FICTION AND FACT [Oneshoot]

2e696f2fca9343d8bcf745e099ecc4f5

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

I’m happy

We are together

Now is the start

There is no end

.
.
.

 

“Ji Yong-ah.”

Suara itu. Suara lembut yang menyambangi telingaku. Suara favorit yang membuatku selalu candu dengan ia yang melantunkan namaku. Aku tersenyum di balik bantal, masih bergelung dalam selimut tebal yang nyaman.

“Ji Yong-ah, bangun!”

Ia mulai meninggikan nada suaranya seraya menarik-narik kasar selimut yang kini membungkus rapat tubuhku. Bisa ku rasakan gadis itu tengah terduduk di pinggiran kasur. Ah, aku tahu ia mulai kesal, namun aku masih berpura-pura tak mendengar dan melesakkan lebih dalam kepalaku ke bantal. Aku ingin menggodanya lebih lama. Salah satu kegiatan favoritku adalah membuat gadis ini menggerutu.

“Yak! Kau tuli, huh? Cepat bangun atau ku siram kau dengan air dingin!”

Dengan satu gerakan cepat aku membantingkan tubuh mungil itu untuk berbaring di sampingku. Aku memeluk erat pinggangnya, membawa ia dalam dekapan tubuhku. Wajah kami saling berhadapan. Jarak kami sangat dekat dengan aku yang bisa merasakan deru napasnya di permukaan wajahku.

Aku menatapnya dan lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Ia masih terpaku. Mungkin masih kaget karena perlakuanku yang tiba-tiba. Seperti biasanya, hazel itu berkedip dengan lucunya. Manik favoritku yang ku gilai sampai kapanpun.

“Hari bahkan masih pagi namun kau telah terpesona padaku, nona?”

Maniknya membulat seketika, “Terpesona? Padamu? Cih, lupakan! Bagaimana aku bisa terpesona pada pria bau yang susah bangun sepertimu?”

“Bau? Kau yakin?”

“Ya, tentu saja. Aish, aku bahkan tak kuat terlalu lama di dekatmu,” ucapnya seraya menutup hidung dengan telapak tanagnnya.

Aku tersenyum jahil, “Bagaimana bisa kau menyebutku seperti itu jika kau bahkan tergila-gila pada aroma tubuhku yang menurutmu maskulin, huh?”

Pipinya mulai merona dengan maniknya yang membulat lucu. Ish, gadis ini memang tak pernah berubah. Selalu saja salah tingkah jika aku mulai menggodanya seperti ini.

“Ka… kapan aku pernah mengatakannya? Jangan bermimpi, Kwon!”

“Haruskah aku mengingatkanmu? Jika kau lupa, kau selalu menghirup dalam aroma yang menguar dari tengkukku ketika kau berada di bawah kuasaku. Kau bahkan menjerit kenikmatan tepat di telingaku saat terjadinya penyatuan antara kita…”

“Yak!”

Wae?”

“Berhenti mengatakan hal yang menggelikan seperti itu padaku!”

“Menggelikan? Kau menikmatinya, Dee.”

“Ji Yong!”

Aku tertawa tanpa henti melihat ekspresinya yang tak dapat ia kendalikan tersebut. Pipinya makin memerah padam bagai kepiting rebus dengan bibir cherinya yang mengerucut. Sangat menggemaskan.

Arrasseo, mianhae,” ucapku yang masih berusaha menghentikan tawa.

“Kau akan terus menahanku seperti ini?”

Ah, aku baru menyadari bahwa sedaritadi tanganku melingkari pinggang gadis itu tanpa berniat untuk melepasnya, “Aku akan melepasmu asalkan dengan satu syarat.”

“Jangan mulai, Kwon,” gadis itu memutarkan maniknya malas, seakan dapat membaca pikiran usilku.

“Oh ayolah, syaratnya bahkan sangat mudah untuk kau lakukan, Dee.”

Mwo?”

Aku mengarahkan telunjuk tepat ke bibirku, “Morning kiss.”

“Dalam mimpimu, Kwon!”

Tanpa ragu, ia menjitak kepalaku dengan kekuatan yang tak main-main. Membuatku mengaduh serta meringis ngilu hingga ia bisa meloloskan dirinya dariku. Aish, tak disangka ternyata gadis itu menyimpan kekuatan besar di balik tubuh mungilnya.

“Cepat bangun dan mandi, aku akan menyiapkan sarapan.”

Aku mendesah frustasi seraya mengacak-acak rambutku secara kasar, “Aish, ini hari libur, Dee. Tak bisakah kau membiarkan aku beristirahat lebih lama?”

“Lalu kau juga akan libur makan, huh? Matahari bahkan mulai meninggi, Kwon. Berhentilah membantah dan lakukan apa yang ku suruh.”

Gadis itu berdiri menyedekapkan kedua tangannya di depan dada secara angkuh. Ia bahkan menjulurkan lidahnya seraya menatapku tajam. Kekanakkan. Sementara kini aku hanya bisa menghela napas berat lalu mendecak kesal. Oke, kali ini aku kalah.

*****

Aku mengeringkan rambut dengan handuk. Saat ini aku telah selesai mandi, sesuai dengan keinginan gadis menyebalkan itu. Baru saja aku keluar kamar, aroma masakan telah tercium dari arah dapur. Dengan reflek aku melangkah perlahan dan mendapati punggung gadis bersurai kemerahan itu. Ia kini tengah mengenakan celemek dan tangannya memegang sebuah spatula.

“Yak! Kau mengagetkanku.”

Aku terkekeh mendapati ia yang terkejut ketika ku peluk dari belakang. Aku memejamkan mata seraya tersenyum layaknya orang idiot. Aku selalu suka berada di posisi ini. Nyaman dan menenangkan.

“Kau masak apa?”

“Hanya nasi goreng kimchi.”

Aku mengangguk seraya mencium lehernya sekilas. Sungguh, aku tak bisa menahannya ketika gadis ini berada dalam jarak pandangku. Aku selalu merasa gemas dan ingin selalu menempel ketat padanya bagai permen karet.

“Duduklah, Kwon.”

Shireo!”

“Aku tak bisa bergerak, bodoh. Aku harus menyiapkan makanan ke piring.”

Aku menggeleng, masih ingin bermanja padanya lebih lama.

“Kau akan membiarkan masakanku gosong, huh? Berhenti merajuk seperti ini!”

“Dee…” aku masih merengek dengan nada manja memanggil namanya.

“Kwon, jebal!”

Arrasseo,” ucapku menyerah namun masih menyempatkan diri untuk mengecup pipinya sebelum beralih duduk ke meja makan.

Gadis itu dengan cekatan menyiapkan segala sesuatunya, dari mulai menata meja makan hingga menyiapkan dua piring nasi goreng dan dua gelas jus jeruk, “Nah, sekarang semua sudah siap. Selamat makan.”

“Dee?”

Gadis itu menghentikan gerakannya yang akan mengambil sendok, “Hm?”

“Aku ingin disuapi.”

Maniknya lagi-lagi melebar dengan mulut yang terbuka lebar, “Kau bisa makan sendiri, Kwon.”

Aku menggeleng, “Aku ingin kau yang menyuapiku.”

“Ck, bisakah kau makan dengan tenang tanpa harus menggangguku?”

“Oh ayolah, hari ini aku ingin bermanja padamu sepuasnya.”

“Kwon…”

“Dee,” aku terus merengek dengan menampilkan sisi imutku yang jarang ku tampilkan di hadapannya.

Aku yakin ia saat ini tengah menahan rasa kesalnya hingga titik terendah. Ia amat membenci ketika aku ber-aegyo di hadapannya karena menurutnya itu amat menjijikkan. Terbukti dengan ia yang hanya terdiam setelah memutarkan maniknya jengkel, namun aku sama sekali tak peduli. Jika keinginanku bisa terkabul hanya dengan cara ini, maka aku akan terus merengek hingga mungkin membuat kepalanya jengah akibat ulahku.

*****

“Aaaaa…”

Aku sengaja membuat suara menggelikan itu ketika ia menyuapiku. Jika tadi aku telah menghabiskan sepiring nasi goreng kimchi dengan ia yang terpaksa menyuapiku, maka kini aku tengah berbaring di sofa beralaskan paha gadis itu sebagai bantalan dengan ia yang lagi-lagi terpaksa menyuapiku buah-buahan.

Aigoo, hari ini kau benar-benar berubah menjadi bayi yang luar biasa merepotkan, Kwon.”

“Tak apalah, lagipula hanya hari ini saja, Dee.”

“Kau benar-benar menjengkelkan.”

“Sekaligus menggemaskan,” aku meralatnya cepat, membuat ia mengulaskan senyum walau hanya sedetik.

“Dan yang lebih menjengkelkan adalah kenyataan bahwa aku tak bisa menolaknya.”

Aku tersenyum penuh kemenangan dengan mulut penuh yang masih dijejalinya beberapa potong apel.

“Kau sangat ahli dalam merajuk, huh?”

“Tentu saja!”

Aku segera menampilkan puppy eyes dan bibir yang sedikit dikerucutkan padanya. Sedetik kemudian ledakan tawa terdengar darinya, ia bahkan melemparkan sebuah bantal kursi tepat ke arah wajahku setelahnya.

“Berhenti menunjukkan ekspresi bodohmu itu, Kwon! Aku tak akan sanggup melihatnya lebih lama. Itu sungguh menjijikkan,” ucapnya yang masih meredakan sisa tawanya.

“Dee?”

“Hm?”

“Berhenti menyuapiku. Aku kenyang.”

Arrasseo, big baby,” jawabnya yang langsung meletakkan garpu di meja.

“Dee?”

Entah mengapa namun aku seakan menikmatinya. Menikmati reaksi gadis itu saat aku panggil, menikmati gerakan lambatnya yang langsung menatap tepat lurus ke mataku, dan menikmati caraku untuk melantunkan namanya. Dee. Anggaplah itu sebagai nama panggilan sayangku untuknya. Hanya dirinya.

Mwo?”

“Tatap aku.”

Ia yang sedaritadi menonton drama favoritnya mulai mengalihkan seluruh perhatiannya padaku. Ia menunduk, sementara aku menengadah. Jarak antar ujung hidung kami mungkin hanya sejengkal. Mata kami bertemu. Manik hazel itu menatapku dengan terang. Seperti biasa, hanya ia gadis yang mampu membuatku terjerat dalam sejuta pesona luar biasanya. Lagi dan lagi tanpa sanggup untuk pernah berkata bosan.

“Jangan pergi dariku. Sampai kapanpun kau harus bersamaku.”

Gadis itu mengernyit dengan ucapanku yang tiba-tiba, “Kau… kenapa? Mengapa kau jadi aneh seperti ini?”

Aku menggeleng, “Tidak. Hanya saja… aku rasa… aku bisa gila jika kau meninggalkanku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Sungguh.”

Ia mengerjapkan matanya, “Jangan berlebihan seperti itu, Kwon.”

“Kau sangat berarti bagiku, Dee.”

“Aku tahu,” jawabnya enteng.

“Aku serius.”

“Begitupun denganku, Kwon.”

“Dee?”

Ne, Kwon Ji Yong?”

“Aku mencintaimu.”

Gadis itu terdiam. Seolah kata yang terlontar dari mulutku adalah ucapan alien yang tak sanggup ia mengerti.

“Tak bisakah kau mengerti ucapanku, Dee?

Lagi. Gadis itu hanya mematung tanpa bereaksi apapun.

“Aku mencintaimu, Park Sandara.”

Untuk ketiga kalinya ia hanya terdiam, dan kini aku mulai tersenyum. Bukan senyuman kebahagiaan, namun senyuman miris yang mulai terkembang di sudut bibirku. Sementara air mulai menggenang di pelupuk mataku, namun gadis itu masih terdiam seakan betah dengan ekspresi dungu yang ia tampilkan tanpa mengatakan sepatah katapun untuk menjawabku.

Senyumku makin melebar dengan air mata yang mulai merembes dari pipiku. Sungguh, aku bukanlah pria yang lemah, namun kali ini aku tak bisa menahannya. Menyadari rasaku yang terlampau besar untuknya membuatku lagi-lagi terjatuh. Aku seakan tenggelam dalam kubangan lumpur yang membuatku terjebak di dalamnya tanpa bisa menyelamatkan diri.

Bukannya tidak ada yang menolongku, namun aku memang sengaja menjebak diriku di sana. Memerangkap perasaanku sendiri di genangan kelam tanpa dasar. Seorang diri, tanpa dirinya. Tanpa gadis yang ku kasihi setengah mati.

 

I will rewrite it again, our story will not end

I will bury the fact that reality is seeping into my skin for now

I rewrite it once again, the start beginning with you and I smiling happily

In case you will leave me, the background is a small room without an exit

*****

“Ji Yong-ah, kau belum tidur?”

Pria yang mengenakan piama itu menengok ke asal suara lalu menggeleng pelan. Wanita yang baru saja masuk dari arah pintu tersebut kemudian duduk di kursi besi pinggir ranjang. Matanya menatap nanar pria di hadapannya yang tengah terduduk di tepi ranjang dingin tersebut.

“Kau sudah meminum obatmu?”

Ji Yong mengangguk patuh.

Charaesseo, nae adeul,” tangan rapuh wanita itu terulur meraih surai berwarna hitam yang tampak kusut milik Ji Yong, mengusapnya perlahan, “Tidurlah, ini sudah larut malam.”

Pria itu tersenyum lalu membaringkan tubuhnya di ranjang sempit tersebut. Hye Mi membantunya untuk membenarkan selang infus yang masih tertancap di tangan Ji Yong dengan hati-hati sebelum menarik selimut untuk putranya tersebut. Suara dengkuran halus terdengar beberapa saat kemudian. Tak terlalu sulit membuat pria itu terlelap dengan obat yang ia minum rutin sebelum tidur sebagai penenang.

Hye Mi termenung menatap pergelangan tangan Ji Yong. Masih terlihat jelas di sana bekas ikatan yang meninggalkan garis berwarna kebiruan. Ikatan yang terpaksa Hye Mi setujui untuk menahan pemberontakan pria itu saat pertama kali dibawa ke tempat ini. Tempat serba putih dimana ia bisa menenangkan diri. Atau mungkin mengasingkan diri?

Saat hendak membereskan nakas dekat tempat tidur, Hye Mi lagi-lagi menatap benda itu tergeletak di sana. Sebuah buku. Buku kumal dengan bolpoin yang terselip di tengahnya yang akhir-akhir ini seolah tak pernah lepas dari Ji Yong. Ia membukanya, dan isinya masih sama dengan yang ia baca terakhir kali. Sebuah cerita. Cerita fiksi tentang kenangan manis yang rupanya hingga saat ini tak mampu dilupakan oleh putranya. Sebuah fiksi yang mengalir dengan penuh bahasa indah dan ketulusan di setiap rangkaian katanya.

Air mata lagi-lagi merebak di pelupuk mata lelahnya, namun segera Hye Mi hapus. Mengingat bagaimana bisa putranya berakhir di tempat ini hanya akan membuat dadanya sesak akibat berkurangnya pasukan oksigen secara tiba-tiba di sekelilingnya. Panggilan sayang itu seolah tak pernah terhapus dari benak Ji Yong. Dee.

Nama itu. Nama yang selalu menjadi tokoh utama dari semua kisah fiksi yang putranya buat. Membaca nama gadis yang tertulis di setiap cerita Ji Yong, membuatnya kembali mengingat sebuah surat yang tadi pagi sampai dan ditujukkan pada putranya tersebut.

Tangannya membuka laci nakas. Di dalamnya terdapat surat yang sengaja ia sembunyikan dari Ji Yong. Surat elegan berwarna merah muda dengan ornamen silver di sekelilingnya. Indah dipandang mata, namun membuat Hye Mi lagi-lagi harus menahan buncahan amarahnya. Surat itu adalah surat pernikahan. Tanpa perlu membukanya, nama yang tertera di sampulnya seolah telah menjawab semuanya.

Nama yang dulu terdengar akrab. Ia bahkan menyangka jika nama itu akan bersanding dengan putranya. Namun kini semua telah berubah, perasaan yang dulu terasa hangat berubah menjadi benci yang teramat sangat. Nama yang seakan haram menyambangi indera pendengarannya, nama yang ia ingin hapus dari ingatan Ji Yong. Mengingat nama gadis itu hanya akan mengingatkannya pada sebuah pengkhianatan. Sebuah kemunafikan dari orang biadab yang bermuka tebal.

Hye Mi meneliti lagi, surat tersebut seakan menampilkan kesan kebahagiaan dengan aksara indah di sana. Ia tersenyum miris, ini amat berbanding terbalik dengan keadaan putranya. Matanya tertumbuk di satu titik. Nama itu terlihat di sana, bersanding dengan nama pria lain yang dulu Hye Mi kenal sebagai sahabat putranya.

Park Sandara dan Lee Dong Hae.

 

I’m the writer who lost his purpose

The end of this novel, how am I supposed to write it?

I love you, I keep writing these three words

Setting the warn out pen on the old paper stained in tears

This story can’t be happy or sad

.
.
.

 

–END

*****

Another ‘nista’ story from DG. Inspired by Fiction of BEAST

 

Advertisements

23 thoughts on “FICTION AND FACT [Oneshoot]

  1. Mwoya?.. kenapa ceritanya Nyesek gini?
    Wah… awalnya romantis,so sweet kaya gula
    Tapi.. akhirnya Jiyong berakhir si RSJ?? *benarkan?
    Dara.. nikah sama donghae? Hell dara tega amat mbak ninggalin Jiyong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s