[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #3

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 3-

 .

Seoul, August 2012

“Kau sudah bersiap diri? Kau tidak lupa kan hari ini adalah hari penting bagi masa depan kita?”

‘Masa depan apa? Acara ini hanya untuk karirmu!’

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagiku, bagi karir perusahaanku. Setelah berbulan-bulan aku dengan semua karyawan serta desainer ternama mengerjakan proyek besar ini, akhirnya perhelatan Dragon’s Fashion digelar. Acara akan dimulai pukul delapan malam di sebuah ballroom hotel bintang lima kenamaan Korea Selatan. Sekarang jam sudah menunjuk pada angka tujuh, tinggal tersisa satu jam lagi sebelum aku harusnya tiba di tempat mewah tersebut.

Saat ini, aku tengah mematut diri di kaca dengan balutan tuxedo resmi berwarna hitam dengan campuran silver di kerah dan sakunya. Aku memasukan kancing atas kemeja putihku untuk memakai dasi kupu-kupu berwarna senada dengan jas. Aku tak berpenampilan nyentrik kali ini, hanya aksesoris cincin perak berukuran cukup besar di masing-masing jari manis dan kelingking tangan kanan, gelang bermotif serta kacamata hitam bernuansa gold.

Tak lupa juga anting-anting mengkilap yang menghiasi telinga dan sepatu mengkilap berwarna silver. Jangan heran, itu adalah ukuran tidak nyentrik menurutku yang biasanya mengenakan hal-hal yang lebih gila dari ini. Aku telah bersiap untuk pergi, namun sebelumnya aku harus menelepon gadis serampangan itu. Aku harus memastikan ia telah berbenah diri sebelum dijemput.

“Masa depan kita akan bergantung pada karirku. Dan karirku dipertaruhkan dalam keberhasilan acara ini. Kau tak mau jika kita tiba di sana saat acara sudah digelar, bukan? Ayolah Dara, di sana ada banyak wartawan dengan lensa kamera. Mau aku taruh di mana wajah ini kalau aku yang selaku CEO datang terlambat? Cepat bersiaplah, aku yakin kau belum mengenakan pakaian itu.”

‘Ji Yong-ah, tak bisakah kau mengasihani aku? Kau kan tahu aku tak akan mau mengenakan gaun dengan kekurangan bahan seperti ini. Lalu sepatu hak tinggi? Jangan sinting kau!’

“Yak gadis bodoh! Gaun yang kau bilang kekurangan bahan itu adalah gaun seharga dua puluh juta won. Gaun dan high heels itu adalah buatanku khusus untukmu. Aku sendiri yang mendesain dan merancangnya. Oh Tuhan, bahkan kau tak menghargai aku.”

Gadis macam apa dia ini? Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung di usia muda karena sifat pembangkangnya. Itu adalah gaun spesial rancanganku untuknya. Khusus untuk ia kenakan malam ini, untuk menemaniku. Ini adalah kali pertama kami akan tampil di depan publik. Mana mungkin aku membiarkannya memakai sweater atau kemeja dengan celana jeans koleksinya? Apa kau gila? Aku ini seorang CEO.

‘Bukan begitu maksudku Ji Yong-ah. Aku hanya…’

Cukup. Keputusanku tak dapat disangkal olehnya, “Pakai sendiri atau aku yang akan datang untuk memakaikan gaun itu padamu.”

*****

Lamborghini Aventador putih itu telah menepi di parkiran hotel. Terlihat mobil mewah lainnya yang juga berada di sana telah berjajar rapi. Mereka masih mempunyai waktu lima belas menit sebelum acara dimulai. Dara menghembuskan napas, mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Bagaimanapun, ini adalah kali pertama ia akan tampil di hadapan publik bersama Ji Yong. Berbagai pikiran berkecamuk di benak Dara membuat ia hanya ingin pulang saja untuk berbaring tidur memeluk guling kesayangannya.

Ji Yong menatap Dara di sampingnya, ia tahu gadisnya dilanda kekhawatiran berlebihan. Bisa dilihat karena kali ini Dara mengeratkan kedua tangannya dengan pandangan tak tentu arah. Pria itu tersenyum melihat gadisnya. Sungguh jikalau ia tak memiliki gengsi setinggi langit, ia sudah sedari tadi memuji kecantikan luar biasa Dara.

Dengan mini dress selutut pas badan serta blazer silver yang tersampir di bahunya gadis itu terlihat elegan. Ditambah dengan high heels hitam berkilau, menambah kesempurnaannya malam ini. Ji Yong tahu Dara tak suka dengan gaun dengan banyak hiasan, sehingga ia mendesain gaun itu sederhana namun tetap terlihat mewah dan anggun. Sepatu itu juga hanya ia tambahkan hak setinggi lima senti dengan bahan yang nyaman untuk membuat Dara tak terlalu sulit berjalan.

Malam ini,Dara tampil sangat berbeda dari biasanya. Sangat menawan. Bibirnya ia sapukan lip gloss warna pink serta riasan wajah yang tak terlalu kentara namun sangat pas di wajahnya. Kalung dengan liontin hati serta anting perak mata satu menambah kesan anggunnya. Penampilan ini tentu saja bukan keinginan Dara, suatu kemustahilan ia akan rela berdandan habis-habisan untuk suatu acara.

Eomma yang memaksa mengenakan riasan dan segala macam aksesoris, tentu ia harus tampil berbeda ketika di acara formal seperti ini. Percayalah,Dara adalah pemandangan yang sempurna bagi Ji Yong. Andai Ji Yong tak mengenakan kacamata hitam saat ini, mungkin Dara bisa melihat mata berbinarnya kala menatap gadis itu.

Kajja, acara akan dimulai sebentar lagi,” Ji Yong menyadarkan Dara dari ketegangannya.

“Ji Yong-ah, aku…”

“Aku tahu kau gugup. Tapi apakah kau hanya akan berdiam diri di mobil? Kau tak mau menemaniku di acara sepenting ini?”

Dara menundukkan wajahnya, ia sangat tegang kali ini, khawatir melakukan kesalahan di depan publik. Ia tahu acara ini adalah acara bergengsi. Ji Yong mengelus rambut Dara yang malam ini ia biarkan terurai dengan ikal halus di ujungnya. Dara mendongak untuk melihat Ji Yong dan melihatnya tersenyum. Senyum memikatnya. Ah, dengan ketampanan di atas rata-rata dan penampilan menawannya, ia mungkin akan mimisan saat ini juga.

Bukan hanya Ji Yong yang terpana dengan Dara malam ini, gadis itu juga merasakan hal sebaliknya. Dengan tuxedo yang senada dengan warna gaunnya, ketampanan Ji Yong terlihat berkali lipat tidak manusiawi. Kacamata hitam itu menambah kesan manly bagi prianya. Rambutnya pun telah ia ganti dengan warna hitam kelam serta sentuhan kelimis rapi. Tidak, jangan bayangkan pria ini akan culun karena gaya rambutnya, kata luar biasa pun masih belum bisa menggambarkan bagaimana penampilan sempurna Ji Yong saat ini.

Ji Yong keluar mobil lebih dahulu untuk menunggu Dara di luar, tak mungkin ia berlama-lama lagi di dalam mobil sementara acaranya sebentar lagi akan dimulai. Jangan pikirkan Ji Yong akan membukakan pintu untuk Dara lalu menyambutnya dengan uluran tangan, itu bukan gayanya.

Pasangan yang menjadi sorotan media saat ini sedang berjalan beriringan di karpet merah menuju ballroom hotel tempat acara dimulai. Kilatan blitz terarah pada Ji Yong dan Dara dari berbagai sudut.

“Pegang tanganku,” Ji Yong mendesis seraya menyodorkan tangan kirinya ke arah Dara.

Shireo!”Dara tak kalah mendesis.

“Kau akan terus melangkah tak karuan di sepanjang sisa perjalanan kita menuju ballroom?”

“Ini semua akibat ulahmu yang memaksaku untuk tetap mengenakan sepatu sialan ini.”

“Jangan kekanakan nona, kau pikir kau bisa menggunakan sepatu ketsmu di acara formal ini? Jangan harap!”

Dara memang berjalan sempoyongan sedari tadi dengan langkah yang harus ia sesuaikan dengan Ji Yong. Meskipun tinggi haknya tak seberapa, tetap saja ini ujian baginya yang selalu mengenakan sepatu kets kemanapun. Ia telah berusaha setengah mati untuk mengenakan sepatu keparat ini, namun tetap saja langkahnya selalu hampir tertinggal dari Ji Yong.

“Kau!”

Ji Yong dengan sigap menangkap Dara dari samping karena gadis itu hampir saja jatuh karena tak memerhatikan langkahnya sendiri. Dara yang kaget hanya bisa bersandar pada prianya dan memegang erat lengan kirinya. Sungguh kejadian memalukan ini terjadi. Bahkan sekarang kilatan blitz semakin mengarah padanya. Dara tegang seketika.

Ji Yong yang mengerti kondisi Dara saat ini segera membenarkan posisi tubuh Dara dan meletakkan tangan kanan gadisnya untuk melingkar di tangan kirinya. Dara yang mungkin masih mengumpulkan kesadarannya dengan pasrah menurut pada Ji Yong. Jika saja gadis ini mau patuh sedari tadi, peristiwa ini tidak seharusnya terjadi.

*****

Ji Yong dan Dara saat ini telah berada di kursi VIP bersama sederet bintang ternama dan jajaran orang penting lainnya. Mereka duduk berhadapan di meja dengan hidangan istimewa yang telah disediakan serta sebotol sampanye. Ruangan ini di desain dengan beberapa meja bundar, sehingga selama menyaksikan pertunjukan berlangsung tamu dapat menikmati hidangan yang disajikan.

Saat acara dimulai, Ji Yong sempat naik ke atas panggung untuk menyampaikan pidato pembukaannya. Selaku pemilik acara ia memberikan sambutan untuk seluruh tamu yang hadir. Tak lupa ia juga secara tersirat memperkenalkan Dara di depan umum dengan mengucapkan terima kasih atas kehadiran gadisnya malam ini. Hal itu membuat pipi Dara merona dan tersenyum canggung. Sungguh, ia terlalu malu untuk menjadi pusat perhatian banyak orang.

Acara pagelaran telah berlangsung setengah jalan. Para model baru saja menyelesaikan catwalk-nya. Riuh tepuk tangan tak hentinya terdengar di ballroom hotel mewah tersebut. Sekarang tinggal menyaksikan penampilan dari beberapa orang desainer kenamaan yang bekerja sama dengan Dragon’s Company. Mereka akan mempresentasikan hasil rancangannya ke depan publik menggunakan berbagai media. Namun sebelum itu, acara makan malam terlebih dahulu digelar.

Di sepanjang acara ini banyak sekali orang yang berjalan ke arah meja Ji Yong dan Dara. Orang-orang itu menyapa Ji Yong dan terlihat sangat akrab. Tentu mereka juga menyapa Dara, bahkan ada yang terang-terangan memujinya. Dan itu datang dari salah satu idol Korea Selatan saat ini. Dara tahu karena wajahnya yang sering berlalu lalang di televisi dan media lainnya.

Namanya Tae Yang, kalau tidak salah. Entahlah, Dara tak terlalu menyukai dunia hiburan. Dari beberapa orang yang menyapa Ji Yong tadi dan orang yang hadir di tempat ini pun Dara hanya kenal beberapa. Itu pun hanya tahu wajahnya. Ia memang tak terlalu mengenali dunia Ji Yong yang satu ini. Biarlah itu menjadi urusan Ji Yong, yang terpenting Dara hanya perlu percaya padanya.

“Makanlah yang banyak. Aku tahu kau lapar. Apa perlu aku panggilkan pelayan untuk memberimu makanan lagi?”

Dara memutar bola matanya malas. Ia pun tahu ia lapar dan sudah menahannya semenjak acara dimulai, namun tak usah juga Ji Yong menyuruhnya makan lagi. Ia saat ini sudah kenyang menghabiskan seporsi steak dan kentang yang telah dihidangkan, “Aku sudah kenyang. Lebih baik kau panggilkan pelayan untuk mengambilkan aku jus jeruk. Aku tak suka sampanye.”

Ji Yong tersenyum mendengar permintaan Dara. Gadisnya memang tak menyukai minuman yang aneh-aneh, ia lebih menyukai jus jeruk, minuman berwarna oranye yang menurutnya segar itu.

“Kau tak ingin melakukan love shot denganku?”

Dara mencebik, “Lakukan sendiri. Aku tak akan sudi.”

Tawa Ji Yong hampir meledak mendengar jawaban gadis itu. Godaan darinya berhasil dan membuat Dara sedikit kesal. Ia pun melambaikan tangan ke arah pelayan untuk segera mengambilkan pesanannya. Jus jeruk pun datang tak lama setelahnya.

“Aku membawa kabar yang mungkin akan membuat kau serangan jantung mendengarnya.”

Ji Yong menautkan alisnya memberi isyarat tak mengerti, “Apa itu?”

“Aku sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk tugas akhirku,” ujar Dara bangga dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Jinjja?”

Dara mengangguk mantap sebagai jawaban. Ia berharap akan segera lulus setelah tugas akhirnya usai nanti. Ia memang baru menjalani masa kuliah selama tiga tahun, namun karena nilainya yang konsisten dan cukup memuaskan di tiap semester, maka dosennya memutuskan bahwa ia dapat segera memulai tugas akhirnya lebih awal. Meskipun terkadang ia meminta bantuan dari Ji Yong untuk tugasnya, namun terlepas dari itu Dara adalah gadis yang tergolong pintar dan rajin. Mata Dara berbinar setiap mengingat hal itu, ia berjanji akan berusaha dengan keras dan tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

“Kau kan gadis bodoh, mana bisa lulus secepat itu? Lagipula apa kau yakin bisa menyelesaikan tugas akhirmu saat akhir musim dingin? Sejujurnya aku tak yakin dengan hal itu.” Ji Yong mengejek Dara, “Dan aku tak terkena serangan jantung, kabar ini sangat standar menurutku.”

Cubitan di lengan Ji Yong membuatnya mengaduh. Untung ia sadar bahwa mereka saat ini berada di depan umum sehingga alih-alih meneriaki Dara, Ji Yong hanya mengusap lengannya itu dengan ekspresi menyebalkan.

“Kekasih macam apa kau ini? Seharusnya kau mendukungku. Tak adakah rasa bangga darimu terhadapku? Ini membuktikan kalau otakku tak kalah cemerlang darimu.”

“Kau ingin menyaingi aku, huh? Bahkan aku hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk bisa mengambil gelar sarjana dengan nilai yang mendekati kata sempurna. Kau tahu? Otak bodohmu jangan kau samakan dengan punyaku. Itu jelas berbeda.”

Dara menyebikkan bibirnya dan menghela napas kasar. Bagaimana bisa ada orang kurang ajar dengan mulut besar seperti pria di hadapannya ini? Kekasih yang mengolok-olok dirinya dengan kesombongan akut. Oh Tuhan, jika ini bukan di depan umum, mungkin Dara akan melemparkan pisaunya ke mulut besar pria kaya ini. Ia benar-benar muak.

“Jika kau ingin menunjukkan otak cemerlangmu yang aku tidak yakin tidak seberapa itu, buktikan dengan kelulusanmu di akhir musim dingin nanti.”

“Memangnya kenapa? Aku lulus atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu.”

“Tentu menjadi urusanku. Siapa tahu dengan gelar sarjanamu nanti, kau biasmenjadi Nyonya Kwon setelah mendapat lamaran dariku.”

Jus jeruk yang tiba di tenggorokan Dara hampir keluar detik itu juga jika ia tidak menahannya segera. Apa katanya barusan? Melamarnya? Jangan gila, ia masih muda saat ini. Ia masih harus mengejar ambisi untuk meneruskan pendidikannya, ke luar negeri jikalau bisa. Namun membayangkan ia akan menyandang status Nyonya Kwon membuat Dara lebih merona dari sekadar sapuan blush on di pipinya, bagaimana pun itu juga merupakan salah satu impiannya. Meskipun itu nanti, mungkin beberapa tahun ke depan.

Alih-alih menatap ekspresi Dara yang saat ini sedang membayangkan masa depan bersamanya, Ji Yong dengan santai menuangkan sampanye ke gelas dan meminum dengan sekali tenggak. Dara yang melihat hal itu menormalkan detak jantung dan ekspresi salah tingkahnya. Ish, kau mungkin sedang dibodohi olehnya! Berhenti berpikiran prianya akan melakukan hal romantis yang membayangkannya saja sudah dirasa mustahil.

“Ji Yong!”

Dara tak menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat seorang wanita seksi menghampiri Ji Yong dengan langkah terburu-buru. Wanita itu cantik dengan gaun sutra backless warna merah menyala yang melilit tubuhnya. Rambutnya ditata sedemikian rupa menjadi sanggul tinggi menampilkan leher jenjangnya yang putih. Sungguh kesan glamor sangat melekat pada diri wanita yang tidak Dara kenali itu.

“Ini aku, Min Soo. Kim Min Soo,” wanita yang memperkenalkan dirinya itu sekarang tengah berdiri dengan wajah berseri menatap Ji Yong di sampingnya.

Ji Yong terlihat berpikir sejenak, “Min Soo?”

“Ya! Ini aku, Yong-ie.”

Dara semakin membelalakkan matanya saat melihat wanita itu dengan semangat meraih tangan Ji Yong untuk dijabat lalu membungkukkan badannya dan mempertemukan pipi masing-masing. Astaga, pemandangan macam apa ini? Dan apa katanya barusan? Yong-ie? Apa itu sejenis panggilan khusus? Memangnya seakrab apa mereka? Hah, dirinya bahkan hanya memanggil kekasihnya itu dengan nama yang tak ada spesial-spesialnya.

Dengusan napas kesal dari Dara terdengar jelas oleh kedua orang di hadapannya yang masih tidak melepaskan tautan tangan mereka. Seakan tersadar, Ji Yong melepaskan tangannya dari Min Soo dan tersenyum kikuk karenanya. Ada apa dengan pria itu? Sungguh ini di luar kebiasannya untuk bertingkah kikuk di hadapan wanita lain. Tiba-tiba oksigen di sekitar Dara terasa menipis, ia tak bisa bernapas dengan baik saat ini. Pipinya juga terasa memanas. Bukan, bukan karenarasa malu tentunya. Lalu ia cemburu? Astaga, Dara tak sudi untuk mengakuinya.

“Maaf aku tak mengenalimu, rasanya sudah lama sejak terakhir bertemu,” Ji Yong tersenyum pada Min Soo, lalu mengalihkan pandangannya pada Dara, “Perkenalkan, ini Dara. Dan Dara, ini Min Soo.”

Min Soo juga menatap terkejut pada Dara, memperhatikannya dengan saksama. Sementara Dara mengedarkan pandangannya malas ditatap seperti itu oleh Min Soo. Mengapa harus seperti itu menatapnya? Adakah yang aneh dari penampilannya?

“Hai, aku Min Soo,” wanita itu membungkuk lalu mengulurkan tangannya di hadapan Dara seraya tersenyum.

Darabalas membungkuk seraya mengambil uluran tangan Min Soo, “Dara,” ujarnya singkat.

Min Soo mengalihkan pandangannya ke arah Ji Yong dengan tatapan bertanya.

“Dia gadisku,” ucap Ji Yong yang seakan mengerti arti tatapan Min Soo.

“Woah,daebak! Ku pikir kau tak akan punya kekasih seumur hidupmu,” Min Soo sedikit menyenggol lengan atas Ji Yong, dan mereka tertawa karenanya.

Hah, kenapa mereka itu? Dara tak sedikitpun merasa ada yang lucu dengan hal yang terjadi barusan.

“Dara-ssi, racun apa yang kau berikan pada pria keras kepala ini? Kau pasti penyihir ahli karena bisa menaklukannya.”

Dara tertawa enggan untuk menanggapi lelucon Min Soo yang kelewat garing menurutnya. Tak perlu diberi racun pun, Ji Yong sudah bertekuk lutut di hadapannya. Semenjak hari di mana Dara dan Ji Yong bertemu di kelasnya, mereka selalu bertemu lagi dalam keadaan yang tidak wajar. Bertemu di kampus Ji Yong saat Dara mengantar Jun Hyung mengunjungi temannya.

Lalu di taman saat Ji Yong membawa Gaho, anjingnya, untuk jalan-jalan sementara Dara sedang lari pagi. Dan yang terakhir membuat mereka semakin dekat adalah ketika Dara menjadi juniornya di kampus, sementara Ji Yong telah menjadi alumni. Ya, Dara sekarang berada di kampus yang sama dengan Ji Yong beberapa tahun lalu meskipun berbeda jurusan. Entah itu kebetulan atau semacam… takdir?

Memang Ji Yong saat itu sudah lulus dan sedang merintis perusahaan, namun ia masih sering mengunjungi kampus karena selalu ada panggilan dari dosen untuk menggantikannya. Ji Yong bisa dikatakan sebagai mahasiswa cemerlang di angkatannya, sehingga banyak dosen yang mengenal dan mempercayainya untuk terkadang mengajar beberapa mata kuliah di sana. Selama tahun pertama Dara kuliah, ia sering bertemu Ji Yong di kampus.

Awalnya mereka saling membenci, namun layaknya cerita dalam drama picisan, mareka pun mulai memiliki ketertarikan masing-masing. Ji Yong yang pertama menunjukkannya dengan menghajar pria yang saat itu menjadi teman dekat Dara. Ia tak menyadari alasan untuk memberi tinju pada lelaki yang bahkan tak dikenalnya. Ia hanya merasa hal itu mengganggunya. Ji Yong yang selama ini melihat Dara selalu dengan teman wanitanya, merasa tak suka jika gadis itu harus dekat-dekat dengan pria lain. Dan akhirnya ia tahu, ia hanya ingin memiliki Dara di sisinya, hanya gadis itu.

“Karena sudah lama tidak bertemu, bolehkah aku duduk di sini? Sungguh, aku ingin mengetahui banyak hal tentang kalian berdua. Yong-ie, kau harus menceritakan semua hal yang tidak ku ketahui.”

Ji Yong kemudian menatap Dara dengan sorot pandangan seolah bertanya, ‘Bagaimana menurutmu?’

Dara membalas Ji Yong dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana kekasihnya akan bertindak, apakah ia akan memilih untuk menolak atau menghadirkan wanita pengganggu ini di antara mereka. Ya, mulai saat ini Dara mengenal Min Soo dengan sebutan itu, ia memang sangat mengganggu. Terlalu bising.

“Hmm Min Soo…”

“Yak acaranya akan segera dimulai lagi. Chogiyo, tolong berikan satu kursi untuk di sini.”

Ji Yong yang belum menyelesaikan ucapannya segera dipotong oleh Min Soo yang meminta tolong pada pelayan untuk menempatkan kursi tambahan di mejanya. Dara benar-benar kesal kali ini, ternyata selain mengganggu wanita ini juga tak tahu malu pikirnya. Min Soo segera duduk setelah kursi datang dan mulai menanyakan Ji Yong banyak hal. Sementara itu, pembawa acara telah mempersilakan para desainer untuk tampil ke panggung.

Ji Yong yang tahu gadisnya sedang menahan amarah hanya menatapnya dengan pandangan canggung, seperti memberi pengertian. Dara melihat itu dengan seringaian menyebalkan. Ji Yong pikir ia akan mengerti? Tentu saja tidak, jangan sinting kau! Dara menarik gelas kosong, menuangkan sampanye, lalu menenggaknya sampai habis seperti yang Ji Yong lakukan beberapa saat lalu. Rasa kesalnya membuat ia tak cukup waras kali ini.

*****

Sisa acara Dara lewati dengan ekspresi datar dan menyedihkan. Bagaimana bisa ia menikmati acara jika dua orang di hadapannya mengobrol tanpa henti? Astaga, sungguh ia sangat tidak diacuhkan kali ini. Mereka membicarakan hal semasa kuliah yang tak penting menurut Dara. Ya, Ji Yong dan Min Soo adalah teman kelas semasa kuliah. Dan Min Soo yang saat ini tengah merambah dunia fashion dengan membuka butik dan beberapa cabang secara tidak langsung telah bekerja sama dengan perusahaan Ji Yong dan mendapat suntikan dana dari perusahaannya.

Dara menghembuskan napasnya melihat jam pada ponselnya yang sudah menunjukan lewat tengah malam. Seharusnya saat ini menjadi momennya bersama Ji Yong, namun semuanya gagal karena ada wanita di hadapannya ini.

“Para hadirin sekalian, jam telah menunjukkan pukul 12.10. Meskipun sedikit terlambat, tiba saatnya kita memasuki puncak acara yang telah kita susun sebelumnya. Jangan kaget, ini adalah acara spesial pada perayaan Dragon’s Fashion kali ini. Selamat menyaksikan!”

Suara pembawa acara tersebut tergantikan dengan ruangan yang gelap total, membuat terkejut orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Kemudian, di panggung mulai terdapat pantulan sinar yang lama kelamaan membentuk sebuah gambar. Itu gambar Ji Yong.

Semua mata tentu saja menuju ke arah panggung itu, heran mendapati gambar CEO dengan tuxedo resminya dipampang besar-besar. Tak lama kemudian lampu menyala lagi dengan turunnya pita warna-warni dan ribuan balon. Ini adalah sebuah perayaan. Perayaan ulang tahun Ji Yong yang terjatuh pada hari yang baru berganti beberapa saat lalu, 18 Agustus.

Kemudian entah dari mana muncul kue ulang tahun tingkat lima yang tiba di hadapan Ji Yong. Ji Yong terkejut? Tentu saja. Sungguh ia merasa terharu. Semua orang yang berada di ballroom pun berseru dan segera berdiri, memeriahkan perayaan yang tak disangka akan diadakan. Dan jangan lupakan gadis mungil yang sedang terpaku di hadapan Ji Yong dan kue super besarnya. Dara.Ia juga sama sekali tak tahu akan hal ini.

Dengan tak terduga, Min Soo yang berdiri di samping Ji Yong segera menyalaminya dan mempertemukan pipinya dengan Ji Yong, lagi. Kali ini bahkan gadis pengganggu itu melakukannya dngan tubuh yang nyaris berdekatan hampir memeluk Ji Yong. Ia memberi ucapan selamat ulang tahun dengan penuh antusias, kemudian diikuti beberapa orang lain di sekitar mereka.

Ji Yong yang sangat terkejut hanya dapat menyalami mereka dengan pandangan yang masih belum sadar sepenuhnya. Ia hanya tersenyum dan berusaha mengucapkan terima kasih sekadarnya. Sebelum acara pemotongan kue, Ji Yong dengan microphone di tangannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawainya dan semua orang yang telah hadir. Ia juga memanjatkan beberapa pengharapan dengan kesadaran yang belum utuh sepenuhnya.

Diiringi riuh tepuk tangan, ia memotong kue dengan pisau besar yang telah disediakan. Ji Yong tersenyum. Bangga dengan perayaan pesta kejutan untuknya. Ia kemudian menuangkan sampanye dan membuat orang-orangyang berada di tempat itu juga mengikutinya untuk bersulang. Ia terlalu larut dalam acara itu, dan ia mengabaikan satu hal. Gadis yang sedari tadi membisu dan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Gadisnya.

*****

Aku memutuskan berdiam diri semenjak beberapa saat lalu, mencoba menenangkan hati dan pikiranku yang berputar tak tentu arah. Jika Ji Yong terkejut, lalu bagaimana denganku? Sangat terkejut juga tentunya. Aku sama sekali tak mengetahui akan adanya pesta itu. Mungkin wajar, itu adalah pesta yang dirancang perusahaan Ji Yong untuk dirinya. Mana mungkin aku tahu sementara aku tak pernah bergaul sedikitpun dengan dunianya?

Aku hanya tahu Ji Yong adalah seorang ahjussi mesum yang selalu meluangkan waktunya untukku. Ia konyol sekaligus menyebalkan dengan mulut tajamnya yang sering membodohiku. Ji Yong yang aku kenali adalah kekasihku, bukan Ji Yong seorang pengusaha sukses dengan balutan jas mewah yang seering terkena sorot kamera pemburu berita.

Bahkan di sepanjang acara aku tak mengenal siapapun dengan baik selain Ji Yong, dan jangan lupakan wanita pengganggu sialan yang baru aku kenal beberapa saat lalu. Aku sangat ingat dengan jelas bagaimana Min Soo berada di sebelah Ji Yong, bergabung dan mengobrol dengan beberapa orang di sekitarnya. Sementara aku? Hanya berdiri terpaku menatap Ji Yong yang asik dengan dunianya.

Aku tak berusaha membaurkan diri. Memangnya siapa aku ini? Aku hanyalah seorang gadis biasa yang sedang mencoba menyusun tugas akhir untuk mengambil gelar sarjana. Sangat tak pantas berada di sekitar orang-orang yang telah sukses dengan bisnis besarnya.

Aku juga sungguh mengingat dengan pasrahnya Ji Yong menerima pertemuan pipi dengan Min Soo untuk kedua kalinya. Bahkan lebih intens. Min Soo adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Ji Yong. Aku tak sempat menyalaminya, mengucapkan selamat pun tidak, bahkan hingga detik ini. Aku terlalu kecil di sana, tempat itu menenggelamkanku dengan segala ketidakberdayaanku.

“Kita sudah sampai.”

Suara Ji Yong menyadarkanku yang sedari tadi diam seraya memejamkan mata. Biarlah ia menganggap diriku tidur, aku sedang tak ingin berbicara dengannya. Jam hampir menunjukkan pukul dua dini hari saat aku berada di depan gerbang rumah dan telah mengabari orang tua serta kakakku untuk pulang sedikit terlambat, namun tak disangka ternyata pagi ini aku baru tiba.

Aku harus menyiapkan diri untuk mendengar ocehan Jun Hyung oppa besok pagi. Ji Yong sangat menikmati pestanya tadi, kalau aku tidak pergi duluan ke arah parkiran karena hampir mati terabaikan, mungkin ia tidak akan sadar akan kehadiranku di dekatnya dan memilih untuk menghabiskan pesta hingga matahari terbit. Cih, menyedihkan.

Aku membuka sabuk pengaman, merapikan gaunku dan blazer yang masih tersampir di bahu. Aku tak bisa menampik bahwa gaun dan sepatu rancangan Ji Yong yang aku kenakan sekarang ini sangatlah sempurna dengan model yang cukup simpel. Oh Tuhan, bahkan pria ini bisa membuat sebuah pakaian kurang bahan dengan harga yang tak bisa kau bayangkan dan tetap laku di pasaran.

Jangan lupakan betapa beruntungnya aku yang diberi dengan cuma-cuma oleh lelaki ini. Cerminan pria idaman sempurna yang dapat mengabulkan apapun keinginanmu. Tapi tunggu, ia tak pernah mengatakan gaun ini diberikan kepadaku. Gaun ini hanya sampai di depan pintu rumahku tadi pagi dan Ji Yong memintaku memakainya untuk menemani dalam acara bodoh itu. Apa mungkin gaun ini harus dikembalikan padanya lagi? Perhitungan sekali dia.

“Terima kasih,” ucapku singkat dan hendak membuka pintu mobil ketika Ji Yong menahan lenganku.

“Kau tak akan mengucapkan sesuatu padaku?”

Saat ini aku sedang menghadapkan muka pada kaca mobil seraya menggigiti bibir bawahku. Sungguh, aku tak ingin mengatakan apapun padanya, aku hanya ingin segera sampai di kamarku dan merebahkan diri di sana, “Gaun dan sepatunya akan aku kembalikan nanti setelah dicuci,” ucapku yang masih memalingkan wajahku darinya. Bodoh! Mengapa kau harus mengatakan hal yang tidak berguna?

“Dara-ya…”

Ji Yong meraih tanganku yang lainnya dan menghadapkan tubuhku ke arahnya sehingga kali ini wajah kami berhadapan.

“Aku tahu kau marah, dan aku tidak tahu pasti karena alasan apa. Bicaralah. Aku minta maaf apabila kau marah karena aku mengabaikanmu tadi, aku terlalu kaget hingga larut dalam pesta itu.”

Sudah tahu untuk apa bertanya? Kau ternyata lebih bodoh dariku, Ji Yong! “Tidak apa-apa, lagipula memang aku tak akan mungkin berbaur dengan acaramu. Seharusnya kau tak perlu membawa gadis menyedihkan sepertiku sejak awal,” bibirku bergetar saat mengatakannya. Ayolah Dara, mengapa kau sensitif sekali?

“Hei, kau adalah gadisku. Aku juga ingin memperkenalkanmu di depan publik dan menyatakan bahwa kau ini adalah milikku, kekasihku.”

“Lalu apa untungnya untukmu? Aku bahkan mempermalukanmu Ji Yong-ah. Tak sadarkah kau tentang itu? Kau hanya membawa gadis yang bahkan hanya bisa diam seribu bahasa saat kekasihnya mendapat pesta kejutan ulang tahun. Aku sungguh tak pantas untuk disandingkan dengan CEO kaya seperti dirimu!”

“Siapa yang bilang itu semua padamu? Siapa yang bilang padamu bahwa kau tidak pantas berada di sampingku? Malhaebwa, ppali.”

Aku menundukkan wajah dengan cengkraman tangan Ji Yong yang semakin erat di pergelangan tanganku. Aku tak bisa berkata-kata kali ini.

“Kau dan pikiranmu itu yang mengatakannya, Dara-ya. Kau yang pantas untukku, sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Berhenti berpikiran macam-macam, kau hanya belum terbiasa dengan duniaku yang lain. Hal ini wajar, kau bahkan baru pertama kali melihat rekan-rekanku selain di kantor,” Ji Yong tersenyum dan menarikku ke dalam pelukannya.

Apa yang ia lakukan sekarang? Astaga, tubuhku bahkan hanya bisa membeku karena menerima perlakuannya yang tak terduga kali ini. Mengapa rasanya hangat dan juga… nyaman? Ck, bahkan ini bukan pertama kalinya namun aku masih merasakan jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya saat Ji Yong memelukku. Memalukan! Kau memang amatir, Park Sandara!

Walaupun di awal aku sempat tak menyukainya, namun sekarang aku selalu suka berada di posisi ini, merasakan hembusan napasnya di telingaku dan mencium aroma maskulinnya yang selalu aku gilai. Perasaan kesal yang tadi membumbung di hatiku lenyap tak berbekas. Pria ini selalu tahu caranya meredakan amarahku.

“Jangan marah lagi. Aku minta maaf bila tak mengacuhkanmu, kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Jadi… sedekat apa kau dengannya?” pikiran di benakku sedang tak terkontrol dan tiba-tiba aku mengutarakannya langsung.

Jeda sesaat saat Ji Yong mendengar pertanyaan konyolku, “Nugu?”

“Wanita seksi itu. Kau bahkan menerimanya saat mengucapkan selamat ulang tahun dan kalian berciuman pipi. Dua kali. Ish, beruntungnya ia menjadi orang pertama yang mengucapkan hal itu padamu.”

Ji Yong tersentak seraya menahan tawa gelinya saat ini, sungguh aku bisa dengan jelas mendengarnya. Ia segera melepaskan pelukannya dan langsung menatap dengan tawa menyebalkan terarah padaku, “Hei, seharusnya kau bilang bahwa kau cemburu.”

Aku melebarkan mata dan tersadar penuh dengan apa yang aku ucapkan padanya barusan. Sialan! seharusnya aku tak mengatakan hal-hal yang membuat ia semakin membesarkan kepalanya. Aku mengutuk diriku sendiri kali ini. Kau selalu bertindak bodoh di saat yang tidak tepat, Sandara! Percayalah, pria itu juga telah kurang ajar karena dengan mulut besarnya ia sengaja merusak suasana yang hampir romantis di antara kami barusan.

“Tidak, aku tidak cemburu,” ucapku berusaha mengelak seraya memalingkan wajah dari tatapannya.

“Kau tidak akan bisa membodohiku. Kau pikir aku baru mengenalmu beberapa saat yang lalu? Kitasudah mengenal selama lebih dari lima tahun. Aku bahkan melihat pertumbuhanmu dari gadis macam papan sehingga mempunyai lekukan menggairahkan di setiap senti tubuhmu.”

Aku melebarkan mata lagi, menatapnya tak percaya, “Mesum kau!” bentakku dengan wajah merah padam menahan malu. Tak bisakah ia mengontrol ucapannya? Bagaimana bisa dengan santainya ia mengucapkan hal-hal tak pantas di hadapan kekasihnya? Sungguh, ada sesuatu yang tak beres dengan otak cemerlangnya itu.

Ji Yong tertawa dengan sangat puas setelah mendapat cubitan di lengannya dariku. Ia terlihat sangat menyebalkan dengan ekspresinya saat ini, “Aku bercanda, gadis bodoh,” ia menghentikan tawanya lalu mulai bersikap serius, “Lalu memangnya kenapa jika Min Soo menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padaku? Bagiku tak ada kesan spesial, itu hanyalah ucapan sebagai teman, sama seperti rekan bisnisku yang lainnya.”

“Kau bahkan hanya berdiam diri sedari tadi dan memilih untuk pura-pura tidur. Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Kau membalas dendam untuk mengabaikanku, eoh?” lanjut Ji Yong.

Oh astaga, aku ketahuan dari tadi sengaja diam untuk menghindarinya. Lagipula siapa yang pertama kali bertingkah macam-macam? Wajar aku begini, bukan? Ini salahmu sendiri, Ji Yong-ah.

Rasa kesal tiba-tiba menghampiriku. Dengan cukup kasar, aku membuka tasku dan mengeluarkan kotak putih berukuran sedang dengan hiasan pita kuning di atasnya yang telah aku persiapkan sejak jauh-jauh hari. Ya, itu warna kesukaannya Ji Yong. Norak sekali, bukan? CEO kaya ini menyukai perpaduan warna kuning dan putih, “Ini untukmu,” ucapku seraya menyerahkan benda ini ke pangkuannya.

Ji Yong menatap kotak itu, “Apa ini?”

“Jika kau idiot dan masih belum mengerti dengan otak cerdasmu itu. Biar aku jelaskan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu, dan itu adalah hadiah yang aku berikan. Itu kado. Untukmu. Kau lebih bodoh dariku, Ji Yong-ah?”

“Yak! aku tahu ini kado, tapi apa isinya?”

“Buka saja sendiri, aku tak mau repot-repot memberitahumu jika kedua tangan serta bola matamu masih berfungsi baik untuk membuka kado itu dan melihat apa isi di dalamnya.”

Ji Yong menatapku malas dan memutarkan bola matanya dengan cara yang menyebalkan, “Terima kasih. Setidaknya kau ingat ini hari ulang tahunku.”

“Tentu, aku harus mengingatnya agar kau bisa membalas budi di hari ulang tahunku yang akan datang.”

“Yak! Kau!” kali ini ia yang menatapku kesal. Rasakan kau! Ini tak sebanding dengan rasa kesalku karena ulahmu dengan wanita pengganggu itu, Ji Yong.

Aku hendak membuka pintu mobil ketika teringat akan sesuatu, segera aku menoleh ke padanya lagi, “Selamat ulang tahun, Ji Yong-ah. Kau semakin tua saja, ahjussi.”

Baru aku memalingkan mukaku lagi untuk keluar dari mobilnya, Ji Yong kali ini menarik lenganku dengan cukup kencang hingga wajahku langsung berhadapan dengan wajahnya membuatku kaget. Dan yang lebih mengejutkan adalah jarak kami yang sangat dekat, hanya terpaut beberapa senti. Ku ulangi lagi. Sangat dekat. Hidung kami akan segera berbenturan jika aku memajukan sedikit saja tubuhku ke arahnya.

Aku hanya bisa terpaku menatapnya. Sungguh, dari jarak sedekat ini aku bisa melihat lebih jelas wajah berbentuk oval yang halus bagai porselen dengan rahang tegasnya. Jidat lebar, alis tebal, serta mata cokelat setajam elang yang ia miliki selalu menenggelamkanku pada segala pesonanya. Jangan lupakan juga hidung mancungnya serta bibir, bibir merah merona alami yang mampu membentuk senyuman mematikan. Sungguh, ketampanannya memang tidak masuk akal, ini terlalu… sempurna.

“Sudah ku bilang untuk berhenti memanggilku dengan panggilan bodoh itu. Ahjussi mana yang mampu membuatmu terpikat hingga tak mampu menolak pesonanya? Tak ada ahjussi seperti itu, Dara-ya. Yang ada hanya aku, Kwon Ji Yong. Kekasihmu yang muda, tampan, dan kaya raya tentunya.”

Oh Tuhan, ia selalu mampu membuat suasana rusak dengan mulut besar dan kesombongannya itu. Walau aku tak dapat memungkiri, namun tetap saja ia adalah pria yang menyebalkan dengan ucapan tingginya itu.

“Ini adalah hari ulang tahunku. Tak bisakah kau meninggalkan suatu kenangan yang akan selalu ku ingat? Sebuah… ciuman misalnya?”

Aku mengarahkan telunjukku pada jidatnya untuk kemudian mendorong tubuhnya menjauhiku, “Kau pikir aku akan seperti Eun Mi yang rela dicium oleh pria mulut besar sepertimu, hah? Mimpi saja kau!”

Aku segera membuka pintu mobil mewahnya dan segera menutupnya dengan kekuatan ekstra, menghasilkan suara yang cukup keras di dini hari yang hening. Aku memutari mobilnya untuk membuka pintu pagar yang memang tak terkunci dan melenggang untuk segera memasuki rumah.

Sebelum aku benar-benar masuk, aku mendengar Ji Yong meneriakkan salam perpisahan dan mengatakan bahwa aku bisa menyimpan gaun darinya karena ini memang pemberiannya. Aku menarik kata-kataku, pria kaya raya itu tak pelit juga rupanya. Aku tersenyum geli, mengingat pria dengan jeritan norak itu adalah kekasihku.

*****

Ji Yong mengemudikan mobil dengan kecepatan standar. Meskipun jalanan tengah lengang, namun ia tetap harus berhati-hati. Tak bisa dipungkiri ia lelah dan ingin segera beristirahat saat ini. Namun dalam rasa lelahnya, ia tersenyum.Tersenyum mengingat gadis dengan sifat kekanakan itu cemburu padanya karena Min Soo.

Sungguh, gadisnya itu selalu tak bisa mengendalikan perasaannya yang selalu meledak-ledak tak karuan. Dan dengan konyol Ji Yong terlanjur menyukai hal bodoh itu, terjebak dalam segala pesona kekasihnya.

Sejujurnya, Ji Yong tidak memiliki kedekatan yang berlebih pada Min Soo. Ia hanya salah satu dari sekian wanita yang pernah berkencan dengannya untuk bersenang-senang semasa kuliah. Dan apa yang dikatakan Dara tadi? Eun Mi? Ia masih saja membahas wanita itu. Jangan berpikiran Eun Mi adalah mantan kekasihnya, Ji Yong bahkan tak punya rasa sedikitpun pada wanita yang keberadaannya entah dimana saat ini.

Lalu mengapa mereka bisa dekat dan berciuman dalam bioskop? Itu karena ulah Ji Yong dan rekannya yang menjadikan Eun Mi sebagai incaran taruhan.Jika setelah berkencan dengan Eun Mi ia harus menerima tamparan dan guyuran air layaknya drama murahan yang sering kalian jumpai di televisi, maka berbeda hal dengan Min Soo. Setelah tahu ia hanya dijadikan permainan oleh Ji Yong, wanita itu malah tersenyum dan menganggapnya sebagai kesenangan belaka karena bisa berkencan dengan pria semenawan Ji Yong.

Mereka menjalin pertemanan dan sering menghabiskan malam dengan teman-temannya yang lain. Mereka bahkan hampir tidur bersama jika saja Ji Yong tidak menolaknya. Meskipun ia brengsek, sebagai teman ia tak ingin merusaknya lebih jauh. Min Soo memang penggila pria, ia bahkan sering datang ke club malam untuk mencari pria-pria kesepian.

Ting!

Ji Yong segera membanting pelan stir ke arah tepi serta memperlambat laju mobilnya. Jalanan memang sangat lengang, dari jarak pandangnya pun saat ini, tak terlihat ada kendaraan lain di sekitarnya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda hitam itu, ponsel pintarnya. Mungkin ini pesan dari Dara, pikirnya.Baru sedetik ia tersenyum mengingat gadis itu, di detik berikutnya ia mengeraskan wajahnya dangan ekspresi tegang. Ji Yong membaca isi pesan yang masuk.

Saengil chukkae, Yong-ah

Pikirannya kalut, tubuhnya pun hampir limbung jika saja ia tak ingat bahwa ia sedang menyetir saat ini. Dengan kewarasan yang masih dimiliki, Ji Yong menghentikan laju mobilnya dengan serampangan. Ponselnya sempat terjatuh tadi dan ia sama sekali tidak mempedulikannya. Napasnya memburu serta matanya menatap nyalang ke arah jalanan lengang yang ada di hadapan. Kedua lengannya mencengkeram stir mobil, tubuhnya kaku sulit digerakan.

Marah, kaget, sedih, semua rasa itu berkumpul menjadi satu di hatinya saat ini. Luka itu. Luka yang telah ia coba kubur dalam-dalam mulai mencuat lagi. Ia hanya ingin menghapus memori masa lalunya yang kelam itu dan menguburnya dalam-dalam hingga tak pernah tersentuh lagi. Namun sekarang apa? Wanita yang amat dibencinya mulai memporak-porandakan benteng yang telah coba ia susun selepas hari itu. Hari yang mengubahnya menjadi manusia yang tak berarti bahkan ingin menuntaskan kehidupan sesegera mungkin.

Ji Yong hanya ingin menjadi manusia normal lagi setelah sekian tahun terpuruk dalam lembah yang tak berdasar. Dan dengan kehadiran wanita itu lagi, rasanya ia akan sulit mengatasi hatinya yang penuh dengan luka torehan masa lalu kelam.  Ji Yong berusaha untuk menormalkan napas dan detak jantungnya saat ini. Ia memejamkan matanya, mencoba menetralkan pikirannya dari hal-hal yang sama sekali tak sudi ia ingat.

Pria itu bahkan sekarang menunduk, menyembunyikan wajah di dekapan kedua tangannya. Ji Yong bukan pria yang lemah, namun apakah kau tak akan merasakan nyeri di ulu hatimu ketika wanita yang kau benci adalah wanita yang juga sekaligus melahirkanmu ke dunia? Tak terasa, cairan bening itu meleleh di pipinya. Tak deras, namun terasa amat memilukan.

.

 To be continued

.

Advertisements

28 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #3

  1. dara bener2 keras kepala bgt sama kek ji….kekekekke
    aku suka gaya pacaran mereka…….pacaran tpi kek temenan…..hahhahaha
    sebenci itukah ji sama eommnya.
    semoga hubungan ji sama eommanya membaik

  2. Duh penasarannn jiyong ngapain dara sampe bikin dara hancur kaya gitu… gw ga sanggup baca chapter yang bikin hati gw sakit, ga sanggup liat dara sama jiyong pisah… gila cuma bayangin aja udh baperan 😭😭

  3. Sedihh deh ngeliat Jiyong begitu terpuruknya hanya karena sebuah sms yg dateng dari ibunya yg udh ninggalin jiyong dari kecil. Semoga mereka berdua bisa berbaikan dan Jiyong bisa ngerasain kehadiran seorang ibu lagi. DaraGon momentnya manis euy😍😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s