The King’s Assassin [26] : Escape

 assassins

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

“Jeoha…” panggil Chaerin dengan membawa nampan berisi sarapan untuk sang Pangeran dan semangkuk obat untuk Dara.

“Jeoha? Ini Chaerin, bolehkah saya masuk?” tanyanya, mengira bahwa mungkin Pangeran sudah bangun karena matahari sudah tinggi dan hampir siang. “Jeoha?”

Chaerin akhirnya meletakkan nampan di lantai, ragu-ragu apakah dia harus menunggu atau langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Dara harus minum obat tepat waktu seperti yang dikatakan oleh tabib.

“Aisht. Apakah beliau masih tidur?” gumamnya menggeser pintu hingga terbuka dan mengintip kedalam, tapi begitu tatapannya mendarat pada Pangeran, matanya membulat lebar dan terkesiap.

“J-j-j-eoha…” dia tergagap melihat posisi tidur Jiyong.

“U-u-u-nnie…” dia beralih ke Dara yang juga masih tertidur nyenyak…

… dalam pelukan sang Pangeran.

Tangan kanan Jiyong digunakan sebagai bantal oleh Dara sementara tangannya yang satu lagi menggenggam tangan gadis itu, mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru di mata Chaerin, namun karena mereka bukan, Chaerin hanya bisa berdoa kepada para Dewa dan leluhurnya karena melihat pemandangan demikian.

Masih merasa tidak percaya, dia berjalan mendekati keduanya sampai otaknya benar-benar mencerna bahwa matanya tidak bohong dan dia harus menutupi mulutnya untuk mencegah dirinya berteriak keras.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!”

“Omona! Omona!” Jiyong segera bangkit menoleh kekiri dan kekanan sementara Dara hanya bisa mengerang kesakitan karena gerakan yang tiba-tiba.

“Unghhh… apa yang terjadi?” tanyanya bergelung diri dan Jiyong segera bergerak untuk menenangkannya, tidak menyadari Chaerin yang masih berdiri didepan mereka. Bagaimana mungkin dia bisa sadar? Saat Dara sedang kesakitan dan dirinya, sekali lagi, adalah penyebabnya.

“Oh Tuhan. Aku minta maaf! Aku minta maaf Dara-ah! Aisht! Mana yang sakit? Dimana—,”

“A-a-pa yang terjadi diantara kalian… semalam?” Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya semburu mundur menjauh. “J-j-j-eoha? Unnie?”

Tubuh Pangeran kaku di tempat sementara Dara menatap Chaerin, jika dia lupa akan rasa sakit pada lukanya, dia pasti sudah menertawakan ekspresi wajah gadis itu.

Sadar bahwa ada orang lain yang memperhatikannya, Pangeran segera merapikan selimut disekeliling Dara dan bergerak menjauh dari gadis itu sebelum merapikan diri dan berdiri, mencoba seolah-olah bersikap layaknya biasa – penuh karisma.

“Eherr,,…” Jiyong berdehem dan meletakkan tangannya di balik punggung. “Kenapa kau datang kemari? Apa kau tidak bisa mengetuk pintu setidaknya memberitahu terlebih dahulu?”

“Jeoha, saya sudah melakukannya tapi tidak ada tanggapan. Bagaimana Anda mau menanggapi jika Anda tidur nyenyak disamping…”

“Bukan itu intinya! Keperluan apa yang membuatmu sampai berani masuk ke kamar orang lain seperti itu?” tanyanya, mencoba memasang wajah marah.

“Jeoha!” Chaerin meninggikan suaranya, jelas terlihat kesal. “Saya beritahukan kepada Anda, bahwa sekarang waktunya unnie untuk minum obat! Saya rasa Anda enggan disalahkan jika sesuatu terjadi pada unnie hanya karena dia tidak minum obat tepat waktu.” Runtut Chaerin cepat. “L-l-agipula… a-a-apa… apa benar yang barusan saya lihat? Kalian tidur bersama? Saya tidak bisa mempercayai ini!”

Jiyong menatap Chaerin sejenak, mencerna perkataan gadis itu dalam hati ingin menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding.

Chaerin benar, pikirnya. Lagi-lagi dia yang salah jika sampai kondisi Dara kian memburuk. Dan sekarang bahkan mereka tertangkap basah tidur bersama – apa yang akan Chaerin pikirkan tentang Dara? Tidak. Dia harus menjelaskan semuanya.

Jiyong baru saja akan bersuara, setidaknya memahami maksud dari Chaerin dan menjelaskan semuanya saat Dara tiba-tiba berbicara.

“Maaf soal itu Chaerin-ah…”

“K-k-enapa kau meminta maaf unnie?” tanya Chaerin sebelum kembali menatap Pangeran dengan tatapan curiga.

“Bukan salah Pangeran kenapa beliau tertidur disebelahku. Aku yang salah. Kumohon jangan tatap Pangeran seperti itu,” kata Dara tersenyum lemah membuat mulut JIyong terbuka lebar tidak percaya.

“Unnie…” Chaerin tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Apakah benar Dara yang sedang bicara padanya? Pertanyaan it uterus menggantung di pikirannya. Kenapa Dara membela Pangeran? Tanyanya pada diri sendiri.

“Dingin… semalam sangat dingin… dan aku gemetar kedinginan sampai ke tulang. Pangeran hanya merawatku. Semuanya salahku. Mianhe Jeoha… Chaerin-ah…”

Tatapan Jiyong beralih dari Dara menuju ke Chaerin, menyadari bahwa gadis itu juga tidak percaya dengan apa didengarnya. Dia kembali menatap Dara dengan wajah penuh kebingunan – tapi begitu tatapannya mendarat di wajah gadis itu, sebuah senyum lemah tersungging disana – membuat Jiyong hanya bisa mengalihkan pandangan dan mengipasi dirinya sendiri, merasakan bahwa ruangan menjadi semakin panas setiap menitnya.

“Eherrrm… kurasa… aku sebaiknya keluar sebentar… benar. Aku butuh udara segara. Aku akan segera kembali. Dalam… dalam sekejap. Ya. Eherrmm…” dia berdeham dan meletakkan tangan dibalik punggung. Dia kembali menatap Dara sekali lagi dan rasa bersalahnya semakin menjadi melihat senyuman gadis itu padanya. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan keluar dari kamar tanpa berkata-kata lagi.

“Ada apa dengannya?” tanya Dara bingung akan sikap JIyong yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.

“Unnie? Apa yang terjadi padamu, huh? Apa kau terjatuh keras kemarin malam? Aisht! Kurasa kepalamu bermasalah! Apa yang kau pikirkan sekarang? Apa kau mengenaliku? Yah! Dimana kita biasanya bermain sewaktu kecil, huh? Apa… apa makanan kesukaanku? Warna?”

“Pscht,” Dara menyeringai sebelum menggigit bibirnya merasakan sakit di pinggangnya. “Aku akan baik-baik saja jadi berhenti bertanya macam-macam, arasso? Kurasa kau harus membantuku untuk duduk, punggungku sakit. Aaaah…”

“Jawab pertanyaanku dulu jika kau benar-benar unnie-ku!!!”

“Dasar gadis konyol! Aku mengenalimu Lee Chaerin. Kita suka berenang telanjang di sungai lalu makan nasi kepal. Dan hanbok yang paling kau sukai itu yang berwarna pink. Berhenti bertanya omong kosong seolah aku ini kesurupan atau yang lainnya.”

**

“Selamat pagi Profesor! Aigoo, senang bertemu denganmu pagi-pagi begini, bukan begitu?” Menteri Lee menyapa Yongbae saat keduanya berpapasan di Istana.

“Selamat pagi, Menteri,” jawab Yongbae singkat.

“Kudengar Pangeran belum kembali ke Istana. Ada urusan apa kau kemari?” tanya Menteri Lee.

“Oh… itu… saya hanya perlu mengambil sesuatu di perpustakaan. Saya akan menemui Eunuch Seunghwan hari ini karena ada beberapa barang saya yang ketinggalan pada sesi terakhir kami.” Jawabnya membuat sang Menteri mengangguk.

“Aku mengerti. Semoga harimu menyenangkan, kalau begitu aku duluan.” Kata Menteri Lee dan Yongbae segera merawa waspada. Dia harus segera menemui sang Kepala Eunuch dan Lady Gong dan bicara tentang rencananya kepada mereka untuk mengumpulkan informasi di Istana.

Dia tahu hal itu pasti sulit, tapi tidak ada salahnya dicoba.

**

“Aigoo, Seunghyun-ah. Apa yang membuatmu tiba-tiba berkunjung? Apa kau tidak ada kelas hari ini?” tanya Penasehat Choi pada anaknya, terkejut mendapat kunjungan tiba-tiba di kantornya.

“Kelasku sudah selesai, abeoji. Aku hanya ingin mengunjungimu.”

“Aigoo, ini adalah hal yang baru.” Kata Penasehat Choi tertawa kecil.

Seunghyun segera meraih poci the dan menuangkannya ke cangkir sang ayah sebelum menuang untuk dirinya sendiri mambuat sang Penasehat tersenyum.

“Aku mulai melihat perubahan baik pada dirimu sejak kau menikah. Sudah kubilang padamu, Tuan Putri memang orang yang sangat tepat untukmu.” Ujarnya bangga membuat Seunghyun mengangguk setuju.

“Tuan Putri memang sesuatu. Dia selalu memasang wajah berani tapi jauh didalam, dia sangat lembut dan pangertuan. Benar-benar gadis yang menarik,” Seunghyun tertawa namun segera mengendalikan diri begitu sadar bahwa dia terlihkan oleh pikiran tentang sang istri.

“Sekarang… katakan padaku. Apa yang membawamu kemari? Pasti ada sesuatu yang penting. Kau sudah sangat lama tidak mengunjungiku kemari, dasar anak tidak berbakti.” Gurau Penasehat.

“Mianhe abeoji. Kurasa aku telah mengabaikanmu terlalu lama. Tapi aku datang kemari untuk bertanya keadaanmu setelah malam kita diserang itu. Aku sibuk mencoba mencari dan memburu si pengacau dan kurasa aku lupa mengecek keadaanmu. Aku minta maaf telah menjadi putra yang tidak peduli pada ayahnya sendiri seperti ini,”

“Aisht… kadang-kadang kita memang terlambat dalam menyadari sesuatu. Tapi aku sangat mengerti, nak. Setidaknya sekarang, kau mulai belajar.” Balas Penasehat Choi. “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja.”

“Abeoji… aku berpikir… pembunuh di malam itu… kenapa dia melakukan itu? Apa kau memiliki musuh baru lagi?”

Penasehat Choi menyipitkan matanya mendengar pertanyaan dari putranya seperti itu.

“Aku hanya ingin tahu agar aku bisa menghindari orang-orang yang harus dihindari. Itu saja,” lanjut Seunghyun.

“S-s-ejujurnya…” Penasehat Choi mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja. “Kurasa ini bukan pertama kaminya kita diserang oleh orang yang sama.”

“Apa maksudmu abeoji?” Seunghyun bergerak mendekat, mengantisipasi.

“Pada malam pernikahanmu, saat kami sampai di gerbang rumah… seseorang menembakkan anak panah ke ommeoni-mu. Untungnya dia baik-baik saja. Tapi ada surat yang dikaitkan disana. Surat itu berisi dia ingin melihatku mati.”

Seunghyun terkesiap, tapi ingin sekali rasanya dia menyalahkan ayahnya atas semua kebencian yang mereka terima dari para musuh. Dia tahu dengan betul bahwa ayahnya memiliki beberapa kesalahpahaman dengan politisi lain sebelumnya, bahkan dengan beberapa saudagar berpengaruh, tapi dia tidak pernah melihat ayahnya mengalami masalah.

“Abeoji… kenapa kau tidak memberitahu kami lebih awal? Bagaimana jika ommeoni sampai terluka? Hal seperti ini, kau harus selalu memberitahukan kepada kami semua!”

“Dan apa? Menakuti istrimu? Para pelayan? Seluruh Hanyang bahwa ada pembunuh yang berkeliaran? Ini bukan yang pertama. Beberapa anggota dari pasukan kerajaan juga ditemukan terbunuh. Beberapa bahkan masih menhilang.”

“Bwoh?”

“Beritanya sudah sampai padaku,” sang Penasehat berdeham dan mengalihkan padangan, sadar bahwa dia terlalu terbawa suasana dan membeberkan apa yang seharusnya dia simpan. Sejujurnya dikatakan… hal itu sangat mengganggunya.

“Abeoji! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

“Ini tidak ada urusannya denganmu. Fokuslah pada kehidupan pernikahanmu dan jaga Tuan Putri baik-baik. Tutup mulutmu atau kau ingin istrimu ketakutan karena masalah ini. Kau pilih sendiri.”

Seunghyun terdiam sejenak bertanya dalam hati, kenapa ayahnya begitu peduli pada istrinya. Dia mengenyagkan pikirannya itu. Karena dia tahu dengan pasti tidak ada yang ditakuti oleh istrinya lebih dari ayahnya.

“Abeoji… setidaknya kami bisa lebih berhati-hati. Bagaimana jika ommeoni terluka? Bagaimana jika yang diserang adalah aku atau istriku? Bagaimana kau akan menghadap pada Raja jika sampai Tuan Putri terluka? Dia menjadi tanggung jawab kita sekarang dan jika hal seperti ini kembali terjadi, setidaknya beritahu aku jadi aku bisa membantumu dalam melindungi keluarga kita!”

Sang Penasehat terdiam sejenak, menyadari perkataan putranya ada benarnya.

“Abeoji, bagaimana aku bisa membantumu jika kau terus menyembunyikan hal seperti ini?”

“Aku tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi pada anggota keluarga kita, aku janji.”

“Abeoji…”

“Jadi fokuslah untuk tetap berada disisi Putra Mahkota dan hasilkan keturunanmu sendiri dengan Tuan Putri.”

“B-b-who?”

“Apanya yang mengejutkan dari hal itu? Kalian sudah menikah.”

“Ya aku sudah menikah, tapi kau masih memperlakukanku seperti bocah yang harus selalu kau lindungi. Kumohon, beri aku kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan darimu, abeoji.” Ucap Seunghyun pada ayahnya.

“Akan kupikirkan lagi. Sekarang pergilah. Aku tidak ingin membuang-buang waktumu.”

Bahu Seunghyun lemas. Bahkan jika ayahnya terbuka sedikit saja, akan tetap butuh waktu untuk mengumpulkan informasi darinya.

“Mianhe abeoji. Aku pergi dulu,” dia berdiri dan membungkukkan badan kepada ayahnya. Dia meraih buku-bukunya dan berbalik saat didengarnya sang ayah kembali berkata.

“Jaga dirimu, nak, terima kasih untuk kunjunganmu.”

Seunghyun mengangguk dan keluar. Dia masih belum terlalu jauh dari pintu saat dilihatnya para penjaga masuk kedalam kantor ayahnya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berbelok di sudut dan kembali kesisi kantor ayahnya, menguping pembicaraan mereka.

“Tuanku,”

“Siapkan tandu… kita akan pergi ke Lotus House mala mini.”

“Neh, Tuan.”

“Bawa beberapa orang bersamamu. Aku perlu mengecek sesuatu.”

**

“Aisht, dimana Tuan? Tsk!” mata Daesung mencari-cari di gerbang depan universitas mencoba menangkap sosok Seungri, namun sudah berjam-jam namun belum juga bayangan tuannya itu terlihat. Daesung harus memberitahukan bahwa ayah Seungri mengabulkan permintaannya.

Daesung segera berlari menuju sekelompok pelajar yang baru akan masuk kedalam kompleks Sungkyunkwan.

“Tuan Muda, permisi. Maaf mengganggu Anda, tapi apa Anda melihat Tuan saya Lee Seungri? Saya sedang mencarinya dan—,“

“Oh… neh. Seungri-ssi? Putra dari Menteri Keadilan?”

“Neh! Neh!”

“Aigoo, kami baru saja bersama-sama di bar lokal di kota. Aisht, pria itu. Para gisaeng sangat menyukainya.”

“BWOH???”

**

“Aigoo, Tuanku, Anda sangat baik hati!” para gisaeng bertepuk tangan setelah memperoleh hadiah dari Seungri berupa hiasan rambut dan bros, membuat para wanita itu menatapnya seolah dia ada adalah Dewa.

“Aisht, kalian semua sangat cantik. Hehe.” Seungri mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum kepada para gisaeng.

“Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda kali ini, Tuan? Kami akan menurutinya,” salah seorang dari gisaeng berkata sambil mendekat kepada Seungri, namun pria itu berjengit menjauh.

“Aisht, aku hanya ingin tahu tentang… hm… kalian tahu… kudengar kalian membicarakan tentang Jenderal So dan beberapa orang lainnya menghikang.”

“Oh itu! Benar!” jawab salah seorang gisaeng. “Dia bilang dia kehilangan beberapa orangnya dan beberapa bahkan ditemukan terbunuh. Aisht. Benar-benar menakutkan. Tidak ada kabar tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kurasa mereka merahasiakannya.”

“Kenapa itu harus dirahasiakan?” Seungri bertanya-tanya.

“Well mungkin karena mereka tidak bisa memecahkan kasus ini dan begitu orang-orang tahu tentang hal itu, seluruh negeri akan sangat kacau.”

“Itu benar. Aigoo.” Seungri menggeleng-gelengkan kepalanya dan dalam hati mencatatat nama-nama yang didengarnya dari para gisaeung.

“Satu hal lagi… apa kalian mendengar ada pembunuh gelap berkeliaran di ibukota akhir-akhir ini?”

Para gisaeng itu terkesiap dan saling pandang satu sama lain.

“Tuanku… hal itu sudah terjadi selama beberapa waktu. Salah seorang dari kediaman Keluarga Choi bilang bahwa Penasehat menerima ancaman tepat pada hari pernikahan putranya.”

“Chincha?”

“Neh. Aku tidak bisa menyebutkan namanya tapi. Biar bagaimanapun kami masih harus melindungi klien kami,” gisaeng itu tersenyum padanya.

“AIsht! Kalau begitu kalian harus setiap padaku dan aku janji aku akan dengan senang hati memberikan yang lebih dari—,”

“AAHH!”

Seungri terkesiap dan para wanita itu berteriak saat pintu terbuka dengan tiba-tiba menampakkan, Daesung yang sangat marah.

“TUAN!!! APA YANG ANDA LAKUKAN DISINI???!!! BUKANKAH ANDA TIDAK DIPERKENANKAN DATANG KEMARI???!!! ANDA INGIN DITENDANG???? AISHT!!!”

Seungri mengerutkan wajahnya dan membungkuk kepada para wanita itu sebelum berpamitan keluar. Dia menjewer telinga Daesung dan menyeret pelayannya yang berteriak kesakitan.

“OUCCCCHH!!! TUAN!!!”

“Dasar babo!!!” kata Seungri setelah melepaskan telingan Daesung yang telah memerah.

“Yah! Aisht! Kenapa Anda melakukan itu?” Daesung meringis kesakitan menggosok-gosok telinganya. “Saya bersumpah saya akan melaporkan hal ini pada Chaerin-ssi—,”

“Kutantang kau melakukannya!”

“Akan saya lakukan!”

“Aisht ini…”

“Saya pikir Anda sudah berubah sekarang berkat Chaerin-ssi, tapi saya salah!”

“Yah! Yah! Aisht… bisakah kau mendengarkanku lebih dulu?” Seungri mencoba menjelaskan merasa frustasi.

“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri! Lima orang gisaeng dalam pelukan Anda!!!”

“Aisht! Bisakah kau mendengarkan aku lebih dulu? Aku melakukannya untuk mengumpulkan informasi. Rumah kecil gisaeung ini biasa dikunjungi oleh para penjabat dan prajurit, dan yang sedang kulakukan sekarang adalah berusaha untuk mencari informasi dari mereka, dasar kau babo!” desis Seungri kesal, mencoba mengendalikan suaranya. Daesung menatapnya penuh curiga sesaat, tangannya masih berlipat mencoba memproses perkataan Seungri.

Apakah dia salah? Apakah Tuannya mengatakan hal sebenarnya?

“Jika begitu masalahnya, apa sampai perlu menyentuh-menyentuh begitu?”

“Aisht… kau benar-benar ingin menguras kesabaranku, bukan begitu? Huh? Apa yang ingin kau coba katakan, bahwa aku tidak setia pada Chaerin? Apa kau ingin kutendang?”

“Aisht tapi Tuan! Saya melihat dengan kedua mata saya, jadi Anda tidak bisa menyalahkan saya.” Balas Daesung. “Tapi jika Anda berkata demikian… well… saya hanya bisa berdoa semoga Chaerin-ssi tidak akan mendengar kabar ini.”

“Tidak aka nada yang tahu jika kau mau menutup mulutmu!” Seungri mendelik padanya. “Bagaimaina Chaerin? Dan apakah ayahku setuju?”

“Oh itu… saya ingin memberikan surat Anda untuknya semalam saat kami pergi ke Lotus House dan… apa Anda percaya? Pangeran tidak kembali ke Istana!”

“Bwoh?”

“Anda mendengar saya, kan?! Aisht, dasar Pangeran. Beliau bahkan memohon-mohon kepada Profesor Choi untuk menggantikannya. Beliau kembali membodohi Eunuch. Profesor Choi yang naik dalam tandu sementara Pangeran kembali untuk melihat Dara-ssi.”

“Aisht! Aku tidak percaya ada orang lain yang lebih cerdik dari aku.” Seungri menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

“Dan Tuan Besar mengijinkan saya untuk keluar dari kediaman Lee. Beliau bahkan memberikan saya uang dan itu membuat saya merasa bersalah. Itulah kenapa saya mencari Anda tapi ternyata Anda malah berada disini.”

“Aisht. Abeoji benar-benar baik padamu. Kau harus sangat berterima kasih. Terkadang dia bahkan memperlakukanmu dengan lebih baik dibanding denganku.”

“Apa Anda iri? Hehehe,” goda Daesung mendapat tatapan mematikan dari tuannya. “Oh, sebelum saya lupa, Chaerin-ssi menitipkan surat untuk Anda.” Daesung segera mengambil lipatan kertas dari balik jubahnya, Seungri menanti dengan penuh harap namun ekspresinya langsung berubah begitu melihat kertas itu kusut.

“Itu… ow… apa yang terjadi pada surat ini… uhmmm,” Daesung mencoba menghaluskan lagi surat dari Chaerin, tahu bahwa Seungri sedang menatap tajam padanya. Dia bisa merasakannya, tatapan tajam sang tuan menusuk sampai ke jiwanya.

“Itukah suratnya, ehh?” tanya Seungri dengan nada dingin.

“Oh… n-n-eh… aist… saya tidak tahu kenapa… well semalam surat ini terlipat rapi tapi… otteoke…”

“ITU ADALAH SURAT DARI CHAERIN BERANINYA KAU MEMPERLAKUKANNYA SEPERTI SAMPAH! KAU AKAN MENDAPATKAN BALASAN DARIKU DASAR KEPARAT!”

“YAAAAH! TUAN!” Daesung segera melemparkan suratnya kepada Seungri dan berlari kabur demi keselamatan hidupnya.

**

“Aku tidak akan mengijinkanmu unnie! Demi langit! Tidak! Apa kau sudah gila?” Charin menggebrak meja dengan marah, menatap Dara dengan penuh kesungguhan. “Kau tidak boleh meninggalkan tempat ini untuk ke Istana!”

“Chaerin-ah…”

“Dara. Dengarkan dia. Kumohon. Kondisimu sendiri tidak memungkinkan.” Kata Lady Hyori.

“Aku sudah memutuskan. Maafkan aku. Aku akan tetap pergi.”

“Apa kau sudah gila? Apa kau ingin Penjaga Istana menangkapmu? Unnie, kau harusnya memikirkannya terlebih dahulu, bahwa Pangeran tidak sanggup menyelamatkanmu!”

“Dia tidak bisa menyelamatku, tidak pula kau, ataupun orang lain. Tapi aku memerlukannya. Aku harus masuk kedalam Istana. Aku harus bertemu dengan Raja. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Jelas sudah! Kau sudah hilang akal!” Chaerin berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Lady Hyori dan Dara yang terdiam.

“Dara-ah…”

“Dia akan mengerti. Aku akan memperlihatkan padanya apa yang ingin kubuktikan. Dan aku tidak percaya bahwa Putra Mahkota tidak memiliki kuasa. Dia hanya lemah.”

“Jangan katakan padaku aku tidak memperingatkanmu. Aku percaya padamu. Kumohon jaga dirimu. Aku akan bicara pada Chaerin.”

“Terima kasih Lady Hyori. Kumohon selalu jaga Chaerin.”

“Tentu saja. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Tapi Dara, apa kau yakin kau sudah merasa lebih baik sekarang?”

“Masih terasa sakit tapi Istana memiliki obat-obatan terbaik. Aku akan cepat sembuh dan akan segera memberitahukan kepada kalian begitu aku memiliki kesempatan.”

Lady Hyori hanya mengangguk setuju, tapi tidak ada gunanya menentang keputusan Dara. hanya membuang-buang waktu. Tidak peduli seberapa pun cemasnya dia, dia tahu Dara sudah membulatkan tekat.

“Ayo kubantu kau keluar menuju ke tandu. Tunggu disini.” Lady Hyori berdiri dan keluar untuk melihat Pangeran. Dia menutup pintu dibelakangnya dan berjalan menuju kearah pria yang sudah menyamar dalam pakaian Yangban biasa.

“Jeoha…”

“Katakan padaku… dia tidak mau berubah pikiran, benar begitu?”

“Aniyo. Saya rasa tidak ada yang bisa membuatnya berubah pikiran.”

Pangeran mengangguk dan menatap Seunghwan yang langsung datang dari Istana begitu menerima pemberitahuan dari Pangeran.

“Apa kau yakin mereka bisa dipercaya?” tanyanya pada sang Eunuch yang mengangguk tanpa ragu.

“Lady Hyori… apa dia telah siap?” tanya Pangeran kepada sang Kepala Gisaeng Negara.

“Neh.” Lady Hyori memberi tanda kepada para pelayannya dan segera kembali ke kamar Dara untuk membantu gadis itu, namun yang membuat mereka terkejut Dara sudah berdiri, mengikatkan tali pada topi dibawah dagu.

“Bagaimana penampilanku?” tanyanya tersenyum lemah, wajah pucatnya masih membuatnya terlihat seperti pesakitan.

“Dasar wanita kecil keras kepala, aisht. Biarkan kami membantumu.” Kata Lady Hyori yang langsung beranjak menuju ke sisinya, menahan lengannya, para pelayan memapahnya berjalan keluar dari kamar.

“Jeoha…” panggil Dara pada pria yang memunggunginya. Perlahan, Pangeran berbalik dan menemukan Dara yang tengah tersenyum padanya. Suasananya akan sangat sempurna.

Jika saja Dara mengenakan pakaian wanita.

Tapi tidak. Dia mengenakan pakaian pria, menyelimuti tubuh mungilnya dan dia memang telah merencanakan hal itu.

“Biarkan aku bertanya sekali lagi sebelum kita pergi—,”

“Ya. Saya yakin. Saya ingin pergi dengan Anda.” Jawabnya tanpa berkedip. “Maaf karena saya telah berani bicara seperti ini kepada Anda, Jeoha. Sangat lancang bagi saya bicara demikian, tapi saya mohon, jangan membuat saya berubah pikiran.”

“Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau yakin dengan hal ini.”

“Saya tidak mungkin lebih yakin lagi.” kata Dara lalu beralih pada Lady Hyori dan menggenggam kedua tangan wanita itu, meremasnya.

“Kumohon… buat Chaerin mengerti,” katanya.

“Tentu saja. Aku tahu dia akan mengerti. Kumohon jaga dirimu. Tidak akan mudah berada disana.”

“Aku akan baik-baik saja.”

“Dara-ah…” panggil Lady Hyori setelah akhirnya dia mengingat sesuatu. “Bagaimana jika… bagaimana jika Ilwoo dan Harang datang kemari?”

Dara terdiam sejenak, menyadari bahwa dia harus segera pergi sebelum Ilwoo mengetahui, karena jelas sekali pria itu akan melarangnya. Tapi dia tidak punya pilihan lain kecuali masuk kedalam pertempuran ini. Mereka harus bekerja secara terpisah untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Dara baru akan bersuara, akhirnya memutuskan untuk menyusun sebuah kebohongan jika saja Ilwoo datang untuk menemuinya – tapi Seunghyun tiba-tiba datang, berlari kearah mereka seperti dikejar-kejar oleh setan.

“Jeoha!”

“Profesor?”

“O-o-ppa…”

“Apa yang membawa Anda kemari?” tanya Lady Hyori dan menuruni tangga untuk menemui Seunghyun.

“Jeoha! Pergilah sekarang! Dara-ah! Pergi! Tinggalkan tempat ini!” kata Seunghyun disela-sela nafasnya yang terengah-engah.

“Oppa? Kenapa?”

“Ayahku dan orang-orangnya!!! Mereka akan datang kemari!!! Pergi sekarang! Tinggalkan tempat ini!”

**

Mengiringi orang-orangnya dan tandu yang membawa Dara dan sang Putra Mahkota, Eunuch Seunghwan mencoba untuk memasang wajah berani meski hatinya berdebar keras dalam dada. Saat itu sudah hampir gelap dan mereka mengalami kesulitan melakukan perjalanan hanya dengan disinari oleh obor dan lentera.

“Aisht. Pangeran sudah gila!” Seunghwan hampir menangis ketakutan. “Bagaimana kalau kita semua tertangkap? Aigoo…”

“J-j-eoha…” Dara menoleh kesampingnya dan melihat Pangeran duduk tenang seolah semuanya normal.

“Hmmm?”

“Apakah Anda tidak merasa takut?”

“Apa yang harus kutakutkan? Kecuali jika kau berencana untuk melarikan diri lagi.”

“Aisht…” Dara tertawa kecil. “Maksud saya jika Penasehat Choi dan orang-orangnya menangkap kita. Bagaimana jika—,”

“Tinggalkan kecemasanmu. Cukup sekali aku bersikap bodoh dan tidak berdaya karena sudah membiarkan hal itu terjadi sebelumnya. Percaya padaku, kita akan baik-baik saja.” katanya tersenyum, mencoba menenangkan Dara.

Dara terdiam sejenak. Merasakan lukanya semakin sakit disetiap gerakan dari orang-orang yang membawa tandu dan rasa sakitnya kian parah saat salah seorang dari orang itu tanpa sengaja tersandung oleh batu dan meskipun berhasil menjaga keseimbangan, tapi tetap saja hal itu berdampak pada Pangeran dan Dara yang berada didalam.

“Aaaaahh!” Dara berseru kesakitan membuat Jiyong terkesiap ketakutan.

“Dara! Apa kau baik-baik saja?”

“Saya… saya baik-baik saja…” kata Dara tapi saat Jiyong mendekatkan tubuh gadis itu, dia merasakan basah di bagian pinggangnya dan matanya melebar ngeri.

“Aisht! Turunkan tandunya! Berhenti!” katanya membuat orang-orang itu langsung menurut.

“Kau berdarah! Demi langit!” tangan Jiyong gemetaran melihat cairan merah ditangannya. “Dara…”

“Daya baik-baik saja. Kita harus segera pergi, Jeoha. Kita tidak boleh berhenti disini.”

“Jeoha, apakah ada masalah?” Eunuch mengetuk jendela dan bertanya sebelum akhirnya membuka jendelanya.

“Apakah ada masalah? Kau bertanya apa ada masalah? Kami hampir saja terjatuh! Dan Dara kembali berdarah! Siapa yang melakukannya, huh? Siapa keparat tidak berguna itu?!”

Eunuch Seunghwan tersentak melihat tatapan membunuh di mata Pangeran dan hanya bisa membungkukkan badan meminta maaf atas kesalahan salah seorang pembawa tandu.

“Mianhe Jeoha. Saya mohon, tenangah. Aigoo. Kita harus melanjutkan perjalanan, kita tidak bisa berhenti disini.”

“Dara, apa kau baik-baik saja?” Seunghyun ikut melongok kedalam.

“Aku baik-baik saja, oppa.”

“Kau tidak baik-baik saja!” sela Jiyong.

“Kita harus melanjutkan perjalanan. Ayo pergi,” kata Dara, sepenuhnya mengacuhkan sang Putra Mahkota.

“Jeoha…” Seunghyun dan Seunghwan menantikan tanda dari sang Pangeran.

“Aisht! Bagaimana bisa kau begitu keras kepala?” tanyanya pada Dara sebelum mengangguk pada kedua pria itu. Dia semakin mendekatkan tubuh Dara padanya dan membiarkan kepala gadis itu bersandar di bahunya.

“Saya bilang saya baik-baik saja. Ini hanyalah luka. Saya sudah pernah mengalami hal jauh lebih menyakitkan dari ini,” katanya sambil memejamkan mata, tangannya bergerak untuk menutupi lukanya, mencegah darahnya semakin mengalir keluar.

“Dan semuanya karena aku. Dan sekarang…”

“Hentikan. Shh… saya sedang berkonsentrasi. Sebentar lagi rasa sakitnya akan menghilang.” Katanya.

“Park Sandara… apa yang akan kulakukan padamu?”

Tak berapa lama keduanya merasa semua orang melambat sampai mereka berhenti.

“Ada yang datang…” kata Dara, mencoba memperhitungkan jumlah langkah kaki yang bergerak menuju kearah mereka. “Kurasa mereka disini…”

“Shhh… merunduk…” Jiyong segera bergeser kesamping untuk memberikan tempat yang lebih luas pada Dara. Dia membantu gadis itu dan menggenggam tangannya yang dingin, matanya menatap mata Dara penuh janji. “Kita akan baik-baik saja… semuanya akan baik-baik saja,” katanya dan Dara hanya mengangguk.

“Bersikap normal,” kata Seunghyun pada sang Eunuch yang bersikap tidak tenang.

“Aisht! Saya sedang berusaha! Saya sedang berusa— OMONA!” Eunuch Seunghwan terkesiap melihat sekelompok orang menuju kearah mereka, dia tidak mengenali wajah orang-orang tapi dari pakaiannya, dia tahu itu adalah seragam Penjaga Istana. Dia mencoba melihat semakin dekat dan menyadari bahwa sang Penasehat ada bersama mereka di tandu yang terbuka.

“Seunghyun? Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Abeoji, bukankah aku pun harusnya menanyakan hal sama padamu? Aku keluar untuk tujuan tugas.” Kata Seunghyun.

“Kami sedang dalam perjalanan untuk mengecek sesuatu, bagaimana denganmu?”

“Kami sedang dalam perjalanan untuk kembali ke—,”

“APA YANG TERJADI?” tanya Jiyong dengan penuh kuasa. “SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU PERJALANAN KITA KEMBALI KE ISTANA?”

Penasehat Choi tersentak mendengar suara Putra Mahkota dan segera turun dari tandunya untuk memberikan penghormatan.

“Apakah… apakah itu Putra Mahkota?” tanya salah seorang bawahan Penasehat.

“SIAPA YANG SUDAH KURANG AJAR YANG BAHKAN TIDAK TAHU ORANG-ORANG PUTRA MAHKOTA DAN PELAYANNYA? BAWA DIA KEMARI. SEKARANG!!!”

“NEH!”

Sang Kepala Pasukan segera digiring menuju ke jendela tandu Putra Mahkota dan begitu orang itu melihat wajah Jiyong, dia segera membungkuk, sangat rendah sampai hampir mencium tanah.

“Maafkan saya, Jeoha! Saya mohon, ampuni saya!”

“Beraninya kau membuang-buang waktuku.”

“Jeoha…” pria itu berkata tak berdanya namun sang Penasehat segera beranjak mendekat untuk melihat sang Pangeran.

“Jeoha, saya minta maaf tapi sepertinya kita memiliki kesalahpahaman disini. Saya mohon, maafkan diam,” kata Penasehat dengan kepala tertunduk.

“Akan kulepaskan untuk kali ini. Pastikan agar kau mendidik orang-orangmu dengan baik, Penasehat. Aku sangat lelah sekarang. Aku tidak punya waktu untuk ini!” kata Pangeran sambil melirik kearah Penasehat sebelum kembali menatap kedepan. “Seunghwan! Ayo pergi!”

“YEH, JEOHA!”

Orang-orang Putra Mahkota segera menjunjung tandu dan bergerak pergi. Seunghyun menoleh dan melihat pria yang masih membungkukkan badan itu sementara Seunghwan memerintahkan pasukan untuk berjalan lebih cepat.

Didalam tandu, Pangeran mendesah lega setelah akhirnya mereka berhasil melewati cobaan pertama.

“Lihat? Kita bisa mengatasi hal itu.” dia tersenyum dan kembali menarik Dara dalam pelukannya. “Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit? Biar kulihat,”

“Tidak… saya baik-baik saja. Masih agak sakit tapi… tidak separah tadi…”

“Pscht. Akhirnya kau bicara. Aigoo, gadis ini.” katanya, menatap Dara dengan tatapan menilai. “Selalu saja bilang baik-baik saja padahal tidak.”

“Jika saya berkata bahwa saya tidak baik-baik saja, kita pasti masih disana saat orang-orang itu datang. Situasi yang sama sekali tidak saya inginkan.”

“Dan ini pun sama sekali tidak kuinginkan,” katanya merujuk pada kondisi Dara.

“Jadi dengan saya berada dalam pelukan Anda, itu sama sekali tidak Anda inginkan?”

“B-b-bwoh?” Pangeran tergagap mendengar perkataan gadis itu, merasakan perutnya sama tidak nyamannya seperti pagi tadi saat Dara tersenyum padanya.

“Pscht.” Dara menyeringai dan mencoba tidak memikirkan rasa sakit di pinggangnya dan semakin mendekatkan diri pada Pangeran membuat pria itu tegang.

Ini, pikirnya. Tindakan kecilnya masih memberikan pengaruh besar pada Jiyong. Dan hal itu cukup menenangkannya, namun tidak pernah menyadari bahwa memiliki pengaruh pada Jiyong akan membuatnya merasa sangat baik. Tidak pernah dia berpikir bahwa itu membuatnya merasa sangat berkuasa.

“Maafkan saya, Jeoha,” gumam Dara.

“Apa kau mengatakan sesuatu?”

“Aniyo…” dia tersenyum dan menekan bibir sembari menekan lukanya lebih kuat. “Saya bilang terima kasih,”

**

“Penasehat!” pasukan itu berkumpul disekeliling tuan mereka dan sang pemimpin pasukan masih berlutut di tanah.

“Dasar keparat, kau baru saja mempermalukanku dihadapan Putra Mahkota!” Penasehat Choi menendang pria itu marah.

“Maafkan saya, Tuan!”

“Aisht! Kaja!” Penasehat mendelik pada pria itu sebelum berbalik.

“Aisht! Malam ini sangat tidak menguntungkan!” dia berdiri namun sebelum dirinya sempat sepenuhnya bediri, tangannya merasakan kejanggalan di tanah. Dia mengerutkan alis dan perlahan memperhatikan tanah didepanna dan matanya menyipit, dia mendekati pria yang membawa obor untuk meyakinkan tebakannya.

“Darah…” katanya lalu menoleh pada jalan yang diambil oleh Pangran dan pasukannya.

“Penasehat! Disini! Lihat ini!” katanya berlari menyusul Penasehat dan menunjukkan darah ditangannya, membuat pria tua itu mengerutkan alisnya.

“Apa maksudnya ini?”

“Apakah Pangeran terluka?” salah seorang dari pasukan bertanya.

Penasehat menyipitkan matanya, berbalim pada pasukan. “Kalian,” dia menujuk pada separuh Penjaga Istana. “Separuh dari kita akan pergi ke Lotus House seperti yang sudah direncanakan. Dan kalian… kalian semua pastikan untuk mengikuti Pangeran secara diam-diam. Apa kalian mengerti?”

“YEH Penasehat!”

**

 

<< Previous Next >>

Advertisements

36 thoughts on “The King’s Assassin [26] : Escape

  1. aigo penesehat choi mulai curiga dan mengirimkan mata” utk mengikuti rombongan jiyong. semoga tidak Apa”sama mereka.
    ya udah lanjut bacaaa

  2. Aisshttt, penasehat choi jengkelin mungkin dianya aja yang berdarah *menyembunyikan fakta kalo dara unnie yg terluka* dara unnie, bertahanlah neh, bentar lagi nyampe. Jangan sampe mata matanya penasehat choi ngeliat dara unnie.

  3. Omoooo.. Penasehat choi. Curiga..
    Harusnya tandu yg d pakai putra mahkota Dan dara unnie.. Di pasangin cctv d belakang depan samping ..kalau ada pergerakan mencurigakan bsa langsung kelihatan..
    Seunghyun oppa waspadalah waspadalah
    #ala-ala bang napi
    Hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s