Phases : Opt

Untitled-2

Finally, after ages~ LOL kumat lebay..
Setelah sekian lama, akhirnya saya juga come up with this fic..

Jeongmal mianhe~ (/□\*)・゜ pas ide cerita ini kelanjut, kehidupan nyata meminta perhatian lebih.. >.< jadi terpaksa buat beberapa waktu saya harus menjaduh dulu dari WP.. :3
Sebelum kembali sibuk dengan dunia nyata saya, semoga chapter ini bisa memberikan sedikit hiburan.. >.<
Aaah~ jangan bingung soal yang lain2.. saya sedang dalam proses menuju kesana.. jadi, mohon bersabar sedikiit~ lagi..
dan juga, minta maaf diawal sama chapter ini, karena saya agak ngrasa chapter ini kehilangan feel ditengah2 dan agak maksa… >.< kalo ada yang perlu ditanyakan jangan sungkan buat tanya langsung k saya, bisa lewat kolom komen dibawah, atau lewat sosmed lain.. so, here you go~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Weleri, 13 September 2013

 

“Omo, this would be a great help!” seru Dara riang kepada Arjuna, atau bisa juga dipanggil Juna – anak Bu Laras, yang sangat berhasrat ingin menjadikan gadis itu sebagai anak menantunya itu. “It’s easier since I can understand English better than Indonesian. I’m sucked with that.” Kaluh Dara mengerutkan hidungnya.

Juna yang baru saja memberikan beberapa buku literatur terkait dengan Arsitektur Tradisional Jawa, khususnya Joglo – dalam bahasa Inggris. Kemarin seperti yang dijanjikan Mamanya, Dara bertemu dengan pria itu, yang lengkap membawakan beberapa buku Arsitektural Jawa, yang sayangnya ditulis dalam Bahasa Indonesia.

“You’re funny though, hahaha..” kelakar Juna, langsung merasa nyaman sejak pertama kali mengenal gadis itu kemarin. Baru kemarin dia bisa bisa datang Kendal untuk menghadiri pernikahan sepupunya, setelah sebelumnya memastikan semua perkerjaannya di Jogja selesai. Dan tepat sebelum dia masuk kedalam mobil, ibunya menelepon dan memintanya membawa beberapa referensi tentang Joglo. Juna sempat bertanya untuk apa, tapi dia kurang bisa mengerti penjelasan ibunya.

“Udah, bawa aja semua referensi yang kamu punya tentang Joglo!” begitu kata ibunya, dan dia tidak punya pilihan lain selain menurut. Ada saat-saat ibunya itu tidak ingin dibantah, dan Juna bisa merasakan walau hanya lewat telepon saat itu juga tidak mau menerima bantahan.

“You could understand Indonesian well, but just lack in accent you’re giving up. As far as I know, Indonesian couldn’t easy for a native.” Terang Juna setelah tawanya reda. Dia tidak bisa berhenti tertawa setiap kali teringat alasan Dara kenapa lebih memilih berbahasa Inggris jika lawan bicaranya tahu bahasa utama di dunia itu.

 

“Yeah, I know. That’s why I hate it so much.” Dengus Dara kesal, namun tak lama karena detik berikutnya dia mulai membuka-buka buku yang dibawa Juna.

Kemarin siang mereka berdua baru saja bertemu, dan Bu Laras tanpa malu-malu terus mendorong mereka berdua untuk saling mengenal lebih. Membuat perkenalan mereka jadi sangat canggung karena wanita paruh baya itu terlalu bersemangat. Untungnya suasana segera mencair setelah Bu Laras memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua – dan Dara menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan apa yang dia butuhkan.

“With this, I could tell how different this house is..” gumam Dara yang masih bisa didengar jelas oleh Juna. Mata pria itu terus menatap Dara hampir tanpa berkedip, jika bukan karena gadis itu tiba-tiba mendongak – dia mungkin tidak akan menolehkan kepala karena malu sudah tertangkap basah.

“Why this house is different with the original concept? I mean, it will necessary with newly build, but this house as old as.. forever..” tanya Dara bingung. Dia cukup ingat, dia pernah diberitahu bahwa rumah ini dibangun jauh sebelum ibunya lahir, mungkin oleh kakek buyutnya.

Juna membenarkan letak kacamatanya sebelum menjawab pertanyaan Dara. Mereka beruda duduk saling berhadapan di salah satu sudut ruang tengah yang tidak banyak dilalui orang yang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan – setidaknya Dara masih punya waktu sampai dirinya dipanggil untuk gilirannya dirias.

“Have you ever hear about adaptation?” tanya Juna, namun sebelum Dara sempat menjawab, pria itu sudah melanjutkan. “That’s the answer, adaptation. It’s human habit to adjust with their surroundings.”

 

“Ah, arasso.” Dara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Itu adalah sebuah pengetahuan dasar, bahwa manusia dimanapun tempatnya berada pasti akan melakukan penyesuaian dengan lingkungan tempatnya tinggal. Bagaimana bisa dia melupakan hal itu?

“Joglo was brought since the age of empires but only written in manuscript by Kasunanan from Surakarta at 18th century.[1]penjelasan Juna hanya mendapat tatapan kosong dari Dara. Juna tertawa melihat itu. “Easy girl, no need to read that manuscript since it was composed into novel already. But I don’t think you need it either. These books are enough.”

Dara menghembuskan nafas lega mendengar hal itu. Tidak disangka mencari tahu tentang Joglo akan berujung pada mencari tahu tentang budaya Jawa seperti ini. Atau mungkin semua rumah adat memang berhubungan erat dengan budaya setempat. Dara tidak pernah tahu hal itu, karena ini adalah pengalaman pertamanya. Dan dia mencoba untuk berpikir positif, mungkin dengan begini dia akan bisa lebih mencintai tanah kelahiran ibunya.

“Where I can find the original Joglo house?” tanya Dara beberapa saat kemudian.

Juna mengerutkan kening mendengar pertanyaan Dara. Bahkan sejak dirinya resmi mendapatkan sertifikasi sebagai seorang arsitek, dia belum pernah menjumpai bangunan yang sepenuhnya mengadopsi konsep rumah joglo. Pasti sudah ada akulturasi dengan berbagai macam budaya.

“I don’t think it will be possible, even in Jogja or Solo which well known with their Keraton. There would be acculturated with other culture, such as Dutch or Chinese.[2]

 

“Chincha?” jelas terlihat kekecewaan di wajah Dara, dipikirnya dia bisa membandingkan langsung perbedaan Joglo kakeknya dengan yang asli.

Juna menangkap wajah kecewa Dara, namun belum sempat dia menghibur gadis itu, perkataan yang telah diujung lidahnya tertahan oleh bunyi dering ponsel. Ponsel Dara.

Begitu melihat nama peneleponnya, seketika itu wajah Dara langsung berubah. Sebagai seorang pria, Juna bisa membaca bahwa penelepon gadis itu adalah orang yang spesial, kekasihnya mungkin. Tiba-tiba saja dia merasa bodoh, sudah jelas gadis secantik Dara pasti memiliki kekasih. Pria-pria disekelilingnya pasti buta jika membiarkan gadis itu single. Dan merasa lebih bodoh lagi karena dia sempat merasa berhadap bagitu tahu alasan ibunya memintanya membawa banyak buku arsitektural jawa, terlebih setelah bertemu langsung dengan gadis itu.

“Excuse me,” pamit Dara pada Juna. Juna mengangguk mengerti dan tersenyum kecil.

Yoboseyo!” Seru Dara riang masih bisa tertangkap oleh telinga Juna, berdiri dari tempatnya dan sedikit menyingkir ke sudut – merasa tidak enak jika harus menerima telepon didepan orang lain.

Juna menatap punggung Dara yang menghadap kearahnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dasar bodoh! Apa yang kamu pikirkan, kalian bahkan baru bertemu untuk kedua kalinya!” rutuknya kepada dirinya sendiri.

*

Seoul, 13 September 2013

 

“Waeyo Ji, tidak biasanya kau menelepon pada jam seperti ini.” Jiyong tersenyum mendengar suara dari orang yang sudah sangat dia rindukan.

“Yah! Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh meneleponmu lagi?” dia pura-pura marah, meski sebenarnya bibirnya mengulum senyum.

“Aniya, bukan begitu..” suara Dara terdengar panik.

Senyum Jiyong kian lebar. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu sedikit melonggarkan dasinya. Dia masih berada di kantor.

“Arasso, arasso.” Kata Jiyong. “Aku ingin mendengar suaramu, karena kemungkinan nanti malam aku tidak akan bisa meneleponmu seperti biasanya.” Jelasnya.

Jiyong bisa membayangkan gadis itu mengerucutkan bibirnya, dan hidungnya pun berkerut. Ah, itu semakin membuatnya merindukan Dara.

“Oediga?” tanya Dara dengan nada penuh selidik.

Jiyong menarik nafas panjang. “Pesta klien,” jawabnya. “Kau ingat beberapa hari yang lalu aku bercerita Tuan Kim menyelenggarakan pesta perayaan peluncuran produk baru dari perusahaannya?” dia mencoba mengingatkan Dara percakapan mereka beberapa hari yang lalu.

“Neh..” sepertinya Dara sudah mengingat pembicaraan yang dimaksud. Waktu itu Jiyong merengek padanya untuk segera pulang ke Korea. Dengan alasan, dia ingin gadis itu menjadi pendamping pestanya. Itu adalah pertama kalinya Jiyong memintanya sebagai pendamping pesta dalam acara resmi seperti itu. Biasanya Jiyong memilih untuk tidak datang atau jika acara itu sangat penting, dia lebih suka untuk pergi sendiri tanpa pendamping.

“Dee…” Jiyong memulai. Namun sepertinya gadis itu sudah bisa menangkap maksudnya.

“Aigoo, Jiyong..” potong Dara. “Jangan mulai lagi, aku tidak mungkin kembali ke Korea sekarang dan lagi, kalaupun aku memaksa kembali sekarang aku tetap tidak akan bisa mendampingimu ke pesta itu.” katanya. “Lagipula ada apa denganmu, kenapa kau tiba-tiba menginginkanku menjadi pendampingmu ke pesta. Biasanya kau selalu datang sendiri.”

 

“Gwenchana.” Lirih Jiyong setelah menarik nafas panjang. “Aku hanya ingin mengajakmu saja.” dia tidak bisa menyembunyikan nada kecewanya.

“Aigoo, berhenti merajuk seperti itu. Aku tidak mungkin kembali saat ini juga, lihat sekarang sudah jam berapa dan perjalanku kembali ke Korea paling cepat 20 jam. 20 jam lagi sudah berganti hari, dan sia-sia saja kepulanganku kesana. Terlebih acara malam ini adalah resepsi pernikahan Putri. Mana mungkin aku pergi begitu saja.”

Jiyong menatap jam di meja kerjanya. Sudah saatnya pulang kantor, dan pesta itu akan diselenggarakan dalam dua jam. Perkataan Dara jelas sangat benar, tapi Jiyong hanya ingin mencoba peruntungannya. Siapa tahu gadis itu bersedia segera kembali jika dia beralasan seperti itu.

“Arasso..” jawab Jiyong lirih, mendapat sambutan tawa ringan dari ujung sana. Jiyong tersenyum mendengar suara tawa gadis itu. “Apa yang sedang kau lakukan?” dia mengalihkan pembicaraan.

Dara langsung bercerita tentang kegiatannya, yang membuat Jiyong menyesal bertanya seperti itu. Dia hanya bisa merutuki pria bernama Arjuna yang belum pernah dikenalnya, bahkan membayangkan rupanya saja dia tidak bisa.

“Aku mulai bisa mengerti tentang konsep bangunan Joglo ini dengan lebih baik, Juna juga membawakanku beberapa bahan literatur..”

Jiyong mendengus kesal, setengah hati mendengarkan cerita antusiasme Dara.

“Ah, Ji.. aku sudah dipanggil, waktunya untuk dimake-up.” Kata Dara buru-buru. “Bye..” belum sempat dirinya menyahut, sambungan teleponnya sudah terputus.

“Aisht, dasar yeoja ini..” keluhnya menggeleng-gelengkan kepala menatap ponselnya.

*

Weleri, 13 September 2013

 

Dara melihat pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kalinya. Tidak ada yang terlihat janggal, justru anehnya dia merasa cantik dan anggun mengenakan kebaya seperti ini. Baru kali ini dia berkesempatan mengenakan kebaya lengkap – setelah kemarin saat acara sasrahan dia menolak mengenakan kain. Kesan yang tertangkap oleh matanya berbeda dengan saat dirinya mengenakan hanbok.

“Wah, anak mama cantik sekali..” suara sang mama sedikit mengagetkan Dara, namun tidak sampai membuat gadis itu berhenti menatap bayangan dirinya di cermin. Hanya sedikit melihat mamanya dari pantulan kaca.

“Anehnya, aku tidak merasa ada yang janggal dengan penampilanku.” Kata Dara memperhatikan bayangan dirinya.

Make-up natural, rambut disanggul gaya modern, kebaya berwarna baby blue bermotifkan sederhana, serta kain batik berwarna senada. Semuanya terlihat pantas di tubuhnya.

“Tentu saja tidak,” balas mamanya tersenyum, memegang bahu Dara dari belakang. “Anak mama cocok memakai apapun.” Katanya bangga, namun Dara bisa menangkap nada getir dalam suara mamanya. Sepertinya ada yang wanita itu sembunyikan.

“Mama…” lirih Dara.

“Ayo cepat keluar,” mamanya buru-buru menggiring Dara keluar dari kamar sebelum gadis itu bisa mengeluarkan pertanyaan apapun. Hal itu justru membuat Dara semakin yakin ada yang mamanya sembunyikan.

*

Seoul, 13 September 2013

“Yah, Jiyong jangan pulang dulu!” seru Yongbae yang mendapati Jiyong di tempat parkir, sedang menuju tempat mobilnya terparkir.

Jiyong manaikkan sebelah alisnya kepada sahabatnya itu, seolah bertanya apa maunya.

“The night is too young!” serunya dalam logat Brooklin yang kental, pria satu itu terlalu jatuh cinta pada Brooklin.

“Aku lelah, aku ingin beristirahat.” Tolak Jiyong.

Yongbae menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pertanyaan Jiyong. “Ayolah, man.. ini baru jam sebelas malam.”

Tak berselang lama, teman-teman Jiyong yang lain keluar dari hotel tempat diselenggarakannya pesta. Kebetulan mereka satu rekanan bisnis, sehingga dalam pesta-pesta semacam ini sudah bisa dipastikan mereka akan bertemu.

“Yo Ji! Bae! Apa yang kalian lakukan masih berada disini?! Kupikir kalian sudah berangkat duluan kesana!” Sapa Seunghyun bersemangat.

“Aku tidak ikut.” Kata Jiyong membuat teman-temannya menoleh padanya, sama seperti ekspresi yang diberikan Yongbae tadi. Dan sudah bisa ditebak, mereka tidak mau mendengar kalimat penolakan dari Jiyong.

“Kau tidak punya pilihan lain, Ji. Aku ikut di mobilmu, aku datang kemari dengan diantar supir tadi.” Putus Seunghyun sesuka hatinya, membuat Jiyong mendengus kesal.

“Hyung~!”

“Kaja!”

 

Dengan berat hati Jiyong mengikuti langkah Seunghyun menuju ke mobilnya. Dia tidak punya pilihan lain meski dalam hati dia merasa dirinya akan menyesali keputusannya ini. Firasatnya berkata dia harus segera pulang ke apartemennya, namun pikirannya berpendapat tidak ada salahnya ikut dengan teman-temannya kali ini.

Sementara itu Yongbae, Seungri, dan Daesung saling melemparkan tatapan mata, memuji kemampuan hyung mereka memaksa Jiyong.

*

Weleri, 13 Weleri 2013

 

Untuk kesekian kalinya Dara menatap ponselnya dengan cemas. Entah kenapa dia berharap Jiyong akan kembali meneleponnya, namun tidak.

“Hey, are you okay?” tanya Juna yang memperhatikan kegelisahan Dara sejak tadi.

Dara hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Juna. Karena Bagus tengah sibuk dengan tugasnya sebagai pager bagus[3], Dara yang tidak memiliki kenalan lain hanya bisa berharap pada Juna. Untung saja pria itu tidak keberatan dirinya terus mengekor – yang tentunya membuat ibu pria itu kegirangan, sekaligus sesekali kembali bertanya-tanya seputar Joglo.

“Gwenchana..” kata Dara tanpa sadar, lalu saat melihat wajah Juna dia segera meralat perkataannya. “I’m okay. Don’t worry.” Ujarnya tersenyum, tidak begitu meyakinkan karena Juna masih bisa merasakan kecemasan yang meliputi wajah gadis itu.

“Just call him.” Kata Juna tiba-tiba, membuat Dara seketika itu juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap pria itu lekat.

“What did you say?” Dara mencoba meyakinkan pendengarannya. Apa benar tadi Juna berkata memintanya untuk ‘meneleponnya’. Apa maksud pria itu?

“I said, just call him. If you that worry, just ease your anxious by call him.” Nasehat Juna, seolah bisa membaca kegelisahan Dara.

“But..”

 

“Are you wondering why I know?” tanya Juna terkekeh. “I can read your face, whoever is you’re waiting to call you right now, it must be him who called you this afternoon, am I right?” tebakan Juna tepat sasaran. “Don’t think too much. It will never be wrong even if you call him first.”

 

Belum genap dua hari mereka berkenalan, dan Juna sudah bisa membaca dirinya seperti ini. Entah Dara harus merasa berterima kasih atau takut kepada pria itu. Namun untuk kali ini, sepertinya dia memilih untuk berterima kasih. Paling tidak, dia merasa memiliki pembenaran untuk sikapnya kali ini.

Dihadapan Juna, Dara langsung mencoba menghubungi nomor ponsel Jiyong. Beberapa kali mencoba, namun pria itu tidak juga mengangkat teleponnya.

Dara menatap Juna, lalu menggelengkan kepalanya kecewa. Jiyong masih belum mengangkat ponselnya.

*

 

[1] Belum ada catatan resmi tentang Joglo paling awal yang pernah dibangun, sehingga disini saya berpedoman pada naskah dari Keraton Kasunanan Surakarta yang berjudul Sangkala Serat Centhini atau juga dikenal sebagai Suluk Tambangraras. Naskah tersebut ditulis pada abad kedelapan belas atas perintah dari Pangeran Adipati Anom kepada tiga orang pujangga istana – Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura – yang berisikan prosa Jawa modern yang menceritakan tentang budaya Jawa secara keseluruhan, termasuk tentang Joglo. Naskah tersebut sekarang telah digubah kedalam novel trilogi, yang dikembangkan dari prosa Sangkala Serat Centhini. (dari berbagai sumber)

[2] Joglo yang ada kebanyakan sekarang sudah tidak seluruhnya menggunakan konsep rumah Joglo seperti yang dijelaskan dalam Serat Centhini. Kebanyakan telah mengalami akulturasi budaya, khususnya dengan gaya arsitektural Belanda dan Cina. Bangunan rumah Joglo di kawasan Keraton misalnya (baik Kasultanan di Jogja maupun Kasunanan di Solo) telah berakulturasi dengan gaya arsitektural Belanda.

[3] Pager bagus = istilah dalam upacara resepsi pernikahan dalam adat jawa yang berarti pendamping pengantin pria. Dalam resepsi pernikahan adat jawa dikenal istilah pager bagus dan pager ayu (pendamping pengantin perempuan) yang biasanya bertugas menyambut tamu yang hadir, dan berbaris sejajar bersama dengan among tamu (penerima tamu yang biasanya merupakan pasangan suami istri dari pihak keluarga mempelai perempuan)

 

 

~ Tbc ~

Kembali dengen penjelasan tentang cerita ini yang sudah saya mulai sejak dua chapter sebelumnya…

Sekarang adalah saatnya penjelasan ketiga adalah tentang setting tempat.. Kenapa saya memilih Indonesia, dan spesifik ke Jawa? Karena saya sempat membayangkan Dara berkebaya, dan sama sekali tidak terkesan aneh menurut saya.. malah akan terlihat anggun.. LOL well, itu alasan paling sederhananya.. Lebih jauh, saya merasa lebih mudah bagi saya untuk mengangkat tentang Jawa karena saya sendiri adalah orang Jawa, bukan bermaksud rasis, tapi saya hanya mengatakan realita. Jika saya memaksakan settingnya di Sunda (misalnya), saya pasti akan mendapat banyak protes karena mungkin saja saya salah menjelaskan.. jadi menurut saya agak lebih mudah bagi saya dengan Jawa karena basically saya sudah sedikit mengerti..

………………………………………………….

<< Previous Next >>

 

Advertisements

35 thoughts on “Phases : Opt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s