Thank You For Being Mine [Oneshoot]

PicsArt_04-08-09.50.23

Author : Reni Bintang

Hello selamat malam, ada yang kangen sama reni gak? Maaf ya ngaco 😵😵 .
Nah reni dateng lagi sama FF terbaru tapi oneshoot dan FF ini merupakan after story dari two people . nah jadi untuk para reader setia two people selamat membaca ya !!!!

Dara Pov

“jangan berlari terlalu kencang, eomma capek.” Aku mengangkat kepalaku yang tadi sedang menulis sebuah pesan untuk adikku Sanghyun saat mendengar suara lembut seorang ibu yang melintas dihadapanku, aku mengikuti langkah kaki ibu itu yang kini berjalan lemah sambil memegang lututnya menandakan bahwa dia sedang kelelahan.

“berhentilah berlari maka eomma akan membelikanmu ice cream sebanyak yang kau mau.” Kata ibu itu lagi dan sekarang aku mengalihkan pandanganku kepada seorang anak perempuan cantik yang sedang berlari tidak jauh dari jarak ibu itu berdiri, jika aku boleh menebak aku rasa anak perempuan itu berumur kurang dari lima tahun. Ketika mendengar kata ice cream anak itu langsung berhenti dari larinya lalu berbalik untuk melihat ibunya.

“Jinjja?” ucapnya dengan mata yang berbinar yang langsung dibalas oleh anggukan dan senyuman hangat dari ibunya. Anak tadi langsung berlari namun kini kearah dimana ibunya berada, dia merentangkan kedua tangannya saat tepat berdiri dihadapan ibunya dan meminta ibunya untuk menggendongnya yang langsung dituruti oleh ibunya. Aku tersenyum melihat pemandangan itu, aku tersenyum karena aku ikut bahagia hanya dengan mendengar percakapan mereka.

Dulu aku pasti akan menangis jika aku tidak sengaja melihat seorang ibu yang bercengkrama dengan putrinya atau melihat seorang ayah yang menggendong putri cantiknya. Dulu aku pasti akan iri jika semua hal itu terjadi didepanku namun saat ini aku tidak lagi merasakannya karena sekarang aku telah punya miliku sendiri. Aku ingat hari itu saat dokter mengumumkan bahwa aku sedang mengandung bayiku dan Jiyong, aku tercengang dan langsung menangis membuat Bom dan Chaerin yang saat itu berada disampingku menatapku dengan tatapan heran dan bingung. Aku menangis sebab aku benar-benar bahagia karena akhirnya Tuhan memberikan keajaibannya kepadaku dan Jiyong. Aku juga ingat reaksi yang Jiyong berikan saat dia tahu bahwa aku sedang mengandung, selama aku menjadi kekasihnya dan menjadi istrinya belum pernah sekalipun aku melihat raut wajah Jiyong yang sebahagia itu, dia sama kagetnya dengan aku namun aku berani bersumpah bahwa Jiyong seribu kali lebih bahagia daripada aku. Aku bisa merasakannya karena sejak saat itu Jiyong benar-benar menjagaku dan bayi kami, Jiyong tidak pernah mengizinkan aku pergi sendirian, dia tidak mengizinkan aku untuk mengurus rumah, dan dia selalu memberikan apapun yang aku inginkan.

Babe ayo kita pulang.” Suara Jiyong membuatku tersadar dari lamunanku. Aku mendongkak dan ternyata dia kini telah berdiri dihadapanku dengan membawa sebuah plastik kecil berisi obat dan vitamin yang baru saja dia tebus di apotik rumah sakit tempatku checkup. “kau pasti bosan karena menungguku lama” katanya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya. Aku menggeleng kemudian berdiri dari tempatku duduk.

“kau pasti lebih bosan karena harus mengantri.” Kataku sambil mengapit tangannya yang bebas. Dia tersenyum sambil mengeratkan dekapan tangan kami.

“aku tidak akan pernah bosan melakukan sesuatu jika itu untukmu.” Katanya yang langsung aku balas dengan tertawa. Selanjutnya kami berjalan sampai parkiran sambil membicarakan hasil dari checkup­-ku hari ini.

“kau mau makan apa malam ini?” kataku ketika Jiyong sedang memakaikan sabuk pengaman ditubuhku. “aku akan menyuruh ahjumma untuk membuatkannya.” Kataku lagi sambil mengambil ponsel bersiap untuk menelpon ahjumma yang kami sewa untuk mengurus apartemen kami.

“aku sebenarnya ingin memakan scrambled egg buatanmu.” Katanya sambil menyalakan mesin mobil. “tapi aku tidak ingin membuatmu kelelahan.”

“kalau begitu aku akan menyuruh ahjumma untuk membuatkan itu.” Kataku sambil melihatnya.

“tidak usah. Ahjumma tidak bisa memasak itu.”

“dia bisa kok, aku sudah pernah mencobanya dan masakan ahjumma sangat enak.”

“maksudku ahjumma tidak bisa memasak scrambled egg yang persis seperti buatanmu.” Katanya lagi sambil terus menyetir.

“apa bedanya?” tanyaku bingung.

“masalahnya masakan ahjumma itu sangat enak sedangkan masakanmu selalu keasinan.”

“ya!” teriakku karena kesal. “kalau masakanku keasinan kenapa kau masih mau memakannya huh?” ujarku lagi yang malah dibalas Jiyong dengan tertawa keras. Dia sedang mengejekku ternyata. “sialan.” Kataku dengan kesal.

“eits babe kau tidak boleh mengumpat. Bayi kita bisa mendengarnya.” Kata Jiyong sambil menunjuk perutku dengan dagunya.

“ah aku lupa.” Kataku kemudian memegang perutku dan langsung mendongkak kebawah. “Baby maafkan eomma. Anggap saja kata-kata tadi tidak kau dengar, neh?” Ujarku kepada bayi kami yang masih berada didalam kandunganku. “ini semua salahmu.” Tuduhku kepada Jiyong. “kalau kau tidak mengejekku pasti aku tidak perlu mengumpat seperti tadi.”

“aku tidak mengejek babe.” Katanya tanpa melihatku. “masakanmu memang selalu keasinan tapi aku sudah sangat terbiasa dengan itu jadi ketika aku merasakan masakan orang lain rasanya terasa berbeda dan jadi hambar. Lidahku benar-benar sudah beradaptasi dengan masakanmu.” Katanya kini sambil melihatku sambil tersenyum. “lagipula aku tidak pernah mengatakan bahwa masakanmu tidak enak.” Katanya lagi. “apa aku pernah mengatakan bahwa aku ingin memakan masakan lain selain masakanmu?”

“alibi.” Kataku sambil mengalihkan pandanganku keluar jendela untuk pura-pura marah padahal sebenarnya aku sedikit tersanjung dengan perkataan Jiyong barusan. Saat aku sedang memperhatikan jalan diluar tiba-tiba aku merasakan sentuhan hangat pada tangan kiriku lalu sedetik kemudian aku tahu bahwa Jiyong telah mengangkat tanganku lalu ketika aku berbalik aku melihat Jiyong mencium tanganku.

“aku sangat mencintaimu babe dan aku sangat berterimakasih karena kau selalu memasakan sesuatu untukku.” Katanya setelah mencium tanganku lalu tersenyum sarkastis kepadaku yang langsung membuatku tertawa karena geli. Beginilah aku memang tidak akan pernah bisa berlama-lama marah atau pura-pura marah kepada Jiyong karena Jiyong selalu bisa membuatku melayang dengan caranya untuk merayuku. Kata-kata Jiyong memang selalu manis dan aku tidak pernah bisa untuk tidak terlena dengan apa yang dia katakan. “jadi tidak marah lagi?” tanyanya masih dengan senyum sarkasnya.

“lihat kedepan Jiyong kau sedang menyetir.” Kataku tanpa menjawab pertanyaannya.

“bilang dulu kau mencintaiku.” Katanya. “anni. Bilang kau mencintai Oppa.” Ralatnya.

“aku tidak mencintaimu.” Jawabku sambil main-main. “dan aku tidak mau memanggilmu Oppa karena kelakuanmu masih seperti bayi.” Sambungku sambil menjulurkan lidak untuk mengejeknya.

“wah parah sekali.” Jawabnya sambil melihatku dengan bibirnyayang merenggut. “kau menyakiti harga diriku.” katanya lagi sambil menepuk-nepuk dadanya dengan kepalan tangan membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa dengan sikap konyolnya.

Jiyong Pov

“Ji menurutmu anak kita perempuan atau laki-laki?” tanya Dara tiba-tiba saat aku dan dia sedang bermain video game diruang tengah apartemen kami. Aku tahu Dara pasti sedang berusaha untuk membuyarkan konsentrasiku.

“aku tidak tahu.” kataku yang masih fokus pada layar didepan sambil terus menggerakan stik dengan lincah karena aku tidak mau kalah dari Dara. kami taruhan dan aku sama sekali tidak ingin Dara menang karena jika aku kalah maka aku harus menuruti keinginan anehnya. “jangan coba-coba kau membuyarkan konsentrasiku.” Kataku kepada Dara yang juga sedang menggerakan stik dengan tangannya. Aku duduk dibelakang Dara yang kini sedang bersandar dengan nyaman pada tubuhku.

“kau serius sekali sih.” Katanya sambil tertawa renyah lalu beberapa detik kemudian dia menggangguku dengan cara menggerak-gerakan stik punyaku sehingga aku kehilangan konsentrasi.

“yayaya! Apa yang kau lakukan huh?” tanyaku sambil berusaha melepaskan tangan Dara dari stikku. “aku bisa kalah.” Kataku lagi.

“aku memang sengaja supaya kau kalah.” Jawabnya dengan tertawa sambil terus menggangguku yang akhirnya membuatku kalah. “yeah aku menang.” Katanya sambil berseru senang. “kau kalah jadi kau harus menuruti keinginanku.” Katanya kini sambil mendongkakan kepalanya kepadaku.

“kau curang jadi kemenanganmu tidak sah.” Aku menggelengkan kepalaku tanda menolak kemenangannya.

“Ji kau juga selalu curang jika kau mengajakku taruhan. Aku kan baru sekali melakukan ini jadi kau mengalah saja.” Katanya sambil merenggut.

“tapi keinginanmu itu tidak bisa aku turuti babe.” Kataku sambil mencubit hidungnya.

“kenapa?” tanyanya. “karena kau cemburu?” tanyanya lagi yang tidak aku jawab. Dia berdecak lalu melihatku. “aku sudah menjadi istrimu Jiyong kenapa kau masih bersikap cemburuan seperti ini sih?”

“aku cemburu karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Kataku sambil melingkarkan tanganku pada tubuhnya yang masih bersandar ditubuhku.

“aku bosan mendengarnya selama enam tahun ini.” katanya. “izinkan aku pergi Jiyong lagipula kau juga akan ikut jadi apa salahnya?”

“aku masih tidak setuju kau datang ke acara pertunangan mantan kekasihmu.” Kataku lagi sambil mengeratkan pelukanku lalu menyandarkan kepalaku pada bahunya. “bagaimana jika dia tiba-tiba berubah pikiran setelah melihatmu? kan kasihan calon tunangannya.”

“memangnya apa alasan dia berubah pikiran jika melihatku?” katanya sambil memegang pergelangan tanganku.

“karena aku yakin nanti kau akan terlihat lebih cantik dari calon tunangannya jadi dia akan terpesona kepadamu dan tiba-tiba berubah pikiran dan meninggalkan calon tunangannya.” Kataku setelah sebelumnya mengecup pipinya. Dia tertawa setelah mendengarku.

“alasanmu benar-benar konyol Jiyong.” katanya setelah tawanya sedikit mereda. “kau benar-benar lucu.” Katanya kemudian memutar kepalanya kearahku lalu mencium bibirku sebentar.

“jadi kau tidak memaksa lagi untuk pergi?” tanyaku setelah dia berhenti menciumku.

“untuk saat ini aku menyerah. Tapi aku akan memaksamu lagi nanti.”

“cobalah dan aku tetap tidak akan berubah pikiran.” Kataku sambil memegang pinggangnya lalu memutar tubuhnya untuk menghadap kepadaku.

“baiklah kalau kau tidak bisa berubah pikiran.” Katanya dengan sebuah smirk disudut bibirnya. “maka tidak akan ada pelukan malam ini.” katanya sambil meledekku. “ah atau sebaiknya aku kunci saja kamar kita malam ini sehingga kau tidak akan bisa masuk dan tidur sendirian di sofa.” Ancamnya sambil terus meledekku.

“ya!” kataku sambil merenggut. “kenapa kau sangat keras kepala?”

“kenapa kau sangat posesif?”

“karena aku mencintaimu.” Jawabku. “kenapa kau sangat keras kepala huh?” tanyaku lagi dan dari ekpresi yang Dara tunjukkan aku tahu bahwa dia tidak punya jawaban untuk pertanyaanku membuatku tersenyum senang. “berhentilah memikirkan jawabannya jika kau tidak bisa.” kataku yang dia balas dengan mengerucutkan bibirnya sambil meyilangkan tangannya di depan dada yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Aku tidak tahan melihatnya jadi aku memegang pinggangnya kemudian memutar tubuhnya dan membaringkannya pada sofa yang sedang kami duduki. Tidak perlu menunggu lama aku segera memagut bibirnya dengan rakus yang menciptakan bunyi decakan. Kami berciuman selama beberapa saat lalu aku menurunkan ciumanku pada lehernya berniat untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh lagi. Saat aku akan membuka kancing baju yang Dara pakai tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang sepertinya terkejut. Dara langsung mendorongku kebawah sofa membuatku tersungkur dan keningku sedikit terbentur lantai.

“maafkan saya.” Aku memegang keningku yang sakit lalu melihat ke belakang. aku baru sadar ternyata ahjumma yang kami sewa untuk mengurus apartemen telah berdiri sambil membawa keranjang berisi baju. Aku mendengar Dara tertawa canggung sambil bangkit dari posisinya kemudian ahjumma itu pergi dengan langkah yang canggung setelah sebelumnya dia membungkuk kepadaku dan Dara. ahjumma benar-benar mengganggu.

“aku pikir ahjumma sudah pulang.” Kataku sambil berdiri dari lantai lalu duduk lagi disofa disamping Dara.

“aku lupa kalau tadi aku menyuruhnya untuk mencuci baju dibelakang.” Kata Dara sambil menggaruk lehernya lalu nyengir. “kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil memegang keningku yang tadi terbentur. Dia mengusap keningku dengan lembut kemudian tertawa geli.

“kenapa?” tanyaku penasaran.

“aku hanya malu pada ahjumma.” Katanya masih dengan tawanya. “aku yakin pasti ahjumma juga merasa canggung apalagi karena dia sudah sering memergoki kita sedang bermesraan.”

“kita harus berhati-hati mulai sekarang.” Kataku sambil kembali memeluk Dara. “kita jangan melakukannya disembarang tempat kecuali dikamar kita.” bisikku ditelinganya.

“memangnya siapa yang memulainya huh?” tanya Dara sambil melihatku sambil mendengus kemudian melepaskan pelukanku. “aku mau mandi.” katanya sambil berdiri.

“aku ikut.” Kataku sambil ikut berdiri.

“mandi saja sendiri.” Katanya sambil melihatku kemudian menjulurkan lidahnya kearahku.

“mandi bareng saja jadi kita bisa melanjutkan yang barusan.” Kataku sambil tersenyum jahil membuat Dara tertawa kemudian sedetik kemudian dia berlari kearah kamar kami.

“tangkap aku kalau bisa.” katanya masih dengan tawanya.

“tunggu aku babe.” Teriakku sambil menyusulnya.

Dara Pov

aku tahu ini salah karena aku tidak tahu bagaimana aku bisa menyayangi Raia sepenuhnya sebagaimana yang aku mau dan sebagaimana dia berhak dan pantas disayangi saat aku masih sepenuh hati mencintai Andara.” Aku membacakan paragraf terakhir dari salah satu bab novel yang sudah beberapa hari terakhir ini aku bacakan untuk Jiyong. “selesai untuk malam ini.” kataku kemudian menutup novel yang tadi aku baca lalu menyimpannya pada meja disamping tempat tidurku. Ini merupakan salah satu ritual yang hampir setiap hari kami lakukan sebelum terlelap tidur. Jiyong mengatakan bahwa dia senang mendengarkan aku membacakan buku untuknya dan aku juga senang bisa melakukan ini untuk Jiyong karena ini membuat kami punya satu hal baru yang bisa kami diskusikan bersama.

“buka mulutmu!” perintah Jiyong sambil menyuapkan potongan apel kepadaku dan aku langsung menurutinya.

“Ji besok aku mau ke salon dengan Bomie, boleh ya?” tanyaku sambil mengunyah.

“jam berapa?” tanyanya yang kini sedang berbaring dengan kepalanya yang bersandar di pangkuanku.

“tengah hari dan mungkin selesai sedikit sore.” Kataku sambil melihatnya lalu mengusap lembut kepalanya. “kau mau ikut?”

“tidak, terimakasih.” Tolak Jiyong sambil menggeleng cepat. “besok hubungi saja jika kau sudah selesai, aku akan menjemputmu lalu mengantarmu pulang.” Sambungnya.

“tidak perlu.” Kataku yang masih mengusap kepalanya. “aku akan ke kantormu setelah selesai lalu menemanimu sampai pekerjaanmu selesai.”

“jangan.” Larang Jiyong sambil mengangkat kepalanya lalu duduk disampingku. “kau sebaiknya dirumah saja, kau harus istirahat.”

“tapi aku bosan dirumah terus.” Kataku sambil merenggut. “aku ingin berjalan-jalan.”

“istriku ingin berjalan-jalan kemana huh? Bilang saja padaku, aku pasti akan membawamu kesana.”

“New York.” Kataku.

“jauh sekali.” Ujarnya. “yang dekat saja.” Bujuknya sambil tersenyum.

“Jepang?”

“masih terlalu jauh. Di Korea saja.”

“Jeju?”

“lagi?”

“tolak saja semuanya.” Aku merenggutkan bibirku karena kesal.

“jangan marah.” ujar Jiyong dengan lembut.“aku Cuma takut sesuatu terjadi jika kita bepergian terlalu jauh.” sambungnya sambil membelai wajahku. “setelah bayi kita lahir aku janji akan membawamu kesemua tempat yang kau inginkan tadi.”

“janji?” ujarku sambil mengangkat kelingking kananku.

“janji.” Balasnya sambil menautkan kelingkingnya kepada kelingkingku. Aku tersenyum senang.

Baby cepat keluar biar kita bisa jalan-jalan.” Aku mengusap perutku dengan wajah yang berseri membuat Jiyong tersenyum lalu mencium keningku dan setelahnya dia mendekatkan kepalanya lalu mencium perutku.

goodnight baby. Yang anteng ya di rahim eomma.” Ucap Jiyong sambil mengusap lembut perutku yang kini sudah mengandung empat bulan. “eomma dan appa sangat mencintaimu.” Sambungnya.

“Ji apa yang kau inginkan?” tanyaku karena penasaran. “laki-laki atau perempuan?”

“aku sebenarnya ingin memiliki anak perempuan tapi aku takut akan repot jika menjaga anak perempuan.” Ujar Jiyong.

“kenapa takut repot?”

“karena pasti putri kita akan sangat cantik seperti eommanya, aku cuma takut jika anak kita didekati oleh banyak lelaki persis seperti kau dulu. Menjagamu saja sudah sangat merepotkan apalagi jika ditambah menjaga putri kita.” ujarnya yang langsung membuatku tertawa.

“maafkan aku karena selalu merepotkanmu.”

“tidak masalah selama kau adalah milikku.” Katanya sambil tersenyum. “kau bagaimana? Apa yang kau inginkan?”

“aku ingin seorang putra untuk anak pertama kita.” kataku sambil tersenyum. “dan kalau bisa aku ingin seorang putri untuk anak kedua kita lalu seorang putra lagi untuk anak terakhir kita.”

“kenapa cuma tiga?”

“memangnya kau mau berapa?”

“yang banyak saja biar rumah kita ramai.”

“kau saja yang hamil kalau begitu.” Kataku sambil bergidig karena tidak sanggup membayangkan aku harus memiliki banyak anak seperti keinginan Jiyong yang malah Jiyong balas dengan tertawa keras.

“Babe terimakasih.” Ujar Jiyong tiba-tiba sambil tersenyum.

“untuk apa?” tanyaku karena bingung.

“untuk bayi kita.” ujarnya.

“aku yang harusnya berterimakasih Ji, karena kau selalu menguatkan aku saat itu hingga aku tidak menyerah dan akhirnya bisa memberikan cucu untuk orangtua kita.” kataku sambil menggerakan tubuhku untuk mendekat kepada Jiyong. Dia merangkul bahuku lalu aku membenamkan tubuhku pada dadanya. Aku bersyukur karena Jiyong adalah suamiku, aku bersyukur karena dia adalah orang yang ada disampingku saat ini. “Ji apa kau tahu? aku dulu takut sekali.” Kataku sambil mendongkak lalu melihat langsung kepada Jiyong.

“apa yang kau takutkan?” tanyanya sambil memandangku.

“aku takut kau menyalahkan aku karena aku telah membunuh bayi kita, aku sangat takut kau meninggalkan aku makanya saat itu aku tidak berani menatap matamu dan berbicara denganmu.” Aku akhirnya bisa mengatakan ketakutan terbesarku kepada Jiyong. “aku takut kau membenciku.”

“Dara aku sudah bilang bahwa bukan kau yang membunuh bayi kita saat itu.” Katanya sambil mengusap lembut kepalaku. “dan bagaimana bisa kau berpikir aku akan meninggalkanmu dan membencimu huh?” tanyanya sambil mendengus. “apa kau masih meragukanku bahkan setelah kita menikah?”

“aku tidak pernah meragukanmu Jiyong. aku selalu percaya kepadamu tapi saat itu kondisiku benar-benar sangat terguncang jadi semua yang aku pikirkan semuanya tidak masuk akal. Bahkan aku sempat berpikir untuk merelakanmu jika kau bilang akan menikah lagi dengan wanita lain.”

“serius kau memikirkan itu?” tanya Jiyong dengan wajah yang sedikit kaget. Aku mengangguk cepat. “kalau sekarang aku menikahi wanita lain bagaimana?” tanyanya sambil tersenyum jahil.

“awas saja kalau kau berani melakukan itu.” Kataku. “aku akan membunuhmu.”

“wah kau sadis sekali.” Katanya sambil tertawa kemudian mengeratkan dekapannya pada tubuhku. “kenapa kau belum tidur huh?” tanyanya sambil menyingkirkan helaian rambutku yang menghalangi wajahku.

“entahlah.” Ujarku. “tiba-tiba saja aku ingin memelukmu seerat ini.”

“apa semua ibu hamil seperti ini?” tanya Jiyong.

“seperti ini bagaimana?”

“sikapmu selalu berubah-ubah setiap harinya. Baru saja kemarin kau mengusirku dari kamar ini hanya karena kau bilang mual saat melihat wajahku tapi hari ini kau terus mengekoriku kemanapun aku pergi.” Aku tertawa ketika ingat dua hari yang lalu saat aku marah-marah kepada Jiyong tanpa alasan dan memintanya untuk tidak tidur dikamar hanya karena aku tidak ingin melihat wajahnya.

“maafkan aku.” Kataku dengan wajah merasa bersalah. “aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba seperti itu kemarin, kau juga tahu sendiri aku menjadi sedikit sensitif akhir-akhir ini. Aku mohon kau mengerti.”

“tidak masalah.” Kata Jiyong. “mungkin itu memang bawaan bayi kita.” kata Jiyong lagi. “tapi jangan menyuruhku tidur sendirian lagi, aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk tubuhmu.” Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.

“aku tidak akan melakukannya lagi.” aku bersumpah yang Jiyong balas dengan anggukan sambil tersenyum.

“tidurlah babe ini sudah malam. Bayi kita juga perlu istirahat.” Ujarnya dengan lembut sambil membelai wajahku.

“jangan melepaskan pelukanku saat aku tertidur.” Ujarku dengan manja. Jiyong tertawa renyah, sepertinya dia senang karena jarang-jarang aku bersikap manja seperti ini. Jiyong kemudian mengangguk lalu membaringkanku yang masih enggan melepaskan pelukanku ditubuhnya.

Jiyong Pov

“Hyung coba dengarkan ini.” aku menyerahkan sepasang headset kepada teddy hyung yang merupakan seniorku ditempatku bekerja. “aku sudah mendengarnya tapisepertinya aku masih merasa kurang, kalau menurutmu bagaimana?” tanyaku setelah beberapa saat.

“aku sependapat denganmu. Suruh mereka melakukan rekaman ulang. Ini harus sempurnya karna ini adalah album debut mereka.”

“baiklah aku akan menyuruh mereka melakukannya lagi.” kataku dan saat itu aku mendengar suara ponselku bergetar dan saat aku melihatnya ternyata Dara yang melakukan panggilan.

“ada apa babe?” tanyaku setelah mengangkat telponnya. “apa kau perlu sesuatu?”

aku tiba-tiba saja ingin memakan tteokbokki yang berada di dekat kampus.” Ujar Dara.

“baiklah aku akan menyuruh seseorang untuk membelinya dan mengantarkannya kesana. Kau tunggu saja.” Ujarku kemudian akan hendak menutup telpon saat tiba-tiba Dara berbicara lagi.

aku ingin makan disana.” Ujar Dara. “pulanglah dan antarkan aku kesana.”

“aku masih banyak pekerjaan babe. Kau makan dirumah saja ya?” bujukku.

sirrheo pokoknya aku ingin makan disana. Bayi kita ingin makan tteokbokki itu disana.”

“ya sudah besok kita akan pergi kesana. Sekarang aku harus menyelesaikan dulu pekerjaanku.”

aku mau makan sekarang Ji bukan besok. Aku akan pergi sendiri saja kalau kau tidak bisa. tenang saja aku akan berhati-hati kok.”

“kau tidak diizinkan untuk pergi sendiri. Kau ingat?” tanyaku. “aku akan segera pulang, tunggulah.” Kataku akhirnya karena tidak ingin membiarkan dia pergi sendirian ke tempat yang sedikit jauh.

arraseo.” Katanya dengan riang. “cepatlah.” Katanya lagi kemudian menutup panggilannya.

BigBoss?” tanya teddy Hyung saat aku mematikan ponselku. Aku dan teddy hyung sekarang memang memanggil Dara dengan panggilan BigBoss karena sejak Dara mengandung aku sama sekali tidak bisa menolak apa yang dia inginkan. teddy hyung bilang bahwa Dara lebih berkuasa daripada CEO tempatku bekerja. Aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya bahwa ibu hamil itu terkadang bisa sangat menyebalkan.

“Hyung aku akan pulang lebih awal hari ini, Bigboss benar-benar tidak bisa diajak kompromi.” Kataku yang dibalas oleh tawa Teddy Hyung.

“pergilah, pekerjaanmu bisa kau selesaikan nanti.”

“besok aku akan menyuruh girlgroup baru itu untuk mengulang rekaman.” Kataku bersumpah kepada Hyung. Aku sebenarnya tidak enak tapi apa boleh buat daripada istriku pergi sendirian. Hyung menganggukan kepalanya sambil tertawa. “terimakasih hyung, aku akan membelikanmu sesuatu yang enak nanti.” Kataku sambil memakai topi.

“berhentilah mengatakan itu jika kau sama sekali tidak pernah menepatinya.”

“kali ini aku akan menepatinya.” Kataku kemudian berjalan keluar dari studio setelah berpamitan kepada Teddy Hyung.

“kau sudah puas sekarang?” tanyaku kepada Dara yang kini sedang memakan tteokbokki dengan lahap. Dia melihatku sambil tersenyum kemudian mengangguk.

“kau juga makan dong, jangan cemberut saja.” Katanya sambil menyuapkan tteokbokki kepadaku yang langsung aku terima, ini pertama kalinya aku memakan tteokbokki ini dan ternyata rasanya sangat enak jadi aku berniat pesan satu lagi.

“tolong tteokbokkinya satu lagi.” teriakku kepada pemilik restoran itu.

“enak ya?” tanya Dara setelah aku memesan lagi. “kau pasti menyesal karena tidak pernah mau aku ajak kesini dulu.” Ujar Dara sambil tersenyum. Dara memang sering mengajakku ke tempat ini dulu namun aku tidak pernah mau karena tempat ini adalah tempat yang sering Dara datangi saat dia berpacaran dengan mantan pacarnya sebelum aku.

“silahkan dinikmati.” Aku tersenyum setelah pemilik restoran itu mengantarkan tteokbokki pesananku. Ketika aku sedang memakan tteokbokki milikku tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang yang menyapa Dara.

“oppa.” Kata Dara setelah mendongkakkan kepala kemudian melihat siapa yang datang yang ternyata adalah Donghae mantan kekasihnya. Inilah sebabnya aku tidak pernah mau jika Dara mengajakku kesini. Aku tidak mau Dara bertemu dengan mantan kekasihnya.See?

“kau masih sering datang kesini?” tanya Donghae sambil menarik kursi lalu duduk disamping Dara membuatku kesal saja.

“ini pertama kalinya aku kesini lagi.” ujar Dara sambil tertawa canggung. Dia melihat kepadaku sepertinya dia bisa merasakan aura kekesalanku sekarang.

“hai Jiyong.” sapa Donghae sambil tersenyum tanpa beban kepadaku. aku kesal dan dia malah tersenyum, sialan. “aku senang sekali bertemu denganmu Dara, sudah lama sekali kita tidak bertemu. apa yang kalian kerjakan saat ini?” tanya Donghae santai kepada Dara.

“aku memiliki toko buku di dekat apartemen kami. Jiyong bekerja di YG entertainment sebagai produser musik.” Jawab Dara sambil menunjukku yang masih memandang mereka dengan kesal.

“jadi kau akhirnya punya toko bukumu sendiri?” tanyanya yang Dara balas dengan anggukan. “Keinginanmu tercapai akhirnya Dara.” ujarnya sambil tertawa renyah kepada Dara. sialan sekali dia karena bertingkah sangat dekat dengan istriku.

“Oppa apa yang kau kerjakan sekarang?” tanya Dara. kenapa dia harus bertanya dan kenapa dia masih saja memanggil orang itu oppa?

“aku mendirikan biro arsitek dengan beberapa temanku dan kami mengerjakan beberapa proyek kota. Jika kau mau merenovasi tokomu bilang saja kepadaku. aku akan memberikan desain terindah untukmu.”

“wah hebat.” Ujar Dara sambil tersenyum. “kau baik sekali.”

babe tolong ambilkan tissue disana.” Kataku menyela mereka sambil menunjuk tissue yang berada di meja ujung restoran ini.

“ini tissue.” Ujar Dara sambil menyodorkan tissue yang berada dihadapanku.

“aku tidak mau memakai yang ini. aku ingin menggunakan yang itu.” Kataku lagi. aku sedang berusaha untuk menjauhkan Dara dari mantan kekasihnya.

“kau merepotkan sekali.” Dia berdecak namun dia menurut membuatku tersenyum karena senang telah berhasil menjauhkan istriku dari mantan kekasihnya yang bisa saja menculik Dara kapan saja. maaf aku memang selalu berlebihan jika menyangkut Dara.

“bagaimana menikah?” tanya Donghae kepadaku. “apakah menyenangkan?” tanyanya lagi.

“kelihatannya seperti apa?” tanyaku balik.

“entahlah aku tidak bisa melihat apapun kecuali kau yang menyuruh-nyuruh Dara.” katanya. Sialan orang ini, apa dia sedang berusaha memancing kesabaranku? aku tidak menanggapi perkataan Donghae karena aku takut malah akan menjadi keributan jika aku melakukannya, Dara bisa marah berhari-hari jika aku bertengkar dengan mantan kekasihnya ini. ketika aku sedang diam dan memandang Dara yang baru sampai di meja ujung restoran itu tiba-tiba aku mendengar Donghae tertawa keras yang membuatku langsung melihatnya karena kaget.

“kau kenapa?” tanyaku.

“kau ternyata masih belum berubah.” Ujarnya.

“apa?” kataku kini dengan sedikit kesal.

calm down Jiyong aku tahu kau cemburu kepadaku makanya kau menyuruh Dara untuk mengambil tissue itu untuk menjauhkannya dariku. Aku tidak akan mencurinya darimu Jiyong tenang saja. Aku benar-benar senang bertemu Dara bukan karena aku masih mencintainya. Aku hanya senang karena bertemu dengan teman lamaku.” Aku menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. “lagipula Dara sangat mencintaimu jadi percayalah kepadanya dan jangan terlalu banyak cemburu jika hal yang dulu tidak ingin terjadi lagi.”

“kau bicara seolah-olah kau sangat mengenal aku dan Dara”

“aku sangat mengenal Dara Jiyong, dua tahun hubungan kami membuatku tahu segala hal tentang Dara dan aku juga tahu kau masih tidak suka jika aku bertemu dengan Dara. kau tidak menyukaiku bukan? makanya kau selalu marah kepada Dara jika dia tidak sengaja bertemu denganku. Aku juga tahu salah satu alasan kau putus dengan Dara saat itu adalah aku.” Ujar Donghae sambil tersenyum. bagaimana bisa dia tahu? aku yakin Dara pasti yang memberitahunya. Sedekat apa sih hubungan mereka sebenarnya?

“apa yang sedang kalian bicarakan?” ujar Dara sambil menyerahkan tissue yang dia bawa kepadaku.

“tidak ada.” Kata Donghae. “Baiklah Dara makananku sepertinya sudah selesai dibuat.” Kata Donghae sambil berdiri.

“kau tidak makan disini saja?”

“tidak usah. Aku tidak ingin mengganggu kalian.” Katanya lagi lalu hendak berjalan kearah mejanya sendiri namun dia tiba-tiba berhenti. “oh iya apa kau bisa datang ke acara pernikahanku bulan depan?” tanyanya lagi sambil tersenyum. Dara melihat kepadaku, sepertinya untuk meminta persetujuan. Aku menganggukan kepalaku dengan perlahan membuatnya tersenyum senang.

“baiklah aku dan Jiyong akan datang.” Ujar Dara dengan riang kepada Donghae. “kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanya Dara sesaat setelah Donghae pergi, aku mengedikkan bahuku tanda aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa mengangguk tadi.

Dara Pov

“aku kan sudah bilang tidak bisa malam ini.” ujar Jiyong sambil berjalan kearah dapur denganku yang terus mengekor dibelakangku sejak dari dalam kamar kami.

“tapi aku mau malam ini.” kataku sambil merengek.

“kita masih bisa pergi kesana lain kali.” Ujarnya lagi kini sambil menarik kursi makan lalu duduk menghadapku yang kini berdiri dihadapanku.

sirrheo.” Aku menggelengkan kepalaku.

Babe aku mohon mengertilah. Aku pasti akan membawamu kesana nanti.”

“aku sudah mengatakan hal ini kepadamu sejak dari seminggu yang lalu Jiyong. kau tahu bahwa aku sangat ingin pergi kesana. Jika kau tidak bisa pergi denganku malam ini maka biarkan aku mengajak orang lain, aku sudah terlanjur berjanji akan datang kesana”

“aku tidak akan mengizinkanmu pergi tanpa pengawasanku apalagi saat kau sedang mengandung bayi kita.”

“maka dari itu pergilah denganku.” Katanya lagi.

Babe kau tahu aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Group itu akan segera debut jadi aku harus segera menyelesaikan lagu untuk mereka.”

“jadi kau mau bilang bahwa new girl group itu lebih penting daripada aku dan bayi kita?” tanyaku dengan wajah memelas. Ini adalah jurus andalan yang selalu aku keluarkan jika Jiyong tidak menuruti keinginanku.

“bukan seperti itu Babe.” Ujarnya sambil mengambil tanganku yang menggantung lalu menariknya hingga aku bisa lebih dekat dengannya. “kau dan bayi kita adalah hal yang paling penting untukku kau juga tahu itu.” Katanya sambil mengusap perutku.

“ahh molla.” Kataku kini sambil merenggut lalu menyingkirkan tangannya dari perutku. “baby kau dengarkan tadi?” ujarku kini sambil menjatuhkan mata pada perutku lalu memegangnya. “Appamu jahat dan tidak peduli kepada kita.” sambungku kemudian langsung mengangkat kepala lagi dan menatapnya dengan raut wajah kesal lalu berjalan pergi kearah kamar.

Babe maafkan aku.” Teriaknya namun aku tidak memperdulikannya lalu membanting pintu kamar kami dengan sangat keras karena aku benar-benar kesal.

Babe kau sudah meminum vitamin?

Aku baru saja mendapatkan pesan dari Jiyong yang kini sedang bekerja di studio musik di gedung tempatnya bekerja. Aku melemparkan ponselku sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan itu karena aku masih sangat kesal kepada Jiyong yang tiba-tibsa saja membatalkan acara kami malam ini untuk pergi ke acara pembukaan restoran temanku. Aku kesal karena bahkan setelah aku merajuk dan marah seperti ini Jiyong tetap saja tidak merubah pikirannya. Aku kesal karena dia lebih mementingkan group baru yang akan segera debut daripada aku.

Aku kembali lagi pada posisiku yang sejak dari tadi siang hanya berbaring sambil memainkan beberapa game pada ponselku. Aku meraih remote televisi yang tidak jauh dari posisiku kemudian menyalakan televisi untuk menonton acara televisi dan saat aku sedang memindahkan channel tiba-tiba saja aku mendengar suara ponselku berbunyi dengan nada khusus yang aku setting hanya untuk panggilan Jiyong jadi aku tahu bahwa panggilan itu datang dari dia jadi aku sama sekali tidak mengangkat panggilannya dan membiarkan saja sampai nadanya kembali berhenti namun ternyata Jiyong masih terus menghubungi sampai beberapa kali membuatku semakin kesal karena merasa dia menggangguku yang kini sedang menikmati acara fashion. Aku mengambil ponselku kemudian menonaktifkannya hingga Jiyong tidak bisa lagi menghubungiku.

Selama beberapa menit akhirnya aku bisa mendapatkan kembali ketenanganku namun tiba-tiba saja aku kembali terusik saat pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan kini aku mendengar suara ahjumma memanggil namaku. Aku mengerang kesal kemudian bangkit dari tempatku dan segera berjalan untuk membukakan pintu.

“ahjumma ada apa?” tanyaku setelah membuka pintu.

“Agasshi Maafkan saya mengganggu tapi Tuan menelpon.” Ujarnya dengan sopan.

“Bilang saja aku sedang tidur.” Kataku kepada ahjumma kemudian hendak untuk menutup kembali pintu kamarku.

“tapi Tuan bilang akan memecat saya jika Tuan tidak bisa berbicara dengan Agasshi.”

“aishh si brengsek itu mengatakan itu?” tanyaku yang langsung dibalas anggukan oleh ahjumma. “baiklah aku akan mengangkatnya.” Kataku dengan kesal kemudian berjalan menuju ruang tengah dimana telpon itu berada. “bagaimana bisa kau mengancam akan memecat ahjumma huh?” cerocosku setelah mendekatkan gagang telpon pada telingaku.

karna aku tahu kau tidak akan berbicara denganku jika aku tidak melakukannya.” aku mendengarnya berbicara dengan tenang. Si brengsek itu kenapa bisa sangat tenang saat dia tahu aku sedang sangat kesal kepadanya. mengangkat telpon Jiyong benar-benar membuatku semakin frustasi. “kau sudah minum vitaminmu?” tanyanya yang tidak aku balas. “Babe jawab aku.” Ujarnya lagi masih dengan bicara tenang.

“sudah.” Jawabku dengan singkat. “kau cuma ingin bertanya hal itu? Aku tutup lagi kalau begitu.”

Babe kau masih marah?” tanyanya lagi dan aku tidak berniat untuk menjawabnya. “Babe aku khawatir jika kau mendiamkan aku terus seperti ini.” katanya lagi. “aku mohon bicaralah, bukannya kau bilang bahwa kita akan melalui masalah kita dengan cara yang dewasa?” ujarnya mencoba untuk membujukku supaya aku tidak marah lagi tapi aku sama sekali tidak terpengaruh oleh bujukannya dan masih tetap diam. Aku tidak boleh kalah dari Jiyong, aku kesal karena selama ini selalu aku yang menuruti keinginannya sedangkan dia jarang sekali menuruti keinginanku karena alasan dia sibuk. Tuhan suamiku menyebalkan sekali.

“aku tutup ya Ji. Drama kesukaanku sebentar lagi tayang.” Kataku tanpa memperdulikan semua yang Jiyong katakan lalu menutup telponnya dan segera berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral dan beberapa jeruk didalam kulkas. “ahjumma setelah membersihkan itu ahjumma bisa langsung pulang.” Kataku kepada ahjumma yang sekarang sedang mencuci piring kotor. “Jiyong tidak akan pulang jadi tidak ada lagi yang perlu ahjumma bereskan.”

“Ne.” Ujarnya dengan sopan yang aku balas dengan senyuman lalu aku berjalan menuju kamarku dengan membawa jeruk dan air yang tadi aku ambil.

Jiyong Pov

Babe.” Aku duduk disampingnya yang daritadi sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku. Dia benar-benar marah karena tadi malam aku tidak menuruti keinginannya. “Babe maafkan aku.” ujarku kini dengan sedikit memohon tapi Dara masih belum menghiraukan aku. “babe lebih baik kau mengomeliku atau memukulku saja. Aku khawatir jika kau diam seperti ini.” kataku lagi tapi sepertinya Dara benar-benar menganggapku tidak ada karena dia dari tadi masih fokus pada berita yang sedang dia tonton.

“agasshi makan siangnya sudah siap.” Aku mendengar suara ketukan pintu yang langsung membuat Dara bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan meninggalkan aku yang duduk di sampingnya. Aku mengerang karena frustasi dengan sikap Dara. ini pertama kalinya dia bersikap seperti ini kepadaku jadi aku tidak tahu hal apa yang bisa aku lakukan untuk meluluhkannya. Kemarahan Dara sepertinya tidak bisa luluh dengan setangkai bunga. Aku berdiri kemudian kembali mengekori Dara yang sudah beberapa langkah di depanku. Aku duduk pada kursi makan sambil menopang daguku dengan tangan sambil memperhatikan Dara yang sedang menuangkan air pada gelas lalu menyimpannya dihadapanku. Dia lalu menata makanan yang sudah dimasak oleh ahjumma diatas meja masih tanpa memperdulikan aku. Tapi walaupun Dara sedang marah dia tetap menyiapkan makanan untukku.

Setelah menyiapkan makanan untukku Dara lalu berjalan lagi kearah kamar kami. Aku sadar sekarang Dara benar-benar marah kepadaku, aku harusnya menyadari ini saat kemarin dia menutup telpon tanpa persetujuan dariku tapi aku kemarin malah santai saja karena mengira kemarahan Dara hanya akan bertahan sementara karena biasanya Dara tidak akan sanggup berlama-lama marah kepadaku. Aku harus mencari cara agar Dara tidak marah lagi, tapi bagaimana caranya?

“ahjumma tolong siapkan makanan untuk Dara.” kataku kepada ahjumma yang masih membersihkan dapur. Setelah menunggu beberapa saat sambil memakan makananku sendiri akhirnya makanan untuk Dara telah selesai disiapkan dan ahjumma berniat untuk mengantarnya ke kamar. “biar aku saja yang mengantarkannya.” Kataku kemudian ahjumma menyerahkan nampan kepadaku. Aku masuk kedalam kamar yang untungnya tidak Dara kunci, dia masih memperhatikan televisi dihadapannya.

“Dee makan dulu.” Ujarku sambil menyimpan nampan yang aku bawa dimeja dekat tempat tidur. Dia masih belum memperdulikan aku. “aku tahu kau sangat marah tapi aku mohon makanlah dulu, kau harus sehat supaya bayi kita juga bisa sehat.” Ujarku dengan lembut sambil duduk disampingnya. “kau juga harus minum obatmu.” Kataku lagi namun masih belum ada tanggapan dari Dara. “mau aku suapi?” tanyaku kini sambil mengusap lembut kepalanya namun dia menggelengkan kepalanya.

“aku bisa makan sendiri.”

“baiklah.” Kataku kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Dara sendirian lagi. aku tahu hal yang harus diberikan kepada seorang wanita yang sedang marah adalah waktu untuk sendirian sampai kemarahannya sedikit mereda. Dan sambil memberikan waktu sendiri untuk Dara aku harus mencari cara supaya dia tidak marah lagi tapi aku bingung apa yang harus aku lakukan.

Aku berbaring di sofa ruang tengah sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Dara tidak marah lagi. setelah beberapa saat aku berpikir akhirnya aku punya ide cemerlang untuk membuatnya tidak marah lagi tapi aku tidak tahu apakah ini akan membuatnya luluh atau tidak, tapi setidaknya aku harus mencoba. Aku mengambil ponselku lalu menghubungi nomor Chaerin dan menyuruhnya untuk datang ke apartemenku. Setelah menghubungi Chaerin aku langsung berdiri lalu masuk lagi kedalam kamar kami. aku melihat nampan makanan dan syukurlah Dara sudah menghabiskan makannya. Aku mengganti bajuku kemudian langsung menghampiri Dara yang sekarang sedang menonton acara variety show.

“Dee aku akan pergi keluar, kau mau aku belikan sesuatu?” tanyaku yang dia balas dengan gelengan pelan. Setidaknya dia kini sedikit meresponku. Aku kemudian keluar dari kamar setelah mengecup keningnya sebentar. Aku baru keluar rumah setelah menyuruh ahjumma untuk pulang lebih awal. Aku menghembuskan nafas berat dan mulai bergerak untuk menjalankan rencanaku.

Dara Pov

“sejak kapan unnie jadi posesif seperti ini kepada Oppa?” tanya Chaerin yang kini sedang duduk dihadapanku sambil memakan coklat yang dia bawa. Aku baru saja curhat kepada Chaerin tentang pertengkaranku dengan Jiyong.

“aku bukannya posesif Chae, aku hanya kesal saja karena Jiyong membatalkannya begitu saja tanpa memberitahuku terlebih dulu padahal aku sudah berjanji akan datang kesana.” Kataku dengan nada masih kesal.

“tapi kan Ji Oppa tidak berniat untuk membatalkannya. Dia pasti akan mengantarmu kesana jika dia tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“aku tahu tapi apakah dia tidak bisa berhenti dulu sebentar dari pekerjaannya? Toh aku juga tidak memintanya untuk menemaniku selama 24 jam. Aku hanya meminta Jiyong menyisihkan waktunya selama 2 jam saja tadi malam tadi dia malah menolakku dan sama sekali tidak membiarkan aku pergi kesana sendirian.”

“Oppa melakukannya karena dia mengkhawatirkanmu.” Kata Chaerin lagi. aku menatapnya dengan kesal.

“kenapa kau terus membelanya sih?” aku berdecak. “kau kesini karena disuruh oleh Jiyong ya?” tanyaku dengan curiga. Chaerin berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“moodmu pasti sedang jelek akhir-akhir ini.” kata Chaerin. “Unnie kau pasti sensitif seperti ini karena banyak mengurung diri di dalam apartemen.” Kata Chaerin lagi. “ayo kita pergi saja untuk mengembalikan mood baikmu. Kita bisa hangout di cafe.”

“aku tidak bisa pergi. Jiyong melarangku pergi tanpa pengawasannya.”

“wah ternyata unnie masih menjadi seorang istri penurut walaupun sedang marah.” kata Chaerin sambil tertawa meledekku yang aku balas dengan memukul bahunya pelan. “kita pergi saja unnie nanti biar aku yang bicara dengan Jiyong oppa. Dia tidak akan marah jika tau aku sedang bersamamu.” Ujarnya lagi.

“baiklah kita pergi saja lagipula aku benar-benar bosan dari kemarin hanya menonton televisi dikamar.” Kataku sambil tersenyum.

“nah begitu dong jangan cemberut terus.”

“tunggu aku ganti baju dulu.” Kataku lagi sambil berdiri kemudian berjalan menuju kamar.

Aku dan Chaerin segera pergi setelah aku berganti baju. Kami pergi ke cafe di pusat kota seoul yang bersebrangan dengan stasiun radio. Setelah memesan minum aku dan chaerin duduk di kursi tinggi yang menghadap ke jendela sehingga kami berdua bisa menikmati pemandangan orang yang berlalu lalang sehingga otomatis bahan obrolanku dengan Chaerin sore ini adalah mengenai beberapa orang yang melintas dihadapan kami, Chaerin banyak memberikan komentar-komentar konyol tentang pakaian yang dipakai oleh beberapa orang yang melintas. Semua komentarnya berhasil membuat perutku sakit. Aku tidak rugi keluar rumah dengan Chaerin sore ini karena dia benar-benar membuatku melupakan kekesalanku kepada Jiyong.

“unnie bagaimana jika kita mendengarkan radio saja?” ujar Chaerin tiba-tiba. “kita main tebak-tebakan judul lagu saja bagaimana?” Katanya dengan senang. “kalau kau menang aku akan membelikanmuMichael Kors nanti di NYC. Minggu depan aku ada urusan disana.”

“serius Michael Kors?” tanyaku untuk memastikan yang Chaerin balas dengan anggukan. “baiklah aku terima. Ayo kita mulai.” Kataku dengan antusias. Siapa yang akan menolak jika akan dibelikan Michael Korscoba? Chaerin meminta kepada pegawai cafe itu supaya menyalakan radio dan membesarkan volumenya yang membuatku heran adalah pegawai itu langsung menuruti permintaan Chaerin. Selama lima belas menit aku dan Chaerin mengobrol sambil mendengarkan radio dan menebak lagu yang diputar, hasilnya saat ini 3-1 dan sepertinya harapanku untuk dibelikan Michael Kors oleh Chaerin harus pupus. Kami juga terkadang tertawa dengan beberapa surat yang dibacakan oleh announcer radio tersebut yang sedang membawakan acara pengakuan cinta. Aku dan Chaerin tertawa karena surat-surat yang dibacakan itu terlampau gombal.

“baiklah surat berikutnya yang akan aku bacakan dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Surat ini ditujukan untuk istrinya yang sedang marah. baiklah aku akan mulai membacakannya.” Aku dan Chaerin fokus mendengarkan penyiar.

Babe. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu memaafkanku karena kesalahanku tadi malam. maafkan aku babe, aku tahu kata itu terlalu sederhana untuk menghapus kesalahanku. aku tahu alasan yang aku katakan tadi malam mungkin membuatmu merasa bahwa kau tidak lagi berarti untukku.” Aku mendengarkan dengan seksama karena entah kenapa aku seolah merasa bahwa surat itu ditujukan untukku, untuk pertengkaranku dan Jiyong tadi malam.

tapi percayalah babe, tidak ada lagi hal lain yang paling berarti untukku selain kehadiranmu dihidupku. Hari ini setelah kau tidak mengatakan sepatah katapun kepadaku membuatku benar-benar takut kehilanganmu namun aku sama sekali tidak tahu apa yang bisa aku lakukan karena saat aku mencoba bicara kau sama sekali tidak ingin mendengarkan.” Aku melirik kepada Chaerin dengan kedua alis yang ditautkan namun aku masih fokus pada isi surat itu.

maka dari itu hari ini aku menulis surat ini supaya kau mau mendengarkan permintaan maafku. Aku minta maaf babe jika aku belum bisa memenuhi janjiku untuk selalu membuat hidupmu selalu dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Tadi malam alasan kenapa aku melarangmu untuk pergi adalah karena aku sangat mengkhawatirkanmu dan tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi kepadamu dan calon bayi kita.” aku menutup mulutku karena terkejut, aku semakin yakin bahwa surat ini ditujukan kepadaku namun aku masih ragu juga karena Jiyong bukan seseorang yang akan melakukan hal ini.

aku hanya ingin melindungimu tapi ternyata caraku itu malah membuatmu terluka. Aku minta maaf karena belum berhasil menjadi seorang suami yang pernah aku janjikan saat ikrar pernikahan kita. Aku mencintaimu Dee.” Aku membulatkan mataku setelah mendengar kata terakhir yang dibacakan oleh penyiar. Ya tuhan itu benar-benar Jiyong.

jadi aku mohon maafkanlah aku dan jangan pernah menyerah padaku dan cinta kita. Dari suamimu yang masih jauh dari kata sempurna.” aku melirik Chaerin yang sedang tersenyum penuh arti kepadaku, sekarang aku tahu bahwa Jiyong memang sudah merencanakan semua hal ini.

“aku harap Mrs. Dee mau memaafkan suaminya setelah mendengarkan surat yang ditulis secara buru-buru oleh pengirimnya, terbukti dengan banyaknya coretan pada isi surat ini. Dan sekarang untuk melengkapi permintaan maaf pengirim aku akan memutarkan lagu yang secara khusus ditulisnya. Untuk Mrs. Dee selamat menikmati.” Aku menunggu dengan was-was lagu apa yang akan dia putarkan.

I was too harsh that night

I didn’t know you would really leave

The words, “I’m sorry”, is too difficult for us

Ini suara Jiyong, lagu ini dia nyanyikan secara langsung. Aku menutup wajahku karena benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Aku tidak pernah menyangka bahwa Jiyong akan sanggup melakukan hal ini hanya untuk membuatku memaafkan kesalahannya. Aku menangis sambil terus mendengarkan lagu yang Jiyong nyanyikan. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap kekanakan seperti ini padahal yang Jiyong inginkan hanyalah untuk melindungiku. Aku tahu Jiyong tidak sepenuhnya salah tapi dia masih mau untuk melakukan ini dan meminta maaf kepadaku dengan cara yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Aku bersyukur karena aku memiliki Jiyong apalagi setelah dia mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa dia mencintaiku. Aku tidak akan lagi bersikap kekanakan seperti kemarin. Aku juga harus meminta maaf kepada Jiyong.

Jiyong Pov

Aku akhirnya melakukan rencana yang telah aku pikirkan yaitu dengan cara meminta maaf melalui radio. Untungnya aku punya kenalan di stasiun radio ini sehingga aku bisa melaksanakan rencanaku dengan baik, sekarang tinggal bagaimana reaksi yang Dara berikan. Aku sangat berharap setelah aku melakukan ini maka Dara mau memaafkan kesalahanku. Setelah menyelesaikan lagu yang aku tulis khusus untuk Dara dan mengucapkan terimakasih kepada semua crew yang bertugas aku langsung berjalan dengan perasaan bercampur aduk kearah cafe yang berada diseberang gedung radio ini. aku sengaja menyuruh Chaerin untuk membawa Dara ketempat itu sehingga aku bisa langsung menemuinya setelah rencanaku selesai.

Aku terus berjalan dengan was-was takut jika Dara tidak menyukai apa yang aku lakukan dan dia malah semakin marah kepadaku namun aku terpaku sesaat setelah aku keluar dari stasiun radio itu karena sekarang aku melihat Dara yang berdiri tepat dihadapanku. Aku tidak tahu bahwa Dara ternyata sedang menungguku diluar. Aku melihat matanya yang kini telah basah, dia tersenyum kemudian melangkahkan kakinya dengan pelan kearahku, aku melakukan hal yang sama dengan apa yang Dara lakukan.

“kenapa kau menangis huh?” tanyaku setelah tidak ada lagi jarak diantara kami. aku mengusap air matanya yang ternyata masih keluar.

“kau membuatku tersentuh Ji bagaimana mungkin aku tidak menangis.” Ujarnya dengan lembut.

“harusnya kau tersenyum jika kau suka dengan apa yang aku lakukan.” kataku dengan tangan yang masih mengusap air matanya. Saat aku melakukan itu tiba-tiba Dara memeluk tubuhku.

“aku salah Jiyong. aku minta maaf.”

“kau tidak salah apapun babe.” Kataku sambil melingkarkan sebelah tanganku pada tubuhnya lalu tangan satunya lagi mengusap lembut kepalanya.

“aku harusnya bisa lebih mengerti keadaanmu.” Katanya lagi.

“tidak apa-apa Dee. Aku tahu kau sedang sensitif akhir-akhir ini. harusnya aku mengerti kondisimu tapi aku malah membuatmu terluka.” Kataku dengan lembut. “kau memaafkan aku kan?” tanyaku yang dia balas dengan anggukan.

“bagaimana mungkin aku tidak memaafkanmu setelah mendengar surat dan lagu yang kau tulis.” Katanya kini sambil mendongkak menatapku.

“terimakasih babe. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa lagi kepadaku.”

“aku juga akan berusaha untuk tidak cepat marah kepadamu.” Katanya sambil melepaskan pelukannya. “ayo kita pulang.” Ajaknya setelah menggenggam tanganku dengan erat.

“sepertinya kita tidak bisa langsung pulang.” Kataku sambil tersenyum kepadanya.

“kenapa?”

“karena ada makan malam yang sedang menunggu kita.”

“makan malam?” tanya Dara dengan raut wajah bingung. Aku mengangguk kemudian tersenyum.

“ayo kita pergi ke restoran temanmu. Aku sudah membuat reservasi dan malam ini restoran itu khusus untuk kita berdua. Kau bisa menghabiskan semua makanan disana.”

“jinjja?” tanya Dara terkejut. Aku mengangguk untuk memberi jawaban. “terimakasih Jiyong karena sudah menjadi suamiku. Aku bahagia sekali menjadi wanita beruntung yang bisa menjadi istri pria mengagumkan seperti dirimu.”

with my pleasure babe.” Ujarku sambil membelai kepalanya dengan lembut. “aku juga bahagia bisa memilikimu sebagai istriku.” Sambungku yang dia balas dengan senyuman manisnya. “ayo kita pergi dari sini, semua orang sedang memperhatikan kita.” bisikku sambil mengeratkan genggaman tangan kami.

The End

Bagaimana? Suka enggak? Kalau pada suka nanti aku bikinin sequelnya deh tapi liat juga tergantung komentarnya ya, jadi yang suka silahkan komentar!!!!

Hengso

Advertisements

39 thoughts on “Thank You For Being Mine [Oneshoot]

  1. anaknya belum lahiirrr.
    anaknya kembar aja deh hahaha biar nggak rebutan.

    kalo anaknya cowok pasti manja dan kekanakan kyk jiyong, nah kalo cewek jiyongnya yg over protektif deh hahaha

    sequel lagi eon 😛

  2. Dih, sweet nya kelewatan wkwkwk
    Gatau lagi deh pokoknya aku jadi pengen daragon beneran se-sweet ituu di dunia nyata wkwk *ngarep*
    Btw semoga anaknya lahir dengan sehat dan membawa kebahagiaan lebih untuk daragon
    Lewat radio, *keinget masa lalu*

  3. Dara benar2 beruntung memiliki jiyong di hidupnya ,perlakuan jiyong ke dara itu so sweet banget ,berharap juga semoga di kehidupan nyata mereka begitu ,semoga
    Suka thor sma cerita ini benar2 sweet sampe tarik nafas dan berhenti nafas bentar dulu kalo baca yang bagian daragon moment sweet nya kelewatan ,lanjut sequel’nya thor belum lengkap kalo dara belom ngelahirin ,ditunggu sequel’nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s