HELLO BITCHES [Part. 4]

a6nr8ghv4goni76z1jt0l6b22tuthopi

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model) | Kwon Dami | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

Annyeong ^.^/, ternyata hari ini masih bisa post saya. Oya… untuk part sebelumnya untuk yang masih bingung, Dara ma Jiyong emang belum ketemu. Jiyong baru nentuin target buat jadi ‘wanita bayaran’-nya and Dara belum tentu mau sih hahaha dan juga untuk scane waktu Jiyong cs lihat Dara itu gak dijelasin kenapa karena scane itu sudah ada lebih dulu di prolog, jadi biar lebih jelas yang lum baca prolog… mungkin bisa meluncur tuk baca. Trus untuk yang ngerasa alur di sini cukup lambat, harap maklumi karena ini masih awal jadi butuh pengenalan untuk karakter masing-masing tokoh. So, Happy Reading, Ne! >.<

.

.

.

Pagi ini begitu dingin bagi Dara, ia kembali menarik selimutnya- bermalas-malasan. Ia baru pulang beberapa jam yang lalu dari liburan bersama salah satu pelanggannya, dan berniat kembali melanjutkan tidurnya saat Bom tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.

“Dara-yah… bangun Dara-yah.” Bom mengganggunya.

“Waeyo?” dengan malas Dara meresponnya.

“Ada yang aneh dengan Minzy beberapa hari ini.” jawab Bom kali ini membuat Dara sedikit membuka mata- menatapnya, “Kau tahu, ia terlalu sering bermain dengan ponselnya dan tak jarang ia tersenyum bahkan tertawa. Bukankah itu aneh?”

“Mwo?” Dara mengernyit, “Kau sudah bertanya dengannya?” tanya Dara akhirnya bangun dari posisi tidurnya.

“Anio. Aku belum bertanya apapun padanya, aku terlalu sibuk beberapa malam ini jadi tak begitu mengawasinya sementara CL selalu pulang lebih awal karena Soohyuk menjemputnya.” jawab Bom menjelaskan.

“Lalu dimana ia sekarang?”

“Ia tengah pergi berbelanja bersama CL.”

Yah… Minzy adalah yang paling ketat di awasi oleh mereka. Mereka memang membiarkan Minzy bekerja- mencari uang di Octagon Club sebagai DJ tapi tidak lebih dari itu, bahkan bila ada yang terang-terangan menawarnya untuk kencan semalam dengan harga mahal… ia dan Bom dengan tegas menolaknya, cukup mereka yang bekerja untuk para lelaki hidung belang… tidak dengan Minzy yang sudah mereka anggap seperti adik kandung mereka sendiri karena mereka yakin- Minzy bisa mendapat masa depan yang lebih baik- tidak seperti mereka.

Dara pun akhirnya menghela nafas panjang, “Baiklah Bom, aku akan bicara dengannya nanti… ia sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sekarang-“

“Tapi tetap saja… ia tak boleh seperti kita, Dara.” potong Bom, Dara mengangguk- menyetujuinya.

“Araesso. Panggilah aku kembali saat ia pulang, neh. Kita akan bicara bersama dengannya.” ucap Dara akhirnya- berniat kembali untuk memejamkan matanya sejenak.

“Tunggu, Dara. Satu lagi.”

“Aigo. Apa lagi, Bommie?”

“Pria itu- pria tampan yang kubicarakan padamu beberapa hari yang lalu, pria yang mencarimu sesaat setelah kau pergi dengan pelangganmu di malam aku memiliki insiden dengan pria berambut biru… ia terus datang ke club beberapa hari ini untuk bertemu denganmu- ia sangat terobsesi kurasa, dan aku yakin ia akan datang lagi malam ini.” jawab Bom membuat Dara kembali ingat bahwa Bom pernah memberitahu tentang pria itu sebelumnya, tapi sayangnya sejak malam itu Dara meliburkan diri dari aktivitasnya di club karena memenuhi permintaan salah satu pelanggan yang selama ini sangat royal dan selalu membayarnya berkali-kali lipat untuk menemani liburannya dan Dara tak mungkin menolak.

“Ah. Predator baru?” gumam Dara pelan, “Aku penasaran seberapa besar ia akan mengeluarkan uangnya untukku- pastinya ia telah mempersiapkannya bukan? Itu terbukti karena ia terus mencariku.”

“Neh. Uang terlihat bukanlah sesuatu yang dapat menimbulkan masalah baginya, aku pastikan ia cukup banyak memilikinya.” ucap Bom membuat Dara sedikit tertarik dengan pria yang mereka bicarakan.

“Yeah. Kita lihat, apa ia akan kembali datang? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya nanti.” ucap Dara kemudian, sebelum akhirnya ia kembali memejamkan mata dan untuk kali ini Bom tak lagi mengganggu. Ia keluar kamar dengan tenang- meninggalkannya.

.

.

.

“Ok. Satu kali lagi.” terdengar arahan dari sang fotografer kepada model yang menjadi fokus bidikan kameranya, “Junhee-ssi, longgarkan pelukanmu pada GD. Itu terlihat kaku di sini.” lanjutnya membuat Goo Junhee- si model wanita melonggarkan pelukannya pada Jiyong.

“Ah. Begini?” Junhee memasang tampang polosnya- membuat siapa pun yang melihat tentu akan mengiyakannya, tapi tidak dengan Top dan sahabat Jiyong yang lain… mereka sangat tahu sepak terjang Junghee untuk mendapatkannya. Junghee begitu tergila-gila pada Jiyong semenjak mereka berada di agensi yang sama 3 tahun lalu dan Top cs yakin- pemotretan kali ini telah diatur oleh Junghee karena ayahnya merupakan salah satu pemilik saham terbesar  di agensi mereka kini berada.

Top Pov

“Ck ck ck… lihat, betapa ia begitu menikmatinya.” ucapku yang kini tengah menunggu giliran.

“Ne. Junghee Noona memanfaatkan kesempatan ini dengan baik- menempel dengan Jiyong Hyung begitu dekat.” tambah Seungri membuatku meringis, bisa dilihat Jiyong menahan diri untuk tak mendorongnya- menjauh.

“Seharusnya ia sadar, Jiyong benar-benar tak tertarik dengannya.” Yongbae yang baru datang turut berkomentar.

“Tak tertarik dengan semua wanita tepatnya.” Aku kembali menambahkan.

“Itulah mengapa kata gay tersemat untuknya ha ha ha.” ucap Yongbae tak mau kalah.

Dan kami pun kembali tertawa mengingat bagaimana Jiyong sangat tak suka bila kami menyinggung kata itu di hadapannya.

“Ah. Aku tak melihat Daesung Hyung, di mana dia?” tanya Seungri kemudian melihat sekitar, aku pun ikut mengedarkan pandangan- ia memang tak terlihat.

“Aku melihatnya keluar untuk menerima telepon.” ucap Yongbae kemudian.

“Mwo? Lagi?” aku cukup terkejut kali ini, karena yang ku tahu ia baru beberapa saat yang lalu menerima panggilan dari seseorang.

“Omo. Daesung Hyung benar-benar sibuk dengan ponselnya akhir-akhir ini. Aku beberapa kali mendapatinya serius menatap layar ponselnya dan tak lama ia dapat tertawa lepas karenanya.” ucap Seungri kali ini dan aku tidak mengingkarinya. Jujur ia kini begitu bersemangat bila ada nada yang berbunyi dari ponselnya.

“Apa kita ketinggalan sesuatu yang penting? Mungkinkah ia telah memiliki kekasih?” tebak Yongbae kali ini membuatku dan Seungri saling melemparkan pandangan.

“Cih. Ia tak mengatakan apapun tentang hal itu kecuali- tunggu, ia terakhir mengatakan padaku kalau ia telah berhasil mendapatkan targetnya. Mungkinkah-“

“Ok. Selesai, berikutnya!”

Ucapan Seungri pun terhenti- para stylish dengan cepat menghampiri kami dan kembali memastikan bahwa make up kami telah sempurna lalu tanpa di minta kami telah memposisikan diri menggantikan tempat Jiyong dan Junghee sebelumnya, terlihat Daesung yang datang tergesa-gesa bergabung kembali diantara kami. Aku pun mengambil posisi di sampingnya.

“Kau perlu menceritakan sesuatu kepada kami, neh.” ucapku setengah berbisik padanya- mengingatkan, sementara ia yang sepertinya mengerti dengan maksudku hanya menjawabnya dengan anggukkan.

Jiyong Pov

Aku kini telah berada di ruang ganti, sungguh memuakkan aku harus kembali mengambil gambar berdua dengannya. Sebenarnya itu tak masalah awalnya hanya saja sekarang ia seperti menarikku hanya berada di dalam lingkarannya- aku selalu dipasangkan dengannya akhir-akhir ini… entah itu memang karena keperluan bisnis atau ia ikut bermain di dalamnya.

“Junghee-ssi, bukankah sikapku selama ini sudah begitu jelas? Mengapa ia masih berharap, hah?” gerutuku tak mengerti bagaimana lagi aku harus bersikap padanya, aku pun kembali keluar setelah berganti pakaian- terlihat Junghee seketika menghampiriku saat mata kami bertemu.

“Jiyong, apa kau memiliki waktu siang ini? Aku ingin mengajakmu makan siang.” ucapnya langsung tanpa basa basi- seperti biasa.

“Mian. Aku masih ada kegiatan lain setelah ini.”

“Jinjja?” aku mengangguk, terlalu malas untuk menjawab… “Tapi kau kan bisa-“

♫I am a good boy

Tepat saat itu ponselku berbunyi.

“Thanks God!” batinku bersorak dan tersenyum kepada wanita yang kini tak lagi meneruskan rengekkannya, “Mianhe, Junghee-ssi… aku harus menerima telepon sekarang.” ucapku kemudian pergi berlalu meninggalkan.

Ponselku terus berbunyi saat aku beralih ke sudut ruang untuk menerimanya. Aigo. Ternyata Dami Noona yang menelpon… ia bukanlah orang yang kuharapkan melakukan panggilan, karena ia selalu menelpon- membicarakan atau memberi kabar yang selalu tidak ingin kudengar.

Sigh

Aku mengela nafas sebelum menerimanya, “Baiklah. Aku akan mengangkatnya kali ini, anggaplah sebagai ucapan terimakasihku karena berhasil menjauhkanku dari wanita manja itu.” pikirku.

“Ne. Yeoboseyo, Noona.”

“Ya! Kenapa kau begitu lama, hah?” omelannya seketika terdengar, beruntung aku sempat menjauhkan ponsel itu dari telingaku.

“Mianhe, aku sedang melakukan pemotretan sekarang.” jawabku akhirnya.

“Ah. Begitukah? Baiklah dimaafkan.” ucapnya seakan aku membuat sesuatu yang salah. Cih! Dami Noona- Kwon Dami, kami terpaut usia 6 tahun. Ia adalah kakak perempuanku satu-satunya yang selalu berusaha mengatur hidupku dan terkadang semena-mena padaku. Beruntung aku sekarang dapat terbebas darinya, tak kubayangkan bila aku harus bekerja di bawah perintahnya.

“Lalu ada apa kau menelpon, Noona?” tanyaku kemudian, mengembalikan ke topik yang seharusnya ia bicarakan.

“Waeyo? Kau begitu terburu-buru, eoh… apa kau tak ingin melepas rindu denganku? Bahkan kita belum kembali bertemu setelah pertemuan keluarga itu.”

Aku mendengus kesal, karena itu sama saja mengingatkanku akan kejatuhan harga diriku- di mana seluruh keluargaku tanpa memikirkan perasaanku, mengatakan bahwa aku- Oh! Jangan lagi mengatakannya.

“Ya! Cepatlah bicara apa yang ingin kau sampaikan, Noona. Aku harus segera kembali untuk melakukan pemotretan.” ucapku kali ini- berharap ia akan mengerti.

“Baiklah, baiklah… aku akan mengatakannya sekarang. Appa dan Eomma akan berkunjung dalam minggu ini.”

“Mwo? Bukankah mereka harusnya kembali setelah perjalanan bisnisnya selesai?”

“Ne. Harusnya begitu tapi sepertinya mereka tak sabar untuk menemuimu, dan info penting lainnya yang kudengar… mereka telah mendapatkan seorang yeoja untuk dipertemukan denganmu. Itu seperti- perjodohan?”

“MWO? YA! Apa-apaan itu, hah? Kau sedang tidak mengerjaiku?”

“Cih! Buat apa aku mengerjaimu, hah? Kita bukan anak kecil lagi, Jiyong.” ucapnya kali ini- membuatku meyakini bila apa yang dikatakannya adalah benar. Shit! Apa yang harus aku lakukan? “Ya! Ji, kau masih disitu?”

“Ah. Ne.”

“Besok bagaimana bila kita bertemu?” tanyanya kemudian, tapi aku tak cepat meresponnya- kepalaku tiba-tiba sakit memikirkan kabar yang baru saja ia berikan.

“Entahlah, Noona. Aku masih tak tahu bagaimana jadwalku besok.” jawabku akhirnya.

“Baiklah. Kalau begitu biar aku yang mengaturnya- aku akan memberikan kejutan.”

“Mwo?” Aku mengerutkan keningku tak mengerti, tapi sebelum aku bertanya ia lebih dulu mengatakan salam perpisahan dan mengakhiri sambungan. Cih! Aku tak pernah salah dengan dugaanku- ia selalu menelpon hanya untuk memberiku sakit kepala.

Sigh

Entah telah berapa kali aku menghela nafas berat hari ini, yang jelas satu hal yang harus segera kulakukan. Aku harus segera menemui wanita itu. Sandara! Kita harus bertemu, neh.

.

.

.

Dara Pov

Bom kembali membangunkanku setelah Minzy dan CL tiba dari berbelanja, aku pun sedikit meregangkan tubuhku sebelum benar-benar pergi- meninggalkan tempat tidur.

“CL, di mana Minzy?” tanyaku saat keluar dari kamar, tak kutemukan sosok Minzy di sekitar.

“Ah. Dia di kamarnya, Eonni.” jawabnya cepat dengan tak menghentikan kegiatannya- membuat sarapan.

Yah. Di antara kami berempat, CL lah yang paling dapat diandalkan dalam hal mengurus rumah dan yang lainnya… ku akui ia hebat dalam segala hal yang harusnya dapat dilakukan semua wanita- aku berjanji akan belajar padanya suatu hari nanti.

Aku akhirnya melangkahkan kakiku menuju kamar Minzy, disusul Bom yang mengekoriku. Kusempatkan mengetuk sebelum aku membuka pintu dan masuk ke dalamnya, terlihat Minzy baru saja mengakhiri panggilan telepon sesaat setelah aku dan Bom masuk.

“Waeyo, Eonni?” tanyanya kemudian- menatapku dan Bom, bingung.

“Ah. Anio… hanya saja ada yang ingin kami bicarakan, Minzy-ah.” ucapku yang akhirnya mengambil tempat- duduk di tempat tidurnya, dan menyuruhnya datang untuk duduk di sampingku… sementara Bom ia mengambil kursi yang berada tak jauh darinya.

“Kenapa kalian terlihat serius, hah?” tanya Minzy penuh selidik.

Aku pun menghela nafas sejenak dan kembali membalas tatapan bingungnya, “Begini… kau tahukan, selama ini aku dan Bom serta CL tentunya- kami selalu mengawasi dan selalu berusaha menjagamu sejauh yang kami bisa.”

“Ne. Eonni.”

“Karena itu- mungkin terkadang kau pernah menganggap kami terlalu berlebihan tapi sebenarnya-“

“Anio. Aku tak pernah sedikitpun menganggap seperti itu, Eonni. Jujur aku sangat senang dan merasa beruntung karena kalian begitu peduli padaku.” Minzy dengan cepat mengatakannya, aku pun tersenyum begitu juga Bom.

“Araesso. Kami tahu itu Minzy-ah, hanya saja terkadang… kami sadar, sesaat mungkin kami lupa jika dirimu telah dewasa. Kau telah sepantasnya dapat memilih jalan hidupmu sendiri tapi rupanya kami terlalu sayang padamu, kami benar-benar telah menganggapmu seperti adik kami sendiri… kami ingin dirimu memiliki masa depan yang lebih cerah dari kami, karena itu saat Bom mengabarkan bahwa dirimu akhir-akhir ini sepertinya intens berhubungan dengan seseorang melalui ponselmu… itu membuat kami sedikit khawatir- anio… bukan sedikit tapi kami sangat sangat khawatir, Minzy.” aku menjelaskan, dan kini terlihat Minzy menatap kami dalam satu persatu lalu ia tersenyum.

“Ah. Mianhe… mianhe tak memberi tahu kalian hingga membuat kalian khawatir dan mencemaskannya, hanya saja- aku tak tahu harus memulai dari mana. Beberapa waktu yang lalu, aku memang berkenalan dengan seseorang tapi sungguh sejauh ini kami lebih banyak berkomunikasi melalui ponsel dan itu pun hanya obrolan ringan bukan sesuatu yang serius apalagi menjurus ke hal-hal yang kutahu tak akan kalian suka. Percayalah Eonni, aku tak akan mengecewakan kalian- aku tahu bagaimana sebenarnya kalian berjuang… dengan pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang itu bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan. Tapi perlu kalian tahu, apa yang kalian lakukan selama ini… itu membuka mataku- merubah pandanganku. Kalian masing-masing memiliki alasan yang kuat memilih jalan hidup seperti itu dan tidak selayaknya orang-orang memandang rendah pada kalian, aku terkadang marah dengan mereka yang seenaknya bicara tanpa tahu sebenarnya bagaimana kalian… kalian adalah wanita-wanita yang hebat, kalian wanita yang kuat dan kalian tak lebih seperti wanita pada umumnya. Kalian adalah wanita yang begitu menyayangi keluarga, menyayangiku, dan selalu berusaha memberi yang terbaik untukku jadi percayalah Eonni… aku tak mungkin mengecewakan kalian. Aku tahu batasanku dan batasan yang telah kalian buat untukku, kebebasan bersyarat yang telah kalian berikan… tentu aku tak akan  menyia-nyiakannya.”

Oh. Aku berusaha keras menahan air mataku sekarang, Minzy telah mengungkapkan segalanya… aku tahu, ia benar-benar tak akan mengecewakan kami. Minzy- Gong Minzy, dulu adalah seorang gadis kecil yang aku dan Bom temukan… aku menemukannya dengan begitu banyak luka di tubuhnya. Orang tuanya kerap kali menyiksanya, hingga akhirnya aku dan Bom membelinya- yah begitulah istilah kasarnya. Aku dan Bom mengumpulkan uang sebanyak yang orang tuanya minta untuk membebaskannya- membebaskan dari siksaan yang tak sepantasnya ia dapatkan dan akhirnya kini… kami bangga, paling tidak kami dapat menyekolahkannya dan melihatnya lulus seperti anak-anak pada umumnya. Walaupun tentu- kami tak luput dari banyaknya kekurangan, kami tak bisa memberi contoh yang sepenuhnya baik tapi kami selalu berusaha dan kami tidak pernah mengajak siapa pun atau menginginkan orang-orang terdekat kami jatuh ke lubang bersama di mana kami berada.

“Bom Eonni. Kenapa kau menangis, hah?” ucap Minzy kemudian, saat Bom terlihat tak mampu lagi menahan air matanya- yah, dia sebenarnya yang paling lembut diantara kami- ia begitu mudah tersentuh. Apa yang ia lakukan selama ini benar-benar bertolak belakang dengan apa yang ada di hatinya, yeah… cukup kami yang tahu bagaimana kami sebenarnya karena setelah kami keluar dari zona nyaman yang kami sebut rumah, kami akan menjadi pribadi yang jauh berbeda.

“Anio. Hanya saja, kau bicara begitu banyak… Minzy-ah. Mianhe, karena aku sempat berpikir yang tidak-tidak… aku hanya khawatir. Kau tahu?” ucap Bom di sela-sela tangisnya, Minzy pun akhirnya memberikannya pelukan.

“Ne. Araesso. Gomawo Eonni, karena begitu memperhatikanku… aku akan selalu bercerita tentang apapun kali ini padamu.” ucapnya kemudian berhasil meredakan tangis Bom.

Sungguh ini benar-benar membuat hatiku terenyuh, dunia kami- kehidupan kami- kepribadian kami- tak perlu orang lain tahu. Cukup kami dan hanya kami. Itu saja. Kuhapus segera air mataku yang tergenang di sudut, aku bukan wanita yang gampang menangis tersedu memang dan kini aku pun ikut memeluk mereka.

“Waaahhh… berpelukan benar-benar menenangkan, neh. Bukankah ini sudah selesai. Kajja kita akhiri drama melankolis ini.” ucapku akhirnya berhasil membuat mereka kembali tersenyum- mengangguk, “Hanya tak lupa kau harus membawa seseorang yang berkenalan denganmu itu ke hadapan kami, Minzy-ah… kami perlu menilainya secara langsung. Kami punya mata yang baik dalam hal menilai laki-laki.” lanjutku kembali mengingatkannya kali ini, Minzy pun dengan cepat mengangguk dan saat itu pintu kamar kembali terbuka- terlihat kepala CL menyembul dari sana.

“Ya! Ini sudah waktunya sarapan, apa yang membuat kalian berkumpul di sini dan melupakannya, hah?” sungut Cl yang akhirnya datang dengan tak lepas dari omelannya yang seperti ahjumma, padahal ia tujuh tahun lebih mudah dibawahku. Ck ck.

“Oh. Mianhe, kami baru saja akan mengakhiri sesi ini dan segera menemuimu di meja makan.” jawabku akhirnya.

“Mwo? Apa yang terjadi? Apa aku ketinggalan sesuatu? Kenapa denganmu, Eonni?” tanya CL kemudian saat melihat Bom yang tengah mengusap- membersihkan sisa-sisa air matanya.

Aku pun dengan cepat mendekati Cl- meraih pundaknya dan mengarahkan tubuhnya untuk berbalik, “Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti, sekarang aku benar-benar lapar. Jadi bisa kita makan lebih dulu.”  ucapku akhirnya karena sekarang perutku sedang tak bisa diajak berkompromi, terlalu lama bila harus menjelaskannya dari awal. Jadi, let’s go… waktunya kita menuju meja makan sekarang.

.

.

.

Malamnya Dara telah kembali berada di Octagon Club seperti sebelum-sebelumnya, kini ia memakai baju model wrap dress (model dress yang mirip kimono dengan bagian depannya yang hanya dililitkan ke samping) berwarna merah maroon berlengan panjang- di atas lutut namun dengan belahan dada v yang cukup lebar membuat siapa pun yang melihatnya dapat tergiur seketika dan kali ini ia membiarkan rambutnya tergerai sempurna dengan tambahan sepatu heels sepuluh senti yang ia gunakan- menyempurkan itu semua.

Sementara itu di tempat lain…

“Hyung, kau akan pergi ke Octagon Club lagi malam ini?” tanya si mata panda kepada Jiyong- saat ia, Jiyong dan Daesung baru saja menyelesaikan meeting dengan para sponsor yang akan menggunakan mereka sebagai model untuk produk terbaru, sementara Top dan Yongbae masih ada kegiatan lain hari itu.

“Ne. Aku harus dapat menemuinya kali ini.” jawab Jiyong singkat.

“Aku ikut denganmu, Hyung. Ada yang ingin kutemui di sana.” Daesung tiba-tiba telah berada di antara mereka- menuju ke basement di mana mobil mereka terparkir di sana.

“Bertemu dengan sang gadis DJ, eoh?” tebak Seungri kemudian. Daesung yang sesaat lalu telah menceritakan keberhasilannya mendekati targetnya pun hanya tersenyum- mengiyakan.

“Kau tidak ingin sekalian ikut?” Jiyong kali ini bertanya.

“Ani. Aku tak ingin kembali bertemu dengan wanita jalang itu- aku hanya menghindari untuk tak memberikan pukulan telak di wajahnya.”

“Omo. Katakan yang sesungguhnya kalau kau telah terlanjur malu bertemu dengannya, atau kau takut jika pada akhirnya kau semakin tertarik dengan dirinya.” ucap Jiyong kali ini, membuat Seungri  terkesiap.

“Ya! Itu semua tidak benar, Hyung. Aku benar-benar tidak ingin lagi bertemu dengannya, aku bersumpah ia membuatku muak sehingga ingin menghajarnya dan kupastikan aku tidak akan pernah lagi tertarik dengan yeoja sepertinya.” Seungri dengan cepat melakukan pembelaan, membuat Jiyong hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.

“Hanya hati-hati dengan ucapanmu sendiri, Seungri-yah. Itu bisa berlaku kebalikannya.” ucap Jiyong yang kini telah tiba di mobilnya, dan masuk ke dalamnya- disusul Daesung di sisi lainnya yang memang jarang menggunakan mobil pribadi karena ia lebih memilih untuk menumpang setelah kecelakaan yang beberapa tahun lalu di alaminya- ia sedikit trauma lebih tepatnya.

“YA! TUJUKAN KALIMAT ITU UNTUKMU SENDIRI, HYUNG. BAHWA APAPUN YANG KAU KATAKAN BISA BERLAKU KEBALIKANNYA.” teriak Seungri saat mobil Jiyong telah melaju- menjauh… sementara Jiyong yang tak lagi mendengar pun hanya melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka.

 

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3

<<back  next>>

Omo. Baru sadar setelah selesai belum ada Daragon Moment kekeke, tenang aja… aku akan membayar di part-part selanjutnya. Semoga untuk kali ini tak terlalu mengecewakan ne. Silahkan meninggalkan komentar- karena aku membutuhkannya sebagai penyemangat untuk segera melanjutkan ff ini- lagi dan lagi. ^.^

Advertisements

44 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 4]

  1. Jgn smpe cewek yg mau dikenalin ke jiyong si junhee itu..yaaaaa daragon nya aja blm bersatu masa jiyong udh mau dijodohin aja..lnjut baca..

  2. yuhuuu daragon akan bertemuuuu. semoga dara menerima tawaran jiyong dan semoga dara berakhir di jiyong (?) daemin vs daragon hahaha aku tetap memilih daragon. disini aku rasa yang berkuasa atau lebih tepatnya yang jadi leader dara ya? dia yang paling mahal disini dari pada yang lain. ehh itu minzy ciee minzy mau berkencan sama daesung hahaha oke lupakan komentar anehku ini. aku akan melanjutkannya 10 part lagi. hwaiting for mee!!! \(^o^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s