Gonna Get Better [Chap. 3]

untitled-1

Author : rmbintang

Category : Romance

Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

Jiyong perlahan mengerutkan kedua matanya saat dia merasakan sesuatu yang berat menindih lengan kanannya, dengan perlahan dia mulai membuka matanya dan baru benar-benar sadar setelah menghirup aroma shampo yang langsung masuk menyeruap ke dalam indra penciumannya.

Matanya langsung dibuka dengan lebar ketika sadar bahwa sebuah kepala kini telah berada tepat di depan matanya, menindih lengan kanannya yang terasa berat. Selama beberapa saat dia bingung namun beberapa detik kemudian sudut bibirnya tiba-tiba melengkungkan sebuah senyuman saat dia sadar bahwa itu adalah kepada Dara yang semalam tidur di sampingnya.

Jiyong menggeserkan sedikit tubuhnya sehingga bisa memberikan sedikit jarak pada tubuh mereka yang tadi terasa sangat dekat. Dia sedikit bingung karena tiba-tiba posisi mereka bisa sangat dekat seperti itu namun dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.

Jiyong mulai memandangi Dara lagi, mengagumi kecantikan yang selalu dipancarkan oleh wanita itu bahkan saat dirinya hanya sedang menutup mata dengan damai seperti ini. Tadi malam sebenarnya Jiyong diam-diam memandangi gadis itu ketika Dara sudah tersesat di dalam dunia mimpi dan Jiyong merasa belum cukup jadi kali ini dia akan kembali memandang Dara, sampai wanita itu terjaga dari tidurnya.

Jiyong mengangkat satu tangannya yang bebas kemudian menyingkap helaian rambut Dara yang menghalangi wajah cantik wanita itu. Jiyong ingin memandangnya tanpa ada sedikit pun penghalang. Jiyong tersenyum ketika mendengar Dara menggumamkan sesuatu, dia tidak tahu apa yang wanita itu ucapkan tapi hal itu tiba-tiba berhasil membuat dadanya menjadi hangat.

Jiyong terus menatap pada gadis cantik yang hanya bisa dia kagumi dengan diam-diam itu, matanya tidak pernah lepas dari lekuk wajah sempurna Dara, hidung mancungnya, lalu perlahan turun pada bibir mungil Dara yang kini sedikit terbuka.

Jiyong menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan keinginan untuk mencium bibir mungil itu, bibir yang sudah sejak lama ingin dia rasakan, bibir yang tadi malam tersenyum ketika dia mengatakan bahwa Jiyong hanya akan bercinta dengan wanita yang ingin dia nikahi. Tadi malam dengan matanya dia mengirimkan isyarat bahwa wanita yang ingin dia nikahi itu berada tepat di hadapannya namun Dara sepertinya tidak sadar atau bahkan tidak peduli.

‘Cium dia ketika dia masih tidur!’ Jiyong mendengar suara iblis yang tadi malam terus berteriak di dalam kepalanya. Jiyong mendengarnya lagi namun dia tetap berusaha mengabaikan suara itu seperti yang dia lakukan tadi malam. Tadi malam suara itu juga terus berteriak di kepalanya. Terus berteriak dan menyuruh Jiyong untuk menyentuh Dara ketika dia punya kesempatan karena kesempatan seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

‘Cium dia, bodoh!’ Jiyong menutup matanya ketika kembali mendengar suara iblis dari dalam dirinya. Dan kali ini sepertinya Jiyong sedikit terpengaruh dengan suara itu membuatnya sedikit goyah dan tidak mampu lagi menahan keinginan untuk merasakan bibir mungil itu.

‘Tapi bagaimana jika dia bangun lalu marah?’ Tanyanya pada diri sendiri.

‘Hanya ciuman singkat, dia tidak akan sadar!’ Suara lain kembali terdengar di kepalanya. Jiyong mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menjernihkan pikiran kotor yang terus mengganggunya dan hal itu malam membuatnya semakin ingin untuk mencium Dara.

Arasseo, hanya sebuah kecupan singkat. Dia tidak akan sadar!” Ujarnya pelan setelah beberapa lama berdebat dengan dirinya sendiri.

Jiyong menghembuskan napas pelan ketika tekadnya sudah bulat. Dia mendekatkan kepalanya dengan sangat perlahan supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Dara terbangun. Tinggal beberapa inchi lagi bibirnya bisa menyentuh bibir dari wanita yang paling dia kagumi itu namun tiba-tiba Jiyong melihat mata Dara yang mulai berkedut menandakan bahwa Dara akan terbangun hanya dalam waktu beberapa detik lagi.

Dengan panik Jiyong langsung memundurkan kembali kepalanya lalu menutup mata, pura-pura masih tertidur. Jiyong menunggu dengan was-was, takut jika Dara menyadari apa yang baru saja akan dia lakukan kepadanya.

“Aishhh kenapa dia memelukku?” Jiyong yang masih menutup mata mendengar suara serak Dara lalu beberapa detik kemudian dia merasakan Dara mendorong dadanya dengan sedikit keras menyebabkan Jiyong langsung tersungkur dari tempat tidur.

“Ya!” Teriak Jiyong dengan kesel sambil bangun dari lantai. Dia memegang pinggangnya yang sakit akibat benturan yang sedikit keras dengan lantai. “Apa kau mencoba untuk membunuhku pagi-pagi seperti ini huh?” Tanya Jiyong sambil melotot kepada Dara.

“Aku sudah bilang akan menendangmu jika kau berani untuk menyentuhku.” Kata Dara yang sekarang sedang menatap Jiyong dengan garang.

‘Apa mungkin dia tahu bahwa tadi aku akan menciumnya?’ Batin Jiyong.

“Aku tidak menyentuhmu!” Ujar Jiyong sambil terbata. ‘Belum karena kau keburu bangun!’ Sambungnya di dalam hati tapi dia tidak menyuarakan apa yang dia pikirkan kepada wanita itu.

“Kau melewati batasnya dan kau memelukku saat aku tidur!” Ujar Dara yang masih menatap Jiyong dengan galak.

‘Oh jadi itu maksudnya? Jadi dia tidak sadar bahwa tadi aku hampir akan menciumnya?’ Tanyanya lagi pada diri sendiri dengan perasaan sedikit lega. Jiyong sedikit berdehem sambil terus menatap Dara kemudian dia duduk di pinggiran ranjang.

“Baiklah kita luruskan masalah ini.” Ujar Jiyong tanpa melepaskan tatapannya pada mata sahabatnya itu. “Lihat itu!” Jiyong kini menunjuk guling yang berada tepat di belakang Dara. Dara berbalik lalu melihat guling yang Jiyong tunjuk.

“Ada apa dengan guling itu?”

“Guling itu berada tepat di belakangmu.” Kata Jiyong dengan tenang. Dara hanya menatapnya lalu menaikkan satu alis matanya karena belum bisa menangkap maksud dari perkataan Jiyong. Jiyong kemudian menghembuskan napas panjang sebelum menjelaskan maksud yang sebenarnya kepada Dara. “Jadi maksudku adalah yang melewati batas itu jelas bukan aku.” Katanya kini sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Kau yang melewati batas yang kau buat sendiri.” Tambahnya.

Dara langsung menatapnya dengan bingung lalu mulai mencerna apa yang Jiyong katakan sambil menatap Jiyong dan guling itu secara bergantian. Jiyong sedikit tersenyum melihat tingkah dari sahabatnya itu. “Dan kau yang memelukku, kau bahkan menjadikan lenganku sebagai bantai sehingga sekarang tanganku terasa kebas.” Ujarnya lagi sambil pura-pura merasakan sakit pada lengan kanannya. Dara hanya terus diam, matanya melihat ke atas langit-langit ketika dia sadar bahwa apa yang Jiyong katakan memang benar. Ketika dia bangun dia memang yang memeluk Jiyong, bukan Jiyong yang memeluknya. Jiyong sedikit tersenyum ketika melihat Dara yang tiba-tiba menghindari tatapannya. “Kau sudah mengerti maksudku?” Tanya Jiyong untuk menggoda Dara tapi Dara masih tidak menatap pada Jiyong, sepertinya Dara malu karena telah salah paham pada Jiyong dan merasa bersalah karena telah mendorong tubuhnya sampai jatuh.

Mianhae.” Katanya tanpa berani menatap mata Jiyong  namun Jiyong tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas Dara.  Setelah tidak ada jawaban dari Jiyong Dara langsung berdehem lalu bangkit dari posisinya.

“Kau mau kemana?” Tanya Jiyong yang membuat Dara yang akan berjalan ke kamar mandi langsung berhenti kemudian kembali menatap kepadanya. “Kemari!” Ujar Jiyong sambil melambaikan tangannya menyuruh Dara untuk mendekat, namun Dara hanya menggelengkan kepalanya.

“Untuk apa?”

“Sesuai dengan peraturan yang kau buat sendiri. Yang melewati batasnya harus ditendang.” Ujarnya sambil mengedikkan bahu. “Lagipula aku harus membalasmu karena telah mendorongku sampai aku jatuh ke lantai. Kau juga harus merasakan sakitnya!” Katanya lagi yang berhasil membuat Dara sedikit terkesiap.

“Ya Jiyong-ah!”

Wae? Mwo?” Dara menggelengkan kepalanya sambil menatap Jiyong dengan tatapan mengiba. ‘itu sangat cute’ batinnya namun Jiyong berusaha untuk tidak tersenyum dan terus menatap Dara dengan tatapan tidak peduli. “Aturan tetap aturan!” Ujar Jiyong sambil mengeluarkan sebuah smirk yang membuat Dara meringis kemudian dengan kekuatan ninja wanita itu langsung berlari ke dalam kamar mandi. Jiyong langsung tertawa setelah melihat tampang Dara ketika dia menggodanya barusan.

‘Sepertinya aku harus menciummu lain kali’ Batinnya ditengah-tengah tawa yang dia keluarkan.

Sandara Pov

“Berhentilah tertawa, Jiyong-ah!” Aku mengalihkan pandanganku kepada Jiyong yang sedang memakai dasi sambil terus tertawa. Dia terus tertawa sejak aku berlutut di hadapannya  lalu memohon kepadanya supaya mau memaafkan kesalahanku pagi ini.

Aku sedikit terkejut saat aku bangun tadi, aku bangun dalam pelukan Jiyong dengan tanganku yang memeluk tubuhnya, sepertinya aku mengira bahwa Jiyong adalah boneka teddy bear yang selalu aku peluk ketika aku tidur namun aku yang belum bisa mencerna apa yang terjadi langsung mendorong tubuhnya hingga dia akhirnya jatuh ke lantai karena aku mengira dia telah menyentuh dan memelukku ketika aku sedang tidur. Dan setelah mencerna apa yang sebenarnya terjadi ternyata aku lah yang salah di sini.

Dia sedikit marah dan terus mengatakan akan menuntutku jika dia mengalami luka parah, belum lagi dia terus mengancam akan menendangku karena telah melewati batas yang aku buat sendiri.

Aku tahu dia hanya menggodaku dan tidak mungkin melakukan apa yang dia katakan tapi aku tetap merasa bersalah karena telah salah paham dan menyakitinya saat mendorongnya jadi aku terus mengatakan maaf kepadanya namun si brengsek ini malah menyuruhku untuk berlutut di depannya. Aku yang tidak punya pilihan lain langsung melakukan itu sambil terus meminta maaf dan sialan karena si brengsek ini ternyata merekamnya tanpa aku ketahui.

“Kapan lagi aku bisa melihat Dara yang memiliki harga diri yang sangat tinggi setinggi Sky Tree rela berlutut di hadapanku.” Katanya bangga sambil terus tertawa. “Ini sangat langka Dara makanya aku tertawa karena aku begitu bahagia karena bisa menggodamu pagi-pagi seperti ini.” Ujarnya lagi kemudian tawanya kembali pecah. Aku menatapnya dengan kesal selama beberapa saat namun sepertinya si brengsek ini tidak peduli dengan kekesalanku, aku akhirnya hanya mendesah pasrah.

“Baiklah tertawa saja sampai kau puas. Anggap saja hari ini aku sedang baik hati.” Kataku akhirnya karena lelah memintanya untuk diam. Aku kemudian mengambil sebuah goodie bag dari dalam koper lalu mengambil baju ganti yang aku masukkan ke dalam goodie bag yang tadi aku ambil.

“Kau bawa baju ganti ke kantor?” Aku mendengar suara Jiyong kemudian langsung mengangguk untuk menjawabnya.

“Tidak mungkin aku memakai baju ini saat aku berjalan-jalan nanti.” Kataku sambil menunjuk baju yang hari ini aku kenakan untuk bekerja. Blouse dan blezer yang sama sekali tidak cocok untuk acara jalan-jalanku nanti. “Lagipula aku tidak ingin membuang waktu dengan kembali dulu ke hotel ini.” Kataku memberikan alasan lain. Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada Jiyong setelah mengingat percakapan kami kemarin. Apakah dia benar-benar tidak akan menemaniku hanya karena wanita Jepang itu? “Jiyong-ah akan sangat menyedihkan jika aku sendirian nanti.” Aku melihat Jiyong mengalihkan pandangannya kepadaku lalu mengerutkan dahinya. Mungkin bingung dengan perkataanku yang tiba-tiba. “Maksudku kau harus menemaniku. Kau bisa mengajak wanita Jepang itu pergi lain kali jika kau kembali ke Tokyo.”

“Tapi aku sudah berjanji kepadanya.” Kata Jiyong setelah mengerti apa maksudku. “Lagipula kau akan pergi ke mana huh?”

“Kau akan ikut jika aku memberitahumu ke mana aku akan pergi?”

“Entahlah aku juga tidak yakin. Kau tahu aku paling tidak suka membatalkan janji yang telah aku buat sendiri.”

“Ya sudah jika kau memang tidak bisa.” Kataku akhirnya sambil sedikit cemberut. Aku sedikit kecewa sebenarnya karena Jiyong lebih memilih pergi dengan wanita itu daripada denganku. Tapi dia kan playboy, sudah pasti dia akan lebih memilih wanita itu daripada aku yang hanya seorang sahabat baginya. Aku sepertinya terlalu berharap banyak dari si brengsek ini.

****

“Dara-ah aku ingin ke kamar mandi.” Aku mendengar Jiyong mengatakan itu untuk kesekian kalinya.

“Kau bisa ke kamar mandi setelah menyelesaikan pekerjaan kita.” Kataku tanpa menatapnya. Aku hanya fokus pada dokumen yang sekarang sedang aku kerjakan.

“Aku juga lapar. Lebih baik kita makan dulu lalu nanti kita selesaikan ini, pekerjaan kita juga sudah tinggal sedikit lagi.” Aku mengalihkan perhatianku dari dokumen itu kemudian menatap Jiyong.

“Pekerjaan kita memang tinggal sedikit lagi tapi ini sudah hampir jam dua sore, kita sudah banyak kehabisan waktu dan jelas aku kehilangan banyak waktu untuk acaraku hari ini.” Aku langsung melanjutkan pekerjaanku setelah selesai berbicara dengan Jiyong.

“Kau bisa belanja di Korea ketika kita pulang, kau bisa belanja sepuasnya dan aku janji akan menemanimu bahkan aku tidak akan mengeluh jika semua engsel tanganku patah karena membawakan semua tas belanjaanmu.” Kata Jiyong lagi. “Kita makan dulu, eoh?”

“Jiyong aku sedang berkonsentrasi di sini dan kau sama sekali tidak membantu.” Kataku tanpa melihatnya. “Pergi saja jika kau sudah tidak bisa menahan rasa lapar. Aku akan di sini sampai pekerjaan kita selesai.” Kataku lagi. Aku mendengar suara desahan Jiyong namun dia tidak membalas apa yang aku katakan. Aku sedikit meliriknya kemudian tersenyum ketika melihat Jiyong melanjutkan pekerjaannya. Kami akhirnya bekerja dengan keheningan.

“Dara-ah pergilah!” Aku langsung menaikkan tatapanku ketika tiba-tiba mendengar suara Jiyong yang ternyata kini telah berdiri di depan mejaku. Dia kemudian mengambil berkas yang sedang aku pegang. “Aku akan menyelesaikan sisanya. Kau pergi saja dan bersenang-senang!”

“Kau marah?” Aku bertanya sambil memicingkan mata kearahnya. Aku melihat dia menggelengkan kepalanya.

“Kau bilang kau kehilangan banyak waktu untuk acaramu.” Aku menganggukkan kepalaku, setuju dengan apa yang dia katakan. “Pergilah!”

“Tapi pekerjaannya?”

“Akan aku lakukan sendiri.”

“Tapi bukannya kau punya acara sendiri?”

“Aku akan menyelesaikan pekerjaan kita secepatnya, tenang saja!”

“Tidak apa-apa?” Tanyaku dengan sedikit ragu. Jiyong kembali menggelengkan kepalanya.

“Kau datang ke sini untuk bersenang-senang. Jadi pergilah!” Aku tersenyum setelah mendengar apa yang Jiyong katakan lalu menganggukkan kepalaku dan setelah itu aku melihat Jiyong ikut tersenyum kepadaku. Aku bahagia karena memiliki sahabat yang sangat pengertian seperti Jiyong.

Gomawo.” Kataku sambil berdiri lalu mengambil baju ganti kemudian langsung pergi menuju rest room untuk berganti baju. Aku kembali ke ruangan kami dengan pakaian yang telah aku ganti. Aku melihat Jiyong sedang melanjutkan pekerjaan kami. “Jiyong-ah aku akan langsung kembali ke hotel setelah acaraku selesai.” Jiyong langsung mengalihkan pandangannya kearahku lalu menganggukkan kepalanya. Aku mengambil tas milikku lalu memakainya dan akan langsung pergi namun tiba-tiba Jiyong memanggilku.

“Dara!”

“Huh?” Kataku sambil berbalik untuk menatapnya.

“Jangan lupa kau belum makan.” Ujar Jiyong ketika aku menatapnya. “Aku tidak ingin kau tiba-tiba sakit ketika kita kembali ke Korea. Nenekmu akan membunuhku jika kau jatuh sakit jadi belilah makan di perjalanan.” Tambahnya.

Aku tersenyum kemudian kembali menganggukkan kepalaku kearahnya. Aku kemudian kembali berbalik setelah berjanji bahwa aku akan makan sebelum pergi ke tempat yang akan aku datangi.

Sepanjang lorong kantor ini aku terus tersenyum dan tiba-tiba saja aku merasakan dadaku menghangat ketika mengingat betapa baiknya Jiyong kepadaku, aku sangat bersyukur karena memiliki seseorang yang selalu mengkhawatirkanku. Jiyong sangat adorable dan aku yakin aku pasti akan jatuh cinta kepadanya jika aku tidak tahu bahwa dia seorang playboy. Aku langsung menghentikan senyumanku karena pikiranku barusan. What? Dara apa yang kau pikirkan barusan? Buang jauh pikiran untuk jatuh cinta pada si brengsek itu!!!!

***

Jiyong menghembuskan napas lega ketika akhirnya dia berhasil menyelesaikan sisa pekerjaannya dengan Dara. Pria itu lalu langsung memegang lehernya yang sedikit sakit karena sejak tadi pagi terus mengerjakan berkas-berkas yang harus dia selesaikan hari ini.

Jiyong menatap kepada jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya lalu langsung tersenyum ketika dia sadar sekarang sudah pukul empat sore. Jiyong lalu langsung membereskan berkas-berkas yang berada di atas meja dan saat itulah dia kembali tersenyum ketika melihat piring kosong yang ada di atas meja.

Dia tersenyum karena dia sangat senang. Senang karena ternyata Dara memikirkan dirinya. Tadi, beberapa menit setelah Dara pergi Jiyong tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian dia melihat seseorang masuk ke dalam ruangannya sambil membawa nampan berisi makanan dan air putih.

Jiyong pada awalnya berpikir bahwa mungkin atasan di kantor ini menyuruh seseorang untuk mengantarkan makanan untuk Jiyong karena Jiyong dan Dara menolak ajakan makan siang dari atasan di kantor ini karena mereka ingin menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat. Namun dia langsung mengerutkan keningnya ketika melihat menu makan siangnya. Makanan kesukaannya, omurice.

Ketika Jiyong bertanya kepada orang itu, orang itu mengatakan bahwa Dara lah yang menyuruhnya untuk memasakan makanan ini untuk Jiyong. Dia bahagia ketika mendengarnya, rasa lelahnya pun langsung hilang karena perhatian kecil yang Dara tunjukkan untuk Jiyong.

Jiyong langsung mengambil ponselnya lalu mencari nomor Dara untuk bertanya keadaannya karena tiba-tiba saja Jiyong merasa merindukan Dara namun Jiyong harus kecewa ketika panggilannya langsung dialihkan ke kotak suara. Jiyong sedikit khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi kepada wanita itu namun kemudian dia berdecak karena Dara saat ini pasti sedang bersenang-senang dengan menghabiskan uangnya untuk berbelanja.

Wanita itu memang selalu mematikan ponselnya ketika dia akan berbelanja. Satu-satunya hal yang tidak Jiyong suka dari Dara adalah hobinya yang suka menghabiskan uang untuk berbelanja barang yang dia sukai. Dara bisa menghabiskan gajinya selama dua bulan hanya dalam waktu satu hari.

Setelah membereskan semua barangnya Jiyong langsung memutuskan untuk kembali ke hotel. Dia mempunyai janji dengan Nana pukul enam malam. Dia berniat untuk mengajak wanita itu nonton film lalu mengajaknya untuk makan malam.

Jiyong sedikit tersenyum ketika mengingat apa yang Dara katakan ketika dia mengatakan bahwa Jiyong akan mengajak Nana untuk bertemu, Dara mengatakan bahwa Nana adalah korban Jiyong yang selanjutnya. Jiyong saat itu mengelak dan mengatakan bahwa Nana hanya sekedar teman untuk Jiyong. Well, Jiyong memang tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa mereka hanya berteman karena Jiyong memang belum memutuskan untuk menjadikan Nana korban atau hanya akan berinteraksi sebagai seorang teman dengan wanita cantikku.

Saat itu Jiyong juga mengatakan bahwa dia sudah berubah kepada Dara, Jiyong memang berbohong ketika dia mengatakan hal itu, dia memang masih belum bisa berubah dari sifat buruknya itu namun dia tetap ingin mengatakan hal itu kepada Dara supaya wanita itu tidak lagi menganggap Jiyong sebagai lelaki brengsek nomor satu yang Dara kenal tapi ternyata wanita itu tidak percaya dengan apa yang Jiyong katakan.

Jiyong kemudian kembali mengingat semua perkataan Dara yang selalu mengatakan bahwa dia adalah pria brengsek no satu yang pernah dia kenal. Dia tidak bisa mengelak karena Dara memang benar, Jiyong brengsek dan juga pengecut karena tidak berani mengakui perasaan sebenarnya pada wanita itu.

Saat pertama kali bertemu dengan Dara Jiyong langsung memutuskan bahwa wanita itu akan menjadi kekasihnya, pada awalnya dia pikir perasaannya kepada Dara sama seperti perasaannya kepada wanita lain yang dia temui tapi ternyata dia salah, karena perasaannya kepada Dara ternyata lebih dalam daripada yang dia pikirkan.

Dan ketika dia sadar bahwa dia telah jatuh pada pesona Dara saat itulah kesalahannya dimulai. Dia mulai menempatkan dirinya sebagai sahabat Dara, seseorang yang selalu ada untuk Dara, seseorang yang selalu menghibur Dara ketika dia sedang sedih karena bertengkar dengan kekasihnya seseorang yang selalu bisa Dara andalkan dan hal itu membuat dia terjebak di zona persahabatan dengan wanita itu dan sampai saat ini dia tidak punya cara bagaimana bisa lepas dari zona itu.

Jiyong tidak bisa bersikap seperti sikapnya kepada wanita yang akan dia jadikan kekasihnya ketika dia sedang bersama dengan Dara, dia tidak bisa mengeluarkan rayuan jitu yang selalu berhasil membuat wanita yang dia rayu luluh dan bersedia menyerahkan semua miliknya untuk Jiyong. Dia tidak bisa atau tidak berani untuk mencoba merayu Dara. Dia bahkan tidak bisa mengatakan bahwa dia mencintai Dara karena dia takut dia akan merusak hubungan baik mereka selama ini. Dan dia merasa buruk karena hal itu, untuk pertama kali dalam hidupnya Jiyong merasa dirinya seperti menjadi banci perasaan dan hal itu hanya terjadi ketika dia sedang bersama dengan Dara.

Jiyong Pov

Aku langsung membersihkan diriku sesampainya di hotel tempatku dan Dara menginap. Aku akan langsung bersiap untuk janjiku dengan Nana malam ini. Tadinya aku ingin menemani Dara karena aku khawatir jika dia pergi sendirian tapi ternyata pekerjaan kami cukup membuat sakit kepala hingga akhirnya selesai lebih lama dari yang kami harapkan, itulah sebabnya aku menyuruh Dara untuk pergi sementara aku menyelesaikan sisa pekerjaan kami. Aku hanya tidak tega melihat Dara terus bekerja padahal dia datang ke Jepang untuk berlibur dan sekarang aku yakin dia pasti sedang bersenang-senang.

Setelah mandi aku langsung berganti baju lalu bersiap-siap dan saat akan mengambil ponsel yang berada di atas nakas tiba-tiba pandanganku terhenti pada buku agenda milik Dara yang kini terbuka. Aku mengambil buku agenda itu, aku hanya ingin tahu kegiatan apa saja yang Dara akan lakukan nanti.

Aku langsung mengerutkan keningku ketika melihat Dara melingkari tanggal hari ini dan di sana tertulis tulisan ‘her birthday’ dengan tinta warna merah. Her? Aku kembali mengerutkan keningku untuk berpikir siapa kira-kira orang yang Dara maksud lalu setelah beberapa saat aku langsung ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun ibunya.

Aku kembali ingat bahwa tepat tahun lalu di tanggal yang sama Dara dan aku pergi ke Jeju, saat itu dia tiba-tiba memaksaku supaya mau menemaninya untuk pergi ke pulau Jeju. Dia bilang dia ingin berlibur dan menjernihkan pikirannya. Malamnya aku tahu bahwa dia sengaja mengajakku pergi supaya dia bisa menghindar dari acara ulang tahun ibunya. Malam itu aku ingat Dara menceritakan semua tentang keluarganya kepadaku.

Aku sekarang tahu kenapa Dara tiba-tiba sangat ingin ikut ke Jepang ketika aku mengatakan akan pergi ke sini, ternyata dia kembali menghindar dari acara ulang tahun ibunya. Apakah itu adalah alasan kenapa tadi malam aku melihat matanya yang berubah menjadi sedikit sedih setelah menerima telpon dari neneknya?

Aku kemudian langsung mengambil ponselku untuk menghubungi nomornya namun panggilanku masih dialihkan. Perasaan bersalah langsung melandaku ketika aku mengingat apa yang Dara katakan tadi pagi. Dia mengatakan bahwa pasti akan sangat menyedihkan jika dia pergi sendirian. Ya Tuhan, harusnya saat itu aku tahu bahwa hari ini adalah ulang tahun ibunya.

Dara pasti tidak ingin sendirian saat ini, dia pasti membutuhkan seseorang untuk menemaninya karena aku tahu pasti Dara saat ini sedang bersedih. Tapi sekarang dia di mana? Aku sama sekali tidak punya petunjuk di mana sekarang dia berada. Aku seharusnya mengatakan iya saat dia mengatakan bahwa dia ingin aku menemaninya hari ini.

Aku terus berjalan mondar mandir di kamar hotel kami sambil terus menghubungi nomornya namun panggilanku masih dialihkan. Aku terus mengumpat sambil memikirkan tempat yang mungkin Dara datangi. Aku langsung berhenti berjalan ketika aku mengingat percakapanku dengan Dara di sebuah bar di pulau Jeju tepat satu tahun yang lalu.

Flashback

“Jadi kau sedang menghindar dari pesta ulang tahun ibumu sendiri?” Tanyaku dengan sedikit terkejut. Aku melihat Dara menganggukkan kepalanya. “Kenapa?” Tanyaku. Dara hanya tersenyum kemudian mengambil sebuah photo yang dia selipkan di dalam buku agendanya.

“Lihat ini.” Aku mengambil sebuah photo yang Dara ambil tadi.

“Apa ini adalah kau?” Tanyaku sambil memperhatikan photo itu.  Di photo itu ada tiga orang yang aku yakin adalah Dara ketika dia masih kecil dan kedua orang tuanya. Aku bisa melihat potret keluarga bahagia dari photo yang Dara tunjukkan itu.

“Itu aku dan kedua orangtuaku.” Katanya setelah menganggukkan kepalanya.

“Berapa usiamu saat itu?” Tanyaku kini sambil menatapnya.

“Delapan tahun.” Jawabnya dengan suara pelan. Aku tahu dari suaranya bahwa saat ini Dara sedang sangat sedih.

“Kau sangat cantik saat kau masih kecil tapi kenapa sekarang kau jadi berubah seperti ini huh?” Tanyaku sambil bergurau berharap dia akan terhibur tapi ternyata dia malah mengumpat setelah mendengarnya.

“Hanya kau yang mengatakan aku berubah. Semua orang selalu mengatakan bahwa aku lebih cantik setiap tahunnya.” Katanya sambil berdecak kepadaku. Aku tertawa mendengar kekesalannya kepadaku.

“Apa photo ini diambil di taman hiburan? Aku melihat kembang api di photo ini.” Tanyaku lagi sambil menyerahkan kembali photo itu. Dara mengangguk kemudian kembali menyelipkan photo itu pada buku agendanya.

“Photo itu diambil tepat pada saat ibuku berulang tahun. Karena tanggal ulang tahunnya dekat dengan hari natal jadi saat itu ayahku merencanakan untuk merayakan ulang tahun ibuku di Disney Sea di Tokyo. Ayahku membawa kami ke sana karena aku selalu merengek supaya Appa membawaku ke sana untuk menghabiskan libur akhir tahun.” Aku menganggukkan kepalaku.

I see, kalian terlihat sangat bahagia di photo itu.” Kataku sambil tersenyum, Dara tersenyum kecut kemudian menganggukkan kepalanya.

“Aku bahagia saat itu.” Katanya kemudian dia diam sebentar. “Tapi ternyata itu adalah liburan terakhir kami. Dan itu adalah photo terakhir yang keluargaku punya karena tiga bulan setelah itu orangtuaku memutuskan untuk bercerai. Appa meninggalkan kami untuk wanita lain lalu enam bulan kemudian Eomma menikah lagi lalu meninggalkanku untuk dirawat oleh halmeoni.” Sambungnya sambil tersenyum. Tapi senyumannya syarat akan kesedihan. Aku membuka mulutku sedikit lebar, ini pertama kalinya aku mendengar Dara berbicara tentang kedua orangtuanya, selama ini yang selalu aku dengar adalah hanya tentang neneknya dan bibi Lee yang merupakan ibu Chaerin, sepupunya. “Kau terkejut?” Tanya Dara ketika melihat reaksiku.

“Aku tidak tahu tentang ini, mianhae.” Dara tersenyum kemudian mengangkat bahunya. “Bagaimana hubunganmu dengan ibumu sekarang?”

“Menurutmu?” Tanyanya. “Dia meninggalkanku Jiyong jadi akan sangat munafik jika aku mengatakan bahwa kami baik-baik saja.”

“Dara ibumu pasti tidak bermaksud seperti itu.”

“Itu juga yang selalu halmeoni katakan. Tapi jika memang benar, kenapa dia sama sekali tidak menjemputku dan membawaku bersamanya?” Tanyanya. Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata yang tepat yang bisa aku katakan kepadanya. “Aku saat itu masih kecil Jiyong jadi aku tidak paham dengan apa yang sedang terjadi dengan keluargaku, saat itu halmeoni hanya selalu mengatakan bahwa eomma sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia selalu mengatakan bahwa eomma akan menjemputku jika aku menjadi gadis kecil penurut jadi aku selalu menurut dan menjadi anak yang baik karena aku sangat ingin bertemu dengan eomma tapi dia tidak pernah datang Ji.” Katanya kemudian dia kembali diam lalu menghembuskan napas berat. Aku tidak tahu bahwa ternyata Dara memiliki luka seperti ini.

“Kapan terakhir kali kau bertemu dengan ibumu?”

“Aku terakhir bertemu dengannya saat aku kelas 3 SMP. Halmeoni membawaku ke pesta ulang tahun ibuku, awalnya aku sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan eomma tapi ketika aku sampai di tempat pesta itu aku sadar bahwa eomma bukan lagi ibuku, dia kini istri dari suaminya yang baru dan ibu dari anak-anaknya yang baru. Saat itu aku tahu kenapa eomma tidak pernah menjemputku. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya jadi dia tidak membutuhkan aku yang hanya akan mengingatkannya kepada appa.” Katanya lagi dengan suara pelan.

“Jadi itu sebabnya kau selalu menghindari pesta ulang tahun ibumu?” Dara menganggukkan kepalanya.

“Aku tidak sanggup melihat kebahagian mereka sementara aku terluka melihat itu.”

“Kau membenci ibumu?” Tanyaku, aku pikir dia akan mengangguk namun ternyata Dara hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak pernah membencinya, aku mencoba mengerti posisi ibuku hanya saja terkadang aku merasa marah pada keadaan kami, kepada mereka berdua dan kepada diriku sendiri.”

“Apa kau merindukan sosok seorang ibu?” Tanyaku ketika Dara kembali diam. Aku melihatnya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.

Halmeoni sudah seperti ibu untukku, dia merawatku seperti seorang ibu dan lagipula aku memiliki bibi Lee yang juga selalu memperlakukanku seperti puterinya sendiri jadi aku sama sekali tidak pernah kehilangan sosok seorang ibu.”

“Aku ikut menyesal untukmu.” Dara menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum.

“Jangan mengatakan itu. Kau tahu aku paling tidak suka dikasihani, lagipula aku ini wanita yang sangat kuat jadi kau tenang saja!” Katanya sambil terus tersenyum membuatku ikut tersenyum dengannya.

“Apa yang ingin kau lakukan sekarang huh?” Tanyaku. “Aku akan melakukan apapun untukmu sehingga kau tidak sedih saat ulang tahun ibumu.” Dara kembali tersenyum.

“Kalau bisa aku ingin kembali ke tempat itu. Aku ingin mengulang lagi semuanya karena aku benar-benar bahagia saat itu.” Katanya. “Aku ingin kembali bahagia.” Sambungnya namun dengan suara yang lebih kecil, nyaris menyerupai bisikan.

Flashback End

Sekarang aku tahu tempat di mana Dara berada. Tidak salah lagi, dia pasti pergi ke sana. Itulah alasan sebenarnya kenapa dia ingin pergi ke Jepang. Aku langsung mengambil mantel lalu mencari nomor Nana dan memberitahunya bahwa aku tidak bisa menemuinya malam ini.

Setelah menutup panggilanku untuk Nana aku kemudian langsung berlari ke luar hotel lalu langsung mencegat taksi yang melintas di hadapanku. Aku harap Dara memang sedang berada di tempat itu karena hanya tempat itu satu-satunya tempat yang bisa aku pikirkan sekarang.

“Dara tunggulah! Aku akan datang.” Gumamku sambil kembali mencoba menghubungi nomornya.

TBC

Annyeong, Selamat malam.

Aku kembali dengan chapter baru dan aku ingin meminta maaf karena lama banget updatenya jadi buat yang nunggu maafkan aku karena baru bisa update sekarang. Aku sempet sakit jadi gak bisa lanjutin ff untuk sementara terus aku juga harus belajar buat Tes kerja jadi ff ini aku sisihkan dulu tapi aku usahakan untuk chapter selanjutnya aku post secepatnya.

Makasih banget buat yang komentar di chap sebelumnya : Juminah, Ekakartika, Sundu, diahvipanda, syahsan, mbak fida, mita unnie, Dian, belladwi, Me, Mbak siska, Siti Chayati, Nanda Fahma, Mbak Ima, Novi46, Meida, Darakwon, dan Yanti. Chapter ini buat kalian dan semoga suka ya!!!!

Jangan lupa tinggalkan komentar biar authornya semangat!!! Hengsho Readers-nim!!!

Advertisements

20 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 3]

  1. buktikan pada dara unni oppa, bahwa kau bertobat dn gak lagi jadi lelaki berengsek
    hua miris juga masalalu dara unii
    next chap fighting 😊

  2. Ternyata masalalu Dara penuh luka😞
    Dasar Jiyong pake cerita mau ketemu cewe lain ke Dara, gimana Dara ga mikir dia berengsek. Tapi so sweet sih ngebatalin janji buat nemuin Dara biar ga sedihh..
    Ah penasaran mereka ngakuin perasaannya kaya gimana hehe selalu ditunggu thorr. Fightingggg!💪

  3. Kak reni sakit apa sih tp sekarang udah sembuh belum? Kak jaga kesehatannya ya meski kak reni sibuk tp kak reni jg harus istirahat sm jangan telat makan apalagi sekarang lagi musim ujan biar nggak gampang drop….. dan gomawo udah UP ffnya meski sedang sibuk dan semoga diterima kerjanya ya amien…..
    Jadi masa kecilnya dara sedih bgt ya jadi broken home itu menyakitkan dan bangga krn dara nggak benci atau marah sm ibunya….. dan apa yg akan dilakukan jiyong buat dara bahagia lg? Makin penasaran next chapnya ditungguin ya kak fighting ♡♡♡

  4. kapan nih jiyong bisa bilang yg sebenarx ma dara n membuktikaan klo dia bnar2 syang…
    tapi syukur deh jiyong lebih memilih pergi ma dara n berharap Ada adegan romantis disana, hehehe….

  5. Kapann ji mau jjur sama dara ?:( kburu dara punya namja lain nih yg bisa jagain diaaa,akhrnya ji gajdi juga ktmu nana dan lbih mlih dara kkkkk johaaaa

  6. Sedih banget pasti jadi dara
    Gak nyangka masa lalunya menyedihkan
    Ayo dong jiyong buktiin kalau kamu bener sayang, pengen ada moment romantisnya biar bisa senyum2 sendiri, gak peduli dikira gila
    Reni kamu harus jaga kesehatan biar gak sakit lagi

  7. Tuh kann Dara unnie itu sebenernya butuh Jiyong buat nemenin dia. Kan Dara unnie jadi sendirian tuh di hari ulang tahun ibunya lagi. Jiyong cepetan nyusul Dara😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s