A Racer Dragon [Chap. 1]

cover (3)

Author: Mita (Kwonjita)

Main Cast| |Sandara Park ||Kwon Ji Yong ||Choi Seunghyun

Sprot Cast| Dong Yeong Bae | Lee Hi

G| | ER| |Drama | Romance

Length| | Chaptered | |

 

****

Sebenarnya ini ff sudah lama ingin aku post, tapi karena takut enggak ada yang suka, jadi lama marem di NB. Tapi nampaknya aku dapet kepercayaan diri dari para raeders disini,dan dua orang yang enggak sengaja aku kenal lewat kecintaanku sama pasangan ini, dan enggak pernah berhenti ngoceh di tiap ff mereka. jadi karena dukungan mereka dan kalian semua aku berani ngepost ini ff

Walau tidak menarik, kuharap kalian memberikan komentarKritiklah jika kalian memang tidak suka dengan ff buatanku iniAku sungguh membutuhkan krtik dan saran dari kalian semua, itu akan menjadi bahan untuk ku lebih memperbaiki tulisanku yang kacau ini.So, silahkan dinikmati chingudeul..

 

****

Pernahkah kalian berpikir kalau cinta itu merepotkan? Itulah yang aku rasakan sebelum aku mengenal cinta dari seorang gadis bernama Sandara Park. Aku merasa saat jatuh cinta dan menyukai seseorang itu menjijikan, karena aku tak ada waktu untuk memikirkan hal yang tak berguna seperti itu, hidup yang ku jalani ini hanya untuk membuat bahagia adik perempuan ku, tidak ada yang lebih penting darinya di dunia ini bahkan aku akan melakukan apa saja untuk melihat senyum manisnya itu terus terukir dari bibir mungilnya.

Tapi setelah aku bertemu Dara yang awalnya selalu membuatku pusing dengan omelan tak pentingnya mengenai diriku, aku merasakan sesuatu yang salah dalam diriku, detak jantungku tak sesuai ritmenya, bahkan aku serasa kehabisan nafas setiap gadis itu tersenyum manis, tapi aku tak menyukai jika dia menguber senyum pada pria lain selain diriku. Ini memang gila, tapi itu lah kenyataannya.

Sebelum mengenal Dara aku hanya seorang laki-laki arogan, yang tak peduli pada siapa pun kecuali, adik dan sahabatku, karena mereka berbeda. Aku hanya laki-laki yang berprofesi sebagai pembalap amatir, yang sering mengikuti ajang balap elegal tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti. Setiap mengikuti balap itu, aku selalu khawatir kalau aku bisa saja kenapa-napa saat melaju di lintasan yang tak berpengaman layaknya sercuit yang biasa pembalap nasional gunakan saat mereka bertanding. Sekarang semuanya telah berubah saat pria setengah baya yang juga calon ayah mertuaku itu menemukan ku, dan membawa perubahan pada diriku dari pembalap amatir, jadi seorang pembalap nasional yang terkenal. Itu semua berawal dari…

 07, Maret 2014

“ya, apa yang kau lakukan?, minggir nuna bodoh” teriakku pada gadis yang berjalan tanpa melihat sekitarnya, dia sibuk dengan benda tipis ditangannya itu, sampai dia tidak tahu arah kemana dia berjalan. Aku hampir menambraknya jika tidak cepat aku merem laju motorku. Dia hanya bengong seperti idiot yang lupa ingatan, bagai mana tidak aku terjatuh karena menghindarinya seperti ini, bukannya segera di tolong dia malah diam seperti patung menatapku, dengan mata terbelalak bulat seperti itu. Apa dia sedang melihat hantu, dengusku kesal karena melihat sikap tak bergunanya.

“omoo..gwencanyeo” teriaknya kaget menghampiriku, kurasa jiwanya sudah kembali pada dirinya. Dia terlihat begitu khawatir saat melihat pergelangan tanganku terluka dan sedikit mengeluarkan darah.

“apa kau bodoh naik motor ugal-ugal seperti itu?” dengusnya menatapku, rahangku serasa jatuh saat dia berkata seperti itu. Bodoh pikirku, betepa sialnya diriku demi menghindari gadis idiot seperti dirinya, aku hampir celaka seperti ini, ani..bukan hampir, tapi sudah celaka.

“MWO..apa kau bodoh, atau lupa ingatan nona?” kataku mendengus kesal padanya. “aku seperti ini, itu semua salahmu, apa kau mau mati berjalan tanpa melihat lampu lalu lintas eoh?” bentak ku kesal padanya, dia yang salah malah memakiku. Ku lihat dia memiringkan kepalanya, berpikir mungkin, hoell apa gunanya berpikir sekarang, dasar gadis aneh. Aku mendengus melihat sikapnya tak berguna, kulihat dia merogoh tasnya untuk mencari sesuatu di sana, ku lihat dia tersenyum senang setelah dia menemukan yang dia cari. “kemarikan tanganmu” katanya meraih tanganku, dia membersihkan luka ku, lalu membalutnya dengan perban. Aku hanya memperhatikan setiap tindakannya itu, sampai pada akhirnya dia mengeluarkan sebuah benda seperti jarum suntik.

“ya,,ya, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” kataku menatap ngeri benda ditangannya itu. Perlu kalian semua tahu, aku memang terkenal dengan tak takut pada apa pun di dunia ini bahkan hantu sekali pun, tapi tidak pada benda bernama jarum suntik itu. “j-jauhkan benda itu dariku” bentakku tegagap padanya.

“mwo, aku harus menyuntikan ini agar lukamu itu tidak infeksi” katanya“karena aku tidak bisa membersihkan lukamu itu dengan benar disini” cerucusnya panjang lebar padaku.

“ya, ini hanya luka ringan, untuk apa memberikan suntikan” teriakku tajam padanya.

“ini bukan luka ringan bodoh” katanya dengan cepat menarik tanganku yang terluka tadi, “ini bahkan harus ditinjak lanjut, takutnya ada retak ditanganmu” sambungnya bersiap menancapkan jarum itu pada tanganku. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar tadi, ditindak lanjut memangnya dia pikir kasus kriminal. Gaahhh..gadis ini sungguh membuatku gila, aku rasa dia terlalu berlebihan.

“tak perlu berlebihan nona, ini hanya luka kecil,” kataku beranjak pergi meninggalkan dirinya. Dia pikir dirinya itu dokter, ciihh..aku mencibir sikap sok dokternya itu. Aku melangkah menghampiri motor ku yang jatuh tak jauh dari tempat ku terjatuh tadi, sebenarnya aku bisa saja luka parah jika aku tidak segera melompat dari motor ku yang oleng akibat rem dadakan itu. Betapa kagetnya aku melihat motor ku yang rusak parah. Aku menggeram kesal karena mendapati keadaan motor kesayanganku itu rusak, dan parahnya malam ini aku harus mengikuti balap itu. Bagaimana ini, aku tidak ada waktu untuk membawa ini ke bengkel, lihat rusaknya saja seperti itu, bagaimana bisa selesai tepat waktu walau ku bawa kebengkel sekalipun. Ahhhh gadis bodoh itu, harus tanggung jawab, ini semua salahnya.

“oeiyy..gadis bodoh” teriakku memanggilnya, karena aku tidak tahu namanya aku panggil saja seperti itu, lagian dia memang gadis bodoh di mataku. Bukannya berbalik melihat orang yang memanggilnya, dia melenggang pergi meninggalkan ku. Tak terima di acuhkan, aku melangkah menghampirinya. “kau tuli, atau pura-pura tuli?” kataku setelah berhasil mengejarnya. Dia lagi-lagi memandangku dengan tatapan bodohnya itu. “ya, siapa yang kau sebut tuli oeh?” bentaknya kesal padaku. Dia melepas kasar tangan ku yang memegang tangannya tadi. “aisshhtt…lupakan itu” kataku mengalihkan topik “lihat motor ku rusak, itu semua salahmu” kataku menjelaskan, karena dari awal memang itu tujuanku menghampirinya. Memang benar gara-gara dia, gara-gara kebodohannya lebih tepatnya, hingga motor ku seperti itu. Lagi-lagi tampang bingungnya itu dia tunjukan padaku, aku rasa gadis ini benar-benar idiot, atau kepalanya terbentur tadi hingga dia seperti orang yang lupa ingatan seperti itu.

“apa peduliku” katanya cuek dan melenggang pergi meninggalkan diriku yang semakin kesal. “ya” teriaku lagi. Aku berniat ingin mengejarnya kembali, tapi dia sudah masuk kedalam sebuah taxi. Aishhhtt, sial desissku karena tak berhasil meminta gadis itu untuk tanggung jawab. Lihat saja nanti, kalau aku bertemu dengannya lagi, dia harus membayar ini semua geramku kesal.

**bengkel yeong bae**

Aku masih menggerutu tak henti-hentinya sepanjang perjalanan pulang menuju bengkel sahabatku ini. Ku lihat dia mengkerutkan alisnya bingung menatapku, mungkin dia bingung melihat aku yang mendorong motor ku ini.

“kenapa kau mendorong motor seperti itu? Tanyanya bingung melihat aku datang sambil mendorong motor. “kau tidak lihat ini mogok” kataku berlalu menuju sofa yang memang sengaja dia letakan di bengkelnya ini, dia bilang jika merasa lelah, dirinya tidak perlu capek-capek menaiki tangga menuju tempat tidur, dia tinggal melangkah ke sofe itu untuk istirahat. Tapi aku rasa, diriku lah yang sering menggunakannya. Ku lihat dia melangkah menghampriku, “apa kau habis kecelakaan” tanyanya sedikit khawatir. Mendengar dia bertanya seperti itu, aku jadi mengingat gadis bodoh yang sudah membuat hari ku sial, dan dia juga tidak mau ganti rugi karena sudah merusak motor kesayanganku itu.

“itu semua karena gadis bodoh itu” kataku. Aku melihat dia menatap bingung padaku, kenapa hari ini aku selalu mendapati wajah orang bingung, dan itu terlihat seperti orang bodoh. “gadis bodoh? Ya, bicara yang jelas ji? Bentaknya, “lalu bagaimana kau bisa balapan nanti malam heuh?”

“aku tidak tahu” kataku mulai malas menanggapi pertanyaannya, “mwo, kau gila..bagaimana bisa kau berkata tidak tahu?, kau harus bertanding untuk mendapatkan uang bodoh, memangnya kau punya keahlian lain selain balapan?” katanya mulai kesal. Dia memang benar aku harus balapan untuk mendapatkan uang, hanya dengan balapan lah aku bisa menghidupi hidupku dan hayi adik perempuanku itu. Karena, hanya pekerjaan itu lah yang dapat ku lakukan, dengan keadaanku yang sekolah hanya sampai tamat SMA ini.

“kalau kau begitu khawatir, maka buatlah motor itu kembali berjalan seperti biasa bae” kataku mulai berbaring malas di sofa miliknya, karena aku sungguh tidak tahu harus bagaimana dengan motor seperti itu. Hanya dia harapan terakhirku, tapi melihat tampangnya seperti itu, aku rasa memang harus batal balapan malam ini. Tinggal dua jam lagi hingga balapan itu di mulai, bagaimana bisa dia membuat motorku kembali bisa digunakan dengan waktu sesingkat itu. Sudahlah, nampaknya kali ini aku harus merelakan uang itu.

“kau gila bagaimana bisa, tapi kau masih bisa mengikuti balapan itu” katanya tersenyum penuh arti. “bagaimana?” tanyaku mulai penasaran, apa dia menyuruhku mencuri motor, batinku mulai curiga dengan sahabatku ini. “kau pikir aku menyuruhmu mencuri motor” tebaknya membuatku nyerngir bodoh, bagaimana dia bisa membaca pikiranku tadi sahabatku ini sungguh luar biasa.

“lalu bagaimana caranya”

“lihat saja nanti” katanya tersenyum antusias, dan melangkah pergi kembali melihat-lihat keadaan motorku.

–tempat balap liar—

“kau harus membagi uangmu nanti untuk ku juga” kata yeong bae, dia berhasil membuatku bisa balapan malam ini, ternyata dia menyuruhku bertanding dengan motor dari bengkelnya, katanya kemaren ada orang yang minta motornya diperbaiki dan besok akan diambil oleh pemiliknya. Sahabtku ini bilang, tidak masalah meminjamnya sebentar, karena baru besok siang pemilik motor ini mengambilnya. Dan aku rasa yang dia bilang itu benar.

“aishhtt..arraseo, berhentilah mengingatkan itu bae” desisku padanya, aku mulai lelah mendengarnya mengucapkan kata itu lagi. Bukannya dari dulu aku selalu membagi dia uang setiap aku menang balapan seperti ini, dia tidak perlu kembali mengingatkan ku seperti itu karena aku sudah mengerti.

“kau harus hati-hati, aku mendengar kalau namja itu orang yang licik, dia akan melakukan apa saja untuk menang termasuk membuat lawannya jatuh” bisiknya sebelum aku bersiap melajukan motorku. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya barusan, agar aku harus hati-hati pada lawanku kali ini. Aku lihat sahabatku itu memang benar, nampaknya aku memang harus hati-hati, bukan dari lawanku melainkan dengan laju motor ini, aku tidak mengerti rasanya motor ini akan sulit ku kendalikan, karena ini bukan motorku yang biasa ku gunakan. Aku sangat sulit merasakan kenyamanan dari motor yang ku naiki ini, motor ini hampir mirip dengan motor balap aslinya, walau bodynya hampir mirip dengan motorku, tapi motor ini jauh di atas motorku itu. Harganya juga yang aku tahu ini sangat mahal, setahun pun aku tidak akan bisa membeli motor seperti ini, terlebih dengan hasil dari balap liarku yang tak seberapa itu.

Nampak dari kejauhan pria dengan poster tubuh seperti atlet memandang setiap orang yang mengikuti balap liar ini, matanya masih memperhatikan para pembalap liar itu, sampai pandangannya berhenti pada sosok laki-laki yang menggunakan motor yang sangat familiar baginya. Dia memiringkan kepalanya mengingat-ingat dimana dia pernah melihat motor itu, dia berpikir motor itu mirip dengan miliknya. Dia kaget melihat motor itu memang miliknya, karena motor seperti itu sangat susah di dapat, hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki motor sport keluaran seperti itu, bahakan itu di produksi terbatas (anggaplah seperti itu..kekek). dia masih tak mengidahkan pandangannya dari pria yang sedang menaiki motornya itu. Dia tersenyum senang melihat pria itu.

“aku menemukannya”.

TBC

Next>>

Advertisements

22 thoughts on “A Racer Dragon [Chap. 1]

  1. fast furious ni versi motor. wkekekekeke….
    seruuu kekny. tp bahaya balaoan liar gttu. kalo sial dtg, maka hilanglha smua. hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s