapi tiba-tiba sepasang tangan kekar meraih tubuhnya.

“Anda baik-baik saja ?” Dara tersenyum dan kemudian menyeimbangkan badannya agar bisa lepas dari rengkuhan pemilik tangan itu.

“Neh, Terimakasih Jiral-ssi” Ucapnya kemudian kembali memakai sepatu yang belum sempat melekat di kakinya.

Melihat hal itu Jiral mengerutkan dahinya. “Anda akan kemana ?”

“berjalan-jalan” Jawab Dara sambil menunjuk pantai. “Apa masih pasang ? Aku ingin melihat-lihat”

“Apa anda mau menangkap ikan bersama saya ?”

Dara berjingkat senang, ia menatap Jiral dengan tatapan ketidakpercayaannnya. “Benarkah ?”

“Kenapa kita pergi kesini ? Apa ada ikan disini ?” Tanya Dara ketika Jiral justru membawanya ke tempat dimana sudah tidak ada pasir pantai yang ada hanya karang-karang yang licin.

Jiral mengulurkan tangannya, membantu Dara untuk melewati karang-karang licin itu. Dan dengan sedikir terpaksa Dara meraih tangan itu karna ia tak mau berakhir dengan basah kuyup oleh air laut. “Disini banyak ikan yang terperangkap diantara karang-karang. Mereka terbawa arus pasang dan berakhir disini” Jelas Jiral.

Dara hanya mengagguk menandakan ia mengerti.

Setelahnya perburuan ikanpun dimulai, beberapa ikan seukuran telapak tangan orang dewasa mulai Dara dan Jiral tangkap. Ah bukan mereka, karna hanya Jiral yang menangkap ikannya sedang Dara hanya menunjuk ikan yang dilihatnya dan menyuruh untuk menangkapnya.

Dara tertawa setiap kali Jiral gagal menangkap ikan, atau ikan itu terlepas dari tangannya. Dan tanpa ia ketahui itu adalah tawanya yang pertama kali setelah kepergian Jiyong. Ia tetawa lepas, ia mentertawakan Jiral yang wajahnya 100% mirip dengan Jiyong. Bukan tapi pria itu memang jiyong.

“Disana…” Tunjuknya pada sebuah celah karang yang terisi seekor ikan.

Jiral membawa seekor ikan yang cukup besar, itu hasil penglihatan Dara yang masih sangat bagus. Ia kemudian berjalan kearah Dara dan menyodorkan ikan itu. “Anda tidak mau memegangnya?”

“Tidak terimakasih”

“Anda yang melihatnya, jadi anda harus memegangnya”

Perlahan Dara menangkupkan tangannya, dengan wajah yang takut ia mentap ikan itu, jiral tersenyum lebar dan mulai meletakkan ikan itu ditangan Dara. Setelahnya ia kembali mencari ikan dan meninggalkan Dara.

Ikan itu terus bergerak-gerak diatas tangan Dara, dan ia mencoba mempertahankan ikan itu untuk terus berada ditangannya, tapi ia terlalu takut dan kemudian salah satu jari tangan kanannya terkena sayatan dari sirip tajam ikan itu hingga akhirnya ikan yang berada ditangan Dara terlepas begitu saja. Ia pun menjerit kesakitan.

“Dara-ah…” Suara Jiral yang panik kemudian terdengar, ia pun mulai berlari kearah Dara.

Wanita itu terus menekan jarinya yang terluka berusaha menghentikan darah yang terus saja keluar. Jiral yang sudah berada disampingnya langsung meraih tangan Dara dan menghisap darah yang terus saja keluar dari jari Dara. “Kau baik-baik saja ?” Tanya Jiral yang tanpa ia sadari ia menggunakan bahasa non formal pada Dara.

“N…neh” Jawab Dara dengan gugup, bahkan ia tak tau kenapa dirinya gugup.

Jiral kemudian menuntun Dara ketempat yang kering,tempat yang tidak terjangkau oleh air laut, dan mereka duduk disana. Jiral kemudian menyobek lengan bajunya, melilitkannya ke jari Dara yang sudah berhenti mengeluarkan darah.

“Apa masih sakit ?” Jiral meniup jari Dara yang terluka.

Dara yang menyadari posisi mereka terlalu dekat dan Jiral yang masih memegang tangannya, langsung menarik diri dan membuat jarak dengan Jiral. “Sudah lebih baik” balas Dara.

Kesunyian menghampiri mereka, hanya ada suara angin yang menderu dan suara ombak yang terus saja menghantam pasir pantai.

“Itu…Tentang orang yang kau cari” Jiral membuka suaranya membuat Dara menoleh padanya. “Apa mungkin itu adalah aku ?”

“Kenapa anda berfikiran seperti itu ?”

“Karna aku hanya memiliki ingatan 1 tahun belakangan saja, jadi mungkinkah itu aku ?” Pria itu menatap Dara, mendalami mata indah wanita itu. “Mungkinkah orang yang anda cari adalah aku”

“Kau akan ingat jika ingatanmu kembali”

#FLASHBACK#

“Tapi… bisakah saya meminta sesuatu?” Kakek Yang bertanya. Tentu saja Dara mengiyakan permintaan kakek itu, karna biar bagaimanapun ia berhutang budi padanya. “Bisakah anda biarkan Jiral tetap berada disini sampai ingatannya kembali dengan sendirinya ?”

Dara terdiam. Ia tau jika masih ada yang akan kakek itu katakan.

“Sohee adalah cucuku satu-satunya. Jiral adalah nama suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, Jiral meninggalkan Sohee ketika sohee tengah mengandung anak mereka. Dan setelah melahirkanpun bahkan Sohee tidak bisa melihat anaknya”

“Apa yang terjadi ?”

“Keluarga Jiral mengambil anaknya” Kakek Hyunsuk sudah berderai air mata. “Sohee tidak pernah sekalipun bahagia setelahnya, tapi ketika pria itu muncul, Sohee seolah mendapatkan kembali nyawanya” Kekek tua itupun meraih tangan Dara dan menggenggamnya. “Tolong biarkan Sohee bahagia lebih lama lagi, dia sudah terlalu lama menderita”

#FLASHBACK END#

“SUAMIKU” Suara teriakan Sohee terdengar.

Dara akhirnya mendapatkan alasan untuk membuat jarak dengan Jiral. “Sohee-ssi pasti mencari kita” Ia-pun berdiri dari posisi duduknya. “Ayo kembali Jiral-ssi” Ucapnya sambil tersenyum, mencoba senatural mungkin, menyembunyikan perasaan sedihnya.

*

*

Hari ini adalah hari ke 4 Dara berada dirumah keluarga Yang, ia tengah duduk di beranda saat suara tapal kuda yang beradu dengan pasir pantai terdengar. Bahkan dengan itu ia bisa mengenali siapa yang datang.

“Dara-ssi” Suara lemah pria itu terdengar.

“Apa sulit mencariku ? Yongbae-ssi” Yongbae turun dari punggung kudanya, mengikat tali kekang kudanya pada sebuah tiang dan kemudian berjalan menuju tempat dimana Dara berada.

Sang bagaskara mulai menjulang tinggi, tapi Jiral dan kakek Hyunsuk belum juga berlabuh. Dara sudah berpamitan kepada Sohee dan ia memakai kembali pakaian terakhirnya. Ia baru saja akan naik keatas punggung kuda Yongbae saat sosok bungkuk dari kakek Hyunsuk terlihat.

Senyuman terbit di bibir Dara, ia menunggu dengan sabar kehadiran kakek itu, beserta dengan Jiral dibelakangnya.

Melihat Dara yang berhenti dari kegiatannya membuatYongbae penasaran, iapun mengarahkan pandangannya ketempat dimana dara melihat. Kedua mata Yongbae melebar seketika. Sama seperti Dara, ia juga melihat Jiral adalah Jiyong. “Bajingan itu…” Tanpa basa-basi Yongbae berlari kearah jiral dan langsung memukul pria itu hingga ia jatuh diatas pasir.

“YONGBAE-SSI…” Dara berteriak sambil ikut berlari, bersaman dengan Sohee. Ia menjauhkan tubuh Yongbae dari Jiral. “Dia bukan Jiyong” Ucap Dara pelan hingga Yongbae tak bisa mendengarnya karna ia terlanjur emosi. Ia memberontak dan akan kembali menyerang Jiral, hingga sudut bibir pria itu berdarah.

“HEH BAJINGAN BERUNTUNG…. Kemana saja kau selama ini… kau membuatku gila…”

“KUBILANG DIA BUKAN JIYONG YONGBAE-SSI” Akhirnya Dara berteriak membuat Yongbae berhenti seketika. Tubuhnya kaku dan ia hanya menatap Dara yang menuduk dan Jiral yang sedang dibantu berdiri oleh Sohee secara bergantian. “Dia bukan Jiyong kita” tambah Dara dengan suara yang bergetar.

“Tapi Dara-ssi…”

Dara mendongak, dan menghapus air matanya. Ia menatap keatas. “Yongbae-ssi kau ingat tempat itu ?” Tanyanya menghetikan ucapan Yongbae, ia menunjuk rumahnya dan Jiyong.

“Rumah itu…”

“Neh, ayo kembali kesana, Aku berharap Jiyong juga akan kembali kesana karna aku akan menunggunya disana, walau itu akan memakan sisa umurku”

“Dara-ssi…”

Dara berbalik dan menatap Kakek Hyunsuk, Sohee dan Jiral bergantian. “Terimakasih karna telah menyelamatkan saya” Dia membungkuk sebagai penghormatan. Lalu meraih lengan Yongbae untuk menarik pria itu. Sedang yongbae sesekali berbalik untuk memastikan penglihatannya.

Selepas kepergian Dara, Jiyong berada di dalam kamarnya untuk mengganti baju setelah ia mandi, ia meraih salah satu durumagi berwarna biru kemudian memakainya. Tapi ketika tangannya menyentuh dua buah ujung tali durumagi itu ia berhenti sesaat, sebuah senyuman muncul di bibirnya dan dengan cekatan tangannya menali kedua tali itu hingga membentuk simpul.

Suara pintu yang tergeser dan suara sohee bebarengan dengan Jiral yang selesai membuat simpul. Iapun berbalik dan menatap wanita itu. “Eoh…” Ekspresi Sohee terkejut. “Kau sudah menalinya ? Aku datang untuk menyimpulkannya untukmu”

“Sohee-ssi…” Panggil Jiral, ia akan melanjutkan kata-katanya, Tapi Sohee terlebih dahulu kembali membuka suaranya.

“Sudah setahun aku melakukannya, ku kira dengan hanya melihatnya selama setahun kau akan bisa melakukannya sendiri” Sohee membuat alasannya sendiri mengapa Jiral dapat membuat simpul durumaginya.

“Sohee-ssi dengarkan aku” Jiral meraih tangan Sohee. “Aku sudah bisa melakukannya bahkan setahun yang lalu” Ia kemudian memberi jeda pada ucapannya sambil menatap Sohee dengan dalam. “Hanya, di dalam setiap tidurku ada sepasang tangan yang senantiasa membuat simpul itu untukku”

Sohee-pun tertawa, ia kemudian menarik tangannya yang berada dalam genggaman Jiral “Apa yang kau bicarakan”

Jiralpun tak mau kalah dan kembali menggenggam tangan Sohee dengan lebih keras. “Itu sebabnya aku bertanya-tanya, apakah ini tangan yang ada dalam mimpiku itu” Jiral menatap kedua tangan Sohee dalam genggamannya. “Tapi… selama setahun ini, sekeras apapun aku menyakinkan diriku” Pria itu kembali menatap kedua mata Sohee. “Bukan..”

“Berhenti membuat dongeng, dan ayo lekas makan, Kakek pasti sudah menunggu” Sela Sohee sambil sekali lagi menarik tangannya, ia kemudian berbalik memunggungi jiral, dan lalu berjalan menjauh.

“Maafkan aku Sohee-ssi”

*

*

2 BULAN KEMUDIAN

Yongbae tengah menggendong putranya di depan rumah Dara. Istrinya Hyorin dan Dara tengah pergi ke kuil untuk sembahyang. Ia terus menimang putranya yang sudah memejamkan matanya itu.

“Aku bahkan sudah memiliki seorang cucu dan kau baru memiliki bayi eoh ?” Suara seorang pria mengagetkan Yongbae. Suara itu berasal dari balik punggungnya, ia berjalan menuju ke beranda dan menaruh bayinya yang sudah tertidur disana. Kemudian kembali turun dan berlari menuju ke pria yang berusara tadi.

Ia berlari dengan sekuat tenaga dengan tinju yang sudah berada diudara, tapi sayang ketika tinju itu dilayangkan hanya angin pagi yang menerimanya. “Ei… aku sudah kebal dengan pukulanmu” Ucap pria itu dengan santai. “Apa kabarmu, sahabatku”

“Kau masih mengaggapku sahabat eoh ?” Yongbae menaruh tangannya dipinggang. “Kau ingat padaku Kwon Jiyong-ssi ?”

“Maafkan aku” Ya pria itu adalah Jiyong. “Dimana Dara ?” Tanyanya langsung to the point.

“Ke kuil” Balas Yongbae singkat. Ia berbalik dan kembali menuju beranda untuk mengambil bayi laki-lakinya dengan Jiyong mengekor di belakangnya.

“Siapa namanya ?” Tanya Jiyong lagi. “Bayimu ?” Lanjutnya.

“TaeHyun, Dong Taehyun”

Jiyong mendesah “Harusnya dia memakai marga Lady Min saja, dia sungguh tidak cocok memakai margamu”

“APA KAU BILANG !!!” Emosi Yongbae sudah berada di ubun-ubun, ia kembali menaikkan tinjunya, tapi sekali lagi Jiyong dapat menghindar, ia berlari dengan cepat dan mengambil bayi Yongbae yang bernama Taehyun itu dalam gendongannya.

Dengan pelan, Jiyong menimang bayi laki-laki yang tengah tertidur itu. “Bukankah usianya sama dengan usia cucuku ?” Jiyong kemudian membuka suaranya lagi. Dan lagi-lagi ia bertanya membuat Yongbae jengah.

“Neh, Taehyun lebih tua 3 bulan” Jiyong-pun mengagguk tanda dirinya mengerti. “Kapan ingatanmu kembali ?”

“2 bulan yang lalu”

“LALU KENAPA KAU BARU KEMBALI SEKARANG EOH ?” / “OEK…OEK..” Yongbae berteriak dengan keras, hingga membangunkan Taehyun dalam tidurnya dan bayi itupun menangis.

“Kau ini… gendang telinganya bisa pecah karna suaramu” komentar Jiyong sambil menyerahkan bayi itu kembali dalam pelukan sang ayah.

Disaat yang berdekatan suara kayu yang terjatuh ke tanah terdengar. Disana ada 2 orang wanita yang tengah berdiri, ya tanpa harus diberi tahupun kalian akan tau siapa 2 wanita itu, mereka adalah Dara yang Hyorin.

Hyorin mengambil kotak kayu yang jatuh ditanah, dan kemudian berjalan meninggalkan Dara yang tetap berdiri mematung disana. Hyorinpun tak lupa membungkuk didepan Jiyong dan kemudian meraih Taehyun yang menangis dalam gendongan Yongbae. Wanita itu kemudian memberi isyarat lewat mata pada Yongbae untuk masuk kedalam rumah, dan tentu saja pria itu memahami dan mengagguk menuruti istrinya.

Hanya ada Dara dan Jiyong sekarang, keduanya saling menatap satu sama lain dalam diam. Hingga tak lama kemudian Jiyong beralih dari kediamannya, ia berjalan sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Ia berdiri tepat di depan Dara dan langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat. “Aku merindukanmu”

Bukannya membalas pelukan Jiyong, Dara justru melepaskan tangan jiyong yang melilit pinggangnya dalam diam. Tangan lemahnya memukul dada bidang jiyong dengan terus menerus, tak lama tetes demi tetes air mata meluncur bebas dari pelupuk mata Dara, terus berlanjut sampai isakannya keluar. “Saya berfikir anda tidak akan pernah kembali” Ucap dara disela-sela isak tangisnya.

“Maaf karna membuatmu menunggu terlalu lama” Jiyong kemudian meraih kedua tangan Dara yang masih terus memukul dadanya. “Maafkan aku”

Dibawah pohon yang menjulang tinggi nan rindang itu dara dan jiyong menatap laut sambil berpelukan. Hembusan angin menjadi selimut kemesraan mereka, kicauan burung menjadi melodi yang mengiringi gugurnya dedaunan yang bergoyang.

“Sejak kapan anda mengingatnya ?” Dara yang pertama membuka suara setelah mereka berada disana kurang lebih 1 jam yang lalu.

Jiyong mendesah. “Sejak pertama aku menemukanmu di laut” pria itu lantas mencium pucak kepala Dara. “wajahmu selalu muncul dalam mimpiku”

“Berhenti mengarang cerita”

“Aku berbicara yang sesungguhnya, dan ketika kau berbicara dengan kakek Yang….”

Dara berbalik dengan cepat dan menatap Jiyong. “Anda mendengarnya ?” Jiyong kemudian menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

“ketika pertama kali kau menyebut namaku yang sebenarnya, semua kilasan yang menjadi mimpiku terkumpul menjadi satu” Jelas Jiyong sambil kembali memeluk Dara dari belakang dan ia menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

Pandangan mereka kemudian tertuju pada rumah keluarga Yang, dimana dari mereka berdiri sekarang bangunan itu terlihat sangat kecil, tak lama seorang pria berusia sekitar 16 tahun keluar dari rumah itu.

“Itu Yang HongSeok” Ucap Jiyong. “cucu Kakek Yang, putra Sohee-ssi” Dara hanya diam menyaksikan semua kegiatan pria muda itu. “Dia seumuran dengan Hayi” lanjut Jiyong.

Kesunyian menjadi jeda bagi mereka. “Itukah yang membuat ….”

“Neh… itu yang menghambatku, aku mencari keberadaan Hongseok sebelum kembali kemari, kakek Yang sudah terlalu tua dan tidak ada yang dapat diandalkan lagi dalam rumah itu”

“Anda membuat anak itu menjadi tumbal pengganti anda eoh ?” Ucap dara dengan nada mengejek. Hingga jiyong melepaskan pelukannya dan membalik badan Dara hingga menghadapnya.

“Lalu kau ingin aku kembali kesana ???” Tanya Jiyong dengan nada yang sangat serius.

Tiba-tiba saja Dara tertawa dengan keras, ia kemudian mengalungkan tangannya dileher Jiyong dan mencuri kecupan di bibir pria itu. “Coba saja kalau berani”

Sebuah smrik nakal muncul dari bibir Jiyong, namun kali ini Dara tidak lagi takut, ia malah kembali mengecup bibir Jiyong, kali ini bahka lebih lama dari sebelumnya. “Kau mulai berani sekrang eoh ?”

Didunia ini memang tidak ada yang pernah abadi, tapi ketahuilah ada satu hal yang memang tidak akan pernah menghilang dari dirimu, yaitu takdir. Kemanapun dirimu, bagaimanapun dirimu dan siapapun kamu, takdirmu akan selalu bersama dengan dirimu. Sekeras apapun kau mencoba untuk menghindari atau bahkan menhapuskan takdir, kau tak akan pernah bisa. Karna takdirmu adalah jalan kehidupanmu yang terbaik. –Destiny For The King

.

.

.

.

.

.

.

=END=

See you in another fanfict…. ❤

 

Advertisements

12 thoughts on “DESTINY FOR THE KING [Epilog]

  1. jadi jiyong lupa ingatan makanya gak kembali ke dara saat sadar
    Kirain bakal sad ending tapi syukurlah happy ending
    Bacanya smpe dag dig dug hampir serangan jantung
    Ditunggu ff selanjutnya yah
    Minal aidin wal faidzin yah

  2. Duh ceritanya bagusbangettt… kirain aku ahn sohee balik beneran, ternyata orang lain….
    Dan aku kira jiyong meninggal juga :”
    Tapi akhirnya happy ending yeayy…
    Ditunggu karya yang lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s