The King’s Assassin [44] : Making Amends

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 “Apa maksudmu putra dari Wakil Penasehat sudah tahu?” Putra Mahkota memukul meja dengan kepalan tangannya begitu mendengar laporan Daesung.

“Jeoha… pada saat ini, Tuan mungkin sudah kabur bersama Chaerin-ssi. Tuan Xin telah mengetahui identitasnya dan mencoba untuk memaksanya saat Tuan dan saya tiba. Tapi Tuan sangat marah dan memukuli Tuan Xin sampai dia hampir tak sadarkan diri,”

“Mworago???” mata Jiyong melebar karena kaget. Dia berdiri dan memikirkan sebuah rencana. Ini tidak seharusnya terjadi.

“Panggil Seunghyun dan temui Menteri Kim. Katakan padanya kita perlu bantuannya. Lady Hyori mungkin tahu ke mana Seungri dan Chaerin pergi. Bawa beberapa orang bersamamu dan pastikan tidak ada yang mengikuti kalian. Dan kembalilah untuk melaporkan semuanya padaku. Pastikan mereka aman,”

“Yeh, Jeoha,” Daesung segera pergi dan mencari Profesor Choi.

**

“Dara-ssi, saya mohon. Anda harus makan sesuatu…”

“Saya tidak memiliki nafsu makan, Minzy-ah. Kumohon jangan memaksaku lagi,”

“Tapi Anda belum makan apa pun sejak siang tadi, bahkan minum pun tidak.”

“Aku baik-baik saja. Aku akan menungu Pangeran datang,” kata Dara sembari terus meremas-remas tali hitam yang dia gunakan untuk menggantungkan cincin Pangeran.

“Apa yang sedang Anda lakukan?” Minzy kemudian duduk di sisinya penuh tanya.

“Hmm, sedang mencoba membuat sebuah tanda damai untuk Putra Mahkota?”

“Tanda damai? Anda tidak membutuhkan itu. Saya yakin sekali beliau tidak mungkin bisa bertahan sehari tanpa menemui Anda,” kata Minzy, namun Dara diam sejenak dan mengerucutkan bibirnya.

“Well… matahari sudah terbenam dan dia masih belum menemuiku,” Dara tersenyum pahit. “Kau harus melihat bagaimana marahnya dia tadi. Dan harus kuakui, semuanya adalah salahku. Aku telah berbohong pada Putra Mahkota. Dan aku cukup berterima kasih, karena aku tidak berada dalam sel penjara dipukuli, dicambuk, dan oh… kedinginan. Di sinilah aku. Duduk dengan nyaman.”

“Aigoo, Pangeran tidak akan mungkin berani menghukum Anda dengan cara seperti itu. Beliau sangat mencintai Anda.” Minzy menenangkannya. “Tapi Anda tidak bermaksud untuk membodohinya, kan?”

“Tidak… tentu saja tidak. Aku ingin memberitahukan semuanya, tapi aku merasa takut. Aku tidak ingin dia marah. Dan sekarang dia tahu semuanya. Aku sangat bodoh,”

Minzy merasa iba pada wanita di hadapannya. Dia tahu pasti Pangeran tidak akan pernah mengijinkan hal seperti itu terjadi. Sekarang sudah petang, namun sepertinya sang Pangeran tidak memiliki rencana untuk berkunjung.

“Kenapa Anda membaginya menjadi dua?” tanya Minzy tiba-tiba saat dia melihat Dara membagi tali hitam tebalnya menjadi dua.

“Aku ingin memberikan yang satunya lagi untuk Putra Mahkota. Dia menyimpan cincin milikku. Aku ingin dia memakainya sama seperti aku memakai yang satunya lagi.”

“Aigoo, sebagai sebuah kalng? Saya rasa itu ide yang sangat bagus. Pemberian tanda damai yang bagus,” sang dayang Istana terkikik penuh harap.

“Dan aku juga ingin memberinya ini,” kata Dara menunjukkan sebuah kunci emas.

“Wow. Kunci apa itu?” Minzy menatap takjub pada kunci itu.

“Gulungan,” kata Dara memasukkan tali pada pegangan kunci. “Gulungan yang berisikan mimpi Raja. Harapan terakhir ayahku yang ingin aku meraih mimpiku dan Sanghyung, bersama dengan ayah Chaerin dan Ilwoo oppa, harapan seluruh rakyat Joseon…”

“Dan saya juga, kan?” sela Minzy.

“Ya, ya. Tentu saja,”

“Dan… Anda akan menyerahkannya pada Jeoha?”

“Neh. Dia akan segera menjadi Raja dan aku mempercayainya. Aku akan menyerahkan semuanya padanya. Aku tahu dia pasti akan menjadi Raja yang hebat.”

“Itu pasti, Dara-ssi. Tapi… di mana gulungannya?”

“Terkubur di halaman Lotus House.” Kata Dara sambil menalikan ujung tali. “Apa menurutmu dia akan menyukainya?”

“Tentu saja, Dara-sso. Tidak, bukan. Beliau pasti akan sangat menyukainya,”

“Menurutmu begitu? Ini tidak mahal. Ini tidak cocok untuk seorang Raja… dia akan segera menjadi Raja dalam dua hari dari sekarang,” Dara menimang-nimang benda itu dengan sedih.

“Aisht! Apa yang Anda bicarakan, Dara-ssi? Sekaranglah waktu yang tepat! Mungkin beliau tidak akan marah pada Anda lagi jika Anda memberikan hadiah Anda ini,”

“Lihat benda kecil ini. Aku bahkan tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah hadiah. Lagipula… dia sangat marah padaku. Aku ragu dia akan segera memaafkanku,”

“Jangan terlalu cemas, Dara-ssi. Saya yakin beliau akan segera memaafkan Anda. Jika Anda mengijinkan saya membantu, begitulah.”

“Apa kau punya rencana?” tanya Dara penasaran, terpancing.

“Oh, saya tidak akan pernah kehabisan rencana, Nyonya,”

**

“Bagaimana keadaannya?” Seungri tersentak mendengan suara Sanghyun di belakangnya. Dia baru saja menutup kamar yang untuk sementara ini digunakan oleh Chaerin di rumah tua di hutan yang ditinggali oleh Sanghyun.

“Dia tertidur.”

“Oh,” Sanghyun mengangguk dan keluar dari rumah. Seungri mengikuti di belakangnya.

“Bagaimana kabarmu, temanku?” tanya Seungri setelah melihat pria itu duduk di atas undakan kayu.

“Aku akan berbohong jika kubilang aku baik-baik saja,” dengus Sanghyun.

“Maaf,” Seungri duduk di sebelahnya.

“Untuk apa kau meminta maaf?”

“Banyak hal. Aisht. Kau harusnya memberitahuku jika kau masih hidup,”

“Jika aku memberitahumu… apa kau akan muncur dan menahan perasaanmu padanya?” tanya Sanghyun membuat Seungri membeku sesaat. Seungri menoleh pada pria yang sinar matanya penuh kejenakaan sama seperti miliknya. Teman yang selalu memberikan jawaban-jawaban ujian padanya. Ah, banyak yang terjadi sejak masa itu.

“Aku ragu aku bisa melakukannya,” Seungri menyeringai dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa menyerah begitu saja padamu,”

“Kalau begitu, jangan merasa menyesal. Aku harusnya berterima kasih padamu,” Sanghyun tersenyum pahit dan memandang jauh ke depan.

“Kenapa? Harusnya kau marah. Temanmu ini mengkhianatimu, bukankah begitu?”

“Tidak.” Sanghyun menggelengkan kepalanya. “Nyatanya, temanku justru membantuku. Dia telah menjaga wanita paling penting dalam hidupku selain omma dan noona. Dia membantunya berdiri saat aku tidak ada di sisinya untuk membantunya. Dia ada di saat aku tidak ada.”

“Sanghyun…”

“Aku selalu menyukai Chaerin sejak kami masih kecil. Apa kau tahu? Aku bahkan meminta pendapat abeoji tentang hal itu. Aku bahkan mengatakan padanya aku akan menikahi Chaerin saat aku lulus gwageo – itulah kenapa aku terburu-buru agar bisa lulus ujian Sungkyunkwan. Ah… dia adalah inspirasiku dulu,”

“Dia menakjubkan. Dia juga menjadi inspirasiku. Urusan sekolahku baik akhir-akhir ini,”

“Chincha?” Sanghyun terdengar tidak percaya tahu bahwa Seungri sangat benci belajar.

“Terdengar tidak meyakinkan, bukan? Aku mengerti perasaanmu sekarang. Kenapa kau memilih membaca buku dibanding bermain. Kenapa kau memilih menulis dibanding bermalas-malasan. Kau terburu-buru untuk menikahinya, kan?” Seungri menyeringai.

“Ya… ya… aku lega kau menyadarinya,” Sanghyun menarik nafas dalam dan menepuk punggung Seungri.

“Jangan pernah lepaskan dia. Khususnya sekarang aku ada di sini melihat kalian berdua,”

“Aku tidak akan pernah melepaskannya. Tunggulah selama apa pun. Aisht, ini mengerikan. Kau terdengar seperti penguntit,”

“Aku bisa menjadi seorang penguntit,”

“Yah. Kau mengerikan!”

“Babo!” Sanghyun terkekeh. “Tapi bukan aku yang menyelamatkanmu,”

“Aku sudah mendengarnya dari Menteri Kim. Kami sudah bertemu dengannya. Apa kira-kira kau tahu siapa dia?” tanya Seungri. Sanghyun mengedikkan bahu.

“Aku punya pikiran siapa, tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku mencoba untuk mencari tahu, khususnya sekarang Putra Mahkota berkata ada pembunuh gelap yang mungkin ingin melukai noona-ku dan Raja. Aku tidak peduli dengan Raja. Aku hanya mengkhawatirkan tentang keselamatan noona-ku. Dia bahkan tidak lagi aman bersama dengan Putra Mahkota,”

“Sanghyun, seseorang sudah tahu bahwa Dara noona adalah seorang wanita. Kau tahu orang yang bernama Hong?”

“Hong? Kita bisa mempercayainya,”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Dia adalah salah satu orang Menteri Kim sebelum dia berakhir menjadi pasukan pribadi Putra Mahkota.— tunggu, ada seseorang yang datang.” Sanghyun berdiri dan mencoba untuk mendengarkan bunyi langkah kaki di rerumputan – dia segera mencabut pedangnya. Dia baru akan akan berlari ke hutan saat Menteri Kim datang bersama dengan Daesung dan Seunghyun.

“Selamat berreuni,” sapa Seunghyun pada keduanya.

**

“Jeoha, makan malam Anda telah tiba,”

Jiyong memejamkan matanya. Bagaimana bisa dia makan saat ada banyak hal yang dipikirkannya? Belum lagi dia masih marah pada Dara karena telah merahasiakan berbagai hal darinya.

“Masuk,” dia terkejut saat melihat Minzy yang menyiapkan makanan untuknya. Dia memiringkan kepalanya.

“Semalat malam, Jeoha,” MInzy membungkuk hormat setelah menyiapkan semuanya di meja.

“Lady Gong? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa, bukankah aku memberitahumu untuk menemani Dara di kamarnya?”

“Saya tidak bisa menolak permintaan Agassi, Jeoha. Tapi jika Anda ingin memakan makanan yang disiapkan oleh dapur Istana, maka saya akan dengan senang hati memanggil mereka masuk.” Minzy mulai mengangkat nampan sekali lagi, namun dihentikan oleh Jiyong.

“Apa maksudmu?”

“Dara-ssi memasak semua ini, Jeoha,” kata Minzy membuat mulut yang Pangeran ternganga lebar dan melihat isi meja. Dara memasak untuknya?

Jiyong berdeham. “Tinggalkan saja di sini,”

“Yeh, Jeoha.”

Mata Jiyong mulai menjelajahi makanan yang lengkap tersaji di hadapannya. Semuanya tampak menggugah selera di matanya dan perutnya pun berkhianat ketika tanpa diduga berbunyi nyaring melihat semua hidangan yang tersaji. Dia berdeham dan mulai mengambil sendok.

“Apa kau yakin Dara yang menyiapkan semua ini?”

“Yeh, Jeoha,” Minzy melangkah mundur dan menundukkan kepalanya saat sang Putra Mahkota mulai merasakan sup. Dia berhenti sejenak merasakan cairan dari kuah sup menghangatkan perutnya dan segera dia langsung mengambil sumpit dan merasakan daging yang dibumbui dengan semacam saus.

“Apakah dia sudah makan?” tanya Jiyong tiba-tiba sambil menikmati makanannya, tapi alisnya mengerut saat sang dayang Istana muda itu tidak menjawab pertanyaannya. Dia mengalihkan pandangan dan menatap MInzy.

“Lady Gong,”

“Dia…” Minzy menelan ludah berat. Tidak terpikirkan olehnya bahwa sang Pangeran mungkin akan menanyakan tentang Dara. “Dia belum makan apa pun bahkan minum pun tidak sejak siang tadi, Jeoha,”

“Apa???”

**

Dara menyentuh jepitan yang baru saja dia sematkan di rambutnya sembari mematut diri di depan cermin. Dia ingin terlihat cantik. Dia ingin bersiap-siap meski harapan untuk melihat Pangeran mala mini tidak terjamin.

Terkurung di dalam kamarnya sepanjang hari hampir saja membuatnya gila – untung saja Lady Gong menemaninya. Apakah ide dayang Istana itu akan berhasil? Dara menggembungkan pipinya dan bahunya lemas.

“Dia benar-benar marah padaku,” katanya, berbicara pada bayangannya di cermin. Dia berdiri dan berputar-putar, rok lebarnya terayun saat dia bergerak – dia kemudian terkejut mendengar seseorang masuk ke dalam kamarnya.

“Kau terlihat manis,” Dara terkesiap dan berbalik, dan bertemu pandang dengan Pangeran yang menatapnya lekat. Andai saja pria itu tersenyum, pikir Dara. Tapi tidak. Jiyong tidak tersenyum – yang membuat Dara jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri… apakah rencana mereka gagal?

Dara menelan ludah berat dan menyentuh rambutnya yang telah rapi. Kapan terakhir kali dia berdandan seperti ini untuk Jiyong? Ah, dia ingat – waktu itu Jiyong menghukumnya dan mereka berdua berakhir tidur bersama. Hanya tidur. Tapi melihat wajah Jiyong sekarang, ekspresinya tidak terbaca. Apakah pria itu marah? Jengkel? Dara ragu apakah dia harus memberikan tanda damainya sekarang. Mungkin dia harus sedikit menunggu.

Dara memutuskan untuk membungkukkan badan – canggung, hampir membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Dia mendengar Jiyong terkesiap dan segera berdiri kemudian menatap ke bawah – meremas-remas jemarinya.

“Aku tidak tahu jika Komandan pasukanku bisa seceroboh ini,” didengarnya Jiyong berkata.

“Maaf,” Dara menggigit bibirnya. Haruskah dia membungkukkan badan lagi? Dia memutuskan untuk menyembunyikan rasa malu dengan menyembunyikan wajahnya.

“Tunjukkan wajahmu. Aku ingin melihatmu,” Dara menelan ludah, namun tetap mendengarkan perkataan Jiyong. Perlahan dia mengangkat kepala, namun enggan menatap mata pria itu.

“Ya, masih. Sangat manis,” dia semakin menelan ludah berat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

“Dan aku marah padamu,” Dara mengalihkan pandang dan memberanikan diri menatap Jiyong mendengarnya berkata demikian, Jiyong mengambil kesempatan itu untuk semakin mendekat dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan, kemudian menariknya mendekat. “Aku marah padamu karena kau punya kekuatan yang bisa membuatku kembali padamu seperti ini,” katanya membuat tubuh Dara serasa meleleh ditatap demikian.

“Aku merindukanmu, cintaku,” katanya, menyentuhkan hidung mereka, membuat Dara memejamkan matanya.

“A-apakah Anda… menikmati makan malam Anda?” tanya Dara seolah hampir kehabisan nafas.

“Makan malam apa? Aku baru saja akan menikmatinya… DI SINI…” Jiyong menatap mata Dara dan gadis itu ingin sekali rasanya menggeliat melihat sinar mata Jiyong yang nakal.

“J-j-eoha…”

“Dara… Dara…” Jiyong memejamkan matanya dan mencium kening Dara. “Kau harus maan. Atau aku mungkin akan melupakan bahwa kau belum makan seharian. Aku tidak ingin kau tidak sadarkan diri di bawahku,”

Pipi Dara memerah mendengar perkataan Jiyong dan dia segera menjauhkan diri.

“Saya membicarakan tentang makanan yang saya masak dengan sepenuh hati, Jeoha,” tubuhnya berdiri kaku di tempat, kesal, namun seolah menantikan kelanjutan dari apa yang Jiyong ucapkan.

“Oh, maaf sayang, aku memikirkan sesuatu yang lain di mana aku bisa merasakan kesepenuhhatianmu yang lain.” Jiyong menyeringai dan kembali menarik tubuh Dara padanya. Mereka tetap diam seperti itu, saling bepelukan, mendengarkan detak jantung dan helaan nafas masing-masing, sampai tiba-tiba Dara menemukan kata-kata yang tepat untuk bertanya.

“Apakah Anda masih marah?” tanyanya sambil membenamkan wajahnya di jubah sutra di dada Jiyong, dalam hati berdoa agar pria itu berkata dia sudah tidak marah.

“Bagaimana mungkin aku bisa tetap marah padamu?” Jiyong mencium puncak kepala Dara, membuat bibir gadis itu langsung melengkung membentuk senyuman. “Hanya saja jangan melakukan hal itu lagi. Aku menginkanmu – sepenuhnya. Semua tentangmu. Jangan menyembunyikan apa pun dariku. Aku ingin kau mempercayaiku seperti aku mempercayaimu. Bisakah kau memberiku kepercayaan itu?”

“Maafkan saya. Saya benar-benar meminta maaf. Saya tidak ingin Anda marah pada saya,”

“Sama halnya denganku,” Jiyong sedikit menjauhkan diri agar bisa menatap wajah Dara. “Aku tidak ingin kita bertengkar seperti tadi pagi. Itu sangat mengganggu. Hariku jadi buruk. Kau harus tahu itu,”

“Saya benar-benar meminta maaf.” Sekali lagi Dara meminta maaf dan Jiyong tersenyum padanya. Oh, betapa dia merindukan senyuman itu.

“Kau benar-benar menyiapkan banyak hal malam ini. Apakah aku harus mempersiapkan diri untuk kejutan selanjutnya?” Jiyong menggigit bibirnya untuk menahan seringaian yang sanggup meledakkan hati Dara.

“Saya rasa saya akan tetap menjadikannya sebagai sebuah kejutan. Apakah Anda tidak masalah dengan kejutan, Jeoha?” balas Dara, menyiratkan sebuah janji.

“Oh, percayalah padaku, aku tidak akan pernah bosan menerima kejutan, terutama kejutan darimu,” dikecupnya bibir Dara. “Aku menantikannya.”

“Saya mohon, kita jangan pernah bertengkar lagi?”

Sang Putra Mahkota mengangguk. “Apakah aku terlalu keras padamu? Maafkan aku. Kau bahkan sampai tidak makan seharian.

“Saya hanya merasa cemas Anda akan marah pada saya dalam waktu yang lama,”

“Aku tidak tahu apakah aku harus lega atau marah padamu karena kau masih tidak tahu seberapa besar kau sanggup mempengaruhiku,” Jiyong menyipitkan matanya pada Dara, gadis itu hanya tersenyum dan menyentuh wajah Jiyong.

“Apakah Anda mau memberitahukan pada saya apa yang mengganggu Anda sejak pembicaraan Anda dengan Raja tempo hari yang lalu?” tanyanya, sangat berharap Jiyong akan langsung bercerita padanya. Namun sang Pangeran malah memegang tangannya dan menciumnya.

“Ke mari,”

Dara menatap mata Jiyong penuh tanya. Ke mana? Dia memberikan tatapan bertanya-tanya dan seolah tahu apa yang gadis itu inginkan, Jiyong menjawab.

“Kau ingin tahu apa yang menggangguku? Kalau begitu ikutlah denganku, kita akan makan malam. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan menikmati makanan yang kau siapkan jika aku tahu bahwa kau kelaparan,”

“Apakah Anda sudah memaafkan saya… sunggung?” tanyanya, tatapannya bertanya, cemas jika sang Pangeran hanya mengasihaninya.

“Aku tidak akan mungkin menelan harga diriku dan berada di sini jika aku belum memaafkanmu. Ke mri, ikutlah bersamaku, kumohon?”

“Tapi… saya berpakaian seperti ini. Mereka mungkin akan melihat—,”

“Aku… aku ingin mereka melihatmu.”

“Apa maksud Anda?”

“Aku mempercayai pasukan kita. Mereka harus tahu bahwa calon Ratuku ada di hadapan mereka.”

“Jeoha, kenapa tiba-tiba seperti ini. Apakah Anda yakin?”

“Aku tidak mungkin bisa lebih yakin lagi.” Jiyong berusaha meyakinkan dengan meremas tangan Dara yang berada dalam genggamannya dan berbalik ke pintu, bersiap untuk menemui pasukan mereka.

“Saya takut…”

“Jangan takut… ada aku di sini,”

“Bagaimana jika…”

“Kumohon… aku sudah memikirkan tentang hal ini dan aku tidak pernah merasa seyakin ini sepanjang hidupku—,”

“Apakah ini yang benar-benar mengganggu Anda?” tanya Dara dengan penuh pengertian di matanya. Jiyong menyentuh ujung hidung gadis itu dan tersenyum/

“Ya. Dan besok, malam sebelum penobatanku sebagai Raja, aku ingin kau mengenakan hanbok tercantik…”

“K-k-enapa?” tanyanya dan Jiyong langsung memutus jarak di antara mereka dengan mencium kening gadis itu, bertahan dalam posisi itu sejenak sambil menggumamkan sesuatu yang membuat mata Dara melebar.

“Aku membawamu ke hadapan ayahku. Kumohon, ijinkan aku…”

“Jeoha…”

“Ayahku ingin bertemu denganmu,”

**

<< Previous Next >>

Advertisements

30 thoughts on “The King’s Assassin [44] : Making Amends

  1. Ackk dara bisa aja nieh ngerayu nya , hahahaha
    ayoo dara cepet kasih kunci gulungan nya !!!!!!!
    kan dara emang haruss ketemu raja bukan nya dara pengen ketemu ya , ayooo kawin kawinnn , hahhaha
    aigoo aigoo laki” yang mencintai chaerin ketemu , cielah akurr bener , kkkkkk

  2. huffttt..lega akhirnya mreka baikan jg….jiyong emg gak bisa lama jauh dr dara…jiyong mau dara ktmu ma raja…hmmm gimana nih???

  3. Sosweet klemahan jiyong emang dara semoga akn selalu bgitu….
    Psti heboh saat dara kluar dri kmar pke hanbok.
    Msih penasaran sma ilwoo smoga dia bsa bergabung dgn pasukan nya jiyong

  4. Aigoo, melting baca capt ini. Dara unnie emang nggak kehabisan cara utk ngebuat jiyong oppa nggak marah lagi ke dara unnie. Bentar lagi, bentar lagi, dara unnie bakal ketemu raja, yippiee😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s