Phases : Nouă

Untitled-2

Sebelumnya, minta maaf karena cukup lama mengabaikan cerita ini.. jujur, ngetrans lebih gampang dibanding ngetik cerita sendiri.. XD
Selamat membaca~~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Yogyakarta, 23 Oktober 2013

Dengan tubuh mungilnya Dara berjuang berdesakan diantara kerumunan orang yang memadati jalanan untuk menyaksikan kirab pengantin Keraton Yogyakarta. Jalanan ditutup, masyarakat tumpah ruah, dan Dara merasa sangat beruntung bisa turut menjadi saksi peritiwa bersejarah ini.

Sebagaimana informasi yang sebelumnya telah dia peroleh, ini merupakan royal wedding terakhir yang diselenggarakan oleh sang Sultan dalam masa kepemimpinannya. Putri keempatnya akhirnya melepas masa lajang, setelah sebelumnya membiarkan dirinya didahului oleh sang adik. Sebagai pesta pernikahan terakhir, kabarnya acara ini jauh lebih meriah dibandingkan pernikahan GKR Bendara, putri bungsu Sri Sultan, yang dilaksakan dua tahun sebelumnya.

Satu lagi materi terakhir untuk sebelum dia kirimkan kepada bagian layout.

‘There was the light for the dark, and the sweet for the bitter,’ begitu yang diajarkan ayahnya.

Setelah apa yang terjadi padanya – pengkhianatan dan rasa sakit hati yang dirasakannya; mungkin inilah sang sisi baik. Memperlama waktu tinggalnya di Indonesia, mendalami perkembangan budaya Joglo yang mendapat pengaruh dari Belanda, Tiongkok, dan Arab; serta kini dia menjadi saksi sejarah pernikahan agung dari Keraton.

‘Setidaknya masih ada hal positif setelah semua yang terjadi,’ batinnya.

*

Yogyakarta, 27 Oktober 2013

 

Dara tengah berkemas sembari menunggu jemputan Juna. Ini adalah hari terakhirnya di Jogja. Sempat beberapa waktu tinggal di Indonesia semasa kecil, Dara tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Hanya ada empat tempat yang pernah di kunjunginya di Indonesia pada kunjungan-kunjungannya sebelumnya: Jakarta – tempat dia mendarat untuk pertama kalinya dari Korea, Semarang – tempat transit dari Jakarta, Weleri dan sekitarnya – tanah kelahiran sang mama, dan terakhir Bali – karena urusan pekerjaan. Karena itulah, dia berusaha menikmati waktu yang dimilikinya sekarang sebaik-baiknya.

Suara ketukan pintu, sepertinya layanan kamar. Dara segera membukakan pintu, tapi ternyata Juna yang muncul.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Just a moment. Waiting my laundry,” jawab Dara kemudian mempersilakan Juna masuk. “Come in.”

Juna menurut dan melangkah masuk kedalam kamar tempat Dara menginap seminggu ini.

“What time we’ll meet your friends?” tanya Dara melanjutkan kegiatannya mengepak barang.

“Masih ada waktu dua jam sampai waktu janjian, kita masih balik ke tempatku dulu buat naruh barang-barangmu, kan?”

Dara mengangguk membenarkan. “Neh. I can’t bring all of this to hiking, can I?” gadis itu terkekeh, menunjuk kopernya yang bertambah dari saat kedatangannya seminggu yang lalu. Kemarin Dara menggila saat diajak ke Malioboro. Banyak hal menarik yang baru pertama kali dilihatnya, dan tidak bisa menahan hasratnya untuk berbelanja. “Souvenirs.” Begitu kilahnya saat diingatkan Juna.

Aisht, I should go to your place, not the other way.” Keluh Dara menatap tajam Juna. Dia memutuskan untuk menitipkan barang-barangnya sementara di tempat Juna, tapi justru pria itu yang menjemputnya. Juna beralasan takut jika Dara tersesat – jadi sebaiknya dia saja yang menjemput Dara.

Rencananya pagi ini mereka akan berangkat ke Porbolinggo untuk kemudian melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Bromo. Dara yang tidak pernah melihat gunung berapi sebelumnya sangat antusias mengetahui rencana itu dan langsung setuju tanpa banyak berpikir saat Juna mengajaknya. Total ada 10 orang yang akan melakukan perjalanan, termasuk Dara.

“And make you lost? Haha now way, thank you!” balas Juna. Memang, resiko untuk Dara tersesat saat menuju ke tempat Juna lebih besar dari 50%. Selain karena alasan rumah Juna yang berada di perkampungan, Dara juga tidak mengenali lingkungan Jogja.

Dan mengenai soal kenapa gadis itu tidak menginap di rumah Juna saja padahal pria itu berdomisili di Jogja, justru Juna sendiri yang menyarankan agar Dara menginap di hotel. Alasannya: pertama, akan jauh lebih mudah karena tujuan utama Dara datang kemari adalah demi liputan Royal Wedding Keraton; dan kedua, Juna tidak ingin rumahnya digerebek warga sekampung karena membawa seorang gadis menginap selama berhari-hari – meski bisa Ketua RT memberikan ijin, tapi tetap tidak pantas rasanya.

 Tak sampai lima menit kemudian, laundry  yang ditunggu pun datang. Keduanya kemudian segera pergi ke rumah Juna untuk meletakkan koper-koper Dara setelah sebelumnya check out dari hotel.

Dara menatap hamparan sawah hijau dari jendela kereta yang ditumpanginya. Sudah dua setengah jam jam sejak kereta meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju ke Probolinggo. Dalam diam, benak Dara mengelana mengingat hidupnya sebulan tak kurang dari dari tiga bulan belakangan.

Dia sendiri tidak menyangka akan tinggal selama ini di Indonesia. Dongwook – editor in chief majalah tempatnya bekerja, bahkan sampai mengerang protes saat Dara tiba-tiba meminta perjalanan cutinya diperpanjang.

“Aku tidak peduli apapun yang akan kau lakukan padaku Dongwook, silakan pecat aku kalau kau mau! Tapi akan kujual foto-foto yang telah kuperoleh!” ancaman Dara waktu itu jelas membuat Dongwook tidak memiliki pilihan lain. Siapa yang mau melepaskan aset emas mereka.

“Sial! Lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apapun selain menurutimu, Dara!”

“Katakan pada Byul, aku merindukannya!” balas Dara.

“Arasso!” jawabnya. “Dara,” nada suara Dongwook berubah. Bukan nada suara yang dia gunakan pada bawahannya, tapi nada suara yang dia gunakan pada sahabatnya. “Waeyo? Kenapa kau tiba-tiba ingin memperpanjang tinggalmu di Indonesia, apakah ada masalah?” Dongwook tidak pernah berubah bahkan setelah bertahun-tahun. Peduli pada sahabat-sahabatnya.

“A-a-niyo.. a-aku ingin mempelajari lebih dalam tentang Joglo, d-d-an aku mendapat kabar aka nada royal wedding sekitar sebulan lagi.” kilah Dara sedikit gugup.

Dara bisa mendengar desah pasrah Dongwook diujung sana, tapi pria itu tidak berkomentar apapun. Mungkin mengerti bahwa Dara masih enggan membicarakannya, dan Dara sangat berterima kasih padanya karena hal itu.

“Ah, Bom minggu yang lalu menghubungi Byul.” Dongwook sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. “Dia ingin kita bisa berkumpul-kumpul lagi, kapan kau kembali?”

“Molla,” jawab Dara singkat. Dia belum siap untuk kembali, tidak dalam waktu dekat.

“Oh, apa kau sudah mendengar kabar mengenai Jiyong,” ucapan Dongwook membuat nafas Dara tercekat. Apalagi sekarang? “Aku yakin kau bukan tipe orang yang akan mencari tahu tentang berita, dan aku tidak yakin Jiyong sudah memberitahumu atau belum, tapi dilihat dari sifatnya—“

“Dongwook tolong, aku tidak mau mendengarnya apapun tentang dia. Mianhe, ada hal yang kuurus.” dan Dara memutuskan hubungan telepon mereka begitu saja.

Setitik air matanya mengalir hanya karena mendengar nama itu kembali disebut.

‘Waeyo, Ji.. waeyo?’ lirih Dara dalam hati mengingat percakapannya dengan Dongwook sekitar sebulan yang lalu. Dia tidak memiliki energi untuk mencari tahu dan sebagian besar hatinya yang masih sangat merasa sakit pun enggan mencari tahu.

Mungkin mereka berdua sudah sama-sama lelah…

Mungkin pemahaman mutualisme antara mereka berdua sudah sama-sama memudar…

Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama…

Mungkin…

“Dar..”

Dara berkedip mendengar namanya dipanggil. Ada sembilan pasang mata menatap penasaran kearahnya.

“Ah, neh.. waeyo?” refleks, kata itu terucap dari mulutnya.

“Ups, sorry… what’s up?” ralatnya, setelah ingat tidak satu pun teman-teman seperjalanannya ini memahami bahasa Korea.

“Kamu mikirin apa? Beberapa kali dipanggil nggak denger.” Jawab Juna, dahinya berkerut. Sepertinya tahu apa – atau lebih tepatnya siapa – yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.

“Nothing. Just preoccupied with the scenery.” Dara memaksakan senyum. Yang lain balas tesenyum kepadanya, tapi masih menatapnya. Hanya Juna tetap menatapnya tajam tanpa senyuman.

‘Liar.’ Kata Juna dalam hatinya, tapi memilih untuk mengesampingkan pikirannya itu, dan mengikuti mau gadis itu untuk berpura-pura. Akhirnya dia pun memaksakan sebuah senyum. “Perjalanan masih sekitar empat jam lagi, apa kamu ingin makan sesuatu? Aku sama Bayu,” dia menunjuk salah satu temannya, “..mau ke gerbong makan.”

“Ramen,” jawab Dara serta merta, memamerkan deretan gigi rapinya.

Juna tertawa, lebih kurang mengenal Dara selama dua bulan, gadis itu menunjukkan keseriusan sebagai seorang pecinta ramen sejati.

“Nothing ramen here, but I think will do with Pop Mie.”

Juna dan Bayu pergi ke gerbong makan dengan setumpuk pesanan dari teman-teman mereka. Mereka semua yang ikut dalam perjalanan ini – kecuali Dara – adalah teman sejak masa kuliah, dan memutuskan untuk bereuni dengan mendaki ke Bromo. Rencana ini sudah mereka susun berbulan-bulan lalu, saat tiba-tiba beberapa minggu lalu Juna meminta – memohon lebih tepatnya, kepada teman-temannya untuk mengijinkan seseorang lagi ikut.

“Gebetan baru, bro?” tanya Bayu setelah mereka berpindah gerbong. “Sumpah, cantik bener. Rugi kalo nggak lo deketin. Kenal dimana?”

“Nyokap gue yang ngenalin, dia sodara istri sepupu gue yang nikah bulan lalu.”

“Nah, itu nyokap lo udah ngasih lampu ijo, harusnya lancar-lancar aja dong.. sampe lo bawa jalan bareng kita-kita ini.”

Juna terkekeh mendengar ucapan Bayu, lalu menggelengkan kepalanya, membantah perkataan temannya itu. “Sama sekali nggak ada kesempatan.”

Bayu memberikan tatapan tidak mengerti, tapi Juna tidak memiliki niat untuk menjelaskan.

*

Seoul, 27 Oktober 2013

Nafas Jiyong tercekat begitu melihat ayahnya dituntun melewati pintu dengan tangan terborgol. ‘Apa yang terjadi padamu, appa?!’ Batin Jiyong, miris melihat kondisi ayahnya sekarang.

Kwon Jisang duduk, meraih horn telepon dihadapannya. Wajahnya tidak menyiratkan ekspresi apapun selain malu, meski ada sekat kaca yang membatasinya dengan sang putra.

“Appa…” ucap Jiyong pada horn telepon. Lebih kurang sudah sebulan ayahnya berada dibalik jeruji, tapi baru sekarang Jiyong sanggup menemui ayahnya.

“Mianhe… mianhe…” ulang appa Jiyong dengan mata berkaca-kaca.

Kwon Jisang, Direktur Utama Kwon Group tertangkap oleh Kejaksaan Korea Selatan melakukan suap pada Kementrian Luar Negeri dan Perdagangan. Tidak berhenti disitu, dalam penyelidikan lebih lanjut, ditemukan sang direktur melakukan tindakan penggelapan pajak selama lima tahun terakhir. Seminggu kemudian, Kwon Jisang resmi ditahan.

Tindak kejahatan yang terkuak dan kenyataan bahwa sang direktur utama ditahan, menjadikan saham Kwon Group terjun bebas, dan para investor pun sudah mulai melirik perusahaan-perusahaan lain. Karena itu, sebulan belakangan Jiyong berkerja keras untuk meyakinkan mereka bahwa Kwon Group mampu melewati masa sulit ini dengan singkat.

“Kenapa?” tanya Jiyong. Jelas dia merasa marah dan malu. Marah karena ayahnya mengambil tindakan bodoh yang justru berujung merugikan mereka sendiri. Dan malu karena dia menjabat sebagai General Manager Kwon Group. Bagaimana bisa dirinya disebut sebagai seorang General Manager tanpa tahu apa yang terjadi dalam perusahaannya.

Jiyong menarik nafas dalam, lalu menekan bel pintu.

“Nuguya?” terdengar suara dari interkom.

Jiyong mendekatkan bibirnya ke interkom dan menjawab, “Ini Jiyong.”

“Omo Jiyongie, neh..”

Sedetik berikutnya, terdengar bunyi bib pelan dan pintu terbuka. Jiyong memutar handel dan mendorong pintu terbuka. Muncullah seorang wanita cantik akhir 30an dalam balutan baju rumahan sederhana, tersenyum menyambutnya.

“Jiyongie…” dia tersenyum lembut, meski Jiyong bisa melihat ada kesedihan dalam sinar matanya.

“Noona…” balas Jiyong, memeluk wanita itu – hal yang tidak wanita itu duga. Ini pertama kalinya Jiyong bersikap perhatian padanya setelah…

“Bagaimana kabarmu, noona?” tanya Jiyong melepaskan pelukannya dari wanita itu – Oh Jinhye, istri kedua ayahnya.

Senyuman Jinhye kian lebar. Mungkin inilah hikmah dibalik apa yang menimpa keluarga mereka – Jiyong mau menunjukkan kepeduliannya pada keluarga ini.

Oh Jinhye bukanlah orang asing bagi Jiyong sebelum menikah dengan Kwon Jisang. Dia adalah sekretaris ayah Jiyong. Dia akrab dengan Jiyong kecil dan sudah Jiyong anggap sebagai noona-nya sendiri. Hingga akhirnya ibu Jiyong meninggal dan tak berselang lama, ayahnya menikahi Jinhye, dan itulah yang membuat jarak mereka terpisah. Jinhye menyayangi Jiyong, tulus, tapi pikiran polos Jiyong waktu itu menganggap bahwa ayahnya telah mengkhianati ibunya dengan menikahi Jinhye. Yang tidak Jiyong ketahui, bahwa ibunya sendiri yang memilih Jinhye sebagai ibu baru untuk Jiyong, karena melihat kedekatan keduanya.

“Aku baik-baik saja.” jawab Jinhye, masih tersenyum.

Jiyong mengulurkan tas yang dia bawa kepada Jinhye.

“Apa ini?”

“Sup ikan. Aku ingat noona menyukainya.”

“Gomawo,” Jinhye menerima tas yang diulurkan Jiyong dan membawanya ke dapur. “Kau harus makan malam disini, neh?” belum sempat Jiyong membantah, Jinhye menambahkan, “Aku tidak mau menerima penolakan lagi, Jiyongie…”

Jiyong tidak punya hati untuk menolak permintaan ibu tirinya itu, tidak setelah semua yang wanita itu alami. Jiyong baru menyadari jauh bertahun setelahnya, bahwa menikah dengan ayahnya yang seorang duda beranak berat bagi Jinhye. Pandangan miring orang-orang padanya, belum lagi sikap yang dulu Jiyong tunjukkan… Jiyong terkadang menyesal, kenapa dulu dia bisa berpikiran negatif.

“Noona, mianhe…” lirih Jiyong. Jinhye yang tengah sibuk di dapur tidak mendengar apa yang Jiyong katakan.

Terdengar bunyi kode pintu terbuka. “Ah, itu pasti Hyungkyun.” Kata Jinhye tanpa menghentikan pekerjaannya. Dan benar saja, detik berikutnya pintu teranyun terbuka dan muncullah sosok Oh Hyungkyun, keponakan Oh Jinhye.

“Imo, aku pulang!” serunya memasuki aparteman, “Oh, kau datang rupanya, hyung.” Katanya kaget melihat Jiyong, tersenyum.

Jiyong balas dan tersenyum, menganggukkan kepala kepada Hyungkyun. “Kau baru pulang?” tanyanya.

Hyungkyun mengangguk. “Aku mampir ke sanggar K Tiger dulu sepulang dari kantor.” Jelasnya, dia lalu beranjak ke dapur untuk menyapa Jinhye sebelum kemudian duduk di ruang tengah menemani Jiyong.

Hyungkyun bekerja di Kwon Corp – mengesampingkan keinginannya sendiri untuk berusaha menjauh dari perusahaan suami imo-nya, namun kalah pada keinginan keras wanita yang telah membesarkannya itu. Hyungkyun telah menjadi yatim piatu sejak berusia tujuh tahun, karena kedua orang tuanya – kakak Jinhye – tewas dalam kecelakaan yang sama. Merasa berhutang budi pada Jinhye, akhirnya Hyungkyun menuruti apa mau imo-nya, mengabaikan berbagai sindiran yang hingga tiga tahun sejak dirinya masuk tak juga hilang – dia dibilang memanfaatkan posisi imo-nya yang merupakan istri dari direktur. Padahal posisi sebagai salah satu manajer marketing yang didudukinya kini merupakan hasil kerja kerasnya sendiri.

“Apa ada kompetisi lagi?” tanya Jiyong setelah Hyungkyun duduk menemaninya. Meski tidak mengenal sepupu jauhnya itu secara dekat, dia tahu bahwa Hyungkyun juga seorang atlet takwondo.

“Iya, tapi untuk para junior. Aku datang hanya untuk ikut melatih mereka.”

Jiyong mengangguk mengerti. Keduanya kemudian larut dalam pembicaraan mengenai kondisi perusahaan mereka. Tak lama Jinhye datang dan menggiring keduanya di meja makan.

“Sudah, hentikan obrolan kalian. Sekarang ayo makan!”

Kapan terakhir kali Jiyong merasakan makan keluarga seperti ini? Jika diingat-ingat sudah lama sekali… mungkin sejak dia keluar dari rumah jaman kuliah dulu. Ah, jika dihitung itu sudah bertahun-tahun. Paling dia hanya makan bersama dengan teman-temannya atau Dara…

Ah, Dara…

Sudah hampir tiga bulan dia tidak bertemu dengan Dara dan komunikasi mereka pun putus sekitar sebulan lalu. Berkali-kali Jiyong berusaha menghubungi gadis itu, tapi dia sendiri sangat mengerti jika telepon dan segala bentuk pesannya tidak terjawab. ‘Memang aku yang salah.’ Batin Jiyong.

Dia sebenarnya sudah berencana untuk menyusul Dara ke Indonesia. Persetan dengan kemungkinan dia akan tersesat di negara yang sama sekali asing baginya. Yang terpenting hanyalah Dara. Mereka harus bertemu. Jiyong harus menjelaskan semuanya secara langsung kepada gadis itu. Tapi rupanya takdir sedang mempermainkan mereka, mempermainkannya.

Pada saat Jiyong tengah menunggu pesawatnya berangkat, Hyungkyun datang menemuinya di bandara dengan ekspresi penuh kepanikan, mengabarkan bahwa ayahnya ditangkap oleh kejaksaan terkait kasus suap.

Jiyong langsung mengesampingkan Dara dari pikirannya dan bergegas mengikuti Hyungkyun keluar dari bandara. Dalam hati dia berdoa agar Dara masih mau menerima penjelasannya – yang pasti akan sangat terlambat. Namun harapannya hanyalah tinggal harapan.

Disibukkan oleh urusan ayahnya dan Kwon Corp, Jiyong hampir lupa tentang Dara. Telepon dan pesannya tak pernah lagi mendapat tanggapan oleh gadis itu. Tapi Jiyong mengerti, memang dirinya yang salah.

“Hyung,” panggilan Hyungkyun menyadarkan Jiyong dari lamunannya.

“Neh?”

“Kurasa masalah kantor sudah bisa kau tinggal, meskipun belum bisa dikatakan kembali seperti semula, tapi setidaknya semua sudah mulai stabil. Aku minta maaf karena sudah mengganggu waktu cutimu.”

Saat itu, Hyungkyun benar-benar tidak tahu kemana dia harus mencari bantuan. Jinhye tengah dalam kondisi syok dan jajaran direksi kalang kabut. Hanya Jiyong satu-satunya solusi yang bisa dia pikirkan. Dan saat mendengar dari sekretarisnya bahwa Jiyong telah mengajukan cuti dan tengah menunggu penebangan ke luar negeri. “Tuan Kwon semalam meminta saya memesan tiket pesawat menuju Indonesia secepatnya. Jadwal penerbangannya masih dua jam lagi, mungkin jika Anda menyusul ke bandara, masih sampai…” begitu yang dikatakan sekretaris Jiyong kepada Hyungkyun.

“Neh, aku juga bisa kembali ke kantor untuk membantu Hyungkyun jika kau merasa khawatir.”

“Ani, tidak perlu. Tenang saja aku masih bisa mengatasinya.” Tolak Jiyong.

Dia tidak mungkin membebankan Jinhye dan Hyungkyun dengan perusahaan yang kondisinya masih bisa dibilang kacau. Bukannya dia tidak mempercayai keduanya, tapi demi menjaga mereka agar tidak menjadi pembicaraan – baik dewan direksi maupun investor serta rekan bisnis. Sudah cukup porsi pandangan miring yang diterima kedua orang itu.

Dan mengenai Dara, Jiyong hanya bisa pasrah.

Mungkin Dara telah lelah menghadapi sikapnya selama ini…

Mungkin dirinya terlalu menuntut agar Dara memahaminya tanpa dia sendiri mau memahami gadis itu…

Mungkin memang dia tidak layak untuk Dara…

Mungkin…

“Jiyongie…”

“Neh?”

“Apa kau yakin?”

Jiyong tersenyum menangkan keduanya. “Tentu. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

*

 

 

~ Tbc ~

Saya nggak ngerti apa lagi yang mau saya jelaskan di bagian ini.. jadi, kalo ada butuh penjelasan lebih.. silakan tanyakan langsung saja~ kkkk
Saya nggak tau gimana nanti ending dari cerita ini, saya sendiri masih bimbang, mau kemana.. LOL pikiran saya selalu berubah2 dengan cerita ini.. hari ini pengen bikin A, besok jadi B, besoknya C.. ujung2nya saya bakal kembali ke A dengan menyesuaikan pada B dan C.. LMAO /maafkan penulis galau ini.. >.</ XD
Anyhow, adakah yang mungkin tertarik dengan genre fluff tapi hampir angst? huh, huh? atau tentang silat? huh? Kepala saya hampir pecah gara2 dua ide itu…. cuman nggak yakin juga kapan bisa kesampaian.. :v saya ini penulis yang males.. XD
Ehem, kalo gitu sampai jumpa di update selanjutnya.. ciao ^o^/~

………………………………………………….

<< Previous Next >>

 

Advertisements

23 thoughts on “Phases : Nouă

  1. Mereka berjauhan kayak langit sama bumi tau nggak sih? Sekalian aja entar dara unnie dinikahin sama juna😒 #dilemparin telur sama fans daragon#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s