The Darkness of Tokyo : Epilogue

10276312_1471488663080948_1744920155_n

Author : VA Panda

Title : The Darkness of Tokyo

Genre : Horror–Dark Fantasy

Cast : Park Sandara | Kwon Jiyong | Mizuhara Kiko | Ikuta Toma | Lee Chaerin

Support Cast : Soo Ra and Soo Hye (Oc’s) | Kang Jae Soo (Oc) | All member of 2ne1 and Big Bang

Length : 5 Chapter

Disclaimer : This story is purely fresh from my brain. All cast in this fanfiction not my mine expect Oc. If you wanna be take out this story please inform me, don’t take story without permissions.

Note : Oh iya … agak kurang ngerti yah bagian Jiyong itu. Nah sebenernya itu dari akal-akalan saya aja. Jadi Jiyongkan di lepas jiwanya nah kalau dia menyayat nadinya otomatis dia bisa matikan? kalau orang bunuh diri katanya bakal masuk apa? neraka bukan? iblis ada dimana? Nah begitulah.
Untuk Sandara … yah emang ketentuannya mau gimanapun dia bakal balik ke dunia nyata, tapi di sini dia beruntung. Dia pingsan tapi nyawanya masih bisa ditolong balik lah dia ke dunia.

Sebelumnya mau sungkem dulu ke bang Bae karena buat karakter dia yang baru dateng langsung dibenci begitu.
Serius yah, gak tau kenapa pas nulis bagian epilog ini saya gak berhenti ketawa, gak lucu kok, tapi ….

.

.

.

.

.

Epilogue

Happy ending? Hmm

Paradise? Not Sure

.

.

.

.

.

Pagi masih terlalu gelap di luar sana, tetapi suara gaduh dari dalam apartemen yang biasanya sayup mulai terdengar normal layaknya ada penghuni di dalamnya. Di dalam sana, gadis dengan rambut pirang lurus itu bersiul senang tanpa memperdulikan kekasihnya yang terus mengeluh karena masih terasa mengantuk sedangkan gadis itu justru memperburuk suasana yang biasanya sunyi dengan suara musik bervolume maksimum.

“Aku masih mengantuk, Chae ..” Seungri yang bersuara serak mulai menggeliat dan semakin membungkus tubuh bertelanjang dada itu dengan selimut tebal berwarna putih tulang.

Chaerin sejenak terdiam. Setelah Seungri menelepon Jiyong seminggu yang lalu dan mendapatkan kabar kalau Jiyong menyayat nadinya sendiri walau beruntung nyawanya kembali datang karena keajaiban, Seungri langsung membulatkan tekat bahwa mereka berdua akan kembali tinggal di Seoul, tentunya setelah pekerjaan Seungri di Tokyo selesai dengan kontrak kerjanya. Chaerin sangat bersemangat untuk kembali ke Seoul dan bertemu dengan Sandara lagi, tapi kali ini Chaerin diam sembari memikirkan hal apa yang akan dilakukan pertama kali olehnya jika sampai di Seoul.

Dilain sisi, Seungri sadar akan kebisuan Chaerin. Pria itu mulai melirik kearah Chaerin dari dalam selimut yang masih menutupi seluruh tubuhnya. Disana Chaerin hanya diam merundukkan kepala sambil memainkan kukunya yang baru di cat berwarna kuning pucat.

Chaerin menghela napas dan dengan cepat melirik kearah Seungri hingga membuat pria itu terlonjak.

“Kau masih mengantuk?” Chaerin berkata lembut tanpa terdengar rasa kecewa sedikitpun, sedangkan Seungri bersungut dengan dirinya sendiri yang masih menutupi diri dengan selimut tebal. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena Chaerin yang semakin mendekat kearahanya hingga deru napas gadis itu mulai menyapu leher Seungri dari celah selimut, tapi karena Seungri ketakutan bahwa dia terus memantau Chaerin walau tubuhnya bersembunyi namun matanya tidak sama sekali.

“Ayo katakan sesuatu,” mohon Chaerin yang mulai memeluk Seungri bersama selimut tebal yang menghalangi mereka.

Seungri semakin gugup. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya untuk membalas Chaerin.

“Aku tahu ! Kau sudah bangun ! Ayo cepat mandi !” Teriakan Chaerin tepat di telinga Seungri langsung membuatnya terbangun dan langsung duduk sembari mengusap telinganya.

“Sekarang sudah benar-benar bangun, kan?” Chaerin tertawa kecil melihat tingkah kekanakan Seungri dan mendengus kesal padanya.

Gadis itu hanya memasang senyum bodoh tanpa dosa pada Seungri. Sebenarnya, Chaerin dari awal tahu bahwa Seungri menguntit di balik selimut itu. Mungkin … Seungri takut kalau dirinya akan marah dan kembali seperti semula –bersikap dingin pada Seungri, tapi bagaimana dia bisa bersikap seperti itu lagi, jika kebahagiaannya sudah sempurna. Pria mesum di sampingnya ini sungguh sempurna.

“Morning kiss,” Seungri berujar dengan parau bersama mulut yang di kerucukan, mata pandanya menutup, rambut hitamnya masih berantakan karena semalam. Tidak sadarkan seberapa besar Chaerin menahan untuk tidak kembali memangsanya dengan dada bidang telanjang itu ?

“YA !” Seungri mengumpat setelah bibirnya justru mendarat bukan pada bibir lembab Chaerin, tapi permukaannya sangat empuk. Sial, ini bantal !

Wajah Seungri memerah karena kesal. Chaerin terus menerus mengoloknya begitu melihat Seungri seperti vampire yang kehausan darah. Seungri sangat berantakan, wajahnya pucat namun berona merah, lingkaran hitam karena terus menerus menghabiskan malam dengan Chaerin hingga membuatnya kekurang tidur nampak terlihat jelas, serta rambutnya sangat kusut, sedangkan Chaerin berbanding terbalik karena gadis itu bangun lebih awal hingga bisa membersihkan diri terlebih dahulu.

“Aku hanya mau meminta jatahku, Chae …” Seungri memelas dan berusaha mengambil bantal yang dipegang Chaerin untuk menutupi wajahnya dari jangkauan Seungri.

“Ayolah~” lagi-lagi Seungri merajuk layaknya anak kecil tapi justru semakin membuat Chaerin tertawa tanpa henti dengan terus menghindari Seungri.

Chaerin terus menghindar hingga akhirnya di dapati keduanya berlari dengan Seungri yang masih menginginkan ciuman dari Chaerin. Sudah cukup lama hal ini terjadi, Seungri sangat bersyukur, Chaerin bisa kembali seperti semula. Membuat hal gila bersama Seungri.

“Chae …” Seungri terduduk lesu di lantai apartemen mereka. Tidak tahukan, Chaerin sangat membuatnya menggoda saat pria itu baru bangun ?

“Tidak lagi dan aku tidak percaya kalau kau sakit. Berapa kali kau membodohiku dengan puppy eyesmu ?” Chaerin berhenti dan mulai mendekati Seungri.

Seungri sebelumnya terlihat tertunduk seperti kehilangan energi dan saat matanya berhasil menangkap sosok Chaerin yang hanya berjarak satu langkah kecil di hadapannya, pria itu langsung menarik pergelangan Chaerin hingga gadis itu terduduk di pangkuannya sembari bergerak untuk menjauhkan diri dari pelukan Seungri yang mulai mendekatkan bibirnya.

Senyum nakal terlukis di bibir Chaerin. Gadis itu mendorong Seungri hingga membuat punggung Seungri membentur kelantai yang dingin, “satu ronde sebelum kita ke Seoul, boleh juga.” Katanya dengan mengedipkan mata, walau suaranya seperti desisan menggoda dan hampir tenggelam pada suara musik, tapi Seungri seolah tahu apa maksudnya. Seungri memulai aksinya.

***

“Apalagi yang kurang ?”

“Makanan ini masih sedikit, kau lupa sekarang kita sudah punya tambahan ? Tambahkan lagi !”

Pertanyaan yang dikatakan oleh Seunghyun sangat tidak dimengeri dari balasan Bom. Seunghyun melirik kearah Bom yang bermalasan di sofa dengan keripik jagung yang terus dia makan walau sudah menghabiskan dua bungkus bersama jus jeruk, belum lagi keripik jagung yang dipegang Bom saat ini seperti sudah habis, karena Bom menggoyangkan keripiknya dan membalikkannya juga. Meja di ruang tamu sudah kembali berceceran dengan minuman yang terjatuh juga keripik jagung yang berhamburan karena Bom membukanya dengan tidak benar. Jadi ini maksud Bom, Seunghyun mengerti maksudnya sekarang, Bom bahkan tidak mungkin mendengar suara Seunghyun, karena earphone di telinganya, sedangkan Seunghyun harus bertugas seperti pembantu di rumahnya sendiri.

“Bisa ambilkan camilan lain di kulkas?” Seunghyun langsung membulatkan matanya. Matanya menyipit dengan tidak percaya ada perlahan melihat kearah Bom yang menatapnya dengan tajam. Seunghyun langsung memalingkan matanya dan mulai bersiul kaku.

“Yeobeo !” Bom berteriak kencang dengan mengacak pinggang hingga membuat Seunghyun berkeringat dingin.

“Yeobeo !” ulang Bom sekali lagi yang mulai mengelus perut ratanya dengan tatapan merayu pada Seunghyun.

“Yeobeo-ah,” jiwa kekanakan Bom datang secepat kilat. Bom menghentakkan kakinya, menggoyangkan tubuhnya kekanan-kiri, lalu berteriak dengan mengacak rambut coklat kemerahannya yang terawat, “YA !”

Seunghyun merasakan kerikil tertahan di kerongkongannya hingga membuat pria itu sulit menelan air liurnya sendiri untuk menenangkan diri. Lagi-lagi, Seunghyun harus berhadapan dengan Bom yang ganas, memang akhir-akhir ini jiwa Bom seperti bertingkah layaknya anak kecil dengan alasan bahwa Bom tengah mengandung dan itulah yang membuatnya seperti ini. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah sejak Seunghyun mengenalnya, Bom sudah bertingkah seperti ini?

“N-ne?” dengan gugup Seunghyun menjawab. Kepalanya langsung digerakkan kesamping secara perlahan dan … BUG.

“Dari tadi aku memanggilmu, CHOI SEUNGHYUN !”

Seunghyun mengaduh kesakitan saat Bom ternyata berada tepat di depan penglihatannya dengan kepalan tangan yang siap memukul wajah tampannya … dan itu berhasil.

Pria itu tersungkur di lantai setelah Bom memukulnya dengan cukup keras, Seunghyun hilang kendali untuk menahan dirinya agar tetap berdiri tegak, terlebih kerena adanya meja kecil di sampingnya membuat landasan yang tepat pada siku-siku meja hingga dahi Seunghyun. Dahinya langsung memerah, membiru, dan membuat benjolan di sana.

“Yeobeo-ah,” Seunghyun merajuk dengan berusaha menggapai lengan Bom tanpa memperdulikan dahinya yang terasa sedikit sakit.

“Siapa yang memohon sekarang, huh?” Bom menepis lengan Seunghyun dan mulai memalingkan wajahnya dengan kesal.

“Tadi … tadi aku tidak mendengar apapun. Sungguh !”

“Apapun?” Dahi Bom berkerut. Jadi maksudnya adalah Seunghyun memang sengaja menulikan pendengarannya dengan permintaan Bom, Oh Tuhan, cari mati ternyata.

“Ma-maksudku … aku tadi terlalu fokus dengan pakaian kita yang di masukan ke dalam koper, jadi aku …” elak Seunghyun yang langsung memasukkan pakaian asal dengan bentuk bulatan.

“Kau sengaja melakukannya ! Dan sekarang, aku dan anak dalam kandunganku kelaparan !” Mata Bom menyipit, bibir bawahnya digigit, wajahnya pun sudah seperti kepiting rebus.

“A-aku akan mengambil makanan kalau begitu … tu-tunggu,” Seunghyun baru akan beranjak ke dapur, tapi langkahnya tertahan karena Bom mencengkram belakang kaus coklat tua berlengan pendek yang di kenakan Seunghyun.

“Berhenti disana !” Bom kembali berteriak saat Seunghyun berhasil melepaskan diri dari amukan Bom yang sudah mencapai puncak.

“Yeo-yeobeo,” Seunghyun berbalik sembari mengedipkan matanya.

“Kau memang cari mati, Seunghyun !”

***

Jae Soo tersenyum cerah hari ini. Matanya mungkin tidak dapat melihat seperti orang normal kebanyakan, tapi pria kecil itu berhasil menjatuhkan beberapa buah di halaman belakang rumah Kwon Jiyong. Anak itu bersama dengan kedua orangtuanya kini sudah menetap ke Seoul dan Minzy juga Daesung mendapatkan pekerjaan layak dibandingkan sewaktu mereka di Tokyo.

“Eomma …” Jae Soo berlari menyusuri lorong yang menghubungi halaman belakang dengan dapur.

“Aigo, kau memetiknya lagi?” ujar Minzy sembari mengusap rambut tebal anaknya dan mendudukkan Jae Soo di pangkuannya.

“Sandara ahjumma pasti akan senang mencicipi buah ini, bahkan aku dengan senang hati akan memetik untuknya walaupun itu malam, aku tidak perduli karena kondisi apapun itu, untuk penglihatanku selalu sama.” Saat dipangkuan Minzy, Jae Soo seolah menatap buah yang baru dia petik dengan pandangan berbinar.

Minzy hanya dapat mengusap sayang rambut Jae Soo, sedangkan luka di hatinya kembali tersiram dengan alcohol, jika dia mengingat anaknya memang tidak bisa normal seperti kebanyakan oranglain seusianya. Saat mereka di Tokyo bahkan penduduk sekitar seolah mengasingkan Jae Soo, tapi saat mengetahui anaknya memiliki kelebihan lain, mereka justru menerimanya dengan sangat baik. Jae Soo bisa hidup seperti anak normal lain dibalik kekurangannya sejak lahir, kenyataan itu selalu menjadi hiburan untuk Minzy.

“Jae Soo mau menemui Sandara ahjumma?” Minzy bertanya dengan suara teduh layaknya seorang ibu.

Jae Soo semakin merekahkan senyumnya dengan menampilkan sederet gigi putih miliknya. Pria kecil itu menganggukkan kepalanya dengan bersemangat lalu beranjak berdiri dan melompat. “Eomma mau ikut?” tepat di ambang pintu, Jae Soo berbalik memastikan Minzy untuk menengok seseorang yang berhati malaikat itu.

“Eomma akan menyusul. Tapi bisakah, Jae Soo memanggil appa untuk makan siang terlebih dahulu? Ini sudah terlalu sore tapi appa belum mau meninggalkan pekerjaannya.” Tutur Minzy dengan membalaskan senyum dari Jae Soo.

“Baik eomma, mungkin appa masih ada di depan karena Jae Soo tidak melihatnya dihalaman belakang,” kata Jae Soo sembari melangkah mundur perlahan. Senyumannya sangat persis seperti Daesung sedangkan wajahnya sangat persis seperti Minzy waktu kecil.

Setelah mengatakan itu, Jae Soo berlari kecil melewati lorong dengan semak juga bunga-bunga indah di sampingnya. Pantulan kolam ikan yang memanjang di sisi lorong terbias dari mentari yang masih bersinar hingga mengenai langit-langit lorong. Rumah Kwon Jiyong yang sekarang bukan lagi seperti dulu. Saat seminggu Jiyong di rawat di rumah sakit yang mengalami koma kurang dari satu hari, setelah kesadaran Jiyong pulih total, pria itu menghubungi orang kepercayaannya untuk mencarikan rumah baru sebagai pengganti rumah lamanya yang ternyata bekas pembuangan mayat pada jaman dulu, hingga Sandara sering melihat wajah yang menyembul dengan seringai yang menakutkan itu.

“Appa,” kepala Jae Soo menyembul dari balik pohon maple berdaun hijau yang memang sudah berada di sana. “Eomma menyuruh appa untuk makan dan meninggalkan pekerjaan appa,” sambungnya yang mulai menghampiri Daesung yang tengah menyirami tanaman di pot tanah liat yang menggantung dengan selang air yang dia pegang.

“Ne, sebentar lagi appa akan makan.” Balas Daesung tanpa mengalihkan tanaman yang membuatnya berseri akhir-akhir ini.

“Appa,” Jae Soo mengerucutkan bibir tebalnya dengan kesal, kedua tangannya di lipat di depan dada dan pria itu mulai mengeluh karena appanya yang tidak mau langsung menuruti perintahnya, jika sudah berhadapan dengan tanaman maupun kebun indah yang di kelolanya.

“Appa,” panggil Jae Soo sekali lagi karena Daesung masih enggan menatapnya.

“Appa,” Jae Soo tidak sekalipun jera, sekali lagi dia memanggil Daesung sekalipun dengan suara yang mulai mengecil.

“Ne, Jae Soo-ah.” Daesung memutar keran air, mematikannya, dan mulai berlari kearah Jae Soo yang berjarak enam langkah dari posisinya.

“Mau makan dengan appa?” Daesung bertanya dengan menggelitikkan perut Jae Soo dan mulai mengangkatnya dengan satu tangan.

Jae Soo bergerak, berusaha melepaskan tangan Daesung dari tubuhnya, “tapi aku mau menemui seseorang.” Ujarnya dan Daesung langsung mengerti saat matanya menangkap empat buah segar yang baru di petik dari halaman belakang.

“Kau mencurinya lagi, huh?”

“Aku sudah memintanya pada pohon itu, jadi appa tidak perlu mengeluh walaupun appa yang membesarkan pohon itu. Dan sekarang … tolong antarkan Jae Soo ke kamar Sandara ahjumma dan Jiyong ahjussi.”

***

Genggaman tangan Sandara yang membungkus telapak tangan Jiyong terasa sempurna. Pria itu tersenyum lemah dengan wajah yang masih sedikit pucat pasi karena peristiwa saat dia lebih memilih melakukan tindakan gila untuk Sandara. Ya, Jiyong rela untuk menyayat pergelangannya hingga darah berkucur deras tanpa ampun. Jiyong mempertaruhkan nyawanya demi Sandara. Satu-satunya jalan bagi Jiyong untuk menghentikan aksi dari Young Bae adalah memberikan informasi kepada iblis tertinggi di neraka sana. Nyawa Jiyong memang sempat melayang, pria itu sudah sempat melihat sekilas keadaan neraka yang berapi dengan suhu yang melebihi batas, layaknya sebagai perjalanan singkat dimasa komanya saat Kiko, Toma, dan para biksu lain panik karena melihat Jiyong diambang kematian, mereka semua membawaya lari kerumah sakit, sedangkan di dunia antara dua sisi cermin itu, Young Bae tengah dikutuk oleh iblis yang memberinya nyawa asalkan hidup di dunia antara cermin dua sisi.

“Mau dengar cerita lain?” Jiyong bertanya lembut sembari membelai punggung tangan Sandara lalu menciumnya untuk menghirup sebagian aroma tubuh gadisnya itu.

Sandara menganggukkan kepalanya. Gadis itu lebih terlihat segar dibandingkan Jiyong, walaupun setelah Jiyong dilarikan kerumah sakit di Tokyo, tidak lama berselang, Sandara dibawa ketempat yang sama karena gadis itupun menghabiskan banyak darah yang diakibatkan oleh Taeyang yang menginginkan darahnya untuk mengisi lingkaran setan yang Taeyang buat demi menciptakan dunia baru.

“Tadinya aku berpikir bahwa aku memang sudah menetap di surga sana, tapi … seperti ada tarikan yang memaksaku keluar dari pintu besar yang menjulang dengan penuh cahaya hingga akhirnya aku kembali bisa merasakan hawa normal bersama bebauan obat khas rumah sakit. Kau tahu? Jika tidak mengingat keadaanmu yang kecil kemungkinan masih berada di dunia, aku sama sekali tidak akan pernah menerima dengan tanpa balas dari siapapun itu yang meanrikku.” Tutur Jiyong yang langsung menatap dalam pada kedua manik mata teduh milik Sandara. Tatapan gadis itu tidak pernah sekalipun membuatnya berpaling.

“Kita mengalami hal-hal yang tidak masuk akal selama di Tokyo dan lagi disana juga kita mempertaruhkan nyawa.” Sandara membalas senyuman Jiyong. Gadis itu melepaskan genggaman Jiyong dan mulai duduk di sisi ranjang sedangkan Jiyong terbaring dengan selang infus yang masih melilit tangannya hingga membuat pria itu sedikit kesulitan untuk mendapatkan posisi nyaman, beruntung Sandara membantunya untuk menaruh bantal sebagai sandaran punggung Jiyong.

“Aku sekarang sudah mempercayai hal aneh yang mulanya sangat aku anggap tabu,” Jiyong masih terus menatap Sandara dengan pandangan berseri-seri. Lengan kanannya yang bebas berusaha menarik pinggang ramping Sandara dan memposisikan kepala Sandara di bahunya.

“Ji … sebenarnya hingga saat ini, aku belum bisa mempercayai bahwa aku berada disini bersamamu. Di dunia nyata ini, tanpa hal gila yang pernah kita lihat dalam dunia di cermin kuno itu.” Balas Sandara yang mendekatkan dirinya pada Jiyong, sedangkan Jiyong mengusap lembut rambut Sandara dengan sayang.

“Jangan pernah memikirkan hal bodoh semacam itu. Kau sudah berada di sini bersamaku dan Soo Hye juga Soo Ra sudah menemukan tempat yang seharusnya.”

Jiyong menangkupkan wajah Sandara yang mulanya tertunduk menatap kebawah hingg keduanya sekarang bertatapan. Hanya dengan tatapan, Jiyong dan Sandara seolah saling memancarkan rasa cintanya. Mereka berdua saling mencintai, sudah sejak lama hal itu terjadi, tapi satu hal yang membuat hal ini berbeda adalah … seluruh orang sudah tahu dimana letak Sandara bagi Jiyong. Posisinya tidak perna sedikitpun bergeser. Sandara masih berada dada kiri Jiyong yang selalu berdetak setiap detik hingga semakin cepat jika Sandara berada sangat dekat bagi Jiyong. Perasaan itu tidak pernah berbeda, dan tidak pernah menghilang.

“Aku sangat mencintai mereka, Ji.” Senyuman Sandara terlihat bahagia tapi ras kecewa tidak luput dari penyelisikan Jiyong.

“Aku juga, Dara … tapi mereka masih bisa memantau kita dari tempat mereka saat ini. Kau hanya perlu memperlihatkan kebahagiaanmu tanpa sedikitpun kesedihan,” kedua ibu jari Jiyong menarik kedua sisi bibir Sandara untuk memaksa gadis itu tersenyum. “Maka perlihatkan senyumanmu,” sambungnya dan senyuman Sandara kian merekah.

Seperti biasanya, senyuman Sandara layaknya mantra yang dirasakan Jiyong bisa menghentikan waktu. Hanya waktu yang mereka miliki tanpa siapapun yang bisa mengusiknya. Wajah jelita Sandara menjadikan Jiyong buta untuk melihat pada sosok lain diluar sana. Tidak ada siapapun yang bisa menggantikan Sandara untuknya. Gadis itu sempurna dan Jiyong beruntung menemukan gadis itu dari ribuan gadis lain di Korea.

“Dara …” Jiyong berbisik lembut hingga deru napasnya menyapu keseluruhan wajah Sandara yang terperanjat akan lengan kiri Jiyong yang sudah berada di belakang lehernya, membelainya lembut hingga mulai mencondongkan sedikit tubuhnya.

“Dara …” Mata Sandara tertutup rapat saat Jiyong menutup kedua matanya juga. Jarak keduanya semakin dekat, aroma harum napas Jiyong memasuki rongga hidung Sandara, begitu pula yang dirasakan oleh Jiyong.

Sandara melenguh saat bibir Jiyong menyapu bibirnya. Lidah Jiyong mengambil alih untuk menjilat bibir Sandara secara perlahan dan lembut. Ciuman mereka hanya berupa pelampiasan rindu bersama keegoisan mereka untuk saling memiliki satu sama lain. Jiyong mahir melakukan hal ini dan Sandara banyak belajar darinya. Ciuman ini sangat berbeda dari biasanya, sekujur tubuh Sandara tetap masih bergetar dan geli saat Jiyong mengusap punggungnya dan mulai meraba pada dada Sandara hingga bibir Jiyong mulai mendarat pada leher jenjang Sandara setelah pria itu memerlukan hal lain selain lembabnya bibir delima berwarna merah penuh milik Sandara.

“Jiyong,” Sandara memanggil nama kekasihnya dengan malu. Bibir bawahnya dia gigit dengan gugup sedangkan kedua jemarinya justru memijat lembut kepala Jiyong diantara sela rambut Jiyong.

“Ji,” lagi-lagi Sandara memanggil nama Jiyong tapi dirinya justru seakan menginginkan lebih dari ini. Sandara merindukan kehangatan yang diberikan Jiyong. Semenjak pria itu tersibukkan dengan film yang ditanganinya, Sandara lebih sedikit menghabiskan waktu dirumah bersama Jiyong.

“Aigo … sepertinya aku masuk pada saat yang tidak tepat.” Seungri mendesis saat pria itu mengintip pada celah pintu yang dibukanya. Mulanya, Seungri hanya tidak bermaksud mengganggu Jiyong yang mungkin sedang beristirahat, tapi nyatanya yang di dapat adalah Jiyong yang sedang bercumbu dengan Sandara.

Seungri kembali menutup pintu dengan hati-hati. Matanya terpejam bersama kerutan di hidungnya karena ketakutan. Pria itu berbalik perlahan dan berhadapan langsung dengan wajah bingung Chaerin yang terlihat agak kesal karena Seungri melarangnya untuk langsung membuka pintu dan langsung berteriak ataupun memukul Jiyong karena membuat Sandara sempat menghabiskan waktu di rumah sakit, walaupun tidak selama Jiyong.

“YA ! Apa maksud wajahmu, huh?” geram Chaerin yang langsung dipeluk Seungri untuk mundur agar suara Chaerin tidak merusak momen terbaik yang Jiyong buat.

“Di dalam sana …” Seungri baru akan memberitahukan pemandangan yang dia lihat namun terhenti saat telinganya yang tajam menangkap suara ujung sepatu hak tingga yang sedikit menggema.

“Chaerin-ah !” Bom berteriak melengking dan berlari dengan cepat kearah Chaerin tanpa memperdulikan Seunghyun yang terlihat kewalahan dengan berbagai macam bawaan yang dibawa Bom. Koper, tas ransel, dan juga kantung plastic dengan bawaan makanan ringan yang baru di beli Bom saat dia memaksa Seunghyun untuk menepikan mobil ke supermarket.

“Bom Eonni?” Bisik Chaerin dengan wajah semringah kearah Seungri untuk memastikan hal yang dilihatnya bukan ilusi.

“Ne, siapa lagi wanita yang berani menyiksa pria berwajah garang itu !” tunjuk Seungri malas tepat kearah Seunghyun yang dibalas tatapan murka dari mata Seunghyun.

“Appa … aku mendengar suara berisik, apa di sini kedatangan banyak tamu?” Tanya Jae Soo yang dibalas anggukan oleh Daesung karena beberapa tamu itu memang sudah datang dan menunggu cukup lama di ruang tamu, sedangkan Jae Soo sama sekali belum melewati ruang tamu, karena bocah itu memilih jalan di sisi rumah bagian luar.

“Sebentar lagi ada pesta kecil,” balas Daesung memberikan senyuman manis dan melirik kearah anaknya yang masih merangkul lehernya dibalik punggung Daesung.

***

Sandara meneguk minuman dingin yang baru diberikan oleh Minzy hanya dengan sekali teguk. Wajahnya kini merona parah setelah Bom membuka langsung pintu kamar Sandara dan Jiyong yang sedang menyibukkan dirinya dengan perasaan rindu mereka. Rambut ikal milik Sandara sedikit membantu untuk menutupi sebelah matanya agar menghindari tatapan jahil dari Chaerin maupun Bom. Kedua gadis itu terus menatap setiap gerak-gerik Sandara yang salah tingkah sembari duduk dipinggir kolam renang dengan mengayun-ayunkan kakinya di dalam kolam hingga mambuat gelombang kecil karenanya.

“Dara … ayolah, tidak perlu bertingkah semacam remaja yang baru tertangkap basah berciuman dengan seorang pria.” Gurau Bom yang mendapatkan tatapan tajam dari Chaerin.

“Apa maksudmu, Eonni.” Chaerin mendelik pada Bom. “Kumohon berhenti berkomentar karena terakhir yang aku dengar dari komentarmu membuat aku dan Dara eonni bermusuhan. Jangan pernah mengarah tentang permainan di ra-” Seungri yang datang dari belakang Chaerin secara tiba-tiba langsung membungkam mulut Chaerin sebelum gadisnya itu mengatakan kata-kata yang bisa membuat Seungri malu jika mengingat peristiwa tadi pagi sebelum keberangkatan mereka.

Sedikit dorongan dari tubuh kekar Seungri mengakibatkan tubuh Chaerin terjatuh kedalam kolam bersama Seungri yang ditarik paksa oleh Chaerin saat dia berusaha membantu Chaerin mengingat gadis itu tidak mahir berenang di kolam yang melebihi tinggi badannya.

“Sial !” umpat Bom yang menghapus cipratan air dari kolam pada wajahnya. Bom menoleh kearah Seunghyun dengan mata yang memohon dan gadis itu langsung bertingkah seperti anak kecil dengan mengelus perut ratanya. Sebenarnya, Seunghyun yakin kalau di dalam perut Bom tidak berisi apapun selain makanan yang terus masuk dari mulutnya karena Bom terus mengeluh selama hampir enam bulan belakangan ini dan itu tidak pernah berubah sedikitpun bahkan perutnya tidak pernah membuncit untuk meyakinkan Seunghyun.

“Yeobeo-ah,” ujar Bom dengan manja, lengannya dikibaskan untuk memberitahukan kepada Seunghyun agar menghampirinya.

Sikap kekanakan yang ditunjukan Bom secara natural ini selalu sukses membuat Seunghyun meleleh dari karakter tegas yang terpahat di wajah garangnya. Pria itu memang bisa ditakuti oleh siapapun, mengingat dia adalah salah satu sutradara yang sama-sama memulai pekerjaan itu bersama Jiyong bahkan film Jiyong yang baru setengah jalan dilanjutkan oleh Seunghyun dengan tangan terbuka karena Jiyong tidak dapat melanjutkan syuting karena kondisinya sedangkan film itu harus selesai pertengahan bulan di awal musim panas. Jiyong amat beruntung memiliki Seunghyun.

“Siapa yang melakukan ini padamu, huh?” Tegas Seunghyun dengan suara beratnya. “Mungkin aku bisa memenggal kepalanya,” sambungnya menatap tajam dengan sinar laser kearah Seungri yang kesulitan menelan ludahnya sendiri.

Suasana sangat menyenangkan. Sinar matahari yang masuk dari dahan juga ranting pohon yang tinggi membuat kenyamanan tersendiri bagi rumah baru Jiyong dan Sandara. Semua musibah dan hal yang tidak akan pernah mereka harapkan hadir lagi untuk menghantui mereka, diharapkan bisa berjalan dengan lancar, terlebih adanya kehadiran Kang Jae Soo dan kedua orangtuanya yang sebenarnya sudah dianggap sebagai saudara bagi Sandara maupun Jiyong akibat pertemuan mereka di rumah sakit saat Jae Soo terus menunggu di ruangan rawat inap Sandara seakan meyakinkan bahwa hari yang gelap itu sudah musnah.

“Dara,” Jiyong yang berdiri dengan membawa selang infus pada bantuan pada benda besi yang di dorongnya mulai berjalan mendekati Sandara yang masih terduduk diam menatap kekonyolan kedua pasang orang disamping maupun dihadapannya sedangkan Jae Soo justru ikut bermain air di kolam renang dan Minzy juga Daesung hanya memantau anaknya untuk berusaha menyibukkan diri agar Jiyong dan Sandara memiliki privasi mereka sendiri.

Tanpa membalas sapaan Jiyong, Sandara langsung berdiri, membersihkan dedaunan kering yang ada di dress selututnya. Senyum hangat langsung ditujukan oleh Sandara untuk kekasihnya itu.

“Kau memerlukan bantuan?” Tanya Sandara yang mulai menaruh lengan kiri Jiyong untuk merangkul bahunya.

“Aku hanya merasa tidak terlihat disini.” Gurau Jiyong sebelum mengecut pelipis Sandara dengan cepat.

“Aku memang melupakanmu, Ji.” Balas Sandara hingga membuat Jiyong berhenti karenanya.

“Serius?” dahi Jiyong berlipat dengan pipi yang mengembung dengan dibuat-buat.

“Tapi jika kau juga melupakanku,” sambung Sandara. Gadis itu menjinjitkan kakinya untuk menggapai hidung Jiyong dengan hidungnya yang saling ditempelkan.

“Dara,” kali ini nada suara Jiyong terdengar risau. Jiyong ingat akan suatu hal yang membuatnya otaknya kembali memutar kilasan kejadian saat dia ikut masuk kedalam cermin antara dua sisi itu. “Taeyang..” sambung Jiyong dengan ragu.

Sandara hanya menundukkan kepalanya menatap lantai berbatu berwarna abu-abu gelap. Gadis itu menghela napas dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menatap lekat manik mata coklat Jiyong. “Dia bukan Taeyang yang aku kenal,” katanya dengan lesu.

“Baiklah aku tidak akan membahas ini,” Jiyong menyadari perubahan Sandara dan dia tahu ada rasa sesal karena membuat Taeyang sepenuhnya beralih menjadi iblis, tapi jika hal itu tidak terjadi maka banyak pihak juga yang akan di rugikan bila Taeyang berhasil menciptakan dunia baru.

“Ayo kita bergabung dengan yang lain,” Sandara kembali bersemangat dengan menarik lengan Jiyong untuk bergabung dengan yang lain tapi Jiyong menarik pergelangan tangannya.

“Aku sudah mempersiapkan untuk pernikahan kita.” Mata Sandara membulat dengan sempurna. Otaknya terasa sulit untuk meresapi apa yang Jiyong katakana padanya. “Bulan depan, orangtuaku akan datang ke Seoul dan mereka sudah memberikan restunya.”

Air mata sedikit mengalir dari pelupuk mata Sandara dan gadis itu langsung menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Jiyong. Mulutnya tidak bisa berucap apapun tapi hatinya jelas mencolos dengan riang.

“Su-sungguh?” Tanya Sandara tergagap.

“Lebih dari kata yang kau katakan,” kata Jiyong mengalungkan kalung berlian di leher jenjang Sandara. “Toma membantuku untuk mencarikan kalung,” sambung Jiyong begitu menyadari Sandara terkagum dengan perhiasan itu.

“Pilihannya sangat hebat,” Sandara berbalik dengan memperlihatkan ibu jarinya pada Jiyong.

“Kau terkadang seperti anak kecil,” telunjuk Jiyong menyetuh hidung Sandara hingga membuat gadis itu mengerutkan hidung dan juga keningnya. “Doa yang selalu aku panjatkan adalah untuk selalu bisa melihat senyumanmu dan sekarang aku tidak akan pernah membuatmu berpaling dari siapapun.”

“Sudah selesai dengan ceramahmu? Mereka sangat bersemangat hari ini, ayo kita ikut dengan mereka.” Ujar Sandara melihat pada orang-orang yang sudah berada di dalam kolam berenang.

“Tapi aku …”

“Baiklah. Aku akan menemani berjemur, bagaimana?”

“Ne,” Jiyong bersemangat. Tangannya mulai menghimpit tangan Sandara dan bersandar dibahu Sandara dengan terus mengelus-elus pipi Sandara.

 

 

The End

Leave your comment dengan pendapat kalian.
Rencana mau buat ff series, mending yang mana :
1. Drama – comedy
2. Psychological horror
Tapi saya gak akan rajin ngepost soalnya ada ff oranglain juga yang mau saya lanjut hihi

<<back 

Advertisements

46 thoughts on “The Darkness of Tokyo : Epilogue

  1. Akhirnya happy ending juga 😀
    Semuanya hidup bahagia tapi sayangnya cuma taeyang yang jahat jadi gak bisa kembali kedunia manusia dan hrus mendekam dineraka deh : ‘(
    Klo aku pilih nomer 2 karena aku suka cerita berbau horor walaupun aku orangnya penakut
    Hahaha. 😀

  2. Syukur deh happy ending, sempet ngira sad tadinya soalnya ji yong oppa kan part 5 dia nyayat nadinya bunuh diri, tapi syukur deh cuma koma satu hari…semua ngumpul kecuali taeyang oppa, aigoo

  3. akhir.a happy ending ..
    aqu sukka .ff nya bagus unie .
    bom unie kejam pisan kn kasian tabi oppa .
    etsssa..jgn blang panda oppa sma cl unie dah nglakuin “itu”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s