IMMATURITY [Chap. 9]

untittle

Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)

Cast     :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon)

Genre  :: Comedy Romance

~~~

            Nomu-nomu gumawo untuk semua readers setia author 
lope-lope di udara buat kalian, love ya (~*0*)~ 

“Dara dengarkanku baik-baik” ucap Jiyong menatap Dara dengan lembut, Darapun menatap Jiyong namun dengan penuh tanya.

Cup, Cup. kecupan Jiyong pada mata Dara yang berair.

“Aku benci dirimu yang menangis” ucap Jiyong.

Chu~ chu kecupan kini mendarat di pipi Dara.

“Aku membencimu yang membuat kedua pipi ini basah”

Chu~ Kecupan yang kini Jiyong persembahkan untuk kening Dara.

“Aku membencimu yang memikirkan hal yang membuatmu menangis” ucap Jiyong lagi, dan Dara hanya terdiam seakan terhipnotis oleh makhuk di hadapannya.

Chu~ Jiyong mengecup dengan lembut bibir Dara.

“Aku membencimu yang terisak seperti ini” ucap Jiyong tersenyum lembut pada Dara. Dara hanya mengerjap-kerjapkan matanya tak mengerti.

“Aku membencimu, karena aku sangat dan teramat sangat mencintaimu, dan biarkan aku memastikan perasaan ini” ucap Jiyong sambil menarik tengkuk leher Dara membuat wajahnya mendekat dengan Jiyong. Dan Chuuuuuuuu ~

            Sentuhan lembut dari bibir Jiyong pada bibir segukan Dara membuat Dara hanya membelalakan matanya namun tak dapat ia pungkiri bahwa jantungnya berdetak kencang hingga ia sendiri takut jantung itu akan keluar dari tubuhnya. Bibir mereka hanya bersentuhan, tidak ada yang menuntut untuk lebih dari batas itu.

“Aku benar-benar mencintaimu Dara, mungkin ini sangat cepat tapi entah aku pun tak bisa menahan ini lagi” ucap Jiyong setelah melepas kecupannya di bibir Dara dan telah mendapatkan jawaban atas hatinya sendiri tentang perasaannya pada Dara.

“Apa yang kau lakukan Ji? apa kau sedang mempermainkanku? Ini tidak lucu sama sekali” ucap Dara mendorong tubuh Jiyong yang masih amat dekat dengannya lalu melewati Jiyong menjauh dari tubuh Jiyong.

“Dara, mungkin ini bukan waktu yang tepat aku berbicara seperti ini. Tapi aku tak bisa menahan semua ini. Sudah ku fikirkan dan aku pun sudah mendapatkan jawaban atas perasaanku dengan kecupan tadi. Maaf, tapi ini sama sekali bukan gurawanku. Aku benar-benar sadar akan yang aku ucapkan ini. Jadi kumohon percayalah” ucap Jiyong dengan mantap menatap Dara menunjukan keseriusannya.

“…” tak ada respon dari Dara, ia melangkah pergi menuju pintu keluar. Ingin Jiyong cegah kepergian Dara namun tatapan yang Dara berikan membuat Jiyong seakan tak memiliki tulang, lemas.

“Ini benar-benar dari hatiku” gumam Jiyong meremas dadanya sakit.

            Dara berlari menjauh dari apartemen Jiyong, degupan jantungnya belum kembali normal. Hatinya masih linglung dengan apa yang terjadi dan apa yang ia dengar dari seseorang yang selama ini menyebalkan baginya. Ia memberhentikan taksi menuju suatu tempat yang ia rindukan.

~

“Omo, Dee. Kau pulang” ucap nyonya Park, eomma Bom yang membukakan pintu untuk Dara.

“Eomma aku rindu. Tolong peluk aku” ucap Dara, dan tanpa menunggu lama Dara pun mendapatkan pelukan yang ia rindukan. Sungguh ini yang ia inginkan, menstabilkan seluruh gejolak yang entah begitu membingungkan dan membuat frustasi batin Dara.

“Gwencana Dee. Ayo masuk, eomma buatkan cokelat hangat” ucap nyonya Park dan menggiring Dara masuk rumahnya.

“Huuuuuah, nunaaaaa. Kau kembali, aku merindukanmu” teriak Chim-chim alias Park Jimin saat melihat Dara masuk ke rumahnya lalu memeluk Dara erat.

“Jiminie, nunamu lelah. Kau antarkan ke kamarnya ne. Eomma akan membuat coklat hangat untuknya” perinta nyonya Park pada anak bungsunya itu.

“Laksanakan. Nuna kajja, kau sangat lelah sekali. Aku sedih melihatnya” ucap Jimin membelai pipi tirus Dara.

“Gumawo, Jiminie. Kau namja terbaikku” ucap Dara tersenyum pada namja yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Jimin pun mengantar Dara ke kamarnya, membaringkannya dan menyelimutinya dengan sayang. Jimin sangat menyayangi Dara karena Dara selalu membelanya saat bertengkar dengan Bom.

“Nuna, istirahatlah. Aku akan meletakkan coklat hangatmu jika eomma sudah selesai membuatnya. Kau tidurlah dulu. Bom nuna sedang keluar membeli keperluan rumah” ucap Jimin halus sambil mengelus lembut punggung tangan Dara.

“Gumawo Jimin-aaah” ucap Dara mengacak rambut Jimin dan mencubit pipi gembulnya.

“Nuna, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. tapi jika kau takut, jika kau merasa bingung atau merasa sakit pulanglah ke rumah ini. Di sini semua menyayangimu nuna” ucap namja polos berumur 20 tahun itu. Tapi ia benar-benar sungguh mengatakan itu. Membuat Dara langsung memeluk dongsaengnya itu.

“Gumawo Jiminie. Aku sangat bersyukur mempunyai keluarga seperti kalian. Dan terutama mempunyai adik yang lucu dan baik sepertimu” ucap Dara lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada adiknya itu. Jimin pun dengan senang membalas senyuman Dara dengan senyum eyesmilenya, matanya selalu menghilang saat tersenyum, dan itu lucu. (cute banget sampe author aja pengen nyulik itu makhluk bantet chim chim).

Pletak. Senyuman eyesmile Jimin berubah menjadi ringisan kecil saat seseorang memukul kepalanya.

“Yak!! Sedang apa kau di sini? Mengganggu nuna mu, huh?” tanya Bom si pelaku pemukul kepala Jimin sang adik kandung (gimana mau akur, ckckck).

“Apppyo nuna. Aku tidak mengganggu Dara nuna. Aku hanya rindu padanya. Memangnya tidak boleh? Aku bosan melihat wajahmu terus di rumah ini” ucap Jimin sambil menunjukan cengiran kudanya dan berlari menghindari amukan Bom, namun bukan Bom namanya, ia langsung melepar sendal rumah yang ia pakai melayang dan mendarat tepat di punggung Jimin yang berlari.

“Dasar bocah itu, cih” kesal Bom. Dara hanya tertawa melihat tingkah kakak adik yang amat jarang sekali akur.

“Jangan tertawa. Tertawamu itu seperti rengekan kesedihan. Sudahlah cepat istirahat agar kau bisa bercerita banyak padaku besok, hemm” ucap Bom yang terlalu memahami Dara. darapun mengangguk dan kembali menidurkan tubuhnya yang lelah, ahh bukan tubuhnya saja tapi sistem otaknya dan perasaanyapun sangat lelah.

~ Ke esokan Harinya ~

            Rumah kediaman Park hari ini sangat ramai, entah karena Jimin yang selalu membuat onar dengan kakaknya Bom, atau Bom yang selalu membully Jimin membuat keluarga ini sangat berisik di pagi hari.

“Anak-anakku, apakah kalian tidak malu dengan tetangga? Yeobo, kau makan apa saat mengandung mereka? Mereka tak bisa diam” keluh tuan Park pada anak dan istrinya.

“Appa sendiri mengapa hanya menyuapi Dara nuna. Aku saja yang masih imut ini tidak pernah kau suapi seperti itu” ucap Jimin protes pada tuan Park yang menyuapi bubur pada Dara di meja makan.

“Heol Jiminie kau itu bukan imut tapi bantet. Umur 20 tahun tapi tinggi tubuhmu seperti anak SMP kekeke” ledek Bom memulai lagi perang di meja makan.

“Yak!!! Kalian ini sedang di meja makan. Cepat habiskan sarapan kalian” teriak nyonya Park yang sudah tidak bisa menahan kesalnya pada anak-anaknya yang superaktif itu.

“neeeeee” ucap serempak Bom dan Jimin kembali fokus pada makanan mereka.

“Dara, kau jangan keluar rumah. Istirahat lah lebih banyak lagi pula Bom pun sedang libur hari ini. Dan anda tuan Park silahkan berangkat bekerja, lihatlah jam berapa sekarang” ucap nyonya Park mengingatkan tuan Park yang masih menyuapi Dara dengan hati-hati.

“Aah, mianhae nak. Aku harus berangkat sekarang. Jiminie kajja kau pun harus kuliah” ucap Tuan Park lalu mengecup semua anggota keluarganya.

“Eomma, chim-chim bolos kuliah ya. aku masih rindu pada Dara nuna” ucap Jimin, ia menyebut dirinya chim-chim berarti ia sedang memohon dengan manjanya. Siapa yang akan percaya bahwa anak itu sudah mahasiswa, orang yang pertama melihatnya pasti mengira dia anak umur 14 tahun. Tapi wajah memohon yang amat sangat imut dan menggemaskan itu tidak berguna bagi keluarganya, tapi tidak dengan orang lain pastinya akan langsung membawa anak itu dalam kantung celana. (sumfah imut, ga boong).

“Andwe” ucap serempak tuan dan nyonya Park. (tuh kan ga mempan chim).

“Rasakan, hahaha” ledek Bom.

“Jiminie, aku akan ada di sini saat kau pulang, emm. Belajar yang benar dan jadi dokter yang membanggakan, arraseo” ucap Dara mengacak surai hitam Jimin. Dan membuat sang imut Jimin tersenyum dan menenggelamkan matanya. Jimin sangat manja sekali dengan keluargnya, namun ia akan menjadi namja dewasa dan kuat jika itu mengenai hal melindungi keluarganya.

“Appa, ayo berangkat. Semua aku pergi dulu” ucap Jimin kini bersemangat layaknya pejuang, dan sebelum berangkat ia mengecup pipi anggota keluarganya dulu. Ini sudah menjadi tradisi keluarga Park (terinspirasi dari tradisi keluarga author).

~

“Dee, kau masih berhutang cerita padaku” ucap Bom membelai halus rambut kecoklatan Dara. mereka sedang berada di kamar Dara.

“Emm, Bomie” ucap Dara perlahan, ia memang tak bisa menutupi sesuatu dari Bom.

“Kau tahu Jung Il woo?( Bom mengangguk), kami sempat dekat dan aku mulai menyukainya karena dia baik, namun saat aku tahu ia mendekatiku karena suatu alasan yang tidak baik, aku pun menghindarinya, sampai kamarin ia berusaha meyakinkanku bahwa ia menyesal dan memohonku kembali padanya, aku seperti di permainkan dan saat aku pulang dengan keadaan menangis, emm (jeda, Dara ragu melanjutkan cerita, namun senyuman Bom meyakinkan Dara) lalu Jiyong menenangkanku. Tapi emm, tiba-tiba ia menyatakan cinta padaku lalu menciumku” ucap Dara menunduk malu, ia merona.

1 detik

2 detik

3 detik

            Tidak ada respon dari Bom, sampai Dara yang tadinya tertunduk kini mendongakkan wajahnya melihat Bom yang tanpa ekspresi.

“HUUUAAAAAAH, Jinjaaaaa?” teriak Bom telat.

“Ya!!! kau jangan berteriak seperti itu” ucap Dara mencubit kecil lengan Bom.

“YA!!!! KALIAN TIDAK SEDANG MENONTON FILM YADONG KAN HINGGA KALIAN BERTERIAK SEPERTI ITU” teriak nyonya Park dari lantai bawah yang sedang sibuk di dapur. (ini nyonya Park apa emak autor yak? Hahaha)

“Kekekeke mian. Aku kaget Dara” ucap Bom terkekeh geli. Membuat Dara menggembungkan pipinya sebal.

“Jadi kau kemarin mendapat pengakuan cinta dari 2 namja dalam satu hari, huah Sandara Park kau sangat hebat”ucap Bom takjub.

“Aaaiissh, bukan seperti itu Bom. Aku hanya tidak mengerti. Apakah yang di katakan G dragon alias Kwon Jiyong itu benar-benar atau tidak. aku hanya takut di permainkan lagi. Aku tahu sendiri sebelumnya si model menyebalkan itu seperti apa” ucap Dara sambil memainkan ujung kaosnya. Bom yang melihat itu sangat gemas.

“Aiigooo, emm apa yang kau rasakan saat ia menciummu?” tanya Bom.

“Emm, jantungku berdegup kencang. Dan itu seperti mimpi manis bagiku, aaah entahlah” ucap Dara frustasi sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuknya.

“hahaha, kau itu menyukainya. Tapi karena rasa takutmu jadi kau meragukannya” ucap Bom sang ahli masalah percintaan.

“Molla” ucap Dara malas.

**

“Ji, hari ini Dara tidak mengaktifkan telfonnya. Kau tidak tahu ia dimana sekarang?” tanya Top yang sedang mencoba menghubungi Dara.

“Molla hyung” ucap Jiyong lemas.

“Kau kenapa, huh? tak bersemangat sekali. Apa kau bertengkar dengan Dara kemarin saat kami tidak ada di sini?” tanya Top lagi, namun orang yang di tanyai hanya mengangkat bahunya acuh.

“Aku sudah merindukan Dara nuna. Apartemen ini sepi jika dia tidak di sini” kini sang panda mesum berbicara. Tergoloek lemah tak ada gairah hidup.

“Aku juga sudah merindukan masakannya, hemm” kini Daesung menimpali, mengupil dengan lemas. (yaelah Dae g usah ngupil juga kali~)

“Aku sangat merindukannya” gumam Jiyong pelan namun masih bisa terdengar oleh yang lain.

“Ekhem” Jiyong berdekhem kikuk. (Keceplosan yak?hhahaha).

“Aiigoo sepertinya ada yang jatuh cinta eoh” goda sang panda. Sungguh ia menemukan hal yang bagus untuk menggoda hyung lawan bertengkarnya itu.

“Yakk!! Berisik sekali, huh” jiyong melarikan dirinya menuju kamar, namun cengiran Top, Daesung dan Seungri menjadi backsound pelarian dirinya itu.

“Berkemaslah, hari ini kita pemotretan di Nami” teriak Top pada Jiyong sebelum ia benar-benar masuk ke kamarnya.

~

“Kau belum memberinya jawaban?” tanya Bom.

“Belum, aku langsung kabur ke sini” ucap Dara.

“Aku pulaaaang” teriak suara namja cempreng di rumah keluarga Park ini.

“Yak!! Mengapa kau cepat sekali pulang Park Jimin” tanya sang kakak kandung, Bom.

“Aiigoo, aku selesai praktek lebih dulu nuna. Kau tidak tahu adikmu ini sangat berprestasi.” Ucap Jimin bangga dan langsung mengecup eomma yang di dapur, kemudian naik tangga mengecup Bom dan Dara. (Jiminie, author juga pengen di kecup~ ).

“Aiishh, untung saja menjadi dokter tidak memerlukan standar tinggi badan.kekeke” ucap Bom dan berhasil membuat adiknya menggembungkan pipinya yang sudah tembam itu. (auuuah cute banget).

“Omo omo, lihatlah ikan buntal sedang kesal, kekeke” ucap Bom lagi sambil mengacak gemas rambut adiknya yang sedang kesal.

“Aku ini imut nuna, dan jangan mengataiku bantet lagi” ucap Jimin memeluk manja pada Bom nunanya.

“Aigooo, tumben sekali kau manja padaku. Aaah aku tahu, pasti kau menerima banyak coklat dari junior mu. Benar?” ucap Bom menerka-nerka. Dan Tadaaa saat Jimin membongkar tas ranselnya dan mengeluarkan isinya demi celana kotak spongebob, isinya penuh dengan coklat.

“Nuna, habiskan ya. kekeke aku tidak mau memakan ini karena bisa menghilangkan abs ku yang keren ini” ucap Jimin dengan cengiran bodohnya sambil menepuk-nepuk perut kencang yang terbungkus kaosnya.

“Yak!! Kau mau aku gendut huh? aku aneh dengan junior-juniormu mengapa tertarik dengan namja bantet sepertimu?” lagi lagi Bom meledek.

“Eoommaaaaaaaa, Bom nuna mengataiku bantet, cebol, kuntet daaan hemmmpp” teriakan Jimin terterdam karena mulutnya berhasil dibekap sang kakak.

“Oke, oke mian. Jangan adukan pada eomma dan lagi aku hanya mengataimu bantet tidak yang lain, cih dasar. Sudah istirahat sana” ucap Bom mencubit pipi gembil adiknya. Setiap hari bertengkar namun mereka satu sama lain saling menyayangi.

“Jiminie, gumawo untuk coklatnya. Akan aku habiskan dengan Dara kekeke” ucap Bom tersenyum pada adik tersayangnya.

“Aku tahu kau sangat menyukai coklat nuna. Baiklah aku ke kamarku dulu” ucap Jimin dan melangkah keluar dari kamar Dara.

“Dia sangat menyayangi mu Bomie” ucap Dara yang melihat pertengakaran manis kakak adik itu.

“Aku lebih menyayanginya, dan aku juga sangat menyayangimu” ucap Bom tersenyum membuat Dara merasa hangat di tubuhnya.

“Tuhan terimakasih memberikan aku keluarga yang menyayangiku” lirih hati Dara.

“Anak-anakku, cepat turun makan siang” ucap nyonya Park dan segera gemuruh langkah kaki 3 anak yang berada di lantai dua terburu-buru menuju meja makan. Mereka tidak akan melewatkan abalone yang sudah nyonya park janjikan untuk menu siang ini.

~

“Apakah baik-baik saja jika kau berangkat sendirian?” tanya Top pada Jiyong.

“Gwencana, aku bukan anak kecil. Lagi pula sepertinya di Nami akan mengasikan, aku butuh refreshing hyung” ucap Jiyong dengan nada sedikit emm masih lemas (Jiyong galau pemirsa).

“Emm baiklah. Pastikan kau menghubungiku saat sampai di sana, Arraseo” ucap Top yang memang sayang terhadap Jiyong yang sudah ia anggap adiknya.

“Emm, baiklah aku berangkat ne”ucap Jiyong melangkahkan kakinya menuju kapal penyebrangan yang sudah di siapkan Top.

“Mengapa aku sangat cemas dengannya yang seperti itu” gumam Top melihat punggung Jiyong memasuki kapal.

            Di rumah keluarga Park, sepertinya sedang berkumpul di ruang tv. Tuan Park sengaja pulang lebih awal karena ingin berkumpul dengan keluarga kecilnya, nyonya Park sedang membuat cemilan untuk anak-anaknya, Bom dan Dara sedang menonton acara fashion, dan adik imut nan menyebalkan eh menggemaskan sedang membaca komik menempatkan kepalanya di atas paha Dara. (kalo Jiyong liat si Jimin di bakar deh).

“Nuna, ku dengar kau tinggal di rumah model terkenal itu ya?” tanya Jimin tiba-tiba menunjuk pada layar Tv yang sedang menampilkan sosok G dragon. (iklan yang pake modelnya Gd).

“Emm, wae?” tanya Dara sambil melihat ke arah namja yang sedang bermanja dengannya.

“Mengapa kau tinggal dengannya nuna? Apa kalian berpacaran?” tanya Jimin polos. Dan yang mendengar pertanyaan Jimin itu terkaget di buatnya. Tuan Park yang sedang menyeruput kopi tersedak, Nyona Park menjatuhkan gula terlalu banyak di adonan kuenya, sedangkan Bom menjatuhkan remote tv yang sedari tadi ia pegang.

“JIMIN” teriak serempak Tuan, Nyonya Park dan Bom. Jimin hanya bertampang polos megartikan “apa aku salah bicara ya?”.

“Hahahaha, kalian ini kenapa. Jimin hanya bertanya. Aku tidak apa, sungguh” ucap Dara mengucapkan dengan yakin. Sungguh keluarganya ini benar-benar menjaga hatinya.

“Aku dan dia hanya sebatas saling berkerja sama dalam urusan kantor, Chim” ucap Dara mengusak rambut namja yang kini sudah dalam posisi duduk karena ia sebelumnya mendapat cubitan maut dari Bom.

“Kau ini jangan sok tau bocah” ucap Bom sambil menjitak kepala adiknya. Mereka kembali melakukan aktivitas bermalas-malasan mereka. Dara mengaktifkan handphonenya, ia lupa bahwa ia belum menghubungi Top. Dan saat ia mengaktifkan handphonenya panggilan dari Top sangat banyak. Membuat Dara menelfon agar Top tidak khawatir dengannya dan meminta maaf karena tidak mengabarinya.

“Yeoboseo, Top-ssi mian aku baru bisa menghubungimu. Emm aku juga ingin meminta izin beberapa hari dan tak bisa berkerja pada Jiyong” ucap Dara.

“Ahh, syukurlah akhirnya kau menghubungiku Dara. kami sangat cemas dan kesepian kau tidak ada di apartemen. Apalagi ada yang sering uring-uringan tak jelas gara-gara kau tidak ada (itu Jiyong). Dan aku mengizinkan kau beberapa hari istirahat, Jiyong pun sedang di Nami melakukan pemoteretan, dan ia melakukan perjalanan sendirian. Dari pihak majalah yang menawarkan make up artisnya jadi kau istirahat lah. Jika kau sudah lebih baik, kami akan selalu menerimamu” ucap Top.

“Baiklah kalau begitu. Emm gumawo Top-ssi. Annyeong” ucap Dara lalu memutus telfonnya. Dara merasa senang bahwa ia di rindukan oleh mereka. Tapi satu orang yang tak bisa ia dengan biasa jika mereka bertemu. Itu akan sangat kikuk dan Dara benci keadaan itu.

“Berita siang ini, telah terjadi kapal yang menuju Pulau Nami terbalik dan membuat penumpang terombang ambing di air. Para 119 segera menyelamatkan penumpang. Semoga tidak ada korban jiwa” suara berita dari tv membuat Dara seperti di sambar petir di siang bolong tanpa mendung.

“Jiyong” lirih Dara. ia ingat bahwa Top baru saja bilang Jiyong ke pulau Nami untuk pemotretan. Dara mendial nomor Jiyong. Sial, kini Dara berkeringat dingin nomor Jiyong tidak bisa di hubungi. Kini Dara dengan gemetar menelefon nomor Top.

“Dara, apa kau bisa menghubungi Jiyong? Aaah berita sialan itu membuat aku gemetaran. Dan aku tak bisa menghubungi Jiyong sama sekali. Dara… Dara” ucap Top saat mengangkat telfon Dara. Dara tak bisa menjawab apa-apa, benih cair dari matanya menetes hingga keluarga yang amat menyayanginya terlalu tahu dengan keadaan Dara.

“Nuna, gwencana?” ucap Jimin menggoyang-goyang tubuh Dara. berusaha membuat respon dari Dara yang mematung sambil menangis.

“Dara, Yak Sandara Park!!! Ada apa” kini bentakan Bom membuat Dara tersadar dari lamunannya.

“Bomie, Jiyong baru saja berangkat ke pulau Nami” ucap Dara sambil menunjuk tv yang masih menampilkan berita kapal terbalik yang menyeberang ke pulau Nami.

“Uljima nuna. Eomma, Appa, Bom nuna aku akan mengantar Dara nuna. Appa aku pinjam mobilmu oke” ucap Jimin dengan cepat menarik tangan Dara.

“Jiminie, kau pelan kan sedikit lajunya.”

“Jimin, kau telalu pelan”

“Jimin, kau tahu jalannya bukan”

“Jimin,,”

“Nuna, aku sedang menyetir. aku merasa seperti jiwa Bom nuna pada dirimu kekeke” ucap Jimin berusaha menenangkan Dara yang sedari tadi tak berhenti mengoceh. Sungguh ia khawatir. Ia terus menerus menghubungi nomor Jiyong namun lagi lagi operator yang menjawabnya.

            Sesampainya di Nami.

“Jiminie, saat kita menyeberang tidak kapal yang terbalik” tanya Dara pada Jimin.

“Nuna, orang-orang tadi bilang masalah kapal terbalik itu sudah di bereskan sebelum kita sampai sini. Apakah Jiyong mu itu salah satu penumpangnya nuna?” kini Jimin bertanya balik.

“Molla, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja” ucap Dara masih berusaha menelfon Jiyong.

“Hemm kau sangat khawatir sekali nuna” ucap Jimin tersenyum. Tak lama Jiyong mengangkat telfon Dara.

“yeobosseo. Ji kau di mana? Kau baik-baik saja. Ya!!!! jawab pertanyaanku jangan tertawa” ucap Dara saat sambungan telfonnya di angkat Jiyong dan sialnya Jiyong terkekeh mendengar suara teriakan cempreng Dara.

“Dara, kau khawatir padaku?” tanya Jiyong di sebrang sambungan.

“Anni. aku hanya…” ucap Dara menggantung.

“Emm begitukah, lalu untuk apa kau menyusulku hingga ke sini… tadaaaa” ucap Jiyong riang sambil menampakkan dirinya di depan Dara (Jiyong tahu dari Top bahwa Dara menyusul ke Nami). Namun di luar ekspetasi Jiyong, Dara berjongkok dan langsung menangis entah perasaan campur aduk dengan kekhawatiran yang menghebus begitu saja dan haru bahwa Jiyong baik-baik saja. Jimin yang sedari tadi hanya menonton ingin beranjak menuju Dara yang menangis namun langkahnya terhenti saat melihat tubuh Jiyong yang memeluk Dara erat.

“Emm selagi di sini aku refreshing sebentar. barangkali aku bisa bertemu putri duyung yang sedang berjemur kekeke” ucap Jimin memutuskan untuk berkeliling dan tidak mengganggu sejoli yang rumit.

“Gwencana, daega gwencana” ucap Jiyong halus sambil mengelus lembut punggung Dara yang masih bergetar karena menangis.

“Babbo” lirik Dara di sela tangisannya. Namun ia membalas pelukan Jiyong menelusup ke dada bidang milik namja yang ia khawatirkan.

“Uljima Dara-aah. Aku baik-baik saja” ucap Jiyong lagi. (author nangis juga akh, biar di tenangin iyooongie).

“Jangan seperti itu lagi. Membuatku takut. Aku sangat ketakutan. Aku tidak mau orang yang aku cintai meninggalkanku lagi” gumam Dara yang suaranya terpendam di pelukan Jiyong.

“Mwo?” Jiyong terkejut hingga ia melepaskan pelukannya mencari wajah Dara.

“Bisa kau ulangi lagi. Aku mungkin salah dengar” ucap Jiyong tak percaya dengan pendengarannya yang setiap seminggu sekali mendapatkan perawatan di klinik mahal.

“Shirro” ucap Dara malu, kini tak lagi menangis bahkan rona merah menelusup di pipinya.

“Tck, harusnya aku tadi tenggelam saja” ucap Jiyong kesal.

“Yaaaak!!! Arraseo, arraseo. Aku tadi sangat ketakutan, takut akan kehilangan orang yang aku cintai, puas” ucap Dara cemberut. Ia menahan malunya dan tatapannya mengedar tak berani menatap wajah Jiyong.

“…” Jiyong tidak merespon apapun. Hingga Dara memaksakan diri menatap mata Jiyong dan saat mata mereka bertemu.

“Hemmpp…” Dara terkejut saat bibirnya di kuasai oleh Jiyong. Melumat dengan lembut bibir cherry Dara, menggigit gemas dan Dara pun membalas ciuman Jiyong. Terbesit senyum Jiyong yang tulus. (Wooi, udah kali kisseu nya kasian noh readers yang jomblo baper bayanginnya hahaha).

“Gumawo, chagiya” ucap Jiyong di sela-sela ciumannya.

**

“Jiminie, kau di mana? Aku sedang mencarimu. Aisshht Jiyong bisakah kau berhenti bergelayut seperti ini aku sedang menelfon adikku” ucap Dara saat menelfon Jimin namun kekasih barunya tidak ingin lepas dari rangkulannya terlebih lagi kepala Jiyong menempel di bahu Dara seperti koala.

“Nuna, aku sedang berkeliling. Kau urusi namjachingu mu yang kekanakan itu, kekeke” ucap Jimin di seberang sana seperti tahu akan kelakuan kekanakan Jiyong.

“Baiklah. Akan ku hubungi lagi jika aku sudah selesai pemotretan ne” ucap Dara lalu menutup telfonnya.

“Kau, lepaskan!!!” ucap Dara melepaskan koala besar dari tubuhnya.

“Emm, aku masih rindu bebe” ucap Jiyong dan ingin menggelayut manja pada Dara lagi namun di hentikan oleh Dara. membuat Jiyong mempoutkan bibirnya. (kiyowooo).

“Dengarkan aku Ji. kau public figure dan aku hanya orang biasa, aku tidak ingin publik tahu bahwa kita memiliki hubungan. Karna ku tahu fans fanatikmu lebih kejam daripada pembunuh bayaran. Aku tidak ingin keluargaku dalam bahaya. Kau mengerti” ucap Dara membuat Jiyong mengangguk tak berdaya namun ia masih mempoutkan bibirnya. Jiyong benar-benar merindukan Dara.

“Gumawo” ucap Dara melembutkan suranya dan membelai pipi namja yang sedang mengambek di depannya. Mendapat perlakukan manis dari Dara, Jiyong seperti mendapat serangan dadakan, dia menjauhkan dirinya dari Dara.

“Wae?” tanya Dara heran karena Jiyong mundur beberapa langkah dari posisinya, menjauh dari Dara.

“Bagaimana bisa aku tahan tidak memelukmu jika kau bersikap manis seperti itu. Dasar manis” teriak Jiyong kekanakan dan melangkah melawati Dara yang melongo karena ia baru percaya bahwa yang ia cintai itu jiwa bocah 5 tahun yang terperangkap dalam tubuh namja dewasa.

“Ayooo kita ke tempat pemotretan. Aku sudah di tunggu” ucap Jiyong menyeret tubuh Dara menuju lokasi pemotretan.

            Jiyong sedang melakukan pemotretan, Dara menunggu sambil mengamati dan Jimin sudah kembali duduk dekat Dara, memperhatikan Jiyong yang sedang berpose ria.

“Kau benar-benar menyukai namja itu nuna?” tanya Jimin.

“Sepertinya” ucap Dara sambil tersenyum.

“Aiigoo, nuna ku bisa jatuh cinta, eoh?” goda Jimin sambil tersenyum khasnya. Dan Dara hanya merespon dengan jitakan di kepala Jimin.

“kau sudah selesai” tanya Dara saat Jiyong menghamipirinya, dan sebuah anggukan menjadi jawaban pertanyaan Dara.

“Kau adik Dara?” tanya Jiyong yang baru saja melihat sosok Jimin.

“Emm, kau tidak lihat aku mirip dengannya?” ucap Jimin asal. (padahal gak ada mirip-miripnya).

“Ya!! bicaramu yang sopan. Dia lebih tua darimu” kini Dara menjitak kembali kepala Jimin.

“Aku Park Jimin. Adik bungsu dari Park nuna bersaudara. Dan kau dalam pengawasan ku, sekali kau membuat nuna ku menangis akan ku buat kau menyesal” ucap Jimin sambil menstreching jari-jarinya.

“Mian, dia memang sangat overprotetif yang menyangkut keluarganya” ucap Dara pada Jiyong.

“Aku Kwon Jiyong, atau G dragon orang lain mengenalnya. Panggil aku hyung dan ku pastikan nuna cantikmu tidak akan menangis” ucap Jiyong berniat ingin memeluk Dara namun tubuh sang adik melaju cepat menghalangi.

“Satu lagi, jangan sembarangan sentuh Hyung” ucap Jimin menatap Jiyong. Ingin rasanya Jiyong membegal kepala anak bantet itu (ingatkan Jiyong kalo dia juga gak tinggi).

“Kekeke baiklah. Ayo kita makan lalu kita pulang” ucap Jiyong setenang mungkin.

“Baiklah ayoooo!!” ucap semangat Jimin. (kalau makan aja langsung deh garangnya ilang).

            Acara makan mereka sangat emm unik karena penuh keributan tentunya. Bagaimana tidak terjadi keributan 2 namja berumur 20 tahunan sedang sibuk menempel pada Dara, entah Jimin yang minta di suapi, Jiyong yang pura-pura tersedak, Jimin yang menyuapi Dara, Jiyong yang cuma gigit jari tidak bisa menyuapi Dara karena ini masih area publik dan itu menjadi kemenangan telak bagi Jimin.

“Hyung terimakasih makanannya. Nuna ayo pulang, eomma pasti cemas” rengek Jimin ingin cepat pulang (dasar Jimin habis makan pulang).

“Baiklah, kita pulang sekarang” ucap Jiyong saat mata Dara mengartikan memohon padanya agar cepat beranjak pulang.

“Aiigooo, aku kekenyangan dan kakiku lelah saat berkeliling menghindari sepasang kekasih yang asik berciuman, ckckck. Hyuuung gendoooong” ucap Jimin mengerjai kekasih nunanya itu.

“Mwo??” tanya Jiyong terkejut. Demi panci gosong Daesung, Jiyong baru kali ini merindukan Top. Ia seperti melihat cerminan sikap kekanakannya sendiri saat menghadapi Jimin, dan kini ia berada di posisi Top.

“Jiminie, ayo kau bisa berjalan kan” ucap Dara namun Jimin dengan manja menggelengkan kepalanya.

“Ji?” ucap Dara dan lagi-lagi tatapan memohon itu tak bisa di tolak Jiyong.

“Baiklah, adikku yang lucu. Kajja naik di punggungku” ucap Jiyong menahan kesalnya.

“iblis kecil ini, menguji kesabaranku eoh.”batin Jiyong saat menggendong Jimin.

“Aku mungkin iblis kecil bagimu, tapi kau tahu aku bisa mengadukan kau mencium Dara nuna pada Appa. Dia seorang jendral di kepolisian” bisik Jimin pada telinga Jiyong, membuat jiyong bergidik ngeri karena ucapannya. Jimin seperti tahu apa yang ia fikirkan.

Sesampainya di kapal penyebrangan telfon Jiyong bedering. Dari Top, sang manager yang kini ia rindukan.

“Hyuuuuuuuuung” rengek Jiyong saat mengangkat telfon dari Top.

“Kau di mana aku sudah sampai di Nami. Aku sudah di lokasi pemotretan tapi kau tidak ada. Kau di mana, cepatlah aku bersama …”

“Yaaa!!! Mana adik-adikku??” teriak seseorang yang merebut pembicaraan Top.

“Kau siapa?” tanya Jiyong.

“Aku Bom. Kakak dari Dara dan Jimin. Mana mereka? Palliiii” ucap Bom yang histeris dan saling berebut telfon dengan Top.

“kami sudah menyebrang, bentar lagi sampai. Kalian pergi berdua, eoh?” tanya Jiyong tak mengerti.

“Yak!!! Aku di ancam oleh yeoja bar-bar ini jika tidak mengantarkannya. Aiisshht kapal terakhir sudah berangkat. Sial” ucap Top di seberang sana.

“Hyung, nikmati malammu. Kekeke” ucap Jiyong lalu memutuskan telfonnya.

“nugu?” tanya Dara penasaran.

“kakak iparku” ucap Jiyong cheesy.

“Tsk, mimpi” Jimin menimpali.

“Bom maksudmu? Dia di Nami untuk menemput kami?” ucap Dara panik.

“Emm sepertinya begitu. Tapi tenanglah ia bersama Top, kekekeke.” Ucap Jiyong.

“Apa maksudmu tenang jika bersama si Top itu hyung?” ucap Jimin dengan aura mengerikan. Protectif mood on. Membuat Jiyong kikuk di tatap seperti itu oleh namja yang umur jauh di bawahnya. Sumfah demi koleksi DVD yadong Seungri, Jimin terlihat sangat menyeramkan saat khawatir dengan nunanya.

“Ahh tenanglah Jiminie, aku mengenal Top dengan baik. Dia akan menjaga Bom” ucap Dara menengkan Jimin.

“Aku telfon Bom nuna dulu” ucap Jimin yang sudah meredakan aura hitamnya. Membuat Jiyong bernafas lega. Bukan karena ia tak bisa melawan namun emm karena dia adik Dara kekasihnya hingga ia seperti kecil di mata adiknya itu. Dan sisi lainnya Jimin pun punya riwayat taekondo dengan sabuk hitam.

“Mian, dia memang seperti itu jika menyangkut nunanya” ucap Dara terkekeh karena wajah Jiyong yang kikuk tadi.

“wajah selucu dia bisa menakutkan seperti itu” ucap Jiyong sambil mengelus lembut rambut Dara. tenang mereka berada di ruangan kapal yang pribadi.

**

“Kau yakin tidak akan pulang ke rumah nuna? Aku masih merindukanmu~” rengek Jimin yang sudah berada di depan gerbang rumahnya.

“Besok aku akan menemui appa dan eomma, ini sudah terlalu larut dan kau tahu sendiri appa dan eomma pasti tidak akan mengizinkanku pergi. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku Jiminie” ucap Dara sambil mengusak rambut adiknya yang sedang mempoutkan bibirnya lucu.

“Jika kau ingin bertemu nunamu datang saja ke apartemenku. Peralatan Gym ku lengkap” ucap Jiyong tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di taxi.

“Huaaah Jinnjayo hyung? Baiklah nuna. Aku akan jelaskan pada appa dan eomma. Dan tentang Bom nuna, aku harus bagaimana?” tanya Jimin polos.

“Emm tentang Bom aku akan menghubunginya. Dan mungkin dengan ini nunamu bisa mendapatkan kekasih kekeke” ucap Dara tekekeh.

“Nuna, jika kalian semua mempunyai kekasih bagaimana denganku, hueeee” ucap Jimin sambil memeluk Dara.( Jimin sengaja banget bikin Jiyong panas, sabar ya Ji).

“Aiigoo, kau dan appa masih namja terbaikku. Baiklah istirahat dan segera lulus okey” ucap Dara melepas pelukan sayang dari Jimin. Dan tersenyum lalu masuk dalam taxi melambai pada adiknya yang masih bermuka sedih.

“Hai man. Kau percayakan padaku, nunamu akan baik-baik saja” ucap Jiyong menepuk bahu Jimin.

“Heol, aku khawatir karna nuna bersamamu hyung” ucap Jimin kelewat polos membuat Jiyong meringis mendengarnya. “iblis kecil ini benar-benar mirip aku” gumam jiyong.

“Baiklah kami pergi, bye~” ucap Jiyong dan masuk taxi.

“Ku harap hyung selalu membuat Dara nuna tersenyum dan tertawa” gumam Jimin masih melihat taxi yang membawa nunanya dan hyung yang baru ia kenal.

~

            Setelah Jiyong dan Dara sampai di depan apartemen, sebuah mercedes hitam mengkilat sudah menunggu mereka. Lalu keluarlah pengeran berwajah tampan, rival sang pemeran utama Jung Il Woo. Membuat Jiyong dan Dara yang sudah turun dari taxi menatap aneh.

“Il Woo-ssi?” ucap Dara, dan di respon dengan senyuman manis Il Woo dan di respon pula dengan genggaman protectif dari Jiyong di tangan Dara.

“Dara, bisa kita bicara. Ku mohon” ucap Il Woo setelah berada di hadapan Jiyong dan Dara.

“Jangan pernah mengganggunya lagi. Dia sudah menjadi milikku” ucap Jiyong sambil memerkan tautan tangan mereka di wajah Il Woo.

“Aku tak perduli. Aku hanya ingin kita berbicara sebentar Dara. aku tak bisa tenang” ucap Il Woo lagi, memang terlihat sekali kantung mata yang hampir sama dengan Seungri menandakan dia sudah tak tidur beberapa hari.

“Ji, kau duluaan masuk apartemen. Aku akan berbicara sebentar di sini. Aku janji hanya di sini. Kau percaya padaku kan?” ucap Dara berusaha melepas tautan tangannya dengan Jiyong.

“Shiroo. Aku percaya padamu tapi tidak dengannya” ucap Jiyong lagi. Namun tangan lembut Dara yang bebas dari tangan Jiyong mengusap lembut pipi Jiyong. Membuat rasa nyaman yang terbelai. (Ill woo ama author aja yak, hihi).

“Lakukan apa yang aku katakan atau aku tidak akan menemuimu lagi, hemm?” ucap Dara menyeramkan bertolak belakang dengan belaian halus di pipi Jiyong.

“Aiishh, arraseo. Hanya 5 menit. Tidak lebih atau aku akan membakar dia hidup-hidup” ucap Jiyong mengecup sekilas pipi Dara dan pergi sambil menghentak-hentakan kakinya. (bocah lagi ngambek).

“Kau dengar , kau hanya punya 5 menit untuk berbicara dan mulailah sebelum waktunya habis” ucap Dara dingin.

“emm, baiklah. Dara pertama aku minta maaf tentang kejadian waktu itu. Sungguh aku hanya ingin kau bersamaku, dan entah aku tak ingin kau pergi. Mian karena aku baru menyadari perasaan ini, mian karena aku telah menyakitimu, mian karena aku berniat menjadikan kau alat balas dendamku pada Jiyong padahal kau telah baik padaku, jeongmal mianhae Dara-aah” ucap Il woo dengan nada penyesalan, ia hanya memainkan jarinya sendiri. kaku dengan situasi dan keadaan yang menyelimutinya.

“Ill Woo-ssi, aku sudah memaafkanmu. Dan tentang balas dendamu aku tidak ingin kau menyakiti Jiyongie, aku harap kau tidak menyakitinya karena jika kau menyakitinya berarti kau berhadapan denganku sebab aku akan yang menghadangmu paling depan” ucap Dara tegas.

“Apakah secepat itu kau merubah perasaanmu padaku Dara-aah?” tanya Ill Woo.

“Emm mungkin begitu, secepat kau merubah rasa yang dulu pernah ada padamu menjadi rasa yang terkubur dan mati hidup-hidup dengan cepat” jawab Dara membuat Ill Woo menatap manik mata Dara yang menyiratkan kepedihan.

“Mianhae” gumam Ill Woo.

“Sudahlah, kau pulang. Aku akan naik. Annyeong. Jaga dirimu baik-baik Ill Woo-ssi” ucap Dara sebelum pergi menjauh.

“aku tidak akan baik-baik saja Dara-aah” gumam Ill Woo seakan berbicara pada punggung Dara yang semakin menjauh.

            Saat Dara masuk apartemen Jiyong. Gelap, mengapa Jiyong tidak menghidupkan lampunya? Hemm.

“Ji, kau di mana?” teriak Dara sambil menyalakan semua lampu apartemen. Namun ia tidak mendapati Jiyong.

“kau di sini?” ucap Dara setelah melihat kamar Jiyong dan sosok itu sedang terduduk di ranjangnya bersandar pada headbed dan memalingkan wajahnya saat Dara menghampirinya. Dara menyalakan lampu kamar Jiyong. Mengapa Jiyong senang sekali gelap-gelapan kalau sedang marah?.

“Sedang apa, hemm?” tanya Dara seraya duduk di samping Jiyong, menggenggam tangannya. Dara tahu betul, namja eh salah kekasih barunya itu sedang ekhem cemburu dan mengambek.

“…” Jiyong tidak menjawab.

“Kau marah padaku? Mianhae Jiyongie. Aku akan menceritakan semua yang kami bicarakan tadi jika kau mau” Dara masih bersabar menunggu Jiyong meresponnya. Sungguh saat namja cemburu dengan situasi seperti ini, amat sangat merepotkan. Siapa tak marah jika kekasihmu sedang bersamamu namun di depannya ada seseorang yang menyatakan cintanya dan mereka berbicara tanpa kau tahu apapun (ahahaha author pernah ngalamin. sumfah susah ngebujuk namja yang ngambek gara-gara kejadian begitu).

“…” Jiyong masih tidak merespon dan masih tak ingin melihat wajah Dara.

“Sudahlah jika kau tak ingin berbicara padaku. Aku pulang ke rumah saja” ucap Dara. kan lama-lama jengkel Dara nya ngebujuk Jiyong-bocah-ambekan. (tolong bahasa keren author di mengerti hihi).

“Andweee~~~ mianhae. Aku hanya emm kesal” ucap Jiyong menarik tubuh Dara yang hendak pergi kini sudah di pelukkannya. Dara wajah Jiyong yang panas di tengkuk lehernya, cuping telinga yang memerah itu sudah cukup bukti bahwa dia memang memendam amarahnya.

“Mianhae Jiyongie. Jangan marah padaku, ne” Dara melepas pelukan Jiyong dan mengelus pipi Jiyong yang masih panas karena terbakar cemburu itu.

“Aku memaafkanmu, tapi malam ini jangan keluar dari kamar ini sedetikpun. Temani aku di sini” ucap Jiyong membuat Dara mengerjap-kerjapkan matanya tak percaya.

“Aku belum mandi Ji, aku tidak akan kemana-mana aku satu apartemen denganmu”jelas Dara.

“Shirro. Jika kau mau mandi pakai kamar mandi di kamarku, jika kau mau ganti baju pakai punyaku, jika kau lapar kulkas di kamarku banyak makanan kau tinggal pilih” ucap Jiyong (ini pamer atau apa?).

“Heol, kau ini sangat posesif eoh?” ucap Dara pasrah, ia tidak bisa menolak hal konyol ini karena ia tahu jika di posisi Jiyong akan terasa sulit menahan amarah jika di hadapanmu orang yang kau cintai sedang mendengarkan pernyataan cinta dari orang lain. Jadilah Dara mandi di kamar Jiyong dan memakai kemeja putih Jiyong yang cukup kebesaran di tubuh mungil Dara.

“Aaaaarrrrgggghhhh” teriak Jiyong kaget saat Dara keluar dari kamar mandi dengan memakai kemeja putih yang sebenarnya Jiyong sendiri yang memberikan kemeja itu pada Dara.

“Ya!!! kenapa?jangan membuatku takut” protes Dara menghampiri Jiyong yang teriak kaget.

“Kiyowoooooooo” kini Jiyong berteriak dengan falsheto yang melengking dan memeluk Dara dengan dominian.

“Dasar” ucap Dara sambil mengelus rambut Jiyong yang harum mint dan orange.

“Ahh, rasanya aku ingin begini saja selamanya” ucap Jiyong lagi.

“Kekeke, tapi aku tidak” ucap Dara membuat Jiyong melepas pelukannya.

“Wae?” tanya Jiyong.

“Karena aku mengantuk, jika di peluk seperti itu bagaimana aku tidur. Hehe” ucap Dara.

“Emm baiklah jika seperti ini bagaimana?” ucap Jiyong sambil mengangkat tubuh Dara berbaring lalu membuat lengannya menjadi bantal Jiyong dan kembali memeluk tubuh Dara posesif. (yang baper jangan nangis di pojokan gitu dong, kekeke).

“Dasar posesif” ucap Dara namun ia semakin menelusupkan kepalanya di dada bidang Jiyong, itu sangat nyaman (author mimisan bayanginnya, mauuu).

“Dara, apakah Ill Woo menyatakan cintanya?” tanya Jiyong yang kemudian mendapatkan respon anggukan dari kepala Dara yang terasa di dadanya.

“Ahh, lalu kau menerimanya?”tanya Jiyong lagi, ragu-ragu aah takut sepertinya.

“Kau pikir aku yeoja seperti apa, huh? bukankah sekarang kau tahu aku sedang dalam pelukan siapa. Apakah itu tidak menjawab semua pertanyaanmu?” ucap Dara mendongakkan wajahnya mentap wajah Jiyong yang berada di atas kepalanya.

“Gumawo” ucap Jiyong lau mengecup singkat bibir cherry Dara.

“Mengapa kau dan Ill Woo bermusuhan? Ku dengar dulu kalian bersahabat” tanya Dara mengeratkan pelukannya, seketika tubuh Jiyong mengkaku mendengar pertanyaan Dara.

“Ahh, mian. Jika pertanyaanku menyinggung. Tak usah kau hiraukan. Kajja kita tidur, emm” ucap Dara mengecup singkat pipi Jiyong, Dara mengerti jika Jiyong berubah saat ia mempertanyakan soal permusuhannya dengan Ill Woo.

“Anni, aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya” ucap Jiyong sambil mengelus lembut punggung Dara yang berada dalam jangkauan tangannya.

“Gwencana, aku akan mendengarkan dengan baik”ucap Dara mengecup bibir Jiyong singkat berharap Jiyong baik-baik saja.

“Emm aku memang bersahabat dengan Ill Woo, beberapa tahun yang lalu. Namun semua itu berakhir saat sebuah pengkhianatan terjadi. Appa dan eomma Ill Woo menjalin kasih di belakang appaku. Appa Ill Woo memang sudah tidak ada sejak kami masuk SMP, dan karena eommaku dan eomma Ill Woo berteman kamipun jadi berteman dan semakin dekat. Sering kami berlibur bersama, bahkan aku sudah menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri. saat kebohongan appa dan eomma Ill Woo terbongkar aku memaki dan mengusir mereka dari rumahku. Appa yang melihat itu langsung terkena serangan jantung, lalu eommaku pergi dari rumah. Aku tak bisa berbuat banyak saat itu, marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Aku tidak tahu harus berbuat apa namun saat itu juga aku melihat appa mengejang dan kemudian nafal. Membuatku terhenyak kesekian kalinya. Aku kehilangan appa, dan eomma tidak kembali lagi ke rumahku. Saat di pemakaman, eomma pun tak muncul dan aku melihat Ill Woo datang entah lah aku muak melihatnya”

Flashback

“jangan pernah kau muncul di hadapanku”-Jiyong.

“Apa yang salah denganku? itu kesalahan mereka (ibu nya dan ayah Jiyong) bukan salahku. Kau sahabat terbaikku Ji” –Ill Woo.

“Mulai saat ini kau bukan sahabatku. Entahlah aku hanya tak ingin melihat wajahmu yang terlalu mirip dengan wajah wanita “jalang” itu” ucap Jiyong dengan wajah dingin.

“Mwo? Cukup Ji. mungkin eommaku salah, tapi ia tetap eommaku jadi jaga bicaramu” Ill Woo geram dan mencengkram kerah kemeja Jiyong.

“Anak dan ibunya sama saja. parasit” ucap Jiyong lalu sebuah pukulan menghantam tubuh Jiyong dan mereka berkelahi di pusara appa Jiyong. Di satu sudut eomma Jiyong melihat pertengkaran itu, rasa sakit namun ia tetap mencintai anaknya juga suaminya yang kini telah tiada.

“Tuan muda, berhentilah. Ayo kita pulang” ucap pengasuh pribadi Jiyong, melerai perkelahian anak muda itu.

“Jangan sampai kau dan wanita itu muncul di hadapanku. Atau saat itu juga kau mati” ucap Jiyong gusar sambil meninggalkan Ill Woo.

“Tapi aku hanya ingin meminta maaf” gumam Ill Woo yang tak bisa di dengar Jiyong yang terlalu cepat meninggalkan Ill Woo.

Rumah Ill Woo~

“Eomma, jaebal mintalah maaf dari bibi Kwon dan Jiyongie. Aku sudah menyayangi bibi Kwon dan Jiyong seperti keluargaku” Ill Woo merengek pada eommanya yang masih menatap kosong dinding kamarnya. ia seperti mayat hidup.

“Minhae Ill Woo-aah. Maafkan eomma emm” ucap eomma Ill Woo dengan memeluk anak satu-satunya itu.

            Ke esokan paginya, Jiyong menemui kediaman Ill Woo, ia sangat marah karena ia tahu bahwa bibi Jung dan Ill Woo datang di pemakaman ayahnya. Memuatnya gusar tak terbantahkan.

“Yak!!! Apa yang kau lakukan di pusara ayahku, huh? kau masih menggodanya, huh? apa kau tidur dengan nya di dalam sana, Hah?? Jawab aku jalang” teriak Jiyong pada Bibi Jung. Ill Woo yang tak terima langsung menghajar Jiyong.

“Jaga bicaramu Kwon” ucap Ill Woo saat meninju wajah Jiyong.

“Cih, hentikan wajahmu yang merasa sedih dengan keadaan ini” ucap Jiyong saat tahu bahwa Ill Woo menahan tangisnya karena ia telah memukul sahabat berharganya.

“Ku mohon jangan seperti ini Ji. maafkan kami, ku mohon tetap jadi sahabatku” ucap Ill Woo memeluk Jiyong dan tangisnya tumpah. Bibi Jung yang melihat itu tak kuasa menahan tangis penyesalannya, dan ia langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu membuat Ill Woo khawatir dan langsung menggedor-gedor pintu kamar eommanya.

“Eomma, buka pintunya. Gwencana, jeongmal gwencana. Ku mohon buka pintunya” teriak Il Woo sambil terus berusaha membuka pintu di hadapannya. Ia mempunyai firasat tidak baik.

“Mianhae adeul~ jeongmal mianhae” teriak eomma Ill Woo lalu hening. Braaaak, Ill Woo berhasil mendobrak pintunya namun terlamabat, pisau buah telah menancap pada jantung wanita berharganya itu.

“Eommmaaaaa, andwe eomma ku mohon buka matamu” ucap Ill Woo panik dan menangis sedu. Jiyong melihat kejadian itu, tubuhnya bergetar hebat peluh membasahi wajahnya.

“Eomaaaaaaaaaa, jangan tinggalkan akkuuuu, hiks” teriakan frustasi Ill Woo menggema di gendang pendengaran Jiyong.

“Ini yang kau mau Kwon Jiyong? Kau merebut yang berharga bagiku, satu-satunya dan aku mengabulkan permintaanmu kita tidak bersahabat lagi” ucap Ill Woo lirih membuat Jiyong terhuyung kebelakang namun tubuhnya di tahan oleh pengasuhnya lalu membawa Jiyong pulang. Semenjak saat itu mereka benar-benar tidak ada komunikasi. Dan 1 tahun setelah itu eomma Jiyong meninggal di Busan.

“Ini pemberian appamu saat menyatakan cintanya padaku. Sangat kuno bukan, tapi ini sangat berharga bagiku dan tolong jaga ini sayang. Eomma menyayangimu Jiyongie dan berhentilah untuk membenci” pesan Eomma Jiyong sebelum ia menghempaskan nafas terakhirnya, kotak musik yang unik tergenggam di tangan Jiyong pemberian terakhir eommanya. Di pemakaman bibi Kwon Ill Woo datang tanpa sepengetahuan Jiyong, Ill woo melihat Jiyong masih menggenggam kotak musik pemberian eommanya itu.

“Kau merasakanya Ji, eomma mu menyusul temannya sekarang karena takdir bukan bunuh diri, cih tidak adil” desis Ill Woo menarik salah satu sudut bibirnya tersenyum perih.

Flashback End

“Ini kotak musiknya masih ku simpan baik” ucap Jiyong memperlihatkan kotak musik yang pernah Dara tahu dari pembicaraan Ill Woo waktu itu.

“Gwencana?” tanya Dara, karena Dara melihat mata Jiyong yang tergenang kilatan cairan bening.

“Jangan pergi dariku, hemm. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Kau sangat hangat seperti eomma dan aku menyukainya” ucap Jiyong memeluk Dara erat mencium wangi tubuh Dara yang menguar memabukkan bagi Jiyong.

“Aku tidak akan pergi bahkan jika kau yang menyuruhku pergi” ucap Dara membalas pelukan Jiyong. (udah napa pelukannya, kasian noh yang baca, hihi).

“Aku tidak akan menyuruhmu pergi” ucap Jiyong semakin menghirup aroma tubuh Dara menyesap aroma itu di perpotongan leher Dara.

“Lalu persyaratan waktu itu? Bukankah tidak boleh menyukaimu, hemm?” tanya Dara tanpa melepas pelukannya.

“Sudah ku bakar, kekeke” ucap Jiyong terkekeh di leher Dara. Jiyong masih terhipnotis dengan aroma tubuh Dara.

“Emm Ji. kendalikan hormonmu. Aku tak ingin kau di cincang appa Bom yang berpangat jendral itu. Kau tahu dia sepertimu, amat posesif pada anaknya dan jangan lupakan pula namja imut tapi bisa mematahkan tulangmu jika kau melanjutkan aktifitasmu ini” ucap Dara mengingatkan Jiyong.

“Huft, menyeramkan dan ini semua salahmu bagaimana bisa kau harum seperti itu? Emm membuat aku mabuk dan tak ingin berhenti menghirupnya” ucap Jiyong kembali menelusupkan hidungnya di leher Dara.

“Ji~” ucap Dara menahan desahannya (ya ampun tolong jangan bilang pak jendral).

“…” Jiyong semakin betah di sana, bahkan kini mengecupi leher jenjang Dara membuat Dara pun meremas rambut Jiyong.

“Hen-aahh, hentikan Ji” lolongan desahan yang tak bisa lagi di tahan Dara. dengan sekuat tenagapun Dara mendorong wajah Jiyong yang masih di leher Dara.

“Hentikan, aku tak bisa melihat kau mati di tangan keluargaku, kekeke” ucap Dara terkekeh karena wajah merah atau bisa dibilang wajah sexy duet dengan wajah mesum.

“Arrghhhhh, dasar kau manis. Aku tak bisa menahannya” ucap Jiyong frustasi. Menahan hormon lelakinya adalah hal tersulit baginya bahkan itu seperti neraka dunia bagainya.

“Bisakah hanya seperti ini saja, sampai kita tertidur” ucap Dara yang kini memilih dada Jiyong dan dentuman jantung Jiyong sebagai melodi pengantar tidurnya. Dara pun terlelap. Bagaimana dengan Jiyong, hell junior Jiyong perlu di beri waktu agar tidak mengamuk. Ia terjaga hingga jam 6 pagi, lalu juniornya pun menyusut dan kini kantuk menyergap di mata Jiyong.

“Good morning, lovely. Love You~” ucap Jiyong mengecup puncak kepala Dara lalu menutup matanya. (ngantuk broh, gara-gara juniornya ga nyusut-nyusut hihi).

~

            Jam menunjukan pukul 12 siang, Jiyong mengerang dalam tidurnya karena sesuatu terus saja menjilati bibirnya, emm mungkinkah Dara? Jiyong pun langsung membuka matanya. Astaga Gahoooooo.

“Mengapa kau di sini? Mana Dara emm?” ucap Jiyong gemas dengan anjing gelambirnya itu.

            Jiyong tidak mendapatkan Dara nya di samping ranjangnya. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar berusaha mendapatkan Dara namun ia tidak mendapati sosok itu. Jiyong berjalan menuju kamar Dara namun saat tiba di sana Jiyong lagi-lagi tak menemukan Dara.

“Kemana dia, hemm tak memberi tahuku jika ia pergi” ucap Jiyong sambil menggembungkan pipinya kesal. ia pun membalikkan badannya, namun matanya menangap sebuah laptop yang masih menyala di meja Dara. Jiyong pun mendekati laptop yang masih menyala itu hendak mematikannya, namun saat mata Jiyong membaca setiap kalimat yang terpampang jelas di layar monitor membuat tubuh Jiyong terduduk lemas, ia kemudian mengeratkan tangannya di mouse lalu men scroll.

“KEHIDUPAN LAIN DARI SOSOK G DRAGON MODEL TERMAHAL DI KOREA SELATAN” dari judul nya saja ia sudah seperti tak bertulang, ia terus membaca artikel tentangnya itu. Hingga ia meremas kuat mouse di genggamannya saat ia mendapati bahwa penulis artikel itu adalah Dara. Yeoja yang aroma tubuhnya memabukkan bagi Jiyong, yang senyumannya menengkan hati Jiyong, yang kasih sayangnya sehangat ibu yang di rindukan Jiyong. Jiyong mengkaku, wajahnya terlihat pucat. Ia ingin semua ini adalah mimpinya, namun semua itu di jawab oleh suara handhpone Jiyong yang berdering dan menunjukan Dara yang menelfon. Menyadarkan Jiyong bahwa ia tidak bermimpi. Jiyong mengangkat telfon Dara dengan tangan yang bergetar.

“Good morning Ji. kau sudah bangun? Mian karena aku tidak memberi tahumu terlebih dulu, aku pergi ke kantor Bom dia sudah pulang, kekeke aku tak mau ia marah karena semalam ia menginap dengan Top di Nami gara-gara menjemput kita. Emm Ji, kau masih di sana?? Ji… yeoboseo Ji..” suara Dara terdengar begitu menyakitkan kini di telinga Jiyong.

            Apakah kau masuk di kehidupanku karena ini? Apakah pelukan hangatmu disebabkan ini? Apakah yang kau lakukan sebatas artikel ini? Tidak kah kau benar-benar mencintaiku Dara?

“Ji? jangan lupakan sarapanmu aku sudah siapkan di meja makan. Saranghae Jiyongie” ucap Dara di sebrang telfon membuat hati Jiyong teremas mendengarnya, Jiyong memejamkan mata dan bulir air mata pun langsung jatuh tak bisa tertahan.

Biip.

“Aku harus bahagia atau sedih saat kau mengatakan itu Dara?” ucap getir Jiyong menatap layar telfon dengan sambungan telfon yang sudah terputus.

.

.

.

.

TBC

Yang bilang ini masih kurang, tolong tenggelamkan diri di laut merah. Hahaha ini chap terpanjang yang pernah author buat, kekeke 22 page 7.512 words. Heol tepuk tangan untuk saya hahaha. Dan ini di percepat ya~ karena chap selanjutnya adalah final chap ~~ayeeey. Mian untuk Black Wings saya selesaikan ini terlebih dahulu karena sering readers komennya salah tempat jadi ceritanya suka bercampur gitu. Kan author sedih bacanya jadi saya putuskan untuk menyelesaikan ff ini dulu. Dan seperti biasa last chapter      PROTECTED dan HUBUNGI author TERLEBIH DAHULU di email : hannygd0203@gmail.com Twitter dan IG sudah terpampang nyata di deskrip ff ini. Dan tolong yang bilang dia baru di DGI tidak comen tidak akan saya respon, toh hanya coment aja bukan masalah baru atau tidaknya okey. Gumawo~ pyoooooong. Love ya~~~

 

Advertisements

53 thoughts on “IMMATURITY [Chap. 9]

  1. Haduhh jiyong bakal mikir apa ya ketika tau tujuan awal dara? Semoga salahpaham bisa dizelesaikan. Dan ilwoo bisa baikan sm jiyong…
    Thor bahlgi pw nya dongg di last chapt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s