The Couple Next Door [Chapter 5] : Her Inhibition

 

author      : silentapathy
source      : TCND on AFF
indotrans : dillatiffa

scenes MA dan dipos pagi2, hari senin pula… mwehehehehe…. 3:p

yang sudah bisa buka ini, berarti pengiriman pwnya sukses kan yaaak??? boleh nggak next chap yang MAnya saya tinggal di rumah?? TT^TT /kedip/ /kedip/ /kedip/ *pinjem mata dadoongie*

nah,, nah,, selamat membaca green applers.. TT^TT

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

 

Kamu sudah belajar bagaimana caranya berciuman baby… kamu tahu bagaimana berciuman…” dia mengingatkan sambil terus memberikan kecupan manis di bibir Dara. “Sekarang, cium aku…” pintanya, menatap langsung ke manik mata Dara.

Dara merasakan tangannya bergerak dengan sendirinya memegang wajah pria itu, ibu jarinya menyentuh bibir Jiyong yang sedikit terbuka. Pria itu menjerat melalui matanya.

“Cium aku…” bisik Jiyong dan tidak lama kemudian, Dara menurutinya.

Dara mengalungkan kedua tangannya ke leher Jiyong dan menariknya kian mendekat, menghujani bibir pria itu dengan ciuman, membuat Jiyong mengerang frustasi. Dia ingin lebih, tapi dia menyukai saat-saat dimana bibir gadis itu menciumnya dengan caranya sendiri – dengan lugu dia menempelkan bibir manisnya di bibir Jiyong, menjauhkan diri sebentar, lalu kemudian kembali menciumnya – begitu berulang-berulang. Dara kembali menjauhkan diri, namun sebelum dia sempat kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Jiyong, pria itu sudah menundukkan kepala untuk menangkap bibirnya.

Jiyong mencium bibir gadisnya dengan rakus, tidak bisa mengontrol dirinya. Dijilatnya bibir gadis itu, mencoba mencari jalan masuk ke rongga mulutnya. Tangan Dara mencengkeram rambut Jiyong dan itu membuat bibir Jiyong melengkung dalam senyuman. Ego pria itu sungguh ingin memberitahukan betapa cantiknya gadisnya ini. Betapa besarnya pengaruh gadis ini padanya hanya dengan sebuah sentuhan. Dia ingin gadisnya ini melupakan ketakutan yang selama ini membelenggunya dan mempercayai dirinya dengan sepenuh hati.

“Baby…” dialah yang pertama kali membuka suara, tapi itu lebih terdengar seperti sebuah pinta, meminta gadisnya agar dia bisa merasakan mulut manis gadis itu. Tangan Jiyong bergerak tidak sabar. Satu tangannya sudah bergerak menyingkap roknya, hingga tangannya bisa bersentuhan dengan kulitnya secara langsung. Dara terkesiap begitu merasakan tangan kekar pria itu menyentuh tubuh bagian bawahnya dan Jiyong memanfaatkan kesempatan itu untuk menginvasi mulut Dara. Jiyong ingin merasakan gadisnya, manis gadisnya itu memenuhi seluruh inderanya, dan gadis itu memberikan lebih. Lidah Dara turut aktif dalam pergumulan kecil mereka, merasakan pria itu, membuat Jiyong menyadari banyak yang sudah gadis itu pelajari demi dirinya.

Pikiran Dara terpesona. Berapa kali dirinya mengijinkan pria itu mencium dan menyentuhnya dengan cara seperti ini? Dara mencintainya dan pria itu memang layak.

Dan bahkan lebih.

Dara sangat mencintai pria itu dan sekarang hanya itu yang terpenting. Tidak ada lagi yang perlu dia pedulikan selain kenyataan tersebut.

“Jiyong…” lirihnya, menarik diri dari ciuman mereka, membuat Jiyong mengerang. Dara memberanikan diri untuk menatap langsung ke mata pria itu dengan dada naik turun – terengah mencari nafas… Dia memandang bibir pria itu yang terbuka dan memberikan satu kecupan lagi sebelum memegangi kedua lengannya. Jiyong mengerutkan alis saat gadis itu mendorongnya untuk berbalik.

“Baby?”

 

“Tolong… Tetaplah seperti itu… Sebentar saja…” katanya dengan gemetaran begitu kehilangan lengan kekar pria itu melingkar di tubuhnya.

Perlahan, Dara meraih ujung roknya. Dia menggingit bibir sejenak karena merasa ragu. Dia berada diantara dua pilihan untuk lagi-lagi kabur atau tetap berdiri diam di tempat… tapi hatinya tahu mana yang lebih baik dari kedua hal itu. Membiarkan dinding yang telah ia bangun seumur hidupnya runtuh, dengan menggigit bibirnya, Dara membuka kaosnya melewati kepala dan membiarkannya jatuh ke lantai.

“Jagiya?” tanya Jiyong.

“Tidak! … Jangan…” pintanya.

“Baby, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Jiyong/

Dara tidak mau repot menjawab pertanyaan Jiyong. Dengan tangan gemetaran, dia membuka resleting rok panjangnya dan meremasnya sebentar akhirnya membiarkannya teronggok di lantai. Belum pernah dia seterbuka ini dihadapan Jiyong.

Dara perlahan melangkah keluar dari onggokan pakaiannya dan memeluk Jiyong dari belakang.

“J-j-iyong…”

 

Jiyong bisa merasakan hangat tubuh gadisnya. Dia baru akan berbalik, namun gadis itu memeluknya semakin erat.

“Kumohon… matikan lampunya…”

 

“Baby apa yang kamu—-?”

 

“Kumohon…” katanya. Jiyong tak punya pilihan selain menurutinya. Dara melepaskan pelukannya dan kemudian pria itu mematikan lampu.

Jiyong merasakan detak jantungnya berpacu hebar. Entah kenapa ada satu ketakutan besar yang menyerangnya. Dia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadisnya. Dia ingin tahu apa yang sedang dirasakan gadisnya. Dia bukannya bodoh untuk tidak menyadari apa yang gadis itu rencanakan sekarang, tapi kenapa tiba-tiba, dia tidak tahu.

Pelan, Jiyong berbalik, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan dan pantulan cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar membantunya melihat apa yang menunggunya.

Jiyong ternganga lebar.

Gadisnya terlihat sangat mengagumkan – lengan kanannya menutupi dadanya sementara yang satunya menutupi bagian bawah. Jiyong terpesona dengan sosok dewi di hadapannya.

“Tuhan…” katanya sambil berjalan mendekat, terpikat oleh kecantikan gadisnya, namun pikiran yang tiba-tiba saja terlintas dalam kepalanya sangat mengganggu.

 

“Baby, dengar… kamu tidak perlu melakukan ini..”

“K-k-amu t-idak menginginkanku?” tanyanya kecewa mendengar perkataan Jiyong.

“BUKAN BEGITU! Baby, kamu tidak tahu seberapa besar efekmu padaku.” Katanya cepat, sebelum gadis itu kembali pada dugaan bahwa dirinya tidak diinginkan.

“K-k-alau begitu…” Dara menurunkan kedua lengannya dan Jiyong langsung menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Baby… Aku mencintaimu… sangat, aku tidak ingin kamu merasa ini sebagai sebuah kewajiban. Jika kamu memang belus siap, aku sangat mengerti.” Katanya menatap gadisnya dengan sayang.

“Aku… Aku menginginkan ini… Aku… Kupikir aku siap sekarang…” begitu dia selesai mengatakan ini, wajahnya semakin merona.

Jiyong memejamkan mata dan mengecup pelipis gadis itu. “Biarkan aku yang menilainya.”

 

 

Dara menarik bedcover begitu dia dibaringkan di tempat tidur, tapi Jiyong menahannya. “Kamu cantik… Kamu tidak perlu malu. Aku ingin melihatmu…” katanya sambil menajamkan pandangan berkat bantuan cahaya dari jendela.

Jiyong menempatkan tubuhnya diatas Dara, berusaha agar tidak sampai menindih tubuh gadis itu. Dia menyentuh wajah gadisnya dengan satu tangan sementara tangan yang satu lagi bergerak ke pinggang sang gadis.

“Aku mencintaimu.” Katanya dengan penuh perasaan.

“Aku juga mencintaimu, Jiyong…”

 

Tanpa banyak berkata lagi, Jiyong menempelkan bibirnya ke bibir Dara dan gadia itu langsung gemetaran begitu merasakan tangan Jiyong menyentuh kulitnya secara langsung. Dara membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang perasaan dan mencoba keras melawan air matanya.

Jiyong menyelam dalam mulut gadisnya, mengajak lidah gadisnya untuk berdansa dengan lidahnya, sementara tangannya menyentuh perut datar gadis itu, menyukai kelembutan kulit gadisnya.

“Hmmmm…” Dara melenguh pelan saat Jiyong menyesap lidahnya seperti permen. Dara melingkarkan lengannya di tubuh Jiyong, meraih rambut prianya itu. Jiyong mengerang saat merasakan Dara menggingit bibirnya membuatnya melepaskan ciuman mereka.

Dara masih terengah saat Jiyong mencium keningnya, matanya, hidungnya, pipinya… dia bergerak ke telingan gadis itu, menggigit-gigit kecil sembari membisikkan kata-kata manis. Dara tidak bisa menghentikan dirinya untuk terus melenguh saat dia merasakan tangan Jiyong bergerak menangkup buah dadanya… dia mencoba mengenyahkan pikirannya.

Akankah dia bisa memuaskan pria itu?

“Aku mencintaimu…” bisiknya serak dalam satu hembusan nafas, membuat gadisi itu merinding hingga ke tulang belakang. Membuat Dara melupakan pertanyaannya tadi.

Dara menggigit bibir saat merasakan bibir Jiyong terus bergerak turun hingga menciumi lehernya. Seluruh tubuhnya merinding, dia hanya bisa menggeliat dibawah tubuh pria itu. Jiyong semakin mengerang merasakan tubuh mereka semakin menempel. Dia perlu mengerahkan seluruh pikiran sadarnya untuk bersikap lembut. Dia sama sekali tidak punya keinginan untuk menakuti gadisnya. Dia menganggap gadisnya itu adalah sesuatu yang lemah namun sangat tak ternilai.

Perlahan, Jiyong menjilat salah satu bagian di leher Dara dan langsung dihadiahi suara lenguhan gadis itu. Jiyong pikir lenguhan itu mampu membuatnya merasakan orgasme begitu saja – dia sungguh perlu fokus.

“Kamu milikku…” katanya sambil menyesap kulit Dara. Dijilatnya sekali lagi lalu kembali menyesapnya, menandai gadis itu sebagai miliknya. Jiyong tidak akan pernah bisa merasa cukup menghirup wangi tubuh gadisnya. Manis dan sangat mengundang, bahkan dia sanggup jika diminta untuk menciumi gadisnya selamanya. Jiyong bergerak ke tulang selangka gadisnya – sempurna, dan menjilatnya membuat gadis itu sedikit tersentak.

“Aaaaah… Ji—“ tubuh Dara melengkung kebelakang dan tanpa sadar dia melingkarkan kakunya di tubuh Jiyong, membuat pria itu merasakan intinya yang panas dan basah.

“Sh*t!” umpatnya dan menggiring anggota tubuhnya yang sudah mengeras ke gadis itu.

Mata Dara langsung terbuka lebar saat merasakan sesuatu yang keras, panas, dan besar bersentuhan dengan alat kewanitaannya. Dia melongo menatap Jiyong yang masih memejamkan mata, mencoba mengendalikan diri.

“Baby, maafkan aku…” katanya dengan nafas terengah… menyadari bahwa mungkin itu mengagetkan gadisnya.

“Ji…” panggil Dara pelan, namun jantungnya berdetak liar didalam dadanya.

“Baby jangan takut… ini aku… ini aku…” katanya mengecup bibir gadis itu.

Dara mengangguk dan memegang ujung kaos Jiyong. “I-i-ni kelihatannya tidak adil…” katanya melepas pakaian itu dari tubuh pria itu. Jiyong tertawa karenanya. “Seberapa adil yang kamu inginkan, hmmm?” tanyanya kemudian membenamkan hidungnya ke leher Dara membuat gadis itu tersipu habis-habisan.

“Bagaimana kalau kita lepas ini juga…” katanya sambil melepas kait bra gadis itu dan melemparnya ke lantai.

“J-j-i…” Dara mencoba menutupi dadanya namun Jiyong cukup cepat untuk menempatkan lututnya diantara kaki gadis itu dan memegangi kedua tangannya di samping kepala. “Jiyong…” Dara menggeliat dibawat tatapan Jiyong.

“Kamu sangat cantik, jagiya…” darah Jiyong hampir mendidih. “Sangat, sangat cantik…” katanya melepaskan kedua tangan Dara dan dengan cepat langsung berpindah menyentuh kedua gunung kembarnya.

“Aaaaah… Ji—“

 

Jiyong menjilat bibirnya saat menyaksikan gadis itu memejamkan mata dan menggeliat dibawahnya. Tuhan… dia tidak akan pernah merasa lelah untuk memuaskan gadis ini.

“J-j-angan… unghhh lihat—-uhhhmmmm.” Dara melenguh keras saat Jiyong bermain dengan putingnya.

“Apapun yang kamu mau, dewiku…” katanya sebelum mendaratkan mulutnya di payudara kiri gadis itu.

“Ji!” punggungnya semakin melengkung kebelakang sementara tangannya mengelus kepala pria itu, semakin ingin merasakan perasaan menakjubkan yang diciptakan mulut Jiyong pada payudaranya. “T-tuhan… Ji…”

 

“Baby…” dia membebaskan payudaranya dan mulai menjilati puting Dara yang mengeras. Perlahan, tangan Jiyong bergerak mengelus perutnya, membentuk lingkaran-lingkaran kecil di perut gadis itu dengan jarinya membuat gadisnya itu terus melenguh tanpa henti. Tangannya semakin bergerak turun, menyingkap lembaran terakhir pakaian yang masih menutupi tubuh gadisnya hingga dia bisa menyentuh inti gadisnya. Jiyong merasakan ‘teman kecilnya’ mengejang hanya karena marasakan betapa basahnya gadis itu untuknya.

“Unghhh!” Dara memejamkan matanya. Saat dia merasakan tangan Jiyong menyentuh daerah paling pribadinya, seolah nyawanya telah melayang.

“Baby… lihat aku…” pinta Jiyong memelas… “Kumohon…”

 

Dara bertarung melawan perasaan baru yang baru sekali ini dia rasakan. Perasaan ini membakarnya, tapi dia masih menginkan yang lebih lagi. “Jiyong… Jangan…”

 

“Ini aku jagiya… ini aku…” katanya sebelum kembali fokus pada payudaranya yang sebelah lagi.

“Unghhh Jiyong, ini terlalu… unghh banyak… kumohon…” Dara tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk mengekpresikan perasaannya.

“Baby lepaskan saja…” tutur Jiyong menatap wajah Dara yang memerah sementara tangannya masih melakukan kegiatannya dibawah sana.

“Umphhh… Jiyong… Aku tidak sanggup…”

 

Jiyong memberikan satu kali kecupan di payudaranya sebelum menciuminya seiring bibirnya yang semakin turun ke tubuh bagian bawah gadis itu… turun ke tempat dimana jarinya berada sekarang. Dia mendongak menatap gadisnya yang tengah tersipu, dengan kedua bibir terpisah saat mencoba menikmati sensasi luar biasa yang baru dirasakannya. Jiyong perlahan menarik celana dalam gadis itu hingga lepas, membuat mata Dara terbuka lebar begitu menyadari seberapa jauh dirinya melangkah kali ini.

“Jiyong…” panggilnya sambil mencoba menutupi tubuhnya sekali lagi namun Jiyong tidak bisa membiarkan gadis itu melakukannya. Sekarang gadis itu sudah terlalu jauh melupakan ketakutannya.

“Babe.” Jiyong menggenggam tangan Dara. “Ini aku…” desisnya sambil memciumi bibir gadis itu… “Apa kamu percaya padaku?” tanyanya dan gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Apa kamu ingin aku melanjutkannya?” tanyanya lagi, mencoba mencari jejak keraguan dalam mata gadisnya karena hanya itulah yang bisa menghentikannya sekarang.

“Jiyong aku hanya… aku takut ini akan sakit nanti…” jawabnya jujur…

Jiyong tersenyum memahaminya. Tanpa bisa dicegah hatinya berbunga. Ini adalah kali pertama bagi gadisnya.

“Tentu saja akan sakit… tapi aku janji padamu untuk bersikap lembut, selembut yang kubisa… aku akan membuat rasa sakitnya menghilang, kamu percaya padaku kan?”

 

“Y-y-a…”

 

“Kita bisa berhenti sekarang jika kamu belum siap baby… aku akan sangat—UMPHHH!”

 

Jiyong tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Dara menariknya dalam sebuah ciuman. Gadis itu memeluk Jiyong erat, tidak lagi peduli jika badan pria itu menindihnya. Dia membutuhkan pria itu berada sedekat ini. Dia ingin merasakan tubuh pria itu berada sedekat ini. Hatinya sumringah, dia tidak mungkin bisa lebih bahagia lagi dari ini karena sekarang dia sudah memiliki seseorang seperti Jiyong mencintainya sebesar ini.

Jiyong melepaskan ciuman mereka namun kemudian bergerak untuk menciumi lehernya dan kembali mejilati bagian-bagian yang tadi sudah ditandainya. Dia menciumi bahu gadisnya dan membuat gadisnya itu menyisipkan jemari lentiknya ke rambut Jiyong. Dia semakin turun – sekarang ke bagian payudaranya yang kecil namun pas bagi pria itu dan mengisapnya seperti anak kecil yang tengah menyusu, membuat Dara menggeliat dibawahnya. Semakin turun lagi, kebagian perut gadisnya, menjilati pusar gadis itu, sambil memposisikan dirinya diantara kedua kaki gadisnya. Dara menutupi wajahnya karena malu saat merasakan bibir Jiyong di paha bagian dalamnya.

“Ji…”

 

“Baby… jangan… aku ingin kamu melihat bahwa ini aku… ini aku yang sedang melakukan hal ini padamu… dan aku sudah sangat ingin mencicipimu…”

 

“Ahhhhhhhhhhh!!!” Dara berteriak puas saat Jiyong menjilati bagian celahnya hingga ke klitorisnya. Kedua lengan Jiyong menahan kaki gadisnya agar tetap terbuka dan diam tempat sementara dia terus menjilati daerah kemaluan gadis itu seperti sedang kelaparan – liar dan kasar.

“Sangat manis… D*mn sangat manis… Aku mencintaimu baby…” katanya masih terus menjilati gadisnya.

“Ungghh Ji… kumohon…” Dara memelas, meskipun tidak pasti apa yang dia pinta pada pria itu.

Jiyong kemudian menghisap klitoris Dara sambil berhati-hati memasukkan satu jarinya ke lubangnya yang masih sempit. Badannya mengejang penuh semangat saat merasakan dinding gadisnya menjepit erat jarinya.

“Baby… lepaskan saja…” dorongnya.

“Jiyong, ahh… apa yang sedang kamu… lakukan… Unghhh…”

 

“Datang padaku baby…” kata Jiyong terus menjilati cairan yang keluar. Jiyong menekan-nekan klitoris dan kemudian memasukkan lidahnya ke lubang gadis itu, membuat tubuh Dara bergetar dalam kepuasan.

“Ji… Ini… Aku…”

 

“Please… Hmmm… Baby…” kata Jiyong sambil terus mengeluar-masukkan lidahnya.

Dara merasakan perutnya mengejang dan tubuhnya gemetaran hebat – merasakan sesuatu sedang terjadi didalam tubuhnya.

“Ji… Unghhhh…”

 

“Hmmm…” Jiyong mendengungkan sebuah lenguhan sambil terus berusaha memuaskan gadisnya dibawah sana. Tangannya menggapa payudara kanan gadis itu dan mulai memijatnya, enggan menelantarkannya sementara dia sedang sibuk di gua manis dibawah sana, menunggu gadisnya itu meledak.

“Aku… tidak sanggup… lagi… Ji…. Yooong. Aaaaaah!”

 

Dara gemetaran hebat begitu gelombang kepuasan terus saja mengalir dalam syarafnya. Dia merasakan sesuatu yang panas memancar keluar dari tubuhnya dan rasanya menakjubkan. Dara merasakan Jiyong menghisap dan menjilat daerah sensitifnya dan menenggak semua cairan cintanya seperti orang kehausan.

“Berhenti… Kumohon… hentikan…”

 

Sekali lagi Jiyong menjilatnya – untuk yang terakhir kalinya, sebelum menciumi tubuh gadisnya naik keatas, mendorong tubuhnya yang sudah berkeringat diatas tubuh gadisnya. D*mn pengendalian dirinya, dirinya hampir meledak begitu saja hanya dengan mendengar gadis itu melenguh.

Jiyong menghisap payudaranya membuat gadis itu mengejang dibawahnya, mencoba membangkitkan nafsu gadis itu sekali lagi dengan lidahnya. “Sangat manis… Kamu bisa membuatku gila baby…”

 

“Jiyong…” Dara membuka matanya dan menyentuh bahu Jiyong. Dengan pelan dia menyentuh tato-tato pria itu dengan jemarinya yang gemetaran…

“Ya… Sentuh aku jagiya…” katanya memberikan ruang yang cukup bagi gadisnya, menumpukan berat tubuhnya pada siku. Jiyong meraih tangan Dara dan meletakkannya di dadanya, dimana jangtungnya berdetak keras. Dia memekamkan matanya.

“Kamu hampir membuatku terkena serangan jantung, kamu tahu itu? Kamu ini seorang dewi, Dara-yah… Kamu ini seorang dewi.” Katanya sebelum membuka mata dan disambut dengan wajah gadisnya yang semakin memerah. Kepalanya maju untuk meempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sungguh dia sangat membutuhkan gadis itu sekarang tapi dia tidak ingin menakutinya. “Aku akan menghabiskan hariku dengan memujamu… mengagumi seumur hidupku.” Katanya dengan penuh keyakinan menatap langsung mata gadisnya.

“Aku sangat mencintaimy Jiyong… sangat… Kumohon… bercintalah denganku.” Katanya kemudian menundukkan pandangan, merasa malu dengan ucapannya yang terang-terangan.

“Kamu harus tahu, saat ini aku mungkin tidak akan sanggup mengendalikan diriku lagi, jagiya…” bisiknya dengan suara serak. “Aku menginginkanmu… sangat, sangat baby… Kamu sama sekali tidak akan bisa membayangkannya…” ungkapnya sambil meniup telinga gadis itu membuat gadisnya itu merinding, sementara tangannya menggenggam tangan Dara dan mengarahkannya ke bagian tubuhnya yang mengalami ereksi.

“Ji… Ini… Itu…” Dara ingin mengatakan itu terasa besar di tangannya yang kecil. Jadi beginilah. Beginilah bagaimana anatomi tubuh pria bekerja. Entah kenapa Dara merasa penasaran. Dia menjilat bibirnya lalu sedikit mendorong tubuh Jiyong darinya. Dia menyentuh lengan pria itu, dadanya dan menyaksikan bagaimana setiap sentuhan membuat ekspresi prianya itu berubah – dari ekpresi kesakitan hingga ekspresi puas. Dia membiarkan Jiyong membimbing tangannya yang masih gemetaran untuk menyentuh tubuh pria itu.

“Ini adalah bukti bahwa aku sangat menginginkanmu, babe… Kumohon, yakinlah tentang hal ini— F*CK!”

 

Jiyong menyumpah begitu merasakan gadis itu mengelus anggota tubuhnya yang mengeras dari luar celana jeans-nya.

“Maafkan aku, apa aku menyakitimu?” tanyanya sambil mengelusnya lagi dengan hati-hati, seolah menenangkannya dari apa yang sudah dia lakukan tadi.

“Tidak… Tidak… hanya saja… Sh*t babe!” umpatnya sekali lagi saat gadis itu menggesek-gesek celananya, seolah dia sudah menemukan kepercayaan diri begitu melihat Jiyong berereaksi atas sentuhannya tapi pria itu cukup cepat menahan tangannya.

“Baby… Tuhan, kamu bisa menjadi penyebab kematianku!” desis Jiyong mencoba mengatur nafasnya sebelum berdiri dan cepat-cepat melepas celanya, membebaskan kemaluannya dari sangkar – melepas lembar kain terakhir yang menutupinya.

Dara menutup mata dengan kedua tangannya. Dia tahu itu. ‘Itu’ seperti terlihat monster yang mengendalikan pikiran Jiyong dan sekarang dia melihat ‘itu’ berdiri dengan sempurna – panjang dan dengan bangga, Dara hanya bisa menggeliat gelisah.

Dara merasakan tempat tidurnya sedikit bergerak saat Jiyong akhirnya kembali naik.

“Baby?” bisiknya pelan, menyisipkan lengannya dibawah tubuh gadis itu, menarik gadis itu mendekat sementara dia memposisikan diri diatas tubuh gadisnya.

“Jiyong… Itu… Itu…” Dara menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bagaimana caranya dia mengatakan ‘Itu terlalu besar, aku tidak yakin itu bisa masuk?’ dia bertarung dengan akal sehatnya.

“Dara…” panggil Jiyong, lebih terdengar seperti permohonan. Dia menunduk untuk bertemu dengan bibir gadis itu yang terbuka dan memasukkan lidahnya kedalam mulut Dara. Tangannya menangkup satu payudara gadis itu dan memainkan putingnya sekali lagi dan gadis itu merespon ciumannya dengan sama bersemangatnya.

“Apa kamu masih yakin dengan hal ini?” tanya Jiyong, dan Dara menggangguk mengiyakan karena dia sangat ingin merasakan pria itu lebih, lebih.

“Jadikan aku milikmu sepenuhnya, Ji…” katanya sambil memegang wajah Jiyong dengan kedua tangannya. “Jadikan aku milikmu sepenuhnya.”

 

Jiyong tidak bisa lebih bahagia lagi dari ini. Gadis ini miliknya… miliknya sepenuhnya. Diciumnya bibir gadis itu sebelum memposisikan diri diantara selangkangan gadisnya.

Dia menggosokkan kepala batangnya di inti gadis itu yang basah, membuat tubuh gadisnya melengkung saat merasakan gelombang kepuasan kembali terbangun dalam dirinya.

“Baby, lihat aku…” katanya dengan nafas terengah. “Kumohon…” pintanya.

Dara menatap Jiyong dengan penuh keyakinan. Dia menangkup wajah pria itu dengan kedua tangan, mengijinkannya melakukan apapun yang akan akan dia lakukan. Secara perlahan, dia mendorong tubuh Dara kembali berbaring ke tempat tidur sambil mendorong batang kemaluannya ke lubangnya yang masih sempit.

“Unghhh…” Dara melenguh merasakan bagian kepala dari batang kemaluan Jiyong menginvasi kedalam tubuhnya. Jiyong menarik keluar lalu memasukkannya lagi hingga membentur selaput daranya. Tahu bahwa hal itu akan membuat gadisnya merasakan sakit, dia menunduk dan menarik tubuh gadisnya dan mendorong kuat-kuat sambil menahan paha gadis itu dengan lengannya.

“Aaaaahhh!” teriak Dara kesakitan merasakan serangan yang tiba-tiba. Dia menarik leher Jiyong dan menggiginya karena rasa sakit seolah membakarnya dari dalam.

Jiyong memejamkan mata untuk mengendalikan dirinya. Merasakan betapa halus dan hangat serta sempit gadisnya itu, dia memerlukan berjuta pengendalian diri untuk tidak menghantam kedalam tubuh gadisnya dengan membabi buta.

“Shhh baby…” dia menenangkan gadisnya, dengan sebuah ciuman sementara tubuh bagian bawanya berusaha tetap diam menunggu gadisnya menyesuaikan diri dengan ukuran ‘temannya’.

“S-sakit…” katanya, tepat saat itu air matanya berjatuhan. Jiyong menciumi matanya hingga terpejam dan mencoba memutar-mutar anggota tubuhnya yang berada didalam gadis itu. Dia menggigit bibir saat mendengar gadis itu kembali melenguh.

“Aku mencintaimu… aku akan membuat rasa sakitnya hilang… aku berjanji.” Katanya dengan nafas terengah dan mulai menggoyangkan pinggulnya perllahan-lahan, Dara hanya bisa menganggukkan kepala dan menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya menangis.

Jiyong menahan bagian bawah kepala Dara dengan tangannya sementara tangan yang satu lagi bergerak ke pinggul gadis itu. Dia mulai bergerak keluar masuk dengan pelan. Dia mengerang karena gerakannya yang lama dan terlalu pelan. Liangnya terasa sangat nyaman, butuh usaha keras bagi Jiyong untuk tetap sadar dan tidak menggenjot dengan cepat. (T/N: nggak nemu kata lain lagi, walaupun agak aneh dan gimana gitu, tapi menurut KBBI, kata ‘genjot’ itu baku.. T^T)

“Baby, kamu terasa nikmat, sh*t! Uhh…” Jiyong melenguh sambil terus bergerak keluar masuk.

“Jiyong…” panggil Dara saat rasa sakitnya mulai lenyap. Jiyong merunduk untuk memberikan ciuman pada gadis itu sambil terus ‘menenangkan’ liangnya dengan batangnya yang tebal – gadis itu hanya bisa melenguh dalam mulut Jiyong.

“Please…” katanya menggeliat tidak sabar dibawah tubuh Jiyong, merasakan serangan orgasme kembali terbangun dalam tubuhnya.

“Please? Apa baby?” goda Jiyong sambil menangkap puting payudara gadis itu dengan bibirnya.

“Ohhhh… Please… L-ebih cepat Jiyong… L-l-agi…” pintanya tanpa merasa malu dan Jiyong menuruti permintaannya dengan senang hati.

“SH*T…” umpat Jiyong merasakan liang Dara semakin menjepitnya. “Sangat sempit baby… Ini nikmat… ahhhh.”

 

“Unghhhh Jiyong…” katanya sembari memeluk Jiyong erat, seolah hidupnya bergantung pada hal itu, pinggulnya bergerak seirama dengan gerakan Jiyong.

 

“Baby… Ahhh… Aku mencintaimu… Sangat baby… Aku mencintaimu…” katanya sambil terus membentur kedalam alat kewanitaan Dara.

“Jiyong itu hmmmmph…” Dara menggigit bibirnya merasakan mulut Jiyong berpesta pora di payudaranya sementara bagian bawah tubuhnya terus bekerja membentur kemaluannya tanpa ampun. Dara sudah merasa berada diujung, dia hanya bisa memejamkan mata saat merasakan kenikmatan yang tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.

“Baby tunggu aku… datang bersamaku.” Katanya sambil menciumi lehernya naik ke pipinya.

“Aku tidak bisa Jiyong… Ahhh…”

 

“Kamu milikku… hanya milikky, kamu dengar itu?” katanya sambil terus mendorong, memenuhinya hingga ke pangkal.

“Yes, yes JIyong… Unghhhh… Aku… milikmu sepenuhnya…”

 

Jiyong tersenyum sambil membenamkan kepalanya ke leher Dara. Hatinya sangat gembira dengan penyatuan mereka hingga dia tidak menyadari setetes air mata begitu gelombang kenikmatan memenuhi seluruh inderanya.

“Ji aku dat-ang…”

 

“Aku juga baby… bersama… Hmmm…” kayanya, menyukai cara penyatuan mereka.

“Yes… Oh… Yes… Jiyong!”

 

“Daraaa! F*CK!!!”

 

 

==========

Jiyong mendesah puas saat melihat sosok gadisny yang tertidur dengan damai. Tentu sebenarnya dia ingin lebih, tapi sekarang ini, gadisnya itu perlu mengembalikan energinya.

Jiyong tertawa saat mengusap keringat di tubuh Dara dengan pakaian mereka tadi. Dia membersihkan bagian bawah tubuh Dara diantara selangkangannya. Dia mencoba mengingat seluruh proses mereka bercinta dan hampir saja ingin melakukannya lagi tapi bisa langsung menenangkan dirinya. Mereka masih punya banyak waktu untuk bercinta. Dan hanya dengan memikirkan bahwa ini adalah kali pertama bagi gadisnya, hatinya membuncah gembira.

“Aku sangat mencintaimu baby…” tutur Jiyong pada Dara sambil mengecup kening gadisnya.

“Ji… ayo tidur…” gumam Dara, dia sangat kelelahan. “Aku mencintaimu…”

 

Jiyong meletakkan pakaian di tangannya ke meja disamping tempat tidur dan kembali kesisi Dara, menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka yang masih telanjang. Dia menyisipkan sebelah lengan melingkar ke tubuh gadisnya sementata tangan yang satu lagi mengelus rambut panjangnya. Dia tersenyum memberi selamat pada dirinya sendiri karena akhirnya, gadis itu melepaskan ketakutannya.

Itulah yang dia butuhkan… cinta dan kepercayaan gadis itu.

‘Akhirnya,’ pikirnya. Semuanya terasa sangat tepat. Gadis itu adalah rumahnya.

==========

T/N:

*Ngejedokin-jedokin kepala* TT^TT

Boleh nggak next chap yang full rated gini saya lompati saja??? TT^TT ampuuuun…. Mamiiiii~~~~ tolooooong~~~~

Saya sampe harus buka2 lagi anatomi rahim yang bukan bidang saya.. TT^TT kalo bicara soal anatomi kota, saya masih bisa nyambung.. tapi rahiiiim…. Lihatnya aja udah merinding… terakhir nyariin materi buat kuliah mami, nggak bahas rahim.. TT^TT *walaupun punya rahim sendiri, tapi pas disuruh liat dan baca struktur rahim gegara baca+translate+ngetik beginian bener-bener sesuatu…. Waaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~!!!!!!!!!!!!!*

*tewas*

x_x

……………………………………………………………..

Tbc…

<< Back  Next >>

Advertisements

81 thoughts on “The Couple Next Door [Chapter 5] : Her Inhibition

  1. terima kasih buat kak dilla untuk pw nya maaf baru komen kemaren-kemaren mau buka gagal terus hehe
    woww chap ini sangat wow dara benar-benar ngelupain ketakutannya terima kasih buat jidong oppa yang telah memberi dia banyak pengalaman haha
    berharap setelah ini gak ada lagi wanita yang akan ganggu hubungan daragon haha

  2. pertama2 aku mau bilang makasih pwnya kak..
    ekheemm… perasaan ini malam deh hrsnya kan dingin….kok ini panas sih….kipas mana kipas….kekekeke
    jdi experimen mereka telah sempurna gtu…wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s