[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 07

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: RIVAL(?)



Untuk terakhir kalinya,Sandara mematut dirinya di cermin. Jeans panjang yang dipadu dengan blus berwarna biru cerah berbahan katun. Rambutnya diikat ekor kuda, telinga polos tanpa gantungan anting. Dengan bedak tipis melapisi wajah dan sedikit polesan lipbalm. Merasa penampilannya sudah rapi, Sandara meninggalkan kamar setelah meraih tas selempang kecilnya dari atas tempat tidur.

Hari ini Jiyong mengajaknya pergi untuk melihat bunga sakura di kawasan Yeuoido, pulau kecil di tengah-tengah Sungai Han yang membelah Seoul, pusat bisnis berubah menjadi tempat paling romantis sepanjang musim semi.

“Appa… Unnie… aku pergi!” seru Sandara melangkah keluar rumah.

“Arrasso, jangan pulang kemalaman!” Dayoung balas berteriak dari dalam kamarnya.

“Hati-hati, Sayang,” balas appanya dari sofa depan tv.

Setelah mengenakan sepatu, Sandara membuka pintu dan terkejut melihat Jiyong sudah berdiri di balik pagar, menantinya, tersenyum melihatnya.

“Omo! Oppa kenapa menjemputku di rumah, bukankah kita sudah sepakat akan bertemu di Stasiun Yeuoido?” Sandara tersenyum dan segera berlari kecil menyeberangi jarak pendek yang memisahkan mereka. Tersisip rasa gugup melihat Jiyong dalam pakaian kasual.

Jiyong hanya menjawab dengan senyuman dan mengangkat bahu. Saat itulah baru Sandara menyadari kedua tangan Jiyong tersembunyi di balik badannya.

“Yah, itu kenapa tangan disembunyikan seperti itu? Jangan bilang Oppa bawa bunga! Andwe!” Sandara menebak, bergidik membayangkan dirinya akan dapat bunga. Bunga-bungaan disukai ulat, Sandara tidak suka dengan ulat, jadi Sandara tidak menyukai bunga.

Jiyong tertawa mendengar tebakan Sandara.

“Ani,” dia menggelengkan kepala, masih dengan tawa, “makanya jangan sok tahu…”

Jiyong menunjukkan apa yang disembunyikannya di balik punggung, sebuah tas kertas berukuran cukup besar, lalu menyerahkannya kepada Sandara.

Kening Sandara berkerut, namun tetap diterimanya. Teriakannya langsung pecah begitu melihat apa yang ada di salam tas. Satu set novel seri Immortal Yu Sun-sin, lengkap kedelapan volumenya.

“Omo, omo, omo!” mata Sandara membelalak tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya. Sudah beberapa bulan dia mencari seri novel ini, namun hampir semua toko buku yang didatanginya mengatakan bahwa stok habis dan belum ada kiriman lagi dari penerbit. Dari mana Jiyong tahu dia menginginkan ini?

“Dari mana Oppa tahu aku mencari novel ini?” tanyanya antusias, mata masih berbinar senang.

Jiyong hanya mengangkat bahu, tapi tidak menjawab. Sandara mencoba mengingat-ingat, pernahkah dia menyebutkan tentang misi pencariannya kepada Jiyong? Rasanya tidak…

“Akan kuganti,” kata Sandara,

“Sandara…” Jiyong menyipitkan matanya.

“Wae? Aku tahu total untuk kedelapan novel ini sekitar seratus lima puluh ribu won. Jadi akan kuganti,”

“Sandara…”

“Ah… wae?”

Jiyong menatapnya tajam, masih dengan mata menyipit. “Aisht, arrasso… arrasso…” Sandara mendengus kesal, tapi hanya sesaat, “aku akan mencari cara lain untuk menggantinya,” gumamannya masih dapat didengar Jiyong.

“Sana bawa masuk dulu, lalu kita segera pergi sebelum hari makin siang,” ujar Jiyong.

Sandara mengangguk patuh dan melakukan seperti yang diperintahkan. Baru saja dia menutup pintu pagar rumahnya setelah menyimpan pemberian Jiyong, seseorang berjalan menedekat ke arah mereka.

**

Rohye menatap dua orang yang berdiri menunggunya. Ada satu tendangan imajiner pelan yang di rasakan dalam perutnya, tidak nyaman, membuatnya merasa mual. Dia segera menata ekspresi wajahnya agar tidak berkhianat. Kedua tangannya sibuk membawa dua tas tentengan, satu akan kembali dibawanya pulang ke rumah.

“Annyeong,” sapanya, berusaha terdengar riang.

“Annyeong,” dia mendapat dua balasan kompak berbarengan.

Dia menunjukkan tas yang ada di tangan kanannya, “Tugas dari Ibu Negara,” alasannya.

“Apa itu?” tanya Sandara, kedua alis terangkat.

“Mama masak dan karena itu adalah kejadian langka, jadi kurir untuk mengantarkan ke mari,” dia mengangsurkan tas di tangannya kepada Sandara.

“Wah, terima kasih,” Sandara menerima tas dari tangan Rohye.

“Harusnya ini tugas Rui-neesan, tapi mendadak Rui-neesan mendapat panggilan darurat dari rumah sakit,” mendengar keterangan ini kedua alis Sandara bertautan dan keningnya berkerut. Dia langsung memandang Jiyong dengan tatapan bertanya, tapi hanya mendapat balasan gelengan kepala, dia kembali menatap Rohye.

“Kau tidak tahu kalau Rui-neesan dan Dayoung Nuna…?”

Sandara menggelengkan kepalanya pelan.

“Nah, sekarang kau sudah tahu,” Rohye mengangkat bahu, cuek. “Kalau begitu, aku pergi dulu,”

“Kau tidak mau masuk dulu? Bertemu dengan Appa dan Dayoung Unnie…”

“Lain kali saja,” tolaknya sambil menunjukkan tas di tangan kirinya, seolah mengindikasikan bahwa dia masih ada urusan.

Sandara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh, baiklah. Sampaikan terima kasih kami kepada mamamu,” katanya, “hati-hati,”

Rohye membalikkan badan setelah menganggukkan kepala kepada Jiyong yang juga membalasnya dengan anggukan. Dalam langkahnya, matanya melirik ke dalam tas di tangannya, kedelapan seri novel Immortal Yu Sun-sin dan beberapa seri Conan yang belum Sandara miliki. Dalam hati, dia berjanji untuk tetap menyimpannya.



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

14 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 07

  1. Untung Jiyong udah duluan kasi komiknya kalo nggak kan ntar keduluan sama Rohye itu. Kan ternyata Rohye juga berusaha ngambil hatinya dara. Jiyong siapkan dirimu!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s