My Boyfriend is Dokkaebi [Chap. 7]

MYD

Author : Oryns
Tittle : My Boyfriend is Dokkaebi
Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong
Support cast : Park Bom, Jung Yonghwa, Song Minho
Genre : Fantasy, Romance

“Jiyong? Disekolahku juga memiliki seorang siswa aneh bernama Jiyong.”

“Jinjja! Seperti apa namja itu Oppa? Siapa tahu mereka namja yang sama.”

“Ani! Mereka berbeda.”

=====

Author POV

Hari kembali berganti lagi. Matahari baru memunculkan sinarnya. Dara masih tertidur pulas tanpa niat untuk bangun pagi dihari libur. Dara menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan mata yang masih terpejam. Tanpa sadar kakinya yang menendang sesuatu. ia menautkan alisnya. Tapi ia kembali tidur tanpa perduli untuk melihatnya.

Beberapa menit kemudian indra penciuman Dara menangkap sesuatu. Bau yang sangat menyengat masuk kedalam lubang hidungnya. Lagi-lagi Dara harus menautkan alisnya. Berusaha tidak perduli Dara kembali mengabaikannya dan memejamkan mata. Bau aneh itu semakin menusuk hidung Dara. Dara menarik napas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa bau itu tidaklah buruk melainkan sangat membuatnya penasaran bau lezat apa ini.

Dara mengintip sedikit dari balik selimutnya. Samar-samar ia melihat sebuah meja kayu kecil kini sudah berada diatasnya. Dara terkejut dan langsung bangun dari tidurnya. Dara dapat melihat berbagai makanan lezat kini sudah berada dihadapannya. Menunggu seseorang untuk memakan mereka.

Dara bersandar didipan. Ia celingak-celinguk mencari sosok Jiyong yang sudah tidak berada diatas sofa. Tak berapa lama seseorang keluar dari arah dapur kecil yang ada didalam Apartement Dara dengan memakai celemek berwarna merah jambu. Dara menatap tak percaya dengan yang ia lihat.

Jiyong segera menghampiri Dara saat ia menyadari Dara sudah bangun dari tidurnya. Segelas susu putih berada dalam genggaman Jiyong. Jiyong duduk dipinggir tempat tidur masih dengan celemek dibadannya dan segelas susu ditangan.

“Pagi Dara.”

“Pagi…Ji.” Jawab Dara kaku.

“Makanlah. Aku baru selesai memasaknya.” Dara menatap Jiyong dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa namja itu memasak makanan sebanyak itu.

“Ini semua…kau yang masak?.” Tanya Dara tak percaya.

“Iya.”

“Bagaimana bisa?.” Dara benar-benar bingung dibuatnya. Ia menatap makanan yang ada dihadapannya sambil menelan ludah. Bukan hanya satu hidangan. Tapi ada 5 macam hidangan berbeda yang dimasak Jiyong. Dan semua terlihat enak.

“Entahlah. Tubuhku bergerak sendiri untuk memasak semua makanan ini. Sepertinya naluri memasakku kembali.” Dara bingung dengan jawaban Jiyong. Ia kembali menatapnya.

“Apa maksudmu?.”

“Ingatanku perlahan mulai kembali.” Jawab Jiyong sambil tersenyum senang.

“Benarkah?.”

“Iya. Biksu Soo sendiri yang mengatakannya. Biksu Soo mempunyai kekuatan yang hebat. Salah satu kekuatannya yaitu ia memiliki keahlian meramal garis tangan. Dan ramalannya tidak pernah salah. Waktu aku bertemu dengannya, Biksu Soo sempat membaca garis tanganku. Lalu Ia mengatakan aku beruntung bisa terpanggil kedunia manusia. Sebab jika aku berada didunia manusia maka perlahan ingatanku akan kembali seiring berjalannya waktu. Dan kini ucapannya telah terbukti walau ingatanku belum kembali sepenuhnya. Tapi aku sudah dapat mengingat caranya memasak. Mungkin dahulu aku adalah seorang Chef. Hahaha…lalu Ia juga mengatakan Takdirku dapat berubah.” Ucap Jiyong menjelaskan semuannya. Terlihat Jiyong yang sangat bahagia.

“Uh-Oh…Baguslah kalau kau bisa mengigat kembali.” Dara tersenyum kaku. Sebenarnya didalam hati, ia juga senang mengetahui Jiyong dapat mengigat masa lalunya kembali. Rasanya ia ingin memeluk Jiyong. Tapi ia menahannya.

“Kau tidak makan?.”

“Ehh, aku…aku jika hari libur biasanya berolahraga dulu sebelum makan.” Ucap Dara berbohong. Ia kan tidak suka berolahraga. Dara hanya merasa sedikit canggung memakan makanan buatan Jiyong.

“Baiklah…kalau begitu minum dulu susu-mu.” Jiyong menyodorkan segelas susu putih yang sedari tadi ia pegang. Dara mengambilnya dan meminumnya sampai tinggal setengah gelas. Dara menaruh gelas susunya diatas meja kayu yang ada disamping tempat tidurnya.

“Kau ingin olahraga apa?.” Tanya Jiyong polos.

“Jo-Jogging. Aku biasa lari-lari kecil disekitar taman yang ada didepan gang.” Jawab Dara gelagapan. Lagi-lagi ia harus berbohong.

“Kalau begitu. Ayo kita berangkat.” Jiyong menarik Dara turun dari atas tempat tidur. Mau tak mau Dara segera mencuci wajahnya dan berganti baju. Begitu juga dengan Jiyong. Dara memakai celana training panjang dan jaket abu-abu. Dara mengikat rambut coklatnya asal. Sementara Jiyong memakai celana training pendek sebatas lutut dan jaket hitam. Jiyong menutupi rambut merahnya dengan Topi berwarna abu-abu yang semuanya ia dapat menggunakan kekuatannya. Masing-masing dari mereka membawa handuk kecil.

Mereka keluar dari Apartment Dara. Tapi Jiyong kembali masuk kedalam Apartement untuk mengambil sesuatu yang sepertinya tertinggal. Dara menunggu diluar Apartment. Beberapa menit kemudian Jiyong keluar dengan membawa keranjang piknik dan sebuah bola basket. Dara terkejut melihatnya.

“Mengapa kau membawa semua itu. Kita bukan ingin pergi piknik.” Tanya Dara heran.

“Aku tahu. Tapi apa salahnya jika kita piknik setelah Jogging. Kita bisa melakukannya ditaman. Aku sudah memasak susah payah.” Jawab Jiyong dengan nada polosnya. Dara tidak bisa menolak dan membiarkan Jiyong yang terlihat aneh membawa-bawa keranjang pikniknya.

Seumur hidup Dara, baru kali inilah dia berolahraga dipagi hari. Ia tidak pernah tahu bahwa olahraga pagi ternyata sangat menyenangkan. Dan baru kali ini juga Dara melihat suasana ramai dipagi hari dengan orang-orang yang sibuk bermain sepedah, sepatu roda, dan skateboard.

Dara menengok kebelakang dan melihat Jiyong yang tertinggal jauh. Tawa Dara meledak melihat gaya Jiyong yang berlari kesusahan sambil membawa keranjang piknik yang lumayan besar dan bola basket ditangannya. Dara menunggu Jiyong menghampirinya. Lalu ia mengambil bola basket ditangan Jiyong. Jiyong terkejut dan tersenyum melihat Dara membantunya. Dara melanjutkan larinya. Sesekali ia mendrible bola kebawah sambil berlari.

Setelah puas berolahraga. Mereka segera menuju taman dan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mereka menuju sebuah pohon yang tidak terlalu besar yang langsung menghadap kedanau buatan.

“Duduklah.” Dara melepas sepatunya dan duduk diatas selimut yang sudah Jiyong bentangkan tadi.

Krrrk

“Bunyi apa itu?.” Ucap Jiyong polos. Jiyong tak menyadari bahwa itu bunyi yang dikeluarkan dari dalam perut Dara. Wajah Dara memerah menahan malu.

“Aku…lapar.” Dara menunduk menyembunyikan malunya. Jiyong tertawa dan segera mengeluarkan isi keranjang pikniknya. Pertama, Jiyong mengeluarkan lima batang lilin kecil lalu menyalakannya dan meletakannya di tengah-tengah sebagai dekorasi. Masih ada lagi, ternyata Jiyong mengeluarkan dan meletakkan sebuah vas berisikan sekuntum mawar merah, lengkap dengan lilin-lilin kecilnya. Mungkin terlihat tidak sesuai di tengah-tengah keramaian orang yang sedang Jogging, naik sepedah, dan juga bersepatu roda. Tapi, Jiyong berhasil menciptakan suasana romantis. Sampai orang-orang yang ada di sekitar sana menoleh dan memandang mereka.

“Kau suka.”

“Rasanya seperti ratu. Bagaimana bisa kau sampai memikirkan untuk melakukan ini semua?.” Tanya Dara heran.

“Ide ini muncul ketika aku memikirkan cara yang tepat untuk menghiburmu.”

“Mengagumkan.”

“Terima kasih.” Jiyong tersenyum senang mendengarnya.

Jiyong mulai mengeluarkan isi keranjang pikni satu persatu. Yang pertama dikeluarkannya adalah piring, bukan sembarang piring, melainkan piring pecah belah. Berikutnya adalah gelas, bukan gelas kertas atau gelas plastik juga, melainkan cangkir kopi. Lalu ada garpu, sumpit, pisau, dan termos. Ternyata keranjang itu besar sekali sampai bisa memuat banyak barang.

Kemudian Jiyong mengeluarkan makanan yang tadi ia masak sendiri. Pertama Salad buah dan sayur. Jiyong menusukan garpunya untuk mengambil potongan kiwi, lalu menyuapkannya pada Dara. Dara tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona menerima perlakuan Jiyong.

Setelah itu Jiyong mengeluarkan Ayam panggang, empat potong sushi berhiaskan kulit ikan tuna, empat buah nasi kepal yang dibungkus lembaran rumput laut, salmon asap gulung yang dihiasi alpukat. Dan yang paling terakhir, sandwich ukuran besar.

“Wah! Sempurna.” Dara bertepuk tangan kecil melihat berbagai makanan dihadapannya.

“Cepat makan.”

“Tapi aku agak malu karena banyak orang yang sedang memperhatikan kita.”

“Abaikan mereka. Kau cukup memperhatikan aku. Tidak perlu memperhatikan orang lain.”

“Mm…Dengan cara itu, sepertinya aku sekarang bisa makan.” Dara tak mengerti mengapa Jiyong berkata seperti itu. Tapi ia merasa didalam dirinya sedang merayakan pesta kembang api. Dara mulai memakan makanan buatan Jiyong tanpa rasa canggung. Dara meletakan garpu ditangan Jiyong, begitu juga sebaliknya, dan mereka mulai makan.

“Hmm…enak.” Dara tidak bisa menggambarkan betapa enaknya makanan yang sedang dilahapnya itu. Garam dan merica yang ditaburkan diatasnya membuat ayam panggang itu terasa lebih lezat lagi dan langsung mencair didalam mulut. Dara bisa mencium wangi minyak perila dari sushi tuna yang dimakannya, lalu dia juga bisa merasakan pedas merica didalam nasi kepalnya. Dara mencoba makanan satu persatu.

Jiyong yang khawatir Dara akan mengalami gangguan pencernaan menyodorkan satu gelas teh.

“Pelan-pelan saja makannya. Nanti perutmu sakit.” Ucap Jiyong khawatir.

“Ini teh apa?.”

“Rooibos.”

Teh itu wangi tapi rasanya tidak terlalu manis, malah cenderung tawar. Tapi tetap saja enak.

“Aku makan banya sekali ya.” Sebenarnya Dara malu jika harus mengakuinya.

“Aku senang melihatmu makan banyak.” Dara merasakan pipinya kembali menghangat mendengar ucapan Jiyong.

“Mana mungkin aku tidak makan banyak kalau makanannya seperti ini. Uhuk-uhuk…”

Walau didalam mulutnya sudah ada satu sushi utuh, Dara menggigit nasi kepalnya dan terbatuk-batuk. Jiyong yang melihat Dara tersedak, langsung memukul-mukul punggung yeoja itu pelan-pelan.

“Pelan-pelan.”

“Aku makan seperti orang yang baru saja menggali lubang.” Walau sebenarnya Dara sangat malu, dia kembali memasukkan makanan lagi kedalam mulutnya. Melihat Dara seperti itu, Jiyong hanya bisa tertawa.

“Sebelumnya aku tidak pernah makan banyak seperti ini. Entah ada apa dengan hari ini. Ji… Kau juga harus makan. Mau aku suapi?” Dengan berani Dara mengajukan diri untuk menyuapi Jiyong.

“Iya.”

“Pasti kau sudah menunggunya dari tadi.” Dara berusaha setengah bercanda. Dara menyuapkan sushi pada Jiyong, yang mengatakan kalau rasa sushi itu menjadi lebih enak lagi karena Dara menyuapinya.

Setelah menyelesaikan makan paginya Dara segera bersandar pada batang pohon dibelakangnya. Dara baru akan berbaring sebentar karena kekenyangan ketika Jiyong menarik tangannya untuk bangun.

“Ayo kita main basket.” Ajak Jiyong.

“Aku tidak bisa main basket. Memegang bola basket saja baru hari ini.” Jawab Dara jujur.

“Aku akan mengajarimu. Aku dapat mengingat semua hal tentang basket. Sepertinya dulu aku bukan seorang chef melainkan seorang atlet basket.” Jiyong berkata sambil tertawa membuat wajahnya bertambah tampan.

Jiyong menghancurkan angan-angan Dara yang berharap bisa berbaring untuk meluruskan badannya. Jiyong menarik tubuh Dara dan tidak menerima penolakan. Jiyong menuju lapangan basket yang sedang kosong dan langsung menembakkan bolanya kedalam ring beberapa kali.

“Kita mau main berapa poin?.”Tanya Jiyong sambil berhenti dari mainnya dan menatap Dara.

“Mm…dua puluh poin. Karena aku tidak main basket, kalau aku berhasil memasukkan bola itu kedalam ring, maka nilaiku empat.”

“Mana ada nilai empat?.” Kata Jiyong heran.

“Dikampungku ada.” Dara tertawa sementara Jiyong menerima kesepakatan itu dengan terpaksa.

“Baiklah. Bagaimana kalau nanti yang menang berhak meminta apa saja dan yang kalah…wajib mengabulkannya. Bagaimana?” Jiyong membuat kesepakatan lain.

“Oke.” Dara mengiyakan tuntutan Jiyong karena merasa yakin kalau dia akan bisa mengalahkan Jiyong, walau pria itu sepertinya lebih jago bermain basket. Kalau Dara menang, dia akan meminta Jiyong membuatkan makanan yang sama dengan yang tadi dihabiskannya.

“Kau duluan.” Jiyong melempar bola kepada Dara yang langsung menangkapnya.

“Kalau aku bisa memasukkannya, beri aku nilai empat. Dan, kau tidak boleh protes. Dan ingat yah, kau dilarang keras berbuat curang. Kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu untuk menang dariku!!!”

“Iya. Tenang saja.”Ucap Jiyong.

“Oke. Kita mulai.” Dara mencuri start. Jiyong belum mulai tapi Dara berlari dengan cepat sampai kedepan ring.

“Kau harus mendrible bolanya!” Teriak Jiyong yang melihat cara Dara yang salah ketika membawa bola.

Jiyong berteriak sambil mengejar Dara, tapi untuk Dara peraturan main basket yang sebenarnya tidak berlaku. Karena ketika dia bermain didesanya, tidak pernah ada aturan jelas. Cukup dengan memberikan nilai saja.

Dara berdiri didepan ring dan bersiap-siap melempar bolanya. Dibandingkan dengan tembakan Jiyong tadi, tembakan Dara langsung masuk kedalam ring. Dara mendapat nilai empat!.

“Yuhuuuuu…!” Teriak Dara senang. Jiyong terkejut dan menatap Dara yang sedang berteriak senang.

“Jadi kita main dengan cara seperti ini?” Tanya Jiyong tak percaya dengan yang ia lihat.

“Menang itu…membanggakan.” Dara menyombongkan diri.

“Membanggakan.” Jiyong meniru ucapan Dara dengan penuh penekanan.

“Ya…pokoknya itu.”

“Oke.” Jiyong mengambil bola dengan cepat dan langsung berlari.

“Aku boleh menghalangimu, kan? Seperti ini?” Dara mengangkat kedua lengannya dan mengayun-ayunkannya didepan Jiyong.

“Iya.”

“Baiklah. Coba saja.”

Demi menghalangi Jiyong, Dara mengayun-ayunkan tangannya yang membuatnya terlihat lucu. Jiyong yang memperhatikannya langsung memutar Dara dan berlari menuju ring.

“Omo!” Ucap Dara terkejut melihat Jiyong yang begitu cepat. Dara berlari dan berniat menarik Jiyong tapi terlambat. Jiyong berhasil memasukkan bolanya kedalam ring.

“Dua.” Ucap Jiyong bangga.

Dara mengambil bola yang berguling dan kembali berlari. Karena sejak awal dia tidak berniat untuk mengikuti aturan, Dara tidak memperdulikan apa yang diteriakkan Jiyong dan membidik ring yang ada didepannya. Dara sedang memperhatikan bola yang dilemparnya melayang ketika tiba-tiba Jiyong menangkap bola itu. Dara terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Sementara itu, Jiyong berusaha menembakkan bolanya dari jarak yang cukup jauh dan berhasil.

“Mana boleh seperti itu?” Dara berteriak memprotes tapi Jiyong hanya tertawa.

“Sekarang kita seri.”

“Huh!” Dara merebut bola dari Jiyong dan kembali menuju ring. Dara memusatkan perhatiannya pada ring yang ada didepannya, tapi Jiyong terus berdiri didepannya. Mencoba menghalanginya.

“Minggir! Kau mengganggu jalanku.” Kata Dara kasar.

“Kau yang pertama kali melanggar peraturan.” Jawab Jiyong santai.

“Mana mungkin!” Dara berusaha mengelak fakta dilapangan. Dara memikirkan cara untuk menghindari Jiyong, tapi bagaimana mungkin dia melarikan diri dari orang yang lebih tinggi darinya. Dengan susah payah dia melempar bolanya, tapi Jiyong langsung menangkis bola itu sehingga terbang kearah lain. Emosi Dara tersulut dan tidak lama lagi bom manusia yang ada didalam dirinya bisa meledak. Sambil memantul-mantulkan bolanya, Jiyong berlari kearah ring ketika dia merasa ada tangan melingkar dipinggangnya.

“Kau tidak boleh melakukan ini.” Protes Jiyong saat menengok kebelakang dan melihat Dara memeluknya dari belakang dengan erat. Mencegah Jiyong memasukkan bolanya.

“Sejak awal permainan, tidak ada peraturan.” Ucap Dara santai.

Satu lengan Dara tetap ada dipinggang Jiyong sementara lengannya yang satu lagi berusaha untuk merebut bola yang ada ditangan namja itu. Tapi, seberapa pun kerasnya dia berusaha, tetap saja tidak berhasil. Shoot,shoot,shoot. Jiyong sudah menembak bola berkali-kali dan langsung berhasil mengumpulkan enam belas poin. Sisa empat poin lagi. Sementara Dara baru satu kali memasukkan bola kedalam ring. Dan poinnya masih saja 4.

Walau tidak terlalu banyak berlari, baju Dara basah oleh keringat dan dia berusaha mengatur napasnya. Dara yang tidak pernah suka kekalahan memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Dia terus berusaha untuk merebut bola dari Jiyong dengan berbagai cara tapi selalu gagal.

Jiyong terlihat lelah dan sempat berhenti melempar bolanya, lalu kembali melesat seperti anak panah dan melemparkan bolanya. Walau lemparannya tidak sepenuh tenaga, tetap saja bola itu masuk kedalam ring. Jiyong berhasil mendapatkan dua poin. Kalau dia berhasil mendapatkan dua poin lagi, Jiyong akan menang.

Time! Time!” Teriak Dara keras.

Dara meneriakkan ‘Time’ waktu Jiyong baru akan meloncat dan memasukkan bolanya kedalam ring. Jiyong berhenti dan memandang Dara.

“Penalti!”

“Penalti?” Jiyong mengulangi ucapan Dara yang tidak ia mengerti.

“Iya. Aku minta ada penalti. Seperti di sepak bola.”

“Kalau begitu skor juga harus naik! Dan, tidak ada penalti didalam basket.” Ucap Jiyong tertawa geli.

“Didesaku ada. Aku ingin ada penalti.” Melihat Dara yang memaksakan keinginanya seperti itu, Jiyong mendekati yeoja itu sambil tertawa.

“Baiklah. Terserah.” Lagi-lagi Jiyong kembali harus mengalah pada yeoja didepannya.

“Aku duluan. Setelah aku menembakkan empat bola, baru giliranmu. Aku akan mencobanya dari sini. Tapi, Jiyong… Dari sana.”

“Kalau kau yang terlebih dahulu melempar empat bola, tentu kau yang menang. Lalu…kalau kau melemparnya dari sini, anak SD juga bisa.”

“Ternyata hitung-hitunganmu cepat sekali. Tapi…aku mohon turuti aku. Ya?” Kali ini Dara benar-benar memohon seperti anak kecil.

“Sepertinya baru kali ini aku main basket ala desa seperti ini.” Jiyong memberikan bola pada Dara. Sambil tersenyum, Dara menerima bola itu dan berdiri didepan ring.

“Kau masih ingat kan? Yang kalah…harus mengabulkan permintaan yang menang. Apapun itu.” Ucap Jiyong mengigatkan.

“Tentu saja.”

Dara kembali tersenyum kearah Jiyong, dan melemparkan bolanya. Dara terlihat senang sekaligus bangga sementara Jiyong tersenyum pahit. Bola kedua, gol. Bola ketiga, gol. Kalau terakhirnya gol, otomatis Dara yang menjadi pemenangnya.

“Perhatikan baik-baik, karena aku akan melempar bolaku dengan indah.” Dara menyombongkan dirinya.

Dara kembali melemparkan bolanya kearah ring. Dara cukup yakin kalau tadi ia sudah melempar dengan benar tapi bola itu hanya memantul-mantul dipinggiran ring dan akhirnya keluar.

“Ada yang salah dengan ring ini. Kau lihat tadi? Ada yang salah dengan ring itu! Bagaimana bisa bola yang sudah akan masuk, keluar lagi?” Dara sewot. Dia melakukan protes tapi tidak ada yang mendengarkan.

“Sekarang giliranku.” Jiyong mengambil bola dari Dara yang hanya berdiri ditempatnya.

“Kau tidak akan bisa melemparkannya, kan? Terlalu jauh…” Ucap Dara meremehkan.

“Entahlah. Ku coba saja dulu.”

“Kenapa kau jago sekali main basket?” Tanya Dara penasaran.

“Sudah ku bilang. Sepertinya dulu aku adalah seorang atlet basket. Tapi aku juga belum mengigat sepenuhnya.”

“Atlet?! Jadi aku sekarang ini bertanding melawan atlet? Tidak masuk akal. Kau melanggar peraturan!” Dara baru akan mendekati Jiyong ketika dia melayangkan bolanya menuju ring. Mata Dara mengikuti arah bola itu melayang dan dengan mulus masuk kedalam ring.

“Woooow!” Jiyong berteriak gembira sambil bertepuk tangan.

Dara terduduk lemas. Sekarang dia tidak akan bisa meminta Jiyong membuatkan makanan untuknya. Dara baru saja bertanding melawan atlet. Semua yang baru saja terjadi, tidak masuk diakal Dara.

“Aku menang.” Jiyong merayakan kemenangannya sendiri.

“Kau senang berhasil mengalahkanku?”.

“Iya.”

“Wae?”

“Karena kau jadi harus mengabulkan permintaanku.” Jiyong berlutut disamping Dara.

“Apa yang kau inginkan?”

“Masih rahasia.” Hening sesaat.

“Aku benar-benar kelelahan. Badanku gemetar. Aku sampai tidak bisa berdiri.” Ucap Dara lirih. Jiyong tersenyum dan menunjuk punggungnya.

“Naik.” Dara memandang punggung Jiyong yang lebar dan mulai naik keatasnya. Jiyong membawa Dara dipunggungnya dan berjalan menuju tempat mereka tadi. Jiyong menurunkan Dara untuk merapikan barang-barang mereka dengan memasukkannya kedalam keranjang, kemudian Dara kembali naik ke punggung Jiyong.

“Kau bisa terus menggendongku begini sampai kamarku?”

“Bisa.”

“Tapi aku berat.”

“Tidak masalah.”

“Kalau aku memang berat, bilang saja. Aku akan turun.” Ucap Dara pelan dengan memeluk leher Jiyong.

“Berat.”

“Aaaaah! Sudah…aku mau turun.”

“Aku bercanda. Bercanda…” Jiyong tertawa.

“Jadi apa permintaanmu? Kau ingin aku melakukan apa untukmu?” Tanya Dara.

“Kau ingin aku mengatakannya sekarang?” Jiyong balik bertanya membuat Dara mengerutkan kening.

“Iya. Katakan saja.”

“Kau akan mengabulkan apa saja?”

“Iya, iya. Karena aku akan mengabulkannya, lebih baik kau katakan sekarang.”

“Aku sudah mengerti apa yang dimaksud namjachingu.”

“Lalu…” Jiyong menghentikan langkahnya.

“Aku ingin kau menjadi yeojachingu-ku.”

==TBC==

“Hallow! Para readers…Chap ini sebagian terinspirasi dari salah satu novel favorite aku ‘The Last 2%” karena menurut aku itu novel kece banget, jadi aku gak mau ketinggalan buat masukin beberapa part yang aku suka dinovel itu kedalam ceritaku-jadi bagi yang udah pernah baca novelnya harap jangan protes kalo scane nya sama:P kekeke^^-dan sepertinya ini melenceng dari konsepku yang awalnya cuma mau bikin sampe chap 8 malah melebar kayaknya -_- Soalnya masih banyak mistery yang belum bisa dijabarin. Yeoja saingan dara juga belum muncul. Yonghwa dan Minho juga belum beraksi. Bom dan TOP juga belum. Dara juga belom. Jiyong apa lagi -_- Dan identitas asli Biksu Soo juga belum. Argh…Eotteoke! Rasanya pengen aku cepetin alurnyaT_T Semoga kalian gak bosen yah baca fifi aku ini T_T bagi yang masih setia Happy Reading. Kritik dan saran selalu ku nanti. Sedikit curhat^^Banyak yang ngeritik kalo daragon momentnya kurang. Jujur aku seneng denger mereka ngomong gtu, karena emang aku sendiri nyadar kalo daragon momennya kurang, kekeke. Tapi karena aku masih umur 16 tahun, jadi aku agak canggung dan dilema mau bikin ya ehem-belum cukup umur- dan jujur aku belum bisa bikin yang romantis banget. Jadi yang netral-netral aja dulu deh yesss, Mianhe! LYSM^^”

<<back next>>

Advertisements

85 thoughts on “My Boyfriend is Dokkaebi [Chap. 7]

  1. miannnnnn, klo blum bisa ngepost. leptop bru aja rusak dan sialnya cerita yng udh diketik (hampir end) hilang. jadi, author hrus bca ulang cerita dri awal di blog DGI dan mlai ngetik dri awal lgi. miannnn php’in para readers yng udah nunggu sampe lumutan T_T

  2. aaaah author jangan sedih gapapa kok. semangat buat ngelanjutinnya!!
    para readers tetep setia nunggu kok apalagi saya^^
    semangat semangat semangattt!!!!
    buat daragon moment nya yg banyak ya kkkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s