RENT 37 – THREE STUPID WORDS

Story by : huntress
Link : asianfanfics.com
Indo trans : JJ_arba_TOP

SANDARA POV

“Sulli?”, tanyaku segera setelah teleponnya kuangkat.

“Ya, ini aku. Aku yakin kau telah mendengar kebenaran tentangku bahwa aku tidak menjadi descendant yang sesungguhnya.”

“Yeah, memang”

“Aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawaku tapi aku tidak mau mempunyai hutang budi padamu jadi aku mundur dengan keinginanku untuk membebaskan GD dari tanggung jawabnya sebagai Protector. Kurasa kita impas sekarang,” katanya tanpa basa-basi.

Aku mengernyit mendengar nada suaranya, “Aku tidak meminta balasan, Sulli.”

“Apa kau lebih memilih aku tetap menjadi descendant, kalau begitu?”

“Well…tidak”, jawabku pelan. Sialan perempuan ini!

“seperti yang kubilang, kita impas. Aku tidak merasa nyaman jika punya hutang padamu itulah kenapa aku melakukannya”

“Baiklah. Apa hanya ini alasanmu meneleponku?” tanyaku sedikit kesal.

Aku mendengarnya menarik nafas sebelum dia berbicara lagi, “Dengar, Dara. Kau telah merasakan betapa berbahayanya dunia mobster itu. Mengapa kau masih bertahan dengannya? Kau sudah punya semuanya dan kau bisa dengan mudah mendapatkan laki-laki lain yang akan didukung oleh orang-orang di sekitarmu. Aku bertaruh kau tidak memberitahu teman-temanmu bahwa GD adalah seorang mobster. Berapa lama kau pikir bisa hidup di dunia seperti itu?”

“Mengapa kau selalu memaksaku untuk pergi? Sulli, aku mencintai Jiyong. Aku tidak punya laki-laki lain, hanya dia. Dan aku bersedia menanggung semuanya hanya agar bisa bersamanya. Jujur saja, apakah aku bertahan dengannya atau tidak itu bukan urusanmu!” balasku dengan marah.

“Aku mencintainya lebih dulu! Kau menghancurkan semuanya! Aku bertahan di YG Underground Club agar aku bisa dekat dengannya! Aku selalu bersabar menunggunya meski itu membunuhku! Kau tahu betapa sakitnya harus menunggu setiap hari, berharap jika dia akan datang ke apartemenku atau ke club jadi aku bisa setidaknya melihat sosoknya? Kau tahu betapa keras aku berusaha menerima semuanya dan menerima jika dia punya banyak simpanan yang juga menunggu perhatian darinya? Kau tidak tahu betapa sakitnya itu. Ini neraka, Dara” dia menangis sesenggukkan dan aku tidak bisa menahan diri untuk merasa kasihan padanya.

“Sulli…”

“Jangan coba mengasihaniku. Kecuali kalau kau berencana meninggalkannya, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk membuatku merasa lebih baik,” katanya dengan dingin.

Okay, aku tidak jadi merasa kasihan padanya sekarang!

“aku tidak punya rencana untuk meninggalkannya”, kataku tegas.

“Apa dia sudah tidur denganmu, huh? Aku bertaruh sudah”

Aku mengernyit mendengar pertanyaannya, karena jawaban yang benar adalah BELUM sama sekali.

“Dia bilang aku adalah yang terbaik dari semua simpanannya dan yang paling menarik itulah mengapa aku menjadi favoritnya. Aku menolak tawaran laki-laki lain karena dia. Dia satu-satunya laki-laki untukku. Kami sempurna,” Sulli kelihatannya sedang berbicara dengan dirinya sendiri tapi apa yang dia ucapkan menghancurkan hatiku. Ada tekanan yang menyakitkan di dadaku saat aku meremas ponselku dengan erat.

“Saat dia mengumumkan kamu sebagai kekasihnya dan semua simpanannya dilepaskan, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu tidak akan lama. Dia akan merubah hatinya saat dia melihat jurang perbedaan di antara kalian. Katakan padaku, Dara, apa kau benar-benar bisa membuatnya bahagia? Apa kau bisa memuaskan kebutuhannya? Dia seperti monster buar di tempat tidur tapi kekasih yang menggairahkan.” Sulli tertawa kering.

Aku hampir muntah. Mendengar keintiman tentang pacarku dari perempuan lain membunuhku tapi untuk beberapa alasan, aku tidak bisa membuat diriku menutup telepon dan terus menyiksa diriku sendiri.

“Ini antara kami berdua, Sulli. Apapun yang terjadi antara aku dan Jiyong bukan urusanmu,” aku mencoba kasar tapi suaraku terdengar lemah. Tuhan, ini sangat menyakitkan. Aku mencoba untuk melupakan masa lalu Jiyong dengan semua simpanannya tapi hal itu terus saja menghantuiku.

“Mengapa? Karena aku hanya salah satu simpanannya? Kuberitahu padamu kami bisa saja menjadi sesuatu yang lebih jika saja kau tidak muncul dalam hidupnya,” gumamnya.

Aku menelan ludah. Percakapan ini menguras energiku.

“Agar kau tahu saja, meski hanya untuk memuaskannya di tempat tidur, aku dengan senang hati menerimanya,” tambahnya dengan suara pecah sebelum menutup telepon.

Aku menggigit biibbirku dan menaruh ponsel di sakuku, mencoba menenangkan diri.

‘Katakan padaku, Dara, apa kau benar-benar bisa membuatnya bahagia? Apa kau bisa memuaskan kebutuhannya? Dia seperti monster buar di tempat tidur tapi kekasih yang menggairahkan’

Apa aku bisa memuaskannya? Apa hal ini begitu pentingnya? Tentu saja! Sialan. Laki-laki terlahir seperti itu. Sialan… SIALAN!!!

Bagaimana jika… bagaimana jika aku mengecewakannya? Apa dia akan mencari simpanannya lagi? Apa dia akan datang ke tempat tidur Sulli?

Aku membenamkan wajah di telapak tangan saat aku mendengar Kung Pao mengepakkan sayapnya. Aku melihat ke arahnya dan melihat si ayam pintar itu berdiri dengan bangga di samping sebuah lingerie.

Ya Kung Pao, mommy tidak akan mengalah dalam pertempuran ini. Dengan gerkan pelan aku merancang rencanaku. Aku menghidupkan lampu meja dan mematikan lampu utama. Aku berlari keluar dan meraih sbotol anggur dan gelar anggur dan memasukkannya ke kamar dengan sukses karena Jiyong masih sibuk dengan dokumen yang dibacanya. Aku kemudian menghidupkan beberapa lilin dan menaruhnya di beberapa tempat dalam kamar.

Setelah semua persiapan, aku meraih beberapa lingerie yang Bom dan aku beli sebelumnya dan berjalan masuk ke kamar mandi. GAH! Ini membuatku gugup. Aku sebaiknya buru-buru bersiap sebelum Jiyong masuk.

SANDARA POV

AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!

Aku melihat kaca sekali lagi dan meringis. KYAHHHH!! Betapa memalukannya!

Aku mencoba menarik gaun tidur merah ini untuk menutupi dadaku tapi itu justru mengekspos pahaku. Ottokae! Aki tahu ini memang poin dari sexy lingerie tapi WHAT THE HECK! Ini terlalu berlebihan! Dan aku memakai dalaman crotchless!

Aku bahkan dapat melihat siluet nipple-ku karena aku tidak memakai bra! Sialan! Aku harus menghilangkan kegilaan ini sebelum Jiyong masuk dan….

“Babe?”

FUDGEEEEE!!!! Dia di dalam! GAH! Ottokae! Dia pasti sudah melihat lilin-lilin itu!

“Babe?”, suara bingungnya mengikuti ketukan pintu di kamar mandi dan hampir membuatku melompat.

“S-Sebentar lagi “, seruku dan berdoa dia tidak menyadari suara gemetarku. Jika iya, itu jadi perhatianku paling akhir karena sekarang aku punya urusan yang lebih penting – memutuskan apa aku akan keluar atau tidak dengan ‘almost nothing’ lingerie ini.

Aku tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika aku melanjutkan…KEGILAAN ini. Aku tahu Tuhan akan menghukumku karena ini. Aku juga tahu bahwa aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri. Singkatnya, hasilnya akan mengenaskan.

Sebuah ketukan pelan terdengar lagi dan kepalaku hampir meledak karena panik. Aku meraih pakaianku dan akan menggantinya saat suara Sulli kembali terdengar di kepalaku.

‘Katakan padaku, Dara, apa kau benar-benar bisa membuatnya bahagia? Apa kau bisa memuaskan kebutuhannya? Dia seperti monster buar di tempat tidur tapi kekasih yang menggairahkan.’

Sialan.  Aku  merasa seperti harus membuktikan bahwa aku mempunyai keberanian untuk meraih semua ini.

Tapi..tapi..tapi..jika ini berakhir dengan salah, aku akan menghabiskan sisa hidupku di pojokk gelap karena rasa malu, jauh dari peradaban manusia. Argh! Berapa umurku memang? Aku harusnya bisa mengatasi ini! Jiyong pacarku dan dia sudah memakai cincin couple kami! Ini waktu yang tepat dan aku sudah siap!

Oh please, dear God, aku mohon dengan seluruh jiwa dan ragaku semuanya akan berjalan lancar kumohoooooooonnnnnn…

Aku menarik nafas dalam dan membuka pintu. Sebuah musik berputar di kepalaku saat aku keluar dari kamar mandi. Dia duduk di pinggir tempat tidur, dekat meja, dengan kaki ditekuk. Segera setelah dia melihatku dan apa yang kupakai, matanya melebar dan alisnya terangkat naik. Senyumnya, licik, tidak membantu sama sekali untuk menghilangkan kegugupanku. Aku ingin masuk kembali ke dalam kamar mandi tapi itu hanya akan membuatku terlihat bodoh. Aku hanya berharap aku keberanian untuk melalui neraka ini.

Jadi, disini aku, berdiri di depan pintu kamar mandi, benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya dan berdiri seperti seorang idiot. crotchless underwear adalah hal yang paling tidak nyaman, kuberi tahu.

“Aku, uhm…ini sudah sebulan jadi uh..aku ingin memberimu kejutan”

“Oh, percayalah, aku sangat terkejut”

Aku berkeringat seperti babai saat dengan pelan aku berjalan menuju tempat tidur. Aku melihat Kung Pao di pojok ruangan dan sudah terlambat untuk mengusirnya. Kupikir aku mendengar Kung Pao tertawa, aku bersumpah.

Aku tahu aku akan menderita setelah ini. Aku sudah mendengar jutaan ejekan di kepalaku. Aku sudah membayangkan godaan yang tidak berhenti yang harus kuhadapi. Suatu saat nanti, Jyong akan mengungkit hal ini dan tertawa sepeerti orang gila hingga aku berdarah karena rasa malu. Aku bisa menjamin skenario ini akan terjadi.

Tetap saja, aku melanjutkan yang kusebut my so-called seduction ini. Aku punya perasaan semua akan berantakan.

Dia melihatku geli sambil duduk dengan kaki terbuka lebar.

Oke, bagaimana aku akan melakukan ini?

Mataku berlabuh di botol anggur di meja sebelah. Aha! Aku menuangkan segelas anggur merah dan berjalan ke arahnya lagi.

Memegang gelas di tanganku, aku merangkak naik ke kasur dengan yang kuharap sebuah senyuman menggoda di bibirku yang gemetar. Jiong hanya memandangku geli, sebuah cengiran terbentuk di sudut mulutnya. Senyumku memudar tapi aku tetap melanjutkan hal bodoh ini. Aku tidak boleh melakukan kesalahan saat ini karena aku sudah membayangkan hal ini jutaan kali sebelumnya dengan bantuan Bom setelah kami membeli lingerie!

Aku sekarang merangkak di kasur dengan lututku, tanganku yang bebas kuletakkan di bahunya. Aku menenggak minumanku dan aku baru menyadari betapa gugupnya aku. Aku pasti terlihat seperti badut sirkus tapi Jiyong melakukan pekerjaannya dengan baik untuk menahan tawanya. Aku menelan ludah.

Sekarang langkah selanjutny. Aku mempersempit jarak di antara kami dan bermaksud memberinya sebuah ciuman. Aku sudah membaca tentang hal ini di novel-novel sebelumnya. Harusnya ini berjalan lancar namun aku justru…..membeku.

What the fck what the fck what the fck what the fck!!

Jiyong mendekatiku. Dengan panik aku mulai berlari ke kamar mandi, Jiyong tak bisa menahan tawanya kali ini. Dia menutupi mulutnya karena menahan tawanya, hal itu semakin mematahkan egoku.

Aku membanting pintu kamar mandi. Aku terengah-engah, berusaha menahan tangisku. Tapi tentu saja, aku gagal.

“Buka pintunya, babe,” aku mendengar suara Jiyong dari balik pintu.

“No.” Aku terisak sedih dan dengan marah menghapus air mata sialan yang keluar dari mataku. Kenapa hal yang memalukan selalu terjadi padaku?

“Ayolah, Dara. Tidak apa-apa.”

“Jiyong, bisakah kau membiarkanku sendiri malam ini? Aku tidak bisa menghadapimu. Aku akan menelponmu besok,” mohonku dengan suara pecah.

Dia tidak memaksa lagi. Aku tak tahu berapa lama aku berada di dalam kamar mandi tapi kelihatannya Jiyong sudah pergi karena aku sudah tidak mendengar gerakan apa-apa di luar.

Saat aku akhirnya melangkah keluar, aku melihat bahwa Jiyong sudah membereskan kamar dan dia tidak terlihat dimanapun. Aku melangkah gontai dan baru akan mengganti pakaianku saat tiba-tiba, seseorang meraihku dari belakang dan menutupi mataku.

“Hei, seksi…” bisik Jiyong di telingaku.

///***

////*****

////********

////**************

Jiyong masih tertegun dengan percintaan mereka. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya dengan wanita-wanita simpanannya dulu. Semuanya terasa berbeda dengan Dara. Dia tidak akan pernah merasa puas untuk terus menyentuhnya.

“Hei….bicaralah denganku,” kata Jiyong lembut. Dara mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Jiyong dengan mata yang mengantuk.

“Kau mau aku mengatakan apa?” tanya Dara lemah, dia masih kelelahan dengan semua pengalaman baru yang baru saja diberikan Jiyong padanya.

“Entahlah. Katakan padaku tiga kata bodoh itu,” kata Jiyong sambil mengelus bibir Dara yang bengkak sedangkan tangan yang satunya membelai kulit Dara.

“Ah-hah! Aku sudah memutuskan aku tidak akan mengatakan tiga kata bodoh itu lagi sampai kau yang bilang duluan,” katanya sambil dengan iseng menggigit jari Jiyong dan terkikik.

“Nakal,” gumam Jiyong sambil tersenyum.

Sesaat keheningan muncul diantara mereka saat mereka berdua saling memberikan ciuman manis satu sama lain, mengambil kenikmatan yang bisa diberikan oleh mereka berdua.

“Ji..”

“Mmmmmhhmm?”

Dara menarik diri dan dengan gugup menatapnya sambil menggigit bibirnya, berdebat dengan dirinya sendiri untuk jadi bertanya apa tidak. Tapi kata-kata Sulli terus menghantuinya dan wanita seperti dirinya yang beluum pernah mempunyai pengalaman intim seperti ini sebelumnya dibutakan oleh rasa rendah diri sekali lagi.

“Ya, babe?” tanya Jiyong lagi.

“A-Apa kau puas? Maksudku… kau tahu, S-Sulli memberitahuku…uhm…” Dara menghela nafas dan menyentuh rambutnya dengan gugup, berusaha menemukan kata-kata yang sesuai.

“Babe… lihat aku,” Jiyong mengangkat dagu Dara. “Jangan pernah membandingkan dirimu dengan wanita-wanita yang dulu menjadi simpananku. Apa yang kita bagi saat ini berbeda. Ini adalah hal yang tidak bisa dijelaskan, ini melampaui apa yang dulu kulewati bersama mereka…” ada sinar kehangatan yang melintas di mata Jiyong saat dia menatapnya.

“Kita bercinta?” tanya Dara.

“Kita menyatu,” bisik Jiyong yang kemudian mencium bibirnya.

“Kau menjadi perayu ulung tiap kau menginginkan sesuatu,” kata Dara disela-sela ciuman mereka.

“Aku tidak pernah bisa puas dengan ini.”

Dara kemudian teringat salah satu wanita di event makan malam gangster yang memberitahunya saat mereka berada di kamar mandi wanita, “Sekali G-Dragon mendapatkanmu, dia bisa begitu saja membuangmu untuk ‘digunakan’ oleh mobster lain” . dara menghentikan ciuman mereka dan menatap Jiyong penuh tanya.

“Tunggu, Jiyong. Aku-Aku hanya mau memastikan satu hal, karena semua hal tentng Triad ini sungguh membuatku bingung… saat kau meninggalkan Sulli, apa kau membiarkan mobster lainnya untuk menyentuhnya?”

“Apa? Tidak. Tapi itu terserah padanya jika ingin tidur dengan laki-laki lain. aku sungguh tak peduli.”

“Oh, oke. Jadi Triad tidak begitu saja membuang para wanita mereka,” kata Dara sambil menghembuskan nafas lega.

“Mengapa kau menanyakan hal it-,” mata Jiyong melebar saat menyadari hal apa yang dipikirkan Dara. Tidak bisa dipercaya! Apa dara pikir dia akan membiarkan orang lain menyentuhnya?! Dia akan menciptakan neraka jika ada yang berani mengklaim dara!

“Sialan, Dara, siapa yang mengatakan hal itu padamu? Sulli? Aku akan bunuh wanita brengsek itu!”

“Tenang. Bukan Sulli. Beberapa wanita di acara makan malam Triad memberitahuku bahwa kalian para mobster saling membiarkan mobster lain menyentuh wanita kalian.”

Rahang Jiyong serasa ingin copot mendengar perkataan Dara. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan laki-laki lain menyentuh Dara, dan sekarang Dara berpikir Jiyong akan membiarkan mobster lainnnya fcking dirinya?! Dada Jiyong terasa diremas-remas saat memikirkannya.

“Bagaimana kau bisa berpikir aku akan…sialan!” Jiyong mengumpat dengan keras.

“Hei…tenang. aku kan hanya bertanya. Kau tidak bisa menyalahkanku jika aku berpikir hal-hal aneh yang terjadi di sekitar Triad. Aku bahkan tidak mengerti kenapa kalian memiliki wanita simpanan. Kalian bahkan memiliki hal-hal seperti descendant dan protector,” Dara mengelus lengan Jiyong, menenangkannya.

“Aku sudah tidak punya wanita simpanan lagi, Dara. Aku sudah bilang bahwa aku hanya punya kamu saja.”

Dara melingkarkantangannya di leher Jiyong dan menatapnya tajam.

“Jika kau sampai datang ke tempat tidur wanita simpananmu lagi, aku bersumpah padamu aku akan melakukan hal yang sama dan mencari tempat tidur laki-laki lain,” katanya dengan serius.

Mata Jiyong menyipit berbahaya. “Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Dan jika kau berani berpikir untuk membiarkan laki-laki lain menyentuhmu, Dara. Aku bersumpah padamu laki-laki itu akan menghadapi siksaan pelan yang menyakitkan sebelum aku membunuhnya.

Tawa tertawa kecil dan memukul lengannya pelan. “Aku hanya bercanda. Kau tahu aku tidak akan melakukannya!”

Jiyong menatappnya dalam-dalam.

“Kau membuatku gila,” kata Jiyong.

“Kau memang sudah gila dari dulu.”

“Kau milikku.”

“Posesif,” goda Dara.

== ===

=== ===

==== ====

Aku jatuh tertidur dengan Jiyong yang memelukku erat. Aku tak tahu jam berapa ini saat aku setengah terbangun sepertinya aku melihat Jiyong duduk di pinggir tempat tidur, memunggungiku, hilang dalam lamunannya.

“Ji….” kataku dengan serak dan meraih tubuhnya.

Dia melihat ke arahku dan sesaat kupikir aku melihat kilasan kesedihan di matanya namun kemudian langsung ditutpi dengan sebuah senyuman.

“Tidurlah lagi,” dia merapatkan tubuhnya padaku dan aku memeluknya.

Sebelum aku terlelap tidur, aku mendengarnya berbisik sesuatu…’Maafkan aku, Dara’ aku ingin bertanya pa maksudnya tapi mataku terasa berat hingga akhirnya aku terlelap kembali ke dunia mimpi.

_____________________________________________________________

 

 

SANDARA POV

 

Gentle? Damn! Dia mengurasku habis-habisan. Aku LUNGLAI. Aku lunglai lungkrah letih pegal linu! Senjata penghancur miliknya benar-benar menghancurkanku!

Aku mencoba bangun tapi otot-ototku sangat ngilu hingga aku memutuskan untuk tetap di tempat tidur. Aku berbaring sambil menatap Jiyong, tersenyum melihat betapa tenangnya wajahnya. Aku memberinya sebuah ciuman ringan di pipinya dan melanjutkan lagi memandanginya yang sedang tertidur.

Tiba-tiba, dia membuka matanya dan menatapku dengan senyuman menggodanya, membuatku merasa malu. Dia melingkarkan lengannya di tubuhku dan menarikku ke arahnya.

“Katakan padaku tiga kata bodoh itu,” pintaku saat aku balas memeluknya. Aku sungguh merindukan untuk mendengan aku-cinta-kamu dari mulutnya tapi dia masih tidak mau mengatakan kata-kata itu!

“Tidak,” katanya serak dan memelukku makin erat.

“Jiyoooooooooonnnngggggg”

“Tidak”

“Bisakah kau mengatakannya sekali saja?”

“Aku bisa…tapi aku tidak mau,” dia mencubit hidungku dan menyengir.

GAH! Pacar bodoh! Dia hanya tertawa melihat wajah kesalku dan aku hanya bisa memutar mataku.

“Apa kau punya keraguan, Dara?” tanyanya tiba-tiba.

“Tentang apa?”

“Tentang hubungan kita”

“Tidak, aku tidak punya. Aku tidak memikirkan hal-hal negatif. Semua yang kupikirkan hanya tentangmu dan aku…”

“Dan tempat tidur?” dia tersenyum menggoda sambil menggerakkan alisnya.

“JIYONG! Aku sedang berbicara serius tahu!”

“Oke, aku minta maaf. Teruskan.”

“Yang ingin ku katakan adalah, aku tid-“

“ZZZzzzzzzzzZZZZ…”

“Jiyong!”

_____________________________________________________________

 

 

SANDARA POV

Aku bergidik sedikit saat melihat mawarr putih yang dipegang Bom saat aku berpapasan dengannya di lorong kantor. Insiden gila dengan Il Woo seperti memori jauh tapi terus menghantuiku. Aku bahkan tidak mau bertanya pada Jiyong apa yang terjadi saat aku tidak sadar selama pertarungan karena aku yakin aku tidak akan suka mendengar jawabannya.

“Dara, bisa bicara sebentar?”, tanyanya dengan nada serius.

Holy crap. ‘bisa bicara sebentar’ dari mulut Bom bisa diartikan sebagai ‘bisa kau ke ruanganku untuk bicara jadi tidak akan ada orang kantor yang akan mendengarmu berteriak saat kubunuh

Dengan enggan aku mengikutinya sambil terus berdoa ini bukan tentang Jiyong. Jika Bom tahu kalau Jiyong adalah mobster, dia akan MENGAMUK. Tidak ada keraguan dihatiku jika Bom akan membuat sebuah neraka dan menghancurkan tulang-tulangku. Ditambah, dia akan memberitahukan hal ini pada orang tuaku.

Saat kami sampai di ruangannya, aku menghela nafas berat sambil bertanya pada diri sendiri mengapa aku mempunyai sahabat yang merupakan ancaman bagi mahluk hidup. Omma-nya lah satu-satunya yang bisa menghentikannya.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku dan aku mulai merasa kesal” katanya sambil menaruh mawar itu di vas.

Oke, ini serius. Aku tetap diam dan duduk di kursi depan mejanya sambil melihat ke arahnya.

“Apa kau berencana mengenalkan Jiyong pada orang tuamu?” yanyanya.

Aku menggigit bibirku dan menunduk sambil memainkan jariku. Memikirkan tentang keluargaku membuatku menyadari betapa berbedanya duniaku dengan dunia Jiyong. Orang tuaku hanya pekerja biasa, sepertiku, dan adik-adikku hanya murid biasa. Mereka semua di Busan saat aku memutuskan untuk tinggal di Seoul.

“Ya… tapi tidak dalam waktu dekat ini,” jawabku lemah.

Bom terduduk di kursinya dan menghela nafas sambil mengelengkan kepalanya.

“Aku bahkan tidak bisa marah padamu, Dara-yah. Aku hanya khawatir…dan takut.”

Aku menelan ludah dan bertatapan dengannya sambil tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, Bommie. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Mobil-mobil hitam, laki-laki dengan setelan hitam, pegawai baru yang terlihat bisa membunuh dengan sumpit… apa yang sedang terjadi Dara?”

“Uh…Jiyong hanya sedikit paranoid dengan keselamatanku karena..uh…pekerjaannya”, jawabku. Aku merasa bersalah melihat kekhawatiran di mata Bom. Aku harus berbicara dengan Jiyong tentang anak buahnya! Kupikir kami sudah sepakat bahwa aku hanya akan punya satu pengawal.

“Jika sesuatu terjadi padamu karena pekerjaan Jiyong, aku akan benar-benar membencinya” gumammnya. Rasa bersalah membunuhku tapi aku tidak bisa memberitahu Bom tentang masalah Triad.

“Aku bersedia mengambil resiko,” kataku.

“Itu bodoh”

“Aku tahu”

“Kamu begitu mencintainya?”

“Ya. Sangat”

Saat matanya berkaca-kaca, aku dengan cepat kabur sebelum dia menenggelamkan gedung ini dengan air matanya.

==

Segera setelah aku keluar dari ruangan Bom, aku menabrak seseorang yang membuatku kehilangan keseimbangan.

“Oh, hei! Mengapa buru-buru?” tanya Donghae sambil memegangi bahuku agar aku tidak jatuh.

“Maaf. Aku sedang meloloskan diri dari Bom. Dia sedang dalam mode induk ayam sekarang.”

“Bom menggoreng pantatmu kan?” Donghae tertawa saat aku cemberut.

“Dia hanya sedang jadi drama queen saja,” protesku.

“Dia cemas, begitu juga aku.”

Aku melihatnya bingung tapi dia tidak menatapku saat kami berjalan berdampingan.

“Apa yang harus dicemaskan?” tanyaku.

“Siapa yang kau pikir yang memperbaiki jaringan wifi setelah programmu menghalangi sinyal?”

HOLY FREAKING SHIT!!! Aku pikir anak buah Jiyong sudah mengatasi semuanya!

“Apa yang terjadi Dara?” tanyanya dengan pandangan tajam.

“T-Tidak ada. Apa lagi yang kau tahu? Apa kau melihat program di laptopku?”

“Tidak”

Aku tidak bisa menahan kelegaan dalam diriku.

“Tapi komunitas hacker sedang heboh karena serangan virus tak dikenal di Perusahaan Listrik Seoul. Aku punya tebakan yang sangat bagus siapa sumber serangan itu.”

Mulutku menganga terkejut tapi Donghae kelihatan tak peduli. Dia melirikku dan memasukkan tangannya di kantong celana.

“Kau bukan satu-satunya computer geek disini, Dara,” dia tersenyum.

SANDARA POV

 

“Maafkan aku, apa yang kau bilang?” aku menatap Jiyong yang sedang menahan ekspresi di wajahnya. Kami sedang makan malam di restoran dengan pemandangan sungai Han yang romantis. Tapi momen itu hancur saat Jiyong memberitahuku sesuatu yang membuatku cemas.

“Aku akan diangkat sebagai Dragon Head yang baru hari Sabtu ini,” ulangnya sambil mengamati reaksiku.

Dragon Head. Aku menurunkan sumpitku dan meraih gelas air untuk menenangkan diri. Pacarku akan menjadi PEMIMPIN dari Triad. Sekarang saja sudah cukup berat karena dia adalah salah satu anggota Triad tapi menjadi pemimpin sebuah organisasi bawah tanah ini semakin membuat rumit.

“M-Mengapa pamanmu mengundurkan diri?”

“Dia bilang dia sudah semakin tua untuk mengurusi hal-hal yang terjadi.”

“Jadi kau setuju untuk mengambil alih posisi itu?” suaraku meninggi.

“Dara… Aku tahu aku meminta terlalu banyak. Kau sudah menerimaku mesti dengan resiko yang terus kubawa yang membuat rumit hubungan kita. Tapi… kau tahu siapa aku. Ak-“ Jiyong menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke jendela, mencari sesuatu untuk dikatakan untuk menghapus mood jelekku.

“Kau terikat dengan tanggung jawabmu,” kataku tanpa menghilangkan rasa tidak sukaku.

Dia menatapku dan mengangguk.

“Apa kau bisa keluar? Berhenti jadi mobster dan memulai hidup baru denganku,” tanyaku putus asa.

“Inilah diriku,” bisiknya sambil meraih tanganku. “Meski aku meninggalkan semuanya, hal itu akan selalu menghantuiku karena reputasiku di dunia hitam. Lebih baik untuk berada di tengah-tengah Triad untuk mengamankan semuanya.”

Aku tetap terdiam sambil mencerna semuanya. Dia meremas tanganku dalam keheningan.

Aku sudah bilang sebelumnya dan aku akan mengucapkannya sekali lagi, hanya seorang idiot yang menerima seorang mobster sebagai pacarnya. Dan idiot itu adalah aku.

_____________________________________________________________

 

 

 

SANDARA POV

Aku mengedarkan pandanganku ke stadium- sebuah tempat yang mereka sebut Hung Gates. Pengangkatan Jiyong sebagai Dragon Head akan dilaksanakan sesaat lagi dan sambil menunggu, aku aku melihat ke orang yang berkumpul. Aku duduk di dekat panggung, ruangan ini dipenuhi member Triad. Pemandangan sekompi penuh member Triad berkumpul terlalu berat. TOP memberitahuku ini belum semua populasi Triad, masih ada yang berada di luar negeri. Hanya berpikir Jiyong akan menjadi pemimpin orang-orang ini saja membuatku tidak nyaman dan tenang. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang lebih besar daripada menjadi Deputy Mountain Master. Yang berarti bahaya yang lebih besar lagi.

Semua momster memakai setelan hitam dengan kemeja merah, warna oficial dari Triad. Aku, sebaliknya, memakai dress putih yang membuatku dengan mudah terlihat dari luar angkasa. *menghela nafas.

Saat Tuan Yang dan orang-orang lain naik ke panggung, semua perhatian terfokus pada mereka. Dia memulai pidatonya,  menceritakan sejarah Jiyong sejak dia mulai menjadi anggota resmi. Sampai dengan pengangkatan Jiyong yang akan mengambil alih posisinya sebagai Dragon Head, semua yang hadir berdiri dan bertepuk tangan saat dia turun dari panggung.

Unit Jiyong berbalik dan menghadap mantan unit Dragon Head. Mantan unit Dragon Head memasang senyum bangga di wajah mereka saat menyerahkan yang kelihatannya seperti mantel merah dengan emblem Triad pada unit Dragon Head yang baru. Tentu saja, TOP harus membuat kehebohan saat naik di atas panggung dan seperti ratu panggung melambaikan tangan pada yang hadir, yang mendapat sorakan keras. Kulihat Jiyong dan Youngbae menggelengkan kepalanya dengan geli, membuatku sedikit tersenyum.

Acara berlanjut dengan Jiyong menerima penyerahan jabatan barunya sebagai Dragon Head, yang diberikan oleh Incense Master. Jiyong menghadap Tuan Yang dengan tangan kiri di dadanya dan tangan kanan terangkat.

Untuk beberapa alasan, matanya jadi berkaca-kaca melihatnya. Disinalah kami, sekali lagi berada di situasi yang tidak bisa dihindari seperti saat dia diumumkan sebagai Protector. Apa akan terus seperti ini? Kebingungan dan kesedihan melandaku hingga aku memutuskan keluar untuk mencari udara segar.

_____________________________________________________________

 

 

 

SANDARA POV

Namsan Tower

Menatap langit malam selalu memberiku perasaan tenang… sebuah perasaan bahwa akan selalu ada kesempatan.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mataku beberapa saat, menikmati angin dingin yang menyentuh kulitku saat aku duduk di bangku. Aku tak tahu mengapa aku memutuskan untuk kesini setelah aku keluar dari Hung Gates. Kuharap upacara itu masih berlangsung karena Jiyong pasti akan mengamuk begitu dia tahu aku pergi.

Kumpulan Gembok Cinta tidak semenakjubkan saat siang hari. Atau mungkin pandanganku tertutupi oleh rasa iri karena pasangan-pasangan yang meninggalkan gembok disini tidak mempunyai masalah seberat milikku dan Jiyong.

Hatiku sesak menyadari betapa bedanya kami berdua. Entah aku menerimanya atau tidak, dunia kami tidak akan bisa bersatu. Tapi… aku tidak bisa keluar dari hidupnya. Aku tidak bisa membuat diriku untuk meninggalkan dirinya. Apa aku begitu lemah? Mengapa aku tidak bisa melakukan hal yang benar dan meninggalkan semua masalah ini?

Keluargaku, teman-temanku, masa laluku, masa depanku, hidupku…dan Jiyong. Ku tak tahu mengapa aku memikirkan semua ini sekarang.

Saat aku melihatnya menjadi Dragon Head…saat aku melihat para mobster yang dia pimpin…hal itu membuatku bertanya kemana semua ini akan membawa kami.

Dia akan selalu terikat pada tugasnya dan sekarang dia mempunyai tanggung jawab yang lebih besar pada Triad, kemana hubungan kami akan berjalan?

Kami sudah melalui banyak hal. Aku telah mencurangi kematian beberapa kali saat aku bersamanya. Aku telah mulai bisa menerima siapa dia dan apa dia. Tetap saja, dengan semua itu, aku tidak bisa menahan keraguanku akan keputusanku beberapa kali. Kami akan selalu hidup pada masa sekarang, dan itulah yang paling menggangguku.

Aku berdiri dan berjalan menuju pinggiran, dengan malas memandangi gembok-gembok itu.

Kemudian, aku ingat bahwa aku juga meninggalkan satu gembok disini saat kencan percobaan kami dulu.

Aku berjalan menuju tempat dimana aku meletakkan gembok dan tersenyum pada diriku sendiri ketika aku menemukannya. Mengingat kembali apa yang Jiyong dan aku lakukan membuat hatiku bergetar bahagia. Betapa aku berdoa agar kami hanyalah pasangan normal.

Aku memegang gembok itu dan mengelusnya dengan jariku sambil membaca pesan yang aku tinggalkan disana.

Kencan pertamaku! Terima kasih Jiyong! – Dara.

Ugh! Betapa bodohnya! Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum kecil, mengingat betapa semangat dan malunya aku saat itu.

Tanpa sadar aku membalik gembok itu dan terkejut melihat pesan yang tertulis dibaliknya.

Cinta terakhirku. Terima kasih Dara – jiyong.

Mataku melebar terkejut, tak mampu mempercayai apa yang kulihat. Sebuah perasaan haru melandaku saat aku membaca lagi pesannya. The jerk. Aku tersenyum lebar dan meyakinkan diriku itu bukan ilusi. Tuhan, aku benar-benar menyedihkan. Bagaimana bisa dia menghapus keraguanku hanya dengan kata-kata bodoh ini?

“Apa kau berencana melarikan diri?” aku mendengar suara dari belakang.

Aku berbalik ke arah suara itu berasal dan melihat siluetnya dalam kegelapan. Aku tetap berdiri di posisiku, tertimpa cahaya dari lampu. Aku tak bisa untuk tak berpikir bahwa seperti inilah dunia kami – kegelapan dunia bawah dimana dia berada, dan dunia normal dan terang dimana aku manjadi bagiannya.

Jiyong melangkah keluar dari bayang-bayang dan berdiri dengan tangan di saku celananya. Perasaan tak terjelaskan menyapuku saat memandangnya.

“Entahlah. Haruskah aku melakukannya?” tanyaku balik.

“Kau bisa mencoba. Aku akan tetap menemukanmu kembali,” dia mengangkat bahunya acuh dan mendekatiku. Dia berdiri di depanku dan mata kami terpaku.  Dadaku berdegup kencang seperti ini pertama kalinya aku bertemu pacarku. Aku tertawa  karenanya, membuat Jiyong mengernyit.

“Apa yang lucu?”

“Aku hanya merasa lucu jantungku berdetak kencang saat melihatmu. Mungkin karena jas…dan dasimu,” aku menarik dasinya dan kami berdua tersnyum bodoh satu sama lain.

“nah. Kau hanya terlalu mencinttaiku,” katanya sombong.

“Conceited jerk.”

“Perverted geek.”

“Yah!”, bentakku dan mendorong dadanya. Dia hanya menatapku dengan senang, seperti yang selalu dia lakukan.

Aku berbalik dan melihat gembok lagi, membaca pesannya dengan keras.

“Ini terlalu gombal,” aku tertawa dan meliriknya. Senyumku memudar saat melihat ekspresi serius di wajahnya…. matanya mencerminkan keraguan seperti yang muncul padaku beberapa saat lalu.

“Ada apa?” tanyaku.

“Maafkan aku, Dara,” bisiknya dan menundukkan kepalanya. Alisnya mengernyit sambil menarik nafas berat, seperti dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.

“Untuk apa?”

“Aku minta maaf karena siapa diriku dan untuuk apa yang kulakukan. Aku minta maaf karena aku bukan tipe laki-laki yang kau bayangkan menjadi pacarmu. Aku minta maaf karena aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkanmu….aku tidak bisa memberimu akhir-bahagia-selamanya.”

Aku menarik nafas dalam dan menatapnya gugup. Jantungku teremas sakit saat memproses apa yang dia ucapkan. Mengapa dia mengatakan semua itu? Apa dia mengucapkan selamat tinggal?

“Apa kau akan melepaskanku?” tanyaku. Dia menatapku.

“Aku seharusnya melakukannya…A-Aku tidak bisa. Aku terlalu mencintaimu.”

Hatiku seakan meledak karena bahagia…. ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mendengarnya mengucapkan kata itu menghapus semua kekhawatiranku.

“Kau mengucapkan tiga kata bodoh itu,” kataku tak percaya, sebuah senyuman terukir di bibirku.

“Ya,” balasnya lemah dan menggenggam tanganku, meletakkannya di lehernya sebelum melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia menciumku dengan lembut dan menatapku.

“Lalu, apa masalahnya? Mengapa kau meminta maaf karena siapa dirimu?”

“Karena aku tidak bisa melepaskanmu pergi meski tahu siapa diriku.”

Aku menarik nafas dalam. Tuhan, aku benar-benar mencintai laki-laki ini.

“Kau tidak akan bisa menyingkirkanku, Dara,” lanjutnya.

“Apa yang membuatmu berpikir aku akan meninggalkanmu?”

“Bukankah kau memikirkannnya beberapa saat lalu?” tanyanya. Entah mengapa rasa cemasnya membuatku senang.

“Ya. Banyak hal. Aku bertanya pada diriku mengapa aku begitu lemah jika menyangkut dirimu… mengapa aku begitu lemah hingga aku tidak bisa meninggalkanmu,” akuku.

Dia mengejang saat aku menyebutkan tentan meninggalkannya. Pegangannya di pinggangku mengencang saat dia bilang, “butuh keberanian lebih untuk tetap tinggal.”

Senyuman terbentuk di bibirku saat mendengarnya.

“Beritahu aku kekhawatiranmu, Dara,” gumamnya sambil membelai wajahku.

“Kita. Aku cemas tentang kita. Bagaimana masa depan kita, Jiyong?” tanyaku.

“Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Tapi bukankah masa depan selalu penuh dengan hal yang tidak jelas?”

“Posisi barumu lah yang paling ku takutkan.”

“Yah, aku akan punya lebih banyak musuh. Dan mereka akan mencoba untuk mebunuhku,” seringainya muncul saat melihat wajahku yang menjadi kesal.

“Tidak lucu,” bentakku.

“Kubilang mereka akan mencoba. Aku tidak bilang mereka akan sukses.”

Aku tersenyum dengan keangkuhannya sambil menggelengkan kepalaku.

“Dibandingkan pasangan normal, ini seperti jika kita merangkak,” lanjutku.

“Yah. Kita merangkak. Tapi setidaknya kita menuju sesuatu,” katanya dan menggenggam tanganku, memperlihatkan cincin pasangan kami….simbol dari semua yang terjadi pada kami – keraguan dan penerimaan, janji yang teriingkari dan harapan baru yang muncul, kesedihan dan kebahagiaan.

Kami tersenyum dengan bodoh satu sama lain, mata kami bersinar dengan cahaya hangat seperti layaknya pasangan normal yang lain. kasi saling mencintai….

Hubungan ini memiliki bnyak bahaya yang orang biasa tidak akan sanggup menjalaninya. Aku merasa seperti selamanya berjalan pada tepian jurang. Tapi setiap kali aku melihatnya, semua ketakutanku terhapuskan.

Aku yakin kami akan selalu beradu pendapat. Aku hanya bisa berharap kami akan mampu untuk menghadapi tantangan di depan kami.

Apa yang kami punya mungkin tidak dapat diterima oleh orang lain. tapi ini pilihanku… ini cintaku. Aku memilih untuk menjaganya dan aku memilih untuk bertahan.

Aku hanya berharap perasaan kami akan menjadi cahaya baginya di dunianya yang penuh kegelapan dan kekerasan.

Lagi pula, seperti yang banyak orang bilang. Bintang bersinar lebih terang dengan langit gelap sebagai latarnya…

-TBC-

Woaaahhhh….. akhirnya selesai juga translate chapter ini setelah sekian lama… well, selain kesibukan sehari-hari, part XXX dibagian ini yang bikin saya lama translate-nya. It’s not easy to translate rated part you know… membaca rated scene dan translate rated scene jauuuuhhhh banget bedanya. Translate jauh lebih susah karena tiap translate per bagiannya saya malah jadi malu sendiri, hahahahhaha…malu nulisnya, LOL.

Setelah memutuskan beberapa hal, banyak bagian-bagian yang saya cut di chapter ini. Terutama bagian yang XXX *u know what lah*… awalnya saya mau trans part ‘itu’ tapi nanti malah repot karena pasti bakal saya password dan kalian bakal repot buat minta passwordnya, akhirnya hanya translate versi normalnya jadi semua bisa baca.

Well, tinggal satu chapter lagi FF ini bakal tamat… semoga saya bisa segera selesai posting Epilogue-nya, kekekeke. Okay, for now, just enjoy this chapter for you who waiting sooooo loooooong for this update.

Sampai jumpa ….

p.s : all pics credit to Kei

Advertisements

100 thoughts on “RENT 37 – THREE STUPID WORDS

  1. gilaa 👍pecaaah romantisnya👏👏👏sampai ngebayangin kl punya pacar kaya jiyong ,,,wiiihhh terasa indah dunia✌✌lanjutkan dong..dah kelamaan jiyong ma cupunya tidur,,,✌✌semangat

  2. Akhirnya udah baca ulang dan komen di setiap chapter dan berharap juga dengan satu komentar di setiap chapternya dapat menggerakan hati sang authornim untuk cepat mengupdate part selanjutnya, wkwkkwkwkwk. Fighting authornimm!!!😄😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s