[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 14

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: TIME CIRCLE



Sudah lama Sandara tidak bertemu dengan Bom. Karena perbedaan kampus dan kesibukan masing-masing. Sulit bagi keduanya untuk menyesuaikan waktu.

“Aku merindukan ini,” aku Bom.

Sandara setuju dan mengangguk.

Di hadapan mereka masing-masing tersaji segelas smoothie di kafe langganan dekat SMP mereka dulu. Tidak banyak berubah.

“So, gimana dengan kuliah?” Bom mulai bertanya.

“Aku merasa seperti tersedok ke masa lalu,” Sandara mengaduk-aduk isi gelasnya dengan sedotan.

Bom diam tak menanggapi, tapi kepalanya mengangguk-angguk seolah setuju dengan apa yang dikatakan sahabatnya.

Sandara bercerita tentang telepon Sora tempo hari.

“Aku sendiri juga tidak tahu apa sebenarnya aku masih berharap,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku jadi merasa tidak enak kepada Rohye, tapi aku pun tidak bisa berbohong kalau memang aku belum bisa menganggapnya lebih dari sekarang.” Sejenak Sandara berhenti, menyeruput isi gelasnya. “Selama ini, dia sudah berbesar hati untuk selalu ada di sampingku, tapi aku tidak pernah melakukan apa pun untuk membalasnya.”

**

Sandara berjalan ringan tanpa merasa bahwa ada yang sedang menatapnya lekat. Hingga kemudian orang itu menegurnya.

“Eh,” Sandara kaget, tak tahu apa respon yang tepat. Bukan karena tiba-tiba di sapa, melainkan lebih kepada siapa yang menyapa.

“Kau tidak sibuk, kan?” nadanya mendesak.

Sandara hendak berbohong, demi keselamatan dirinya, tapi urung karena sudah didahului.

“Hanya sebentar, janji,” kelingking kanannya teracung, sebuah kebiasaan lama, tapi karena tidak memberikan kesan agar Sandara balas menautkan kelingkingnya, dia membiarkan.

Sandara mengangguk, kemudian mengikuti langkahnya.

Kantin. Bukan tempat yang Sandara harapkan, terlebih karena tiba-tiba hatinya merasa resah.

“Sudah lama sekali, hingga akhirnya kau mau juga menerima ajakanku,” ujarnya disertai senyum.

Sandara bermaksud membalas senyumnya, tapi rasanya yang muncul justru seringai aneh, hingga dia mengurungkannya.

“Jadi, bagaimana kabarmu?”

Aneh saja mendengar pertanyaannya. Jelas sekali bagi Sandara bahwa orang itu memperhatikan keadaannya selama ini, untuk apa dia masih harus bertanya kabar.

“Baik,” tapi akhirnya Sandara menajwab juga.

Untung saja sekarang bukan jam makan siang, sehingga suasana bisa dibilang masih cukup sepi. Tidak ada wajah yang dia kenal.

Diam.

“Ada apa?” Sandara lama kelamaan merasa jengah juga terus ditatap demikian rupa. Sedikit mengumpulkan keberanian untuk menatap matanya. Kesalahan.

“Hanya ingin mengobrol denganmu,” jawaban yang sangat tidak Sandara harapkan.

Sandara hendak bangkit berdiri, namun batal karena kemudian dia kembali memohon. “Jebal, kau tidak perlu menghindariku lagi,”

“Dulu aku memang menghindar, tapi sekarang inilah yang harus kulakukan. Aku tidak mau membuat keadaan kita menjadi semakin rumit,” balas Sandara tak mau merasa terintimidasi oleh tatapan mata yang seolah mampu membaca isi hatinya.

Sandara mengingat-ingat, lama sekali sejak terakhir kalinya mereka berdua duduk berhadapan seperti ini. Rasanya menjadi aneh sekarang. Ditambah lagi, tidak pernah ada lagi komunikasi yang terjalin di antara keduanya selama ini, berkat dirinya sendiri.

Dan kemudian, seolah diingatkan, pandangan mata Sandara menemukannya. Di ujung sana. Berdiri diam menatap ke arah mereka. Sandara tak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya, namun dilihat dari bahasa tubuhnya… Sandara tak mau tahu apa yang sedang dipikirkannya. Bukan salah Sandara dalam hal ini.

Dengan langkah lambat, dia berjalan mendekat. Sandara sadar, tidak seharusnya dia setuju untuk ke mari.

“Jagi, annyeong,” ada penekanan saat mengatakan ‘jagi’. Lalu beralih kepada Sandara, “Sandara, annyeong,” suaranya bergetar.

“Annyeong, Sora Sunbae,” balas Sandara.

Sora menempatkan diri di kursi di samping Jiyong.

Sora tidak datang sendiri, dia bersama dengan temang-temannya yang sekarang juga ikut duduk bergabung dengan mereka. Sandara benar-benar berharap dia memiliki kemampuan super untuk menghilang, karena dia ingin menghilang dari sana saat itu juga.

“Katanya tadi ada kelas,” nada bicaranya biasa saja, tidak terkesan panik atau merasa tak enak.

“Ada kuis, jadi bisa keluar lebih cepat,”

Teman-teman Sora tidak mengatakan apa pun sejauh ini. Keberadaan mereka hanya sebatas sebagai penonton.

“Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan?” walau nada suaranya terdengar biasa saja, tapi Sandara merasa dirinya tengah diinterogasi.

“Nothing much. Hanya sekedar menanyakan kabar,” Jiyong yang menjawab. Bicaranya ringan saja tanpa merasa bersalah, seolah dia tidak sedang berbicara kepada pacarnya.

Sandara benar-benar harus pergi. Dia tak bisa berlama-lama berada di antara mereka.

“Sandara!” seseorang memanggilnya, Yina, teman sekelasnya. “Kenapa kau masih di sini? Ayo kita ke kelas, Profesor Nam tidak akan mengijinkan kita masuk jika kita terlambar,” keadaan benar-benar menyelamatkannya.

Dengan luapan rasa senang yang berlimpah, Sandara pamit. Dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih kepada Yina yang tidak tahu kenapa Sandara terus berterima kasih padanya.

“Terima kasih untukapa?”

**

“Aku iri denganmu, Bommie,” komentar Sandara mendengar cerita Bom melalui saluran telepon. Sehari saja, dia ingin Bom meminjamkan keberaniannya padanya.

Tadi pagi, Rohye sudah kembali ke Jepang. Dengan memberinya soal yang harus dia jawab besok, waktu yang dijanjikan Rohye untuk meneleponnya menanyakan jawaban Sandara.

“Kau memang tidak pernah meminta apa pun dariku dan aku sadar aku pun sadar, aku memberikan apa pun yang bisa kuberikan padamu secara suka rela. Jika ini hanya tentangku, maka tidak peduli jawaban apa yang akan kuterima, aku akan tetap ada di sisimu selama kau masih membutuhkanku.” Dia diam cukup lama, memberikan kesempatan Sandara untuk menyela, tapi Sandara tidak melakukannya. “Tapi ada orang lain yang terlibat di sini. Aku sudah mencoba untuk menjelaskan, dan dia meminta satu kesempatan untuk membuktikan dirinya. Aku sudah kehabisan alasan untuk berkata tidak,” lagi-lagi diam yang juga dibalas Sandara dengan diam. “Jadi sekarang, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau membutuhkanku untuk berada di sisimu? Karena tidak adil jika aku membiarkannya bertepuk sebelah tangan, aku tidak setega itu. Aku perlu memberinya jawaban yang pasti,”

Sulit. Karena Sandara tak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepada Rohye. Sejak putus dari Jiyong dulu, Rohye sudah berada di sisinya tanpa diminta. Rohye selalu setia menemaninya, hingga dia berangkat ke Jepang. Dan Sandara pun sadar, dirinya terlalu banyak bergantung kepada Rohye.

Sandara tahu, suatu saat nanti, dia pasti akan kehilangan Rohye. Kehilangan sosok yang selalu ada untuknya dan selalu bisa menerima dirinya dalam keadaan apa pun. Lalu, apakah dia akan merelakannya pergi begitu saja?

Sampai di titik ini, Sandara tak lagi bisa berpikir. Otaknya macet.

“Tanyakan pada hatimu yang terdalam,” nasehat Bom memberinya dukungan.

Bom benar. Tanyakan pada hatinya yang paling dalam.

Selama ini dirinya dan Rohye dekat begitu saja. Salah satu faktornya adalah pernikahan kakak mereka. Dan lagi, pribadi Rohye yang selalu bisa memposisikan diri membuat Sandara merasa cocok. Rohye bisa menjadi pribadi serius maupun santai jika dibutuhkan.

Tapi jika itu saja alasannya, bukankah artinya selama ini Rohye hanyalah pelariannya saja? Dan sekarang, Jiyong telah kembali muncul dalam kehidupan Sandara.

Sandara benar-benar pusing.



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

14 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 14

  1. udh lah unie tolak aja rohye nya klo emng gga cintta .kasiian jga kn dia klo cmn d.jadiin plarian dri ji oppa doang .
    emng iia orng klo suka ngrebut sesuatu dri orng lain .suatu saat pastii bklan ngrasa tkut klo orng/sesuatu yg dia nya pnya d.ambil ma orng lain lgi ..
    parno’an aja gtuu .
    slah sendiri ngapain sora maksain ji oppa buat pcran ma dia .
    bkan slah ji oppa jga kn klo dia ampe blikan ma dara unie .toh oppa nya jga gga cinta ma c.sora .

  2. Galauu juga jdi dara kalo kayak gni situasinya bgung hrus mutusin kayak gmna,cba aja ji gak pacaran sama sora mngkin dia bisa balikan lagi sama dara

  3. Jiyong aja kalo lagi ngomong kayak.ngomong sama temen bukan sama pacar. Sora udah deh kalo tau jiyong gk suka sama dia sendiri nggak usah maksa. Toh nanti jiyong pasti milih dara ketimbang sora. Karena jiyong cintanya sama Dara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s