My Life as an X-agent: Chapter 9

1420593275715

TOP’s POV

Membosankan…

Membosankan…

BOSAAAN!

Otakku tak bisa berhenti mengatakan itu sejak 30 menit yang lalu dan perlahan mulai membuatku ingin melemparnya jauh-jauh keluar dari jendela mobil SUV Chevrolet sport berwarna putih ini. Sungguh menyebalkan! Otak! berhenti mengatakan kalimat terkutuk itu!!! Lihat aku….lelaki dewasa yang bahkan tak bisa mengendalikan otaknya sendiri. Dihadapanku, gemerlap lampu-lampu yang berasal dari bangunan-bangunan megah bergerak dari jauh lalu mendekat dan kemudian akan menghilang seraya mobil yang aku tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi….untuk ukuran siput. Aku menghela nafas dan kemudian melirik pada jiyong yang tengah memainkan handphonennya. Sambil mengemudi. Lihat dia! Benar-benar contoh Ayah yang baik.

“kalau sejak awal kau biarkan aku yang mengemudi pasti kita sudah sampai di pesta 30 menit yang lalu….”

“Kau tak bisa mengemudi, hyung…” ia meletakkan handphonenya dan kembali memfokuskan pandangan ke depan.

SIAL!!!!

Si pirang ini…well….memang ada benarnya….tapi! setidaknya aku pasti akan mengemudi lebih cepat daripada dia.

“ada apa?” aku bertanya sambil kembali merebahkan kepalaku.

“dara…hmmmh…” jiyong menghela nafas panjang sambil tersenyum dan merenggangkan pundaknya “si manis itu masih ngambek….”.

“kalau jadi dia, aku pasti sudah meninggalkanmu….”

“yahh…sayangnya kau bukan dia, hyung….dara tidak akan meninggalkanku…”

Aku tersenyum pahit pada kata-katanya, terdengar seperti picisan lama yang mudah berubah jadi rongsokan…aku ingat seseorang pernah berjanji seperti itu padaku….dan sekarang dimana dia? Tidak ada dimana-mana…ia akan terus bersembunyi di dalam sini…di hatiku…aku ingin sekali memberikan nasihat pahit pada pria yang sudah kuanggap saudara kandung ini, ingin mengingatkannya kalau semua dapat berubah….kalau semua dapat keluar dari jalur dan saat kau benar-benar sadar, semuanya akan terlambat dan penyesalan lah yang akan jadi teman baikmu, tapi menghancurkan harapan dan impian seseorang juga tidak ada bagus-bagusnya….pada akhirnya kau hanya bisa diam dan melihat. Itu prinsip hidupku sekarang. Aku mengacak rambut jiyong dan tidak memperdulikan keluhannya.

“hyung!”

“ohh…ayolah! kau ingin mengesankan siapa!? Si sumpit anorexia itu?” Ia terdiam dan menepis tanganku dari rambutnya.

“hanya ingin terlihat baik saja”

“apa kau mulai jatuh cinta lagi pada kiko?”

“MWO!? Kau gila!” Aku menyeringai nakal dan mencubit pipinya dengan keras.

“a-awwhh! Hyung!”

“aigoo….jiyongie…jiyongie….kalau malu manis jugaaa….” Aku sungguh…sungguh menyesali ejekan bodohku, karena hal berikutnya yang jiyong lakukan adalah mulai mempercepat laju mobil dan tiba-tiba saja mengarahkan mobil ke jalur lain dimana banyak sekali mobil-mobil tengah melaju dengan kencang.

“BAIKLAH! BAIKLAHH!!! MAAFKAN AKU TUAN! MAAFKAN AKUUU!!!” aku spontan memeluk erat dan membenamkan wajahku pada lehernya sambil berteriak keras.

“katakan hal bodoh lagi dan kita berdua akan mati bersama….jangan ganggu aku!” jiyong mengemudikan mobil kembali ke jalurnya dan mendorongku dengan kasar ke tempat duduk.

 

***

Setelah menyerahkan mobil SUV berwarna putih yang kami kendarai kepada salah satu karyawan untuk di parkirkan, tiba-tiba wajah kami…okay…wajahku ditampar oleh pemandangan sebuah bangunan megah serupa hotel bintang 5….tidak…aku akan memberikan bintang 6 pada bangunan di hadapanku ini, karena luar biasa saja tidak cukup untuk menggambarkan kemegahannya. Pesta seperti apa yang akan terjadi di dalam!? Padahal aku membayangkan pesta penuh dosa, minuman keras dan wanita-wanita cantik telanjang. Shades benar-benar telah berubah sejak kami meninggalkannya.

“ahh…ji…apakah kita akan menikah disini?” aku bertanya sambil memijat dahi.

“sepertinya hanya pesta formal biasa…akan banyak orang penting dari shades di dalam…jangan lupakan rencana kita….”

“kau mengabaikan pertanyaanku….” aku memanyunkan bibirku pada jiyong yang dibalas oleh sentilan pedas dari telunjuknya pada dahiku.

“jangan lengah hyung….pikiranmu mudah teralihkan oleh hal-hal konyol….ayo!”

Jiyong melangkah maju menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit di hadapan kami sementara aku masih menganga lebar memandangi bangunan serupa kerajaan para dewa yunani ini.

“CHOI SEUNGHYUN!!!”

“coming dad!!!”, tak terasa ternyata jiyong sudah berada di puncak anak tangga siap untuk memasuki ruangan. Aku pun buru-buru berlari menyusulnya.

“maan…shades benar-benar berkembang dengan sangat pesat…saat kita masih menjadi anggota dulu, jarang sekali diadakan pesta mewah begini…” aku berseru saat sudah berada disamping jiyong dan kami berjalan ke arah penjaga keamanan di depan pintu masuk.

“walaupun begitu…” seraya aku menyerahkan tiket emasku pada penjaga, jiyong memandang tajam pada penjaga yang dengan herannya langsung menunduk pada jiyong. “aku tak menyesal sedikitpun telah keluar dari sarang busuk ini….”

Wajahnya yang lembut tiba-tiba berubah menyeramkan, walaupun aku sudah terbiasa dengan wajah itu, tapi kali ini wajah jiyong penuh dengan aura gelap dan dendam. Aku menelan ludah. Setidaknya 2 jam saja ia menatapku dengan wajah seperti itu, aku rasa aku pasti akan mati. Saat kami akhirnya benar-benar masuk ke dalam ruangan, alunan lembut musik klasik menyambut langkah kami yang canggung.

INI BUKAN RUANGAN PESTA!!!

Itulah hal pertama yang bisa aku teriakkan dalam hati saat sebuah ruangan hampir seluas stadion bola kaki dengan lampu kristal raksasa berwarna emas yang menjadi sumber penerangan berada ditengah-tengah ruangan menampar mataku. Dekorasi berupa bunga dan lembaran-lembaran pita yang terikat rapi dengan dominasi warna coklat dan cream membuat ruangan putih raksasa ini bertambah elegan saja, sementara grup musik klasik berada tepat dibawah lampu emas dan meja-meja panjang penuh hidangan mewah berbaris rapi di setiap sudut ruangan.

“a-aku…..pulang saja….” tampilan pesta ini bahkan sudah menghancurkanku terlebih dahulu sebelum aku sempat menghancurkannya. Kau tahu kata mereka…dekatkan kata “pesta” dan “choi seunghyun” maka ledakan besar yang akan kau dapatkan.

“hyung…jangan kacaukan ini….” jiyong langsung menampar pundakku dan berjalan dengan tegap untuk berbaur bersama para undangan pesta.

Jiyong dan aku sudah seperti 2 titik cahaya terang di dalam lautan oli yang gelap, karena hanya kami yang berjalan dengan rambut kuning dan biru muda menyala, sementara para undangan yang aku yakin berjumlah hampir 500 orang di ruangan ini, semuanya memiliki warna alami rambut yang normal. Hitam, coklat dan abu-abu gelap. Bagus sekali. Saat aku dan jiyong berjalan bersama, kerumunan orang asing yang tak satupun wajahnya familiar akan menghentikan pembicaraan mereka dan melihat pada kami, beberapa berbisik dengan suara yang jelas-jelas lantang.

“hey…hey…lihat mereka!”

“oh tuhan….jangan katakan itu GD dan…tunggu….siapa laki-laki yang berjalan di sampingnya?”

ITS TOP!!! TI-OH-PHIEE!!!

“aku ingat dia pernah dipanggil jason…atau mark….”

TIDAAAAAKKKKK!!!!!! JANGAN GUNAKAN NAMA-NAMA TERKUTUK ITU!!!

“bukankah mereka sudah lama mati?”

“mati!? Omong kosong…kurasa mereka kembali karena sadar telah berkhianat…”

“hahaha…pengkhianat? benarkah?”

“iya! Shades membuang mereka karena telah mengacaukan semuanya…”

“huh…menyandang nama pengkhianat saja sombong sekali…”

Telingaku terbakar.

Bisikan-bisikan busuk mereka membuat darahku bergolak dan rasanya aku bisa membunuh mereka semua dalam satu tarikan nafas. Orang-orang asing ini menatap kami dengan tatapan jijik, seolah-olah kami adalah sampah, Jiyong memberikan lirikan “abaikan dan lihat ke depan saja…” padaku, aku yakin ia tahu apa yang aku rasakan. Aku dengar pesta ini diadakan oleh salah satu pihak tertinggi shades, ia bukan pemimpin…hanya salah satu anggota shades terkaya dan dihormati di daerah sini. Saat ini shades memiliki 4 pihak tertinggi, salah satunya adalah…seperti yang kita tahu…kiko mizuhara, dan dari data yang aku terima, kakak lelaki kiko juga merupakan salah satunya. 2 sisanya akan kami temui di pesta ini. Jika itu benar, gedung besar ini pasti milik salah satu dari mereka. Aku dan jiyong akan mencari tahu sesuatu di pesta ini, mencari petunjuk-petunjuk yang shades sembunyikan. Tentang peledakkan rumah kami…tentang para polisi-polisi gila itu….dan…tentang si pak tua yang hyun suk…aku yakin kematiannya bukan bunuh diri…semua ini sudah direncanakan.

“heyy!! Heyy! GD!”

Langkah kami dihentikan oleh suara cempreng seorang wanita yang berasal dari arah samping kanan. Itu kiko. Ia berlari dengan susah payah karena high-heels super tinggi yang ia pakai sementara gaun terusan mini yang terlihat hanya seperti menempel ditubuhnya beberapa kali hampir tersingkap karena cara berlarinya yang aneh. Wanita ini, pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian jiyong-_- melihat dia yang sekarang aku jadi heran, kenapa jiyong bisa menjalin hubungan dengannya…Walaupun dulu pernah 1 team tapi aku dan kiko tak pernah dekat, karena ia sangat sulit ditebak. Ia tak banyak bicara sama seperti jiyong dahulu, mungkin itulah yang membuat mereka jadi dekat dan well…akhirnya menjalin hubungan. 2 tahun itu bukan waktu yang sebentar kan? Sampai akhirnya wanita kurus ini mulai merasa jenuh dengan situasi dalam hubungan mereka dan bukannya memilih untuk mengakhirinya baik-baik, tapi ia malah meninggalkan jiyong dan pergi bersama pria lain yang baru saja ia kenal. Aku tak tahu apakah jiyong benar menaruh hati pada hubungan mereka karena saat kiko pergi ia Tampak tak terbebani sedikit pun, walaupun saat itu ia semakin menutup dirinya lebih rapat lagi. Ia menjadi pembunuh berdarah dingin sejak kiko meninggalkannya.

Jujur saja…

Aku mendukung dara dalam hal ini. Wanita mungil itu tahu bagaimana cara membuat jiyong lebih hidup dan tentu saja, lebih bahagia. Ia tampak sangat setia dan selalu mengkhawatirkan segalanya tentang jiyong, berbeda dengan irisan tipis jeruk mandarin dihadapanku ini, ia terlihat hanya menginginkan hubungan fisik dengan jiyong. Aku harap jiyong tak akan jatuh dalam perangkap wanita medusa ini lagi…karena aku akan berada disana untuk menghabisi wajahnya jika ia berani mengkhianati Dara. Kiko langsung memeluk lengan jiyong dan tersenyum lebar padanya sementara aku sudah ingin muntah.

“kau lama sekali ji….aku menunggumu daritadi…” kiko merebahkan pipinya pada pundak jiyong. Aku yakin jika dara ada disini, tubuhnya yang mungil akan berubah menjadi besar seperti HULK, lalu ia akan menelan kiko bulat-bulat sebelum menghancurkan pesta mewah ini. “Semuanya sudah menunggu di ruang VIP…ayo” seraya kiko menarik jiyong berjalan menuju ruang VIP aku pun mengikuti mereka.

“yah! siapa yang mengajakmu untuk ikut masuk choi!?” aku terbelalak kaget melihat semburan yang tiba-tiba kiko ledakkan tepat di depan wajahku.

“hellow…aku punya tiket emas…” dengan sebal aku mengkipas-kipaskan tiket emas metalik dengan tulisan VIP.

“aku salah satu pihak tertinggi disini! Aku yang tentukan siapa yang boleh dan tidak boleh masuk!”

Tuhan, jika aku harus masuk neraka karena ini maka aku akan ikhlas. Ide tentang menceburkan dirimu ke kolam penuh berisi air mendidih sungguh lebih menarik daripada harus mendengarkan suara cempreng Kiko Mizuhara. Dengan geram aku meremas tiket emasku dan memasukannya ke dalam kantung celana.

“Dengar, wanita terkutuk…aku tak menyukaimu sedikit pun…aku bisa saja mematahkan lehermu di depan orang-orang yang sama busuknya dengan mulutmu itu…kau mau kita saling membunuh disini? Aku akan terima kapan saja…”

Air wajah kiko langsung berubah saat aku menyelesaikan kalimat ancaman tadi, ia sesekali melirik pada jiyong yang terlihat puas dengan apa yang baru saja aku katakan. Melihat jiyong tak membelanya, tiba-tiba kiko mengeluarkan sebuah belati dari dalam tas tangannya.

“tarik ucapanmu…kau berani bicara begitu padaku!?”

Jiyong melepaskan tangan kiko dan menjauh beberapa langkah, sementara wanita itu masih menunjukku dengan belati tajam di tangannya. Orang-orang disekitar kami sekarang sudah menatap sinis dan beberapa terlihat memegang senjata yang tersembunyi di balik gaun dan jubah masing-masing.

“oh yang benar saja….” jiyong menghela nafas berat dan berjalan ke arah kiko, perlahan ia menyentuh tangannya yang menggenggam belati dan kemudian menurunkannya. “hentikan ini…” jiyong berkata dengan nada dingin.

“kau dengar apa yang ia katakan padaku barusan, ji!? Dia pantas mati!”, aku memutar bola mataku sambil menampar dahi. Wanita ini jelas-jelas sudah gila. Tanpa memperdulikan ucapan gilanya, jiyong melepaskan belati dari tangan kiko dan melemparkannya tinggi-tinggi hingga masuk ke mangkuk besar penuh berisi air anggur, ia lalu menarik kiko yang sudah terlihat tenang dan akhirnya mereka berjalan menuju ruang VIP, meninggalkanku bersama para tamu undangan yang masih menatap punggungku.

“FUCK!!! “ aku berteriak sekerasnya tanpa memperdulikan orang-orang disekitarku. Beberapa orang melihatku dengan tatapan jijik dan hampir semuanya mulai berbisik-bisik lagi.

“WHAT!?” tak tahan, aku akhirnya berteriak keras hingga membuat semuanya terdiam dan memalingkan wajah. Bagus. Kalian harusnya takut padaku sejak awal!. Aku mengambil gelas tinggi dan sebotol wine mahal tanpa memperdulikan wajah protes pelayan yang membawa wine itu dan meninggalkan ruangan pesta. Di samping bangunan megah bak istana ini terdapat sebuah area taman yang tak terlalu luas dengan berbagai macam bunga dan tanaman eksotis menghiasinya, di tengah-tengah taman itu ada sabuah ayunan yang bisa diduduki oleh 2 sampai 3 orang, aku langsung menghempaskan bokongku di salah satu kursi ayunan itu sehingga membuatnya bergoyang maju dan mundur. Dengan kesal aku melempar gelas tinggi ke tanah dan langsung menenggak wine yang sudah tinggal setengah.

“HAISSSSHHH!!! SHADES BAJINGAN! TERKUTUK KAU DAN SEMUA ANGGOTA-ANGGOTAMU YANG BERMULUT BUSUK!!!”. Lucu juga saat aku sadar pernah jadi anggota organisasi biadab ini dan sekarang malah mengutuknya. Aku mulai menghidupkan rokok dan menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya keluar dengan kencang, sambil mengeluarkan amarah yang sudah membuatku hampir mati. Perlahan aku meraba kantung celana dan mendapatkan obat buatanku. Obat penenang itu. Aku mengamatinya sebentar lalu memejamkan mata.

“terserahlah…” aku mengeluarkan 2 butir dan menenggaknya bersama wine yang tersisa. Secara ajaib otakku seperti di sambar petir. Semua kegelisahan lenyap dan aku bahkan lupa dengan amarah yang membakar kepalaku tadi. Aku tersenyum dan merebahkan kepala sambil menghirup kembali rokok yang menggantung diantara jari telunjuk dan jari tengahku. Sekarang kesadaranku sepenuhya pulih aku jadi bisa memikirkan beberapa rencana jenius untuk mengobrak-abrik shades dan pesta sialan yang jelas-jelas tak menyenangkan ini.

“baiklah…jangan macam-macam pada choi seung hyun…” aku berdiri dan menarik hisapan panjang terakhir dari rokokku untuk kemudian benda itu aku lemparkan kuat-kuat ke tanah.

 

***

 

AUTHOR’S POV

Sanghyun menggaruk-garuk lehernya dengan geram sambil sesekali berusaha melonggarkan cekikan dasi kupu-kupu yang mengikat kencang kerah kemejanya, ia berdiri dengan malas dalam balutan sempurna tuxedo hitam serta celana panjang hitam yang memeluk pinggang dan perut ratanya dengan sempurna. Sudah sekitar 1 jam berlalu sejak Dara mengatakan ingin mendatangi pesta yang diadakan shades malam ini dan mereka masih belum selesai bersiap-siap atau lebih tepatnya dara yang masih belum selesai. Sanghyun menempelkan telinganya pada pintu kamar dan bersiap untuk mengetuknya perlahan tetapi bukannya mengetuk sanghyun malah menghantamkan telapak tangannya di pintu sambil menggerak-gerakkan pegangan pintu dengan cepat dan brutal.

“OH TUHAN! NOONA! Apa yang kau lakukan di dalam, huh!? Melahirkan!? Aigooo!!! Aku rasa aku akan bunuh diri jika kau memaksaku untuk menunggu lebih lama lagi! Kita akan terlam-“. Kalimat sanghyun terpotong saat dara tiba-tiba membuka pintu dan membuatnya hampir jatuh tersungkur.

“haiss…kau ini berisik sekali…”. Sanghyun menutup mulutnya saat melihat dara yang tengah berkacak pinggang di depannya. Wanita mungil itu terlihat sangat cantik dengan gaun panjang berwarna merah muda yang terbuat dari bahan sifon terbalut sempurna pada tubuhnya. Rambut pendeknya yang ikal sengaja di tata dengan berantakan sementara sebuah anting-anting kristal panjang membuat wajahnya yang hanya terpoles oleh makeup tipis menjadi semakin sempurna. Dara sangat cantik sehingga dapat membuat orang yang melihatnya terdiam.

“wow…noona..kau akan membuat semua orang di pesta jadi gila…kau…aku tahu aku jarang mengatakannya tapi harus aku akui…kau sangat bersinar malam ini…” ungkap sanghyun sambil terus memandangi dara. “darimana kau dapatkan gaun ini, huh?”.

“kau tak harus tahu…ah! sebelumnya…lepaskan tuxedo hitam itu..daan…yup! ganti dengan ini….”. Dara tersenyum lebar saat ia mengeluarkan sebuah tuxedo merah muda dari dalam lemari.

“kau pasti sudah gila…” sanghyun mengernyitkan alisnya pada tuxedo tersebut lalu pada dara. “demi tuhan…ini warnanya merah muda, noona! Tuxedo merah muda!”.

“tak masalah kan? Memangnya kau belum lihat rambutmu yang menyala itu? Aku sudah bilang kita akan menarik perhatian malam ini…kita akan beri pelajaran pada kwon jiyong! Ayo cepat pakai!”

“TIDAK! AKU LEBIH BAIK MATI KARENA MAKAN MENTEGA DARIPADA HARUS TERJEBAK DENGAN TUXEDO ANAK PEREMPUAN ITU!”. Tapi kemudian sanghyun terdiam saat melihat mata dara yang kembali berkaca-kaca siap untuk menangis. “aaargghhhh! Baiklah noona…baik! aku akan pakai ini….jangan nangis! Diam! Noona jangan nangis!”. Sanghyun langsung menyambar tuxedo merah muda dari tangan dara dan sambil menggerutu ia mulai mengganti tuxedo hitamnya dengan tuxedo merah muda tersebut. Di luar dugaan, sanghyun malah tampak jadi lebih menarik.

“bagus…sekarang aku sudah terlihat seperti host acara lawak…”. sanghun melipat tangannya sambil mendengus sementara dara tertawa pelan.

“percaya pada noona sanghyun-ah…kau terlihat sangat menarik kok…tuxedo ini tampak kontras dengan rambutmu…”. Tapi sanghyun hanya memutar bola matanya sambil membuang pandangan.

“sudahlah…ayo berangkat noona…” sanghyun meraih tangan dara dan tak lupa mengambil kartu emas yang berada di atas meja makan sebelum membalut tubuh mungil dara dengan mantel bulu berwarna hitam yang tebal.

“aku harap masih ada taksi yang mau mengantar kita ke pesta itu…” sanghyun menghela napas dan melihat pada jam tangan hitam favoritnya, ia terdiam sebentar sambil berjalan menuruni tangga dengan malas di belakang dara, perhatiannya langsung teralihkan saat melihat noona-nya itu tiba-tiba tersenyum dan tertawa kecil. Sanghyun terdiam di tempatnya. Itu bukan senyum atau tawa dara yang biasa, ia tahu benar setiap kali dara tersenyum atau tertawa seperti itu hal yang buruk akan terjadi. Sial! Park Sanghyun lakukan sesuatu!!! kau seharusnya membawa salib dan air suci bersamamu, sial!!! Sanghyun berteriak panik dalam kepalanya.

“ahh…noona? k-kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?” tapi sanghyun tahu semua sudah terlambat saat ia melihat dara memperlihatkan senyuman licik dan memutar-mutar sesuatu yang sanghyun sangat yakin adalah sebuah kunci mobil.

“holy mother of fudge!!!” sanghyun menjabak rambutnya kuat-kuat dan memberikan tatapan membunuh pada dara.

“yang benar saja park sanghyun? Setelah apa yang terjadi pada kita akhir-akhir ini kau akan memaksaku naik taksi murahan? Ke sebuah pesta paling megah? WOW!” dara memutar bola matanya sambil tertawa sarkastik pada sanghyun yang sudah hampir kehilangan sebagian besar rambut merah mudanya.

“bagaimana kau mendapatkannya noona!?”

“youngbae memberikannya padaku…” dara tersenyum sambil memutar-mutar kunci mobil yang bentuknya berupa remote kecil berwarna hitam.

“hoh god…aku kira kau mencurinya noona…” sanghyun menghela napas lega dan merapikan kembali rambutnya yang acak-acakan. “mobil apa yang kau dapatkan?”

“Audi R8 warna putih…”

“holy f*ck…shades? wow….luar biasa…” Sanghyun mengambil kunci mobil dari tangan dara dan tersenyum licik

“sekarang aku bersemangat….mari kita berguling-guling seperti babi di pesta itu noona…”

“ughh…sanghyun…tidak. Kita akan mengacaukan pesta itu, bodoh….bukannya mempermalukan diri kita…berguling-guling seperti babi? Itu yang ada di pikiranmu selama ini?”

Sanghyun hanya tersenyum bodoh saat dara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memutar bola mata. Saat sampai di lantai dasar apartemen mereka disambut oleh sebuah mobil Audi berwarna putih yang sangat mewah terparkir sempurna di lapangan parkir yang tidak terlalu luas, seolah-olah mobil itu memang telah di sediakan khusus untuk mereka.

“woahh…sekarang aku mengerti bagaimana perasaan cinderella…ini sangat menakjubkan…perasaan ini…woahh…” dara bergumam sambil memandang takjub pada mobil mewah di hadapannya itu. Sanghyun tertawa kecil dan langsung berjalan menuju mobil, menyalakan mesin dan membawanya pada dara yang masih berdiri di depan pintu masuk apartemen, ia lalu membuka pintu penumpang dan mempersilahkan dara masuk seperti seorang butler yang hormat pada majikannya.

“ayo kita dapatkan kembali pangeranmu…”

 

***

 

Tak banyak hal spesial yang dapat digambarkan dari ruangan yang disebut-sebut sebagai ruangan VIP itu, bahkan jika harus berkata jujur jiyong sangat membencinya. Ruangan VIP tersebut bukanlah ruangan spesial seperti yang jiyong bayangkan, itu lebih seperti ruang pribadi yang kedap suara dan kedap peluru bahkan saat jiyong melihat kembali secara rinci, ia rasa ruangan itu kedap dari apapun, bahkan oksigen. Sangat sulit untuk bernapas di dalam ruangan remang yang tak terlalu besar itu, hanya ada sofa empuk panjang berwarna merah gelap berbentuk setengah lingkaran yang mampu menampung sekitar 25 orang dan di tengah-tengah sofa mewah tersebut terdapat meja yang terbuat dari balok kaca disinari oleh lampu-lampu putih dari dasarnya. Jiyong menghela napas dan meraih gelas kecil berisi soju dan menenggaknya dengan cepat sementara kiko berada tepat di sampingnya. Mabuk dan bau asap rokok. Ia melirik sebentar pada kiko yang tengah tertawa malas sambil terus meniupkan asap rokok dari bibirnya yang kering.

“GD-ah…hmmmh…ayo bergabunglah denganku…” kiko menarik kerah baju jiyong dan membawa wajah mereka mendekat pada satu sama lain. Jiyong hanya memberikan tatapan datar dan menjauhkan tangan liar kiko dari leher dan dadanya.

“Bukankah kita berada disini untuk bicara dengan ‘pihak tertinggi’, mizuhara?” jiyong melipat tangan di depan dadanya dan mulai membuat jarak dengan kiko. Kiko hanya tertawa kecil dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan ia lalu mematikan rokok dan menghela napas panjang.

“apa yang mengubahmu, kwon? Apakah malaikat tuhan telah menyentuh dan membersihkan jiwamu?” jiyong tersenyum simpul dan menatap pada wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu, wanita yang ia ingat adalah wanita lemah yang selalu harus ia lindungi.

“apa yang mengubahmu, mizuhara?”

“tidak ada…aku hanya jadi lebih kuat…” kalimat itu bagaikan belati yang menusuk jiyong dari belakang, ia tahu kiko sengaja melakukannya untuk membuatnya lemah dan memang benar, kalimat itu membuatnya terdiam. Ia baru akan mengatakan sesuatu untuk membalas kalimat tajam kiko saat tiba-tiba suara langkah kaki beberapa orang memenuhi ruangan VIP. Itu adalah orang-orang yang telah lama ditunggu oleh jiyong. Para pihak tertinggi shades. Kiko tersenyum pada jiyong lalu berdiri untuk memeluk dan menyambut 3 orang pria yang baru masuk itu, sesekali tertawa dan saling berbisik sebelum mempersilahkan mereka duduk di hadapan jiyong. Dari informasi yang ia dapatkan siang tadi, lelaki berambut emas dengan wajah cantik yang tengah merangkul pundak Kiko adalah, Kim Jae Joong, pihak tertinggi nomor 1. Sementara yang lainnya, pria langsing dengan rambut coklat yang menjuntai ke pundak adalah Jang Geun Suk pihak tertinggi nomor 2 dan pria jangkung berambut hitam klimis, Song Jong Ho adalah pihak tertinggi nomor 3. Mereka pembunuh terkuat, terkejam dan sudah jelas terkaya di dalam organisasi shades tetapi kekuasaan tertinggi dipegang oleh Kim Jae Joong. Ketiga pria itu berjalan dengan anggun dan penuh wibawa menuju sofa, Geun Suk dan Jong Ho tersenyum ramah pada jiyong walaupun tak menyembunyikan tatapan benci mereka secara sempurna, sementara Jae Joong yang masih berdiri menatap lama pada jiyong sambil berkali-kali menghembuskan asap dari cerutunya.

“hmmm…” seperti baru saja mengerti tentang sesuatu akhirnya Jae Joong duduk, ia tepat berhadapan dengan Jiyong. “selamat datang kembali ke shades…Gdragon-ssi…” Jiyong memejamkan mata dan dengan terpaksa menunduk sambil tersenyum kecil. Kenapa nama itu harus disebut lagi? Kenapa ia harus terus menyandang nama itu?.

“tentu…sebuah kehormatan untukku, sir…” sudah menjadi kebiasaan di dalam Shades untuk memanggil para pihak tertinggi dengan sebuah sebutan kehormatan. Seperti yang baru saja Jiyong lakukan. Kiko sendiri sebenarnya harus dipanggil dengan sebutan kehormatan juga karena ia adalah pihak tertinggi nomor 4, tapi persetan dengan itu tak satu pun dari mereka sanggup untuk memanggilnya dengan sebutan kehormatan jika melihat dari caranya bertindak dan berbicara. Jae joong masih terus mengunci tatapannya pada jiyong mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki dan sambil mengangguk ia menghembuskan asap yang cukup banyak dari cerutu yang sedaritadi ia hisap. Jiyong memejamkan mata saat asap tebal dari cerutu mengenai wajahnya.

“oh maafkan aku Gdragon-ssi soal asapnya…aku rasa kau sudah terbiasa bukan…asap…api…ledakan sudah jadi makananmu sehari-hari…” Jae-joong menyeringai dan akhirnya mematikan cerutunya yang baru ia hisap setengah. “tapi tentu saja…kami melupakan satu hal yaitu tentang kebebasanmu beserta rekan-rekanmu setelah shades hancur…tapi tak apalah..hal biasa…”

Jiyong mengepalkan tangannya erat-erat ia berusaha keras untuk meredam amarahnya. “bagaimana kebebasanku ini kembali dibahas lagi, sir? Apakah kalian semua cemburu dengan apa yang telah aku rasakan hingga puas? Kebebasan.”

Tiba-tiba sebuah senjata api telah tertodong tepat 5 cm dari kepala jiyong. “berani sekali kau berkata seperti itu pada kami, dasar pengkhianat busuk! Sudah untung kami mau menerimamu kembali saat kau membutuhkan tempat bersinggah!”. Geun suk mengeratkan genggamannya pada senjata api sementara jiyong hanya menatap kosong pada wajahnya yang mulai panik.

“maaf, sir. Tapi aku minta anda turunkan senjata anda. Aku tidak takut pada apa yang akan kalian lakukan padaku. Persetan, aku akan tetap hidup. Aku tidak tahu atas dasar apa aku digiring ke ruangan ini, aku pikir awalnya ada sebuah pembicaraan penting yang dapat menguntungkan kedua belah pihak ternyata yang aku dapatkan hanyalah hinaan” . jiyong berdiri dan menatap pada empat orang dihadapannya satu persatu lalu menunduk “jika tidak ada yang perlu aku dengar…aku rasa keberadaanku di ruangan ini hanya akan menjadi duri dalam daging…sebaiknya aku pergi keluar dan berbaur bersama sampah-sampah shades lainnya” jiyong mengangkat tubuhnya dan berbalik untuk kemudian meninggalkan ruangan.

“ji, tunggu!” kiko bangun dan bermaksud mengejar jiyong namun tangan jae joong menghentikannya. “Biarkan dia, mizuhara…” jae joong lalu tersenyum simpul sambil mengambil sebuah cerutu baru dari balik mantelnya.

***

            Nafas jiyong memburu saat ia berjalan cepat keluar dari ruang VIP. Sial benar ia harus dipermainkan seperti tadi. Saat pintu ruang VIP terbuka dan jiyong kembali melihat pemandangan pesta ia perlahan merasa lega dan tenang.

“’ohhh romeo…kenapa namamu romeo?’ ya aku tidak tahu, bodoh. Ibunya yang memberikan nama sialan itu…” jiyong tersenyum saat melihat sosok pria jangkung berambut biru terang tengah terduduk tepat disamping ruang VIP sambil memegang sebotol wine merah dan buku novel. “ohh jiyong sudah selesai?” TOP lalu berdiri dengan susah payah dan tersenyum padanya.

“oh kau mau ini?” TOP lalu menyodorkan botol wine yang dipegangnya.

“hyung, kau mabuk…” jiyong mengambil botol wine tersebut dan langsung menopang tubuh TOP yang terlihat mulai terhuyung-huyung.

“aku? Mabuk? Hahahhahahha! Semuanya mabuk di dalam dunia ini ji…BANZAI!”

“kita kembali saja hyung…pesta ini tidak ada bagus-bagusnya. Orang macam kita hanya akan dipandang sebagai sampah…” jiyong tersenyum simpul dan mulai berjalan membawa tubuh besar TOP menuju pintu keluar sementara orang-orang dalam pesta memberikan tatapan sinis pada mereka.

“ughh…tenang saja kawan…jangan sedih…aku sudah menyiapkan kejutan untuk mereka semua…dan oh…saat kita pulang nanti aku ingin bicara serius…aku menemukan sesuatu yang pasti akan kau sukai…well..setidaknya cobalah untuk menyukainya karena ini bisa jadi kunci kita untuk….” TOP berhenti sebentar dan mendorong jiyong dari tubuhnya ia lalu berbalik dan berteriak pada tamu pesta “KELUAR DARI TEMPAT BUSUK INI!!!” langsung saja para undangan pesta yang merupakan anggota shades mengeluarkan senjata api dan menodongkannya pada TOP.

“hey..hey…pria mabuk. Dia tidak tahu apa-apa..jadi biarkan kami pergi, oke?” jiyong lalu menarik kembali tubuh TOP untuk menuntunnya keluar ruangan.

“apa-apaan itu, man? Kau membuat kita terlihat jadi sebuah kecebong kecil yang dibagi jadi dua….menyedihkan…aaaargghhhh!” TOP menampar dahinya kuat-kuat.

“tak ada gunanya bertengkar dengan mereka, hyung. Lebih baik kita yang mengalah…”

“ooohh….itu baru jiyong…kalau GD mungkin dia akan….membuat…kari ayam…zzzzzz….” jiyong menggeleng saat akhirnya TOP benar-benar jatuh dan tertidur di lantai. Ia lalu melirik pada daesung dan youngbae yang sudah menahan tawa sedaritadi.

“hey dua pemalas, sedikit bantuan aku rasa akan baik disini…” daesung dan youngbae lalu berjalan cepat ke arah jiyong tak memperdulikan tatapan dan ocehan sinis dari tamu-tamu undangan yang lain.

“hahhahahaa..demi tuhan…hyung, aku sudah merekamnya…” daesung berbisik pada telinga TOP dan bersama jiyong dan youngbae mereka mengangkat tubuh besar TOP. Jiyong tersenyum dan menghela nafas ketika ia teringat perkataan TOP barusan. Kalau GD mungkin sudah siap untuk berkelahi dan membunuh semua orang ketika dihina. Tetapi jiyong, jiyong tidak keberatan menerima hinaan sekali dua kali dan lebih memilih untuk diam lalu tersenyum pergi daripada membuat masalah. Itu memberikan sebuah angin sejuk pada dirinya. Ia berhasil melakukan apa yang seharusnya jiyong lakukan bukan GD. Lebih baik pergi daripada menghancurkan diri sendiri dengan amarah dan emosi yang tidak ada gunanya. Ia merasa tenang, sekarang ia akan kembali ke apartement dan kembali pada Dara, kembali pada malaikat cantiknya. Ia sesekali tersenyum memikirkan apa yang akan ia lihat saat pulang nanti. Sebuah pipi yang menggembung atau pelukan erat karena kecemasan. Oh, betapa ia telah merindukan Dara lagi dan lagi, padahal mereka baru berpisah sebentar. Jiyong sudah siap mengambil langkah lagi saat tiba-tiba saja matanya terbelalak dan cengkramannya pada tubuh TOP terlepas membuat pria itu jatuh ke lantai kembali. Ia seperti melihat sebuah fatamorgana atau setidaknya itu yang ia percayai. Ia melihat seseorang yang amat sangat cantik dan juga sangat familiar membuat perasaan dalam dirinya bercampur aduk menjadi tak karuan.

“Da-Dara…” jatungnya hampir saja berhenti saat nama orang yang sangat ia cintai itu terucap oleh bibirnya. Ia tak mau mempercayai apa yang ia lihat. Pintu utama yang megah terbuka dan seorang wanita yang sangat cantik berjalan perlahan seraya memasuki ruangan. Tubuhnya kecil dan lembut terbalut sebuah gaun merah muda yang halus sehingga dapat membuat semua yang melihatnya terdiam. Aroma dari tubuhnya sangat harum hingga memabukkan siapapun yang berada di dekatnya.

“Da-Dara?”

“hey, ji….”

 

***

NOTES:

ha-hai? bagaimana? semua sehat?

*ditampar pake rotan*

ba-baiklah! baik baik! maafkan sayaaa! ini udah lama banget kaaan huhuuu maaf ya akhirnya baru selesai chapter 9 setelah ohhh gataulah ga pengen inget udah berapa lama wkakakakk!

jadiiiiii akhirnyaa ini FF bisaa kembali lagii hahahhaha….tapi gantung. iyaa iyaa tau…saya siap kok mau diapain aja…karena ujian telah selesai daaaaaan udah pada liat dong Dara sama GD ke disneyland tokyo? poto bareng. tag2an poto. dara bilang ucapan terima kasih langsung ke GD. waaaah gangerti lagiii dah apa maksudnya. yang jelas saya senang dan langsung ziiiiiip! update FF ini untuk merayakaaan. saya harap teman-teman tidak lupa ya pada alur ceritanya hahhahahahhahah!

sebenernya udah mau nyerah loh sama FF ini soalnya ga ada inspirasi dan pas banget kan kemaren isu2 GD ama tusuk konde sedap malam itu beredar jujur membuat saya down dan berkata “yahh…mungkin emang OTP gue ga jodoh…” dan jujur awalnya mau ngapus FF ini dari komputer dan pensiun dari dari dunia ngefans2 daragon lol. cuma saya inget yang membuat saya bisa nulis yang menginspirasi ya couple ini loh yang buat saya memulai untuk berkarya baik gambar dan nulis. jadi saya ga bisa melepaskannya begitu aja karena mungkin sudah mendarah daging lololol.

yahhh…doakan saya untuk terus update ya mumpung libur hahahhahahha!

DAN OOOH! POSTER KEREEN DARIII MBAK TITAA (cr on picture) YAA^0^ makasih mbaak eee udah bikinin poster lagiii kalo baca ini plsss terimalah salam kechup basah dari saya wakakakak

terima kasih ya semuaaa^^

salam beras kencur! muaaaaaah

-HABIBANONO-

Advertisements

20 thoughts on “My Life as an X-agent: Chapter 9

  1. Haha… Sumpah lupa saking kelamaany ga dpost. Hehe….dan apa yg akan jiyong lkukan liat dara dsana. Kekekekeke…. Emosi kah. Haha

  2. Eonni bertanya kita sehat? Ohh tentu saja, dan omong-omong kenapa ini menggantung? Eonni pengen di gantung juga? Oh god, aku kira ff ini bakal punah begitu saja. Lanjooottt juseyoo

  3. Hampir lupa chap sblmnya saking lamanya di updte kkkkkk tp udhh inget lagii,jgn brhnti stgh jalan dng thor nangung bgt seengaknya selesain dl ini ff kkkkkk yaampun kasian ji di hina gt tp utgnya ji gak bgt nanggepin,trus gmma tu nsib dara ?dia bakal ttep msk ke ruangan nya itu?smga ji bsa nangani dara deh

  4. Pas baca email kirain ini ff baru saking lupanya hehehe…
    Tpi pas buka trnyata bukan…dan akhirnya inget juga setelah baca beberapa paragraph…
    Tapi respect sma author yg masih mau ngelanjutin ini…mkasih perjalanan anda masih panjang…👏👏👏

    Jadi ditunggu buat next chapternya…hengsoooo👉👈❤❤❤

  5. Aigoo .ni ff drama action comedy .
    Lucu bgt .apalgi tabi oppa lucu pas bilang c.bitch irisan jeruk mandarin ..
    Hebat unie bqn ff nie .👏👏
    Ng.buat yg bca.a tegang.sedih.ketawa d.waktu yg brsamaan.

  6. Jiyong dihina tapi diem aja,
    Kayanya bola mata jiyong akan keluar tuh pas liat dara
    Kira2 apa ya yang akan jiyong lakuin nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s