Ahjumma Next Door [Chapter 3] : Heiresses or Amazons?


Author         : silentapathy
link              : asianfanfics
Indotrans    : dillatiffa

Dari author :

Hi there everyone! This is silentapathy unnie from asianfanfics, saying hi to all the daragon/nyongdal readers here!

As you can see, dillatiffa (or ur UN) here wanted to bring you the very first fanfic series I’ve written in AFF and since she’s very supportive and she even designed one of the banners for the story, I am giving her my consent and support to post it here on this site as well!
I am looking forward to you guys and please do send her some love. I hope you would like the story and give her encouragement and support for this Indonesian/Bahasa adaptation of Ahjumma Next Door and The Couple Next Door series!

Kamsahamnida! Hengsho!

Terjemahan:

Halo semuanya! Ini silentapathy unnie dari asianfanfics, ingin bilang hi ke semua pembaca daragon/nyongdal disini!

Seperti yang kalian lihat, dillatiffa (translator) ingin membagikan ff berchapter pertama yang aku tulis di AFF dan karena dia telah mendukung dan malahan juga ikut membuat desain salah satu baner cerita, aku memberikannya izin dan mendukungnya untuk mempublikasikan ceritaku disini.

Aku menantikan kelanjutannya, dan tolong dukung dia. Aku harap kalian akan menyukai cerita ini dan memberinya dorongan dan suport untuk adaptasi berbahasa indonesia dari Ahjumma Next Door dan (trans: semoga saja) The Couple Next Door!

Kamsahamnida! Hengsho!

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“DIA ADALAH SEORANG POLISI, BLAH BLAH BLAH! MEMANGNYA KAMI PEDULU PADA HAL ITU? TEDDY OPPA! BERANI-BERANINYA MEREKA MENYENTUH DALONG KITA! DALONG YANG SUCI, SATU-SATUNYA DALONG KITA!” Suara Bom menggelegar keseluruh penjuru apartemen Dara.

“Arasso. Pastikan mereka membayar untuk itu..”

“Bom?” Dara baru saja keluar dari area kerjanya.. Ruang rahasianya. Tempat persembunyiannya.

Ya, dia menyewa unit apartemen 13, 14, dan 15. Dia meminta Minzy untuk menggabungkan ketiga unit apartemen itu, tapi ketika dia pindah kesini, maknae mengejutkannya dengan rak yang bisa berputar.. Pemisah-slash-pintu lebih tepatnya, yang memisahkan apartemen 13, yang merupakan tempat tinggalnya, lengkap dengan kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dapur, dan ruang makan, dengan apartemen 14 yang dibuat menjadi areanya bekerja dan apartemen 15 yang dijadikannya sebagai ruang keamanan baginya atau lebih seperti ruang panik.

Minzy adalah pemilik gedung apartemen ini. Orangtuanya pergi ke Jepang untuk ekspansi perusahaan properti mereka tapi Minzy memaksa untuk tetap tinggal di Seoul. Dan untuk memberikan anak perempuan mereka satu-satunya kesibukan, orang tuanya memutuskan untuk membiarkan dia mengelola salah satu gedung apartemen dengan bantuan kepala keamanan Hwangssabu, yang sudah dianggap sebagai paman sendiri.

“Bom? Siapa itu?” Dara bertanya sambil menunjuk telepon yang Bom pegang erat.

“Ahh.. Ehehe.. Bukan siapa-siapa.. Itu tadi asistenku.” Katanya dan segera memasukkan teleponnya ke dalam saku. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Dara memiringkan kepalanya sambil mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam.

Ketika dia sudah sadar, para gadis itu mengerubunginya, tapi ada sedikit perbedaan dari biasanya, mereka terlihat seperti habis menerjang badai.

Poni Bom terbelah, rambut ekor kudanya, lepas.. gaun bertali satunya menjadi tidak bertali.

Ketika dia melihat CL, hilang sudah OH-SANGAT-MENAKJUBKAN Seoul baddest model. Roknya robek, rambutnya lebih terlihat seperti sarang burung.

Minzi dilain pihak, terlihak seperti anak emo yang belepotan dengan eyeliner dan maskara.

Itu benar-benar pemandangan yang mengerikan. Tapi kemudian tiba-tiba dia merasa bersalah, dia menyalahkan dirinya sebagai penyebab semua itu. Dia ingat, dia berjalan meninggalkan ruang tamu, meninggalkan para gadis itu yang tengah menatapnya, berjalan melintasi pembatas, melewati ruang kerjanya, dan mengunci diri di dalam ruang panik.

“Oh.. aku sudah merasa baikan..” Dara melihatnya dengan tak acuh kemuadian menunduk sembari sibuk menggulung-gulung ujung bajunya… “A-a-ak-ku..”

“DARA-UNNIE!” CL dan Minzy memanggilnya dari arah dapur.

“Kemarilah Dalong! Mereka berdua telah menyiapkan camilan.” Bom menyeretnya ke dapur.

“TADA!” CL menunjukkan padanya..

“Omo! Kue?! Kamu yang membuatnya?”

“Tentu saja…!!!”

“Tentu saja.. dia membelinya!” Minzy memotong perkataan CL.

“Yaah! Yah!”

“Itu benar kan, kamu membelinya.” Minzy berkata dengan tampang polos.

“Aisht.”

Dara berjalan kearah mereka dan memeluk keduanya.

“Terserah, kamu mau membuatnya sendiri atau membelinya, kamu tetap saja sudah membuat hariku menjadi lebih baik! Terima kasih, girls. Kalian benar-benar manis..” kata Dara berseri cerah membuat keduanya saling ber-high five satu sama lain.

“Yah, kalian bertiga cepatlah dan ayo makan! Aku kelaparan!” Bom berteriak sambil memposisikan dirinya di meja makan.

“Kami datang!” Minzy menanggapi dengan berceloteh.

“Hmmm… Ini semua untuk apa? Apa aku ketinggalan sesuatu disini?” Dara bertanya pada para gadis.

“Kue ini sebagai ucapan terima kasih! Karena gaun yang kamu buatkan untuk kami benar-benar menakjubkan.” Pekik CL.

“Jika saja kamu bisa datang dengan kami..” Minzy berkata dengan sedih.

“Ani.. Lebih baik aku disini.. Aku akan merasa lebih baik tinggal disini. Kamu tahu kan.. Para tamu dan semuanya. A-a-ak-ku.. Aku tidak bisa..”

Ketiga gadis itu saling melirik satu sama lain, memperhatikan Dara memijat pelipisnya seperti yang dilakukan saat mencoba meringankan sakit kepala.

“Hmmm Dalong.. Kamu yakin kamu tidak mau ikut dengan kamu ke rumah sakit untuk diperiksa?” Bom bertanya sambil meletakkan piring dan garpu di atas meja.

“Ya unnie. Kita harus membawamu untuk diperiksa. Mungkin saja kamu terluka di tempat lain.” Minzy kemudia memeriksa tubuh Dara, mencoba menemukan ada lebam yang tersembunyi, goresan, atau apapun.

“Aku baik-baik saja, girls. Lagipula, ini juga salahku.”

“TENTU SAJA BUKAN!!!” Ketiganya berdiri dan menggebrak meja.

“T-t-tapi aku hanya.. kamu tahu kan.. agak takut dengan penghuni baru lain lagi?” Dara berkata sambil memiringkan kepalanya.

“Yah! Para keparat itu yang salah, arasso???” Bom menunjuk ke arah luar dengan marah.

Minzy menarik Bom untuk kembali duduk. “Unnie… Tenanglah, neh? Itu hanya kesalahpahaman. Aku tahu mereka tidak bermaksud kasar. Kamu sudah mendengar apa yang Ssabunim katakan, kan?”

“Apakah bagimu mereka tidak terlihat kasar sama sekali???” CL bertanya pada Minzy.

“Orang yang tidak sadar itu pasti seorang pemabuk!” Dia melanjutkan.

“Yang paling tinggi itu menyebalkan!! Dia bahkan berani balik berteriak padaku! Benar-benar!” Bom menambahkan.

“Pria bernama Daesung itu lebih baik kurasa.. Dia tidak membalasku.. Kurasa dia pasrah sebagai kantong pukulan.” Minzy menyela sambil tertawa.

“Yah! Tidak bisa dipercaya, Mingkki!!! Apakah kamu berpihak pada mereka?” Bom membentak Minzy. Dara hanya bisa melihat ketiganya bertukar pendapat tentang para pemuda itu.

“Pria dengan pistol itu yang paling arogan diantara mereka! Aishhht.. Kalau aku jadi kamu, Bom-unnie, aku akan menendang bolanya.” Kata CL.

“Ooooooh, aku benar-benar marah sampai aku lupa! Lain kali, lain kali..” Bom berpikir sepenuhnya.

Kemudian kenyataan itu mengingatkan Dara.

Pria berpistol yang sombong dan arogan..

Suara itu..

Terdengar berwibawa..

Seolah berkuasa..

Ada sesuatu dengan pria itu. Caranya hingga membuat Daea gemetar ketakutan.

Dara menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran tersebut.

“Unnie, apakah kamu baik-baik saja?” Minzy bertanya pada Dara.

“Y-Y-Y-Y-ya.. hanya.. entahlah.. Mungkin saja kamu salah menilai mereka.. Mungkin juga kamu benar.”

Ketiganya mengangguk.

“Hmmmm… Tapi pria yang hanya memakai boxer itu. Menurutmu dia bagaimana?” Minzy bertanya, menoleh pada Bom dan CL.

“EPIK!!!”

==========

Markar Besar Seoul PD

BRAK!

Suara itu mengejutkan 5 pria yang babak belur – berbaris rapi di hadapan pengawas polisi, Tablo.

“KALIAN BODOH!!!”

Kelimanya menundukkan kepala, dengan tangan berada di belakang..

“MASUK TANPA IZIN..”

TOP dan Daesung menelan ludah dengan penuh kecanggungan.. Tablo berdiri, lalu berjalan mengitari meja kerjanya dan mendekat menuju mereka berlima.

“KEKERASAN..”

Jiyong memejamkan matanya erat, terlebih saat dia merasakan keberadaan Tablo tepat di depan mereka.

“TELANJANG DIDEPAN UMUM!!!”

Tablo beralih ke Yongbae, membuat yang terakhir ini turut memejamkan matanya erat.

“APA YANG ADA DALAM PIKIRAN KALIAN, HUH???” Kelimanya semakin menundukkan kepala karena rasa bersalah.

“MEREKA ADALAH LEE CHAERIN, MODEL TERKENAL! DAN GONG MINZY, PEWARIS TUNGGAL G-HOTEL & PROPERTIES! LALU.. LALU.. PARK BOM! APA KALIAN TIDAK MENGENALINYA? DIALAH ORANG DI BALIK KESUKSESAN PARK COUTURE! CUCU DARI PARK YOUNGJIN! DIREKTUR PARK MALLS & DEVELOPMENT CO!”

Kelima pria itu terkesiap dan tiba-tiba merasa takut. Bagaimana bisa mereka tidak mengenali orang-orang terkenal itu?

“Tapi gadis-gadis itu lebih terlihat seperti orang amazon! Tidak akan ada mengira mereka berasal dari keluarga terpandang!” TOP beralasan. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu yang lain ketika Tablo menatapnya tajam – menyuruhnya untuk diam. Buru-buru, dia pun menutup mulutnya dan memasang tampang poker face.

 

“Bagaimana dengan ahjumma mengerikan itu, hyung?” Daesung bertanya dengan penasaran.

“Dia adalah uhhh… Well. Hmmm.. Biar kulihat dulu..” Tablo mengambil file dari atas meja kerjanya dan membalik halaman… “.. aahhh.. Dia adalah…”

Jiyong mencoba untuk tetap menatap lantai sementara telinganya dia pasang sebaik mungkin. Entah kenapa, dia tidak bisa tidak merasa penasaran tentang gadis itu. Kenapa dia berdandan dengan dandanan yang sudah sangat ketinggalan zaman seperti itu? Apakah dia adalah pembantu dari salah satu gadis itu? Dan Jiyong tidak menyebutkan bahwa dia hampir berpikir jika gadis itu adalah… Jiyong langsung memejamkan matanya saat memorinya mengingat wajah gadis itu.

“Park Sandara! Dia juga seorang PARK!” katanya, hampir membanting file itu saat dia meletakkannya kembali di atas meja.

“KALIAN BENAR-BENAR TELAH MEMBUAT MASALAH BESAR KALI INI. KUKATAKAN PADA KALIAN!!!”

“Hyu…” Seungri mencoba untuk menjelaskan.

“DIAM!”

Secar otomatis, Jiyong memukul kepala Seungri. Dia menatapnya dan bergumam “Akan kubunuh kamu.”

“BERHENTI BERSIKAP SEPERTI ANAK KECIL! SERIUSLAH, AKU TIDAK TAHU APA YANG KALIAN BERLIMA LAKUKAN DI UNIT INI!”

“Ohh tolonglah hyung! Jangan beritahu paman Hyunsuk tahu tentang masalah ini!” tiba-tiba Jiyong berlutut di hadapan Tablo, memegang celananya erat.

“YAAAAH! BANGUN! YAH!” Jiyong merengut dan langsung bangkit sambil mencoba menghaluskan celana Tablo yang kusut akibat perbuatannya.

“Serius bro, apa kamu pikir hal ini akan lepas dari kemurkaan pamanmu itu?” Yongbae berkata dalam nada mengejek, yang lainnya hanya memberinya tatapan membunuh, mata mereka penuh ketakutan setelah diingatkan oleh perkataan Yongbae tentang nasib yang menanti mereka setelah ini.

“.. seperti kamu tidak khawatir dengan ayahmu saja..” Jiyong merengutkan bibirnya dalam kesal.

“CUKUP!!!”

Kelimanya langsung menegakkan badan.

“APA YANG HARUS KULAKUKAN PADA IDIOT SEPERTI KALIAN???!!! POSISIKU, KEBANGGAANKU, SEMUA KERJA KERAS YANG TELAH KULAKUKAN SIA-SIA SAJA KARENA KALIAN SELALU MEMBUAT MASALAH SEPERTI SEKARANG!”

“Maaf hyung.. Ini akan menjadi yang terakhir. Kalau bukan karena maknae, hal ini tidak akan pernah terjadi. Kami hanya merasa cemas padanya.” TOP berkata menyela.

“.. TENTU SAJA INI AKAN MENJADI YANG TERAKHIR!”

Kelimanya sudah seperti…

“EHHHHHHH???”

“Pikirkanlah.. Apa yang sebenarnya kalian inginkan untuk hidup kalian? Karena apa yang aku lihat, kalian melakukan pekerjaan ini hanya dengan setengah hati.”

“Hyung, jangan lakukan hal ini..” Daesung memohon..

“DUA MINGGU….”

Mereka menatap Tablo dengan sungguh-sunggug, menantikan kalimat selanjutnya yang akan dia katakan yang sebenarnya sudah bisa mereka tebak.

“KALIAN BERLIMA DISKORS SELAMA DUA MINGGU! DAN AKU TIDAK PEDULI DENGAN APA YANG AKAN AYAH ATAU PAMAN ATAUPUN WALI KALIAN KATAKAN! KALIAN PAHAM?!”

“Hyuuuuuuuuuuuuung!” mereka serentak menjerit dan langsung berlutut di hadapan Tablo.

“HENTIKAN ITU IDIOT! LEPASKAN AKU! YAAAAAAAAH!”

“HYUUUUUUUUUUUNG!”

“KALIAN PILIH MENJALANI SKORS ITU ATAU KUTURUNKAN PANGKAT KALIAN?!” Tablo berjalan keluar ruangan, dengan membanting pintu.

==========

“Terima kasih banyak nona Kiko Mizuhara atas kerja samanya dengan kami. Anggap saja rumah sendiri, anggap saja rumah sendiri!” Park Youngjin tertawa penuh kemenangan sambil memegang gelas champagne-nya.

Malam ini keluarga Park memperkenalkan pendukung baru mereka, menambah daftar panjang top model yang dipayungi oleh industri fesyen milik keluarga Park, dan kali ini, tidak lain dan tidak bukan adalah model asal Jepang Kiko Mizuhara.

“Itu adalah suatu kehormatan bagi saya, tuan.” Kiko tersenyum manis pada orang tua itu.

“Berhentilah memanggilku tuan.. Panggil saja harabeoji, oke? Kita semua adalah keluarga disini.” Kiko hanya bisa menundukkan kepala sambil tersenyum.

“Oh, mereka sudah datang!”

Semua kepala beralih untuk melihat gadis-gadis yang paling diinginkan di Seoul – yang berjalan memasuki tempat acara.

“Harabeoji!” Bom berseru pada kakeknya lalu kemudian mencium pipinya. CL dan Minzy mengikutinya kemudian.

“Kami benar-benar meminta maaf sudah datang terlambat, harabeoji.” Kata Minzy sambil membungkukkan badan.

“Aku bertaruh aku tahu apa yang menghambat kalian… Pasti kalian mencoba untuk membujuk teman kalian itu untuk datang kemari lagi kan?” orang tua itu berkata secara sarkastis menatap Minzy dan CL. Kedua gadis itu hanya bisa saling pandang satu sama lain.

“Jangan cemas. Katakan padanya kehadirannya tidak dibutuhkan disini.”

“Harabeoji!!!” Bom memperingatkan kakeknya. “Kami tahu kami datang terlambat dan kurasa kami sudah melewatkan bagian terpenting, tapi kami tidak keberatan untuk segera pergi dari tempat ini jika harabeoji tidak berhenti bicara seperti itu tentangnya!”

“Bom-unnie…” CL mencoba untuk mengirimi pesan melalui matanya tapi Bom enggan untuk melihat kearahnya.

Kiko hanya berdiri diam disana menyaksikan – tidak tahu dengan apa yang mereka bicarakan.

‘Sepertinya menarik,’ pikirnya. Keberadaannya di Seoul sepertinya tidak terdengar buruk sama sekali.

 …………………………………………………………………….

~TBC~

Traslator :

*nyurut tissu* makasih silentapahty unnie~ buat dukungannya… #terharu

<<back   next>>

Advertisements

48 thoughts on “Ahjumma Next Door [Chapter 3] : Heiresses or Amazons?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s