[Series] Coming To You – 2

coming to you

Author : Jung Yoorey

Title : Coming To You

Cast : Sandara Park (Dara 2NE1), Kwon Jiyong (GD Big Bang)

Other Cast : Lee Haru (OC), other

Genre : Fantasy, Romance, a bit Comedy

Rating : Teenager

Backsound’s : Honey – Acourve (sensory couple OST)

 


 

~HAPPY READING~

Jiyong terbangun dari tidurnya ketika mendengar keributan di luar kamarnya. Sayup-sayup terdengar suara jeritan seorang yeoja. Jiyong meneguk liurnya sekali. dua kali. Tiga kali. Empat kali. Dan matanya terbelalak.

Dengan segera jiyong menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya yang hanya menggenakan boxer kuning dan segera berlari keluar kamar menuju asal keributan itu.

jiyong menerobos masuk kedalam kamar keponakannya—yang ditempati sandara, dan celingak-celinguk mencari keberadaan gadis joseon itu.

tapi nihil. Mata jiyong tidak menemukan keberadaannya di kamar bernuansa anak-anak itu. jiyong melirik ke arah kamar mandi yang menyala, pintunya sedikit berderit. “sandara?”

Baru saja jiyong ingin melangkah kesana, pintu kamar mandi itu terbuka dengan lebarnya menampilkan sesosok yeoja dengan rambut panjang berwarna hitam kecokelatan dengan kemeja biru gelap yang kebesaran menutupi sedikit lututnya—tanpa bawahan. Jiyong mengerjapkan matanya dan meneguk liurnya beberapa kali. Tetesan-tetesan air merembes turun menyentuh permukaan lantai akibat rambut sandara yang belum sepenuhnya kering. Ia menggendong sesuatu ditangannya.

Sandara sendiri shock dengan pemandangan dihadapannya. Jiyong yang sudah seperti bertelanjang bulat dan hanya menggenakan boxer kuning membuat sandara berigidik. Ditambah dengan badan jiyong yang dipenuhi banyak ukiran mengerikan. Sandara tercengang.

“ka-kau.. apa yang kau lakukan pada gaho?” jiyong mencoba mengalihkan perhatiannya pada gaho yang digendong sandara. Bulldog peliharaannya itu basah kuyup. Tatapan jiyong sungguh sulit diartikan.

Sandara meneguk liurnya. “a-aku.. merasa dia kotor sekali, jadi kubersihkan saja.”

Jiyong mengusap wajahnya kasar alih-alih menahan pesona sandara yang entah kenapa membuatnya gugup.

“memangnya kau tau menggunakan barang jaman sekarang? Bukankah kau itu dari joseon? Atau kau bohong, huh?” curiga jiyong yang melihat sandara seperti terbiasa menggunakan barang pada jaman sekarang. Jiyong berpikir kalau memang sandara dari masa lalu, harusnya sandara tidak tahu menahu cara menggunakan barang pada jaman sekarang kan? Oh baguslah, jiyong memang sangat cerdas.

Sandara mengerjapkan matanya. “aku hanya menekan sebuah keran yang seperti pohon dan tiba-tiba airnya keluar. Airnya sangat dingin, menyegarkan. Dan aku memandikan hewan ini di dalam mangkok-mangkok berisi air.” Jelas sandara sambil mengangkat gaho yang lemas digendongannya.

Jiyong mulai merasa perasaannya tidak enak. “ma-mangkok?” ulang jiyong memastikan yang sandara katakan itu memang mangkok. Setaunya, ia tidak pernah menaruh mangkok di toilet keponakannya itu.

Sandara mengangguk. “ya. airnya pun bisa diganti ketika aku menekan sesuatu di atasnya. Sungguh canggih!” Ucap sandara sambil mempraktekkan hal yang dilakukannya pada gaho. Tangannya terputar-putar.

Jiyong sungguh ingin mencekik lehernya sendiri saat sesuatu yang sandara sebut ‘mangkok’ itu melintas di otaknya. Dengan cepat jiyong menggeleng menepis pikiran menjijikkan itu.

“ayo kutunjukkan.” Seru sandara. Ia berpikir kalau jiyong tidak tahu apa yang dia bicarakan.

Dengan berat jiyong melangkah mengikuti sandara yang sudah masuk kembali ke kamar mandi. Ia bergidik melihat gaho yang sudah dia anggap anak itu melemas di pelukan sandara.

Jiyong meneguk liurnya susah payah. sandara tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah ‘mangkok’ yang dia maksud.

“mangkok ini canggih sekali. aku sedikit heran kenapa hewan ini sangat tidak ingin kumandikan, jadi langsung saja kumasukkan dia kedalam mangkok ini. untung airnya bisa diganti dengan menekan ini.”

Bzzzzr

Sandara menekan tombol yang ia maksud dan seketika air dalam ‘mangkok’ itu berputar-putar dan masuk ke lubang yang berada di tengah ‘mangkok’ itu. sedetik kemudian air baru kembali muncul mengisi ‘mangkok’ itu. gaho melolong dengan lemasnya melihat betapa bahagianya seseorang yang menggendongnya tanpa rasa bersalah itu.

Jiyong merasa nyawanya ditarik paksa. Mata sipitnya membulat sempurna. wajahnya berubah menjadi menakutkan.

“KAU MEMANDIKAN GAHO DIDALAM TOILET?!?! KAU SUDAH GILA?!?! DIMANA OTAKMU?!?! OH JESUS, SELAMATKAN GAHO!!! ANDWAEEE!!!”

*

Sandara duduk di sofa ruang tengah milik jiyong. Matanya fokus menonton sebuah acara di tv. Sandara tidak berhenti terkaget-kaget ketika banyak orang terkurung didalam kubus tipis didepannya.

“bagaimana cara mereka masuk kesana? Sungguh aneh. Apa abad sekarang itu bisa membuat orang masuk kedalam kotak kecil begitu? aneh sekali.” gumam sandara sambil menyentuh layar tv. Ia memencet-mencet layar tersebut upaya mencari cara agar ia bisa bergabung didalam sana.

mwoaneun geoya? (apa yang kau lakukan?)”

Sandara hampir lompat kebelakang ketika mendengar suara berat menegurnya. Sandara segera memperbaiki posisi tubuhnya menjadi tegap dan membungkuk sedikit pada si ‘tuan rumah’. Siapa lagi kalau bukan kwon jiyong? Lelaki yang membentaknya habis-habisan pagi tadi karena ia memandikan gaho dalam mangkok. Sandara bahkan tidak tahu dimana letak kesalahannya—dan kesalahan mangkok itu.

Jiyong memutar matanya. “kau berniat menghancurkan tvku setelah berniat membunuh gaho?” sinis jiyong.

Sandara menggeleng, ia menunjuk ke arah tv dengan wajah polosnya. Ia mungkin satu-satunya orang yang tidak akan bisa diintimidasi oleh kesinisan jiyong. “kenapa bisa orang-orang itu berada didalam sana?”

Jiyong mengusap wajahnya kasar. “oh jesus. Kau tidak tahu apa itu televisi? Mereka melakukan..”

Sandara mengalihkan pandangannya dari jiyong yang sibuk menjawab pertanyaannya tadi. Ia menatap seorang bocah perempuan kecil yang berada disamping jiyong. Mata bulatnya menatap sandara dengan polos.

Sandara tersenyum senang dan segera berlutut didepan bocah itu melupakan fakta bahwa jiyong masih berbicara padanya.

Jiyong terperangah. “yak kau! Kau bisa-bisanya mengabaikanku setelah aku menjawab pertanyaan bodohmu!” bentak jiyong kesal.

Sandara menyodorkan tangannya kedepan bocah itu tanpa memperdulikan jiyong. “ireumi mwoeyo? (siapa namamu?)” tanya sandara sambil tersenyum tipis.

Bocah itu menyambut tangan sandara dengan tangan kecilnya. “Lee Haru. Ahjumma nuguseyo? (bibi siapa?)”

Sandara bersemu tipis ketika haru memanggilnya ‘ahjumma’. “Park Sandara. Panggil aku unnie, bagaimana? Aku tidak setua appamu.” Ucap sandara sambil menunjuk ke arah jiyong tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Jiyong terbelalak. “hey, aku tidak tua dan aku bukan appa haru! Sudah kubilang kan kalau dia keponakanku?” kesal jiyong.

Sandara hanya mengangguk kecil. “baiklah, aku tidak setua ahjussimu.” Ralat sandara yang membuat jiyong mengusap wajahnya sebal.

oppa! dia memanggilku oppa, bukan ahjussi!” gemas jiyong. Ia sungguh ingin menggantung dirinya sendiri.

Sandara kembali mengangguk. “oke, aku tidak setua oppamu.” Kata sandara yang membuat jiyong tersenyum puas.

“baiklah unnie. tapi kenapa kau ada disini? apa kau teman oppa?” tanya haru.

Sandara menggeleng. “bukan. Aku ini datang dari masa lalu tahun 1654, aku datang kemari karena aku harus mencari keba—”

“—aish, haru-ah, pergilah kekamarmu dan ganti bajumu. Oppa akan menyiapkan makan malam bersama dia.” sela jiyong sambil menarik sandara berdiri. Sandara mengernyitkan keningnya, baru saja ia ingin bersuara, jiyong sudah menatapnya dengan artian ‘jangan-bicara’. Sandara memilih menutup mulutnya.

Haru mengangguk dengan tatapan bingung. tapi ia tetap saja menuruti kata jiyong dan segera pergi kekamarnya.

Setelah memastikan haru sudah masuk kekamarnya, jiyong segera menatap sandara yang masih menutup mulutnya. “kau. Jangan bicara hal bodoh macam itu didepan anak-anak. Aku tidak ingin ia mempercayai fantasi gilamu itu. ingat, cukup aku yang tau kalau kau itu dari masa lalu—walau aku masih belum bisa sepenuhnya percaya. Dan bukankah aku sudah bilang kalau jangan mengungkit hal itu? bertingkahlah seperti kau memang lahir pada masa ini.” Ucap jiyong dengan nada diktator.

Sandara mengangguk sambil tersenyum. “baiklah. dimana hewanmu itu?”

Jiyong memutar matanya. “namanya gaho, dan dia itu anjing peliharaanku. Jangan menyebutnya ‘hewan’, itu terdengar liar. Dan yah, karenamu, gaho jadi harus kutinggal di klinik hewan karena ia mengalami shock setelah kau menceburnya di dalam toilet.”

Sandara hanya manggut-manggut tanpa rasa bersalah sedikitpun. Jiyong menghela nafasnya kasar. Kenapa bisa sandara tidak merasa bersalah sedikitpun? Hey, apakah semua orang di masanya itu tidak punya rasa bersalah? Arh, jiyong benar-benar gila sekarang.

“aku ingin makan sesuatu.” Sahut sandara dengan wajah cerianya.

Jiyong mengernyitkan keningnya. “terus?”

“aku tidak menemukan dimana perapian untuk membuat makanan.” Ucap sandara sambil celingak-celinguk mencari ‘perapian’ yang ia bayangkan.

Jiyong mengusap wajahnya untuk kesekian kalinya. “mungkin kita harus makan diluar saja untuk menghilangkan rasa stresku.” Gumamnya sambil menatap wajah sandara yang ceria—seperti biasanya.

*

Da’ Pasta, 21.00 KST

“tolong 2 pasta with mushroom sauce dan 1 spaghetti carbonara. Minumnya 1 cappucinno dan 2 strawberry blend.” Jiyong menyebutkan pesanan mereka pada seorang pelayan. Pelayan itu mencatat pesanan jiyong dengan cepat.

“terima kasih dan mohon tunggu pesanan anda.” Ucap pelayan itu sambil membungkuk sedikit pada jiyong. Jiyong mengangguk dan pelayan itu segera pergi.

Sandara sendiri tidak berhenti terkagum-kagum dengan desain di restoran tempat jiyong membawanya itu. jiyong setengah mati harus menahan malunya. Apalagi ketika mereka akan memasuki restoran tadi, sandara bersikeras membuka alas kakinya. “tidak sopan masuk kedalam tempat beratap dengan alas kaki.” Ucapnya ketika jiyong bertanya. Tapi akhirnya jiyong berhasil membawa sandara masuk lengkap dengan alas kakinya dengan alasan kalau lantainya sangat panas dan mampu membuat kakinya terluka jika membuka alas kakinya. Dan sandara dengan mudahnya percaya.

unnie, apakah kau tidak pernah kemari?” tanya haru yang ikut bingung melihat sandara.

Sandara tersenyum ceria. “ya. di tempatku dulu ti—”

“ehem.” Sandara berhenti berbicara ketika jiyong berdehem mengingatkannya tentang kesepakatan mereka tadi. Cukup jiyong yang tau asal-usul sandara.

“tempat dulu unnie kenapa?” tanya haru lagi.

Sandara menggeleng. “di tempatku dulu tidak semegah ini.” jawab sandara yang membuat jiyong sedikit tersenyum tipis. Jawabannya cukup masuk akal.

“berapa usia unnie?” tanya haru. Sepertinya bocah kecil itu sangat penasaran tentang sandara. Jiyong melipat tangannya didepan dada, ia sedikit tertarik.

Sandara terdiam. Ia menghitung usianya. Beruntung sandara memiliki otak yang sangat cerdas, ia bisa membandingkan umurnya dengan tahun sekarang. “31 tahun.”

Mata jiyong membulat. 31 tahun? Oh, sandara bahkan lebih tua darinya 4 tahun. Tapi.. bagaimana bisa? Jiyong bahkan mengira sandara masih berusia 19 atau 20 tahun. Jiyong meneguk liurnya.

jinjja? apa unnie sudah mempunyai kekasih?”

Senyum ceria sandara memudar berganti senyuman pahit. Pertanyaan haru membuatnya kembali mengingat shinjoo. “…ya. tapi dia sudah meninggal.”

Jiyong menangkap raut sedih di wajah sandara. Baru saja ia ingin mengalihkan pembicaraan, bibir kecil keponakannya itu sudah kembali bergerak.

“kalau begitu jadilah kekasih oppa!” seru haru yang membuat jiyong dan sandara terbelalak. keduanya berpandangan ngeri dan menggeleng dengan kompaknya.

“haru-ah, sejak kapan kau mengerti soal kekasih, huh?” tanya jiyong horror. Ayolah, haru masih berumur 7 tahun dan ia sudah menjodohkannya dengan perempuan joseon itu? sungguh hebat.

“seungri oppa selalu menyuruhku untuk mencarikanmu kekasih, oppa. katanya kekasihmu itu harus cantik, baik, dan aku harus menyukainya. Sandara unnie memenuhi semua itu.” ucap haru layaknya orang dewasa. Ia berkacak pinggang dengan bibir mengerucut.

Wajah sandara bersemu tipis. Jiyong merasa aneh ketika ia melihat wajah sandara itu, jantungnya berdebar. Dengan cepat jiyong mengalihkan pandangannya ke haru. “jangan membicarakan hal itu. dan jangan pernah dengar apa yang seungri katakan, dia gila.” Umpat jiyong. Dalam hati dia bersumpah akan mengutuk seungri yang membuat otak polos keponakannya itu ternodai.

Sandara sendiri hanya bisa terdiam sambil sesekali melirik jiyong yang entah memikirkan apa.

*

Sandara tidak bisa memungkiri kalau ia benar-benar takut sekarang. Keringat dingin mengalir di seluruh wajahnya. Tangannya meremas selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Diluar sana sedang hujan deras. Tidak, sandara awalnya tidak takut akan hujan, bahkan ia menyukainya. Tapi sebuah ingatan yang terjadi di tengah hujan kembali membuatnya ketakutan.

Perlahan air matanya merembes keluar. Walau ia sudah mencoba menahannya, tetap saja tidak bisa. Perasaan bergejolak didadanya seolah menekan air matanya untuk keluar. Sandara takut. Ia butuh seseorang untuk menenangkannya.

DUAAR!’—bzzt!

“KYAAA!”

*

Jiyong menghela nafasnya lelah. Setelah pulang dari makan malam tadi, haru ngotot minta diantar kerumah neneknya—ibu jiyong. Oleh karena itu ia harus mengantar sandara dulu kembali ke apartement dan mengantar haru ke rumah ibunya lalu kembali ke apartementnya. Sungguh menguras tenaga.

Jiyong bersyukur karena ketika hujan mengguyur seoul barusan, jiyong sudah sampai di apartementnya dengan selamat. mungkin sudah jadi tradisi, sedingin apapun cuaca, jiyong tetap hanya akan memakai boxer ketika tidur.

Jiyong tersenyum puas ketika ia selesai menanggalkan seluruh pakaiannya kecuali boxernya, dan segera menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. “ah.. dunia yang sempurna.” gumamnya sambil memejamkan mata.

DUAAR!’—bzzt! “KYAAA!”

Jiyong membuka matanya dengan paksa ketika mendengar bunyi guntur yang menggelegar juga suara jeritan perempuan. Jiyong sedikit tersontak ketika mendapati kamarnya gelap gulita. Pemadaman listrik. itu sering terjadi di apartementnya ketika hujan deras.

Tapi bukan itu masalahnya. Siapa yang menjerit malam-malam begini? Seingat jiyong ia hanya sendiri di.. sandara! Ya, jiyong yakin yang berteriak itu pasti sandara.

Dengan cepat dan rasa khawatir yang tinggi, jiyong segera melompat dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Untung jiyong sudah hafal letak kamar milik haru, walau gelap, setidaknya ia masih bisa mengira-ngira dimana letaknya.

Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, tanpa basa-basi jiyong langsung mendorongnya dan masuk kedalam. Kamar bernuansa anak-anak itu tampak sepi. Tirainya terbuka membuat sedikit cahaya masuk menerangi kamar itu.

Jiyong melirik ke tempat tidur. Tidak ada orang disana. Jiyong mulai khawatir. Apakah sandara melarikan diri? Apakah sandara pergi? tapi siapa yang berteriak tadi?

hiks.. hiks..”

Jiyong mengernyitkan keningnya ketika mendengar sebuah isakan. Jiyong memicingkan matanya ketika pupilnya menangkap sebuah kaki di samping tempat tidur. Tanpa ba-bi-bu, jiyong segera melangkah mendekati kaki itu.

Dahinya mengernyit melihat sandara yang menyelam didalam selimutnya diikuti dengan isakan-isakan halus. Jiyong jongkok disamping sandara. Ia menyingkap selimut sandara dan mendapati perempuan joseon itu meringkuk sambil menutup telinganya.

Jiyong menyentuh lengan sandara pelan mencoba menyadarkan gadis itu. sandara membuka matanya perlahan dan mendapati sosok jiyong yang sedang jongkok disampingnya. Tanpa basa-basi, sandara segera bangun dari tidurnya dan memeluk leher jiyong erat. wajahnya tenggelam didalam dada telanjang jiyong.

Jiyong kehilangan keseimbangannya dan ia jatuh terduduk di lantai. Matanya membulat ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit sandara yang terbalut oleh kemeja kebesaran yang dipakainya pagi tadi.

Jiyong meneguk liurnya. Tangan kirinya menahan tubuhnya agar tidak jatuh kebelakang. Sementara tangan kanannya terulur mengelus punggung sandara.

wae geurae? (apa yang terjadi?)” tanya jiyong lembut. Ia tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya sekarang. Jiyong bisa merasakan perasaan nyaman ketika sandara memeluknya. Tidak bisa jiyong pungkiri, ia.. senang.

“a-aku takut, hiks..” isak sandara. Jiyong merasakan air mata sandara mengalir di dadanya.

Jiyong tertegun. “Tidak usah takut, aku ada disini. berhentilah menangis.” Ucap jiyong dengan sangat lembut. Ia menarik sandara agar ia bisa melihat wajah perempuan joseon itu.

Deg

Jantung jiyong berdebar tidak menentu ketika melihat wajah sandara yang sangat manis walau perempuan itu menangis. Jiyong meneguk liurnya dan menghapus air mata sandara. “uljima..” desah jiyong. Ia tidak pernah merasa selembut ini, selama ini jiyong selalu berlaku kasar dan sinis, entah kenapa sekarang ini ia merasa ia tidak ingin menyakiti sandara.

Sandara menggigit bibirnya. Jiyong tersenyum lembut dan menarik sandara ke atas tempat tidur. “jangan tidur di lantai. Tidurlah diatas tempat tidur.” Ucap jiyong sambil menarik selimut yang ada dilantai. Sandara menurut dan menaruh kepalanya di atas bantal bermotif pisang milik haru. Jiyong menarik selimut untuk menyelimuti sandara.

“tidurlah.” Gumam jiyong lembut. Sandara menatapnya dengan tatapan yang tidak dimengerti jiyong.

“tidurlah disampingku. kumohon.. setidaknya sampai aku tertidur.” lirih sandara dengan bibir bergetar. jiyong menggaruk tengkuknya. Bagaimana bisa ia tidur dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya kemarin? Mereka bahkan tidak memiliki alasan yang manis untuk tidur satu ranjang.

Tidak mendapat respon dari jiyong, sandara kembali terisak. jiyong mendesah dan memutuskan untuk mengangguk. “arrasseo, aku akan tidur disini jadi jangan menangis.” Putus jiyong. Sandara menghapus air matanya lega dan sedikit bergeser untuk memberi tempat pada jiyong.

Jiyong sedikit ragu, tempat tidur haru bukan untuk dua orang. Bagaimana bisa ia tidur disana jika ada sandara juga? oh baiklah, mereka memang tidak sebesar raksasa. Tapi untuk tidur di sebuah single bed berdua, apalagi bersama lawan jenis, jiyong rasa ia pantas untuk ragu.

ppalli..” lirih sandara sambil menatap jiyong dengan polosnya.

Jiyong menarik nafas sejenak dan menyingkap selimut sandara. Ia meneguk sedikit liurnya ketika menyadari kalau sandara tidak memakai bawahan LAGI. hei, jiyong lelaki normal. Jangan salahkan jiyong kalau saja sesuatu yang berbahaya terjadi. apalagi kaki sandara begitu mulus dan ramping. Sungguh mengundang selera.

Jiyong tersontak sendiri dengan pikirannya. Ia segera menepis pikirannya itu dan mengalihkan matanya ke wajah sandara. Perempuan itu menatapnya. Jiyong memantapkan hatinya dan membaringkan tubuhnya yang telanjang. Ah tidak, ia memakai boxer untuk menutupi kelelakiannya. jiyong menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sandara.

Sandara tersenyum lega dan segera memeluk jiyong lalu menyenderkan kepalanya di dada telanjang jiyong. Jiyong setengah mati harus menahan nafasnya yang menderu. Jantungnya berdegup kencang. oh, semoga sandara tidak mendengar degupan jantungnya.

“kau berdebar?”

Duar

Pertanyaan sandara bagai petir yang menyambar jiyong. Wajahnya memerah malu. ternyata sandara mendengar degupan jantungnya. “ti-tidak. A-aku hanya.. hanya.. ah, tidurlah cepat.” Elak jiyong menyembunyikan rasa malunya. Ia merasa ia bukanlah si jiyong yang dingin dan elegan jika bersama sandara. Ia hampir menghabiskan waktunya untuk merasakan kesal yang tak berujung pada sandara yang seperti queen of innocent. Dan bahkan sekarang perempuan joseon itu membuatnya berdebar dan merona? Kwon jiyong, kau harus ke dokter besok, batin jiyong.

“shinjoo oppa pergi ketika hujan. Aku benci hujan karena mengingatkanku pada shinjoo oppa. tidak, aku tidak ingin melupakannya. Tapi aku ingin menghapus kenangan pahit ini.” gumam sandara dengan begitu halus.

“sst, tidurlah. Besok aku harus bangun pagi.” ucap jiyong. Jujur saja, sedikit terbersit rasa sakit di dadanya ketika sandara kembali menyebut nama shinjoo. Apakah shinjoo itu begitu berharga? Astaga kwon jiyong, kenapa denganmu? Sandara hanya perempuan joseon yang datang dari masa lalu untuk mencari kebahagiannya. Jangan sampai kau tertarik padanya, jiyong. Dia akan segera pulang ke masanya jadi jangan termakan. Urgh, kenapa aku jadi uring-uringan begini? Sial, umpat jiyong dalam hatinya.

Tidak lama pelukan sandara melemas dan suara nafasnya menjadi teratur. Jiyong tersenyum tipis. Sandara tertidur. jiyong menarik nafasnya pelan sebelum ia mengangkat tangannya untuk membalas pelukan sandara.

 

 



TBC

next >>



Note :Mian kalo kependekan atau alurnya dipaksakanxD hengsho~^^

Advertisements

27 thoughts on “[Series] Coming To You – 2

  1. Aaaaahhh aaaahhh aaahhh…. Suka suka suka… Byakin adegan daragon romantis gini. Bikin hati brdebar” bacany. Hahahaha 😀

  2. Nasib ny gaho ~ nginep dklinik…
    kasihan gaho mpe shock gt dimandiin ma darong..Wkwkwk …
    Cieh cieh … bang jenong dah mulai trtarik ni ma darong, uhuuyyy…..
    So sweeettt….

  3. Ooww sweet😍 haru mau pergi ke rumah ommanya jiyong oppa itu biar nggak ganggu jiyong oppa sama dara unnie paling😃 dara unnie polos banget sih padahal udah buat gaho shock😝

  4. hahaha lucu dengan lepolosan dan ketidak tahuan dara unni, huhu kasian sama gaho dan oppa yg harus jadi korban dari queen of innocent
    keke #LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s