Gonna Get Better [Chap. 12]

untitled-1

Dara Pov

     Pagi ini ketika aku bangun tidur, aku menemukan diriku terbaring di lantai ruang tengah apartemen Jiyong, hanya memakai selimbut yang tadi malam Jiyong berikan saat aku tertidur di balkon. Aku bangkit dari posisiku, duduk tegak dengan tangan yang memegangi selimbut di depan dada lalu mulai mengingat kejadian tadi malam.

     Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar apartemen ini lalu kejadian tadi malam langsung bermunculan di dalam kepalaku seperti potongan puzzle. Aku langsung memunguti pakaianku yang bergeletakan di lantai lalu memakainya dengan cepat. Setelah memakai pakaianku aku langsung mengambil tas yang berada di atas sofa kemudian keluar dari dalam apartemen Jiyong lalu berjalan cepat untuk pulang ke rumahku.

     “Kenapa kau baru pulang?” aku terlonjak kaget saat membuka pintu rumah dan langsung mendengar suara nenekku. Aku menutup pintu lalu langsung berbalik dan kini melihat nenekku yang sedang duduk dengan memegang sebuah koran di tangannya. “Kau tidur di mana tadi malam?” Tanyanya lagi ketika aku berjalan menghampirinya.

     “Aku menginap di rumah Bom,” jawabku singkat. Aku berbohong, aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku tidur di tempat Jiyong, dia pasti akan sangat marah jika dia tahu aku bermalam dengan seorang pria.

     “Kenapa kau tidak memberitahuku dulu?” tanya nenekku lagi.

     “Mianhae.” ujarku tanpa menatapnya.

     “Aku mengkhawatirkanmu Dara,” Ujarnya lagi yang langsung membuatku merasa bersalah karena telah membohonginya.

     “Mianhae,” ujarku lagi dengan suara pelan. “Aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan membuat halmeoni khawatir lagi kepadaku.”

     “Jangan pernah melakukan hal itu lagi!” ujar nenekku kini sambil menatapku tajam. Aku langsung menganggukan kepalaku dengan cepat. “Tapi kenapa kau menginap? apa sesuatu telah terjadi? Kenapa penampilanmu sangat kacau seperti itu?” tanya nenekku lagi kini sambil melirikku dari atas kepala sampai ujung kaki. Aku tahu, aku pasti terlihat kacau sekarang. Bagaimana tidak? Setelah bangun tidur aku langsung memakai baju lalu langsung pulang, aku bahkan tidak sempat menbasuh wajahku dulu.

     “Tadi malam aku menemani Bom pergi ke klub dan kami sedikit mabuk makanya aku tidak pulang karena tidak ingin halmeoni mencium bau alkohol dari mulutku,” kataku lagi kembali berbohong. Aku harap halmeoni tidak terus mengintrogasiku supaya aku tidak harus terus berbohong seperti ini kepadanya, aku tidak suka berbohong seperti ini kepadanya tapi aku tidak punya pilihan lain.

     “Aigoo kenapa seorang perempuan sepertimu malah mabuk-mabukan huh?” kini aku melihat halmeoni berdecak. “Halmeoni pasti akan sangat malu jika keluarga Lee tahu tentang kelakuan burukmu ini.”

     “Memangnya kenapa halmeoni harus malu kepada mereka?” gumamku pelan.

     “Karena kau adalah salah satu kandidat calon menantu di keluarga itu jadi kau harus menjaga sikapmu.”

     “Aku sudah bilang bah-,”

     “Jangan menyelaku saat aku sedang berbicara,” ujarnya lagi yang membuatku langsung mengerucutkan bibir. Nenekku pasti akan membahas tentang lelaki itu lagi sekarang. “Kau tidak lupa kan bahwa nanti malam kau harus menemani Donghae?” Aku langsung memutar bola mata karena tebakanku benar.

     “Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa lupa jika halmeoni terus saja mengingatkanku tentang hal itu,” ujarku yang langsung membuatnya tertawa ringan.

     “Bagus kalau begitu,” ujarnya. “Oh iya bagaimana kemarin saat dia mengantarmu ke kantor? Apa saja yang kalian bicarakan?”

     “Oh please!” ujarku sambil kembali memutar bola mata. “Apa halmeoni tidak bosan setiap hari membahas tentang pria itu?”

     “Aku terus membahasnya karena aku tahu bahwa Donghae adalah lelaki yang paling tepat untukmu, dia akan membuatmu bahagia Dara. Percayalah kepada halmeoni,” Nenekku mulai lagi dengan pidatonya tentang Donghae yang pasti akan membuatku bahagia, aku hanya memutar bola mata ketika mendengarnya terus memuji lelaki itu. “Yah Dara-ah apakah kau mendengarkan aku?” tanya nenekku lagi ketika dia melihat aku hanya menggaruk lubang telinga ketika dia berbicara tentang lelaki itu.

     “Halmeoni untuk hari ini saja aku mohon jangan bicarakan Donghae, aku bosan mendengarnya. Lagi pula nanti malam aku akan bertemu dengannya jadi halmeoni tidak perlu terus memujinya di depanku karena aku bisa menilainya sendiri,” ujarku lalu tanpa menunggu jawabannya aku langsung berbalik untuk berjalan menuju kamarku di lantai atas. Saat sedang berjalan aku mampu mendengar suara halmeoni yang saat ini sedang menggerutu karena sikapku barusan.

     Aku tidak peduli dengan apa yang halmeoni pikirkan tentang aku sekarang, karena jujur saja aku tidak punya waktu untuk membahas tentang Donghae atau tentang rencananya untuk menjodohkan kami. Aku punya hal lain yang harus aku pikirkan, aku punya hal lain yang harus aku khawatirkan saat ini.

      Aku langsung masuk ke dalam kamarku lalu mengunci pintunya. Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur lalu langsung membaringkan tubuhku di tempat tidur itu. Aku meringkuk sambil memejamkan mataku dengan sangat erat, perlahan air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya bisa meluncur bebas di kedua pipiku. Aku terisak selama beberapa saat, aku terisak setelah kembali mengingat kejadian tadi malam.

     Tiba-tiba aku mendengar suara ponselku berdering tapi aku tidak mengangkatnya, aku punya firasat bahwa yang menelponku itu adalah Jiyong karena sejak aku berada di dalam taksi pun dia terus menghubungiku namun sekali pun aku tidak mengangkatnya. Aku tidak ingin mendengar suara Jiyong karena dia adalah orang yang paling ingin aku hindari sekarang. Selama beberapa saat ponselku terus berdering sampai akhirnya kembali diam lalu beberapa saat setelahnya aku mendengar nada pesan masuk pada ponselku.

     Aku masih belum bergerak dari posisiku, terlalu takut untuk melihat pesan masuk itu. Terlalu pengecut untuk mengakui tentang perasaan yang kusadari sejak tadi malam, sejak dia mencium bibirku, sejak aku membalas ciumannya, sejak aku membiarkannya menyentuhku, sejak akhirnya kami bercinta. Entahlah aku bahkan tidak tahu, apa tadi malam kami bercinta atau hanya melakukan sex.

     Perasaan takut tiba-tiba saja hinggap di dalam diriku ketika aku menyadari satu hal, menyadari sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan, menyadari sesuatu yang selalu aku sangkal. Aku menginginkan Jiyong, mungkin aku mencintainya tapi anehnya aku tidak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan itu untuknya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini bisa berkembang menjadi perasaan yang lebih dari sekedar pertemanan. Atau jangan-jangan itu semua hanya pemikiran sesaat saja? Mungkin aku berpikir seperti itu karena aku terlalu putus asa dan sangat haus akan kasih sayang.

     Tapi jika benar seperti itu lantas apa artinya debaran jantungku yang tiba-tiba saja berpacu dengan sangat cepat saat mata kami beradu tatap. Saat tiba-tiba aku selalu kesal jika dia membicarakan wanita lain kepadaku, ketika melihat wanita lain mendekatinya di hadapanku. Saat begitu mudahnya dia membuat hatiku meleleh ketika dia memainkan rambutku, mengusap kepalaku dengan sangat lembut. Saat dia membuat seluruh tubuhku bergetar ketika dia membisikan kata cinta ditengah penyatuan tubuh kami.

     Hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan hal itu, yaitu aku jatuh cinta kepadanya tanpa aku sadari. Aku jatuh cinta kepadanya tapi aku tidak bisa membedakan garis antara cinta dan persahabatan di antara kami berdua. Aku terlambat menyadari semuanya sampai aku tidak tahu bagaimana semua ini berawal.

     Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Kenapa baru sekarang? ketika aku memutuskan untuk tidak lagi jatuh cinta, ketika hatiku sudah benar-benar lelah untuk kembali terluka karena orang yang aku cintai, ketika diriku kini sudah benar-benar rapuh karena luka di masa lalu, ketika diriku merasakan takut untuk mulai mengenal cinta lagi. Kenapa harus sekarang? Ketika semuanya sudah terlambat?

     Aku kembali merasakan sakit di dada saat tiba-tiba aku mengingat kedua orangtuaku, mengingat semua kenangan saat mereka meninggalkanku. Ingatanku lalu beralih kepada Joo Won yang mengkhianatiku dengan Tiffany lalu akhirnya meninggalkan aku demi wanita itu. Kemudian aku mengingat Soohyuk dan Chaerin, mengingat rasa yang aku tahan karena tidak ingin melukai mereka, mengingat rasa luka saat aku melihat mereka bersama kemudian mereka juga meninggalkanku karena keegoisanku. Dan tiba-tiba wajah Jiyong hadir menggantikan semua ingatan itu. Aku mengingat senyumannya yang memabukkan, pelukannya yang sangat menenangkan.

     Jiyong, satu-satunya orang yang selalu menghiburku saat aku terluka, satu-satunya orang yang siap memelukku saat aku menangis, satu-satunya orang yang mungkin rela melakukan apa pun untuk membuatku merasa lebih baik, aku tahu itu karena selama ini hal itu yang selalu dia lakukan. Dia selalu ada kapan pun aku membutuhkannya, dia selalu ada untukku apa pun kondisiku. Dan ternyata dia mencintaiku, dan mungkin aku juga mencintainya.

     Ini harusnya menjadi berita yang sangat menggembirakan saat aku  mencintai seseorang dan ternyata orang itu memiliki perasaan yang sama denganku, harusnya ini menjadi kabar yang sangat baik saat aku memiliki seseorang yang mencintaiku dengan sangat tulus, namun anehnya yang aku rasakan sekarang adalah kebalikannya. Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba saja aku merasa takut.

Jiyong Pov

     Hari masih sangat pagi saat aku keluar dari dalam apartemen untuk membeli bahan makanan di pasar terdekat. Udara bertiup dengan sedikit kencang membuat bulu-bulu di tanganku sedikit berdiri karena kedinginan tapi aku tidak terlalu peduli dengan angin yang terus menerpa wajahku karena yang aku pedulikan sekarang hanya Dara, wanita yang sangat kucintai, yang mungkin saat ini masih meringkuk damai di lantai ruang tengah apartemenku.

     Aku sama sekali tidak bisa menghentikan senyumanku sejak aku bangun tadi. Saat aku membuka mata, hal yang pertama aku lihat adalah sosok Dara yang tertidur lelap di dalam pelukanku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi malam, aku masih tidak percaya bahwa pada akhirnya Dara menjadi milikku. Aku masih bisa mengingat dengan jelas saat tubuh kami menyatu, saat aku membuktikan cintaku kepadanya saat kami bercinta. Aku bahkan bisa merasakan bahwa Dara memiliki perasaan yang sama untukku. She loves me, and i can feel it.

     Setelah membeli semua bahan makanan aku lalu langsung pulang lagi. Aku berjalan dengan senyuman yang terus menghiasi wajahku, terkadang aku bahkan berlari sedikit kencang supaya bisa cepat sampai di tempat tinggalku, aku tidak ingin membuang waktu terlalu lama, aku ingin segera melihatnya lagi, aku ingin ada di sana saat dia membuka matanya. Aku ingin segera memasak semua ini dan menyuapkannya padanya. Aku kembali tersenyum kemudian menggelengkan kepalaku karena kembali mengingat kejadian tadi malam. Dara benar-benar membuatku berubah menjadi seseorang yang sangat sentimental.

     Aku langsung berhenti ketika sampai di depan apartemenku, aku menghirup napas terlebih dahulu untuk meredakan rasa gugup yang tiba-tiba saja muncul, aku pasti gugup karena masih merasa bahwa yang tadi malam terjadi adalah sebuah mimpi. Aku menghempuskan napas lalu langsung membuka pintu apartemenku kemudian langsung berjalan menuju ruang tengah. Aku masih tersenyum saat aku masuk, namun senyumanku langsung memudar ketika aku tidak menemukan Dara di tempatnya.

     “Dara?” Aku memanggil namanya sambil berjalan pelan. “Baby, kau di mana?” panggilku lagi namun aku tidak mendapatkan jawaban apa pun. Aku menjatuhkan semua bahan makanan yang baru aku beli kemudian berjalan ke arah kamar mandi lalu langsung membuka pintunya namun Dara tidak ada di sana. Aku berjalan lagi kini menuju kamarku namun aku harus kembali kecewa karena Dara juga tidak ada di sana.

     Aku membuka jaket yang aku kenakan lalu menaruhnya di atas tempat tidur, aku berjalan pelan lalu mengambil ponselku yang aku simpan di atas nakas. Aku langsung menyentuh angka satu dengan sedikit lama lalu ponselku langsung menghubungi nomor Dara, aku mendengar panggilanku tersambung. Aku mulai tidak tenang ketika panggilanku terputus karena tidak ada yang menjawabnya, aku kembali mencoba menghubungi nomornya namun Dara masih tidak mengangkatnya. Aku mengirimkan beberapa pesan kepadanya, menanyakan apa dia baik-baik saja tapi semua pesan itu sama sekali tidak Dara baca.

     Aku berpikir untuk pergi ke rumahnya namun tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan dari Tiffany yang mengatakan bahwa hari ini aku dan dia harus mengikuti meeting karena kemarin malam aku mangkir untuk menemani Dara. Aku sangat ingin menemui Dara di rumahnya sekarang, sekedar untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja namun sepertinya aku tidak bisa pergi lagi dari tanggung jawabku ini jadi aku memutuskan untuk datang dulu ke kantor, lalu akan menemui Dara setelah meeting ini selesai.

     Meeting ini ternyata berlangsung sangat lama, pukul lima sore aku baru bisa keluar dari dalam gedung kantorku. Aku langsung pulang lalu membersihkan diriku sebentar. Setelah mandi aku lalu duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengurut pelipisku karena aku merasakan sakit kepala. Tubuhku terasa sangat lelah karena beban pekerjaan yang akhir-akhir ini menyita seluruh waktuku, aku bahkan lupa dengan rencanaku untuk pergi dengan Dara kemarin malam. Aku menutup mataku sejenak namun tanpa sadar aku malah masuk ke dalam dunia mimpi.

     Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, namun aku langsung terbangun ketika tiba-tiba aku mengingat Dara. Aku langsung menegakkan badanku kemudian melihat ponselku untuk mengecek apakah Dara membalas pesanku, namun ternyata aku harus kembali kecewa karena tidak ada satu pun pesanku yang Dara balas. Aku berdiri dari posisiku sambil mengambil kunci mobil di atas nakas kemudian langsung pergi untuk menemui Dara di rumahnya. Beberapa saat kemudian aku tiba di tempat tinggal wanita yang paling berharga untukku itu.

     Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dengan rumah Dara. Saat aku akan membuka seatbelt tiba-tiba aku melihat sebuah mobil Audi putih yang berhenti tepat di depan gerbang rumah Dara. Aku menatap lurus pada mobil itu lalu beberapa saat kemudian aku melihat seorang pria yang keluar dengan wajah yang sangat berseri, aku mengerutkan keningku ketika melihat pria itu masuk ke dalam rumah Dara.

     Aku menunggu di mobilku dengan berbagai macam pikiran yang melintas di kepalaku sampai akhirnya aku melihat pria itu keluar lagi namun kali ini Dara mengikutinya dari belakang. Aku menahan napas ketika melihat penampilan Dara saat ini, Dara memakai gaun cocktail warna maroon yang panjangnya hanya beberapa inchi di atas lututnya, rambutnya dia gerai begitu saja dan hal itu benar-benar membuatnya terlihat sangat elegant.

     Aku melihat pria itu berbicara kepada Dara dengan senyuman yang terus disunggingkan di sudut bibirnya, aku terus menatap pemandangan di depanku itu dengan kening berkerut, karena tidak tahu siapa pria yang saat ini sedang bersama dengan Dara. Tiba-tiba dadaku terasa sesak ketika aku melihat pria itu merangkulkan tangannya pada bahu telanjang Dara. Tanpa sadar cengkramanku pada setir mobil menjadi sangat erat ketika aku melihat pria itu mendekatkan wajahnya dengan perlahan pada telinga Dara lalu membisikan sesuatu kepadanya.

     Aku tidak tahan lagi melihat pemandangan itu, jadi aku akan keluar dari dalam mobilku kemudian menghampiri mereka berdua. Saat aku akan membuka pintu saat itulah aku melihat Dara menghempaskan tangan pria itu dari bahunya lalu menatap pria itu kemudian mengatakan sesuatu kepada pria itu. Setelah berbicara Dara langsung berbalik lalu berjalan mendahului pria itu kemudian masuk ke dalam mobil. Aku melihat pria itu tertawa  karena apa yang Dara katakan kepadanya lalu pria itu tersenyum simpul sebelum menyusul Dara ke dalam mobil. Aku sangat penasaran dengan apa yang telah Dara katakan hingga membuat pria itu terus tersenyum setelah mendengarnya.

     Aku kembali mengerutkan kening ketika melihat pemandangan barusan, melihat cara pria itu tersenyum, melihat cara pria itu menatap Dara. Aku tahu pria itu pasti menyukai Dara, tapi siapakah dia? Apakah pria itu adalah alasan kenapa Dara sama sekali tidak mengangkat panggilanku atau membalas pesan dariku. Apakah ini artinya hubungan kami tidak berubah bahkan setelah kejadian tadi malam?

****

     “Aku ragu, apakah aku melakukan hal yang benar karena menerima ajakanmu untuk pergi ke pesta ini,” ujar Dara kepada Donghae yang baru saja membukakan pintu mobil untuk wanita cantik itu. Mereka berdua baru saja sampai di sebuah hotel bintang lima untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh salah satu rekan bisnis pria itu. Donghae menoleh menatap Dara setelah mendengar apa yang wanita itu katakan.

     “Apa maksudmu?” tanyanya dengan kening berkerut.

     “Ini pertama kalinya aku menghadiri pesta seperti ini, terlebih lagi untuk menemani seorang pria. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat kita di dalam sana.” ujar Dara sambil menatap Donghae dengan serius.

     “Kau tidak perlu melakukan apapun, kau hanya perlu berdiri di sampingku lalu tersenyum kepada teman-temanku….” ujar Donghae namun dia langsung menggelengkan kepalanya kemudian mengangkat tangannya lalu memegang dagunya sambil memiringkan kepalanya dengan mata yang tidak pernah lepas dari wajah Dara. Dara langsung mengerutkan keningnya karena tingkah Donghae itu. “Aku rasa sebaiknya kau jangan tersenyum.”

     “Wae?”

     “Senyumanmu akan membuat lelaki lain terpesona dan aku sangat tidak suka jika lelaki lain melihat senyuman tunanganku.” ujarnya lagi kini sambil menggelengkan kepalanya.

     “Yah aku bukan tunanganmu!” ujar Dara sambil sedikit mendengus yang malah membuat pria itu tertawa ringan.

     “Aigoo kau menggemaskan dan disaat yang sama kau terlihat seksi saat sedang marah seperti ini.” ujarnya sambil berdecak penuh kekaguman.

     “Jangan merayuku karena aku tidak akan mudah jatuh ke dalam pelukanmu hanya karena rayuan seperti itu,” ujar Dara yang kembali membuat Donghae tertawa ringan. “Aku tidak sedang ingin bercanda sekarang, jadi berhenti tertawa seperti itu.” sambung Dara karena kesal melihat pria di sampingnya itu tertawa karena apa yang dia ucapkan.

     “Arasseo,” ujar Donghae sambil mengangguk kemudian berusaha menghentikan tawanya yang pastinya akan sangat susah, tidak bisa Donghae pungkiri bahwa wanita di sampingnya ini selalu membuatnya ingin tersenyum dan tertawa. “Kajja kita masuk,” ujar Donghae sambil menggapai tangan Dara yang menggantung lalu menggenggamnua. “Ingat  untuk tersenyum kepada pria lain!” ujar Donghae lagi kini sambil menatap Dara tajam. Dara memutar bola matanya lalu menghempaskan tangan Donghae yang menggenggamnya.

     “Jangan sentuh aku!” ujar Dara dengan sedikit kesal lalu berjalan mendahului Donghae. Pria itu hanya tersenyum karena melihat tingkah Dara yang selalu dia anggap seksi jika sudah marah seperti itu.

     Aneh memang, Donghae sadar bahwa dirinya sangat aneh karena dia menyukai sikap Dara yang sedikit kasar kepadanya. Mungkin itu karena Dara lah satu-satunya wanita yang memperlakukannya seperti itu. Donghae biasa dikerubuni oleh wanita-wanita cantik, bahkan Donghae tidak pernah mengeluarkan usaha yang besar untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan, karena para wanita itu selalu datang dengan sendirinya kepada Donghae apalagi ketika mereka tahu bahwa pria itu adalah pewaris dari salah satu keluarga terpandang di Korea. Tapi hal itu sama sekali tidak berlaku pada Dara.

     Sejak pertama kali dia melihat Dara dari sebuah photo yang ibunya tunjukan, Donghae langsung terpikat oleh kecantikan wanita itu atau bisa dikatakan bahwa Donghae jatuh cinta pada pandangan pertama jadi ketika mereka berdua makan malam Donghae terus saja berbicara tentang kekayaan keluarganya dengan harapan Dara akan terpancing dan tergiur dengan kekayaannya itu namun ternyata itu adalah sebuah kesalahan. Dara bukannya terpancing namun dia malah tidak menyukainya karena hal itu. Itulah nilai tambah Dara yang membuat Donghae semakin menyukainya.

     Lalu Dara melihat cincin yang malam itu Donghae kenakan, Dara mengira bahwa cincin itu adalah cincin pasangan dan Donghae malah mengiyakan saat wanita itu bertanya karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Dara. Tanpa Donghae duga Dara malah menyiramnya dengan air dingin karena hal itu. Awalnya Donghae sangat terkejut hingga tanpa sadar dia mengeluarkan umpatan karena apa yang Dara lakukan kepada dirinya namun setelah sosok Dara menghilang di balik pintu restoran senyuman simpul langsung muncul di sudut bibirnya.  Donghae sadar bahwa wanita seperti Dara yang selalu dia cari. Malam itu Donghae langsung menghubungi ibunya, dia mengatakan bahwa dia sangat menyukai wanita itu dan ingin memilikinya.

     Donghae langsung berbaur dengan semua rekan bisnisnya yang kini sedang menikmati pesta itu. Dara berdiri di sampingnya, wanita itu mengikuti ke mana pun pria itu melangkahkan kaki karena dia tidak punya pilihan lain. Dara hanya tersenyum seadanya jika ada orang yang mempertanyakan tentang Dara kepada Donghae dan betapa Dara ingin menginjak kaki pria itu setiap kali dia memperkenalkan Dara sebagai tunangannya kepada rekan bisnisnya itu namun dia hanya menahan diri karena dia tidak ingin membuat kekacauan di tempat yang sangat asing baginya.

     Donghae kini sedang berdiri sendirian sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru tempat pesta yang didekorasi dengan sangat indah, dia melihat beberapa orang yang saat ini sedang berdansa dengan diiringi lagu dari orkestra. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan saat pelayan berseragam hitam putih menawarkan segelas sampanye kepadanya. Betapa tergiurnya Donghae saat melihat gelas-gelas sampanye itu namun dia harus menahan diri. Dia mengemudi, terlebih dia membawa seseorang yang sangat berharga jadi dia tidak boleh minum walaupun hanya sedikit.

     “Hai, kau sudah datang?” Donghae langsung menoleh ketika dia merasakan sebuah tangan yang kini telah merangkul bahunya. Dia tersenyum ketika melihat sepupunya kini telah berdiri di sampingnya.

     “Aku pikir kau siapa,” ujar Donghae sambil melepaskan tangan itu dari bahunya. “Kau datang sendirian?” tanyanya kepada sepupunya itu.

     “Tentu saja tidak,” ujar sepupunya sambil tersenyum kemudian membalikan badannya. “Jagiya kemarilah! Kau harus bertemu dengan saudaraku,” Donghae ikut membalikan badannya lalu dia melihat seorang wanita yang kini sedang tersenyum kepadanya. “Sapalah! Dia adalah calon saudara iparmu.” ujar sepupunya lagi kini sambil merangkulkan tangannya di pinggang ramping wanita itu.

     “Annyeong,” ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya. “Aku sering mendengar cerita tentangmu.” Sambungnya ketika Donghae membalas jabatan tangan wanita itu.

     “Oh aku harap dia selalu menceritakan sesuatu yang baik tentangku,” balas Donghae sambil tersenyum setelah menjabat sekilas tangan calon tunangan sepupunya itu.

     “Tentu saja aku selalu menceritakan hal yang baik tentangmu,” ujar sepupunya lagi yang membuahkan senyuman dari Donghae. “Apakah sepupuku ini masih tidak punya seseorang untuk diajak ke sebuah pesta?” tanya sarkas sepupunya ketika dia menyadari bahwa Donghae berdiri sendirian.

     “Tentu saja tidak,” balasnya sambil tersenyum senang. “Aku datang bersama calon tunanganku juga.”

     “Kau punya tunangan?” tanya sepupunya yang hanya dibalas anggukan oleh pria itu. “Lalu di mana wanita malang itu?”

     “Dia di sana!” ujar Donghae sambil menunjuk Dara yang baru saja keluar dari restroom.  Kedua orang itu mengikuti arah pandang Donghae lalu mata mereka berdua langsung terbuka dengan sangat lebar ketika melihat sosok yang sudah sangat mereka kenal. Donghae tidak pernah mengalihkan tatapannya kepada Dara yang saat ini langsung menghentikan langkahnya saat wanita itu melihat dua orang yang kini berada di dekat Donghae.

     “Apakah wanita yang kau maksud adalah Dara?” Donghae kembali menoleh lalu menatap sepupunya itu ketika pria itu menyebut nama Dara. “Dia calon tunanganmu?”

     “Apakah kalian saling mengenal?”

     “Tentu saja! dia adalah sepupu Chaerin.” ujar sepupunya lagi yang membuat Donghae langsung melebarkan matanya.

     “Wah ini sebuah kebetulan atau takdir?” ujarnya sambil kembali menatap Dara yang kini hanya berdiri di tempatnya dengan tangan dan kaki yang sedikit gemetar.

****

     Dara tidak benar-benar tahu apa yang saat ini sedang dia lakukan. Berdiri di samping Donghae dan mengikuti ke mana pun kaki pria itu melangkah seperti seorang robot yang sudah disetting untuk selalu mengikuti gerakan tuannya. Dara benci hal ini, Dara benci mengakui bahwa hanya dengan berada di dekat Donghae maka dia bisa menghindar dari dua orang yang belum bisa dia hadapi. Dia sangat terkejut ketika melihat Soohyuk dan Chaerin yang berdiri di samping Donghae, dan dia semakin terkejut ketika Donghae memberitahunya bahwa Donghae dan Soohyuk memiliki hubungan keluarga.

     “Ada apa denganmu? Kenapa mendadak kau jadi pendiam seperti ini?” Dara langsung terkesiap ketika dia mendengar suara Donghae.

     “Uh eh?” Tanyanya yang membuat Donghae langsung mengerutkan kening.

     “Apa kau sakit?” Dara menggelengkan kepalanya. “Apa kau tidak nyaman di tempat ini?” tanya Donghae lagi namun kali ini Dara diam saja. “Apa kau ingin pulang?” Dara mengangguk pelan setelah mendengar pertanyaan lelaki itu. “Tunggulah sebentar! Aku akan pamit dulu kepada pemilik pesta ini.”

     “Aku bisa pulang sendiri, kau tidak perlu mengantarku,” ujar Dara yang langsung Donghae balas dengan gelengan.

     “Aku yang membawamu kemari jadi aku akan bertanggung jawab untuk membawamu aman sampai rumah,” ujar Donghae lagi. “Tunggulah di sini sebentar. Arasseo?” Dara menganggukan kepalanya sebelum Donghae berjalan ke arah tuan rumah pesta ini.

     “Aku tidak tahu bahwa kau dan Donghae bertunangan,” Dara langsung mematung ketika dia mendengar suara Soohyuk lalu sosok pria itu muncul di samping Dara.

     “Aku dan dia tidak bertunangan,” ujar Dara. “Aku bersamanya di sini karena halmeoni yang memaksaku.” ujar Dara tanpa menoleh kepada Soohyuk.

     “Oh jadi kalian dijodohkan?” tanya Soohyuk lagi.

     “Dia hanya main-main denganku,” ujar Dara masih belum berani untuk menoleh kepada pria yang dia pikir pernah dia cintai.

     “Tapi sepertinya dia serius denganmu,” Dara mendengar suara Soohyuk lagi namun kali ini dia hanya diam dan berharap pria itu akan pergi karena sikapnya ini. “Aku merindukanmu Dara-ah, Chaerin juga. Dia menyesal karena telah berkata kasar kepadamu, dia bahkan malu untuk menunjukkan dirinya di hadapanmu,” Ujar Soohyuk lagi setelah beberapa saat namun Dara tidak mengatakan apapun. Pria itu menghembuskan napas sebelum berbalik lalu melangkah untuk meninggalkan Dara yang tidak ingin membicarakan apapun dengannya namun tiba-tiba Dara mengingat sesuatu. Dara langsung berbalik lalu memanggil nama Soohyuk sehingga pria itu berhenti dari langkahnya.

     “Aku ingin bertanya satu hal kepadamu.” ujar Dara ketika Soohyuk kembali menatapnya. “Soal malam itu, ketika kau mengatakan bahwa ada seseorang yang aku cintai….” ujar Dara lagi kemudian dia diam sesaat.

     “Apa kau sudah menyadarinya? Kau sudah tahu siapa pria itu?” Tanya Soohyuk sambil menatap Dara penuh. Dara mengangguk pelan.

     “Apakah ada hal lain yang aku katakan tentang pria itu selain bahwa aku mencintainya?” tanya Dara serius. Soohyuk diam selama beberapa saat lalu kembali berjalan untuk menghampiri Dara. “Apa yang aku katakan? kenapa aku baru menyadari hal itu sekarang?”

     “Kau menahan semuanya, kau mengubur semua perasaanmu untuk pria itu karena kau takut kehilangannya,” ujar Soohyuk pelan. “Itu yang kau katakan.”

     “Jadi kau mengatakan bahwa hatiku sudah tahu sejak lama bahwa aku mencintai Jiyong?” tanya Dara lagi yang Soohyuk balas dengan anggukan pelan.

     Dara menutup matanya dengan sangat erat, air matanya kembali jatuh dengan perlahan ketika dia kembali menyadari satu hal. Hatinya sudah tahu sejak lama bahwa dia mencintai Jiyong, namun Dara selalu menyangkal perasaannya kepada sahabatnya itu karena Dara takut.

     Dara merasakan rasa takut yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, rasa takut yang teramat sangat. Dara takut Jiyong juga akan melukainya, Dara takut hubungan mereka akan berjalan buruk jika dia mengikuti keinginan hatinya, Dara takut Jiyong juga akan meninggalkannya seperti yang orang lain lakukan kepadanya, dan ketakutan terbesar Dara adalah kehilangan Jiyong di sisinya.

     Dara selalu merasa bahwa dirinya telah dikutuk. Kutukan yang membuat orang yang dia cintai pada akhirnya selalu meninggalkan dia. Dara memilih untuk tetap berada di samping Jiyong hanya sebagai sahabatnya karena hanya dengan cara itu Dara bisa terus bersamanya tanpa takut pria itu akan pergi darinya lalu meninggalkannya karena kutukan itu.

****

     Senin siang, dua hari berlalu sejak kejadian di apartemen Jiyong malam itu. Jiyong dan Dara sama sekali belum bertemu sejak kejadian itu. Jiyong berhenti menghubungi Dara setelah dia melihat wanita itu bersama dengan seorang pria lain besok malamnya. Sedangkan Dara hanya bisa mengerutkan kening karena tidak lagi mendapatkan terror telpon maupun pesan dari Jiyong, pria itu berhenti menghubunginya dan Dara pikir mungkin Jiyong sama sekali tidak menganggap penting malam itu. Dara berpikir bahwa Jiyong menganggap apa yang mereka lakukan malam itu hanyalah sebuah one night stand, makanya dia tidak mencari Dara.

     “Apa yang sedang kau pikirkan Ji?” Jiyong langsung tersentak kaget ketika dia mendengar suara Bom yang tiba-tiba menyapanya. Jiyong berbalik lalu dia melihat salah satu teman dekatnya kini telah berdiri tidak jauh darinya.

     “Aigoo noona, kau hampir saja membuat jantungku copot.” ujar Jiyong sambil berdecak saat Bom berjalan menghampirinya.

     “Habisnya kau dari tadi diam saja padahal aku terus memanggil namamu,” ujar Bom. “Apa sesuatu telah terjadi?” tanya Bom yang hanya Jiyong balas dengan gelengan kepala.

     “Aku hanya lelah karena terus bekerja keras untuk bisa naik pangkat sesegera mungkin.” ujar Jiyong sambil mengedikan bahunya.

     “Oh iya aku juga dengar tentang hal itu, posisimu akan naik jika kau berhasil memenangkan tender ini,” ujar Bom yang Jiyong balas dengan anggukan, mereka berdua kemudian berjalan beriringan. “Apa kau sudah makan siang?”

     “Belum, aku baru saja akan pergi ke kantin untuk makan.”

     “Apa kau keberatan jika aku ikut makan siang denganmu? Aku tidak ingin makan sendirian.”

     “Tentu saja,” ujar Jiyong yang berhasil membuahkan senyuman dari Bom.

     “Oh iya aku dengar kau dan Dara pergi ke bioskop tempo hari.” Jiyong langsung menatap Bom ketika wanita itu menyebut nama Dara.

     “Dari mana kau tahu?” tanya Jiyong. “Apakah Dara mengatakan sesuatu kepadamu?” tanyanya lagi dengan suara serius.

     “Waktu itu Dara mengatakan bahwa dia akan mengajakmu nonton film yang aku ceritakan kepadanya.”

     “Oh,” ujar Jiyong sambil kembali menatap lurus ke depan dan saat itulah dia melihat Dara yang sedang berbicara dengan asistennya sambil memberikan sebuah map. Langkahnya langsung terhenti ketika Bom yang berjalan di sampingnya memanggil Dara, wanita itu langsung mengalihkan perhatiannya kepada sumber suara yang memanggilnya tadi, dia tersenyum ketika melihat Bom namun senyuman Dara langsung memudar ketika tatapannya beralih kepada Jiyong yang berdiri beberapa langkah di belakang Bom.

     “Jiyong aku akan mengajak Dara juga, kita bisa makan siang bersama.” Jiyong langsung menatap Bom lagi ketika kembali mendengar suaranya. Tanpa menunggu jawaban dari Jiyong, Bom langsung sedikit berlari menghampiri Dara. Dengan langkah pelan Jiyong mengikuti Bom yang saat ini telah berdiri di dekat Dara.

Jiyong Pov

     “Ya ampun aku baru sadar bahwa kita sudah lama tidak makan siang bersama seperti ini,” Bom langsung membuka pembicaraan setelah kami memesan menu makan siang. “Sayang Seunghyun tidak bisa ikut bergabung bersama kita,” sambungnya lagi kini dengan suara sedikit kecewa.

     “Apa kau merindukannya sekarang huh?” aku langsung melirik ke arah Dara saat mendengar suaranya lalu dia tertawa ringan ketika Bom menggelengkan kepalanya.

     “Aku tidak merindukannya, aku hanya merasa aneh karena dia tidak lagi berkeliaran di sekitarku.”

     “Tenang saja, beberapa minggu lagi dia akan kembali untuk menggodamu seperti biasa.” balas Dara yang Bom tanggapi dengan anggukan.

     “Oh iya Dara, bagaimana film itu? apa kalian menyukainya?” tanya Bom lagi kini sambil menatapku dan Dara bergiliran.

     “Aku tidak terlalu menikmati film itu karena orang yang duduk di sebelahku terus saja tertawa karena aku terbawa suasana,” ujar Dara sambil sedikit berdecak. “Lain kali aku tidak akan mengajakmu lagi.” ujar Dara lagi kini sambil menatapku lalu mengerucutkan bibirnya namun beberapa detik kemudian dia kembali mengalihkan tatapannya.

     Aku hanya mampu mengerutkan keningku dengan sikap Dara ini. Kenapa dia tiba-tiba bersikap seolah tidak terjadi sesuatu setelah dia mengabaikanku selama dua hari ini. Apa dia ingin menunjukkan kepada Bom bahwa hubungan kami baik-baik saja padahal kenyataannya dia tahu bahwa kami tidak baik-baik saja, bahkan untuk menatapku saja Dara tidak berani berlama-lama.

     “Jiyong kenapa kau diam saja? apa kau sakit?” aku langsung kembali dari lamunan setelah mendengar suara Bom. Aku menatapnya lalu menggelengkan kepala.

     “Aku hanya sedikit lelah.” ujarku yang Bom balas dengan anggukan. Beberapa saat kemudian pelayan datang menyajikan pesanan kami. Kami makan sambil terus mengobrol, aku hanya bicara sesekali dan lebih banyak mendengarkan Bom dan Dara membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita.

     “Jiyong apa kau tahu bahwa ada gosip baru tentangmu saat ini?” tanya Bom beberapa saat setelah makanan kami habis.

     “Gosip tentangku?” tanyaku dengan sedikit bingung yang Bom balas dengan anggukan.

     “Sebelumnya semua orang di kantor sangat yakin bahwa kau dan Dara itu pacaran tapi sekarang semua orang yakin bahwa kau telah mencampakan Dara lalu berpacaran dengan Tiffany.”

     “Kenapa bisa ada gosip seperti itu.”

     “Ada yang melihat kau dan Tiffany masuk ke dalam apartemennya,”

     “Aku hanya mengantarnya pulang dan dia mengajakku untuk mampir sebentar karena ada yang ingin dia tanyakan tentang tender yang sedang kami kerjakan.”  Jelasku kepada Bom.

     “Jadi itu benar?” aku mendengar suara Dara. “Kau masuk ke apartemen wanita itu?” aku langsung mengalihkan perhatianku ketika aku mendengar suara Dara lagi, dia kini sedang menatapku dengan tatapan tajam.

     “Iya,” akuku.

     “Sudah berulang kali aku katakan supaya kau menjauhi wanita itu. Kenapa kau tidak pernah mendengarkan aku? apa kau tidak bisa hidup tanpa merayu wanita huh?” aku kembali mengerutkan keningku setelah mendengar nada suaranya yang terdengar sedikit marah.

     “Kenapa kau marah?” tanyaku. “Lagipula aku tidak merayunya.”

     “Yah kenapa kalian malah bertengkar?” tanya Bom dengan suara yang sedikit canggung. “Kenapa kalian berdua jadi sering bertengkar seperti ini sih?” tanya Bom lagi kini sambil menatapku dan Dara bergiliran.

     “Noona, apakah kau bisa meninggalkan aku dengan Dara?” tanyaku kepada Bom. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.” ujarku lagi yang langsung membuat Dara menatapku.

     “Oh baiklah jika itu maumu.” ujar Bom sambil mengangguk canggung. “Aku akan kembali ke kantor kalau begitu.” sambungnya lagi sambil berdiri dari tempatnya kemudian melangkah pergi.

     Untuk sesaat aku dan Dara hanya diam saja. Aku terus menatapnya sedangkan dia menatap ke luar jendela di sebelahnya. Hal pertama yang ingin aku tanyakan kepada Dara adalah tentang siapa pria yang malam itu bersamanya, namun aku rasa ada hal yang lebih penting yang harus kami bicarakan saat ini.

     “Apa kau tidak ingin membicarakan sesuatu kepadaku?” tanyaku setelah beberapa saat yang membuat Dara langsung menoleh kemudian menatapku.

     “Apa yang harus kita bicarakan?”

     “Kenapa kau menghilang begitu saja saat itu?” tanyaku langsung. “Malam itu ki-,”

     “Aku cukup yakin bahwa itu bukan pertama kalinya bagi kita,” Dara tiba-tiba langsung memotong perkataanku. “Waktu di Jepang kita juga tidur bersama bukan? Aku juga memelukmu saat itu,” ujarnya lagi. “Jadi aku rasa kita tidak perlu membicarakan sesuatu yang tidak berarti seperti ini.” aku langsung menggelengkan kepala setelah mendengar apa yang dia katakan.

     “Ini bukan sesuatu yang tidak berarti bagiku,” ujarku dengan mata yang menatapnya tajam. “Kau pasti tahu betapa berartinya ini bagiku jadi aku tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja,” ujarku lagi.

     “Kita bisa berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi Jiyong, kita berteman dan kita tidak seharusnya melakukan hal itu.”

     “Kita bisa merubah status kita, kita bisa memulai awal yang baru untuk hubungan kita,” ujarku lagi yang membuat Dara menatapku lama dengan sorot mata yang tidak bisa aku artikan. Dia bicara setelah menghela napas.

     “Jiyong-ah kau adalah satu-satunya orang yang tahu tentang semua rasa sakit yang aku alami selama ini, kau satu-satunya orang yang tahu betapa lemahnya aku ketika seseorang melukai perasaanku, kau satu-satunya orang yang selalu memelukku dan membuatku menjadi lebih baik saat aku menderita.” ujar Dara dengan mata yang menatapku dalam. “Aku sangat beruntung karena aku memiliki seseorang seperti dirimu di sampingku. Aku bahagia saat aku bersamamu dan aku ingin kita terus seperti ini.” ujar Dara dengan suara pelan, dia mengalihkan tatapannya lalu menutup matanya sebentar sebelum dia menghembuskan napas kemudian kembali menatapku.

     “Kita bisa terus seperti itu, kau tahu bahwa aku mencintaimu.”

     “Anggap saja kau mencintaiku dan aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu lalu kita mulai menjalani hubungan yang lebih beresiko dari hubungan kita yang sekarang. Kita mungkin akan bahagia pada awalnya namun bagaimana jika tiba-tiba kau melukaiku? Bagaimana jika tiba-tiba aku melukaimu? Siapa yang akan memelukku jika aku terluka karena dirimu? Siapa yang akan menghiburku jika satu-satunya orang yang selalu membuatku merasa lebih baik adalah orang yang melukaiku?” tanya Dara dengan sorot mata putus asa. “Aku tidak pernah ingin kehilanganmu Jiyong, dan aku tidak ingin jika kau menjadi salah satu orang yang akan melukaiku lalu meninggalkanku seperti yang orang lain lakukan.” ujarnya lagi dengan suara hampir berbisik. Aku menggapai tangan Dara lalu menggenggamnya erat.

     “Dara aku tidak akan melukaimu,” ujarku dengan penuh kesungguhan. Dara menutup matanya selama beberapa sambil menggelengkan kepalanya.

     “Tidak bisakah kita seperti dulu saja?” tanya Dara sambil menarik tangannya dari genggamanku. “Aku ingin kita kembali pada masa saat pertama kali kita bertemu, hanya berteman tanpa melibatkan perasaan kita. Aku ingin kita kembali pada masa-masa itu Jiyong, karena kita bisa bersama tanpa beban, kita bisa terus bersama dan aku bisa tertawa tanpa takut untuk kehilangan dirimu.” ujarnya sebelum dia berdiri dari tempatnya duduk lalu berjalan pergi meninggalkan aku yang masih mematung di tempatku saat ini. Aku masih mencerna semua yang Dara katakan, dia mencintaiku tapi dia baru saja menolakku dan aku tahu dia seperti itu karena trauma masa lalunya masih belum sembuh. Aku tahu Dara tidak percaya bahwa aku bisa menyembuhkan lukanya.

TBC

Annyeong, maafkan karena menghilang terlalu lama dan semoga enggak lumutan yah nunggu kelanjutan cerita ini, hihi

Makasih untuk komentar di chapter sebelumnya dan aku harap kalian masih mau berkenan meninggalkan jejak di setiap chapternya. kutunggu kritik dan sarannya untuk cerita ini. Hengsho!!!

Advertisements

17 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 12]

  1. ya allah , kapankah dara bakal terima jiyong seutuhnyaa?? nyeseek sumpahh, pengen mereka sweetan. ditambah donghae beneran suka pula sama dara, ayoolah keburu nikah tuh donghae sama dara. aigoooo dara terima dong jiyong kasin tau liat dia kaya gitu hikss 😦

  2. kok dara unni jahat si sama jiyong oppa, jiyong oppa kasih cewe lain aja kalo dara unni gamau nih lama lama 😦 kesel masa jiyong oppa nya yg ngalah mulu thor -_-
    Next chap ditunggu secepatnya thor hehe

  3. Finally baca juga 😁
    Tapi ko nyesek yaa, Kasian banget Jiyong
    Dara kapan peka nya sama perasaan nya sendiri..
    Jiyong udah jujur sama dara
    Ayoolah ka cepetan sadarin dara, 😂
    Kasian Jiyong nya 😢
    Lanjuuutt yaaaa .. allways nunggu 😄

  4. Duh kenapa ceritanya belum happy juga kirain setelah kejadian kemarin mereka bakalan bersama tp kenapa dara jg belum berubah sih….. duh meski dara sudah yakin klu dia jg suka dan cinta sama jiyong tp kenapa dara masih blm bisa terima jiyong jd kekasihnya sih dan dara coba deh buka hati dan pikiranmu klu jiyong itu nggak bakal ninggalin dia kaya mantan pacarnya demi cewek lain dan dara kau jg harus percaya klu jiyong orang yg tepat buat kamu bisa ngobatin trauma dari masalalumu itu dan buat jiyong jangan pernah menyerah buat dapatin hatinya dara dan krn dara jg cinta mati sama kamu….. next chap jangan lama” ya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s