100 Days ‘2’

100 Days

Author : Zhie
Main Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong
Support Cast : Park Sanghyun, Lee Chaerin, Park Bom
Genre : Horror

~~~~~~~~~~~~~~

Aku menunggu hari ini datang, menjemput dirimu untuk 
menemaniku

Tambahkan sedikit volume di Laptop/PC mu and matikan lampu plus tutup pintu bila perlu… karena kalau tidak-

.

.

.

Ehm… ya tidak apa-apa. Waks. Abaikan. 😛

Note : Bacalah sekarang, sebelum malam tiba. 

Dara menatap jauh keluar jendela, hujan turun semakin lebat malam ini dan ia seorang diri sekarang. Sanghyun adiknya telah kembali ke dormnya pagi tadi… ia kembali memikirkan keanehan-keanehan yang terjadi kemarin. Ia merasa tak pernah mengalami hal itu sebelumnya… tapi untuk bel yang terus berbunyi, ia masih bisa meyakini itu perbuatan anak-anak tetangga. Sedangkan untuk kotak musik yang tiba-tiba terbuka dan gelas yang ia yakin pecah berkeping-keping berserakan di lantai… ia masih tak mengerti.

Aigo. Apa aku hanya berhalusinasi? Tapi itu terasa benar-benar nyata dan pesan itu…”

‘Kau harus mengingatnya’

“Apa? Apa yang harus kuingat? Ah. Ini membuatku gila!” rutuk Dara benar-benar tidak bisa mengerti ada apa sebenarnya… walaupun ia sebisa mungkin memikirkan kembali dengan logika tapi pada kenyataanya, semakin ia mengelak semakin itu terasa tak wajar. “Huft… apakah penghangat di kamar ini rusak?” ucapnya kemudian saat menyadari hawa kamar yang semakin lama semakin terasa dingin baginya. Ia pun kembali meraih tongkat kruknya untuk menuju ruang tengah… menelpon penjaga apartemen.

Tapi saat ia menghubunginya tidak ada nada sambung yang terdengar, “Ck ck… apa lagi kali ini? Mengapa ini tak berfungsi?”

Ting tong… ting tong…

Ting tong… ting tong…

‘Deg’

Dara terpaku di tempatnya berdiri, reflek ia pun melihat jam yang lagi-lagi menunjukkan pukul 12 am.

Ting tong… ting tong…

Ting tong… ting tong…

Bel itu terus berbunyi. Dara berusaha mengatur nafasnya yang tiba-tiba berdenyut dengan kencang kali ini, ia berusaha kembali mengumpulkan seluruh keyakinannya yang tersisa bahwa itu bukanlah apa-apa, dan saat ia akan melangkah untuk menuju pintu itu tapi sesuatu kembali menghentikan langkahnya…

Kotak musik itu… kotak musik itu kembali mengalunkan dentingan piano yang kini terdengar sangat menakutkan bagi Dara. Air mata telah mulai tertahan di sudut matanya. Ia yakin… benar-benar yakin, ini bukan sesuatu yang bisa dipandang dengan logika. Dengan tertatih ia menggunakan tongkat kruknya menuju kembali ke kamarnya untuk meraih ponselnya, mengabaikan suara musik dan bel apartemennya yang saling berbunyi bersahutan… ia hanya berharap, para tetangga akan merasa terganggu dan mendatanginya. Tapi saat ia tiba di kamarnya, suara musik itu menghilang dan ia mendapati kotak musik itu tertutup dan berada di tempatnya… seketika ia jatuh terduduk, dan merasakan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.

“A… apa… apa aku mulai gila?”

~~~~~

Hari ini Bom datang berkunjung ke Apartemen Dara setelah pagi ini Dara menelponnya, dan ia terkejut melihat kondisi Dara yang mengkhawatirkan… dengan wajah pucat dan mata yang benar-benar terlihat tidak cukup tidur… ia tampak seperti mayat hidup.

Ya! Ada apa denganmu, hah? Apa kau sakit?” tanya Bom kemudian, sambil memeriksa kening Dara.

Anio.” jawab Dara pelan.

“Lalu mengapa kondisimu seperti ini, hah?” tanya Bom lagi duduk di samping Dara.

“Aku hanya tidak bisa tidur.”

Mwo? Wae?”

“Aku mengira anak-anak tetangga memainkan bel apartemenku semalam.”

Jinjja?”

Ne.”

Omo! Mengapa kau tak adukan mereka, hah? Bukankah itu sudah keterlaluan?” sungut Bom membuat Dara hanya bisa tertunduk.

“Aku sudah mengadukannya.”

“Lalu?”

“Mereka yakin anak-anak mereka tak melakukannya-“

Aigo… itu hanya pembelaan mereka, Dara.” potong Bom, “Semua orang tua selalu melindungi anak-anak mereka.” lanjutnya.

“Tapi mereka tak ada yang mendengar suaru bel apapun sepanjang malam, karena itu mereka tak merasa terganggu sedikit pun.”

Ya! Aku rasa mereka telah bersekongkol. Kenapa tidak kita adukan ke penjaga keamanan dan meminta cctv sebagai barang bukti?”

“Aku sudah melakukannya.”

“Lalu?”

“Tak ada siapa pun yang terlihat di sana.” jawaban Dara kali ini membuat Bom membulatkan matanya.

Mwo?”

“Apa kau berpikir aku gila? Karena jujur aku mulai berpikir seperti itu sekarang.” ucap Dara kemudian tanpa ekspresi menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata, sementara Bom hanya bisa menghela nafas karena ia juga tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa jam kemudian…

Dara dan Bom kini berada di sebuah taman yang tak jauh dari apartemennya, Bom memaksa Dara keluar untuk menghirup udara segar sekaligus untuk lebih menenangkan pikirannya.

“Aku akan membelikan ice cream kesukaanmu, Dara… tunggu di sini, ne.” ucap Bom kemudian berlalu pergi membeli ice cream tak jauh dari Dara yang duduk di kursi taman.

Dara mengedarkan pandangannya ke sekeliling, taman yang biasanya ramai… sekarang terlihat sangat sepi, dan pandangan Dara terhenti pada seseorang yang duduk di salah satu kursi taman yang berada tak jauh darinya tengah menatap tajam dirinya.

‘Siapa dia?’

“Dara!” Suara Bom yang memanggil namanya menyadarkannya, Bom melambaikan tangan berlari ke arahnya dengan ice cream yang ia bawa. Dara pun tersenyum melihatnya… tapi senyumnya menghilang saat ia tak menemukan kembali sosok yang tadi duduk tak jauh darinya.

Ya! Kau ini, kupanggil malah mengabaikanku… siapa yang kau cari sih?” tanya Bom kemudian, menyadari sahabatnya itu tengah mengedarkan pandangannya.

“Seseorang- seseorang berjaket hitam dengan tudungnya yang menutupi kepala. Kau melihatnya? Tadi dia duduk di sana, tepat di sana.” jawab Dara menunjuk di mana seseorang yang ia lihat tadi duduk.

Mwo? Aku tidak melihat siapa pun… itu kosong, tak ada yang duduk di sana. Kalau pun ada dan ia telah pergi, pasti masih terlihat. Inikan tempat yang sangat terbuka.” ucap Bom membuat Dara kembali terdiam.

“Ah. Kau benar, mungkin aku salah lihat.” ucap Dara kemudian.

“Ini.” Bom menyerahkan satu bungkus ice cream pada Dara dan membuka satu bungkus ice cream lain yang ia beli untuk dirinya.

“Bom.” panggil Dara, Bom yang tengah menikmati ice cream di sebelahnya pun menoleh padanya.

Ne.”

“Kejadian naas yang menimpaku itu, apa benar hanya kecelakaan tunggal? Apa benar mobilku hanya tergelincir dan menabrak pembatas jembatan? Tidak adakah korban?”

“Ah. Waeyo? Sungguh aneh rasanya kau tiba-tiba menanyakan hal yang ingin kau lupakan itu, Dara.”

“Aku hanya ingin tahu, Bom. Apa ada yang kulupakan?”

“Ais. Tidak ada satu pun korban, Dara… yang kutahu ban mobilmu mengalami slip karena salju yang membuat jalanan licin dan kau hilang kendali. Itu saja.”

“Ah. Begitu?” guman Dara lirih berusaha untuk tak lagi memikirkannya.

Beberapa saat kemudian Dara dan Bom telah tiba kembali di lobi apartemen, dan saat itu ponsel Bom berbunyi.

Yeoboseyo. Ah… ne, aku masih bersama Dara sekarang. Araesso… aku akan segera pulang Eomma.”

“Ada apa?” tanya Dara melihat Bom telah mengakhiri sambungan.

Eomma… memintaku mengantarnya ke sebuah pertemuan sekarang.”

“Ah. Kalau begitu kau harus segera pergi Bom.”

Ne… tapi aku akan mengantarmu dulu ke atas.”

Anio. Aku bisa sendiri, lagipula aku hanya perlu menaiki lift ini, jadi pergilah.”

“Kau tidak apa-apa?”

Aigo. Kau pikir aku selemah itu? Aku telah terbiasa menggunakan kruk ini, kau tahu itu”

“Ah… nene. Baiklah, aku pergi  dulu. Sampai jumpa.”

Ne. Hati-hati, Bom.”

Tepat setelah kepergian Bom, pintu lift pun terbuka. Dara baru akan masuk saat tatapannya terhenti pada seseorang yang telah berada di dalam lift tersebut.

“Laki-laki bertudung hitam.” batinnya tiba-tiba ia merasa ragu untuk masuk ke dalam- bersamanya, tapi pada akhirnya ia pun melangkahkan kaki dengan bantuan tongkat kruknya memutuskan untuk masuk dan setelah ia menekan tempat tujuannya, Dara pun mundur beberapa langkah hingga ia dapat mengamati laki-laki yang kini berada di depannya- masih tetap diam dengan satu tangan di sakunya.

‘Siapa sebenarnya dia?’

Dan…

“Omo.” pekik Dara dengan menutup mulutnya saat melihat tetesan darah dari tangan laki-laki di hadapannya, “Ya! Kau terluka? Tanganmu itu-“

Bagh

Lift terhenti dan lampu pun padam. Seketika Dara membeku di tempatnya, kini yang terdengar hanya suara nafasnya dan juga detakan jantungnya.

‘Ada apa ini?’

Deg

Deg

Deg

YA! Kenapa liftnya mati?” ucap Dara kemudian berusaha maju beberapa langkah di dalam gelap dan menggedor pintu lift berharap ada yang mendengar bahwa ia berada di dalam. “Siapapun toloooooooooooooong, kami ada di dalam. Ya! Adakah orang di luar?” Dara berteriak sekuat tenaga hingga nafasnya tersengal… tempat itu terasa pengap sekarang, ia pun teringat dengan laki-laki yang tadi berada di lift dengannya, “Hei. Kau di sana? Katakan sesuatu. Bantu aku… kau pasti bisa memanggil mereka. Ya!” Dara tak bisa melihat apapun, tangannya mulai meraba… berharap sosok laki-laki itu ada di dekatnya, setidaknya ia tahu- ia tak sendiri sekarang, tapi ia salah… bahkan ia telah berputar, meraba setiap sudut lift- tak ia dapati siapa pun di sana.

‘Mwo? Apa-apaan ini? Bukankah tadi aku tak seorang diri di sini? Tapi… kenapa-‘

Sreeet

Terdengar sebuah suara gesekan yang aneh, tepat berada di atasnya.

Sreeet

Suara itu kembali terdengar namun kini beralih tepat di belakangnya.

Dara mulai merasakan hawa dingin semakin menjalar di seluruh tubuhnya- bulu kuduknya meremang, ia pun menelan ludah- mencoba mengumpulkan keberanian untuk kembali membuka suaranya…

“A- apa itu kau? P- pria bertudung hitam?” tanya Dara terbata, namun tak ada jawaban… “YA! JANGAN BERCAN-“

Deg

Mata Dara membulat, jantungnya seketika berhenti berdetak… karena saat ia berbalik untuk melihatnya, sesosok makhluk telah tepat berada di hadapannya dengan wajah yang tampak membusuk dan darah kental dengan bau anyir yang begitu menyengat- menatapnya tajam. Ia dapat dengan jelas melihatnya.

"Khuhuhuhu... apa kau kini... telah mengingatnya, Park Sandara?"

Deg

Deg

Deg

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Related image

.

.

sebelumnya

.

.

ZONK

Apa kalian tertipu??? Ini tidak seramkan??? Wkakakak, begitulah… sepertinya aku gagal di genre horror waks, maapkeun.

Tapi tetap… tunggulah chapter selanjutnya.

Mungkin akan ada perkembangan atau…

TIDAK!!!

Kekekke….

Miss U, All

-Zhie-

Advertisements

16 thoughts on “100 Days ‘2’

  1. Kak itu laki2 bertudung jiyongkah dan apa dia jg yg neror dara selama ini dan knp dia dendam sm dara????? Apa ini jg ada hubungannya sama kecelakaan yg menimpa dara dan apa dia korban yg meninggal….. Next chap ya kak aku bakalan nungguin dan jangan lupa ff hello bitchisnya jg aq tungguin makin penasaran nih dan jangan lama” ya kak dan fighting buat lanjutin ffnya ^~^♡♡♡

  2. Seketika ikut degdeg-an juga,,, Jiyong kah pria itu ?? Apa hubungan.y sama dara kok menghantui dara mulu ?? Next chap kak d.tunggu bgt ,,, semangat terus ^_^

  3. ji oppa kah ittu ??
    asli baca.a deg”an malem” ginii ..
    dara unie prnah kclkaan .apa korban.a ji oppa /??
    next unie dah pnaran .

  4. Awalnya gak kefikir cerintanya bakal bikin deg”an…
    Dan kayaknya laki” bertudung itu jiyong dan masih pernasaran hubunganya sama dara… next chap unnie…fighting

  5. Akhirnya ff yang kutunggu-tunggu udah diupdate. Thx yaaa zhie unnie udh meluangkan waktu buat melanjutkan ff dengan genre horror inii. Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s