I Wanna Be Official [Oneshoot]

Untisdwqtled-1

Author : Reni Bintang

Aku sebenernya lagi gak bisa tidur dan gak tau kenapa jadi takut aja jadi aku nyoba buka laptop dan akhirnya terciptalah Ff oneshoot ini. BTW INI ff oneshootku yang pertama hehe. Oh iya ini inspirasinya dari lagu baru hayi yang judulnya official. Aku suka lagunya easy listening. Kalian udah download? Kalau udh bgus tapi kalau belum sok cepet download hehe. Aduh panjang lebar gini ngocehnya. Sok dibaca aja ya FF komen kalau bisa he he. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Happy reading !!

Dara Pov

Aku menggigil begitu keluar dari gedung yang menjadi tempatku bekerja. Angin musim dingin menerpa wajahku, membuatku berjalan dengan kepala tertunduk. Aku menjejalkan kedua tanganku kedalam coat yang aku pakai dan berjalan cepat untuk segera mencapai jalan. Saat aku sedang berjalan dan mendongkakan kepalaku untuk melihat jalan di depanku tiba-tiba aku langsung menyunggingkan senyumanku saat mendapati seseorang yang kini sedang berdiri di depan sebuah mobil sport berwarna merah. Dia melambaikan sebelah tangannya kepadaku sedangkan tangan satunya dia masukan ke dalam coat yang dia pakai. Aku berjalan cepat untuk segera menemui orang itu, aku sungguh sangat merindukan orang itu, seseorang yang selama dua tahun terakhir ini sudah menjadi kekasihku.

“kau sudah pulang?” aku tersenyum sesaat setelah berhasil mencapai tempatnya berdiri, dia mengangguk sambil tersenyum sangat manis. “kau harusnya langsung pulang ke apartemenmu. Aku yakin kau pasti sangat lelah.” Lanjutku.

Dia mengeratkan syal yang aku gunakan dileherku. “aku merindukanmu.” Katanya. “makanya aku langsung kesini setelah aku selesai.”

“aku juga merindukanmu.” Ujarku sambil memeluknya kemudian dia balas memelukku erat.

“aku akan menginap di tempatmu.” Katanya setelah melepaskan pelukannya di tubuhku.

“wae?” tanyaku sambil mendongkakan kepalaku untuk lebih memandangnya. “kenapa tiba-tiba?”

“aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini.” Katanya. “tidak melihatmu selama empat hari benar-benar membuatku gila.”

“tapi apartemenku sangat berantakan.”

“kalau begitu aku akan membuatnya lebih berantakan lagi.”katanya sambil menggapai tanganku yang menggantung. “kenapa kau tidak memakai sarung tangan?” tanyanya yang menyadari tangan telanjangku yang tidak terbalut sarung tangan. “cuacanya sangat dingin, bisa-bisa kau sakit.” Dia mengangkat kedua tanganku kemudian menggesekannya dengan tangannya sendiri lalu meniupnya untuk membuatnya lebih hangat. Aku bisa melihat kepulan uap keluar dari mulutnya saat dia melakukan itu.

“aku tidak perlu khawatir, karena kekasihku adalah seorang dokter.” Ujarku sambil tersenyum. “kau pasti akan mengobatiku bukan?” aku terkekeh karena ingat bahwa dia selalu berusaha untuk tetap membuatku sehat, dia akan selalu menemaniku saat aku sedang sakit, bahkan saat aku hanya terserang flu saja dia akan menjadi heboh dan tidak akan membiarkan aku untuk pergi keluar dan bekerja. Dia selalu menyuruhku istirahat tentunya dengan dia yang selalu ada disampingku saat aku membutuhkannya.

“tentu saja.” Ujarnya kemudian dia berjalan untuk membukakan pintu mobilnya. “cepat masuk!” perintahnya. “udara semakin dingin. Dan aku ingin segera mencumbumu.” Lanjutnya dengan memasang senyuman mesum yang menggoda. Aku tertawa kemudian masuk ke dalam mobilnya.

Hari sudah hampir tengah malam saat aku dan Jiyong kekasihku melangkah memasuki gedung apartemenku di daerah cheongdamdong, aku dan dia tadi mampir dulu ke sebuah restoran untuk membeli makan malam, makan malam yang telat sebenarnya karena kesibukan kami berdua yang membuat kami terpaksa harus melupakan urusan makan. Jiyong adalah seorang dokter bedah disebuah rumah sakit besar di seoul, sedangkan aku adalah seorang PD sebuah acara musik di salah satu stasiun televisi besar di korea.

Jiyong membantuku melepaskan mantel tebal yang aku pakai kemudian menyimpannya di sandaran sofa apartemenku, lalu dia melepaskan mantel miliknya sendiri dan menyimpannya di tempat yang sama dengan mantelku.

Aku berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum dan setelah aku membuka kulkas lalu mengambil air dingin tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan kekar yang memeluk tubuhku dari belakang.

“apa yang kau lakukan huh?” tanyaku sambil memutarkan kepalaku ke samping, Jiyong kini sudah menempalkan kepalanya dibahuku.

“aku lelah.” Ujarnya. “biarkan seperti ini dulu sebentar.” Dia membenamkan kepalanya di bahuku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang kini menerpa di leherku, membuat aku merinding sekaligus geli.

“Ji lepaskan dulu.” Kataku berusaha untuk melepaskan tangannya yang melingkar diperutku. “aku juga lelah.” Lanjutku. “jadi biarkan kita duduk dulu.” Sambungku tapi sepertinya kekasihku ini tidak mendengarkanku. Dia malah lebih mengeratkan dekapannya. “aish jinja.” Aku menyikut perutnya dengan sikuku, spontan dia melepaskan pelukannya dan meringis kesakitan.

“sakit.” Dia mengerucutkan bibirnya, aku hanya menjulurkan lidah kemudian berjalan dan duduk di sofa. Dia mengikutiku kemudian ikut duduk di sampingku. “Dee aku ingin memberitahumu sesuatu.” Katanya setelah duduk di sampingku.

“mwo?” tanyaku sambil menyalakan TV menggunakan remote. “apa kau ingin memberitahuku bahwa kau punya kekasih baru?” aku mengatakannya tanpa melihatnya jadi aku tidak tahu reaksi wajahnya.

“aku serius jadi dengarkan aku.” Aku langsung mengalihkan pandanganku kepadanya.

“apa yang ingin kau beritahukan?” aku menatapnya dengan was-was. Biasanya jika dia bicara serius maka ini merupakan kabar buruk.

“aku ditawari untuk sekolah lagi.” katanya. “rumah sakit bersedia menyekolahkanku sehingga aku bisa menjadi ahli bedah spesialis jantung pertama di rumah sakit itu.” Aku membulatkan bibirku, ini merupakan berita baik jadi aku langsung memeluknya.

“selamat.” Ujarku setelah melepaskan pelukanku. “akhirnya impianmu bisa terwujud.” Aku bertepuk tangan dengan semangat. aku benar-benar bahagia mendengarnya.

“tapi jika aku menerimanya maka kita akan berpisah setidaknya paling cepat selama satu setengah tahun.”

“mwo?” kataku sedikit kaget. “memangnya kau akan disekolahkan dimana?”

“New York.” Jawabnya membuat aku langsung terdiam. “aku mengatakannya kepadamu karena aku ingin meminta pendapatmu.” Sambungnya. “menurutmu aku harus bagaimana?”

“kenapa kau bertanya?” ujarku. “tentu saja kau harus menerimanya.”

“tapi itu artinya kita akan berpisah lama. Apa kau tidak apa-apa?”

“aku akan baik-baik saja.” Kataku sambil tersenyum. “aku akan baik-baik saja selama kau bahagia. Jadi aku menyarankan kau untuk mengambil tawaran itu. Kesempatan tidak datang dua kali.”

“baiklah karena aku sudah mendengarkan pendapatmu maka aku akan menerimanya.” Dia tersenyum senang kemudian memelukku erat.

Jiyong Pov

“kau bisa membuat bukumu basah.” Ujarku sambil merampas sebuah novel yang sedang Dara baca. Sebenarnya dia kini sedang berendam cukup dalam di bak mandinya, dan aku yang masih sangat merindukannya diam-diam menyelinap ke dalam kamar mandi. aku dan dia sudah berpisah selama dua tahun, menjalani hubungan jarak jauh yang membuatku sakit kepala karena hampir saja aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini saat tiba-tiba mucul perasaan lelah darinya yang tahu bahwa aku memiliki gadis lain di New York. Maksudku aku membutuhkan gadis lain untuk melampiaskan hasratku karena Dara tidak ada disampingku saat itu. Seorang lelaki mungkin bisa mencintai satu wanita, tapi tubuh lelaki sama sekali tidak dapat berdusta jika sedang ingin bercinta. Tapi aku akhirnya selalu kembali bisa bernafas lega karena lagi-lagi Dara memaafkan kesalahan yang aku lakukan. dan kini ketika aku sudah pulang kembali ke korea aku selalu menghabiskan waktuku bersamanya, mengobati semua rasa rindu yang aku rasakan dan aku tahan selama dua tahun  kepadanya.

“demi Tuhan Ji.” Omelnya. “kau membuat jantungku hampir keluar.” Dia sedikit menengok kepadaku yang sekarang bersandar di samping bak mandinya. “kenapa kau masuk kesini?”

“aku kesepian.” Jawabku sambil membuka novelnya yang kini ada ditanganku. “bagian mana yang tadi sedang kau baca?” aku membulak-balik halaman novel itu. “aku akan membacakannya untukmu.” Aku mengalihkan pandanganku kepadanya, dia menggulung rambutnya keatas kepalanya. Helaian-helaian rambut coklat membingkai wajah cantiknya dan jatuh di sepanjang leher jenjangnya.

“aku sedang mandi.” Katanya sedikit gugup. “aku akan melanjutkannya nanti.”

“anni.” Katanya. “biarkan aku membacakannya untukmu.”

“shiro.” Katanya. “keluar saja, kau menggangguku.”

“wae?” tanyaku. “bukankah kau suka mendengarkan suaraku?”

“iya aku sangat suka mendengarnya.” Jawabnya. “tapi tidak disini.”

“apa kau ingin mendengar suaraku saat ditempat tidur?” dia mencipratkan air busa kepadaku.

“dasar pria mesum.”

“apa kau sengaja membuatku basah?” tanyaku menggodanya. “sehingga aku bisa melepas bajuku dan ikut bergabung denganmu?” dia membelalakan mata hazelnya.

“keluar.” Katanya sedikit berteriak membuatku tertawa puas karena berhasil menggodanya.

“arasseo.” Aku bangkit dari tempatku duduk. “cepatlah keluar!” kataku sambil berbisik ditelinganya. “aku benar-benar sangat merindukanmu.” Aku kemudian berdiri lalu keluar dari dalam kamar mandi setelah dia menyemprotkan air busa lagi kepadaku.

Dara Pov

Aku sedang berbaring di tempat tidurku sambil membaca sebuah majalah fashion, menunggu kekasihku yang kini sedang membersihkan dirinya di kamar mandi. ini sudah seminggu berlalu sejak dia pulang dari New York, dan hampir setiap hari dia akan pulang ke apartemenku setelah selesai melakukan operasi. Aku bahagia karena dia akhirnya pulang dan kembali kepadaku, setelah dua tahun yang cukup melelahkan untukku. Selalu mengalah untuk kembali memaafkan pria yang sangat aku cintai bahkan saat aku tahu dia sedang bercinta dengan gadis lain yang dia temui disana. Aku mungkin lelah dengan semua sifatnya selama ini tapi aku selalu bertahan jika mengingat lagi hari pertama aku bertemu dengannya dan mengingat saat-saat yang telah aku lalui bersamanya dengan bahagia.

Flashback

Aku sedang duduk sendirian di sebuah dessert cafe. Aku sedang menunggu sahabatku Chaerin yang katanya masih dijalan. Aku melihat lagi jam tangan yang melingkar ditanganku untuk kesekian kalinya. Ini sudah hampir tiga puluh menit tapi batang hidung sahabatku itu masih belum tampak. Aku sudah mulai bosan menunggunya dan air minum yang aku pesanpun kini hanya tinggal setengahnya. Aku mengambil ponsel yang aku taruh di dalam tas. Setelah memegang ponselku aku langsung mencari kontak sahabatku itu kemudian menelponnya.

“kau dimana?” kataku setelah agak lama. “cepatlah aku sudah sangat bosan.” Lanjutku setelah diam sesaat kemudian kembali menutup panggilannya dan menyimpan ponselku di atas meja. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar penjuru cafe ini dan ternyata hanya ada beberapa pelanggan. Aku rasa semua orang malas untuk keluar rumah karena cuacanya sangat panas. Seoul memang sedang panas-panasnya sekarang. Kalau Chaerin tidak memaksaku untuk pergi aku juga pasti akan lebih memilih berdiam diri dirumahku.

“kau sendirian?” aku dikagetkan oleh suara seseorang yang tidak aku kenal. Saat aku berbalik ternyata kini ada seorang pria yang telah duduk dihadapanku.

“nuguseyo?” tanyaku. “apa aku mengenalmu?”

“anni.” Katanya. “kau tidak mengenalku dan aku juga tidak mengenalmu.”

“lalu untuk apa kau duduk disana?” tanyaku penasaran.

“karena aku sudah memperhatikanmu dari tadi dan karena aku tertarik kepadamu jadi aku duduk disini sekarang untuk melihatmu dengan lebih jelas.” Katanya membuat aku sedikit takut. “dan ternyata kau lebih cantik jika dilihat dari dekat.” Dia tersenyum membuat aku lebih takut.

“kau..” kataku tergagap karena takut orang ini akan melakukan sesuatu yang jahat. “apa maumu?”

“aku hanya ingin berkenalan.” Jawabnya santai kemudian mengulurkan tangannya. “aku Kwon Jiyong.” aku diam memandang orang aneh ini. “dan aku rasa aku menyukaimu.” Aku membelalakan kedua mataku. Apa dia sedang menyatakan perasaannya sekarang? Apa dia sudah gila karena menyatakan suka padaku padahal ini pertama kalinya aku melihat dia.

“apa kau sedang bercanda?” tanyaku sedikit berbisik. Dia menurunkan tangannya karena aku tidak kunjung menyambutnya.

“anni.” Dia menggeleng dengan cepat. “aku serius.” Sambungnya kemudian mengambil ponselku yang aku simpan di atas meja.

“ya!” teriakku. “apa yang kau lakukan?”

“karena kau tidak mau memberitahu namamu maka aku akan mencari tahunya sendiri.” Dia bicara sambil mengetik sesuatu di ponselku dan sesaat kemudian aku mendengar nada dering yang ternyata berasal dari ponsel miliknya. Sepertinya dia sudah mendapatkan nomor ponselku.

“aku akan menghubungimu nanti.” Katanya sambil menyimpan kembali ponselku diatas meja kemudian dia berdiri. “sampai ketemu lagi nona cantik.” dia tersenyum kemudian berlalu dari hadapanku dan keluar dari cafe itu. Aku yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi hanya bisa terbengong. Aku pikir dia memang orang gila.

Setelah itu ternyata dia benar-benar menghubungiku, awalnya aku sangat takut dan tidak mengubrisnya sama sekali tetapi setelah satu bulan dia terus menghubungiku dan terus mengirimkan pesan akhirnya aku meladeninya, awalnya aku hanya ingin menyuruhnya untuk berhenti menggangguku tapi ternyata yang terjadi selanjtutnya malah aku dan dia menjadi semakin dekat, dan tiga bulan setelahnya aku dan dia menjadi sepasang kekasih walaupun awalnya aku ragu untuk menjalin hubungan dengannya karena aku tidak cukup mengenalnya namun akhirnya aku menghapus keraguan itu dan menerimanya lalu enam bulan kemudian aku menjadi sangat tergila-gila kepada lelaki gila itu karena semua perhatian dan caranya yang memperlakukan aku dengan sangat manis yang akhirnya malah membuat aku terbiasa dengan kehadirannya. Dan sejak saat itu aku selalu berlari kearahnya jika dia ada dihadapanku kemudian memeluknya erat. Sejak mengenalnya aku sama sekali tidak peduli dengan lelaki lain yang mencoba untuk mendekatiku.

Flashback End

“kenapa kau tertawa?” aku mengalihkan pandanganku kepadanya yang kini hanya memakai handuk dipinggangnya.

“aku sedang bernostalgia dengan pikiranku.” Jawabku kemudian kembali fokus pada majalah yang sebelumnya aku baca.

“memangnya apa yang kau pikirkan?” tanyanya. “apa sesuatu yang erotis?” tanyanya lagi.

“apa hanya sesuatu yang erotis yang bisa kau pikirkan huh?” aku mendengus.

“kalau bukan itu lalu apa yang sedang kau pikirkan?”

“aku sedang berpikir tentangmu yang dulu tiba-tiba mengatakan menyukaiku padahal itu hari pertama kita bertemu.” aku kembali tertawa. “dan ternyata kini aku baru sadar bahwa kita sudah sangat lama bersama. Kita sudah hampir lima tahun saling mengenal.”

“oh itu.” Katanya sambil menggaruk rambut basahnya.

“aku jadi penasaran.” Kataku sambil melihatnya. “kenapa dulu kau bisa jatuh cinta kepadaku?”

“aku tidak tahu.” jawabnya. “saat itu saat pertama kali aku melihatmu masuk ke dalam cafe tempat dimana kita bertemu aku seakan melihat seorang dewi, kau sangat cantik dan saat itu juga aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu. Dan entah kenapa aku merasa waktu terasa berhenti saat kau tersenyum kepada pelayan yang ada disana.” Katanya lagi. “aku jatuh cinta setelah melihatmu tersenyum. senyuman terindah yang pernah aku lihat dan setelahnya aku memutuskan untuk menjadikanmu milikku apapun yang terjadi. Dan untungnya kau sedang tidak punya kekasih saat itu.” Jawabnya sambil melihatku, aku tidak bisa menyembunyikan bibirku yang kini sudah tersenyum dengan malu setelah dia mengatakannya. Aku sangat tersanjung sekarang.

Jiyong Pov

aku terbangun dari tidurku karena mendengar bunyi alerm yang keluar dari ponsel Dara, saat aku membuka mataku lebih lebar aku melihat kekasihku itu kini sedang menatapku dan memperhatikanku, selimbut masih menyelimuti tubuh telanjang kami. Semalam setelah kami bercinta aku rasa aku langsung tertidur karena kelelahan. Aku mengangkat tanganku kemudian membelai wajah cantiknya. Dia tersenyum dengan apa yang aku lakukan.

“apa kau ada operasi hari ini?” tanyanya.

Aku menggeleng. “aku akan ke rumah sakit agak siang.” Kataku yang masih membelai wajahnya. “aku masih merindukanmu.” Kataku lagi, dia hanya diam sambil terus memperhatikanku. Sepertinya dia sedang resah.

“Ji.” Katanya sambil menarik selimbut keatas membuat bahu telanjangnya tertutup. “ibuku tahu kau sering menginap.” Sambungnya. “dan dia bertanya kapan kau akan menikahiku.” Aku diam karena tidak siap dengan pertanyaan mendadak yang Dara berikan.

“aku rasa topik ini terlalu berat, ini masih pagi Dee.” Jawabku.

“aku tahu.” katanya. “aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi jadi aku akan mengatakannya sekarang.” Dia menatap langsung kedalam mataku.“Ibuku terus menekanku. Kau tahu dia sedikit keberatan dengan hubungan ini karena perbedaan usia yang menurutnya cukup jauh diantara kita. Dia pikir kau hanya sedang bermain-main denganku dan sama sekali tidak ada niat untuk menikahiku.” Sambungnya. “aku juga sebenarnya telah lama memikirkan ini. Kau tahu aku sudah semakin tua dan aku lelah dengan hubungan kita yang seperti ini.”

“kau lelah menjadi kekasihku?” tanyaku.

“anni.” Katanya sambil menggeleng. “mana mungkin aku lelah menjadi kekasih pria hebat sepertimu. Kau tahu kau satu-satunya untukku. Dan aku bahagia dengan apa yang kita lalui berdua.” Dia diam sebentar kemudian menghembuskan nafas berat. “tapi aku wanita Ji, aku tidak bisa selamanya seperti ini denganmu. Aku memang bahagia denganmu, aku bahagia saat kau memelukku, saat kau menciumku, aku juga bahagia saat kita bercinta tapi kini aku rasa aku butuh sesuatu yang lebih resmi.” Dia diam lagi. “Aku hanya ingin menjadi gadismu secara utuh, aku hanya ingin memilikimu tanpa takut kau akan meninggalkanku.” Dia memejamkan matanya kemudian aku melihat air matanya mengalir.

“Dee.” Aku memanggilnya pelan.

“Mianhae.” Ujarnya. “mian kalau ini akan membebanimu tapi aku harus mengatakannya karena aku juga ingin bahagia. Maksudku aku ingin lebih bahagia lagi dari sebelumnya. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain menjadi istri dari pria yang sangat dicintainya.” Katanya. “tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya jika kau belum siap. Bersamaku kau selalu punya pilihan. Dan jika kau tidak bisa memberikan kepastian itu maka sebaiknya kita hentikan saja semuanya.” Dia menghapus airmatanya kemudian tangannya mencapai sesuatu di lantai. Setelah dia mengenakan lagi gaun malamnya dia kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.

Dara Pov

Sudah lebih dari seminggu sejak aku mengatakan kepada Jiyong bahwa aku ingin dia untuk menikahiku dan sejak saat itu aku sama sekali belum bertemu dengannya. Dia juga sama sekali tidak menghubungiku dan aku tidak mungkin menghubunginya terlebih dahulu. Aku sudah berpikir bahwa mungkin apa yang eomma katakan memang benar. Mungkin Jiyong memang hanya ingin bermain-main denganku dan sama sekali tidak ada niat untuk menikahiku. Tanpa terasa airmataku kini telah jatuh. Mungkin ini adalah harinya, hari dimana akhirnya hubungan kami benar-benar berakhir.

Aku sedang duduk disebuah halte bis, menunggu bis tujuanku datang. Aku duduk sambil terus menunduk kebawah dan memainkan kakiku maju mundur. Aku galau karena sangat merindukan Jiyong, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya, dan aku rindu sentuhannya tapi aku sama sekali tidak tahu dia sedang apa dan sedang dimana. Apa dia benar-benar meninggalkanku sekarang? Apa dia tidak akan pulang lagi kepadaku? Aku mendongkak dan melihat langit malam yang semakin hitam. Aku memejamkan mata dan merasakan hangatnya air mata yang mengalir dikedua pipiku. Aku pikir aku bisa hidup tanpa dia tapi ternyata aku salah.

“Dara apa yang kau lakukan disini?” aku mengalihkan pandanganku ke depan sebuah mobil yang kini sudah berhenti di hadapanku. Dan aku melihat seseorang yang aku kenal keluar darisana.

“Donghae-ah.” Kataku saat dia berjalan kearahku. “kenapa kau ada disini?” tanyaku.

“aku sedang dalam perjalanan pulang, dan aku melihatmu disini. Ini sudah malam kenapa kau masih berkeliaran?” tanyanya. “seorang gadis harusnya sudah tidur pada jam ini.” Dia mengomel. Donghae adalah sahabatku sejak kuliah. Dia adalah salahsatu orang yang bisa aku andalkan. “kau menangis?” tanyanya setelah melihat mataku yang sedikit bengkak.

“anni.” Aku mengelak. “aku hanya kurang tidur.”

“jangan berbohong.” Katanya sambil berjongkok didepanku. “aku sudah mengenalmu dengan baik. Jadi kau tidak bisa menipuku.” aku diam saja tidak tahu harus menjawab apa. “katakan saja semua. Aku akan mendengarkanmu. Bukankah ini gunanya seorang sahabat?” dia tersenyum dan akhirnya aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Tangisku pecah di depan Donghae dan akhirnya aku menceritakan semua kepadanya dan dia benar-benar mendengarkanku tanpa banyak bertanya dan menyelaku. Aku menjadi sedikit lebih baik setelah berbagi kesedihanku kepadanya. “berhentilah menangis.” Katanyanya. “semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Aku tertawa getir. “aku konyolkan? Aku menangisi orang yang bahkan sama sekali tidak peduli kepadaku.”

“anni.” Katanya. “tidak ada salahnya menangis. Wanita memang seharusnya menangis saat sedang disakiti.” Dia kemudian tertawa membuatku melihatnya.

“apa kau sedang menertawakanku?” aku melihatnya dengan kesal.

“kau sangat jelek saat menangis.” Dia tertawa lagi membuatku memukulnya pelan. “sudahlah hapus air matamu sebelum kau benar-benar berubah menjadi sangat jelek.” Katanya lagi berhasil membuatku diam. “aku akan mengantarmu.” Dia memegang kedua bahuku kemudian menggiringku masuk ke dalam mobilnya dan lima belas menit kemudian aku telah sampai di depan gedung apartemenku.

“terimakasih atas tumpangannya.” Kataku setelah mobil Donghae berhenti tepat di depan gedung apartemenku. “dan terimakasih karena telah mendengarkanku dan membuatku lebih baik.”

“kau boleh menghubungiku kapan saja Dara, jangan sungkan.” Sahut Donghae.

“baiklah.” Kataku sambil tersenyum. “selamat malam.” Kemudian aku keluar dari dalam mobilnya.

“Dara.”

“ya?” tanyaku saat Donghae memanggilku dan dia kini sudah keluar dari mobilnya kemudian melangkah mendekatiku.

“jangan sedih lagi.” dia memelukku membuat aku kaget karena tidak sadar bahwa Donghae akan melakukan ini. “aku tidak suka melihat sahabatku menangis karena disakiti oleh seorang lelaki brengsek.” Lanjutnya. Aku merasa senang karena dia mengkhawatirkan aku dan aku berpikir untuk membalas pelukannya. Saat aku akan merentangkan tanganku tiba-tiba saja aku merasakan sebuah tangan yang memegang pergelangan tanganku sangat erat kemudian menarikku dengan cukup keras membuat aku terlepas dari pelukan Donghae.

“apa yang kau lakukan pada kekasihku?” aku dapat melihat kilat marah dari mata seseorang yang sangat aku rindukan. Jiyong ada disini.

Jiyong Pov

“kau ada disini?” tanya Dara yang pergelangan tangannya kini sedang aku pegang dengan erat.

“aku menunggumu dari tadi.” Kataku kesal karena harus melihat pemandangan yang sangat tidak ingin aku lihat. Bagaimana bisa dia membiarkan lelaki lain memeluknya. “apa yang sedang kau lakukan dengannya huh?” aku membentak Dara dan lebih mengeratkan peganganku pada pergelangan tangannya.

“Ji tanganku sakit.” Katanya sambil berusaha melepaskan tangannya, dan aku segera melepaskannya setelah melihat dia meringis kesakitan.

“hey kenapa kau sangat kasar?” tanya Donghae yang kini memandangku dengan tatapan yang tidak kalah kesal denganku.

“kau jangan ikut campur.” Kataku kepadanya. “dia kekasihku dan aku berhak melakukan apapun kepadanya.”

“hentikan.” Aku mendengar suara Dara. “kenapa kalian bertengkar?”

“dia memang kekasihmu.” Ujar Donghae. “tapi itu bukan berarti kau bisa menyakitinya.”

“apa kau bilang?” kataku tidak terima. “kau jangan so tahu.” aku sudah mengangkat tanganku untuk memberinya tinju namun Dara melerainya.

“Ji aku mohon hentikan.” Dia sedikit berteriak membuat aku berhenti melayangkan tinjuku. “Dan kau sebaiknya kau pulang saja. Aku akan menyelesaikan masalah ini.” Dia memandang kepada Donghae.

“tapi Dara.”

“aku mohon.” Dara masih memandangnya dengan sedih kemudian Donghae menurut lalu pergi meninggalkan kami berdua. Dara memandangku dengan kedua matanya, ada banyak emosi disana. Marah, senang, kesal, sedih aku tidak yakin mana yang benar.

“kenapa kau berpelukan dengan lelaki lain huh?”

“kau darimana saja?” dia tidak menjawab pertanyaanku. “kenapa kau baru muncul sekarang?” dia bertanya lagi membuat aku kesal.

“jawab pertanyaanku.” Aku membentaknya. “kenapa kau bisa diantar olehnya dan kenapa kalian berpelukan?” tanyaku lagi. “apa kau baru bersenang-senang dengannya sementara aku daritadi menunggumu disini dan sama sekali tidak dapat menghubungimu. Apa kau sengaja mematikan ponselmu karena sedang bersamanya?” aku kembali membentaknya membuat dia terdiam lalu tangisnya pecah. Aku tersentak setelah mendengarnya menangis. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis histeris seperti ini. Aku merasa bersalah karena membentaknya tapi aku juga masih merasa kesal karena dia membiarkan lelaki lain memeluknya.

“kenapa kau baru datang sekarang?” dia bertanya sambil menangis histeris. “kau kemana saja selama ini?” dia masih menangis. Aku bingung kenapa dia seperti ini jadi aku langsung memeluknya untuk lebih menenangkannya. “kenapa kau tidak pernah menghubungiku?” Dia kini memukul bahuku dengan keras. “aku takut Ji. Aku pikir kau meninggalkanku.”

“Dee.” Ujarku pelan. Tenggorokanku tercekat karena tidak tahan mendengar tangisannya, terlebih lagi dia menangis karena aku penyebabnya. “aku disini.” Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang.

“aku pikir kau meninggalkanku.” Dia semakin terisak. “aku pikir kau menemukan gadis lain lalu meninggalkanku.”

“aku tidak akan meninggalkanmu.” Kataku pelan sambil mengusap lembut kepalanya. “berhentilah menangis. Aku sudah disini.”

“aku pikir kau tidak mencintaiku lagi.” dia terus menangis sampai satu jam lamanya dan selama itu juga aku terus memeluk dan berusaha untuk menenangkannya, dia menangis histeris seperti itu membuatku merasa bersalah. Aku lebih baik mati daripada harus melihatnya seperti ini lagi.

Dara Pov

Aku kini sedang duduk di sofa apartemenku, Jiyong ada disampingku. Aku sedang bersandar pada dada kekarnya sedangkan dia menggenggam tanganku dengan erat membuat aku benar-benar yakin bahwa dia ada disini untukku. Aku masih sesenggukan bekas tangisanku tadi yang sama sekali tidak bisa aku tahan. Ini mungkin tangisan terhebat yang pernah aku keluarkan seumur hidupku. Tangisan takut dan senang yang bercampur aduk. Aku tadi takut karena berpikir Jiyong  meninggalkanku tapi setelah melihatnya tadi muncul aku menjadi lega dan senang karena ternyata dia masih ada untukku, dia masih mencintaiku. Aku sudah mendengar semua penjelasan kenapa dia tidak muncul selama seminggu terakhir ini. Aku merasa malu karena sempat berpikiran negatif kepadanya. ternyata dia benar-benar sibuk di rumah sakit dan empat hari yang lalu dia harus terbang ke jepang untuk mengoperasi pasien disana. Jiyong mendadak harus pergi jadi dia tidak sempat memberitahuku dan sialnya ponselnya tertinggal sehingga dia sama sekali tidak bisa mengabariku.

“Dee.” Katanya lagi. “aku benar-benar minta maaf.” Dia kembali mengulang kata itu. “aku telah membuatmu tersiksa selama seminggu ini.”

“Anni.” Kataku. “yang penting kau ada disini sekarang.”

“aku tidak akan meninggalkanmu, kau harus percaya itu karena aku sangat-sangat mencintaimu bahkan melebihi diriku sendiri.” Ujarnya sambil membelai rambutku. “jangan menangis lagi seperti tadi aku tidak sanggup mendengarnya.”

“aku sangat takut Ji. Aku pikir kau meninggalkan aku karena aku memintamu untuk menikahiku.” Aku kembali terisak, aku masih merasakan ketakutanku saat berpikir Jiyong telah pergi meninggalkanku. “aku tidak akan memintanya lagi Ji. Aku akan menerima apapun keputusanmu asal kau tetap di sampingku.”

“Anni.” Ujar Jiyong kini sambil melepaskan pelukanku dari tubuhnya dan memandangku dengan serius. “aku akan menikahimu.” Lanjutnya membuat aku kembali mengalirkan air mata.

“kau akan apa?” tanyaku terbata. Aku takut aku hanya salah mendengar.

“aku akan menikahimu.” Katanya lagi dengan penekanan. “aku sudah berbicara dengan orangtuaku dan mereka sudah setuju.” Ujarnya lagi. “dan aku akan menemui ibumu secepatnya.”

“kau serius?” tanyaku, aku bahagia bahkan jika ini hanya mimpi sekalipun.

“1000 kali serius.” Ujarnya kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku mantelnya. Aku melihat sebuah kotak perhiasan keluar dari sana dan setelah Jiyong membukanya aku melihat sebuah kalung yang berkilau indah yang dilapisi berlian dengan bandul berbentuk tetesan air berwarna biru langit. “aku menemukan ini saat aku di jepang.” Katanya lagi. “apa kau mau memakainya dan menjadi istriku?” dia bertanya membuat aku kembali menangis, kali ini tangisan bahagia karena akhirnya dia mengatakannya secara langsung. Akhirnya dia memberiku kepastian yang paling aku inginkan, akhinya aku akan menjadi miliknya secara utuh dan itu benar-benar sesuatu yang paling aku inginkan didunia ini. Aku akan hidup selamanya bersama orang yang paling aku cintai.

=END=

Advertisements

49 thoughts on “I Wanna Be Official [Oneshoot]

  1. huaaaa komen neng gak ke post ㅠ.ㅠ
    padahal udah panjang tuh komenan -_- oke aku buat ringkas
    ff ini sappy (sad-happy) aku suka banget sama karakter ji disini. dia kaya yang sayang banget sama dara. aku kira juga ji bakal pergi ninggalin dara. ternyata bener ninggalin dara ke jepang.
    okedeh mungkin itu ringkasan komentar aku tadi kalau pun udah ke post biarinlah aku komen dua kali hehe ^^

  2. Sempet takut tadi kirain jiyong bakal pergi,,tapi untunglah cinta.y k.Dara luar biasa jadi daragon bisa bersatu,,, huhu terharu sama ending.y,,,
    ff.y keren eonn, gumawo ^^

  3. huwaaaaaaa baper pingin ikut nangis ga kebayang ama jiyoung beraninya ngaduk-ngaduk perasaan dara
    ha pingin nangis tp pngin senyum juga Aneeeeeeehhh

    halo q reader baru salam kenal #pof

    • Tengkyu udah baca FF ini dan tengkyu udah nyempetin komen. Salam kenal juga. Silahkan baca FF main yang gak kalah bagus di DGI

  4. Huwaa baperrrr….tp emg itu sihbyg cewek rasain. Waktu minta dinikahin ke calon suami jg rasanya gt, jd malah takut ditinggalin #curcol hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s