Gonna Get Better [Chap. 8]

untitled-1

Author : rmbintang

Category : Romance

Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

.

.

.

Jiyong mengambil anggur merah yang di simpan pada ember khusus yang berisi es kemudian membukanya dengan sangat hati-hati. Dia lalu menuangkan anggur merah itu pada gelasnya dengan perlahan. Dia menaruh kembali botol anggur itu ke tempatnya semula lalu mengambil gelas yang telah terisi kemudian memutar gelas itu secara perlahan, setelah beberapa detik Jiyong lalu menyesap anggur itu.

“Rasanya sangat pas.” Ujar Jiyong setelah menyecap anggur itu. “Kau pasti menyukainya.” Ujar Jiyong lagi sambil menyimpan kembali gelas itu di atas meja.

Pria itu lalu mengambil garpu juga pisau steak dan mulai mengiris steak rare yang berada di hadapannya. Jiyong mengambil satu potongan kecil dengan garpu kemudian memasukannya ke dalam mulut. Dia berkonsentrasi untuk merasakan rasa hidangan itu kemudian tersenyum setelah beberapa saat. “Bahkan tekstur steak ini juga sangat sempurna. Kau pasti akan menyukainya juga.” Ucapnya lagi sambil kembali memotong steak lalu memasukannya ke dalam mulut.

“Tempat ini sangat sempurna, wine dan steaknya juga sangat sempurna. Sesempurna dirimu.” Katanya lagi kini sambil kembali menuangkan wine pada gelasnya kemudian menyesap anggur dalam gelas itu.

Jiyong meminum anggur itu dengan sangat perlahan sambil menatap ke depan, menatap kursi kosong yang seharusnya menjadi tempat Dara duduk saat ini namun wanita itu tidak datang karena melupakan janjinya dengan Jiyong.

“Aku sengaja memesan makanan kesukaanmu, juga anggur yang selalu kau pesan saat kita minum bersama ketika kau sedang butuh seseorang untuk berbicara.” Ucapnya lagi sambil menyimpan gelas itu lagi. “Apa pria itu tahu semua yang kau sukai? Apa pria itu memesankan hidangan ini juga untukmu?” Tanyanya pada kursi kosong itu kemudian diam sebentar. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang huh?” Tanya Jiyong masih sambil menatap kursi kosong itu. “Apa kau sedang tertawa dan tersenyum saat ini?” Tanyanya lagi. “Apa kau sedang memikirkan aku? Atau kau sama sekali tidak peduli kepadaku? Kau tidak peduli bahkan setelah meninggalkanku dan memilih pergi dengan pria itu?” Cerocosnya dengan suara yang syarat dengan luka. “Apa yang telah dia lakukan sehingga kau jatuh cinta kepadanya Dara? Apa kurangnya aku bagimu? Apa yang selama ini aku lakukan untukmu belum cukup? Apa lagi yang harus aku lakukan sehingga kau bisa melihatku? Apa yang harus aku lakukan sehingga kau bisa membuka hatimu untukku?” Tanyanya kini dengan suara sedikit keras yang membuat pengunjung lain langsung melihat kearah mejanya. Jiyong dapat mendengar pengunjung lain berbisik-bisik. Jiyong mampu mendengar pengunjung lain menganggap bahwa Jiyong adalah orang gila karena dia berbicara sendirian tapi dia tidak peduli dan terus menatap kursi itu dengan berbagai macam perasaan yang bergejolak di hatinya. Jiyong tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan karena setidaknya Jiyong telah meneriakan apa yang ada di pikirannya saat ini, walaupun bukan pada seseorang yang seharusnya mendengarkan apa yang ingin Jiyong suarakan padanya.

“Permisi tuan. Apa ada masalah di sini?” Jiyong langsung mengalihkan pandangannya ketika dia mendengar suara pelayan yang mendekat kearah mejanya.

Anni.” Jawabnya sambil menggelengkan kepala.

“Oh, tapi kena,-”

“Apa kau kemari karena aku berbicara sendiri?” Potong Jiyong ketika melihat ekspresi pelayan tersebut.

“Maafkan saya tapi pengunjung lain sedikit terganggu.” Ujar pelayan itu sambil membungkukan badannya untuk memohon maaf kepada Jiyong.

“Kau pasti menganggapku orang gila.” Ujar Jiyong lagi sambil sedikit berdecak. “Aku tidak gila. Aku hanya sedang berlatih. Besok aku ada casting untuk sebuah drama dan tadi aku sedang berlatih dialogku.” Ujarnya lagi yang dibalas anggukan mengerti oleh pelayan itu.

“Oh jadi seperti itu.” Ujar pelayan itu sambil tersenyum malu. “Kalau begitu saya minta maaf. Saya akan memberitahu pengunjung lain.” Kata pelayan itu lagi sambil kembali membungkukan badannya. Jiyong menggeleng lalu berdiri yang membuat pelayan cantik itu menatap Jiyong.

“Tidak perlu melakukannya lagipula aku sudah akan pergi.” Ujar Jiyong kini sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan itu. “Ambil saja kembaliannya untukmu.” Katanya sebelum berjalan meninggalkan pelayan itu.

Ne khamsahamida. Semoga berhasil untuk casting anda.” Jiyong yang masih berjalan mampu mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan itu.

“Lihatlah Dara bahkan malam ini orang-orang menganggapku gila karena dirimu.” Ujarnya pelan masih sambil berjalan. “Aku memang sudah gila karena dirimu tapi kau sama sekali tidak tahu itu.” Gumam Jiyong ketika dia keluar dari dalam bistro yang sudah dia reservasi khusus untuk kencannya dengan Dara hari ini. Kencan yang bahkan tidak Dara ingat.

Jiyong mendongkakan kepalanya saat dia telah berada di luar bistro itu, dia memandangi langit yang saat ini tengah dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelip indah. Dia menyunggingkan sedikit senyuman saat melihat keindahan yang ditawarkan langit saat ini. Dara sangat menyukai bintang.

“Jika kau ada di sini aku yakin malam ini akan menjadi malam paling sempurna bagiku. Sesempurna langit malam ini.”

Dara Pov

Saat aku melihat matanya dan saat dia mencium bibirku saat itulah aku percaya bahwa dia adalah bagian diriku yang hilang. Bertemu dengannya merupakan terapi bagiku, bukan hanya karena dia adalah dokter-ku tapi karena setiap bertemu dengannya aku selalu punya alasan untuk tersenyum lagi.

Dia membuatku kembali jatuh cinta dan entah mengapa saat bersama dengannya aku selalu merasa dicintai walaupun dia sama sekali tidak pernah mengatakan hal itu. Dia membuatku percaya bahwa dia tidak akan meninggalkanku, dia membuatku kembali percaya bahwa pada akhirnya aku pasti akan bahagia, tapi ternyata aku salah.

Tanpa pertanda dan peringatan tiba-tiba saja aku merasa ada yang salah, aku merasa sesaat lagi aku akan kembali ditinggalkan, ditinggalkan oleh orang yang aku cintai, oleh orang yang aku kira juga mencintaiku, oleh orang yang selama ini menumbuhkan perasaan cinta kepadaku. Dan aku yakin malam ini adalah harinya, hari di mana aku akan kembali kehilangan.

Pandanganku aku fokuskan pada pemandangan di hadapan kami.  Dia berdiri di sampingku sambil memegang gelas berisi brandy. Aku dan dia sedang berada di sebuah bar yang berada di atap sebuah hotel, kami kemari setelah sebelumnya dia mengajakku untuk makan malam. Tidak terlalu banyak yang kami bicarakan saat itu, dia juga belum mengatakan bahwa sesungguhnya dia sudah melamar Chaerin padahal aku yakin bahwa dia mengajakku bertemu malam ini adalah untuk memberitahuku tentang hal itu. Aku mendongkak untuk menatap langit yang malam dipenuhi bintang-bintang yang sangat indah. Malam ini akan sangat sempurna jika Soohyuk dan aku datang ke sini untuk berkencan, bukan untuk mengatakan perpisahan.

Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat beberapa pasangan yang sedang berdiri sambil berbicara satu sama lain, ada juga yang sedang duduk sambil meminum bir dan minuman beralkohol lainnya. Aku mengalihkan pandanganku pada panggung  yang berada di salah satu sudut bar ini. Sekarang band sedang menampilkan live music akustik dan saat ini aku sedang termenung ketika sadar lagu yang sedang mereka nyanyikan.

I don’t need your honesty

It’s already in your eyes

And I’m sure my eyes they speak for me

No one knows me like you do

And since you’re the only one that mattered

Tell me who do I run to

-“All I Ask”, Adelle

Aku langsung berbalik lalu kembali menatap pada pemandangan kota di hadapanku. Aku muak mendengar lagu itu, lagu yang seolah diciptakan untuk melengkapi kekalahanku dari pertarungan yang bahkan belum sempat aku mulai.

Aku sedikit melirik pada Soohyuk yang masih diam sambil memandang pemandangan di hadapan kami. Hembusan angin malam membuat harum Bvlgari Extreme menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku, harum parfum yang akan selalu mengingatkanku padanya, pada sentuhan bibir kami malam itu. Aku menghela napas panjang sebelum kembali pada posisiku tadi.

I miss you.” Ujarku pelan tanpa menatapnya. Aku tidak tahu kenapa aku berani mengatakan hal ini, mungkin karena minuman beralkohol yang aku minum kini sudah mulai mempengaruhi pikiran warasku atau mungkin karena aku tahu bahwa tidak ada pilihan untuk menghindari rindu yang menyakitkan ini kecuali melupakannya tapi saat ini aku tidak bisa melakukan hal itu.

I miss you too.”  Aku bisa merasakan bahwa kini dia sedang menatapku dengan intens. “Mianhae, aku tidak pernah bermaksud untuk melukaimu.”

“Tapi kau telah melakukannya.” Ujarku pelan sebelum kembali menyesap minuman yang aku pegang.

I know and i’m so sorry.” Ujarnya dengan suara hampir memohon. “The thing is, i love her.” Aku menutup mataku, mencoba berjuang untuk menahan air mata yang mengancam ingin keluar. Ini pertama kalinya aku mendengar dia mengatakan tiga kata itu langsung kepadaku dan mendengarnya langsung darinya membuatku ingin berteriak.

“Lalu bagaimana denganku?” Ucapku setelah berhasil menguasai diri. Aku berbicara sambil menatapnya, mencoba mencari ketulusan yang selama ini selalu dia pancarkan dari kedua bola matanya. “Apa arti ciuman itu bagimu? Apa kau sudah melupakan itu?” Tanyaku lagi dengan tatapan yang tidak pernah lepas darinya.

Aku tidak tahu bahwa aku akan membicarakan tentang ini dengan Soohyuk. Aku hanya tidak bisa begitu saja melupakan apa yang telah terjadi antara aku dan dirinya. Mungkin Soohyuk merasa bahwa ciuman itu adalah hal yang tidak ada artinya bagi dirinya tapi tidak bagiku dan yang terpenting adalah bagaimana perasaanku setelah ciuman itu terjadi.

“Apa kau melakukan itu tanpa berpikir tentang perasaanku?” Tanyaku lagi kini dengan suara sedikit tercekat.

“Dara itu terjadi begitu saja.” Ujar Soohyuk. “Itu kesalahanku dan bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa aku bisa menciummu.”

“Kesalahan? Apa aku ini kesalahan bagimu?”

Anni Dara bukan itu maksudku.” Aku melihatnya menggelengkan kepalanya dengan sedikit kuat. “Kau tahu apa artinya kau di hidupku. Kau temanku Dara, teman berharga bagiku, seseorang yang juga berharga bagi Chaerin, wanita yang aku cintai.” Tanpa terasa air mata jatuh begitu saja di kedua pipiku. Tatapan Soohyuk berubah penuh kekhawatiran ketika aku terus menatapnya. “Don’t cry Dara, never cry!” Ucapnya lembut sambil menghapus air mataku dengan kedua jempol tangannya.

“Kenapa semua orang selalu meninggalkanku?” Tanyaku dengan bibir bergetar, aku tidak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang selama ini aku tanggung. “Kenapa kebahagian enggan untuk datang kepadaku? Apa aku tidak pantas untuk bahagia seperti orang lain? seperti Chaerin?” Soohyuk langsung menarik tanganku lalu membawaku dalam pelukannya.

Mian mian Dara. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu bersamamu, aku dan Chaerin tidak akan pernah meninggalkanmu.” Air mataku terus jatuh saat aku merasakan tangannya mengusap punggungku dengan lembut. Aku mengangkat kedua tanganku lalu melingkarkan pada tubuh Soohyuk, aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya walau hanya untuk sedetik saja.

“Kenapa bukan aku yang kau cintai?” Gumamku pelan masih dengan air mata yang enggan berhenti mengalir.

This isn’t right Dara.” Aku merasakan dia melepaskan tangannya dari tubuhku lalu melepaskan tanganku dari tubuhnya dan langsung memegang wajahku sehingga aku bisa sepenuhnya menatapnya.

I know.” Jawabku ketika kembali menatap matanya. “But I love you.”

No. You don’t love me.” Ujar Soohyuk kini sambil memegang kedua bahuku sehingga bisa menatap lurus pada kedua mataku. “Kau hanya bingung dengan perasaanmu Dara, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Kau mencintai orang lain. ” Aku menggelengkan kepalaku untuk membantah apa yang dia katakan.

“Aku mencintaimu, kau hanya mengatakan itu untuk membuatku lebih baik.” Soohyuk kembali menggelengkan kepalanya.

Listen to me.” Ujarnya tegas. “Aku tahu siapa yang kau cintai dan itu bukan aku.”

“Bagaimana kau bisa yakin bahwa itu bukan kau padahal aku sendiri yakin bahwa orang yang aku cintai dan aku inginkan adalah dirimu?”

“Kau lupa bahwa aku tahu semua hal tentangmu?” Tanyanya. “Aku mengetahui apapun tentangmu bahkan semua hal yang kau sendiri tidak ketahui Dara.” Katanya dengan tatapan serius.

“Apa maksudmu?”

“Alam bawah sadarmu yang memberitahuku.” Ujar Soohyuk kemudian diam selama beberapa detik. “Maafkan aku tapi aku pernah menanyakan hal itu saat kita sedang melakuan sesi terapi. Kita berbicara tentang perasaanmu saat kau berada dalam pengaruh hipnotis. Kau mengatakan kepadaku bahwa ciuman itu memberikan dampak besar pada hubungan kita dan aku merasa bersalah ketika aku mendengarnya. Aku minta maaf karena melakukan hal itu tanpa meminta izin darimu terlebih dahulu.” Ujarnya yang membuatku mengerutkan kening.

“Jadi kau sudah tahu bahwa aku menyukaimu sejak lama dan kau selama ini pura-pura tidak mengetahuinya?” Tanyaku dengan suara tercekat. “How could you do this to me?” Seruku lagi dengan suara yang syarat penuh dengan luka. Bagaimana bisa dia berpura-pura tidak tahu apa-apa selama ini? Dia pasti menganggap aku sangat menyedihkan dan bodoh.

“Aku minta maaf untuk itu Dara. Hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku tidak ingin melukaimu.” Ujarnya dengan nada penuh penyesalan. Aku membuang muka darinya lalu menghapus air mata yang dari tadi tidak ingin berhenti. “Tapi ada hal yang lebih penting yang kau beritahukan kepadaku saat itu. Kau memberitahuku tentang seseorang. Seseorang yang lebih berharga bagimu daripada aku dan orang lain.” Ujarnya lagi setelah kami diam selama beberapa saat. “Seseorang yang sangat penting bagimu.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Aku menggelengkan kepala karena benar-benar tidak paham kemudian kembali menatapnya.

“Kau menceritakan tentang seorang pria kepadaku Dara. Kau bilang hanya dia yang selalu membuatmu tertawa, hanya dia yang peduli kepadamu, hanya orang itu yang selalu menjadi orang pertama yang kau pikirkan saat kau sedang resah.” Ujarnya dengan serius. “Bukankah itu artinya bahwa kau telah jatuh cinta kepada orang itu?”

“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?”

“Aku tidak sedang berbicara omong kosong.” Sergahnya sambil kembali menatapku. “Kau mencintai orang itu.” Aku menggeleng lagi.

“Kau mengatakan ini untuk menghindari perasaanku, kan? Bilang saja jika kau tidak mencintaiku! Jangan mengatakan hal yang tidak ada gunanya.”

“Dara aku serius. Aku tidak berbohong.” Ujarnya. “Apa kau melihat kebohongan dari mataku huh?” Tanyanya sambil menatap langsung pada bola mataku. Aku mencari kebohongan dari matanya tapi aku tidak menemukan apapun. Aku hanya menemukan ketulusan yang sama yang selalu dia berikan saat dia menatapku. “Kini kau percaya kepadaku?” Tanyanya lagi namun aku menggeleng lagi.

“Aku tidak mencintai orang lain.” Ujarku sambil menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku sedih dan bingung dengan apa yang dia katakan. Aku menghindari tatapannya lalu mulai berjalan menjauh darinya.

“Dara!” Aku mendengar dia memanggil namaku namun aku tidak peduli dan terus berjalan dengan sedikit sempoyongan. Alkohol yang aku minum sudah benar-benar menguasai diriku. Aku akan mencapai pintu ke luar ketika aku merasakan pergelangan tanganku ditahan oleh seseorang. “Biarkan aku mengantarmu! Kondisimu sedang tidak baik.” Aku kembali mendengar suara Soohyuk namun aku menghempaskan tangannya dari pergelangan tanganku.

“Tinggalkan aku jika kau tidak bisa membalas perasaanku.” Ujarku kini sambil menatapnya dengan mata yang masih basah karena air mataku belum mengering.

“Dara!” Dia akan kembali memegang tanganku tapi aku langsung menahannya.

Don’t touch me!” Jeritku sambil mengangkat kedua tanganku mencoba untuk menahannya. Dia menatapku dengan sedikit khawatir. Aku kembali mulai berjalan meninggalkan Soohyuk tapi kali ini dia tidak mengikutiku.

Setelah masuk ke dalam lift aku langsung merogoh tas milikku lalu langsung menekan angka 2 pada layar ponsel untuk melakukan speed dial. Aku menunggu selama beberapa saat namun panggilanku langsung tersambung pada voice mail.

“Jiyong-ah aku membutuhkanmu. Please help me!” Ujarku dengan suara bergetar dan air mata yang kembali turun di pipiku. Kakiku mulai lemas dan aku tidak kuat lagi menahan semuanya jadi aku menjatuhkan tubuhku lalu kembali menangis. Aku berharap lift ini tidak akan terbuka sehingga aku bisa menangis sendirian, karena menangis benar-benar yang aku butuhkan saat ini.

****

“Dara, Dara..” Dara merasakan tubuhnya sedang diguncang oleh seseorang, dari suaranya dia tahu bahwa yang sedang membangunkannya adalan Bom. Dara perlahan membuka matanya lalu duduk tegak di atas tempat tidur, dia lalu mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk. Dia langsung memegang kepalanya ketika merasakan rasa pening di yang langsung menyerangnya.

“Kenapa aku di sini?” Tanya Dara dengan wajah setengah bingung ketika dia melihat Bom yang sekarang sedang berkacak pinggang di hadapannya.

“Kau tidak berubah. Kau selalu melupakan apa yang telah terjadi setiap kali kau bangun sehabis mabuk.” Ujar Bom sambil memutar bola matanya.

“Aku mabuk?” Tanya Dara sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Apa aku harus memberitahumu lagi huh?” Ujar Bom kini sambil berdecak. Dia menyilangkan tangannya di depan dada sambil memperhatikan penampilan Dara yang sangat tidak karuan. Rambut wanita itu kini sudah seperti rambut singa yang tidak di sisir selama berbulan-bulan. Wajahnya bahkan memiliki tanda hitam memanjang yang dihasilkan oleh eye liner yang meluntur akibat tangisnya tadi malam.

“Kenapa kau memandangku seperti itu huh?” Tanya Dara sambil memicingkan matanya pada Bom yang masih melihat penampilan Dara saat ini.

“Lihatlah dirimu di cermin.” Ujar Bom sebelum dia berbalik lalu berjalan ke luar dari dalam kamar miliknya.

“Arggghhhh! Siapa kau?” Bom hanya memutar bola matanya ketika dia mendengar suara jeritan Dara. Bom yakin bahwa Dara pasti tidak mengenali penampilannya sendiri.

“Dia sudah bangun?” Bom langsung mengalihkan pandangannya pada Jiyong yang kini sedang membuat sandwich di dapur miliknya. Bom mengangguk lalu berjalan mendekati Jiyong.

“Makanannya sudah siap?” Tanya Bom ketika melihat beberapa sandwich yang sudah jadi di piring. “Apa kau membuatkan untukku juga?” Tanya Bom kini sambil menaikan pandangannya lalu menatap Jiyong yang pria itu balas dengan anggukan.

“Tentu saja aku membuatkannya untukmu sebagai tanda terimakasih karena kau telah membiarkan aku tidur di sini.” Ujar Jiyong sambil menaruh sandwich terakhir pada piring. “Aku sudah selesai jadi aku akan pulang.” Ujar Jiyong sambil mengambil tissue lalu mengelap tangannya.

“Kenapa kau pulang? Bukannya kau menunggu Dara bangun makanya kau tidur di sini?” Jiyong menggeleng kemudian sedikit tersenyum.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.” Ujarnya sambil berjalan lalu mengambil mantelnya yang ditaruh sandaran sofa. “Pastikan Dara meminum obat pereda mabuk itu.” Ujar Jiyong yang sedang memakai mantelnya.

“Jiyong apakah kau baik-baik saja?” Tanya Bom tidak terlalu mendengarkan apa yang Jiyong katakan tadi. Saat ini dia hanya bingung dengan sikap Jiyong yang tidak seperti biasanya, dia tersenyum namun senyumannya tidak seperti biasa.

Yes? No?” Tanya Jiyong lebih pada dirinya sendiri. “I don’t know.” Ujarnya pelan sambil mengedikan bahunya kemudian berjalan menuju pintu keluar lalu membuka pintu dan keluar dari dalam apartemen Bom.

Bom kembali mengerutkan keningnya. Dia tahu bahwa ada yang terjadi diantara Jiyong dan Dara tadi malam yang membuat Jiyong bersikap seperti itu, sesuatu yang sepertinya melukai Jiyong.

“Bommie kenapa bajumu tidak ada yang pas denganku?” Bom langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara yang baru saja keluar dari dalam kamar miliknya. “Aku terlihat seperti orang-orangan sawah dengan bajumu ini.”

“Salahmu sendiri karena memiliki bentuk tubuh yang krempeng seperti itu.” Ujar Bom yang kini sedang menatap Dara. Rambutnya kini sudah kembali rapi dan wajahnya sudah bersih seperti semula.

“Ini bentuk tubuh ideal bukannya krempeng.” Ujar Dara dengan sedikit mendengus lalu tiba-tiba memegang perutnya yang rata ketika dia mendengar suara yang berasal dari perutnya. “Aku lapar.”

“Di sana ada sandwich.” Ujar Bom sambil menunjuk meja dapur dengan dagunya. Dara tersenyum senang sambil berjalan ke arah dapur. Matanya langsung berbinar ketika dia melihat beberapa sandwich yang berada di atas piring. Dara mengambil satu kemudian langsung menggigitnya, ketika sedang mengunyah dia langsung menyadari rasa familiar di lidahnya.

“Apa Jiyong tadi di sini?” Tanya Dara kini sambil melihat Bom yang sedang berjalan ke arahnya. “Ini buatannya, kan?” Tanya Dara sambil menaikan sandwich yang baru dia gigit.  Bom menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Dara.

“Dia baru saja pulang.” Tambahnya.

“Kenapa dia kemari?”

“Kau tidak ingat? Jiyong yang membawamu ke apartemenku.”

“Jiyong yang membawaku kemari?” Tanya Dara mengulang apa yang Bom katakan. Bom mengangguk.

“Memangnya siapa lagi jika bukan dia? Kau tidak mungkin berhasil datang kemari jika bukan dia yang mengantarmu, dia bahkan tidur di sini untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja.” Ujar Bom lagi. Dara terdiam dan terlihat sedang kebingungan dan hal itu tidak luput dari pandangan Bom. “Dara? Apa sesuatu telah terjadi pada kalian tadi malam?”

“Huh apa maksudmu?” Ujar Dara dengan sedikit bingung.

“Bukannya tadi malam kau dan Jiyong makan malam bersama?” Tanya Bom lagi yang Dara balas dengan gelengan kepala.

“Aku tidak bersamanya tadi malam. Aku makan malam bersama Soohyuk.”

“Oh.” Ujar Bom sambil manggut-manggut. “I see.”

“Ada apa dengan ekpresimu itu?” Bom menggelengkan kepalanya sambil mengedikan bahu lalu mengambil gelas kemudian menuangkan air putih. “Bommie apa Jiyong mengatakan sesuatu kepadamu?” Tanya Dara dengan hati-hati setelah Bom meminum minumannya.

Anni, Jiyong tidak mengatakan apapun.” Ujar Bom dengan menatap penuh pada Dara. “Tapi sepertinya Jiyong sedang terluka, mungkin karena dia tahu bahwa wanita yang dia sukai ternyata menyukai pria lain.” Ujar Bom lagi masih dengan menatap penuh pada Dara. “Hubungilah dia Dara! Sepertinya hanya kau yang bisa membuatnya lebih baik karena kau adalah sahabat terbaiknya.” Ujar Bom yang membuat Dara sedikit menggigit bibirnya karena dia sadar bahwa apa yang Bom katakan mungkin saja benar.

Dia satu-satunya orang yang bisa membuat Jiyong lebih baik karena disaat yang sama dia juga yang membuat Jiyong terlukai. Dara bahkan tidak menghubungi Jiyong setelah dia meninggalkannya di rumahnya dan memilih pergi dengan Soohyuk. Dara sedikit berpikir bahwa dia pasti tidak akan menangis jika saja dia lebih memilih pergi dengan Jiyong, setidaknya dia tahu bahwa Jiyong pasti akan membuatnya tersenyum.

Dara berjalan pelan kearah ruang tengah apartemen Bom lalu mengambil tas miliknya yang disimpan di atas meja. Dara lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Jiyong namun panggilannya tidak diangkat. Dara mencoba menghubungi lagi nomor Jiyong selama beberapa kali namun Jiyong masih tidak mengangkatnya.

Karena tidak mendapat jawaban Dara akhirnya menaruh ponselnya di atas meja. Dia mengambil remote lalu menyalakan televisi. Setelah menonton selama beberapa menit tiba-tiba saja Dara mendapatkan notifikasi di akun instagramnya. Dia membuka akunnya lalu langsung membuka postingan yang Bom unggah dan menandai dirinya. Dara langsung terkesiap ketika meliat photo dirinya yang sedang tertidur dengan wajah yang sangat memalukan.

“Yah! Hapus photo itu sekarang!” Teriak Dara pada Bom yang sedang berada di kamarnya. Dia hanya mendengar Bom tertawa keras untuk menanggapi ucapannya barusan. Dara mendengus karena kelakukan sahabatnya itu.

Dia sudah berdiri dari tempatnya duduk untuk menghapus sendiri photo itu namun dia berhenti ketika melihat ponselnya dan menyadari bahwa Jiyong menyukai photo itu. Dara menautkan kedua alisnya karena itu berarti bahwa Jiyong sedang memegang ponselnya sekarang namun kenapa dia tidak mengangkat panggilan Dara atau menghubunginya kembali padahal Dara sudah menghubunginya berkali-kali.

Dara lalu membuka akun Jiyong dan kembali pada posisinya untuk duduk di sofa, dia kembali mengerutkan keningnya ketika melihat apa yang Jiyong unggah di akunnya tadi malam. Saat melihat itu hati Dara terasa ngilu karena perasaan bersalah yang melandanya. Jiyong pasti sangat terluka karena dirinya.

“I can write the saddest poem of all tonight

To think I don’t have her, to feel that I’ve lost her

To hear the immense night, more immense without her

And the poem falls to the soul as dew to grass

What does it matter that my love couldn’t keep her

The night is full of stars and she is not with me.”

-Pablo Neruda-

Jiyong Pov

Tidak pernah sekali saja dalam hidup aku bermimpi untuk merasakan patah hati. Ayolah! Aku adalah Jiyong. Seorang pria yang hanya dengan kedipan mata dapat membuat wanita bertekuk lutut, yang hanya dengan beberapa kata saja dapat membuat wanita rela menyerahkan apapun untukku. Aku Jiyong yang kata orang adalah Casanova abad ini namun ironisnya sekarang aku malah bergelung di bawah tempat tidur sambil meratapi rasa sakit yang sudah sejak tadi malam aku rasakan. Rasa sakit yang aku rasakan sejak satu-satunya wanita yang aku inginkan meninggalkanku dan lebih memilih pergi dengan pria lain.

Aku tidak pernah tahu bahwa patah hati bisa sangat menyakitkan seperti ini. Aku tahu luka ini tidak bermula dan mungkin tidak akan berakhir, luka yang sepertinya akan terus aku rasakan setiap kali aku melihatnya, luka yang tidak ingin disembuhkan karena aku telah kehilangan penyembuhnya bahkan sebelum aku berhasil mendapatkannya.

“Jiyong, Dara sudah menelpon!” Aku mendengar suara Seunghyun tapi aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya tidak bisa berbicara dengan Dara sekarang. “Jiyong kau tidak apa-apa kan?” Kini aku merasakan tubuhku diguncang oleh Seunghyun.

“Hyung angkat saja telponnya dan katakan saja aku sedang tidur.” Ujarku dengan suara yang tidak bersemangat.

“Kau yakin?”

“Ya.” Aku mendengar suara langkah Seunghyun yang mulai menjauh setelah aku mengatakan hal itu.

Setelah setengah jam aku akhirnya membuka selimbut lalu langsung berdiri dan berjalan keluar kamar untuk mengambil minuman. Aku tidak menemukan Seunghyun di manapun, mungkin dia sudah pulang karena dari tadi aku tidak menanggapi apa yang dia tanyakan tentang apa yang telah terjadi tadi malam antara aku dan Dara.

Aku membuka mesin pendingin dan langsung mengambil beberapa bir kaleng. Aku berjalan pelan ke arah ruang tengah lalu menaruh bir-bir itu di atas meja. Sebelum duduk aku terlebih dulu mengambil piringan hitam berisi album Andrea Bocelli lalu menyetelkannya.

Aku duduk kemudian mengambil salah satu bir dan langsung membukanya, aku minum satu teguk sambil menyandarkan punggungku pada sandaran sofa di belakangku. Perlahan aku menutup mata dengan tangan yang masih memegang kaleng bir itu sambil menikmati lantunan musik klasik yang sekarang menggema di seluruh ruangan ini.

Puoi solo dire, che piu ti fa soffrire, piu ancora l’amerai.” Ucapku pelan ketika mengikuti bait terakhir lagu yang sekarang sedang berputar. (All you’ll know for sure is the more she make you suffer, the more you find you love her.)

Setelah mendengar lirik itu tiba-tiba saja terlintas adegan saat Dara tersenyum kepada pria yang tadi malam pergi dengannya. Adegan yang saat ini masih membuat pikiranku kusut. Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari cara Dara tersenyum kepada pria itu. Aku yakin Dara memiliki perasaan khusus kepada pria itu. Dara menyukainya, sangat. Dan hatiku sakit ketika aku menyadarinya.

What it means I don’t have a chance to have you?” Ujarku lirih masih dengan mata yang tertutup dan saat itulah tiba-tiba aku mendengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku berdiri dengan malas ketika suara bel kembali terdengar, aku mengecilkan volume lagu yang sedang aku putar dan langsung berjalan menuju pintu tanpa melihat interkom terlebih dahulu.

Aku terenyak ketika melihat Dara sekarang berdiri di hadapanku, tersenyum sangat manis seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya, pada kami tadi malam.

“Apa aku boleh masuk?” Aku kembali pada kesadaranku ketika mendengar suara lembutnya. Aku menggerakan kakiku lalu membukakan pintu lebih lebar memberi ruang sehingga Dara bisa masuk. Dara melangkah perlahan ke dalam apartemenku. Aku mengikutinya setelah menutup pintu. “Aku menghubungimu Jiyong. Kenapa kau tidak mengangkatnya?” Ujar Dara langsung sambil berbalik menghadapku.

“Seunghyun hyung mengangkatnya.” Ujarku acuh sambil berjalan melewati Dara lalu duduk di sofa.

“Lalu kenapa bukan kau yang mengangkatnya?”

“Aku sedang tidak enak badan jadi malas menggerakan tubuhku untuk mengangkat telpon. Lagipula aku tidak tahu bahwa kau yang menelpon.” Ujarku berbohong kini sambil duduk di sofa. Aku mengambil bir kemudian kembali menenggaknya.

“Katanya kau sedang sakit tapi kenapa kau malah minum bir?” Aku tidak menanggapi Dara dan terus meminum bir itu sampai habis. Aku mendengar Dara menarik napas, aku merasa dia sedang menatapku.

“Untuk apa kau datang kemari?” Tanyaku sambil membuang kaleng bir itu ke belakangku dengan sembarangan menghasilkan bunyi yang sedikit keras.

“Aku ingin minta maaf untuk kejadian tadi malam. Dan aku juga ingin mengatakan terimakasih karena kau telah mengantarku ke apartemen Bom tadi malam.” Ujar Dara yang aku tanggapi dengan anggukan pelan. “Jiyong bisakah kau menatapku ketika aku sedang berbicara kepadamu?” Aku benci mengakui ini, aku memang selalu senang ketika menatapnya namun kali ini aku tidak bisa. Aku takut dia menyadari bahwa aku terluka dengan sikapnya kepadaku namun pada akhirnya aku tetap menatapnya.

“Aku menatapmu sekarang. Lalu apa lagi?” Ujarku, berusaha untuk setenang mungkin.

“Aku bilang aku minta maaf karena meninggalkanmu tadi malam tapi Jiyong aku harus pergi dengan Sooh..”

“Sudahlah lupakan saja.” Potongku dengan sedikit keras, entah kenapa mendengar Dara menyebut nama pria itu membuat darahku tiba-tiba mendidih.

Dara menatapku dengan mata dan mulut yang sedikit terbuka, dia sepertinya kaget dengan reaksiku barusan, mungkin karena ini pertama kalinya aku berbicara dengan nada seperti itu kepadanya. Aku mengalihkan pandanganku darinya, menatap apa saja kecuali wajahnya.

“Kenapa kau semarah ini Jiyong? Kau marah hanya karena aku melupakan kencan dengan temanmu itu?”

“Mungkin janji itu merupakan hal kecil untukmu Dara, tapi tidak bagiku.”

Wae??” Tanya Dara dengan suara pelan namun aku tidak menjawabnya. Aku tidak punya jawaban yang tepat karena Dara tidak tahu yang sebenarnya. “Apa karena kau adalah orangnya?” Aku langsung menatap Dara setelah dia mengatakan hal itu. “Orang yang menyukaiku?” Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu namun tidak ada kata yang sanggup aku keluarkan.

Aku hanya terus menatapnya dengan sedikit tidak percaya. Dara tahu? Dara tahu tentang perasaanku? Dara tahu bahwa aku menyukainya? Dia tahu semuanya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa?

Aku menghela napas sambil menyandarkan punggungku pada sandaran sofa lalu menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku tidak percaya bahwa Dara bisa melakukan hal ini kepadaku. Aku pasti terlihat bodoh selama ini karena mengira bahwa dia tidak tahu apapun tentang perasaanku. Dan ini sangat menyakitkan karena dia meninggalkan aku tadi malam padahal dia tahu bahwa aku menyukainya. Dia tetap meninggalkan aku dengan pria lain bahkan ketika dia tahu bahwa aku mencintainya. Hatiku berdenyut nyeri ketika aku sadar Dara sama sekali tidak peduli kepadaku, kepada perasaanku.

Aku tertawa pahit sambil menggeleng-gelengkan kepalaku lalu tersenyum miris. Apakah hatiku sudah hancur sekarang? Apakah masih ada luka yang menungguku jika aku terus mengharapkannya?

“Aku tidak tahu kau bisa sekejam ini.” Ujarku pelan setelah beberapa saat.

What?” Aku mengalihkan kembali tatapanku pada Dara yang saat ini sedang menatapku dengan sedikit bingung.

“Kau pasti sangat senang karena telah membodohiku selama ini. Apa aku terlihat bodoh di matamu? Apa kau sengaja meninggalkanku dengan pria itu untuk menunjukan kepadaku bahwa pria brengsek sepertiku tidak layak untuk wanita sepertimu?”

“Jiyong, biar aku jelaskan!” Ujar Dara sambil sedikit melangkahkan kakinya untuk mendekat pada posisiku.

Stop it Dara.” Ujarku yang membuat Dara menghentikan langkahnya. Aku berdiri lalu langsung berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di hadapannya. Aku menatap langsung pada matanya. “Tidak usah mengatakan apapun karena sekarang aku sudah mengerti. Aku memang tidak pantas untukmu jadi aku akan membunuh dan mengubur dalam-dalam perasaanku untukmu. Itu kan yang kau inginkan?”

“Jiyong tolong dengarkan aku. Aku tidak bermak…”

“Aku selalu memberikan pundakku saat kau sedang merasa rapuh. Aku tidak pernah melepaskan tanganmu saat kau merasa dunia terlalu kejam untukmu. Aku melakukan apapun untuk membuatmu bisa melihatku Dara, melihat ketulusan yang aku berikan hanya kepadamu. Bahkan saat tadi malam kau meninggalkan aku dan lebih memilih pergi dengan pria lain aku masih menunggumu setidaknya untuk mengatakan maaf, aku menunggumu Dara dan berharap kau akan datang ke tempat di mana aku menunggumu tapi ternyata mimpiku itu terlalu jauh untuk menjadi kenyataan.”

“Ji..,”

“Apa artinya aku bagimu Dara?” Tanyaku yang kembali memotong perkataannya. “Itulah yang selalu ingin aku tanyakan kepadamu dan hari ini akhirnya aku mendapatkan jawabannya.” Tatapanku tidak lepas darinya selama beberapa saat sebelum aku berjalan melewatinya.

“Jiyong dengarkan aku!”

“Tutup kembali pintunya saat kau keluar!” Ujarku tanpa memperdulikan apa yang Dara katakan. Aku membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan sedikit keras. Aku berdiri selama beberapa saat dengan punggung yang menekan pintu. Aku menatap lurus ke depan. Tidak tahu harus melakukan apa. Aku menutup mataku ketika sadar bahwa aku pengecut dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dara tidak peduli kepadaku. Aku pengecut karena lari dari kenyataan itu tapi aku tidak peduli karena rasa sakit ini terasa begitu dalam sehingga aku rasa aku tidak akan kuat untuk terus menahannya.

TBC

Annyeong Reader-nim tercinta. Reni kembali dengan chapter terbaru dan semoga saja kalian suka dengan chapter ini ya. sebenernya chapter ini aku persembahkan untuk salah satu reader yang tiap kali aku on ig atau fb pasti dia nodong biar aku update lagi hihi, makasih lo jadi semangat buat nulisnya hihi.

Terimakasih untuk Eka, Nexsy, Vera, Rizka, Juminah, Naila, Sundu, Dian, Azizah, Mita Unnie, Darakwon, Bella, Mbak Andi, meida, Jira, Nanda, Novi, Siti, dan Me yang udah bersedia meluangkan waktunya buat ngasih komentar di chapter sebelumnya. I Really apreciate it Guys. Love you always!!! dan jangan lupa komentar di chapter  ini soalnya aku bener-bener suka baca komentar kalian ^_^

jangan bosen nungguin kelanjutannya ya Guys!!!!

oh iya please ini mah stop plagiarism. aku kesel karena FFnya huntress unnie ada yang ngejiplak, terus ff zhie unnie juga sering di jiplak.  hargai kami para author yang udah capek-capek mikir dan ngetik ya!! Percaya lah readers DGI mah pasti pada bertanggung jawab ya kan? hihi

Advertisements

24 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s