HELIOS [Chap. 1]

picsart_02-19-07-52-30

Author : Rikza Winanda

Sebuah permainan yang memainkan manusia sebagai tokoh utama.

Pembalasan dendam yang menyeret orang lemah sebagai umpan.

Bagaimana seorang manusia merebut kekuasaan makhluk yang mereka sebut-sebut sebagai erebus dengan mudah dan melakukan pembunuhan beruntun yang mengenaskan.

Siapa yang bisa mencegahnya dan keluar hidup hidup ?

~~~

Rintikan air hujan terus menerus turun diseluruh penjuru kota Seoul. entah apa yang terjadi , tapi hari ini tidak seperti biasanya. Cuaca yang basah dan dingin membuat semua orang berbondong-bondong masuk kedalam rumah.

Belum lagi, tepat pada 21.00 pm. Satu kejadian mengenaskan terjadi di sebuah tempat penelitian forensik di kota itu. Kejadian yang membuat satu orang doktor tewas mengenaskan dengan dirinya sebagai kelenci percobaan pengembangan projek yang di rancang oleh rekanya.

Sesekali terdengar kilat yang menyambar memecah gelapnya malam kota itu, bagaimana tidak ? Mungkin alam ini juga tidak menerima saat seoarang doctor baik hati itu terbunuh sia-sia. Kesalahan yang di alami rekanya memaksa dirinya untuk mengakhiri kisah hidupnya.

Terlihat seorang putri dari doctor yang tewas tersebut terus menangis saat dirinya mengetahui ayahnya tewas tergeletak didalam ruangan tempat bekerjanya. pikiran-pikiranya terus menerus memerintahkan untuk membunuh siapa saja yang telah melakukan hal keji ini kepada ayahnya.

Dia merobek-robek apa saja yang ada didalam ruanganya dan terus menerus melontarkan kalimat yang bahkan tidak layak untuk di dengarkan.

“akan ku balas apa yang telah kalian lakukan pada ayahku, dokter gila! Akan kupastikan kau akan berakhir mengerikan!”

Gadis yang pendiam itu berubah. warna merah dimatanya dan juga air mata yang masih menempel dipipinya menambah kengerian siapa saja yang melihatnya.

Bagaiama dia harus menerima kenyataan? Hal yang dia punya hanyalah ayahnya, dan malam ini dengan teganya orang-orang br*ngs*k itu mengambil satu-satunya yang dia miliki.

Dia menangis, menangisi atas kejadian yang tak pernah disangkanya selama ini. namun seketika rasa penat dan lelah yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya,tangisanya yang berawal seperti raungan rasa sakit berlahan-lahan berubah menjadi isakan-isakan kecil yang kemudian membawa tubuhnya tertidur lemas diatas ranjangnya.

“Jenny…” dirinya terkejut saat dia mendengar suara berat yang seakan datang dari segala arah.

“siapa kau ! ” jawabnya.

“aku akan menawarkan sesuatu yang menguntungkan untukmu, jadi dengar dan pikirkan baik-baik”

Seketika sekujur tubuhnya terasa begitu kaku. Kedua tanganya juga mulai mendingin.

“A-apa maksudmu?!”

“jika kau ingin membalaskan dendam pada orang yang membunuh ayahmu, bergabunglah denganku”

tidak ada yang bisa menggambarkan betapa takutya Jenny sekarang. Ya, Jenny.. Jenny Kim Bahkan diriinya sendiri merasa nyawanya tidak berada di tempatnya. Tubuhnya bergetar begitu hebat.

“B-bagaimana caranya ?” jawab Jenny sekenanya.

“Bangunlah, dan lihat apa yang ada disampingmu.”

~blak~

Terdengar suara begitu keras yang terdengar seperti dua buah kayu yang saling bertubrukan. Jenny seketika terduduk diranjangnya. dia mengedarkan pandanganya dengan nafas yang masih terengah-engah. Dirinya menerawang seluruh sudut kamarnya, hingga kedua bola matanya berhenti pada jendela kamarnya yang bergerak kedepan dan kebelakang, seiring dengan lebatnya hujan angin diluar kamarnya. dia bergerak mengangkat tubuhnya untuk turun dan dari ranjangnya. Kedua kakinya yang bahkan tidak terlihat seperti seorang gadis dewasa itu mulai melangkah dengan ragu, sampai dirinya menggapai jendela.

Jenny mematung, pandanganya masih terjaga pada jendela kamarnya, dia berfikir bahwa apa yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi.

mimpi yang benar-benar hidup.

bahkan dia bisa merasakan tubuhnya yang bergetar dalam mimpi itu,rasa dingin dari ruangan dan kerigat dalam mimpi itupun dia bisa merasakanya dengan jelas.

Dan,

~deg~

dia ingat, bahwa suara itu menyuruhnya untuk menengok kearah samping ranjangnya. Apakah itu mugkin ? oohh, mungkin tidak. Meskipun ragu, Jenny  mulai menengok kearah ranjangnya, dia berpikir tidak ada yang salah jika dia mencoba untuk membuktikan bahwa semua itu hanya mimpi. Dan omong kosong tentang surat itu tidaklah terbukti.

Namun  betapa terkejutnya dirinya saat dia melihat secarik kertas disisi kanan ranjangnya.

Nafas Jenny kembali memburu, dadanya naik turun melihat hal yang tidak diinginkanya.

Bagaimana hal semacam itu menjadi nyata dan terlihat seperti lelucon? Kenapa dirinya mengalami hal yang sangat aneh dan tidak masuk di akal, eh?

Rasa penasaran jenny bertambah, dia mulai melangkah menghampiri ranjangnya dan mengambil potongan kertas diatas ranjangnya. Kedua matanya membola saat melihat susunan huruf diatas kertas yang dipegangnya itu seperti tertulis menggunakan darah. Merah pekat, kental, dan juga berbau anyir.

Dia teringat akan mimpi yang baru saja dia alami, apakah suara yang dia dengar dimimpinya itu nyata? Tapi bagaimana bisa?  Jenny  hendak membuang kertas itu kembali mengurungkan niatnya saat dirinya dengan tanpa sadar mulai membaca kata demi kata yeng tertulis disana.

“Намайг сэрж нисэх”

Dengan lancar Jenny membaca deretan kata itu. Dia sendiri bingung kenapa dirinya bisa membaca tulisan yang bahkan terlihat seperti coret-coret anak kecil.

Dan Belum berujung rasa bingungnya, tiba-tiba rasa kantuk datang. dan dalam beberapa detik setelah dia membaca, tubuhnya terasa begitu berat. jenny terjatuh kelantai dalam keadaan tidurnya.

“Selamat datang di Helios, Jenny Kim..” suara berat itu kembali terdengar. tidak seperti sebelumnya, valice lebih tenang sekarang.

“Helios ?”

“Ya… kau sebelumnya telah menyetujui bahwa kau akan ikut bergabung denganku..”

“Aku belum menjawabmu.. “ jawab Jenny.

“Kau membaca materanya… dan dengan itu aku anggap kau menyetujuinya”  suara yang terdengar semakin keras, membuat Jenny yang tenang kembali merasa takut. Ingin rasanya dia memberontak dan berteriak. namun seakan terkunci, mulutnya tidak bisa dia gerakan sama sekali.

“.…….”  Dirinya tetap diam, hanya tubuhnya yang dilihat bergetar dan pandangan manik matanya yang tidak terarah. Jenny menatap kosong, tatapan yang terasa begitu menyayat hati siapa saja yang melihatnya. Dia bingung tentang apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Mungkinkah ini nyata? Benar-benar nyata? Atau ini hanya sebuah imajinasi liarnya?. apapun itu, yang jelas dia ingin dirinya segera keluar dari sini.

“Aku sudah melindungi tubuhmu disuatu tempat yang jauh dari sini, dan jiwamu.. aku akan membawanya ke tubuh yang lain. Jadi, serahkan dirimu sepenuhnya padaku”

Jenny yang masih melamun terperanjat mendengar apa yang baru saja suara itu katakan. Menyerahkan tubuh dan jiwanya? Ooh, tidak! Apa maksudnya ini? Gila, sungguh gila!

‘Oh Tuhan… tolong aku. Tolong.. ijinkan aku keluar dari sini’ batin Jenny..

“A-aku tidak mau …” sekuat tenaga Jenny membuka mulutnya untuk bersuara.

“aku tidak memaksamu, tapi kau juga harus mendapatkan konsekuensi karna telah menolakku…. “ nafas Jenny tercekat.

“Apaa.. Y-yang akan terjadi p-padaku” Lirihnya.

“Jiwa dan ragamu akan kubakar disini, dan kau juga akan mendapatkan kisah yang sama dengan ayahmu.. MATI SIA-SIA”

Seketika pertahanan Jenny runtuh, lututnya serasa tidak bisa lagi menopang tubuhnya. kejadian mengerikan apa yang sedang terjadi padanya?

Dia kembali menangis dan membiarkan dirinya terjatuh di atas lantai tanah yang dingin. Dia tidak bisa melihat dengan jelas dimana dirinya sekarang. Karena, ruangan kosong,gelap, dan lembab itu membuat dirinya tidak bisa melihat apa yang ada di hadapanya saat ini.

“Aku beri kau kesempatan berfikir, 5 detik dari sekarang”

Merasa belum puas, suara itu kembali membuat Jenny kehilangan akalnya.

Dia kalap.

Dalam situasi seperti ini, dia sama sekali tidak bisa berfikir. Jangankan ketika dirinya diberikan pilihan, untuk bisa membuat dirinya tenang pun dia  harus berusaha sangat keras.

….

…..

….

“B-BAIKLAH!”

Tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan hidupnya.Jenny yang terlalu muda untuk bisa mengatasi rasa takutnya menghadapi kematian.jadi, inilah yang dia pilih.

→Helios←

Kwon Mino, seorang pemuda dengan garis wajah tegas itu terlihat tertidur lelap.

Kejadian yang dialaminya membuat dirinya berakhir jatuh terkulai begitu saja diatas ranjangnya. Tidak ada kata yang lebih tepat selain ‘berantakan’ yang dapat menjelaskan apa yang Terlihat. wajahnya separuh yang dia tutupi dengan lenganya, rambut hitam kelam yang dia biarkan acak-acakan, dan juga pakaian seragam kusut yang masih menempel di badanya membuat orang merasa iba jika melihatnya.

Tidak bergerak, Mino sudah seperti itu semenjak dia bangun 15 menit yang lalu. Ingin rasanya bangkit, namun dia tak kuasa.

Sampai kemudian pecahan ingatanya tentang hal yang dialaminya semalam datang menghampiri.

Runtuh sudah, air mata menelusup keluar dari sudut matanya.

Sudah cukup dia harus kehilangan teman baiknya, yaa .. Mino memiliki seorang teman baik yang selama ini menjadi sesorang tempat dia bersandar. Dia adalah Nam Taehyun.

Flashback

“Ya! Taehyun-ah, apa yang akan kau lakukan akhir pekan ini?.” tanya Mino.

Mino dan Taehyun saat ini tengah berada didalam perpustakaan. seperti yang diketahui, Taehyun adalah anak yang terlampau rajin. Tidak ada hari tanpa buku dan pena.

Mino saja masih kerepotan jika mengajak Taehyun pergi keluar. Selalu ada saja alasan Taehyun  untuk menolak.

Mulai dari tugas sekolah, sampai kegiatanya menjadi penulis ulung.

Tapi terlepas dari Taehyun yang selalu menolak ajakan Mino, ada sisi dari dalam diri Taehyun yang membuat Mino tetap bertahan disamping Taehyun.

Taehyun adalah orang yang setia dan pendengar yang baik. Tidak ada secuilpun kehidupan Mino yang tidak diketahui Taehyun.

Taehyun selalu memberikan solusi atau jalan keluar jika Mino mendapatkan kesulitan.

Pembuat onar seperti Mino tidak akan ada hari tanpa masalah, bukan? Dan disaat itulah Taehyun bergerak mengisi peranya sebagai seorang teman.

Mengulurkan tanganya ketika Mino terjatuh, Menengahi pertengkaran ketika Mino beradu mulut, dan memberikan Nasihat ketika Mino berada dipuncak kejenuhanya.

“Tidak ada..” jawab Taehyun.

“Benarkah? Biasanya kau akan duduk dirumah dan hanya membaca buku.”

“Tidak, jika kau ingin mengajakku bermain. Untuk besok aku bisa.”

Mino menaikan sebelah alisnya, dia bingung. Tidak seperti biasanya Taehyun seperti ini. Tapi, yasudahlah.

“Tapi ada hal yang harus aku lakukan lebih dulu, kau temui aku jam 12 siang. Oke?.”

“Baik, kapten!.”

####

Minggu siangnya, Mino menunggu Taehyun di taman dekat Apartemen milik Taehyun.

Rencananya Mino ingin mengajak Taehyun menemui Jenny. Ya, Jenny Kim. Gadis yang disukainya sejak masuk ke South Korea International High School. Gadis keturunan campuran New Zealand dan korea itu memikat telah berhasil memikat hati Mino.

Mino saat ini menggunakan pakaian seragamnya. Jangan tanya kenapa, karena jawabanya sudah pasti. Dia dihukum untuk mendapatkan kelas tambahan dihari minggu. Semua orang heran, bahkan kakak Mino sendiri bingung kenapa Mino bisa masuk ke sekolah internasional sedangkan tingkah lakunya yang berandal. Yaa mungkin karena Mino pintar, tapi jika tingkah lakunya seperti itu, sepintar apapun orangnya rata-rata dari mereka tidak akan lolos masuk ke sekolah itu.

Mino mengambil ponselnya untuk menghubungi Taehyun. Sudah hampir 30 menit Mino menunggu , tapi temanya itu masih belum menampakan batang hidungnya

Dia mencoba menghubungi Taehyun, namun tidak ada jawaban. Berkali-kali Mino memencet tombol ‘panggil’ tetap saja tidak ada jawaban.

“Dimana kau, Taehyun!.”  kesal karena tidak ada jawaban, dia pergi untuk menghampiri  Taehyun dirumahnya.

Knok knok knok~

“Taehyun?!”

“Taehyun- eh? Pintunya tidak dikunci?.” Mino melangkah masuk kedalam, heran melihat rumah Taehyun tidak dikunci. Karena biasanya, Taehyun selalu mengunci pintu rumahnya, Mengingat Taehyun hanya tinggal seorang diri.

Mino masuk dan memeriksa kamar , dapur, dan ruang tengah, namun Taehyun masih tidak ditemukan.

“Kemanaaa… dia.”

“Maafkan aku, lain kali akan kubuat lebih sempurna lagi. Tolong beri aku waktu..” Samar-samar Mino mendengar suara yang dia pikir dari arah kamar mandi.

“Taehyun?.” dengan langkah pelan, Mino berjalan kearah kamar mandi disebelah kanan kamar Taehyun. Pintu kamar mandinya tertutup, membuat Mino ragu untuk membukanya.

“.……”

“Tolong beri aku waktu sekali lagi, aku akan menyempurnakanya lagi. Aku janji padamu.” Lirih seseorang yang Mino yakin dia adalah Taehyun.

Rasa penasaran Mino semakin menjadi. Tangan kirinya bergerak keatas memegang gagang pintu didepanya. Perasaan ragu masih mengganjal, tapi Mino juga penasaran siapa yang diajak bicara oleh Taehyun. kenapa suaranya terdengar memelas?.

“Tolong.. Tolonglah-.” Mino masih mematung sampai..

Bang! Bang! Bang!

Mata Mino membola saat mendengar suara tembakan dari dalam. Dia langsung menggerakan gagang pintu keatas dan kebawah untuk membuka pintunya.

Namun, Tidak bisa! Pintunya dikunci.

Bagaimana ini.

“TAEHYUN!! KAU DENGAR AKU? APA YANG TERJADI!!!.” Mino berteriak keras. Dia masih berusaha untuk membuka pintu kamar mandi Taehyun.

“TAEHYUN!! JAWAB AKU BODOH! APA YANG TERJADI!!.”

Mino semakin frontal menggerak-nggerakan gagang pintu kamar mandi di depanya. Wajahnya panik Mino menjadi, saat degup jantungnya semakin cepat.

Merasa putus asa dengan pintu yang tidak juga terbuka, Mino mengambil langkah mundur dan menabrakan dirinya, mencoba mendobrak pintu.

~Braakk

“NAM TAEHYUN!! SIAL! KENAPA PINTU INI KERAS SEKALI.”

~Braakkk

“F*ck,.”

~Braakkkkk

“TAEHYUN-AH, KUMOHON!!”

~BRAKKK… BLAMM

Akhirnya pintu terbuka, mata Mino memanas. Dilihatnya Taehyun yang sudah terkapar lemas di lantai kamar mandi dengan berlumuran darah.

Tubuh Mino mematung melihat temanya yang sudah tidak bergerak.

Pelan-pelan, Mino melangkah menghampiri Taehyun.

Diangkatnya kepala Taehyun kepangkuanya. Pandangan Mino masih terpaku kearah wajah Taehyun.

“Kau dengar aku?.” Ucap Mino mulai menepuk-nepuk wajah Taehyun.

“Taehyun….?.”

Air mata Mino mulai turun melewati pipinya. Seseorang di pangkuanya  masih terdiam dan tak memberikan respon.

“Tak akan ku maafkan kau jika kau mati sekarang, Taehyun .” lirih Mino putus asa.

“NAM TAEHYUN, KUMOHON!!!! TAEHYUN!! BANGUNLAHHHH KUMOHON BANGUNN!.” teriak Mino.

Dengan pelan Mino mengangkat tubuh Taehyun kepunggungnya.

“Hiks.. bertahanlah, Taehyun-ah.”

Mino berlari keluar dari kamar mandi untuk membawa Taehyun ke Rumah Sakit.

Tidak peduli dengan bagaimana orang melihat kearahnya, dirinya terus membawa temanya yang tidak bergerak di punggungnya.

Air mata Mino masih terus mengalir, mulutnya masih terus memanggil nama sahabatnya, berharap Taehyun masih dapat mendengar panggilanya.

Berat tubuh Taehyun seakan seringan kapas. Mino berlari sekuat yang dia bisa untuk menyelamatkan Taehyun.

“Taehyun, kumohonn ….” Gumam Mino.

###

Lutut Mino melemas saat dirinya berhasil sampai di rumah sakit terdekat.

“DOKTER!! MANA DOKTER!!.” ucap Mino kalang kabut pada resepsionist yang berjaga saat itu.

Sang resepsionist nampak terkejut melihat kondisi orang yang berada di punggung Mino. Dia lantas menghubungi seseorang.

“Tolong, Unit gawat darurat ada pasien yang harus ditangani segera.”

Tidak membutuhkan waktu lama, kumpulan orang-orang berbaju putih datang dan mengambil Taehyun dari punggung Mino untuk diletakkan di ranjang dorong.

Mino ikut berlari saat ranjang yang di baringi oleh Taehyun terus didorong. dia kembali melihat kondisi Taehyun yang begitu mengenaskan.

Kakinya, lengan sebelah kiri, dan juga dada sebelah kanan Taehyun tertembak.

Entah siapa orang br*ngsek yang berani menyentuh teman karibnya.

‘Akan kucari kau. Jangan berharap untuk dapat lepas dariku, brengsek.’ gumam Mino.

###

Waktu terus berjalan, ruang operasi masih tertutup.

Terlihat Mino duduk dengan sesekali pandangan matanya dia alihkan pada arah pintu disamping kananya.

Jujur saja, kesabaranya sudah hampir habis. 2 jam menunggu kondisi sahabatnya itu membuatnya merasa sudah tak waras.

Hatinya terus berpacu, berlomba dengan detik jam yang terdengar begitu nyaring.

‘Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Taehyun terdengar memelas pada seseorang sebelum tembakan itu?.’ pertanyaan itulah yang muncul di kepala Mino.

Jika dipikirkan kembali, Taehyun bukanlah tipe orang yang mudah hutang dan terikat dengan seseorang.

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi jika kenyataanya Taehyun bukanlah orang yang seperti itu?

Dengan mengetuk-ngetukan giginya, Mino berfikir keras.

Mungkinkah Taehyun terlilit hutang pada orang lain? Atau Taehyun membuat kesalahan?

Mino berdiri sembari mengacak rambutnya, pikiranya buntu.

Karena sungguh dia tidak menduga hal ini sebelumnya.

Mino pov.

Aku masih disini, aku masih menunggu Taehyun.

Beberapa kali aku melihat pintu disebelah kananku, namun pintu sialan itu tidak juga terbuka.

Ketakutan menjalar keseluruh tubuhku, hingga aku tidak dapat merasakan bebasnya bernafas di ruangan besar ini.

Andai saja aku tidak terlambat kerumahnya saat itu, andai saja aku langsung membuka paksa pintu kamar mandi setelah mendengar ocehan aneh Taehyun, semua ini tak akan terjadi.

Bodohnya diriku.

Tidak bergunanya diriku.

Siapapun orang itu, akan kupastikan mati ditangaku.

Aku berjanji.

Ding~

Pintu ruang operasi terbuka, dokter-dokter yang menangani Taehyun mulai berjalan keluar.

Sedangkan aku? aku masih terpaku. Kaki ku tidak bisa digerakkan, tubuhku serasa kaku, dan jantungku serasa ingin lepas.

Salah seorang dokter menghampiriku begitu keluar dari ruang operasi, dia menepuk pundakku.

Dia menunduk, dan itu membuat perasaanku semakin tidak karuan.

Semoga saja, semoga saja hal baiklah yang akan ku dengar.

“Maafkan kami.” Ucap seorang dokter yang berdiri dihadapanku.

Tubuhku semakin kaku, aku tidak dapat menjawab apapun karena mulutku yang tertutup rapat seolah tak mau mengungkapkan sepatah katapun.

“Sahabatmu, maafkan kami .. dia tak bisa kami sel-”

BRUG!

Hantaman keras mendarat di pipi sang dokter.

Tidak.

Ini tidak bisa terjadi.

Nafasku naik turun, aku memukul dokter tak becus itu dengan keras.

“Katakan padaku jika dia selamat. Katakan padaku jika dia tidak apa-apa. Katakan padaku jika dia akan segera sadar.”

Aku tahu, tindakanku tidaklah benar. Tapi apa yang kulakukan ini diluar kendaliku.

Ketakutan akan kehilangan seorang yang selama ini menemaniku membuatku kalap.

Otaku memanas, kedua mataku juga mulai kembali memanas.

“Aku tahu ini berat bagimu, tapi bukan ini yang harus kau lakukan.” melihat aku yang dengan kasarnya memukul dokter yang ada dihadapanku tadi, dokter lain datang untuk mencoba menenangkanku.

“Lalu? Lalu apa yang harus kulakukan? dia mati juga karena kalian. Kalian tak becus menangani Taehyun.” Ucapku terdengar memilukan.

“Kau tahu, sahabatmu .. dia bahkan sudah tak bernafas semenjak 45 menit yang lalu sebelum masuk keruang operasi. Sadarkah kau? Sadarkah bahwa sahabatmu mati juga karena kau yang kurang cepat?.” dokter yang kupukul tadi kembali bangkit dan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin membunuhnya.

“Coba lihat wajahmu. Apa kau tak terima aku tuduh kau sebagai pembunuh temanmu sendiri?”

Aku diam.

“Begitu juga aku, aku tak terima jika kau anggap aku dokter yang tak becus menangani pasien. Aku menangani temanmu sekuat yang aku bisa. Tapi apa yang terjadi? Takdir menginginkan akhir yang berbeda untuk temanmu.”

Benar, tentu benar apa yang dikatakan dokter sialan ini. Tapi kenapa aku hanya bisa menunjukan rasa tidak terimaku?. kurasa aku harus pergi dari sini, ya pergi dari sini. Sebelum aku lebih gila dari ini.

Mino POV end.

Mino melangkahkan kakinya keluar dari kumpulan dokter yang mengelilinginya.

Kakinya dia seret meskipun rasanya teramat berat.

Ada rasa ingin merelakan hal yang sudah terlanjur terjadi seperti yang dialami oleh Taehyun, tapi rasa dendam Mino terlalu besar untuk meredam kerelaanya.

Hancur sudah, hancur sudah semua rencana yang di buat sendiri.

Pergi makan bersama, pergi bermain game bersama, pergi ke tempat gadis yang disukai Mino bersama, dan pergi ke lapangan bola bersama.

Semua yang diinginkan Mino seketika hilang dengan kepergian salah satu orang terdekatnya.

‘Terimakasih Taehyun-ah, terimakasih karena telah menjadi bagian dari hidupku. Terimakasih atas semua hal yang sudah kau ajarkan padaku. Kesetiaan? Ya, kau sangat pandai dalam hal itu. Tapi, jika kau berharap aku untuk melupakan apa yang terjadi padamu, maaf aku tak bisa. Aku tak bisa melakukanya. Aku bersumpah, aku akan mencari orang yang membuatmu mati seperti ini hingga ke ujung duniapun. Akan kucari orang itu sampai dapat. Walaupun aku harus menghabiskan seluruh umurku, aku akan tetap berusaha mencarinya. Sekali lagi terimakasih atas segalanya.’

Kediaman Kwon

Mino baru pulang kerumahnya setelah jam menunjukan pukul 3 pagi. Entah apa saja yang dilakukan Mino setelah kepergian Taehyun.

Minum? Sudah pasti.

Pelarian yang tepat saat dirinya merasa begitu frustasi.

Langkahnya yang gontai terhenti saat seseorang berdiri menghentikan jalanya. Mino mengangkat wajahnya dan mendengkus.

“Apa yang kau lakukan sampai pulang di jam segini? Kau tahu ini jam berapa bukan?.”

“Hyung, aku tidak sedang ingin berdebat denganmu.”

Kwon Jiyong, kakak dari Kwon Mino terlihat marah saat melihat adik satu-satunya itu pulang sepagi ini.

Sebelumnya memang Mino anak yang nakal dan jauh dari kata damai, Namun tidak sampai seperti sekarang. Pulang pagi, dengan keadaan berantakan.

Jiyong melipat kedua tanganya didepan dada, memperhatikan detail penampilan adiknya.

“Baiklah, kau pergilah keatas dan cuci badanmu sebelum tidur. Istirahatlah.” Ucap Jiyong melepaskan Mino. Mungkin besok saja dia mengintrogasi adiknya, karena dilihat-lihat keadaan adiknya ini sama sekali tidak bisa diajak bicara sekarang.

Mino mengangguk “Terimakasih.”

Dia melangkah melewati Jiyong untuk pergi ke kamarnya. Tubuhnya seperti akan remuk jika dia tidak segera merebahkan diri.

Jiyong yang melihat hal tersebut hanya bisa menghembuskan nafas dalam.

‘Apa yang terjadi pada anak itu?’ pertanyaan itu muncul dipikiran Jiyong. Dirinya hendak melangkahkan kaki kekamarnya saat ponsel di genggaman tanganya menyala, menandakan ada sebuah pesan yang masuk.

‘Apa Mino sudah pulang, Ji? Kenapa dia tidak juga pulang? Apa dia terkena masalah lagi? Pergilah kesekolahnya kapan-kapan Ji.. jangan sampai kau menyesal karena tidak menanyakan langsung ke kepala sekolah mengenai adikmu.’ -Dara

Jiyong tersenyum. Itu pesan dari kekasihnya, Sandara. Sandara park.  dia tahu bahwa Dara sangat mengkhawatirkan adiknya, Hingga Dara bisa se cemas ini.

Jiyong lalu mengetik balasan untuk Dara.

‘Sudah,babe. Tenang saja, aku bisa mengurusnya. Kau tidurlah. Kenapa juga kau masih terjaga sampai sepagi ini, huh? Tidurlah, neh? Serahkan semuanya padaku. Bukankah kau percaya padaku?.’ Balas Jiyong.

-TBC-

 

Advertisements

14 thoughts on “HELIOS [Chap. 1]

  1. Aku masih kurang ngerti deh
    Mungkin karena baru part awal jadi masih penuh teka teki
    Ini fokus sama mino jenny ini ff daragon kah???
    Atau ini awal masalahnya???
    Masih bingung

  2. Kenapa udah berhenti bernapas 45 menit yg lalu masih juga di operasi? terus apa Taehyun gak punya keluarga? Lagi siapa yg bunuh Taehyun? Dari Helios? Soalnya dia ngilang tiba-tiba dari kamar mandi,,, Mungkin banyak pertanyaan belum terjawab karena ini baru chapter 1 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s