The King’s Assassin [41] : The Difficult Choice

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

“Jeoha… Profesor Choi dan noona Anda menunggu ada di salah satu ruangan, mereka ingin bertemu dengan Anda,” Senghwan segera menginformasikan kepada Jiyong yang baru saja memasuki Istana Selatan diiringi oleh para pengiringnya.

“Sampaikan pada mereka aku akan menemui mereka besok,”

“Tapi Jeoha, mereka bilang ini sangat penting,”

“Aku lelah. Katakan pada mereka untuk menungguku… besok.”

“Tapi Jeoha…”

“SEUNGHWAN!!!” seru Jiyong membuat sang Eunuch malang itu membeku di tempat. Jiyong menyipitkan mata dan mengerutkan wajah saat dia menoleh pada Seunghwan yang membungkukkan kepala. Jiyong memegangi pundak Seunghwan dan mencengkeramnya keras, seolah tidak sanggup berdiri sendiri.

“Kenapa, apakah ada masalah, Jeoha?”

“Maafkan aku. Aku hanya lelah.” Dia meminta maaf dan sang Eunuch menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Saya juga meminta maaf karena sudah memaksa, Jeoha. Saya akan bicara pada mereka dan menyampaikan pesan Anda. Tapi saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan bak mandi untuk terlebih dahulu, Jeoha. Silakan Anda beristirahat dahulu di dalam kamar,”

“Terima kasih,” sang Putra Mahkota memasang sebuah senyum terpaksa dan berjalan menuju ke kamarnya.

“Oh, Seunghwan…” dia berbalik pada Eunuch Seunghwan yang sudah berjalan menuju ke kamar mandi sang Pangeran.

“Yeh, Jeoha…”

“Periksa keadaan Sandara-ssi setelah ini. Dan katakan padanya untuk beristirahat. Sepertinya aku tidak bisa menemuinya malam ini. Mungkin aku tidak bisa datang,” kata Jiyong penuh sesal. Meski sebenarnya dia sangat ingin menemui kekasihnya, tapi dia butuh waktu untuk memikirkan semua ini.

Kesehatan ayahnya semakin memburuk akhir-akhir ini. Apakah tidak masalah untuk mempertemukan sang Raja dengan Dara? Bagaimana Dara akan bersikap nantinya?

Jiyong berencana untuk menyelesaikan semuanya terlebih dahulu, menjadi Raja dan saat dia sudah memiliki kekuasaan dia bisa membuat Penasehat Choi dan orang-orangnya membayar perbuatan mereka. Pada saat itu, Dara pasti sudah menghapus keinginannya untuk membalaskan dendam keluarganya. Namanya, Chaerin, dan Ilwoo akan dihapuskan dari daftar budak, dan mungkin saja itulah satu-satunya waktu yang tepat bagi mereka untuk memulai semuanya dari awal.

Jiyong masih tenggelam dalam pikirannya sampai saat dia berendan dalam bak mandi, memproses berbagai hal dalam pikirannya. Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak hal yang harus dilakukan. Namun terlalu sedikit waktu yang dia punya.

**

“Apa kata Ibu Suri?” tanya Dara pada Bom. Dara memutuskan untuk menemui temannya itu dan bertukar cerita, namun sang Putri malah memberinya kabar yang mengejutkan.

“Dia terlihat ketakutan. Halma Mama sangatlah rumit dan jahat kadang-kadang, tapi jika menyangkut tentang kami… aku cukup yakin dia akan berpihak pada kami – cucu-cucunya,”

“Apakah Anda yakin?”

“Dia tidak pernah melukai kami. Kurasa dia masih peduli pada kami. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya.”

Dara menggeleng-gelengkan kepalanya. Sang Ibu Suri mengacaukan Keluarga Kerajaan.

“Bom… Anda bisa saja terluka,”

“Seunghyun akan melindungiku. Aku tahu, dia akan melindungiku.” Bom menggenggam tangan Dara. “Dara-ah, kau bilang Sanghyun masih hidup dan Menteri Kim yang merawatnya.”

“Neh.”

“Seunghyun bertemu dengan Menteri Kim kemarin. Dara… kupikir jawaban dari keadilan yang selama ini kau pertanyakan telah ada di tangan mereka,:

“Neh. Sanghyun, Menteri Kim, dan Master Wu bekerja bersama-sama untuk itu. Dan Jeoha perlu segera mengetahuinya,”

“Aku mencoba memberitahu Eunuch Seunghwan untuk mengatakan pada adikku agar menemuiku dan Seunghyun sehingga kami bisa membicarakan tentang masalah itu, tapi Eunuch Seunghwan bilang suasana hati Pangeran sedang buruk. Dia tidak mau menemui siapa pun saat ini,”

“Benarkah begitu? Kalau begitu aku akan mencoba membujuknya,”

**

“Bwoh?” mata Dara membulat sempurnya saat Seunghwan memberitahunya bahwa sang Pangeran tidak mau menemuinya malam ini.

“Yeh, Dara-ssi. Putra Mahkota datang tidak dalam suasana hati yang baik, yang sebenarnya cukup mengejutkan karena beliau masih baik-baik saja saat kembali tadi. Saya jadi penasaran apakah pertemuannya dengan Raja tadi bermasalah,” cerita Seunghwan pada Dara, terlihat sangat mencemaskan sang Putra Mahkota.

Dara menggigit bibirnya. Eunuch Seunghwan benar. Mereka masih baik-baik saja saat mereka kembali tadi. Jiyong masih sempat bercanda sebelum dia—

Seketika itu juga Dara tersadar. Jiyong menemui ayahnya. Apakah terjadi sesuatu dalam diskusi keduanya?

Dara mulai berjalan mendekati kamar sang Pangeran, namun Eunuch Seunghwan mencegah langkahnya, takut jika nanti dia akan kembali kena marah.

“Dara-ssi…”

“Aku harus menemuinya. Aku harus bicara padanya,” Dara cemas. Setelah semua yang terjadi pada mereka malam sebelumnya, apakah Jiyong akan mengacuhkannya begitu saja? Apakah pria itu sama sekali tidak memiliki rencana untuk bercerita padanya tentang apa yang mengganggunya?

“Mungkin Anda bisa menemui beliau besok,”

“Tapi… Seunghwan,”

“Saya minta maaf. Beliau berkata beliau tidka akan menemui Anda malam ini,”

“Beliau berkata seperti itu?”

“Neh. Saya minta maaf, Agassi,” kata Sang Eunuch, melihat ekspresi wajah Dara meredup begitu dia berkata seperti itu.

“Tidak apa-apa.” Dara mencoba tersenyum.

“Jangan khawatir! Beliau pasti akan menemui Anda jika Anda dibutuhkan. Selamat beristirahat,”

Bahu Dara lemas dan dia berbalik, terluka mendengar perkataan terakhir sang Eunuch. Jiyong sungguh-sungguh berkata tidak ingin menemuinya malam ini? Apa? Pria itu akan memanggilnya jika dia dibutuhkan? Dara merasa buruk. Dia mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya yang tiba-tiba bermunculan dalam kepalanya sata dia berjalan pergi.

Beginikah perasaan para Selir Istana jika Raja enggan menemui mereka? Tapi Jiyong masihlah Putra Mahkota. Saat dia menjadi Raja… apakah dia juga akan mengangkat seorang selir atau bahkan lebih? Hatinya serasa diremas. Setelah dosa mereka semalam, dia tidak ingin memikirkannya, namun itulah kenyataan pahitnya. Meski Jiyong telah berjanji padanya bahwa dia akan menjadikan Dara sebagai Ratu, namun bukan berarti bahwa dirinya akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Jiyong. Para Raja selalu bisa memiliki wanita mana pun yang mereka kehendaki yang bisa memberikan mereka keturunan. Dara mendesah pasrah.

Kenapa dia harus memikirkan tentang hal itu?

Dara berjalan kembali ke markas dan melihat Harang sedang bercerita kepada para prajurit yang berkumpul mengelilingi api unggun dan minum-minum.

“KOMANDAN!!!” Hong dan yang lainnya melambaikan tangan kepadanya. Dara memaksakan sebuah senyuman. Dengan malas dia berjalan menghampiri mereka dan duduk di sebelah Hong.

“Yah, Harang. Sana pergi tidur. Ini bukan tempat untuk bocah sepertimu,”

“Tapi noo—- KOMANDAN! Aisht Komandan, jangan merusak kesenangan!” kata bocah itu dan Dara hanya memutar bola matanya.

“Kalian sedang minum-minum?” tanyanya kepada para prajurit dan Hong menepuk punggungny dengan keras membuatnya terbatuk-batuk. Dara berusaha mengendalikannya dan untungnya dia berhasil.

“Sangat, Komandan. Sangat!”

“Aigoo, Pangeran kadang-kadang sangat murah hati. Beliau mengijinkan kita minum-minum!”

“Neh! Suasana hatinya sedang baik sepanjang hari ini.”

Dara memutar bola matanya dan mengangkat sebelah alisnya sambil menekuk kakinya dan memeluknya, untuk kemudian digunakan sebagai sandaran dagunya.

“Jangan terlalu percaya diri, bahkan seorang Raja bisa saja berubah pikiran. Apalagi seorang Pangeran,” desah Dara.

“Kenapa?” tanya Harang yang duduk di sebelah noona-nya.

“Apakah Anda baik-baik saja, Komandan? Apakah ada masalah?”

“Tidak apa-apa,” jawab Dara sambil menyipitkan mata dan memfokuskan pandangan matanya pada lidah api yang menari-nari. “Tidak ada masalah apa pun, sungguh,”

“Aigoo, kami sebenarnya sedang menunggu Anda tapi Anda malah bersikap seperti itu. Marilah Komandan, minum,” Hong mulai mengisi sebuah cangkir.

“Aigoo, aku tidak—,” Dara memberi isyarat tidak dengan tangannya namun dia ingat pria-pria ini melihat dirinya sebagai salah satu dari mereka. Dia menelan ludah.

Dara tidak pernah mencoba untuk minum. Meminum arak hanyalah untuk wanita di rumah gisaeng. Dia melihat Harang yang sepertinya akan mengatakan sesuatu untuk menghentikan Hong, tapi dia menggelengkan kepalanya memberi tanda kepada sang bocah. Dia melihat Harang membuka mulutnya lebar namun dia memeringatkan dengan tatapannya.

“Anda tidak minum???” tanya Hong membuat semua orang terdiam. Suasana menjadi senyap untuk beberapa saat, semua pria itu menatapnya dengan penuh rasa penasaran.

“A-a-ni…” Dara tertawa. “Maksudku, aku tidak minum… seperti itu! Pria macam apa yang butuh cangkir untuk minum??? Huh???” katanya dan segera meraih kendi arak dari Hong dan menenggaknya langsung.

Dara meringis namun tetap menelan cairan pahit itu. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan meletakkan kendi kembali ke meja kecil.

Para prajurit terngaga menatapnya. Dara tersenyum bangga sebelum akhirnya dia merasa pandangannya mulai kabur. Dia merasa panas, seperti demam, namun juga merasa bebas. Seolah dia mampu melakukan semuanya. Dia bisa mengatakan apa pun. Efeknya sangat instan. Dia mulai mabuk, dan dia menyukainya.

“WHOAAAA!!!” para pria itu bertepuk tangan dan menyoraki Dara, wanita itu hanya meringis.

“Mana arak dari Utara? Bawa semuanya ke mari!!!” teriaknya dan semua orang bersorak senang, kecuali Harang yang hanya menatap ngeri.

Dan sebelum bocah itu bisa mencerna semuanya, tubuhnya sudah berlari melesat menuju ke kamar Pangeran.

Tidak begitu jauh, sebuah sosok dalam kegelapan memperhatikan semua orang di lapangan dengan cermat. Dia perlahan mempelajari semuanya dan begitu memastikan tidak ada orang  yang melihat, dia segera berlari, melompat dari atap turun ke baris pertama bangunan hingga tempat yang dia tuju.

**

Jiyong memijat kepalanya, sakit kepala mulai menyerang karena dia terlalu banyak memikirkan permintaan ayahnya.

Apakah Raja sudah mengetahui tentang Dara? Kenapa ayahnya ingin segera bertemu dengan wanita itu? Bagaimana reaksinya nanti?

Apakah Dara sudah siap untuk hal itu?

Tidak. Jawabnya. Ini masih terlalu dini. Jiyong tidak ingin mengambil resiko apa pun. Meski itu adalah ayahnya sendiri.

“Seunghwan!” teriaknya dan Eunuch-nya yang setia segera berlari masuk ke dalam kamarnya.

“Apa kau sudah mengecek keadaannya?”

“Dara-ssi?”

Jiyong perlahan mengangkat kepalanya dan mendelik menatap Eunuch Seunghwan. “KENAPA? APA ADA YANG LAIN LAGI SELAIN DARA???”

“Mungkin saja yang Anda maksud adalah kakak Anda yang juga berada di sini,” gumam Seunghwan.

“AISHT!” Jiyong mendelik pada Eunuch Seunghwan membuat pria malang itu menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dengan tangan, takut jika Pangeran akan melemparinya dengan sesuatu.

“Periksa keadaannya sekarnag! Ppalli!!!”

“Tapi Jeoha… dia kemari tadi. Dan dia bilang dia ingin menemui Anda. Jangan khawatir, saya bilang padanya bahwa Anda tidak akan menemuinya mala mini. Saya rasa dia mengerti karena setelah dia mencoba membujuk saja, dia kembali ke kamarnya.”

“KAU APA?” Jiyong bangkit dari duduknya. “APA YANG KAU KATAKAN PADANYA???

Sang Eunuch mencoba mengingat segala yang dia katakan pada Dara. Dia menatap ke arah langit-langit, memiringkan kepalanya… kemudian menunduk dengan masih memiringkan kepala.

Dia mengatakannya dengan benar, bukan begitu? Tanyanya pada dirinya sendiri. Dia hanya mengatakan kepada Dara bahwa Pangeran tidak akan menemuinya.

“AKU TIDAK BILANG AKU TIDAK AKAN MENEMUINYA, DASAR BODOH! AKU BILANG PADAMU AKU. MUNGKIN. TIDAK. AKAN. BISA. MENEMUINYA!!! AISHT!!! JIKA TERJADI SESUATU, JIKA DIA SALAH PAHAM, AKU BERSUMPAH AKU AKAN MENGIRIMMU KE NERAKA. CAMKAN KATA-KATAKU!!!” sang Putra Mahkota mendelik tajam pada Eunuch Seunghwan yang mengkerut ketakutan. Dia segera keluar dari kamarnya, mulai memakai sepatu dan mengikat jubahnya, kemudian berjalan dengan penuh amarah membuat para pelayan di depan kamarnya menundukkan kepala padanya.

“Jeoha… maafkan saya!” sang Eunuch mengikuti tuannya sambil berusa meminta ampun.

“DIAM!”

“Jeoha!!! Aigoo!!! Jeoha!!!” Seunghwan hampir saja menangis saat dia melihat sosok Harang berlari ke arah mereka. Dia menyipitkan mata dan mencondongkan tubuh, begitu dia yakin bahwa matanya tidak salah, dia segera menghentikan langkah. Matanya melebar melihat kepanikan yang bisa terbaca jelas di wajah bocah itu. Dia menutup mulutnya.

Apakah terjadi sesuatu? Perlahan-lahan seolah jiwanya terbang meninggalkan raganya.

“JEOHA! JEOHA!!!” Harang terengah-engah. “Ikutlah sengan saya, Jeoha!”

“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Jiyong.

“Noona,” Harang merendahkan suaranya. Dia mendekatkan diri dan membisikkan kalimatnya yang selanjutnya pada Jiyong, sang Eunuch ikut mendengarkan.

“Noona minum-minum bersama dengan para prajurit sekarang! Dia bahkan meminta lebih banyak arak lagi yang dibawa dari Utara!!!”

“MWORAGGOOOOOO????”

Eunuch yang malang hanya bisa menundukkan wajahnya dan berusaha untuk kabur, namun sang Pangeran sama sekali tidak peduli.

Dia segera berlari ke markas prajuritnya dan begitu dia sampai di lapangan, dia segera memeriksa semuanya, mencoba menemukan sosok Dara, namun tidak ada. Dia berjalan mendekat dan membuat semua orang menyadari kehadirannya.

“JEOHA!!!” para prajurit itu berdiri dan membungkukkan badan padanya, semuanya langsung terdiam dan meremas-remas tangan masing-masing.

“Di mana Komandan kalian?”

Mereka saling pandang, ekspresi wajah dari sang Pangeran sudah sanggup membangkitkan bulu roma mereka.

“APA AKU HARUS BERTANYA DUA KALI???”

“Tidak… tidak, Jeoha!!!” salah seorang menjawab. “Beliau bersama dengan Hong. Beliau mulai mengoceh tak jelas dan menjadi sangat liar. Lalu beliau mulai muntah-muntah dan — AAACCCK!!!”

Pria itu tidak sanggup lagi melanjutkan karena sang Putra Mahkota sudah mencengkeram pakaiannya dan mendelik tajam padanya.

“Jeoha… —aaaacck…”

“Di mana mereka?”

“Jeoha…”

“DI MANA MEREKA??!!”

“Ke kamar Komandan, Jeoha!”

Mata Jiyong melebar dan melepaskan pria itu, segera berlari menuju ke kamar Dara. Dia berlari dan terus berlari sampai dia melihat Hong yang sedang membantu Dara menuju ke kamarnya. Tangan Dara melingkar di badan Hong sementara tangan pria itu diletakkan di pinggang Dara. Jiyong mengepalkan tangannya kuat.

“Biarkan saja dia,” katanya dari belakang mereka. “KUBILANG BIARKAN SAJA DIA!!!” Jiyong menarik Dara dari Hong yang terkaget-kaget – namun pria itu segera mundur.

“Jeoha! Ada apa?”

“Kembali ke pasukanmu! Aku perlu bicara padanya,” kata Jiyong mencoba mengontrol emosinya.

“Tapi beliau sedang mabuk,”

“Aku akan… aku akan mengurusnya,” Jiyong segera menyingkirkan pria itu yang sempat ragu pada awalnya, namun melihat tanda bahaya di mata sang Pangeran, dia segera pergi dari sana.

“Beraninya kau bersikap begitu!!!” kata Jiyong sambil meletakkan Dara di kasurnya. Dia menangkup kedua pipi Dara dan tidak bisa menahan mulutnya untuk mengeluarkan umpatan.

“Oh… Anda di sini… saya pikir Anda tidak mau menemui saya,” Dara menyeringai pada Jiyong.

“Kau akan membayar untuk ini! Aku bersumpah!!! Ini sudah sangat keterlaluan! Beraninya kau tertawa bersama mereka! Minum bersama mereka! Dan membiarkan pria lain menyentuhmu seperti itu??? huh?” Jiyong marah, sangat marah dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Pergilah, saya ingin tidur…” kata-kata Dara tidak begitu jelas. “Aku juga tidak ingin menemuimu,” dia cegukan dan mulai melepas pakaiannya.

“Aaaa! Panas sekali!”

“D-d-ara…” mata Jiyong melebar ngeri. Dia segera meraih selimut dan menutupi tubuh Dara yang sudah separuh telanjang, namun wanita itu berdiri dan mendorong Jiyong menjauh.

“Saya merasa buruk… apa Anda tahu? Tapi Anda adalah Putra Mahkota dan saya ini hanyalah wanita rendahan. Saya hanya ingin tahu apa yang meresahkan Anda,”

“Dara… maafkan aku. Aisht! Kau mabuk. Ayo kita bicarakan bes—,”

“Shhh… saya masih bicara. Anda… dengarkan, arasso?” Dara merasa berani dan seolah mendapat kekuatan baru dari alkohol yang diminumnya. Sang Pangeran hanya bisa ternganga.

“Tadi… saya bertanya-tanya, apakah para selir juga merasa seperti ini. Dipanggil hanya saat Raja ingin menemui mereka… dikunjungi hanya untuk memuaskan kebutuhan Raja. Aigoo. Saya ini tidak ada bedanya. Setelah semalam…” Dara mulai menangis. “Setelah semalam, Anda berkata Anda tidak ingin menemui saya malam ini? Apa pun alasan Anda, jika Anda benar-benar peduli Anda pasti akan mengunjungi saya meski hanya sesaat dan menanyakan keadaan saya.”

“Dara, kumohon jangan. Jangan berpikiran seperti itu!” Pangeran menarik Dara padanya, namun wanita it uterus memukuli dadanya. Pukulan-pukulan lemah itu tidak sebanding dengan perkataannya yang sanggup menembus kulit Jiyong, langsung melubangi hatinya.

“Saya merasa sangat buruk. Jika ada yang meresahkan Anda, kenapa Anda tidak bisa mengatakannya pada saya? Saat Seunghwan menghentikan saya untuk masuk ke dalam kamar Anda, saya menyadari bahwa saya ini terlalu ambisius. Apa yang saya pikirkan? Tapi dia hanya melakukan pekerjaannya,”

Jiyong memejamkan matanya dan terus memeluk erat tubuh Dara.

“Akan kupastikan dia membayar semua ini,” gumam Jiyong penuh emosi.

“Dara, kumohon jangan berpikir seperti itu. Kenapa kau jadi seperti ini? Kau tahu aku mencintaimu. Kau tahu seberapa besar cintaku padamu. Apa maksudnya itu tadi? Huh? Kumohon jangan biarkan pikiran-pikiran itu merusak hubungan kita,”

“Tapi Anda akan segera menjadi Raja. Anda akan menjadi sangat berkuasa. Dan Anda mungkin akan menemukan seseorang… jika saya tidak bisa memuaskan Anda… lalu pasti akan seperti ini. Anda hanya akan memanggil saya jika Anda rasa Anda membutuhkan saya,”

“Oh Tuhan… hentikan,” Jiyong merunduk dan menciumi bibir Dara. “Kumohon hentikan, cintaku. Tidak akan pernah ada yang lain.” Katanya di sela-sela ciuman-ciumannya. “Berhentilah menangis, kumohon. Kumohon padamu. Jangan menangis,” katany sambil menghapus air mata di wajah Dara.

“Saya meragukannya,” Dara semakin mengerucutkan bibirnya.

“Oh, kumohon jangan berpikiran begitu,”

“Tapi saya ingin menjadi satu-satunya. Saya tidak ingin membagi apa yang telah menjadi milik saya,”

“Sepenuhnya aku adalah milikmu, cintaku. Sepenuhnya milikmu. Tidak ada yang perlu diragukan lagi. Apa kau melihat ada yang lain? Hanya kau seorang.”

“Anda… tidak akan merasa lelah dengan saya?”

“Tidak akan pernah,”

“Oh… saya ingin tahu apa yang meresahkan Anda… apakah Anda mau menceritakannya pada saya?” mata Dara mulai berat dan kata-katanya semakin tidak jelas.

“Kaulah yang membuatku resah, Dara, aku akan menghukummu di saat kau sudah sadar, tidak seperti ini,”

Dara memeluk Jiyong dan tetap berada di pangkuan pria itu, bergelung seperti anak kecil.

“Tidurlah bersama saya… tinggallah bersama saya malam ini, saya mohon,”

“Ya, tentu saja. Tapi kita harus mengganti pakaianmu dan membasuh tubuhmu terlebih dahulu karena tubuhmu terlalu panas.”

“Saya mencintai Anda…” gumam Dara dan sang Putra Mahkota hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meringis seperti orang bodoh.

Bagaimana bisa Dara melakukan itu? Membuatnya tersenyum setelah semua yang terjadi malam ini?

Jiyong meletakkan tubuh Dara di kasur begitu menyadari kekasihnya itu telah terlelap dan kemudian berdiri.

Dia tidak bisa melakukannya, pikirnya. Seseorang perlu mengurusi Dara dan dia perlu Lady Gong saat ini. Dia segera keluar dan memanggil salah seorang prajurit.

“Cepat! Panggil Lady Gong dan minta dia untuk datang ke mari!!! Harang, panggil Seunghwan segera!”

Jiyong kembali ke kamar Dara dan berlutut di sebelah wanita itu dan mengeceknya. Nafasnya sudah stabil. Jiyong menggeleng-gelengkan kepalanya. Dara sudah terlelap.

“Aigoo… apa yang kau pikirkan?” Jiyong mendecakkan lidah sambil menyingkirkan rambut dari wajah Dara. Dia tengah meraih tangan Dara dan mengelusnya perlahan saat tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap dan yang bisa dirasakannya hanyalah bau lilin yang baru saja dipadamkan.

Jiyong bersiaga dan melihat sekeliling, mencoba menemukan sumber penerangan terkecil hingga pandangannya berhenti ke arah jendela. Keningnya berkerut.

Apakah sejak tadi jendela itu terbuka?

Jiyong bangkit berdiri, perlahan berjalan mendekat ke arah jendela untuk menutupnya, hingga kemudian sebuah sosok melompat di hadapannya membuatnya segera mundur ke tempat Dara berada. Dipeluknya kekasihnya erat, dan dirasakannya Dara mendesah dalam tidurnya.

“Shhh…” sosok yang dilihat Jiyong memiringkan kepalanya. “Biarkan dia tidur dengan nyenyak,”

“S-s-iapa kau?” tanya Jiyong, yang bisa dilihatnya hanyalah siluet seorag pria yang dia yakini pandangannya tertuju pada wanita yang tengah berada di pelukannya.

“Gerakan yang salah, dasar bodoh. Anda tidak akan bisa melindunginya jika seperti itu,” ejek pria itu.

“Dan siapa pun kau, kau pikir kau bisa keluar dari sini hidup-hidup?”

“Well, terakhir kali saya melakukannya… saya bisa. Saya rasa tidak ada alasan saya akan gagal melakukannya kali ini,” pria itu mulai tertawa dan melangkah mendekat pada Jiyong.

“Apa yang kau inginkan?” desis Jiyong sambil menarik Dara lebih mendekat kepadanya, namun sosok pria misterius itu hanya berdecak lidah.

“Saya ragu Anda akan mampu memberikan apa yang saya inginkan. Mungkin tidak sekarang. Mungkin… Anda perlu diberi pilihan,”

Jiyong menelan ludah berat saat melihat kilau sebuah pedang yang mendapatkan sinar rembulan. Inikah sosok pembunuh gelap yang berkeliaran di Hanyang? Jiyong langsung merasa takut hanya memikirkan akan hal itu. Pembunuh itu sudah terkenal tanpa ampun dan kejam. Apakah sekarang waktu bagi Jiyong telah tiba?

Jiyong ingin berteriak meminta tolong namun dia takut pria itu akan melukai mereka. Dia ingin membangunkan Dara. Setidaknya agar wanita itu bisa melarikan diri. Tapi bagaimana?

“Siapa kau?!!! Apa yang kau inginkan???”

Sosok pria itu menggeleng-gelengkan kepala dan berlutut agar mata mereka bisa berpandangan sejajar, namun masih tetap wajahnya tertutup rapat.

“Anda pasti tidak akan berani mengetahui apa yang kuinginkan, Pangeran. Anda tidak akan mungkin berani,”

Mata sang Pangeran melebar saat sosok serba hitam itu mencoba menyentuh Dara. Dia segera mundur dengan Dara masih dalam pelukannya, meski gelap, hingga punggungnya menyentuh dinding.

“JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHNYA!”

“Oh… apakah saya belum memberitahu Anda? Dia. Dialah yang saya inginkan,” ucap pria itu. “Oops! Saya keceplosan mengatakannya. Saya menginginkan dia, Jeoha… bisakah Anda memberikannya pada saya?”

“TIDAAAAAK!!!” teriak Jiyong. Dan dia sengaja melakukannya. Dia membutuhkan pasukannya. Dia membutuhkan perhatian para prajuritnya.

“Tidak? Baiklah. Saya akan memberikan sebuah pilihan kepada Anda kalau begitu,” tubuh Jiyong sudah gemetaran. Pria itu telihat seperti orang gila dari caranya bicara. Dari caranya dia bergerak.

“Bagaimana jika… saya meminta Anda memilih…” kata pria itu. “Wanita ini… atau ayahmu?”

Tubuh Jiyong semakin gemetaran. Tenggorokannya kering dan dia tidak bisa mendengar apa pun. Yang bisa didengarnya adalah saura jantungnya sendiri yang berdetak sangat keras.

“Kenapa kau melakukan ini?” hanya itu yang berhasil keluar dari bibir Jiyong. Tenggorokannya tercekat dan dia merasa sangat tidak berdaya.

Si sosok pria misterius baru akan bergerak maju mendekati Jiyong saat mereka sama-sama mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Pria itu segera mundur dan menuju ke jendela.

“Urusan kita masih belum selesai. Pikirkan pilihan itu baik-baik,”

“JEOHA! JEOHA!!!” itu adalah Seunghwan dan beberapa orang prajurit. Mereka segera mendobrak masuk dan ruangan itu segera terang dengan cahaya dari lentera yang mereka bawa. Jiyong segera memeriksa ruangan, namun pria tadi sudah tidak bisa dilihatnya di mana pun.

“Seunghwan, perintahkan semua orang untuk memeriksa seluruh tempat ini dan temukan pria berpakaian serba hitam yang menutupi wajahnya dan bawa dia padaku, HIDUP ATAU MATI!!!”

“YEH JEOHA!!!”

“DAN KELILINGI TEMPAT INI DENGAN PENJAGA!!! PERKETAT KEAMANAN!!!” Jiyong ketakutan. Dia marah menerima ancaman semacam itu. Sang Eunuch segera merespon sementara Harang dan Lady Gong berusaha mengalihkan pandangan saat mereka melihat sang Pangeran menciumi kening Dara sambil menimang wanita itu dalam pelukannya.

Dia marah karena ancaman yang diterimanya menyangkut ayahnya dan wanita yang sangat dia cintai. Dia marah karena dia merasa tidak berdaya dan dia harus mengakuinya, dia merasa takut.

“J-j-eoha…” Dara terbangun dari tidurnya dan Jiyong semakin memperat pelukannya.

“Shh… kembalilah tidur,” Jiyong berusaha menenangkan. “Maafkan aku. Kumohon kembalilah tidur,”

“Jeoha, saya perlu mengurus Dara-ssi. Saya harap Anda bisa keluar sebentar,” Minzy mulai membenarkan posisi kasur dan selimut kemudian Pangeran membaringkan tubuh Dara di sana.

“Aku tidak akan pergi ke mana pun. Bersihkan tubuhnya meski aku berada di sini,” air mata mengalir turun di pipi sang Pangeran, namun dia segera menghapusnya.

“Harang, kembalilah ke kamarmu sekarang, nak.” Perintah Jiyong pada bocah itu dan walau sebenarnya dia tahu bocah itu ingin tetap tinggal, tapi Jiyong memberinya isyarat untuk pergi.

“AKu tahu kau lelah. Pergilah beristirahat,” kata sang Pangeran membuat Harang hanya bisa mengangguk patuh.

Minzy merasa ragu sesaat, tahu bahwa ada Pangeran di dalam kamar sementara dia perlu mengganti pakaian Dara. Akhirnya dia memutuskan untuk menutup jendela dan pintu sebelum mulai melakukan tugasnya.

Namuan sang pikiran Putra Mahkota tengah berkelana di tempat lain.

Siapa pria tadi? Kenapa dia sampai mengancam Jiyong untuk memilih antara Dara dan ayahnya?

Jiyong masih sibuk dengan pikirannya saat Lady Gong memberitahunya bahwa pekerjaannya telah selesai. Dia segera mengucapkan terima kasih kepada sang Dayang Istana dan setelah hanya tinggal berdua dengan Dara, dia segera membaringkan diri di sisi kekasihnya yang masih tidak menyadari kejadian barusan. Jiyong menarik Dara dalam pelukannya, dan hanya dengan merasakan wanita itu dalam pelukannya, perasaannya menjadi sedikit tenang. Hangat tubuh Dara mampu menenangkan pikiran kacaunya dan detak jantung Dara mampu memberinya harapan. Tidak, Jiyong tidak akan pernah meninggalkan Dara – tidak malam ini, besok, atau kapan pun. Tidak akan pernah, khususnya setelah ada ancaman seperti tadi.

“Saya mendengar suara berisik. Ada apa?” gumam Dara tiba-tiba dengan mata masih terpejam.

“Bukan apa-apa,” jawab Jiyong membuat wanita itu mendongakkan kepalanya dan memaksa mata lelahnya untuk terbuka. Tangannya telurur untuk mengelus wajah Jiyong dan dia mendesah.

“Anda terlihat sangat lelah dan kurang istirahat,” katanya dan dia melihat Jiyong memasang sebuah senyum terpaksa saat pria itu menggenggam tangannya kemudian menciumnya.

“Kau terlalu banyak mencemaskan berbagai hal. Kembalila tidur,” ucap Jiyong dan Dara mengangguk seperti anak kecil, semakin mendekatkan diri pada Jiyong, membenamkan wajahnya di lekuk leher prianya.

“Aku mencintaimu Dara… sangat…” kata Jiyong, mengelus rambut Dara dan hatinya membucah saat dia merasakan bibir Dara membentuk senyuman di kulitnya.

Ini sempurna. Apa yang mereka rasakan satu sama lain, sempurna. Kenapa semuanya harus terjadi dan menghalangi cinta mereka? Kenapa semua orang harus berusaha untuk memisahkan mereka? Jiyong memejamkan matanya.

Tidak, dia tidak akan menyerah pada tubuhnya yang lelah. Dia tidak akan menyerah pada rasa kantuk dan lelah yang menyerangnya. Jika dia harus tetap terjaga untuk menjaga Dara, dia akan melakukannya.

Dan beragam pertanyaan yang mulai memenuhi pikirannya. Siapa saja yang tahu Dara berada di sini? Apakah salah satu orang mereka adalah mata-mata dari pihak musuh? Jiyong mengumpat. Jika saja dia mengenali suara pria tadi.

Tapi ada satu hal yang pasti, pikirnya. Begitu dia menangkap bajingan itu, dia akan memastikan dia sendiri yang akan membunuhnya.

Sang Putra Mahkota terus terjaga sepanjang malam, menunggu laporan namun tidak ada yang datang. Orang-orangnya mulai berganti shift penjaga dan mengelilingi seluruh penjuru Istana Selatan. Namun tidak ditemukan satu pun jejak adanya penyusup, Jiyong merasa tubuhnya mulai mengkhianatinya.

Jiyong sudah terlalu lelah untuk berpikir. Telalu marah untuk berteriak. Terlalu takut untuk bertarung. Matanya mulai terasa berat dan dia kembali menempatkan diri di sisi Dara. Dia mencium kepala Dara dan menarik wanita itu semakin dekat, melingkarkan lengannya protektif di tubuh wanita yang dicintainya – sebelum akhirnya dia terlelap.

**

Homaigaaadh~~

Pertama2 saya minta maap.. absen lebih dari dua minggu dari blog.. >.<

Mungkin pada ngira saya wavering, mood anjlok, dan mogok nulis.. :3

Nah, bener sih.. kkkk tapi cuman sehari doang.. XD LOL selebihnya, kehidupan nyata memanggil.. >.< buat idup fangirling aja kudu curi2 kesempatan.. OTL

Walopun telat jauh, tapi satu hal yang pengen saya sampaikan ke temen2.. Entah gimana nanti akhirnya, apa OTP beneran jadi (aamiin pake banget, khususin sholat hajat sampe masuk di doa sebelum minum air zam2.. LOL) atau nggak (nggak aamiin).. tapi saya berusaha bersikap netral. Pertama, siapa saya di hidup mereka.. mereka nggak kenal saya, dan idup saya juga nggak seluruhnya tergantung sama mereka.. So, kalopun ship ini karam sebelum sampe dermaga (ceileee bahasanya… >.<) saya cuman mau memastikan bahwa saya nggak akan menelantarkan apa yang sudah saya mulai.. maksudnya, cerita2 saya yang udah kadung publish bakal saya rampungin.. walopun entah butuh berapa lama.. >.<

Ehem, udahan inget2 kenangan buruknya (meski kalo sekarang inget2 lagi, malah saya ngakak jadinya.. XD LOL)..

Soal PW di chap 39.. maaf buat yang komen, mention, PM di FB sepanjang dua mingguan kemaren.. saya sengaja nggak gagas dulu.. :3 soalnya beneran kalo buka blog, saya bakal nelantarin tugas yang kudu banget rampung.. OTL /walopun akhirnya malah terjebak spazzing di TL/
Jadi, buat yang belom dapet PW, saya minta tolong angkat tangan masing2 di kolom komen chapter ini.. Saya nggak mau repot nyari tau udah pada cukup umur belom itu yang pada tunjuk tangan, Allah udah nugasin malaikat buat masing2 kok.. jadi yang belom berhak baca, nggak usah maksa yaa~ :p

Doakan saya, semoga bisa update tiga cerita saya yang udah nangkring di DGI.. >.< ya, ya, ya..

See you in the next update!! XD

<< Previous Next >>

Advertisements

59 thoughts on “The King’s Assassin [41] : The Difficult Choice

  1. Il woo oppa kah itu? yang menginginkan dara unnie? #kok puitis gini sihh# aduhh, harus perketat keamanan deh, kasian juga sama prajurit prajurit yg ngejaga istana, tugasnya ditambah😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s