Good For You [Chap. 5]

Good For You

Author: Mita (Kwonjita)

Cast: Sandara Park || Kwon Jiyong ||

 Mizuhara Kiko || Jung Ilwoo

G|| Romance || Hurt

Length| | Chaptered | |

****

Gomawo author-nim karena sudah mau ngeluangin waktunya

untuk mempost ff aku ini, dan untuk kalian para readers ku yang canci2

gomawo udah memberikan komenan yang membuatku semangat…

****

 

Jiyong Pov

“apa yang kau lakukan di sini?” ucapku pada sosok dihadapanku ini, dia menatap bingung padaku. “bukan urusanmu” balasnya memandang remeh padaku, ciihhh apa-apaan tampangnya itu membuatku muak. Tidak lama suara dara membuatku menoleh padanya.

“siapa yang datang ji?” tanyanya melangkah untuk melihat siapa yang datang, melihat ilwoo yang datang dirinya langsung tersenyum manis melihatnya, yang dibalas senyum manis gahh lidahku kaku menyebutnya dan aku tidak suka dara tersenyum seperti itu pada lelaki lain.

“ilwoo-yah, waegeurae?” tanyanya lembut pada lelaki itu. Argghhhh kenapa kamu bersikap sok manis seperti itu padanya. batinku mengerang jengkel melihat pemandangan ini, sial mataku bisa sakit melihat pemandangan ini. bahkan kelinci ini tidak menganggap kehadiranku di sini, tck gadis ini.

“apa kau tidak membaca pesanku lagi?” ku lihat dara menggeleng menandakan dirinya tidak membaca pesan yang dikirim lelaki ini. “sudah ku duga, kau pasti tidak membacanya” sambungnya dengan tampang yang pura-pura kesal karena dara mengabaikan pesannya. Batinku tertawa puas mendengar dara mengabaikan pesannya.

“pesan apa yang kau kirim padaku” tanya dara setelah dirinya mengajak lelaki sok manis ini masuk tanpa memperdulikan tatapan tidak suka yang ku lontarkan.

“aku bilang aku akan menjemputmu pagi ini, untuk pergi kekampus bersama” ucapnya. “tidak perlu, karena dara akan berangkat denganku” ucapku tiba-tiba masuk dalam percakapan mereka. hoel, aku tidak akan membiarkan mu dekat-dekat dengan dara brengsek. Batinku masih memperhatikan mereka berdua dari tempatku berdiri tadi.

Aku melangkah menghampiri mereka dan langsung menyeret dara ke meja makan.

“aku lapar, bisakah kita makan sekarang?” ucapku tidak perduli dengan tampang kagetnya dara melihatku menyeret dirinya menjauh dari ilwoo.

“ku rasa sudah tidak ada alasan lagi dirimu berada di sini” sambungku pada ilwoo dengan tatapan tidak suka padanya. “Ya! Apa yang kau katakan? Kenapa ucapanmu sangat kasar?” dara membentak padaku dan menghempas kasar tanganku dari genggamannya. Aku tidak percaya ini, kenapa dirinya seperti ini padaku? Tidak kah dirinya melihat wajah kesal ku melihatnya bertingkah manis seperti itu. Dan, dia bilang ucapanku kasar?.hahh tolong sadarkan gadis ini.

“MWO? Kasar? Aku hanya meminta dirinya pergi dara. Kau bilang itu kasar?” ucapku tidak terima dengannya. Dara mendesah gusar melihatku, mungkin dirinya berfikir percuma berdebat denganku. “sebaiknya kau pulang sekarang” ucapnya membuatku menatap tidak percaya padanya, hanya karena ini dia mengusirku.

“kau mengusirku?” tanyaku lemah padanya, sungguh aku tidak mengerti kenapa hatiku sesakit ini? seolah dirinya tidak menginginkan diriku berada diantara mereka.

“aku hanya tidak suka melihatmu lebih dekat denganya Dee. Maaf jika itu membuatmu tidak suka” ucapku langsung melangkah meninggalkan mereka. dengan perasaan yang entah ku gambarkan seperti apa sekarang. Apakah aku sudah terlambat? Tidakkah kau melihat perasaanku.

*

*

*

*

Sudah dua hari dara tidak pernah melihat sosok jiyong di kampus, dia khawatir dan juga merasa bersalah sudah berkata kasar padanya waktu itu. Pikirannya masih berkutat dengan sosok jiyong sampai panggilan kedua sahabatnyapun dirinya tidak mendengar.

“DARAaaa” teriak Bom tepat di telinga dara yang membuat gadis itu tersentak kaget akibat teriakan sahabatnya itu hampir memecahkan gendang telinganya.

“apa yang sedang kau pikirkan eoh? Sampai kau tidak menyadari kehadiran kami?” bom bertanya karena melihat sahabatnya ini seperti orang bingung.

“tidak ada” jawabnya dengan tersenyum memandang kedua sahabatnya ini. dara tidak mungkin mengatak jika dirinya sedang memikirkan jiyong sekarang, jika dirinya mengatakan itu maka telinganya akan semakin panas mendengar kemarahan sahabatnya ini. Bahkan dara pun tidak mengatakan tentang jiyong yang menginap ditempatnya pada kedua sahabatnya ini.

“bagaimana kencanmu dengan ilwoo kemarin” tanya bom penasaran “ahh benar bagaimana eunni?” tambah chaerin antusias ingin mendengarnya.

“kami tidak berkencan, hanya ngobrol biasa saja” ucapnya membantah enggan membahas lebih jauh masalah dirinya dan ilwoo. Pikirannya sekarang masih dipenuhi sosok lelaki lain.

“kalian membahas apa? Aku mendengar namaku di sebut tadi” ucap ilwoo ikut bergabungan dengan kerumunan tiga gadis itu. “ahh kami membicarakan dirimu dan dara eunni, katanya kalian tidak berkencan benarkah seperti itu? Oppa” tanya chaerin yang mendapat senyum tipis dari lelaki itu atas pertanyaannya. Dia melirik sekilas pada dara yang masih dengan pikiran kosongnya.

“neh, aku ditolak sahabatmu ini. dirinya masih mencintai lelaki itu” katanya menatap dara yang sama sekali tidak mendengarkan obrolan mereka. pikirannya benar-benar tidak berada diraganya. “mwo? Kau ditolak kelinci ini?” ucap bom histeris tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Lantas hal itu membuat dara langsung tersentak kaget mendengar teriakan hesteris sahabat anehnya.

“bisakah kau tidak berteriak seperti itu Bomie-ah, lama-lama gendang telingaku benar-benar akan pecah, aishhh” desisnya pada sahabatnya yang sungguh berisik. “sengaja, biar dirimu tidak mengabaikan kami” balas Bom mendengus. “kau menolak ilwoo hanya karena jiyong? Tck pabbo” tambahnya menggeleng tidak percaya dengan pemikiran dara yang sungguh bodoh, dia masih berharap pada lelaki itu hah! dirinya saja tidak tau perasaan jiyong padanya. Benar-benar bodoh pikirnya.

“jangan memulainya Bom” katanya tidak suka arah percakapan ini, “kenapa kalian malah bertengkar? Dari awal aku sudah tau aku bakalan ditolak, tapi diriku masih saja melakukannya” ucap ilwoo menengahi perdebatan kedua sahabat ini. dari kejauhan tampak sepasang mata menatap benci pada ke empat sosok yang sedang mengobrol tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Dia tersenyum sinis lalu melangkah pergi dari tempat itu.

“kau mau kemana?” tanya Bom setelah melihat dara bangkit dari posisinya. “aku mau pergi kesuatu tempat” jawab dara membuat ketiga makhluk menatap bingung padanya. “kemana? Jangan bilang kau mau menemui jiyong emm?” tebak Bom tepat sasaran saat melihat tampang kaget dara kerena tebakannya benar.

“kalian memang sahabatku” balas dara nyengir melihat bom mendengus jengkel menatapnya. “ilwoo-ah, jjang” tambahnya mengacungkan jempolnya pada ilwoo yang tersenyum tulus padanya. Dan langsung melangkah pergi meninggalkan para sahabatnya yang menggeleng pasrah pada gadis keras kepala itu. Mereka tidak mungkin bisa memaksa perasaan seseorang untuk bisa mengikuti permintaan kita.

Terutama Bom, dirinya sungguh ingin sekali marah pada sahabatnya itu dan sudah berkali-kali meminta dara agar berhenti mencintai jiyong jika dirinya tidak ingin terus tersakiti, memang benar dara mengikuti permintaan mereka tapi, lagi-lagi hati kecilnya masih mengalahkan pemikirannya untuk berhenti mencintai jiyong.

Dara baru ingin membuka pintu mobilnya saat tiba-tiba sebuah balok kayu menghantap punggungnya keras hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri saat itu juga, melihat mangsanya jatuh tak sadarkan diri seperti itu dirinya tersenyum puas di balik masker hitam yang menutup separu wajahnya.

“it’s show time” ucapnya tertawa puas penuh kemenangan.

*

*

*

*

Dara Pov

Mataku langsung terbuka lebar saat rasa dingin bersentuhan dengan kulitku. Wajahku basah akibat air yang di lempar kasar yang entah oleh siapa orang di hadapanku ini, wajahnya menggunakan masker untuk menutup sebagian wajahnya, tapi aku dapat melihat sorot mata kebencian yang dia tunjukan padaku.

“siapa kau” ucapku penasaran, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dari tadi yang dia lakukan hanya memandang lekat padaku, sesekali dirinya menggeleng merehmekan menatap ku seperti itu seterusnya sampai dia akhirnya melangkah pergi meninggalkan diriku sendirian tempat gelap ini.

Batinku terus memohon agar seseorang menolongku dari orang gila ini. apa-apaan ini? apa yang dia inginkan dariku?. Apa dia akan menjualku, atau membunuhku?. Pikiran takut mulai berputar di otakku. Tanpa sadar mulutku menggumamkan nama jiyong dibarengi jatuhnya air mataku karena diriku benar-benar takut.

“ku mohon lepaskan aku” teriakku pada ruangan kosong ini, sia-sia hanya terdengar pantulan suaraku sendiri yang menggema. Aku terus memberontak berharap orang tadi dapat mendengarnya, dan benar saja dirinya muncul dari balik pintu dengan aura yang menakutkan sangat terlihat sejelas waktu dirinya perlahan berjalan mendakat padaku.

PLAK

Wajahku oleng karena orang ini tiba-tiba menampar wajahku dengan sengat keras, dan meninggalkan rasa panas yang cukup membuat air mataku kembali mengalir akibat tamparannya. “kau sungguh berisik” geramnya langsung menjambak rambutku hingga membuat kepalaku menonggak dan sedikit meringis akibatnya.

Saat mendengar suaranya, aku yakin dia seorang wanita. Tapi siapa? Kenapa dia melakukan ini padaku? Apakah dia kiko? Aku lengsung menepis pikiranku yang menuduh kiko yang sedang berada di hadapanku ini. Tapi, semakin aku memikirkannya hanya dirinya lah yang bisa melakukan hal ini. Ingat saat kejadian di kantin kampus, tapi apa alasannya? Apakah semua ini karena jiyong? Batinku terus berfikir keras tentang ini.

“apa aku perlu menyumpal mulut berisikmu ini heuh?” sambungnya dengan geram, kembali kini wajahku yang kena sasaran amukannya. “lepaskan aku. Apa untungnya kau menyakapku seperti ini?” ucapku terdengar seperti gumaman tidak jelas karena wajahku masih dibekapnya kuat (aku tidak dapat kata apa yang bisa menggambarkan adegan ini, ku harap kalian mengerti maksudku…hahaha ini terlihat seperti saat wajahmu dipegang kuat hingga membuat wajahmu mengkerut dan saat bicara jadi tidak jelas karena bibirmu tidak bisa bergerak leluasa. Itulah yang ingin aku tunjukan, tapi aku tidak dapat kata yang pas untuk itu…maafkan aku *menunduk malu*)hemm).

Dia tertawa mengejek padaku saat aku berucap seperti itu. “tentu ada untungnya girls” katanya mendorong wajahku yang tadi di bekapnya kuat. “kau adalah alasan dirinya menderita b*tch” tambahnya mendelik tajam padaku. Mendengar dirinya berkata seperti itu, membuatku semakin yakin dia adalah kiko dan ini pasti jelas berhubungan dengan jiyong. “tidak salah jiyong memutuskanmu. Kau gila kiko” ucapku membuatnya semakin marah. Ohh sial apa yang kau lakukan dara? Sekarang kau membuat dirinya semakin ingin cepat-cepat membunuhmu.

PLAKK

Sekali lagi suara itu merasuk gendang telingaku, dan kali ini rasanya semakin membuat telingaku berdengung karena tamparannya sungguh benar-benar keras bahkan dirinya kembali menjambak rambutku hingga dapat kulihat beberapa helai rambutku terlepas dari akarnya. “aku memang gila, dan itu semua karenamu. Mulutmu sepertinya memang benar-benar harus ku tutup sekarang dara” ucapannya tajam penuh dengan nada mengintimedasi menatap ku. Air mata yang sedari tadi mulai menggumpal di pelupuk mata akhirnya lolos jatuh juga saat rasa takut mulai kembali menyerang.

“menangislah karena itu membuatku bahagia” ucapnya lagi dengan kembali tertawa dan mulai melepas masker yang dari tadi menutup wajahnya. “ku rasa benda ini sudah tidak penting” tambahnya langsung membuang kasar masker itu lalu kembali beralih menatapku dengan senyum sinisnya. Dia mengambil kursi dan meletak kannya tepat di depanku lalu dia mendudukinya dengan mata yang masih menatap benci padaku. Dirinya tersenyum bahagia melihat tampang ketakutan dariku saat melihat sebuah benda tajam dia keluarkan dari balik saku celananya.

Dia menarik kursi yang dia duduki untuk lebih mendekat padaku, setelah dirasa cukup dekat jarak kami dia kembeli tersenyum sambil memainkan pisau lipat itu di wajahku. “apa kau takut?” tanyanya semakin memainkan benda itu dan terakhir aku merasakan benda itu menyayat kulitku dan dapat ku rasakan rasa perih setelahnya. Sungguh dia benar-benar sudah gila, apa dirinya beniat membunuhku?. Pikiranku berkecamuk karena berhadapan dengan gadis gila ini.

*

*

*

*

Jiyong Pov

Dengan perasaan ragu aku melangkah menuju apartemen Dara, aku baru menginjakan kaki ku di Seouldan langsung menuju kesini untuk bertemu dengan dara. Setelah dua hari pergi darinya membuatku benar-benar merindukannya. Sebenarnya diriku pergi ke Jepang untuk mengunjungi ‘kakek dan nenek ku’ yang tinggal di jepang dan untuk menenangkan pikiranku atas tindakan dara itu. Aku merasa pikiranku butuh udara segar agar jernih kembali dan jadilah diriku pergi mengunjungi kedua orang tua itu.

Tapi sialnya, bukannya senang karena cucu ganteng kuadrat ini mengunjungi mereka, malah diriku diceramahi habis-habisan oleh kedua orang tua itu. Tapi aku bersyukur karena mereka aku mengetahui satu hal yang membuatku merutuk diriku sepanjang hari karena tidak mengetahui kalau dara sudah lama menyukai diriku. Helmoni sudah menceritakan semuanya dan dia sangat kecewa padaku karena diriku menyakiti gadis itu.

Flashback

“kau benar-benar bodoh ji” ucap helmoni padaku, saat aku menceritakan alasan diriku datang ke sini. Ciihhh bukannya senang dia malah mengatai diri bodoh aishh dasar orang tua ini. batinku mencibir melihat dirinya lebih membela kelinci itu.

“aishhh kenapa kau mengataiku bodoh, dan kau malah lebih membela kelinci itu” ucapku kesal dengan sikap nenek ku ini. “kau memang bodoh” timpal lelaki tua yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. Aku semakin terpojok oleh kedua orang tua ini. aku tau mereka memang menyayangi dara seperti mereka menyayangiku. Bahkan nenek ku ini lebih menyayangi gadis itu dari pada aku ‘cucunya’ sendiri.

“ya! Kenapa kalian malah membelanya? Aku datang kesini karena terluka dengan sikap kelinci itu. Harusnya kalian memberikan semangat padaku, bukan malah memojokan ku” ucapku kesal pada tingkah kedua orang tua ini yang seolah menyalahkan diriku.

“aku kira kau datang kesini membawa calon menantu cucuku itu” dengusnya padaku. “jadi dia belum mengatakannya padamu?” sambungnya. Aku mengerutkan keningku menatap nenek ku ini bingung. “apa yang belum dara katakan padaku?” tanyaku penasaran pada nenek ku ini, dia menarik nafasnya lalu mulai menceritakan semuanya. Aku terkejut saat mendengar nenek ku ini mengatakan kalau dara dari dulu menyukai ku, ani dia mencintaiku lebih tepatnya. Dan aku benar-benar merutuk diriku karena tidak pernah mengetahui itu selama ini.

“aku sudah tau saat kalian menganjak dewasa ji, nenek mu ini seorang wanita jadi nenek tau kalau dara menyukaimu” katanya terus mengatakan semua yang selama ini tidak aku ketahui.

“tapi kenapa dia tidak pernah mengatakan itu padaku” ucapku lemah entah sedang merasakan apa hati ku ini. aku senang cintaku tidak bertepuk sebelah tangan tapi aku marah padanya yang tidak pernah mengatakan apa pun hingga membuatnya terluka karena menyimpan perasaan itu terlalu lama.

“apa kau bodoh? Dia seorang wanita, mana mungkin dirinya mengatakan itu secara langsung” sekali lagi diriku di katai bodoh oleh nenek ini. “pulang lah dan kembali lagi dengan membawa dirinya” ucapnya lagi tersenyum sayang padaku. Aku mengangguk setuju dengan idenya barusan. Yahh aku akan merebut hatinya kembali entah bagaimanapun caranya.

thank you, mom” ucapku memeluk manja padany, yang dia balas tertawa senang melihat tingkahku. Dari kecil aku dan Dara memang sangat suka memanggil kedua orang tua ini dengan sebutan seperti itu.

“apa hanya nenekmu itu yang kau peluk?” ucap kakek ku cemburu karena aku terus memeluk istrinya. Aku terkekeh melihat tangkahnya itu dan aku pun langsung berpindah memberikan pelukan padanya “berhenti cemburu” ucapku memeluknya yang di balas tawa pecah darinya.

Flashback End

Sudah kesekian kali aku menekan bel tapi tidak pernah muncul sosok dara, aishh gadis itu kemana lagi sekarang? Bukan kah ini sudah waktunya pulang, bahkan kampus sudah bubar sejam yang lalu. Umpatku kesal karena mulai lelah menunggu dirinya. Aku akhirnya merogoh saku celana ku untuk mengambil ponselku untuk menghubungi dara dan sial ponselnya mati. Tanpa pikir panjang aku pun akhirnya menghubungi chaerin.

yeoboseyeo, oppa?” ucap chaerin saat sambungan telopon ku tersambung padanya.

“chaerin-ah, apa kau bersama dara?” tanyaku padanya “ani! Dia bilang mau menemuimu oppa? Apa kau tidak bertemu dengannya?” tanyanya bingung karena mendengarku bertanya seperti itu, aku pun sama bingungnya dengan chaerin.

“aku baru pulang dari jepang chae, bagaimana mungkin aku bertemu dengannya” ucapku membuatnya berteriak hingga membuatku sedikit menjauhkan ponselku dari telingaku. Hoel gadis ini kenapa suaranya sengat keras.

MWO?” katanya seolah tidak percaya mendengar ucapanku. “kapan dia pergi”  tanyaku“ sudah lama oppa, bahkan dia pergi lebih dulu dari kami. Ahh mungkin sekitar dua jam yang lalu” balasnya. Jika benar seperti itu, seharusnya dia sudah berada di apartemennya sekarang, tapi kemana gadis itu? Apa dia pergi dengan ilwoo lagi? Batinku tidak suka menyebut nama itu.

“apa dia pergi dengan ilwoo?” tanyaku lagi padanya “ani..dia pergi sendirian saat kami bersama Bom eunni dan ilwoo oppa tadi” aku mengerutkan keningku bingung mendengar jawaban chaerin. Sebaiknya aku pulang siapa tau dirinya memang benar berada di apartemenku. “gomawo chae” ucapku lalu memutus sambungan telponku. Dan melangkah pergi untuk pulang saat tiba-tiba ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk. Saat aku melihat nomornya aku sama sekali tidak mengenalnya, dengan cuek aku membuka pesan gambar itu dan membuatku meremas kuat ponselku.

“shittt, sial”

Bagaimana, apakah chap ini cukup puas? Atau malah garing ama alurnya?

Hemmm maaf yah? Jika benar seperti itu?

Dan chap berikutnya end semoga aku bisa mempost cepat,

karena besok aku harus kembali ke rutinitas. Work…work… work…

haengseo…

TBC

 

Advertisements

21 thoughts on “Good For You [Chap. 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s