[SongFic] I’m Not For You

im not for you

Jung YooRey || I’m Not For You (SONGFIC) || Sandara Park, Kwon jiyong, Choi Sulli (Sulli Park) || Angst, Sad, Family || Backsound’s : Indonesian song; Rossa – Aku Bukan Untukmu , Other song : When You’re Gone – Avril Lavigne

Note: baca author’s note setelah cerita

 

Happy ReadingJ

 

I love you but i’m not for you..

 

“Dee, bagaimana kalau lusa nanti kita ke lotte world? Kau ingin kesana bukan?” Pertanyaan Jiyong membuat Sandara mengerjapkan matanya. Yeoja berambut cokelat itu hanya membalasnya dengan mengangguk.

Jiyong mengernyitkan keningnya. Ia segera menyentuh dahi Sandara. “Ah, tidak panas.” Gumamnya sambil menarik kembali tangannya. “Kenapa kau seperti tidak bersemangat, Dee? Apa kau mau pulang saja?”

Sandara menggeleng pelan. “Ani. Nan gwaenchana.” Jawabnya sambil tersenyum menandakan bahwa dia baik-baik saja.

Jiyong menatapnya penuh selidik. “Kau yakin? Aku rasa akhir akhir ini kau lebih sering melamun. Apa kau sedang ada masalah?”

Sandara menggeleng lagi. “Tidak. Aku baik-baik saja, aku yakin.”

“Kau se—”

“Aku baik-baik saja Jiyong-ah, jangan khawatir. Jika ada apa-apa, aku pasti memberitahumu. Tenang saja.” sela Sandara sambil tersenyum manis ke Jiyong. Jiyong hanya menghela nafas dan membalas senyuman Sandara. Ia yakin, Sandara pasti memiliki sesuatu yang ia sembunyikan.

Sementara Sandara hanya bisa terus tersenyum meyakinkan Jiyong bahwa ia baik baik saja. Walau sebenarnya ia tidak baik baik saja.

*

Unnie, kau sudah pulang?”

Sandara menoleh saat melewati kamar adiknya, Sulli Park. Sandara tersenyum tipis melihat adiknya melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke arahnya.

“Jangan lari-lari begitu, sull. Kalau kau jatuh bagaimana?” Tegur Sandara saat Sulli sudah berada dihadapannya. Sulli hanya memamerkan senyumannya yang membentuk bulan sabit di matanya dan menarik tangan Sandara masuk ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya itu.

“Unnie, aku rasa aku akan segera menikah.” Gumam Sulli sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya sementara Sandara mematung ditempatnya berdiri.

“Aku akan dijodohkan, unnie-ah.” Lanjut Sulli sambil tersenyum lebar dengan menatap langit-langit kamarnya.

Sandara meneguk liurnya. Apakah ini saatnya? Oh, ini terlalu cepat. Sandara belum siap. “Be-benarkah? Kau sudah tau siapa yang akan dijodohkan denganmu?”

Sulli berdiri dari tempat tidurnya dan menarik sebuah foto yang tergeletak di meja belajarnya lalu memberikannya ke Sandara dengan semangat. Sandara menghirup nafasnya pelan dan mengarahkan matanya ke arah foto pemberian Sulli. Nafas Sandara terasa berhenti melihat foto yang diberikan Sulli. Itu adalah foto Jiyong, namjachingunya.

“Bagaimana unnie? Tampan bukan? Aku langsung menyukainya ketika eomma memberikan fotonya. Ah, aku rasa ini kali pertamanya aku berdebar-debar kembali setelah putus dari minho 6 bulan lalu.” Seru Sulli berbinar-binar.

Sandara memaksakan senyumnya dan memberikan foto itu ke Sulli. “Kau benar. Dia sangat tampan. Kau beruntung dijodohkan dengannya, sull.”

Sulli meraih foto itu dan mengelusnya dengan wajah yang benar-benar jatuh cinta. “Namanya Jiyong, Kwon Jiyong. Nama yang bagus seperti orangnya, kan?”

Sandara kembali dihantam. Ia hanya memilih untuk tersenyum dan mengangguk. “Ne.”

“Oh ya unnie, bukankah kau akan memperkenalkan kekasihmu kepadaku? Kau itu benar-benar, sudah lama menjalin hubungan, tapi aku sendiri tidak kenal dengan namja itu.” Cibir Sulli yang membuat hati Sandara mencelos.

“Eng.. Namja itu sedang ke luar negeri. Nanti jika dia kembali aku akan memperkenalkannya denganmu.” Dusta Sandara sambil tersenyum palsu.

Sulli hanya mengangguk paham.

“Unnie kembali ke kamar ya? Aku ingin tidur. Katakan pada eomma kalau aku sudah makan malam dirumah Bom.” Ucap Sandara sambil membalikkan tubuhnya cepat dan keluar dari kamar Sulli menuju kamarnya yang berada disebelah kamar Sulli. Ia tidak bisa berlama-lama berada di kamar itu, bisa-bisa ia tidak bisa menahan air matanya.

Bruk. Sandara menjatuhkan dirinya di pintu kamarnya dan bersandar disana. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya. Ini pertama kalinya dia harus diberi pilihan yang sangat berat dalam hidupnya. Satu adalah kebahagiaan Sulli, dan satunya adalah kebahagiaannya. Sandara bingung, ini pertama kalinya Sulli tersenyum senang seperti itu semenjak diputuskan oleh minho setengah tahun lalu. Dan Sandara sangat senang melihat Sulli kembali tersenyum seperti itu. Tapi, bagaimana bisa Sulli tersenyum bahagia tetapi dirinya malah menangis?

“Apa yang harus kulakukan? Hiks hiks.. Aku mencintai Jiyong.. Hiks ta-tapi Sulli..? Hiks” Sandara menggigit bibir bawahnya kuat berusaha menyembunyikan isakannya.

Sandara sangat tidak terima dengan takdir kehidupannya. Tapi apa yang harus dia lakukan? Siapa yang memegang takdir ini? Jiyong kah? Sulli kah? Sangat menyakitkan. Disaat Sandara sudah benar-benar yakin bahwa Jiyong akan menjadi pendampingnya kelak, dia malah harus dihadapkan oleh kenyataan pahit ini. Sebenarnya Sandara sudah tahu jika Sulli akan dijodohkan dengan Jiyong dari 1 minggu lalu. Hal itu diketahuinya saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. Harusnya perjodohan itu untuk Sandara, namun Sandara belum berniat untuk menikah sehingga Sulli lah yang dijodohkan. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Sulli pun tidak tahu jika Sandara dan Jiyong adalah sepasang kekasih, mereka melakukan backstreet karena orangtua Jiyong melarang Jiyong menjalin hubungan dengan yeoja manapun. Jadilah mereka berpacaran dengan melakukan backstreet dari keluarga masing-masing.

Jujur saja, Sandara tidak bisa meninggalkan Jiyong. Dia sangat mencintai namja itu. Namja ceria yang selalu membuat hari-harinya berwarna. Tidak pernah Jiyong tidak membuatnya tersenyum. Jiyong akan selalu melakukan apapun yang dapat membuatnya tersenyum. Dan Sandara sangat menyayangi namja itu.

Ketika pertama kali mereka bertemu saat MOS universitas, Jiyong menjadi sunbaenya sekaligus pembinanya. Namja yang memiliki kadar ketampanan diluar batas itu bertemu pandang dengannya pertama kali saat ia dihukum oleh pembina lain dan Jiyong membantunya. Mata namja itu membuat Sandara tidak sanggup menahan degupan jantungnya. Begitupula dengan Jiyong, ia membantu yeoja itu karena ia tertarik padanya.

Hiks hiks, otthokae Jiyong-ah? Otthokae? Hiks..”

Intinya Sandara tidak bisa meninggalkan Jiyong. Tapi ini adalah takdir mereka. Kebahagiaan Sulli adalah kebahagiannya. Ya, Sandara harus merelakan Jiyong bersama Sulli. Karena takdir mengatakan padanya, bahwa ia bukan untuk Jiyong.

*

“Aku bilang kalau aku tidak mau, appa, eomma!” Teriakan menggema memenuhi ruang keluarga milik keluarga bermarga Kwon itu.

Kedua orang tua Jiyong menggelengkan kepalanya tegas. “Kau harus menikahinya! Appa tidak mau tahu, 2 minggu lagi kalian akan segera menikah.”

Jiyong mendesah kasar. Lagi-lagi begini. Lagi-lagi orangtuanya seenaknya melakukan hal-hal yang tidak diketahuinya. Walau begitu, Jiyong selalu menurut. Tapi tidak untuk sekarang, ini mempertaruhkan masa depannya dengan Sandara, yeoja yang sangat dia cintai sepenuh hatinya.

“Tidak. Aku tidak mau.”

Mata appa Jiyong melebar. “Anak macam apa kau ini? Eommamu melahirkanmu bukan untuk menjadi anak yang suka membangkang! Jangan macam-macam, Jiyong-ah!”

Jiyong terdiam mendengarnya. Entah kenapa dia langsung merasa dilahirkan hanya untuk menjadi boneka penurut setelah mendengar ucapan appanya. Eomma Jiyong menghela nafas kecil.

“Jiyong-ah, kenapa kau menolak perjodohan ini, hm?” Tanya eomma Jiyong lembut.

Jiyong kembali diam. Dia tidak bisa bilang kalau ia tengah menjalin hubungan dengan Sandara. Orangtuanya telah melarangnya berpacaran dan Jiyong menyanggupinya. Pernah ketika Senior High School, Jiyong ketahuan berpacaran dengan Im Yoona dan itu membuat kedua orangtuanya marah besar. Bahkan eomma Jiyong menangis melihat Jiyong yang tidak menepati janjinya. Semenjak itu Jiyong berjanji untuk tidak mengecewakan eomma dan appanya lagi dengan tidak menjalin hubungan dengan yeoja manapun. Jiyong bahkan dikenal sebagai namja yang berhati dingin. Wajah tampannya membuatnya memiliki banyak penggemar walau julukannya berhati dingin.

Tapi janji itu diinjaknya setelah ia bertemu dengan Sandara yang menjadi hoobaenya di universitas. Jiyong yang dipilih menjadi anggota pembina mahasiswa dan mahasiswi baru itu ternyata membina kelompok Sandara. Dan akibat kecerobohan Sandara, pembina dari kelompok lain pun menghukumnya. Jiyong segera menolong Sandara dengan meminta pada Tiffany—pembina yang menghukum Sandara sekaligus temannya, untuk melepaskan Sandara dan tiffany pun mengiyakan. Setelah kejadian itu Jiyong dan Sandara pun makin dekat dan semakin dekat. Selang beberapa bulan, Jiyong pun memantapkan hatinya untuk meminta Sandara menjadi kekasihnya. Berita tentang si namja berhati dingin yang memacari hoobaenya yang berperawakan seperti princess itu menyebar ke satu universitas. Untung saja orang tua Jiyong tidak mengetahuinya sampai sekarang.

“Eng, aku masih berumur 26 tahun, eomma. dan aku ingin sukses dulu lalu menikah.” Dusta Jiyong dengan wajah meyakinkan. Sebenarnya tidak sepenuhnya bohong, karena Jiyong memang ingin sukses terlebih dahulu. Tapi soal masalah menikah, ia bisa saja melamar Sandara kapanpun ia mau seandainya mereka tidak melakukan backstreet.

“Alasan bodoh! Appa tidak mau tau, jika kau tidak menerima perjodohan ini, appa akan mencoreng namamu dari daftar keluarga besar Kwon dan appa akan mengurungmu seumur hidup!” Teriak appa Jiyong kemudian meninggalkan Jiyong dan eommanya di ruang tengah.

Jiyong mendesah kasar. Tangan eommanya menyentuh bahunya membuatnya menoleh. Eommanya menatapnya dengan tatapan memohon. “Eomma harap kau menyetujui perjodohan ini. Bagaimanapun hanya kau satu-satunya harapan eomma dan appa. Eomma mohon, kau mau kan Jiyong-ah?”

Jiyong menggertakkan giginya. Mata eommanya berkaca-kaca. Jiyong tidak suka itu. Namja tampan itu menghela nafas pelan dan menatap eommanya dengan tatapan sakit.

“Aku.. Akan memikirkannya dulu.”

*

Kajja, Jiyong-ah!”

Tarikan lembut dari tangan mungil yeoja berambut hitam itu membuat Jiyong tersenyum pahit. Mungkin dia tidak akan bisa lagi melihat senyuman itu. Tidak, Jiyong tidak akan mungkn melepaskan Sandara. Ia memiliki rencana lain, dia akan mengajak Sandara keluar negeri dan menikahi yeoja itu.

“Pelan-pelan dara-ah. Ini sudah agak malam, kau belum mau pulang?” Tanya Jiyong sambil mengikuti yeojanya itu duduk didepan sebuah bianglala yang bersinar di malam hari di lotte world itu.

Sandara tidak menjawab. Ia menghirup nafas pelan sembari menikmati tangan kanannya yang digenggam tangan kiri Jiyong. Tangan hangat Jiyong membuatnya sangat nyaman. Mereka berdua menghabiskan waktu mereka di lotte world dari siang tadi sampai malam, sesuai yang Jiyong janjikan pada Sandara.

“Dee.. Sudah berapa kita menjalin hubungan ini?” Tanya Jiyong sambil menatap wajah Sandara yang berkilau diterangi kerlap-kerlip bianglala didepan mereka.

Sandara nampak berpikir, kemudian bibirnya tersenyum tipis. “4 tahun 7 bulan 2 minggu. Ada apa memang?”

Jiyong tersenyum sambil terus menatap wajah Sandara yang masih terus memandang bianglala didepannya. “Cukup lama juga.”

Sandara mengangguk pelan. Dia tahu, Jiyong sedang menatapnya sambil tersenyum. Sandara tidak mampu menatap senyuman Jiyong itu. Dia takut perasaannya akan makin besar ke Jiyong.

Bruk

Jiyong menjatuhkan dirinya didepan Sandara membuat Sandara mau tidak mau menatapnya bingung. Jiyong merogoh kantong kemeja hitam selengannya dan mengeluarkan sebuah benda lingkar kecil berwarna perak dan berkilau ketika dipantulkan oleh cahaya dari bianglala. Jiyong menyodorkan benda itu tepat dihadapan Sandara dan membuat Sandara terhenyak. Senyum diwajahnya menghilang.

“Aku tau hubungan kita yang telah terjalin 4 tahun 7 bulan 2 minggu ini sangat menyiksamu. Kau pasti ingin kenal dekat dengan orang tuaku, sama sepertiku. Kau tau, aku merasa seperti namja paling pengecut karena tidak bisa melawan kedua orang tuaku sendiri. Tapi kau perlu tau Dee, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Oleh karena itu, maukah kau menja—”

Mianhae.” Satu kata meluncur cepat menyela ungkapan Jiyong membuat namja itu tertegun. “Jeongmal mianhae, Jiyong-ah. Aku sudah tidak bisa membalas cintamu lagi mulai sekarang.”

Pluk. Cincin ditangan Jiyong terjatuh begitu saja ke tanah. Ia meraih kedua lengan Sandara dan mengguncangnya pelan berusaha membuat yeoja itu sadar jika yang dia ajak bicara itu adalah dirinya, Kwon Jiyong.

“Ka-kau bohong kan Dee? Hey Dee, apa kepalamu terbentur saat kita naik jet coaster tadi? Atau mungkin kau kebanyakan makan ice cream? Atau mu—”

Ani ji.” Sandara menyela seluruh pertanyaan cemas Jiyong. Membuat namja itu menatap Sandara dengan tatapan sulit diartikan.

“..tapi kenapa Dee?” Tanya Jiyong parau. Tangannya menggenggam kedua tangan Sandara.

Sandara memantapkan hatinya. Rasanya benar-benar menyakitkan. “Kau akan dijodohkan ji..”

Jiyong tersontak. Dari mana Sandara tau jika ia akan dijodohkan? Namun itu tidak penting, Jiyong bahkan belum menyetujui perjodohan itu. “Aku tidak akan menerimanya.” Tegas Jiyong membuat Sandara terbelalak. Satu sisi ia merasa sangat senang, disatu sisi dia merasa tidak setuju. Bagaimana bisa Jiyong tidak menerima perjodohannya sementara Sulli sudah sangat sukarela dijodohkan dengan Jiyong? Tidak, Sandara tidak mau egois.

“Kau harus menerimanya.”

Jiyong terbelalak. “Wae? Aku hanya mencintaimu Dee! Mana mungkin aku menerima perjodohan dengan yeoja yang tidak kukenal?”

“Kau mengenalnya ji.” Gumam Sandara parau. Matanya mulai berkaca-kaca. Mulai sekarang, kenyataan akan menjadi lebih pahit. Jiyong menatap Sandara dalam. “Dia Sulli. Adikku. Sulli Park.”

Jiyong terpaku. Bagaimana bisa dia baru tahu sekarang kalau dia akan dijodohkan dengan adik Sandara sendiri? Pantas saja Sandara mengetahui perjodohan itu.

“Ta-tapi kenapa aku harus menerimanya? Bukankah lebih baik kita beritahu Sulli kalau kita sebenarnya telah berpacaran dan meminta Sulli untuk menolak perjodohan ini? Aku—”

“Kumohon ji.. Sulli sangat senang dijodohkan olehmu. Ini kali pertamanya aku melihatnya tersenyum semenjak 6 bulan lalu. Kumohon.. Kebahagiaan Sulli adalah kebahagiaanku juga ji..”

Jiyong menggertakkan giginya. “Kenapa kau lebih memikirkan perasaan Sulli? Kenapa kau tidak memikirkan perasaanmu? Kenapa kau tidak memikirkan perasaanku, huh?!”

Sandara terlonjak. Untuk pertama kalinya dalam hampir 5 tahun ia mengenal Jiyong, namja lembut itu membentaknya. Bahu Sandara bergetar ketika kedua lutut Jiyong bertumpu dihadapan Sandara dan memasang wajah yang sangat menyedihkan. Sandara tau, Jiyong pasti sangat kecewa. Banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan pandangan penasaran, kasian, dan bingung. Tadinya mereka berdua sangatlah romantis, apalagi Jiyong yang hendak melamar Sandara itu telah menarik banyak perhatian pasang mata, sekarang telah berganti dengan suasana yang begitu menyakitkan.

“Kenapa Dee? Kenapa kau selalu memikirkan kebahagiaan Sulli? Kau tidak memikirkanku? Kau tidak memikirkan dirimu sendiri? Kau tidak ingin bahagia?”

Tes tes

Air mata Sandara mengalir begitu deras mendengar pertanyaan menyakitkan Jiyong. Dia ingin bahagia, dan kebahagiaannya adalah melihat orang disekitarnya bahagia walau ia akan merasa kesakitan. Jiyong merasa nafasnya tercekat melihat air mata Sandara.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakan pada Sulli kalau kita telah berpacaran selama 4 tahun lebih? Hiks jika aku bisa, aku juga tidak mau hal ini terjadi, ji.. Hiks hiks aku menyayangi Sulli, aku juga menyayangimu. Aku tidak ingin egois, kumohon mengertilah hiks..” Isak Sandara dengan bahu yang mulai bergetar.

Jiyong terkesiap. Ia menggeleng. “Kalau begitu kau membiarkan Sulli bahagia tapi kau membuatku terpuruk, Dee! Bagaimana bisa aku menikah dengan adik yeojachinguku sendiri?! Aku memikirkan kebahagiaanmu Dee!”

“OLEH KARENA ITU MENGERTILAH JI!!” Jeritan 3 oktaf Sandara membuat para pengunjung disekitar mereka menoleh penasaran. Jiyong mendesah kasar. Sandara berdiri dari duduknya diikuti oleh Jiyong. Mata namja itu mulai berkaca-kaca. Tangannya menangkup pipi chubby Sandara yang dipenuhi air mata dan memfokuskan tatapan mata yeoja itu dimatanya. Membuat banyak para pasang mata menghirup nafas penasaran dan ikut sedih mungkin.

“Kau ingin aku menerima perjodohan ini? Benarkan ini yang kau inginkan?” Lirih Jiyong lembut sambil menatap mata Sandara dalam.

Sandara terisak. Bahunya berguncang, kemudian kepalanya mengangguk pelan. Jiyong merasa benar-benar sangat hancur. Ia menarik tangannya dari wajah Sandara. Bahu namja itu mulai bergetar. Menandakan kesakitan yang amat dalam. Perlahan ia mengangguk pelan. “Arra. Jika ini yang kau inginkan. Aku akan melakukannya, karena ini adalah orang yang kucintai yang memintanya.”

Sandara semakin terisak mendengarnya. Jiyong benar-benar mencintainya, tapi kenapa ia harus menghancurkan kebahagiaan namja itu? Ia sadar, ia masih tetap egois. Namun ini adalah takdir. Takdir yang benar-benar menyakitkan.

Jiyong berjongkok mengambil cincin yang berada dibawah kaki Sandara dan kembali berdiri. Sandara hanya bisa terus terisak. Jiyong menarik tangan kanan Sandara dan menaruh cincin itu di telapak tangan lembut Sandara.

“Jaga cincin ini. Untukku.” Tes tes. Dua tetes air keluar dari mata Jiyong membasahi telapak tangan Sandara membuat yeoja itu mendongak. Matanya menemukan Jiyong yang sedang tersenyum sakit dihiasi dengan sungai kecil yang menghias pipi tampannya. Bahkan para pengunjung di lotte world itu sudah mulai terbawa, ada juga yang sudah ikut menangis melihat Sandara dan Jiyong. Itu menandakan, bahwa keduanya memang benar-benar menyedihkan.

Sandara menggenggam cincin ditangannya dan mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan cepat. “Terima kasih selama ini. Terima kasih telah menjadi namja yang sangat berarti untukku. Aku sangat sangat mencintaimu. Dan.. Meski nanti aku memohon, atau meminta kau kembali padaku, jangan pernah tinggalkan Sulli, untukku. Karena aku bukan untukmu, ji.” Ucap Sandara parau sambil menatap Jiyong dalam. Jiyong tertegun mendengarnya.

Sandara mengelus pipi lembut Jiyong untuk terakhir kalinya. Jari lentiknya menyentuh kedua mata Jiyong yang tertutup dengan lembut ketika jarinya menyentuh mata sipit Jiyong. Jiyong memegang lengan Sandara menahan agar tangan yeoja itu terus menyentuh wajahnya. Ia menikmati sentuhan halus yeoja itu. Meski mata namja itu tertutup, air matanya tetap keluar dengan pelan membuat Sandara kesakitan. Ia perlahan menarik tangannya dari wajah Jiyong dan melepas tangan Jiyong dilengannya.

Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Nan Jeongmal Saranghaeyo, Kwon Jiyong…” Bisik Sandara tulus kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan Jiyong yang masih terpaku ditempatnya. Bertepatan ketika yeoja itu berbalik, air matanya mengalir dengan sangat deras. Dengan cepat Sandara berlari meninggalkan tempat itu, ia tidak mau nantinya Jiyong akan menahannya.

Jiyong sendiri masih terpaku. Matanya menatap punggung Sandara yang menghilang. Tangannya menyentuh dadanya sendiri ketika merasakan sakit yang luar biasa ketika nafasnya terasa tercekat.

G-ghajima.. Dara-ah.. Hiks ghajima..”

Bruk—CRING!

Jiyong jatuh terduduk di tanah depan bianglala lotte world yang tiba-tiba menyala dengan ribuan kerlap-kerlip yang mewarnai lotte world sampai keluar lotte world. Jiyong menyentuh jidatnya dan menahan tangannya dilututnya lalu menangis sekerasnya. Bahunya naik turun dengan hebat. Para pengunjung di lotte world merasa iba pada Jiyong maupun Sandara. Banyak diantara pengunjung yeoja yang menonton mereka sejak tadi ikut meneteskan air matanya iba.

Jiyong terus menangis. Menangisi takdir yang dulunya sempurna sekarang malah hilang entah kemana. Yang jelas pengendali takdirnya telah pergi, membuatnya kehilangan arah. Jiyong akan melakukan apa saja, termasuk merelakan yeojanya itu pergi. Karena dia sangat sangat mencintai Sandara.

 

=I love you, but i’m not for you=

 


THE END


 

Author’s note: NO SEQUEL NO PREQUEL XD ada yang janggal kan dari ff ku ini? yup, ff ini sebenernya songfic. Tau kan lagu apa? benar sekali, lagu indonesia Rossa – Aku Bukan Untukmu, yang jadi latar belakang terbentuknya ff ini/? wkwk. Err perhatian ya ff ini aku bikin pas lagi galau jadi Cuma ff pengisi kekosongan doang jadi gaada sequel atau prequelxd ini ff juga hadiah kecil dari aku sebagai tanda maaf karena suka post lelet-_- dan buat ff coming to you chapter 6, on going yaa insha Allah bakal update soon (bahasanya nyampur indo arab english dasar yurey pea XD)

Kalo ada yang punya ide cerita yang castnya cocok buat daragon, bisa request ff oneshoot di aku selama aku bisa ngebuat ceritanyaxD.

Twitter : https://twitter.com/zakariatika

Ask.fm : https://m.ask.fm/zakariatika (kalian beruntung kalo buka ask.fm ku XD)

Aku tunggu rekomnya semoga aku bisa penuhin ide-ide kalianJ

Hengsho daragon and applers! Thankyou for readingJ

Advertisements

9 thoughts on “[SongFic] I’m Not For You

  1. huaaaa aku butuh tissue aku butuh tissue.. kenapa dara ngga mau nikah? apa dara nyesel udah nolak perjodohan itu? aku sedikit bingung kenapa dara gak nerima aja perjodohan itu? sad ending. aku kira mereka bakal kawin lari.. ide jiyong boleh juga tuh lari ke luar negeri dan nikah sama dara disana

  2. Omg . Bukan cuma mereka yg nangis aku yg bcanya juga nangis . Gilaaakk bener2 nyeseekk . Cukup ff nya aja deh kaya gini . Kenyataannya andweeee jangan sampai lah . mreka hrus bhagia slamanya .

  3. OMG sumpah ini nyesek banget bacanya 😠 harusnya dara pergi aja ama jiyong .. kenapa juga dara nolak dinikahin ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s