SOMETHING CALLED LOVE – True Story [Chap. 7]

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

 

“yap.. disini.” Dara menghentikan mobilnya sesuai petunjuk dari jiyong. Dara melirik keluar melihat rumah jiyong.

“ini rumahmu?” tanya dara sambil ikut keluar bersama jiyong.

“yap.. tepatnya masih sewaan!”

Dara mengangguk, “hmm..  not bad.” Dara lalu menatap jiyong dan tersenyum, “gomawo sudah mau ikut!”

“enggak.. seharusnya aku yang berterima kasih, tadi itu sangat menyenangkan!” jiyong balas tersenyum kepadanya.

so.. thats it! Aku harus segera pulang sebelum minzy marah-marah karena meninggalkannya terlalu lama.” dara mengangguk kecil kepadanya dan berjalan ke mobilnya untuk pulang.

Jiyong menatapnya dengan perasaan ragu namun dia ingin sekali menahan dara untuk lebih lama diam disini. Tapi dia tidak memiliki alasan yang kuat, namun ketika dia melihat dara sudah bersiap-siap menyalakan mobilnya jiyong langsung menghampiri.

“mmm.. dara..!”

“iyah?” tanya dara mematikan mobilnya.

“aku.. mm.. mau minta tolong..!” jiyong gelagapan dan dara melihatnya dengan bingung.

“minta tolong apa?”

Jiyong berdiam diri sejenak sebelum mendapatkan ide gila super aneh yang dia jadikan alasan untuk menahan dara, “bagaimana cara mengusir monyet-monyet liar?” dara menatapnya dengan bingung, lalu alisnya naik sebelah sebelum kedua sudut bibirnya melebar dan dia pun tertawa.

“boh..?”

Jiyong merutuk dalam hati, mengapa di saat-saat seperti ini otaknya tidak mampu memberikan ide briliant? Lagipula dia heran sendiri, dari mana datangnya keinginan itu? Keinginan untuk menahan dara disini? Aneh.. pikirnya menampar otaknya sendiri.

Di saat jiyong termenung karena masih merasa malu, dara lalu keluar dari mobil, sebelumnya dia menoleh kedalam mobil melihat sarang yang sudah tertidur dan hanbin yang acuh tak acuh memainkan ponselnya. Dia pun akhirnya mengangguk,

“kalau begitu mari kita lihat sebentar rumahmu sebentar!” katanya sambil berjalan menaiki tangga menuju rumah panggung jiyong. Jiyong berjalan dibelakangnya dan membukakan pintu untuknya.

Sebelum dara masuk jiyong mengatakan sesuatu, “jangan kaget.. rumahku berantakan!” dara tersenyum dan mengangguk. Mereka pun masuk, mata dara langsung menerawang keseluruh ruangan. Lalu dia menemukan beberapa jendela dengan kaca terbuka, dan tanpa penutup. Dia pun langsung paham, inilah penyebabnya.

“sepertinya monyet itu datang kesini karena cahaya-cahaya yang keluar dari rumahmu!” jiyong lalu mengangguk paham.

“jadi apa aku harus selalu menutup jendelaku? Menutup semuanya?” dara mengangguk.

“yap.. kalau malam hari monyet-monyet liar memang suka berkeliaran mungkin saja melihat cahaya dari rumahmu mereka sangka sebagai musuh mereka!” Jiyong mengangguk paham lalu berjalan kesalah satu jendela yang terdekat bermaksud untuk menutupnya, namun tiba-tiba…

BRUG

“OH SHI…!” jiyong lupa kalau dia belum membetulkan lantai kayu yang waktu itu bolong karena tikus itu dan sekarang lubang dilantainya malah makin melebar.

Dara berlari mendekatinya, “kamu gak apa-apa?” tanyanya khawatir namun kemudian tertawa.

“hey.. kok tertawa? Aku sedang kena musibah kamu ini malah menambahnya dengan mentertawakanku!” kata jiyong sedikit bergerutu namun akhirnya hanya ikut tertawa bersama dara.

“hahaha.. mian. .. mian! Tapi kamu lucu.. kenapa bisa ada lantai bolong kaya gini!” tanya dara masih tertawa.

“terlalu banyak yang harus dikerjakan jadi aku lupa kalau aku masih punya lantai bolong di rumahku!!” balas jiyong berusaha bangkit, dara meraih tangannya dan membantunya untuk berdiri.

“aigoo.. kamu ini teledor sekali. Dirumahku ada perkakas jika kamu perlu kamu boleh meminjamnya!” seru dara masih menatapnya dengan lucu.

“ayy ayy.. sudah dong! Jangan lihat aku kaya gitu!” jiyong bergerutu. Melihat wajah masam jiyong dara pun mengangguk, “araseo.. !”

Mereka pun saling tatap dan ketika mereka menyadari tangan mereka masih berpegangan dara yang pertama kali melepaskan tangannya.

“mm.. sekali lagi terima kasih mau ikut kami ke pantai!” kata dara merasa mulai canggung.

“.. ah sudahlah. Aku juga senang bisa berlibur sekali-kali!” balas jiyong, lalu dara menatap jiyong dan mendesah..

well.. sepertinya anak-anakku sudah menyukaimu terutama sarang, dia begitu girang tadi sampai kelelahan seperti itu!”.

“dia memang anak manis aku juga senang bermain dengannya!” balas jiyong tak henti tersenyum.

“kamu memang penyayang anak kecil yah? Apa kamu punya anak? ” tanya dara penasaran, jiyong tersenyum malu lalu menggaruk-garuk lehernya.

well.. i dont even have a wife!” dara mengernyitkan dahinya. “sincha?” tanya dara jelas bernada tak  percaya. Jiyong mendesah.. “yah begitulah!” bahunya terangkat lalu terjatuh.

 Lalu detik kemudian jiyong tertawa, “hey.. tatapanmu seperti mengasihaniku tahu tidak? Tenang, aku memang belum pernah menikah tapi aku ini masih laku dimana-mana..! aku hanya memilih untuk sendiri saat ini!” dara pun ikut tertawa bersama jiyong.

“aigoo.. aku tidak bermaksud kesana kok!” balas dara disela-sela tawanya.

“tunanganku lebih memilih menikahi calon dari orang tuanya, jadi.. yah beginilah! Sesudah mengalami kegagalan itu aku jadi tidak punya keinginan untuk mempunyai pasangan..” tiba-tiba tawa dara itu berubah menjadi keseriusan. Dia tidak menyangka jika jiyong akan menceritakan hal yang menurut dara cukup besar dan pantas dirahasiakan dalam hidup jiyong itu. Terutama kepada dara yang terbilang masih baru dalam hidupnya.

“mian..” tak bisa memberi kata-kata lain dara hanya meminta maaf dan menatapnya sedih.

“ey ey.. sudahlah! Menurutku itu bukan hal besar atau memalukan makanya aku share kepadamu dan tentunya aku tidak punya masalah dengan reaksi orang lain! Aigooo.. kenapa aku tiba-tiba menceritakan hal itu.. sungguh membuatku terlihat menyedihkan!” balas jiyong masih tertawa, walaupun dara masih bisa melihat raut wajah kesedihan dari jiyong karena sejujurnya jiyong memang sedang berbohong saat ini.

Merasa menjadi canggung kembali dara pun akhirnya berpamit pulang karena sudah terlalu sore dan dia juga harus mengantarkan anak-anaknya pulang dan jiyong memahami itu. Mereka pun keluar dan menghampiri mobil dara.

“hanbin~ah.. ingat yang aku katakan araseoo..!” kata jiyong kepada hanbin didekat jendela.

“… ndeh… “ balas hanbin malas-malasan tanpa melepaskan matanya dari ponselnya.

Dara menatap mereka dengan penuh tanya. Dia melirik jiyong namun dia hanya mendapatkan senyuman dari jiyong. Something happened beetwen them, right? Tanya dara melirik hanbin lalu kembali melirik jiyong.

“ok jika kau butuh alat-alat perkakas kau tinggal datang aja ke toko!” kata dara, jiyong pun mengangguk.

***

Haejin masuk ke dalam ruangan tanpa menghiraukan woobin yang menatapnya dengan kesal. Woobin mendesah dan kembali focus pada pekerjaannya namun tiba-tiba dia dikejutkan ketika haejin berjalan menghampirinya.

“woobin~ah?” panggil haejin.

“weh?” balas woobin malas-malasan.

“bisa kau berikan laporan hasil pembersihan komplek rumahku 2 bulan yang lalu.” Kata haejin bernada terburu-buru, kali ini wajah woobin terangkat untuk menatapnya. Dengan lelah woobin mendesah dan mencari dokumen yang diminta haejin.

Woobin menyodorkan dokumen tersebut, haejin tersenyum lalu mengambilnya namun ternyata woobin masih menggenggam dokumen itu seolah menahan haejin untuk mengambil dokumen tersebut. Haejin menatap wajahnya, “apa yang sedang kau lakukan?” tanya haejin bernada kesal.

i give one month.. dan jika batas waktu yang kuberikan dan kau masih belum bisa bekerja. Aku akan pindah tangankan kasusmu kepada orang lain  dan atau mungkin aku akan menutup kasus ini!” mata mereka saling menatap seakan tengah berkelahi.

Lalu menit kemudian haejin merebut dokumen itu dari tangan woobin, “apa kau sadar dengan apa yang kau katakan woobin~ah?” tanya haejin dengan emosi kemarahan yang dia tahan, giginya terkatup dan rahangnya mengeras. “kau pikir kau bisa melakukan hal itu?” lanjut haejin, woobin tersenyum hambar kepadanya lalu mendesah.

“kau pikir karena kau disini komandan aku tidak bisa melakukan apa pun? Kau kira dengan semudah itu merendahkanku? Ingat kau memang komandan disini tapi kedudukanku sama denganmu! Kau ..(woobin menunjuk wajah haejin dengan telunjuknya) harus jaga sikap dan mulutmu jika masih ingin bekerja disini!!” balas woobin yang lalu berlalu meninggalkannya.

Namun kemudian woobin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap haejin, “haejin~ah.. kau ingat ‘kan jika aku ada dipihakmu? Kau ingat bukan jika aku mempercayaimu? Aku memilihmu.. aku memilih mempercayaimu daripada jinyeong.. kau tahu itu ‘kan? Aku hanya tidak mengerti kenapa kita berakhir seperti ini.. we were so close..! jadi jangan salah artikan apa yang kulakukan saat ini.. aku hanya mengerjakan yang harus aku kerjakan.. ” lirih woobin lalu melanjutkan langkahnya.

Haejin menghirup napasnya yang berat lalu memukul meja didepannya dengan cukup keras. Kini semuanya terasa berat seakan semuanya sedang menghalanginya.

Haejin menutup matanya sejenak lalu membuka matanya menatap dokumen ditangannya dan melupakan masalahnya dengan woobin. Dia lalu bergerak menuju mobilnya untuk kembali ke komplek perumahannya.

Dia berhenti didepan rumahnya lalu memarkirkan mobilnya. Setelah membaca laporan dari pembersihan 2 bulan yang lalu dia menemukan disaat itu ada beberapa keluarga yang tidak ada ditempat dan beberapa yang ada di tempat. Jujur walaupun dia sudah bertahun-tahun tinggal disini dia tidak terlalu dekat dengan tetangga-tetangganya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Namun matanya melebar menyadari sesuatu, Park Jinyeong bukanlah orang yang tinggal disini dan bukan merupakan pengunjung yang sering datang kemari jadi.. idenya kali ini bisa dibilang tidak berguna.

Jika dia bertanya kepada orang-orang dikomplek ini, pasti tidak akan ada yang mengenalinya. Dia mendesah lalu membanting dokumen ditangannya.

fuck.. kau dimana bajingan? Dimana kau bersembunyi?”

Teriakan kemarahannya lalu berubah menjadi suara ringisan,“Wehhhh..?” air mata haejin tiba-tiba mengalir deras.

“weh.. weh.. weh..?” dia membanting-banting kepalanya pada stir mobil.

“you are fucking my best friend.. and you fucking fuck my wife..? why? Kenapa kau tega..?” tanyanya pada angin yang berlalu. Dia tidak bisa mempercayai kenyataan jika jinyeong telah melakukan hal itu dibelakangnya padahal dia tahu kalau haejin sangat mencintai taeyeon, istrinya.

“Aku janji akan membunuhmu! Aku janji itu!”

***

Donghae menatap dengan tajam dari kejauhan, menyaksikan dara tersenyum kepada jiyong. Dia sedang berjalan menuju rumah jiyong dimana kakinya harus tertahan terlebih dahulu saat melihat satu mobil berada didepan rumah jiyong.

Dia tahu dan sangat yakin jika mobil itu milik dara, bagaimana dia tidak yakin jika dia sudah mengenali dan memperhatikannya selama satu setengah tahun ini. mengamati setiap gerakan dan setiap ekspresi pada dara dari kejauhan.

 Senyuman itu..

.. membuatnya terpesona sekaligus membuatnya meringis kesakitan. Senyuman yang baru bisa dia lihat saat kedatangan jiyong itu tidak pernah dia dapatkan dari orang lain. Jiyong.. jiyong.. jiyonglah yang mampu melakukan itu. Otaknya berkali-kali mengingatkan. Namun ia tak henti berharap.

Dia ingat sekali waktu itu jiyong datang, orang asing yang donghae yakini hanyalah orang lewat yang akan membeli sesuatu di toko dara tapi dia termenung ketika anaknya dara yaitu sarang begitu menyukai jiyong, dan disanalah timbul perasaan aneh ketika matanya tak sengaja menangkap wajah dara yang tersenyum kepada jiyong. Maka dari itulah donghae penasaran ingin mengetahui siapa jiyong dan menghampiri rumahnya yang ada dipinggir hutan. Namun semuanya menjadi begini, donghae entah mengapa menyukai jiyong dan malah menjadi temannya, dan dia pikir tak ada yang salah jika menjalin pertemanan.

Setelah menjalin pertemanan ini dia lega telah menemukan seseorang yang akan merubah kehidupan dara yang selama ini selalu gelap. Namun akhir-akhir ini perasaannya menjadi bimbang sendiri, tiba-tiba rasa sakit yang tak pernah dia rasakan saat melihatnya kini menjadi beban tersendiri yang harus dia hadapi.

Dia tidak pernah menampakkan wajahnya kepada dara dan dara pun tidak mengetahui donghae. Dan niatnya.. selamanya akan begitu. Namun ketika melihat dia dengan jiyong perasaannya yang aneh tumbuh dengan cepat dan semakin hari semakin membesar, ditambah dengan jiyong yang sering menceritakan dara terkadang membuatnya sesak sendiri.

Donghae menahan napasnya lalu mendesah, ini bukan tujuanmu! Kau harus kembali pada tujuan awalmu donghae! Ini tidak boleh terjadi, ini salah! Ingat kau mempunyai tujuan dan janji yang harus kau tepati.

Donghae mengingatkan dirinya dan mengangguk paham atas dirinya sendiri.

***

Satu minggu kemudian..

Teng tong…

Selamat datang..

Dara yang sedang sibuk dengan menata barang-barang ditokonya tidak menyadari jika jiyong yang baru masuk kedalam tokonya menghampirinya. Jiyong memperhatikan dara dari jarak yang cukup dekat. Bagaimana wajahanya begitu serius namun masih terlihat manis, kerutan didahinya kala menyadari ada yang salah dan juga tatapan mata yang tajam namun mampu melembut kala menatap anak-anaknya membuat jiyong ingin menampar dirinya karena telah menyadari jika dia telah sering memperhatikannya sehingga dia sudah begitu kenal dan mengetahui kebiasaan dara.

Ketika jiyong masih melamun dengan pikirannya tiba-tiba dara berbalik dan menemukan jika jiyong sedang berada dibelakangnya, otomatis dara terkejut.. “ohhh.. kapchagi..!” dia menjatuhkan catatan yang dia bawa dan malah memegangi dadanya.

“kau membuatku tekejut tahu tidak?” seru dara masih kaget melihat jiyong.

Jiyong menaikan alisnya lalu menggaruk-garuk lehernya, “mian..” katanya singkat.

Dara lalu mengambil catatannya yang terjatuh, “apa kamu perlu sesuatu?” tanya dara yang berjalan ke tempat kasir, jiyong lalu berdiri didepan dara.

Dia menunjukan kedua tangannya yang sama-sama menjinjing kantong plastik hitam, “Aku gak perlu apa-apa tapi aku perlu kamu untuk memilih? Pilih mana?” katanya membuat dara heran.

“maksudnya aku harus pilih salah satu dari kantong plastik itu?” tanya dara masih tidak paham dengan maksud dari jiyong.

Jiyong mengangguk, “pilih saja, salah satu dari kantong plastik ini bukan berisi kecoa atau sejenisnya kok! Jika beruntung mungkin dapet something nice..” dara tersenyum kepadanya,

Setelah kejadian liburan di pantai waktu itu dara menjadi sedikit lebih terbuka dan lebih suka bercanda dengan jiyong. Jiyong juga tidak canggung, dia sudah menjadi pengunjung toko dara selama 2 bulan lebih ini dan juga terkadang menjadi baby sisternya sarang. Jiyong tidak protes dan malah menikmatinya, dan dara juga tidak keberatan dengan kedekatannya dengan sarang. Kedekatan diantara mereka yang bisa dibilang masih seujung kuku ini tak ayal membuat orang-orang disekitar mereka bertanya-tanya,  Minzy malah sering menganggap mereka seperti pasangan ABG yang lagi pedekate..  walaupun dua-duanya mengelak.

“hmm.. araseo.. aku pilih ini deh!” kata dara menunjuk tangan kanan jiyong. Lalu sebuah senyuman manis muncul dari jiyong.. dia memberikannya kantong plastik itu.

“aigoo.. kau pintar sekali!” dara yang mendengarnya menjadi sangat penasaran.

“sincha? Jiyong.. aku ingatkan jika kau berbohong dan membawa hewan-hewan aneh lainnya seperti waktu itu aku akan membunuhmu..!” dara menatapnya sinis yang dibalas dengan tawaan dari jiyong.

“aniyoo.. aku janji ini bukan hewan-hewan aneh kok!” kata jiyong sambil menahan tawanya.

“iya bukan hewan-hewanan tapi badut-badutan.. iya ‘kan?” tanya dara, kembali dia menatapnya sinis mengingat baru saja kemarin dia menjahili dirinya dengan boneka badut-badutan..

“aigoo.. negative thingking mulu.. lihat dulu baru komentar!”

Dara menatapnya sekali lagi untuk yang terkahir kalinya sebelum membuka kantong plastik itu.. dengan perlahan dara membukanya.. namun dia menjadi heran karena isinya kotak makanan. Dara melirik jiyong lalu melirik kotak makanan itu berulang kali secara bergantian..

“aigoo.. dara itu kotak makanan dari soomin halmoni dan bukan kotak berisi bom, jadi jangan menatapku seperti itu!” sahut jiyong sambil tertawa melihat ekspresi dara yang menurutnya sangat lucu itu.

“sincha?”tanya dara masih ragu.

“aigoo.. aku serius kok. halmoni juga menitipkan pesan kepadaku, kalau dia ingin kamu dan anak-anakmu untuk mampir kesana, katanya sudah lama sekali kalian tidak pernah kesana!”

Dara tersenyum, “hmm.. aku jadi tidak enak pada soomin halmoni. Aigoo.. Dulu memang aku dan anak-anakku sering kesana karena suamiku sangat suka makan disan-..” dara menahan kelanjutan omongannya saat menyadari pembahasan apa yang sedang dia katakan. Dengan canggung dia melirik jiyong yang juga jadi terdiam.

Entah kenapa rasanya tidan enak dan kurang tepat dara mengingat suaminya yang sudah meninggal itu di depan jiyong, walaupun sebenarnya tidak ada yang salah tapi mengapa hatinya merasa aneh seperti ini.

“oohhh.. dara aku lupa, dan ini alat perkakas yang waktu itu aku pinjam! Gomawo.. mm.. sepertinya aku harus pulang, kau juga sedang sibuk iya ‘kan?” jiyong dengan canggung lalu  memberikan kantong plastik yang satunya lagi kepada dara dan menatapnya namun memalingkannya wajahnya lagi, dia dengan gugup menunjuk pintu.. “aku.. mm.. pergi! Jangan lupa dimakan bersama sarang dan hanbin..!” kata jiyong tanpa menunggu balasan dara, dia berjalan keluar dan dara tidak mempunyai alasan untuk menahannya jadi dia membiarkannya.

Dengan perasaan sedikit sesak jiyong berjalan keluar..

Hmmm.. jadi dia masih mengingat suaminya. Aigoo.. apa yang kau pikirkan! Ya wajar saja dia ingat.. yang dia katakan adalah suaminya..

Jiyong merutuk hatinya sendiri dan menghampiri sepedahnya untuk pulang namun sebelumnya ada sebuah tangan yang menahannya, jiyong otomatis melirik kearah pemilik tangan itu. Sedikit ada harapan dalam hatinya namun,

“ahjusii…” ternyata hanbin, lirih hatinya kecewa. Dia pikir dan berharap bahwa yang menahan tangannya adalah da..ra.. ya setidaknya menghapus kecanggungan sebelum dirinya pulang tapi sudahlah, jiyong geleng-geleng..

“ohh.. weoh?”

“ahjusii minggu ini ada acara tidak?”

Jiyong menaikan alisnya lalu berpikir sejenak, “sepertinya kosong, memang ada apa?”

“ikut aku mancing yuk, kali ini aku sudah jago..gomawo ahjusii.. kalau saja waktu dipantai ahjusi tidak mengajariku mungkin sampai kapanpun aku tidak bisa memancing dengan benar..” jiyong tersenyum lalu mengacak-acak rambut hanbin,

“baguslah! Jadi kalau kau mau menghindar setidaknya kau punya hasil memancing daripada bermain-main bodoh dengan pancingan lagi..” hanbin manyun dan menyingkirkan tangan jiyong dikepalanya.

“aishh.. ikut engga?” tanya hanbin tidak sabar.

“pasti ikut dong..” balas jiyong antusias, hanbin tersenyum lalu berjalan pergi.

Ketika hanbin pergi pandangannya tadi yang terhalangi kini jelas terlihat, disana dara sedang memperhatikannya dibalik kaca. Jiyong balas menatapnya, namun ketika itu juga dara menunduk dan berbalik menghindarinya. Jiyong menatap punggungnya dibalik kaca itu, suatu isyarat yang baik darinya.. pikir jiyong.

“aigoo..” jiyong menggeleng-geleng lalu tersenyum.

nice day.. ! lets drink wine untill midnight!!” serunya lalu pulang kerumahnya.

TBC^^

Yuhuuu..

Ternyata donghae ada udang dibalik batu yah?

Keren loh ada yang nebak bener di komenannya.. tentang donghae. 2 jempol buat kamu yang menyadari jika sudah menebak dengan benar peranan donghae ini..

Sekarang ketauan kan kalo jinyeong=jiyong ini ternyata sahabatnya haejin sendiri. hmm… lalu maksudnya apa coba jiyong ampe selingkuh ama taeyeon yah? Ada yang bisa nebak? Kekek… pantengin terus yah, clue nya, pokoknya kalian mesti percaya disini jiyong tu orang baik dan gak jahat, yang sayang dan peduli banget ama sahabatnya..

Noh benih-benih sesuatu uda muncul diantara jiyong dan dara.. tinggal tunggu moment-moment sweetnya wkwkw.. #skip langsung kesana aja chapnya.. kekek.. pengennya sih! Tapi nunggu komenannya aja dulu..

Aku uda tau satu-satu yang tetap pentengin ff aku.. gomawo ne.. ^^JJ^^

Yg lain #plak pada kemana? LL

 

Advertisements

25 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – True Story [Chap. 7]

  1. Wah bener bener bikin penasaran dan aku akhirnya tau kalo nama aslinya jiyong itu Park Jinyeong dan Jinyeong sendiri itu sahabatan sama Park Haejin. Tapi aku tetep curiga sama Haejin dan masih nganggep dia sebagai org yang bunuh taeyeon #dan mungkin itu salah# Next Chapternya ditunggu. Fighting, unnie!!! 🙂

  2. Wah jd donghae itu punya maksud sm dara dan apa sebenarnya tujuan donghae itu apa ada hubungannya dengan kecelakaan suaminya dara???? Atau donghae yg membuat suaminya dara meninggal dan dia merasa bersalah kemudian dia mengawasi dara dari kejauhan dan kelamaan dia jg suka sm dara ya kak….. Sudah ada kemajuaan hubungan daragonnya semakin deket aja nih semoga aja cpt jadian deh…..
    Jadi dulu jiyong woobin sm haejin sahabatan trus krn taeyeon yg suka sama jiyong dan jiyongnya nggak suka sm dia krn jiyong tau klu haejin cinta mati sm taeyeon makannya jiyong nolak sitaeyeon dan saat jiyong lg sm taeyeon haejin yg tidak ngerti apa” marah trus mau bunuh jiyong malah yg kena taeyeon ya kak….
    makin penasaran aja nih kak next chap aja deh dan fighting buat lanjut bikin ffnya dan ditungguin moment daragonnya ya kak…..

  3. Donghae suka sama dara?? Emng rencana dia sbelumnya apa? Nih org misterius bgt yah krakternya wkwk.. nahhh alasan ji slingkuh sma tae apa? Kalo emng si ji itu trkenal baik sma shbatny.. wowwww udh ad prkembangan nih antara ji sma dara ayoooo jadiaann wkwk. Anak2 udh pd ngerestui kok

  4. masih pnsran sama kasus yg sbnernya trjadi sama haejin jiyong taeyeon smga cpet di kasi tau deh kkkk ooo trnyata donghae ada tujuannya sndiri ksna._.apa dah tujuannya donghaeer,awass loo ji ntar baperrr parah sama dara kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s