INNOCENT SMILE [Oneshoot]

Author : Aitsil96

Annyeonghaseyo. Ada yang bisa dibantu?”

Gadis itu tertegun sesaat ketika seorang wanita berseragam di balik meja panjang menyambutnya ramah di pintu depan.

“Atas nama Kwon Ji Yong. Kami telah ada janji sebelumnya.”

Wanita berponi yang terlihat berada di umur awal tiga puluhan tersebut kemudian membuka catatan yang berada di meja. Membalik kertas dengan dahi berkerut samar lalu sedetik kemudian tersenyum ketika melihat nama yang baru saja dilantunkan gadis bersurai kemerahan tersebut tertangkap retina matanya.

“Ah, ya. Mari saya antarkan.”

Park Sandara mengangguk lalu kakinya segera melangkah untuk mengekori wanita tersebut, memasuki lebih dalam bagian butik dengan lorong berdinding tinggi di sepanjang perjalanan singkatnya tersebut. Ya, saat ini ia tengah berada di salah satu butik terkenal yang terletak di pusat kota Seoul. Bangunannya cukup luas dengan warna abu mendominasi. Terlihat minimalis, namun juga mampu membuat matanya berkeliling untuk menikmati desainnya yang mengagumkan.

“Silakan tunggu di sini. Kami akan menyiapkan pakaiannya.”

Gadis itu mengangguk lalu tersenyum ringan. Menuruti perintah pelayan butik untuk duduk di salah satu sofa merah yang berada di sisi ruangan. Tangannya tertaut erat dengan jemari yang saling beradu. Kebiasaannya saat gugup. Ya, sudahkah Sandara bilang bahwa ini merupakan hari yang mendebarkan baginya?

Ting!

Satu pesan masuk di ponselnya. Sandara segera merogoh isi di dalam tasnya dan mengeluarkan benda kotak berwarna putih tersebut.

‘Aku baru tiba di parkiran. Kau sudah berada di dalam?’

Satu tarikan tak biasa muncul di sudut bibirnya. Pria yang ditunggunya sudah datang. Cukup lama manik bulat itu tertegun dengan jemarinya belum sempat menari di keypad ponselnya untuk menuliskan balasan, namun suara sepatu pentofel yang mengetuk lantai telah tersengar nyaring di lorong. Sandara mendongak, sudah pasti hafal betul dengan langkah tegap tersebut.

Kwon Ji Yong.

“Sudah menunggu lama?”

Suara khas itu menyambangi indera pendengarannya hingga membuat Sandara terkesiap beberapa saat. Wajah pria itu terlihat tampan dengan senyuman secerah mentari pagi menghiasi lengkungan bibir penuhnya. Katakanlah itu sebagai senyuman favoritnya.

Seperti biasa, terlihat hangat dan menenangkan. Walau masih terlihat mengenakan pakaian kantor dengan kemeja biru langit yang ia gulung hingga siku dan terkesan berantakan, namun tetap saja pria itu terlihat mengagumkan dengan tubuh proporsionalnya.

“Tidak terlalu lama. Aku baru saja datang,” jawab gadis itu seraya berdiri, seolah menyambut.

Ji Yong bergerak beberapa langkah hingga mereka berdiri berhadapan. “Maaf untuk membuatmu datang sendiri.”

Gwaenchanna. Aku tahu kau sibuk, Ji Yong-ah.”

Pria itu menghela napas beratnya. “Pekerjaan kantor benar-benar menggunung. Mereka sepertinya sengaja melakukan ini sebelum aku mengambil cuti.”

“Bukankah besok hari terakhir kau masuk kantor?”

Ji Yong menggumam seraya mengangguk. “Ku harap ini cepat berakhir. Aku bahkan sudah terlalu sering merepotkanmu, Ra-ya.”

Ada semburat merah tak kentara di pipi tembam gadis mungil itu. Mendengar suara khas Ji Yong mengalunkan namanya dengan cara yang lucu selalu membuatnya hilang kendali. Ra-ya. Hanya Ji Yong yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Walau cukup menggelikan pada awalnya, namun tetap saja gadis itu selalu menikmatinya.

“Berhenti mengatakan hal itu. Kau tak pernah merepotkanku.”

“Kau bahkan harus datang kesini sendiri, seharusnya aku yang menjemputmu tadi.”

Helaan napas terdengar dari Sandara. Pria itu selalu saja mengungkit hal kecil seperti ini. Bukankah sebenarnya itu terlalu membesar-besarkan masalah yang tidak perlu? Gadis itu bahkan telah mengatakan bahwa ia baik-baik saja tak lebih dari lima menit yang lalu.

“Kau terlihat berbeda hari ini.”

“Eh?”

“Kau terlihat cantik.”

Deg!

Manik kecokelatan itu dengan berani menyapu bersih penampilan Sandara dari ujung kaki hingga rambutnya. Ji Yong memang tengah jujur ketika mengatakan bahwa penampilan gadis itu terlihat berbeda hari ini. Tak seperti biasanya yang tampil casual dengan jeans dan sweter atau kaus kebesarannya, namun kini Sandara memilih untuk membungkus tubuh mungilnya dengan gaun pendek ungu di bawah lutut bermotif floral.

Berbeda dengan tatapan Ji Yong yang makin menyelidik, manik bulat gadis di hadapannya tersebut malah berputar tak tentu arah. Bingung dan risih adalah dua hal sialan yang tengah dirasakannya. Jantungnya bahkan berdetak secara tak beraturan, seolah tengah semangat untuk memompa darah hingga menghasilkan rona merah yang lebih kentara di dua pipi tembam mulusnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” sergah gadis itu memecah keheningan dengan kedua tangan menyilang di depan dada.

Ji Yong makin mendekatkan dirinya hingga hampir tak ada jarak di antara keduanya. Sandara makin tak bisa berkutik dengan manik yang membelalak lebar. Shit! Bahkan ia mampu merasakan deru napas panas nan teratur dari pria di hadapannya.

“Menyelidikimu. Kau terlihat mencurigakan.”

“Ja… jangan gila! Mencurigakan bagaimana maksudmu?”

“Kau tak sedang berniat untuk menggoda pria lain, bukan?”

“Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan dalam otak bekumu itu, huh? Memangnya salah jika aku memakai gaun? Aku… juga seorang wanita.”

Mati-matian gadis itu berusaha menjawab dengan segala sisa keberanian yang ia miliki, namun pria itu masih betah dengan posisi sialan tersebut. Tatapan Ji Yong makin tajam, seolah bisa menguliti Sandara hingga ke tulang, membuat gadis itu menampilkan wajah dungu yang tak mampu dikendalikan. Sandara hanya mampu meneguk liurnya dengan tubuh yang luar biasa membeku.

Sialan! Menyingkirlah dari hadapanku, Kwon Ji Yong!

“Baru pakaian prianya yang telah siap. Bagai… mana?”

Suara pelayan butik menginterupsi hingga membuat Ji Yong maupun Sandara menoleh dengan cepat. Terutama gadis itu yang masih tak mampu mengendalikan ekspresi tak terkendalinya yang kini mulai mengingat cara untuk bernapas secara normal kembali. Entah harus bersyukur dengan aksi penyelamatan yang tiba-tiba tersebut, namun rupanya pelayan wanita itu juga terlihat kaget dengan posisi kedua orang di hadapannya hingga membuat ia berdeham beberapa kali.

Ne. Aku akan mencobanya terlebih dulu.”

Seolah tak pernah ada kejadian tak waras yang pernah terjadi, pria itu dengan sialannya mengukir senyum di wajah rupawannya. Ji Yong menjawab dengan lugas dan melesat ke balik salah satu tirai di sisi ruangan lainnya dengan pakaian yang baru saja dibawa pelayan butik. Sementara menunggu Ji Yong, gadis itu kembali duduk di sofa seraya menetralkan degupan jantungnya yang sialannya selalu berdetak tak karuan setiap berada di hadapan pria tersebut. Pria yang bahkan telah dikenalnya cukup lama, semenjak tingkat awal kuliahnya.

Suara tirai tersibak membuat Sandara tertarik dan kembali ke alam sadarnya, kali ini manik bulatnya kembali berpendar terang. Tertumbuk pada satu objek luar biasa yang tengah berada di hadapannya.

Ji Yong dengan balutan tuxedo.

“Apa aku tidak terlihat culun?” tanya Ji Yong lugu, merujuk pada dasi kupu-kupu yang melilit kerah kemejanya.

Sandara dengan reflek berdiri, melangkahkan tungkainya hingga berada di hadapan pria tersebut dengan senyuman manis terpatri di bibirnya. Tangan lentiknya terulur untuk membenarkan letak dasi pria tersebut lalu menepuk pelan bagian bahu bidangnya. “Kau terlihat tampan, Ji Yong-ah.”

Jinjja?”

Gadis itu mengangguk. Tidak seperti biasanya yang selalu melontarkan lelucon ataupun makian, kini gadis itu tampak serius dengan ucapannya. Ya. Ji Yong yang memang sudah rupawan kini terlihat berkali-kali lipat lebih menawan dengan mengenakan pakaian ini. Senyumannya bahkan makin memikat. Astaga, bisakah gadis itu pingsan di detik ini juga?

Entah karena pengaruh tuxedo yang harganya selangit tersebut, atau karena aura calon pengantin pria yang memang selalu tampak berbeda?

“Gaunnya sudah siap. Ingin dicoba sekarang atau…?”

“Nanti saja. Besok aku akan kemari lagi dengan calon pengantin wanitanya.”

Ne?!”

Pelayan wanita tersebut bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat Ji Yong menyela. Saat ini di tangannya telah bertengger sebuah gaun cantik tanpa lengan berwarna broken white dengan bawahannya yang menjuntai panjang. Tidak terlalu mewah dan cenderung terkesan simpel, namun tampak elegan. Raut wajah pelayan tersebut kentara amat bingung dengan bola mata yang mengarah pada sosok gadis di sebelah pria tersebut yang masih terdiam, Sandara.

Mengerti akan maksud tatapan itu Ji Yong segera bereaksi. “Ah, ia hanya temanku.”

Ya. Aku.

Aku hanya teman Kwon Ji Yong.

Tidak akan pernah lebih dari itu.

“Apakah kami terlihat cocok untuk bersama?” ucap Ji Yong seraya merangkulkan satu tangannya ke leher gadis yang hanya setinggi bahunya tersebut.

Pelayan wanita itu mengerjap lalu menunduk dengan gestur penyesalan, “Ah, tidak. Maaf, bukan begitu maksudku…”

Gwaenchanna. Ia kemari untuk menemaniku agar tidak terlambat untuk menghadiri janji fitting. Bukankah begitu, Ra-ya?”

Gadis itu mengangguk canggung untuk pertanyaan itu. Pertanyaan yang bahkan dilontarkan pria tersebut dengan lengkungan cerah di sudut bibirnya. Ada rasa sesak luar biasa yang kini tengah menghimpit dadanya, namun… bukankah itu memang benar? Sandara bahkan datang kemari hanya untuk menyaksikan pria yang dikasihinya diam-diam tersebut memakai pakaian untuk acara pernikahannya yang akan dihelat akhir pekan ini.

Sayangnya, pernikahan itu bukanlah dengan dirinya, melainkan dengan wanita lain. Wanita yang baru saja dikenal Ji Yong beberapa bulan lalu di kantor barunya.

Jeosonghamnida. Kalau begitu saya akan kembali menyimpan gaunnya.”

Ji Yong mempersilakan pelayan tersebut pergi lalu menyisakan keheningan di antara mereka berdua yang berada di ruangan tersebut.

Pria itu mendesah. “Lihat? Gara-gara kau yang terlihat cantik hari ini pegawai itu bahkan salah mengartikan hubungan kita.”

Lagi. Pria itu mengatakannya dengan senyuman, namun seolah mampu membuat ribuan pedang tajam serasa menghunus jantung gadis tersebut. Mengoyaknya menjadi ribuan serpihan hingga ke dalam bentuk mengenaskan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Menjatuhkannya ke jurang tanpa dasar hingga membuatnya terperangkap di sana. Seorang diri, tanpa mampu mengungkapkan perasaan sialannya yang selama ini hanya mampu dipendamnya.

Bodoh! Kau memang idiot, Park Sandara!

Pengecut! Bertahun-tahun mengenalnya, kau bahkan hanya mampu membuat dirimu tak lebih dari teman baginya. Kau terlalu naif dengan mengharapkan pria itu mengerti perasaanmu tanpa harus kau yang memulai!

“Lalu… kau menyesal jika pegawai itu salah mengenaliku sebagai calon pengantin wanitamu?”

Ada getar tak biasa di akhir pertanyaan tersebut. Jika saja Ji Yong mau untuk meneliti lebih jauh dari manik bulat yang selalu berpendar terang saat menatapnya, mungkin pria itu akan menemukan secercah pengharapan yang terlampau besar pada dirinya yang selama ini gadis itu simpan seorang diri. Bahkan saat ini, kilatan itu masih tergambar jelas di sana.

Kilatan kepedihan yang selalu dipendamnya jika melihat kehadiran Ji Yong yang berada dalam jarak pandangnya. Sandara bahkan kini tengah menahan mati-matian cairan asin yang mulai mendesak untuk turun.

Tidak! Kau tidak boleh menangis! Menangis hanya membuatmu tampak dungu!

Hening beberapa saat hingga satu kalimat lolos dari bibir penuh Ji Yong.

Lagi.

Kalimat itu bahkan dilontarkannya dengan senyuman. Senyuman sarat arti yang mampu melumpuhkan seluruh syaraf di otak gadis tersebut. Bahkan setelahnya, pria itu mampu tertawa dengan lantang melihat reaksi gadis di hadapannya yang masih terpaku seraya mengacak gemas surai kemerahannya.

Tanpa sadar, senyuman tak berdosa itu mampu membuat hati Sandara kebas untuk kesekian kalinya.

“Tidak. Hanya saja… aku memang tak pernah menganggapmu sebagai seorang wanita.”

.
.
.

-END-

 

Advertisements

14 thoughts on “INNOCENT SMILE [Oneshoot]

  1. huwaaaaaah😭😭😭knp cast’y di ganti DG? Klo cast lain baca’y cm iba nah yg inih mah Nangis mpe mo batalin puasa gegara air mata menganak sungai masuk mulut*elah lebay

  2. kaya udah di terbangin tinggi2, liat lemandangan yg baguuussss banget, dan tiba2 aja dijatuhin ke jurang yg paling dalam, paling gelap. sakiiiittt😭

  3. Udah ku duga, bukan kmu namanya klo kga bkin ff castnya bkin yg bca ternistakan 😥 tapi, aku beneran takut dek, ini jadi nyata…
    Udah yah kmu berhasil bkin senyum sekaligus mewek. Itu…menyebalkan 😦

    • Kak mitaaaaaa!! Huaaa aku kangen udah lama tidak bersua kita wkwk mana adikmu ini jarang banget nongol di fb duh 😅
      Enggalah fiksi doang ini, maklum kesenangan aku tuh nistain otp *plak

  4. keren ceritanya, cuma sering bertanya2 knpa kamu sering buat cerita yg tak terduga sebelumnya n yg ini benar2 sakit. kadang berpikir, kamu gak memihak daragon, 😁😂😁

    • Kaget aku baca komen ini haha tp maklun ko soalnya aku keseringan nistain DG. Tp ya itu salah satu bentuk sayangnya ke otp, agak ngenes sih yaa tp aku emang spesialis bikin cerita nista kayaknya. Seneng jg bikin ending yg ga terduga. Abis dimanis2 eh langsung sepet kan seru 😅

  5. Dari awal baca aku udah wanti wanti endingnya, eh ternyata bener kan nyesek jugaaa.. Dan begitu tau dara cuma temen pengen cepet beres aja bacanya hahaha
    Ditunggu mea chulpa nya thor. Fighting!💪💪

  6. njirr aku kira mereka udh siap mau nikah tinggal fitting baju aja, ternyataaa ya allah. friendzone?? gilaaakk nyeseeeek banget ampuunnn tega bngt sih puasa2 gini buat ff menyayat hati, untung aja bacany malam. kalo siang kan bisa emosi wkwkwkw 😀 kereeeen tpii nyeseek sumpaahhh ihh kok bisa ji nggak anggap sama sekali dara sbg wanita, duhh haiii 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s