DESTINY FOR THE KING [Part. 15-End]

defta

Author : Defta

Cast     : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jung il Woo

Genre   : Drama, action (maybe), Kolosal

***

WAJIB BACA

Kalau ada tanda [=== …… ===] itu tandanya apa yang terjadi diwaktu yang sama. Inget ya APA YANG TERJADI DI WAKTU YANG SAMA.

Ini pertama kalinya bagi Jiyong menanti setiap detik yang berlalu dengan berharap waktu akan berhenti jika ia menantinya, namun usahanya nihil,  malam akan berganti menjadi siang dan siang akan berganti malam.

Dara menatapnya dengan perasaan yang sama, berharap didikannya kepada Jiwon akan meluluhkan semua instruksi dari Ilwoo, tapi ketika ia berfikir seperti itu ia akan mengingat kedua orangtua kandung Jiwon yang nyawanya berada dalam setiap gerakan pria muda itu.

Tak lama suara decitan pintu terdengar, sinar matahari yang amat terang membuat Jiyong, Dara, Chaerin dan Donghae tak dapat melihat siapa gerangan yang membuka pintu kayu itu.

“Apa anda merindukan saya Dara-ssi ?”

“Yongbae-ssi ?”

Orang yang membuka pintu itu lantas keluar dari zona terang dan menampakkan wajahnya, dan tentu saja dia adalah Dong Yongbae. Pria itu kemudian berjalan kebelakang Dara dan membuka ikatan di tangan dan kaki wanita itu, selanjutnya ia melakukan hal yang sama pada Jiyong.

“Apa kau membawa kuda ?” Suara serak Jiyong memberi pertanyaan pada Yongbae.

“Neh” Yongbae mengagguk kecil.

Tanpa aba-aba lagi Jiyong melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan itu, tak mengindahkan panggilan dari Dara maupun Yongbae. Tapi ketika ia sampai di tengah daun pintu Jiyong berbalik dan menatap kedua manik mata Dara.

“Tunggulah dikuil, aku akan menyelamatkan ketiga anak kita” Dengan itu Jiyong kembali melangkahkan kaki, membuat langkah panjang untuk segera keluar dari tempat dimana ia disandera.

“Yongbae-ssi, ayo kita susul dia, aku memiliki firasat yang buruk”

“Sepertinya kali ini saya setuju dengannya, kembalilah ke kuil dan tunggulah kami disana” Yongbae kemudian beralih menatap 2 manusia lain yang berada disana. “Anda juga Chaerin-ssi”

“Aku tidak bisa, aku harus di berada di depan Jiwon agar dia berhenti melakukan perintah dari orang itu, kudeta mungkin tidak akan terjadi”

“Chaerin benar, kami harus berada disana” Donghae menanggapi.

Yongbae menghela nafas, lalu mengaguk dan kembali beralih menatap Dara “Baiklah, kalau begitu saya akan mengantarkan anda kembali ke kuil dan kemudian…..”

“Aku akan ikut !!”

Ketika senja mulai menjelang, beberapa bintang sudah muncul di langit joseon,sungguh bintang yang amat indah namun amat tragis, karna beberapa saat lagi bintang yang tak bersuara itu akan menyaksikan pertumpahan Darah yang mengerikan.

Jiwon menarik senar busurnya, menguji kekuatan dari busur itu. Lalu melihat ketajaman beberapa anak panahnya.

“Kau terlihat akan pergi perang” Suara Hayi mengagetkan Jiwon.

Jiwon tersenyum pada adiknya itu. “Apa aku boleh meminta sesuatu darimu ?”

Hayi mengerutkan dahinya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. “kali ini kau terlihat akan mati, baiklah kau boleh melakukannya”

“Apapun yang akan terjadi malam ini, aku tetaplah kakakmu”

“Kau ini kenapa ?” Hayi menanggapi ucapan Jiwon sambil tertawa.

“Tetaplah berada di kamarmu dan jangan keluar, jangan mengunjungi siapapun dan tetap berada di dalam kamarmu, kau mengerti ?”

Sekali lagi dahi Hayi berkerut.

“Apa kau mengerti ?” Ulang Jiwon.

“Baiklah, aku mengerti”

[===Kuda yang Jiyong tunggagi berlari dengan amat kencang, dan kemudian berhenti di desa yang paling dekat dengan kerajaan. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu, sudah lama sekali ia tidak menggunakan pintu itu untuk sekedar keluar istana.

Ia menyentuhkan tangannya diatas pintu yang berdebu itu.===]

#Jadi biar Defta jelasin lagi, maksud dari tanda itu adalah : saat Jiwon lagi ngomong sama Hayi, diwaktu yang sama Jiyong sudah berada di depan pintu terowongan. Paham ?, selanjutnya ada beberapa seperti ini#

[===“Kenapa anda membiarkan mereka keluar dengan mudah tuan ?”

Seringai jahat keluar dari bibir Ilwoo. “Biarkan mereka melihat Jiwon dan Hanbin saling mengacungkan senjata mereka satu sama lain”

“Tapi jika Jiwon-Gun melihat kedua orangtuanya disana maka rencana anda akan gagal”

“Itu yang ada dalam pikiranmu ?, kau pikir jika mereka melarikan diri sekarang mereka akan sampa di istana tepat waktu ?” Ilwoo kemudian tertawa dengan keras. “Apa Mantan raja itu mengunjungi tempat yang direncanakan ?”

“Neh, dia pergi ke terowongan rahasia yang menuju ke istana”

Ilwoo meraih gelasnya, lalu menuangkan arak beras kedalam gelas itu “Dan kau sudah mengganti jalurnya bukan ?”

“Neh, Jika dia masuk melewati terwongan itu maka ia akan sampai di pos yang berada di dalam istana, disana sudah ada 12 orang yang berjaga”

“Bagus, jika hal itu terjadi, bunuh dia dan buang dia kejurang” dalam sekali tegukan Ilwoo meminum cairan berwarna putih itu.

“Tapi bagaimana dengan yang….”

“Aku tidak peduli dengan orang lain lagi, termasuk Dara, yang aku inginkan adalah Pria busuk itu  dan anaknya mati dengan tubuh yang tidak ditemukan” ===]

#Yang ini juga, jadi ada 3 momen diwaktu yang sama, Jiwon sama hayi lagi ngobrol, Jiyong yang sampai di depan pintu trowongan dan Ilwoo yang ngomong sama anak buahnya#

*

*

Hamburan bintang yang bersinar mengiringi langkah Jiwon, ia keluar dari kediamannya yang berada paling barat kerajaan, ia berjalan dengan baju militernya yang berwarna biru, ketika ia keluar dari pembatas kediamannya  75  prajurit yang berada di kediamannya mengikuti langkahnya dengan pedang ditangan mereka.

Ketika melitasi kediaman Hayi ia berhenti sebentar, menatap gerbang merah itu dengan sendu, ia masih ingat pertama kali pertemuannya dengan Jisoo dibalik gerbang itu, ia juga masih ingat dengan betul bagaimana hampir setiap hari ia membuat Hayi menangis karna ulah nakalnya. Ia tersenyum dengan kecut mengingat semua hal itu.

Tak lama ia membuang wajahnya dan menatap lurus kedepan, ia menggenggam busur ditangan kanannya dengan sangat erat, ini pertama kali dalam hidupnya busur yang ia genggam terasa sangat berat, dengan wajah lurus kedepan ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan pasukan dibelakangnya yang semakin banyak.

Ia tak tau berapa jumlah orang yang berada dibelakangnya, berapa dari mereka yang memegang pedang, berapa yang memegang busur dan berapa yang memegang tombak. Ia tak tau semua itu yang ia tau semua orang dibelakangnya memiliki satu buah kesamaan, yaitu mereka memakai ikat kepala yang berwarna hitam.

Ia hanya terus melangkahkan kakinya dan terus melakukan itu hingga puluhan orang berdiri di depannya menghalangi jalannya.

Orang-orang dibelakangnya  tanpa ragu mengangkat pedang, busur dan tombak mereka, melewati Jiwon dan menumpas semua orang yang menghalangi langkah namja itu. Membuka gerbang yang sedari tadi dilindungi oleh puluhan orang tersebut. Jiwon kembali melangkahkan kakinya, melewati genangan Darah yang berada tepat dibawah kakinya, melewati gerbang setinggi 3 meter yang telah dibuka dengan lebar.

Ia berdiri dengan segela gejolak dihatinya, ia menatap lurus kedepan, ratusan orang berdiri didepannya. Ia mendongkan wajahnya menatap seseorang yang berada dalam satu garis lurus dengannya. Hanbin berdiri disana dan menatap matanya.

Tanpa keraguan lagi ia berjalan lurus kedepan, tapi anehnya tak ada satupun dari ratusan orang itu mencoba menghentikannya, ia mengangkat busurnya, menarik salah satu anak panah dari punggungnya, dan ia mengarahkan anak panahnya tepat pada Hanbin. Tapi Hanbin seolah tak gentar dan hanya menggantungkan pedangnya disisi tubuhnya tanpa berniat untuk ikut mengangat pedang itu.

“Apa yang kau lakukan ? Cepat angkat pedangmu”

[===  Jiyong menghadapi sebuah pintu berwarna coklat, ia tak menyadari bahwa pintu itu adalah sebuah pintu baru, bukan pintu yang dulu sering ia gunakan untuk keluar masuk istana secara diam-diam.

Tanpa ragu ia mendorong keluar pintu itu tanpa tau apa yang menunggu dibaliknya ===]

“Apa yang kau lakukan ? Cepat angkat pedangmu” Ucap Jiwon dengan dingin.

Hanbin tersenyum, melangkahkan kakinya dan berhenti beberapa langkah dari hadapan Jiwon. “Aku tak akan mengangkat pedangku pada sauDaraku sendiri”

Jiwon ikut tersenyum, tapi senyum meremehkan  “Sekarang aku seorang pemberontak tidak ada kata sauDara dalam pemberontakan”

“Itu menurutmu” Hanbin berjalan 1 langkah kedepan, semakin mengikis jaraknya dengan Jiwon. “Tidak bagiku, Jiwon-ah”

Keheningan sesaat terjadi, seolah bernafaspun adalah suara yang sangat berisik.

“kenapa kau melakukannya ?” Tanya Jiwon.

[=== Tak ada suara nyaring ketika pintu itu ia dorong, dan sekali lagi ia tidak merasa curiga sedikitpun, di dalam otaknya sama sekali tidak mempotes “Kenapa pintu yang sudah bertahun-tahun tidak ia buka tidak menimbulkan decitan nyaring”

Ia hanya memikirkan keselamatan ketiga orang anaknya.

Hingga pikiran itu menguap seketika, tat kala puluhan orang berdiri didepannya dengan memakai pakaian hitam dan berbagai macam senjata ditangan mereka. Ia yakin mereka semua bukanlah prajurit istana, dan Jiyong mulai berfikir dimana dirinya sekarang dan kenapa puluhan orang yang mencegatnya memakai ikat kepala berwarna hitam.

“Siapa kalian ?” Tanyanya setelah keluar dari pintu itu.

“Kami ?” Puluhan pria itu tertawa dengan keras. “Kami malaikat dari neraka yang akan menjemputmu”

Selajutnya Jiyong melakukan perlawanan dengan salah satu dari mereka. Ia menghunuskan pedangnya dan berhasil melukai orang itu, tapi ia kalah jumlah dan berakhir dengan dirinya yang tidak berdaya, ia jatuh ditanah dan pria-pria itu memukulinya.

Tak terhitung sudah jumlah lebam di tubuhnya, dengan brutal mereka memukulinya tanpa belas kasihan sedikitpun hingga akhirnya Jiyong menutup matanya===]

“Kenapa kau melakukannya ?” Tanya Jiwon yang masih memegang lurus busurnya.

“Karna kau adalah adikku”

Jiwon tertawa dengan keras, ia mengeluarkan smriknya. “Setelah semua yang terjadi kau masih menanggap aku adik ?”

“Neh, Jiwon-ah”

“SERANG !!!” Jiwon berteriak, membuat semua orang yang tadi berjalan dibelakangnya mengangkat senjata mereka, menyerang ratusan prajurit yang siap sedia melindungi Hanbin. Suara pedang yang saling beradu terdengar nyaring, suara dari senar busur yang baru saja melontarkan anak panah menjadi suara lain yang menjadi pelengkap di istana itu.

Hanbin tidak berkedip sedikitpun , bersiap menerima kenyataan bahwa jantungnya akan segera tertancap anak panah yang dilontarkan adiknya sendiri.

Tapi sedetik kemudian ia menarik nafas dengan dalam. Jiwon berbalik dan memunggunginya melepaskan tali busurnya dan menembak orang yang memakai ikat kepala berwarna hitam.

“Jiwon-ah….” Desisnya tak percaya akan penglihatannya.

“Apa yang kau lakukan cepat angkat pedangmu, aku yang akan melindungimu” Ucap Jiwon dengan keras

[=== 2 ekor kuda melaju dengan keras. Yongbae dan Donghae adalah penunggang utama dari kuda itu, serta Dara dan Chaerin adalah penumpangnya.

Kedua kuda itu dipacu dengan cepat, hingga tanpa mereka sadari mereka melewati beberapa pria berpakaian hitam yang mendorong sebuah gerbak yang ditutupi dengan anyaman jerami di bagian atas menutupi sesuatu dibaliknya ===]

“Apa yang kau lakukan cepat angkat pedangmu, aku yang akan melindungimu” Ucap Jiwon dengan keras, ia kembali mengambil anak panah dipunggungnya, kali ini berjumlah tiga buah, dengan cepat ia melontarkan anak panahnya itu kepada beberapa orang yang berada diatas atap.

“e…eoh….” Dengan tergagap Hanbin menjawabnya. Kemudian ia mengeluarkan pedangnya menghunuskannya kepada semua orang yang memakai ikat kepala hitam, tepat seperti instuksi Jiwon.

Setelah itu tak ada percakapan lagi diantara keduanya, hanya ada suara dari tali busur Jiwon dan suara pedang Hanbin. Tanah coklat itu seketika menjadi lautan Darah dan lautan mayat, Jiwon menendang beberapa mayat yang menghalangi jalan mereka.

Hingga langkah kakinya berhenti karna melihat 4 orang yang berdiri di depan gerbang, ibu dan ayah biologisnya, ibu angkatnya dan seseorang yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri, ia menurunkan busurnya dan menatap keempat orang itu dengan tersenyum.

Dengan langkah terseok-seok ia berjalan maju, begitu pula dengan Chaerin dan Donghae, sementara Dara tetap disana dan Yongbae berlari untuk menjadi tameng bagi Hanbin pengganti Jiwon.

Tanpa ia sadari sesorang yang berada di sudut gelap menatapnya dengan tatapan benci, ia melangkahkan kakinya menuju ke keluarga kecil itu. Langkah-langkah kecilnya berubah menjadi langkahan yang panjang dan cepat. Bersamaan dengan itu ia mengeluarkan pedang putih mengkilapnya dari balik sarung pedang dan mengacungkanya lurus kedepan.

Chaerin yang pertama kali menyadari bahwa dirinya, Donghae dan Jiwon berada dalam bahaya, ia berada dipaling depan, menjadi perisai bagi 2 pria dibelakangnya.

“CHAERIN-SSI …!!!” /#SRET Teriakan Dara bebarengan dnegan suara pedang yang menusuk daging.

Jiwon merasakan dingin dibagian pipinya, kedua matanya melebar dan tubuhnya menjadi tegang, ujung pedang berada 1 cm tepat di depan perutnya. Ia menatap 2 manusia di depannya, kedua orang itu tertusuk oleh 1 buah pedang sepanjang 1 meter.

Posisi Chaerin dan Donghae yang saling membelakangi, hingga pedang itu masuk dari perut Chaerin dan bermuara ke perut Donghae, dan bahkan hampir mengenai tubuh Jiwon.

Waktu seolah berhenti di depan mata Jiwon, kedua orang tuanya dibunuh tepat didepan matanya. Tapi waktu itu kembali berjalan saat pedang yang menusuk kedua orangtuanya dicabut dengan paksa, hingga pasangan suami istri itu jatuh ketanah.

“KYAAA….” Jiwon berteriak, ia mengarahkan busurnya kepada orang yang membunuh orangtuanya, tapi sayang anak pananya telah habis ia pergunakan. Tak habis akal ia mengambil sembarang pedang yang berada dikakinya. Namja itu berjalan kebelakang karna orang itu berjalan kedepan, menyudutkan Jiwon.

Orang itu terus mencoba mengikis jaraknya dengan Jiwon, sembari melepas cadar yang menutupi wajahnya.

“K..k..kau…” Ucap Jiwon dengan tergagap karna orang itu adalah orang yang sama yang mengintruksinya untuk membunuh Hanbin.

“Bukankah sudah aku bilang, aku akan membunuh orangtuamu jika kau tidak membunuh raja itu”

Jiwon memegang pedangnya dengan erat, dan mengacungkannya kedepan.

“Kau menantangku Jiwon-ah ?”

Tanpa basa basi lagi Jiwon mengayunkan pedangnya pada Ilwoo, mencoba mengincar leher pria itu. Tapi Ilwoo dengan cepat dapat menghindar. Pertempuran sengit antara Ilwoo dan Jiwon tak dapat dielakkan lagi, suara pedang yang saling beradu itu sungguh membuat telinga terasa ngilu.

[===Kesempatan itu Dara gunakan untuk berjalan kearaah Chaerin dan Donghae, ia meraih tubuh Chaerin dan memeluknya. “Chaerin-ssi…” Chaerin membuka matanya sebentar dan kemudian tersenyum dengan lemah, tanpa mengucapkan kata-kata lagi wanita itu menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya.===]

Jiwon kehilangan pedangnya karna Ilwoo mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat, hingga pedang yang ada ditangannya terlepas, Jiwon hanya dapat berjalan kebelakang dengan pedang Ilwoo yang berada dibawah dagunya.

Tapi tiba-tiba saja ia berhenti. Ia menggenggam pedang Ilwoo dengan kedua tangannya dan kemudian menancapkan pedang itu ke perutnya sendiri.

“JIWON !!!” Teriak Hanbin.

Ilwoo hanya tersenyum miring, lalu ia mencabut pedang nya dari perut Jiwon, membiarkan namja itu tergeletak di tanah dengan mengeluarkan Darah dari mulutnya, pandangannya lurus kepada Hanbin yang berada beberapa meter didepannya dan menatapnya, ia baru akan melangkahkan kakinya saat ia mendengar sebuah teriakan.

Ia membalikkan badannya dan menemukan sebuah pedang mengarah lurus kepadanya, ia tak sempat mengelak hingga pedang itu dapat menebas lehernya.

“DONGHAE-SSI….”

“itu untuk kematian kami…”

Akhirnya Ilwoopun tumbang bersama dengan tumbangnya Donghae. Bersama dengan itu Hanbin berlari kepada Jiwon, mengangkat tubuh namja itu dalam pangkuannya.

“Terimakasih…” Ucap  Jiwon dengan lemah. “Terimakasih karna masih menganggapku sebagai seorang adik, setelah semua yang sudah terjadi pada kita.”

“JIWON-AH….” Dara berlari kearah Jiwon dan mengambil alih posisi Hanbin untuk menopang tubuh Jiwon.

“EommaMama….” Jiwon meraih tangan kanan Dara dan menggenggamnya. “Terimakasih karna telah merawatku seperti putramu sendiri”

“Apa yang kau katakan Jiwon, kau ini memang  putraku” Balas Dara dengan deraian air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.

Tak lama kemudian suara teriakan Hayi juga terdengar, yeoja itu langsung berhambur untuk berada disisi Jiwon. “Apa yang terjadi padamu ?” tanyanya dengan khawatir.

“Terimakasih karna sudah menjadi adikku”

“Aku bukan adik mu” Balas Hayi dengan suara serak, dan setelahnya ia menangis. “Aku bukan adikmu, kau bukan kakakku, aku akan menjadi adikmu kalau kau selamat, aku akan memanggil tabib”

Hayi baru saja akan kembali berdiri saat tangan kiri Jiwon meraih tangannya dan menariknya untuk tetap berada disana. Setelah Hayi kini giliran Jisoo yang datang, Hayi berdiri untuk memberi ruang pada yeoja itu.

“Aku bahagia karna menjelang ajalku, semua orang yang aku sayang berkumpul di depanku”

“Apa yang anda katakan Jeonha… anda harus sembuh, anda pasti bisa” Jisoo meraih tangan Jiwon dan menggenggamnya dengan amat erat, seolah enggan untuk kehilangan tangan itu.

Nafas Jiwon semakin lama semakin menjadi pendek. Namja itu melepaskan genggamannya pada tangan Dara dan mengalihkannya pada tangan Hanbin. “Ada satu hal yang aku inginkan Hyungnim…”

“Katakan…”

Jiwon kemudian menyatukan tangan kanannya yang menggenggam tangan Hanbin dengan tangan kirinya yang digenggam oleh Jisoo. “Jagalah Jisoo untukku”

“Jiwon-Gun.. apa yang anda katakan” Jisoo menarik tangannya, dan air matanya semakin turun dengan deras. Perlahan Jiwon kembali meraih tangannya, dan sekali lagi menyatukan tangan jisoo dengan tangan Hanbin.

“Mungkin ini waktunya aku untuk berkumpul bersama kedua orangtua kadungku, Jisoo-ah” Jiwon berkata dengan susah payah. “Tetaplah bersama dengannya, agar aku bisa tenang disana”

Jisoo hanya menunduk dan mengangguk kecil, seiringan dengan air matanya yang menetes.

Jiwon tersenyum, menatap semua orang yang berada disekelilingnya satu persatu “EommaMama, sampaikan juga ucapan terimakasihku pada AppaMama”.

[=== Beberapa pria yang memakai pakaian hitam berhenti dujung tebing yang curam, mereka menyingkirkan anyaman jemari yang menutupi tubuh Jiyong.

“Hyung-nim dia belum mati” Ucap salah satu pria itu setelah mengecek nafas Jiyong.

“Biarkan saja, setelah dia kita buang kejurang dia akan mati”

“Kau benar juga Hyung”

Mereka kemudian mengangkat tubuh Jiyong, mengayunkannya sebanyak tiga kali dan membuangnya kedalam gelapnya jurang yang curam itu===]

“EommaMama, sampaikan juga ucapan terimakasihku pada AppaMama”

Dara mengagguk kecil sambil berusaha untuk tersenyum, walau air matanya terus saja turun.

“Selamat tinggal” Jiwon menutup matanya, pegangannya pada tangan Hanbin dan Jisoo terlepas begitu saja dan dia merosot dari pangkuan Dara.

Pagi mendung itu mengiringi prosesi pemakaman Jiwon dan kedua orangtuanya, Hanbin sendiri yang memimpin upacara nan sakral itu.

“Aish kemana perginya bajingan itu” Gerutu Yongbae, ia mencoba mencairkan suasana yang sedih itu, tapi dalam hatinya ia merasa sangat khawatir.

“Belum ada kabar apapun ?” Dara tiba-tiba sudah berdiri di depan Yongbae.

Pria itu hanya menggeleng, membuat Dara dilanda kekhawatiran yang  amat sangat.

“Kita harus kembali ke kuil, mungkin dia marah padaku karna tidak menuruti perintahnya, ayo kembali ke kuil Yongbae-ssi !” Ucap Dara dengan pandangan yang kosong, setetes air mata jatuh dari kelopak matanya yang indah. “Aku harus menunggunya”

==END==

 Terimakasih karna sudah membaca FF yang dari prolog sampai part15 berjumlah 45.251 kata ini, dan ff yang menghabiskan waktu 4 bulan selama proses pembuatannya. Defta minta maaf  dengan semua typo yang berserakan, Defta minta maaf juga kalau ceritanya aneh. Tapi walau demikian Defta minta untuk menghargai karya Defta ini dengan setidaknya meninggalkan 1 buah komentar di part terakhir ini.

Defta gak kasih pasword di part ini karna Defta ngargain silent reader yang mungkin ada, tapi masak iya selama 15 part ini gak ninggalin komentar sedikitpun.

So Defta minta dengan sangat untuk setidaknya meninggalkan sepatah kata buat FF Defta ini. Tengkiyu

See you in Epilog Destiny For The King

Advertisements

26 thoughts on “DESTINY FOR THE KING [Part. 15-End]

  1. Sedih banget chap ini,
    Itu jiyong selamat apa gk ya?
    Semoga happy ending. Makasih buat defta, ceritanya bagus. Ditunggu epilognya ya…

  2. Ikut sedih karena komentar di chapter ini sedikit banget. Defta unnie, mian karena baru bisa baca endingnya dan baru bisa komen. Penasaran banget sama epilognya. Jiyong nya pasti masih hidup kan???

  3. Aigooo thor akhirnya ending.. Tapi kenapa malah sad ending nih???
    Gak rela jiwon harus mati.. Huhuhuhu
    Epilognya ditunggu thor..
    Semoga happy ending buat mereka yang masih bertahan yah..
    Semoga hanbin bisa cari solusinya..
    Semoga dara jiyong bersatu kembali..

    Ditunggu thor epilognya…
    Hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s