Showdown [Part 9] : PURSUIT

showdownpart9new

Cuap-cuap author :

Akhirnya, setelah nangis bombay karena lihat postingan ini 2 tahun yang lalu dan entah dapat renungan darimana buat Pinda bisa lanjutin FF ini. Maaf untuk gak bisa kasih kalian preview dari fanfiction ini dan Pinda berharap banyak masih ada yang suka sama ff series ini.
Semoga FF ini bisa cepat complete dan bisa jadi ff series kedua dari Pinda yang nongkrong di Library blog ini :’)

Author : VA Panda

Title : Showdown

Genre : Mystery–Action–Thriller

Cast : Park Sandara | Kwon Jiyong | Choi Jun Hong | Lee Donghae | Lee Chaerin

Length : Series

Disclaimer : This story is purely fresh from my brain. All cast in this fanfiction not my mine expect Oc. If you wanna be take out this story please inform me, don’t take story without permissions.

Note :
Yoon Na Rae (Oc / Nama asli dari Suzy palsu) Anggap dia mengenakan topeng dan pemalsu suara seperti di film mission impossible
Jeon Young Jae (ayah angkat Ha Ji Won/Pria yang dijatuhi hukuman)
Cho Tae Sik (ayah kandung Ji Won/ konglomerat penting)
Ha Ji Won (Chaeukshin/ nama kecilnya Jeon Hae Rim)
Seung Gi (anak buah Ji Won yang waktu itu menyekap ayah Chaerin)

Sekedar mengingatkan lagi. Konflik utama dari ff ini adalah pemberontakan oleh seorang yang ingin membalas dendam (pembunuh berdarah dingin).

.

.

.

.

The Women behind the darkness come with the world she would take over

.

.

.

.

– PURSUIT –

 

Hal pertama yang Zelo lakukan setelah menunggu hasil otopsi hanyalah duduk temenung di tengah koridor rumah sakit. Noda darah yang mengotori kemeja juga wajahnya pun kerap kali membuat ia kembali mengulang memori saat di mana seseorang yang menyerupai Suzy, merengut nyawa di depan matanya sendiri.

“Biarkan aku mengapus darah yang ada di wajahmu,”

Sandara dengan kekhawatirannya mulai menyodorkan sapu tangan basah untuk mengapus noda darah yang sudah mulai mongering. Di pandangnya, Zelo masih terus terdiam, tidak mengubris segala tindakan yang Dara berikan. Sejurus mata coklat cerah Zelo justru terus mengarah pada lantai dan tanpa perlu diperjelas lagi, pria itu masih berada dalam keterkejutannya.

“Kau baik-baik saja?”

Sekali lagi Sandara bertanya. Menyelesaikan dengan segera saat dirinya telah membersihkan wajah Zelo, ia merasa amat mengerti apa yang terbendung dalam benak Zelo saat ini. Melihat langsung seseorang mati di hadapannya adalah menjadi memori yang akan lama untuk dilupakan sekalipun orang tersebut menjadi incaran kepolisian.

“Kenapa dengan pria sepertimu, huh?” seorang gadis muda dengan suara lantang mulai mendekat ke arah Dara dan juga Zelo.

“Ya, dia masih sangat terkejut dan mungkin itu adalah pertama kalinya ia melihat seseorang mati tepat saat peluru menembaki jantungnya.”

“Ahjussi, aku hanya tidak suka pada pria yang memperlihatkan kelemahannya.” Gadis itu adalah Suzy, setelah kejadian baku tembak antara penembak jitu dengan Donghae, keduanya memutuskan untuk tidak meneruskan pemantauan mereka.

Sebelumnya, Suzy justru terus menutup telinganya sedangkan Dara dan juga Jiyong berlari mengejar Zelo yang mematung tanpa mencoba untuk menghindari area sasaran tembak yang mungkin saja akan mengenainya setelah memastikan bahwa orang yang menyerupai Suzy adalah salah satu dari pemberontak dengan tanda bulan sabit di antara segi enam tepat pada leher kanannya.

Suzy dengan segala kutukan serapah setelah memastikan bahwa orang yang menyerupainya sudah meninggal, semangatnya kian menggebu-gebu. Sebuah jalan indah telah ia garap dan berharap bahwa kekacauan ini akan segera berakhir, terlebih ia sangat berbangga diri saat memukul salah satu dari mereka yang berada di sekitar dengan sepatu sport –di akhiri dengan tembakan jitu yang diberikan Donghae tentunya.

Gadis kekanakan itu tidak pernah merasakan bahwa berada dalam medan pertempuran cukup menyenangkan sekalipun sebelumnya ia hanya menyembunyikan diri di balik tiang rambu lalu lintas namun akhirnya sekali ia keluar, aura pahlawan membelenggunya.

Selagi Suzy masih terus membayangkan pejana yang akan diberikan presiden Korea Selatan, Zelo yang tengah menatapnya dengan gusar mulai bersuar. “Kau,” umpatnya kesal dan mulai berdiri menantang Suzy yang terlonjak karena suara keras Zelo. “Tidak berhak untuk bahagia pada kematian oranglain, sekalipun dia adalah penjahat!”

Setelah dalam kurun detik untuk Suzy menahan napasnya, gadis itu menatap Zelo dengan tidak percaya dan mengibaskan rambut hitam panjangnya dengan amat kesal. “Kau,” katanya dengan suara membulat, menunjuk tepat pada dahi Zelo. “Hanya  lelaki bodoh yang akan memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang banyak. Apa kau tidak tahu bahwa negara ini bisa hancur jika semua orang memiliki belas kasih untuk oranglain yang justru lebih banyak mengambil banyak nyawa tidak bersalah!”

Donghae yang sedari tadi hanya diam sembari bersandar pada dinding putih yang terasa dingin mulai menyunggingkan senyumnya. Matanya melihat secara lucu perdebatan antara Suzy dan juga Zelo sedangkan Sandara justru berdiri menjauh ke arah Jiyong yang mengambil kopi hangat untuk keduanya. Lucunya, ibarat seorang berandal seperti Donghae pun bisa menyaksikan kebodohan yang akan terlihat dari seseorang akibat dari yang di namakan cinta.

Pria itu menengadah, menatap silau sinar lampu yang berada tepat di atas kepalnya. Sekali lagi ia menyunggingkan senyum dengan kali ini sebari menutup matanya, membiarkan memorinya dengan Ha Ji Won dulu singgah untuk sejenak di tengah keheningan, lalu tak lama pria itu mulai berujar.

“Untuk membuat kedamaian, kita harus merelakan nyawa orang yang tidak bersalah.” kata Donghae yang mendapatkan banyak kerutan dari oranglain seperti Zelo juga Suzy yang tengah bersikukuh. “Dan jika kau ingin menyelamatkan banyak nyawa, kau harus merelakan siapapun termasuk orang yang kau cintai. Jika kau selalu berpikir dengan perasaan, seseorang akan tiba-tiba datang menusukmu maka dari itu pakailah logika.”

Ahjussi, apa kau sedang mengapal naskah drama?” Suzy dengan wajah tak percaya lewat mulut yang sulit terkatup sebelumnya mulai beranjak ke arah Donghae. “Bagaimana bisa kau mengatakan kata-kata hebat dari mulut seperti Ahjussi?” tanyanya terus terang yang tanpa Suzy sadari mendapati pukulan langsung dari Donghae pada kepalanya.

“YA! Saat umurmu semakin tua, akan banyak pengalaman dan kata-kata bijak yang akan keluar begitu saja,” geramnya yang mendapati tawa dari sekeliling.

Mian,” selagi mereka tertawa, Jiyong dengan kopi di tangannya mulai berbicara. “Besok adalah hari pengangkatan para meteri. Aku rasa kita memerlukan banyak persiapan untuk bisa berkumpul di tengah kerumunan masyarakat Korea Selatan sebagai spy.

***

Keesokan harinya …

Pembukaan dari tarian tradisional menjadi hal pertama yang diperlihatkan dalam acara pengangkatan menteri baru. Pengawasan sangat terlihat ketat, bahkan di setiap sudut yang akan terlihat hanyalah para polisi korea dan beberapa bodyguard maupun orang yang sengaja di sewa untuk menjaga keamanan. Rakyat hanya menjadi pelengkap demi pencapaian politik yang sebenarnya tidak banyak mereka ketahui di balik kisah yang menyeramkan kerap terjadi.

Korea Selatan memang masih tetap bersitegang dengan Korea Utara mengingat itu terjadi akibat dampak dari perang dunia ke-2. Namun sebenarnya Korea Utara sudah mulai luluh dengan perang dingin mereka, setelah kedua orang tertinggi di negara tersebut bertemu untuk menyepakati kerjasama yang saling menguntungkan. Angan-angan Korea untuk kembali bersatu mungkin akan terjadi walaupun tetap ada dinding yang berhasil melunturkan angan tersebut. Pemberontak yang masih sulit di ketahui keberadaannya ini justru tengah membalas dendam kepada negaranya sendiri.

“Tuan … apa Anda yakin akan berada di tengah kerumunan ini?” Pria muda dengan setelan kemeja abu-abu berbisik pada seseorang di balik kacamata hitamnya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, tenanglah.” Pria itu tersenyum hangat seperti biasanya.

Pria muda yang bernama Dong Young Bae itu hanya dapat membalas senyum kaku pada atasannya. Mata Young Bae pun menyipit sempurna memperlihatkan aura tampannya. Young Bae sangat mengagumi atasannya layaknya seorang yang patut menjadi figure kehidupan baginya. Atasannya sudah lama dia kenal selama dua tahun, sebagai konglomerat penting dalam politik sangatlah tidak dapat di tebak bahwa Cho Tae Sik mau untuk berdiri di tengah kerumunan rakyat jelata.

“Kalau Tuan masih bersikeras berada di sini, maka Saya akan menemani Tuan.” Kata Young Bae bersikukuh.

“Aku sudah memasang alat pelacak agar kalian bisa menemukanku, lagi pula kalian bisa memantauku, bukan ?” Cho Tae Sik berkata dengan lembut seraya berjalan santai ke depan.

Young Bae tidak tinggal diam sampai di sana. Dia tahu bahwa atasannya tidak akan aman karena pemberontak itu justru mencari keberadaannya dengan melumpuhkan komunikasi di kantor kepolisian Seoul. Satu jalan yang di lakukannya hanyalah mengekor seperti mata-mata yang mengintai penjahat.

Cho Tae Sik sudah banyak membantunya dalam berbagai hal dan Young Bae sangat kehabisan akal kalau ada seseorang yang menaruh dendam pada seorang yang berhati malaikat itu.

“Young Bae … aku bisa menjaga diriku sendiri, Nak.” Sayup-sayup terdengar suara berat dari Cho Tae Sik dari alat pendengar yang ditempelkan pada telinga Young Bae.

“Ta … tapi Tuan, Anda mungkin tengah diintai oleh para pemberontak itu. Ada baiknya saya terus mengekori Anda.”

“Aku sudah membawa senjataku dan aku sudah memasang alat pengintai, kau lupa kalau aku pandai bela diri ?” pria tua itu perlahan berbalik kearah Young Bae dengan memperlihatkan segaris mata sipit setelah membuka kacamata hitamnya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Nak,” sambungnya dengan senyum yang kian merekah hingga mempertambah jumlah kerutan yang ada di dahi tuanya. Sebuah pengartian bahwa pria itu telah banyak mengenal dunia yang terlihat baik maupun buruk.

“Ba–baik Tuan,” jawab Young Bae dengan gugup. Perlahan dia membalikkan tubuhnya dan di detik kemudian dia berbalik namun tidak lagi mendapati atasannya yang tadi berada sepuluh langkah darinya.

“Tu–tuan ? Apa Anda sengaja menghindar dari pantauan Saya ?” Tanya Young Bae pada alat komunikasi sambil berlari tanpa memperdulikan tubuh orang yang dia tabrak. Pikirannya kembali kacau saat atasannya justru menghilang hanya dalam hitungan detik.

“Young Bae …”

Pria itu langsung menghentikan pencariannya. Di tengah kerumunan Young Bae hanya berdiri diam untuk kembali mendengar dengan jelas suara atasan yang sangat dia hormati. Young Bae baru ingat kalau Cho Tae Sik dulu adalah salah satu mata-mata Korea Selatan yang memang sudah berhenti bekerja setelah sebuah peristiwa anaknya yang menghilang, jadi jika hanya untuk menghilang dari pantauan Young Bae, menjadi bagian paling mudah yang akan ia lakukan dalam hitungan detik untuk pria itu.

“Tuan, Anda dimana ? Saya mengkhawatirkan Anda !” Young Bae berkata dengan frustasi setelah dia tidak lagi mendengar suara di seberang alat komunikasinya. Pria itu masih terdiam sedangkan oranglain yang ada di sana berlalu melewatinya terasa amat lambat bahkan Young Bae mendengar kata-kata yang diucapkan dari mulut maupun gerakan mulut orang-orang di sana begitu lambat di lihat olehnya.

Lambat.

Sangat lambat.

BANG !

Suara ledakan yang dilontarkan dari peluru senapan serbu secara beruntun mulai menembaki kearah para penari tradisional. Suasana menjadi kacau saat baku tembak terjadi antara orang yang menembak dari atas gedung di seberang dengan para kepolisian. Teriakan setiap orang ikut menyatu dengan suara bising tembakan yang di arahkan ke segala sudut dari orang misterius. Di saat itu juga, Young Bae terpaku di tempatnya tanpa memperdulikan orang yang menabrak bahunya.

Kejadian ini memang sudah diprediksi oleh karena itu para petinggi negara termasuk presiden dan juga menteri diamankan di suatu tempat untuk menghindari kejadian ini. Polisi tengah melakukan umpan tapi merekapun tidak menyangka jika pemberontak itu tidak mengenal ampun dengan menembaki berbagai arah hingga beberapa penduduk juga wawancara di sana terluka oleh peluru yang bersarang di tubuh mereka.

BANG!

BANG!

Beruntung Young Bae segera tersadar dan langsung mengambil senjata api semi otomatis di saku celananya. Keadaan semakin kacau terlebih Cho Tae Sik justru tidak ada di pantauannya. Pria itu terus berlari sambil menghindar arahan bidik tembakan yang berasal dari senapan serbu pemberontak itu.

“Tuan, Saya mohon, beritahu keberadaan Anda sekarang !” Suara Young Bae hampir tenggelam karena suara tembakan yang masih mendominasi. Pria itu melacak dengan handphone nya untuk mengetahui keberadaan atasannya, namun yang alat itu sudah tidak dapat memberikan harapan karena seperti sudah dimusnahkan oleh Cho Tae Sik.

“Tenanglah, Nak. Ada hal yang perlu aku selesaikan dengan putriku.” Balas Cho Tae Sik yang masih mampu ditangkap oleh indera pendengaran Young Bae.

“Tuan, ini sangat berbaha-” Young Bae tidak mampu menyelesaikan perkataannya setelah alat komunikasi itu seperti di rusak oleh atasannya.

Dalam pikirannya Young Bae masih tidak habis pikir bahwa atasannya sudah tahu siapa seseorang di balik pemberontakan ini. Setelah peristiwa berdarah pada musim dingin tahun lalu, Young Bae dengan sengaja melakukan sebuah penyidikan dan akhirnya telah menemukan titik temu bahwa otak dari semua kekacauan ini dilakukan oleh Ji Won. Hampir berbulan-bulan dan sengaja untuk menutupi hasil penyidikannya namun ternyata atasannya turut ambil alih juga mungkin mencoba melindungi tindakan criminal putri sulungnya –Ha Ji Won –sama seperti Young Bae yang tidak memperkeruh hubungan antara Cho Tae Sik dengan dirinya.

Ha Ji Won. Orang itu adalah putri yang di culik oleh seorang yang membalas dendam kepada Cho Tae Sik setelah berhasil membunuh isterinya dengan sangat keji. Kilasan memori pahit Cho Tae Sik hanya di ketahui oleh beberapa orang kepercayaan dan Young Bae adalah satu-satunya anak buah yang tahu seluk beluk kehidupan Cho Tae Sik dari ayahnya yang juga mengabdi pada pria itu hingga menutup ajal.

“Siapapun dia, jika berbahaya bagi Anda. Saya akan tetap melindungi Anda hingga tetes darah terakhir!” Ucap Young Bae dengan nada dingin sembar mengacungkan mulut senjata semi otomatisnya dengan mata yang meruncing sedang pada saku kanan celananya sudah ia persiapkan puluhan peluru di sana.

***

“Noona hanya perlu menarik pelatuknya jika ingin menembak target.” Intruksi Jiyong dengan lengan yang masih bertautan dengan Sandara yang tengah dia ajarkan cara untuk menggunakan senjata api.

Saat ini Jiyong, Sandara dan Zelo berada di halaman belakang rumah Detektif Choi sedangkan Detektif Choi Seunghyun dan yang lain justru berada di lokasi pengangkatan menteri baru yang ada di pusat kota tanpa memperbolehkan Jiyong terutama Zelo ikut campur dengan urusan kali ini, sedangkan Sandara dan Woo Bin diberikan tugas langsung oleh Inspektur Yang Hyun Suk untuk pergi ke laboratorium mengingat kemungkinan para pemberontak akan menyebarkan virus black death dan mereka perlu memusnahkan virus itu sebelum menyebar.

“A–aku mengerti, Ji–Jiyong,” balas Sandara dengan gugup saat menyadari wajah Jiyong yang sangat dekat dengannya.

“Pegang senjata ini untuk berjaga-jaga, ne ?” kata Jiyong yang masih belum menyadari kalau Sandara terus menatapnya tanpa berkedip.

Sandara hanya mampu menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia mengerti maksud dari Jiyong, sedangkan dentuman yang tiba-tiba membuat dadanya kesulitan untuk bernapas, mulai dikontrol olehnya. Sandara tidak mengerti hanya dengan sedikit sentuhan yang diberikan oleh Jiyong, nyatanya bisa membuatnya gugup total, mungkin inilah akibat dirinya tahu bahwa pria yang lebih muda darinya itu menyukainya.

“Noona harus berhati-hati. Bagaimana kalau nanti kejadian saat seseorang yang menembak orang yang menyamar sebagai Suzy itu kembali membuat ulah? Ah, hanya memikirkannya sudah bisa membuat jantungku berhenti berdetak.” Tutur Jiyong panjang lebar yang dibalas oleh tatapan Sandara yang justru semakin menatapnya dengan dalam hingga membuat Jiyong salah tingkah.

“Jiyong?”

“Seharusnya aku berada di samping, Noona, bukan Woo Bin Hyung.” Jiyong kembali mengatakan beberapa kalimat yang melintas dari pikirannya. Pria itu cukup bodoh untuk menyadari bahwa apa yang dia pikirkan, nyatanya sudah dikatakan walaupun dengan suara kecil tapi beberapa pasang mata disana, termasuk Sandara, justru menatapnya dengan ngeri bahkan tawa kecil Chaerin yang menguping dibalik dinding penghubung antara halaman belakang dengan ruang santai hampir terdengar.

“Aigo, Jiyong oppa ternyata sangat bodoh jika menyukai seseorang.” Bisik Chaerin dengan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Gadis berambut pirang dengan mata kucing yang dimiliki nyatanya tengah menguntit Zelo dan Jiyong yang akan pergi tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Hyun Suk.

“Mwo?” dengan wajah tidak mengerti Jiyong memandang Zelo dan Sandara secara bergantian. Ekspresi Sandara sepenuhnya merona karena malu hingga gadis itu memalingkan wajahnya, sedangkan Zelo juga sama tapi sedikit berbeda, karena pria itu justru sangat tidak menyukai kebodohan Jiyong yang mungkin akan menjadikan Sandara berpaling untuk lebih lama menghabiskan waktu berbincang dengan Jiyong dibandingkan Zelo. Saat ini Zelo lebih banyak diam dibandingkan dengan Jiyong, seolah kepribadian mereka berubah seperti sihir.

***

Jika sebelumnya Jiyong bersemangat dengan segala rencana hebat telah ia ciptakan saat hari di mana pengangkatan menteri itu datang, namun bukanlah hal yang menyenangkan jika mendapati semangat membara yang diperlihatkan gadis kekanakan seperti Suzy. Kemarin malam, Donghae kekurangan waktu tidurnya saat di mana Suzy memaksanya untuk terus bercerita sampai pagi menjelang karena ketertarikan dari kata-kata bijak juga ide cemerlang yang tiba-tiba muncul di otak Donghae. Gadis berotak kecil itu terlalu terpukau bahkan kini Zelo di hadapannya bukanlah orang yang patut diacungi jempol dibandingkan Donghae dengan sikap dingin yang kian membuat Suzy terpikat.

Hyung, sepertinya kau kekurangan tidur tadi malam.” Zelo yang berada di bangku belakang pengemudi melihat lingkaran hitam di sekitar mata Donghae lewat kaca spion mobil.

“Semalaman aku ditarik paksa oleh gadis bodoh itu, memaksaku untuk terus menemaninya sampai mengantuk dan bahkan sekarang dia masih tertidur di kamarnya tanpa tahu kejadian sulit apa yang akan kita hadapi.” Balas Donghae ketus. Di sebelahnya, Jiyong hanya tertawa geli pada topik pembicaraan ini. Bae Suzy, lagipula siapa yang akan terlihat menyebalkan untuk Donghae.

“Suzy maksudmu kan, Hyung?” tanya Zelo yang juga memberikan mimik wajah sama seperti Donghae.

“Sudahlah, Suzy memang kekanakan tapi bagaimana pun kita tetap harus fokus pada misi kita ini.” Sela Jiyong sedangkan ia justru tersenyum setelah mendapat balasan pesan singkat dari seorang gadis yang memenuhi isi di dalam hatinya, Sandara Park. “Kyeopta,” katanya saat melihat foto yang dikirimkan Sandara untuknya agar Jiyong berhenti mengkhawatirkannya.

Tak lama berselang, mobil yang di kendarai Donghae sudah menepi di pinggir jalan yang sedikit jauh dari lokasi tempat pengangkatan menteri baru. Donghae bersama Jiyong dan Zelo langsung keluar dari mobil. Beberapa wartawan yang mati-matian medapatkan berita, nyatanya datang lebih awal dari mereka walaupun sebenarnya polisi sudah menentang pencari berita itu berada di sekitar sana, tapi mereka masih berdiri di sana dengan kamera yang mengalung di leher mereka masing-masing.

“Kita mulai berpencar dan saling memberi komunikasi. Pergunakan senjata kalian masing-masing dengan benar.” Donghae menginstrupsi yang disetujui oleh Zelo maupun Jiyong.

Ketiganya mulai berpencar. Zelo memastikan letak lokasi bagian di mana pemberontak itu mungkin akan memunculkan wajahnya. Jiyong lebih ikut serta dalam tarian tradisional yang diberikan sekalipun matanya terus memantau berbagai berbagai pergerakan di sekitar. Sedangkan Donghae justru menuju salah satu gedung pecakar langit yang entah darimana memusatkan ketertarikannya, hal itu kian diperkuat saat dengan tidak sengaja dirinya melihat ayah kandung dari Ha Ji Won, Cho Tae Sik berlari tenang melewatinya tanpa sadar.

“Apakah kau rela untuk membunuh ayahmu ini, Ji Won-ah?” tanyanya dengan ragu saat semilir angin justru datang menyapanya.

BANG!

BANG! BANG! BANG!

Tembakan yang berasal dari senjata laras panjang entah darimana datangnya itu mulai menciptakan kegaduhan. Donghae segera berlari membututi, menabrak orang-orang panik dari arah berlawanan namun dirinya masih tetap berfokus pada Cho Tae Sik dan kini ia menengadahkan kepalanya … berdiri sejenak saat memastikan bahwa gedung ini menjadi tempat yang tidak asing baginya.

Sebuah bangunan kosong yang berjarak dekat dari pusat kota. Sebuah tempat kelam yang menjadi tempat pertama saat dirinya dan Ji Won melakukan kekejaman untuk petinggi yang tidak mengerjakan tugas negaranya dengan benar. Sebuah tempat penuh dosa yang sudah sering tersiram darah dan sudah ia tinggal setelah perbedaan jalan dengan Ji Won.

BANG!

Tembakan bius tepat menembus leher belakang Donghae yang sempat kehilangan fokus. Seperkian detik kemudian, pandangan Donghae mulai mengabur, kepalanya terasa berputar namun sebelum ia kehilangan kesadarannya, seorang pria merunduk ke arahnya dengan senyum kemenangan.

Long time no see, Lee Donghae.”

Bastard, kau Seung Gi!”

 

 

***

 

BANG!

BANG! BANG! BANG!

Kwon Jiyong tercetak. Sepersekon detik lontara peluru asal itu langsung membuat kegaduhan pada masyarakat sipil yang justru tengah bersuka cita. Sial, umpatnya sembari mengepal kedua buku tangannya sampai memucat. Pria itu langsung mengeluarkan pistol semi otomatis. Berdiam sejenak, menyeimbangi degup jantung dari kekacauan ini. Matanya terpejam seolah tak berani untuk melihat penduduk sipil yang tidak memiliki kesalahan itu tertembak dan berlari panik bagaikan kiamat tengah di depan mata.

Showtime!” Ujar Jiyong dengan geram. Mengeratkan pegangan pada senjatanya lalu mata elangnya mulai menyelisik darimana letak pada penembak tak memiliki hati itu berada.

Kedua lengan Jiyong menggenggam erat senjatanya, mengarah tepat pada pukul dua lalu kepalanya mulai ia miringkan dengan mata menyipit guna melihat dengan jelas dan mendapat posisi yang cucok untuk meluncurkan pelurunya.

BANG! BANG!

Satu orang pertama sudah ia selesaikan, namun justru dari sana tembakan lain mengarah ke arah Jiyong. Pria itu berlari, mencari persembuyian untuk sekiranya membantu Jiyong menghindari tembakan yang seseorang lancarkan untuknya.

Hyung!” Berjarak tigapuluh meter dari posisi Jiyong yang bersembunyi, seruan Zelo berhasil membuat fokusnya beralih. “Di belakangmu!”

BANG!

Belum sampai tersadar dengan pasti, Zelo mengarahkan senjatanya dan salah satu orang yang hampir berada di belakang Jiyong sudah terkapar.

Jiyong menyunggingkan senyum sekilas, lalu dengan percaya diri ia meninggalkan tempat persembunyiaannya dan berlari untuk mencari orang yang telah melakukan kekacauan ini, anak buah dari Chaeukshin.

 

 

***

 

“Woo Bin-ssi, apakah kita bisa melakukannya?” dengan ragu Sandara mulai bertanya pada Woo Bin yang justru tengah serius pada bahan-bahan kimia di laboratorium.

Pria itu menghentikan kegiatannya lalu pandangannya langsung menatap dalam pada Sandara yang justru hampir menangis mengingat mereka sudah mendapatkan kegagalan berkali-kali dari reaksi yang diberikan.

“Aku tahu, sangat sulit dan bahkan jika orang yang memiliki kepercayaan pada Tuhan akan frustasi dengan hal ini.” Katanya dengan lembut. “Sekalipun ini hal yang mustahil untuk dilakukan secepat mungkin, tapi kau harus percaya bahwa Tuhan memiliki bantuan yang akan diberikan untuk kita.” sambungnya menerawang sejenak karena sudah dua hari berturut-turut keduanya mengabiskan waktu di dalam laboratorium ini.

“DARA!”

Seorang pria paruh baya tiba-tiba datang mendobrak pintu dengan suara serak melengkingnya. Dara yang tercekat dan tidak percaya melihat sosok yang ada di hadapannya bukanlah ilusi. Paman Lee! Airmatanya luruh dan pada hitungan detik ia langsung mengambur dalam pelukan pria paruh baya itu.

“Nak, bagaimana kabarmu?”

Tidak ada suara lain yang dirindukan oleh Sandara selain dari suara Tuan Lee. Gadis itu memeluk erat pria yang telah ia anggap sebagai orangtuanya, bahkan ia tidak bisa membalas pertanyaan yang diberikan karena seolah suaranya tenggelam bersama rindu yang dikurung.

“Pa-Paman,”

“Kita bisa mengentikannya, Nak. Semua orang membutuhkan kita dan wabah black death tidak akan pernah mengampiri Korea Selatan!”

 


To Be Continue..


 

Hamdalah 🙂
Pinda berharap masih ada yang baca ff ini dan semoga juga ini bisa rampung.
Semoga jadi ff series kedua yang Pinda selesein setelah The Darkness of Tokyo 😀

 

 <<back next>>

 

Advertisements

16 thoughts on “Showdown [Part 9] : PURSUIT

  1. Omo pinda ini ff kamu supeeerr panjang puas aku bacanya..hehe
    Tetap semangat yah buat ngelanjutin nih ff fighting pinda next chap ditunggu..aku mau baca ulang dulu soalnya agak lupa haha…okey next chap jeosaeyoo

    • iya yaampun, tadinya masih setengah di draf ku tapi sore tadi nyoba lanjutin dan bisa sepanjang ini :’)
      Antara nangis sama bahagia ngeposting ff ini tuh 🙂

      oke ta, makasih yaaaah! ppyong~

  2. akhirnya dilanjut jg ff ini.
    chap ini bikin greget, dag dig dug & agak bimgung soalnya agak lupa sama chap sebelumya jdi agak bingung. nanti aku baca ulang dah.
    ditunggu thor chap selanjutnya…tetap semangaaaattttt.

  3. Hoorayy! paman lee kembali. Ihh jiyong oppa modus, tapi mau sih dimodusin sama jiyong oppa😍 #plaak. Gimana nasibnya donghae oppa nanti? penasaraann, pinda unnie😄

  4. Wahhhh selesai juga baca ff ini dari awal sampe part iniiiiiiiii, maaf sekali baru bisa komentar karena aku termasuk reader baru jadi pas liat ff ini di post langsung deh pengen baca dari awal chapter ternyata seruuu sumfahdeh..
    Trillernya berasa banget, mysterinya juga berasa banget. Tapi greget daragonnya malu2 kucing buat nyatain perasaan mereka masing2, mungkin karena terpaut umur juga kali yaaa..
    Senenggggg akhirnya paman lee kembali, semoga wabahnya dapat di hentikan, semoga rencana Yang Hyun Suk berhasil, dan semoga jiyong ga kenapa2 AMIN!
    Hehe jadi kepanjangan deh komentarnya, semangaaaaaaattt thor buat serial yg selanjutnyaa!! 🙂

    • hi! Nanda!
      Iya kaleum aja Nan, pokoknya yg tertarik sama ff ini bakal teteup aku kasih pw buat akhir chapter kok hehe.
      Iya nih, perbedaan usia masalahnya. GD masih anak kecil jadi rada ragu-ragu juga mau deketin Dara haha.
      Mkasih yah semangatnya! teteup stay tuned yah sama ff abal aku. Ppyong~ ♡♡♡

  5. hi! Nanda!
    Iya kaleum aja Nan, pokoknya yg tertarik sama ff ini bakal teteup aku kasih pw buat akhir chapter kok hehe.
    Iya nih, perbedaan usia masalahnya. GD masih anak kecil jadi rada ragu-ragu juga mau deketin Dara haha.
    Mkasih yah semangatnya! teteup stay tuned yah sama ff abal aku. Ppyong~ ♡♡♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s